-After Wedding-
Disclaimer:
Naruto © Om Masashi Kishimoto
Story © Mikiraa / Msyn
Warning:
OOC, Typo's, AU , abal, aneh, etc
Rate:T
Genre:Romance, Family


Chapter 10: Loneliness


Malam ini hujan turun deras membasahi daratan. Melelehkan hawa panas yang seharian ini menyelimuti kota. Dan rasanya sedikit aneh mengingat hujan tersebut terjadi di pertengahan musim panas semacam ini.

Sakura menutup tirai ruang tamu, setelah melihat hujan lebat yang tak begitu kentara karena gelapnya malam, menghela nafas panjang sebelum melangkah menuju karpet coklat susu di ruang keluarga dan mengambil joystick yang tergeletak disana. Lalu mulai sibuk memainkan sebuah game action dengan banyak tinju di layar LCD didepannya.

Sesekali gadis gulali itu terkejut ketika petir tiba-tiba menyambar. Suaranya terdengar begitu dekat layaknya berada di atas kepala dan lumayan membuat perempuan berambut pendek itu merinding.

Permainan selesai, dia kembali menang untuk kesekian kalinya dipermainan tersebut. Dirinya mendesah bosan lalu melempar joystick-nya kesembarang arah. Kepala pinknya menengadah -bersandar nyaman pada sofa. Gadis itu berpikir apa yang bisa dilakukannya untuk mengatasi rasa kesepian yang tiba-tiba hinggap menghampirinya. Hari ini, bermain game sendiri terasa begitu membosankan, tidak seperti biasanya apalagi di tengah hujan yang melanda.

Lalu dimana Sasuke?

Entah, Sakura sendiri tidak tahu dimana keberadaan pria itu, yang pasti dia belum menampakkan diri sejak Sakura sampai di rumah pukul 4 sore ini. Bahkan mendengarkan suaranya atau hanya sebuah pesan saja tidak.

Mata giok itu menjelajah mencari ponsel yang ternyata berada di sebelah kirinya. Sekarang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam, tetapi pria itu tak kunjung menghubunginya sekedar untuk memberitahu jika dia berada di suatu tempat dan terjebak hujan yang mulai bisa disebut badai ini.

Gadis itu menghela napas, meraih ponselnya dan mencari kontak suaminya. Hatinya merasa tidak tenang meski pikirannya menyuruhnya untuk tidak peduli seperti biasanya. Semenjak Sakura mengakui dia ada hati terhadap suaminya sekarang, semua sikap tidak pedulinya kian menyusut dari hari ke hari. Dia menjadi merasa tidak keren lagi jika berhadapan dengan Sasuke akibat aura aneh yang timbul tiba-tiba ketika dia berada bersama suaminya itu.

Sakura tidak suka itu, dia ingin dirinya yang kuat dan tak mudah luluh, kembali lagi. Dia ingin tetap keren seperti saat pertama kali bertemu Sasuke.

Tunggu sebentar, disaat seperti ini bukannya tidak pantas dia memikirkan hal semacam itu. Bagaimana jika Sasuke mengalami suatu hal mengerikan di luar sana, pastilah akan membuatnya repot nantinya. Dia seharusnya mengesampingkan kenaifannya saat ini. Bukan begitu?

Oh mengapa aku jadi galau sendiri? Pikirnya aneh.

Gadis itu akhirnya membuka lockscreen ponselnya, mencari kontak suaminya lalu mencoba menghubungi pria itu. Setelah bunyi beep beberapa kali akhirnya dia mendengar

ceklek

-suara pintu terbuka. Cukup membuat dia terkejut layaknya petir yang menyambar malam itu.

Seketika dia memandang pintu yang menampakkan tubuh basah suaminya. Dengan segera Sakura berlari menuju pintu masuk.

"Tunggu disini, aku akan ambil handuk, jangan berani-berani kau melangkah, aku tidak ingin melihat lantai basah lebih dari ini," ujarnya panjang lebar sebelum berlari lagi untuk mengambil handuk.

Sasuke hanya menurut, dia melepas kacamata dan dasi yang sedikit mengganggu dengan keadaannya yang basah kuyub. Rasanya dia ingin mandi air hangat agar badan menggigilnya bisa sedikit terobati -dan keinginannya terwujud. Istrinya kembali dengan sebuah handuk besar sembari memerintahkannya untuk mandi dengan air hangat yang dengan -entah berat hati atau tidak disiapkan oleh istrinya.

Dahinya menyerngit aneh.

Tentu saja, sejak kapan Sakura menjadi perhatian begitu terhadapnya. Memang saat sakit dulu dia sedikit diistimewakan oleh istrinya tapi sekarang dia bahkan sedang tidak sakit, hanya kehujanan yang biasanya diabaikan saja oleh Sakura.

Mata hitam kelamnya memandang layar LCD televisi yang menampilkan kata "win" besar di tengahnya.

"Hn," gumamnya tak jelas sembari berjalan menuju kamar mandi dilantai dasar.


.


Setelah Sasuke selesai membersihan diri dengan Sakura yang sempat mengumpat karena mengapa harus dirinya yang mengepel lantai basah perbuatan suaminya, keluarga Uchiha muda ini memilih membuat makan kelewat malam karena keduanya sama-sama kelaparan. Sasuke hanya meminum kopi tadi sebelum pulang. Sedangkan Sakura, gadis itu menahan rasa laparnya karena tidak bisa memesan makanan akibat hujan, ingin memasak pun sepertinya hanya akan membuat dapurnya seperti tempat pembuangan sampah atau lebih parah lagi meledak dan rumah mereka terbakar. Tidak lucu bukan jika hal itu terjadi ditengah hujan badai begini.

Makan malam kali ini mereka hanya membuat makanan sederhana, sepiring capcay goreng dengan lauk-pauk seadanya yang semuanya dimasak oleh Sasuke. Seperti biasa tak ada percakapan diantara waktu makan mereka hanya suara dentingan antara sendok dan piring yang sayup-sayup terdengar. Sakura meneguk air putih untuk mengakhiri acara makannya malam ini, bersandar pada kursi sambil menatap suaminya yang anteng melahap makanannya. Pria itu duduk tepat di depannya yang jaraknya tak kurang dari 1 meter.

"Rumah Sakit Suna menawari pekerjaan mapan untukku." Sakura mulai berbicara, gioknya tak bergerak untuk melihat reaksi lelaki di hadapannya.

Tak ada respon dari lelaki itu, dia tetap tenang mengunyah sampai suapan terakhir dan akhirnya meletakkan peralatan makannya sebelum menghunuskan tatapan super tajam kearah istrinya, dan Sakura tak kaget dengan itu -sudah terbiasa. "Ambil saja jika kau mau," ujarnya dengan nada datar.

Sakura menghela nafas, dia tahu hal ini akan terjadi. Diantara sepenggal kalimat yang Sasuke lontarkan, ada kata tidak setuju didalamnya dan Sakura mengerti itu artinya dia tak bisa mengambil kesempatan cuma-cuma yang ia dapatkan dari rumah sakit besar di negara sebelah itu.

Seminggu sudah dia lulus dan mendapat gelar sarjana di belakang namanya. Menjadi seorang dokter adalah cita-citanya dan mendapat pekerjaan secepat ini bukanlah hal yang bisa datang setiap saat apalagi jika itu adalah undangan langsung. Dia tidak bisa menyia-nyiakan hal ini begitu saja.

Memang Suna itu jauh dan tidak bisa ditempuh beberapa menit saja seperti jarak antara rumahnya dan perusahaan Uchiha. Dia harus menyewa setidaknya flat atau apartemen disana, tentu saja harus meninggalkan suaminya. Dia tidak apa dengan itu semua -mungkin, tetapi tidak tahu dengan keluarganya dan tentu saja suaminya -Sasuke.

"Pikirkan lagi, kau bilang kau mencintaiku bukan?"

Lelaki itu kemudian berlalu pergi, setelah sempat mengecup kening Sakura dengan begitu lembut. Hatinya seketika berdesir dan takut disaat bersamaan.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?


.


"Dasar Forehead, hanya jidatmu saja yang lebar tapi berpikir dewasa saja tidak bisa."
Ino memarahi Sakura ditelepon, setelah gadis pink itu selesai bercerita dengan apa yang yang terjadi malam ini. Tadinya dia ingin meminta solusi tapi malah omelan yang dia terima.

"Pig, aku minta saranmu bukan omelanmu."

"Seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan." Sakura menyerngit tidak mengerti. "Demi Tuhan Sakura, mengapa kau menyuruh ibu hamil sepertiku stres dan tidur malam, aku akan sakit besok"

"Kau berlebihan Pig. Jadi aku harus apa?," ujar Sakura pening.

"Jika aku jadi kau, aku tidak akan mengambilnya lalu mencari pekerjaan di tempat lain."

"Tidak semudah itu. "

"Aku tahu, lagipula suamimu kaya 'kan? Lalu kau juga sebenarnya ingin di rumah sakit Konoha untuk apa ke Suna? Ah! Aku tahu kau ingin bertemu dia, kau-"

"Aku tidak begitu, aku tidak ingin bertemu dengannya." Sakura berucap kesal. Mendengus sebal yang pastinya didengar jelas oleh Ino.

"Kalau begitu tidak ada alasan kecuali kau ingin menceraikan Sasuke karena tidak mencintainya. Bye,, aku ingin tidur, jangan telepon aku lagi."

Beep!

Telepon terputus begitu saja, bahkan sebelum Sakura sempat berteriak memaki Ino. Sakura menghela nafas untuk kesekian kalinya malam ini. Mengacak rambut bubblegum-nya frustasi.


.


Berkas cahaya matahari mengganggu mata hijau Sakura yang tertutup. Gadis itu membukanya perlahan disertai acara menguap lebar. Dengan pandangan yang masih kurang fokus dia menatap sekeliling yang ternyata ruang keluarga. Dia merubah posisinya menjadi duduk pada sofa yang ternyata ia gunakan untuk alas tidur tadi malam.

Ia mungkin ketiduran setelah selesai curhat dengan Ino lalu dipergoki oleh Sasuke yang kemudian menyematkan selimut hangat di atas tubuhnya tanpa berniat memindahkan tubuhnya ke kamar -mungkin. Mata hijaunya kemudian menatap jam dinding yang menunjukkan jarum pendeknya di angka 7. Masih pagi, gumamnya lirih.

Suara langkah kaki yang mendekat mencuri atensinya dari benda penunjuk waktu, menemukan suaminya sudah rapi dengan balutan jas yang menandakan siap untuk pergi ke kantor. Terlihat tampan dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung.

"Tidak sarapan?" tanya gadis gulali itu kepada sang suami.

Mata Sakura mengerjap seperti anak anjing, tentu saja itu dilakukan tanpa sadar. Tetapi Sasuke menangkap hal itu, dan menurutnya itu sangat lucu. Istrinya sangat menggemaskan di pagi hari yang basah ini, hanya saja dia harus sedikit mengurangi rasa gemas untuk tidak mencium istrinya karena sifat stoiknya. Ayolah dia kan kuundere.

"Aku akan sarapan di kantor." Sakura memajukan bibirnya, kecewa atas jawaban suaminya. Lagi-lagi dia harus makan di luar hari ini padahal dia sedang malas melakukannya.

Alasan lain dia masih merasa kesepian, entahlah mengapa suasana aneh ini jadi sering hinggap semenjak dia lulus kuliah.

Mata kedua manusia berbeda jenis kelamin itu saling menatap entah untuk apa, menyelami pendar masing-masing selama beberapa saat. Sebelum Sakura memutuskan keheningan yang ada dengan pernyataan mengejutkannya.

Semoga keputusanku ini benar


.

.

.


"Aku tidak akan pergi ke Suna, jadi sarapanlah denganku," ujar Sakura lirih.


.


Author's note:

Pertama saya ingin berterima kasih kepada orang-orang yang masih mau membaca dan mensupport fic ini, apalagi fic ini sudah 4 tahun yang lalu tetapi durasi updatenya setahun atau setengah tahun sekali jadi chapnya masih sedikit huhuuhuhu.

Yang kedua saya minta maaf karena fic ini masih kurang sesuai dengan yang para readers inginkan, sangat jarang update, pendek dan plotnya monoton.

Yang ketiga saya menyediakan kolom ide untuk readers sekalian yang ingin menyumbangkan idenya, pasti saya tulis kok namanya jika ide kalian saya gunakan.

Dan yang terakhir, saya meminta untuk selalu support fic inidengan cara review, fav ataupun follow fic ini. Saya menghargai semua saran, kritik kalian terhadap fic ini.

Arigatou gozaimasu

Miki

[160722]