Chapter 10 – Overture

Lu Xun memandang dirinya di cermin ruang ganti dengan jantung berdebar. Wajahnya yang masih terasa panas karena bahagia. Tepuk tangan dari penonton masih terdengar di telinganya. Entah sejak kapan, Lu Xun merasakan kebahagiaan dalam panggung. Dulu Lu Xun sering mendapat pengajaran mengenai drama klasik dari kakeknya. Namun sejak orang tuanya meninggal, kakek Lu Xun menjadi membenci semua teater. Pada saat kakeknya meninggal, Lu Xun sempat aktif di klub teater di sekolahnya. Namun ternyata Sun Quan tidak menyukai keberhasilan Lu Xun. Berbagai cara dilakukan oleh Sun Quan untuk merusak kegiatan teater Lu Xun, di antaranya dipersulit dalam izin peminjaman panggung dan ruangan, surat ancaman yang tak habis-habisnya, serta penyulitan dalam penurunan dana untuk teater. Klub teater pun akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Lu Xun dari keanggotaannya demi kelangsungan klub itu. Sejak saat itu, Lu Xun tidak aktif dalam kegiatan teater apapun. Dalam kegiatan festival ini juga, Lu Xun memutuskan untuk tidak mengambil peran utama sehingga kebencian Sun Quan kepada dirinya tidak dilampiaskan kepada kelasnya.

Tapi dengan dirinya berdiri di bawah lampu panggung dengan ratusan mata memandangnya, adrenalin di dalam darahnya kembali terpacu. Semangat untuk kembali tampil dalam drama kembali bergejolak di dalam dirinya. Lu Xun keluar dari kamar ganti dan menonton dari balik korden belakang panggung. Sima Shi nampak begitu menawan di bawah lampu panggung, dan Zhen Ji nampak sangat berkilau dengan suara soprannya dalam drama musikal itu. Drama yang mereka mainkan sangat menarik baik dalam koreografi, musikalisasi, dan dekorasi. Andai dirinya dapat berdiri di panggung itu kembali...

Drama pun selesai dan korden diturunkan. Semua pemain bersiap di pinggir panggung untuk memberi salam kepada penonton. Lu Xun segera mundur dan bersiap untuk berganti kostum dan pulang. Saat hendak melepaskan gaun putihnya yang panjang, tiba-tiba Sima Shi masuk ke dalam ruang ganti. Sima Shi masuk dengan nafas tidak teratur seakan ia baru saja berlari. Sima Shi segera mendatangi Lu Xun yang masih nampak bingung dan menarik tangan Lu Xun tanpa mengatakan apapun.

Lu Xun tidak menyukai tindakan Sima Shi, namun ia tidak menyangka bahwa Sima Shi menariknya ke atas panggung. Saat ia masuk ke panggung, gemuruh tepuk tangan dari penonton langsung berkumandang di bangku penonton. Sima Shi berhenti di tengah panggung, tepat di sebelah Zhen Ji yang memerankan Juliet. Setelah melambaikan tangannya, Sima Shi memberikan hormat kepada penonton. Lu Xun ikut menundukan badannya untuk memberi penghormatan. Perlahan para pemain mulai meninggalkan panggung, namun Sima Shi terus memegang tangan Lu Xun, bahkan hingga penghormatan terakhir, di mana seharusnya hanya ada pemain Romeo dan pemain Juliet saja, Sima Shi tetap menggenggam tangannya. Korden panggung pun diturunkan dan Lu Xun memberi penghormatan terakhir.


Lu Xun masih berdiri di panggung walaupun semua pemain telah meninggalkan panggung. Lu Xun masih terpana dengan suasana yang baru saja ia rasakan di panggung. Gemuruh tepuk tangan penonton, wajah bahagia dari para penonton saat menontonnya, benar- benar perasaan yang tidak bisa dilupakan.

" Bagaimana rasanya berdiri di atas panggung?" tanya Sima Shi.

" Sulit diungkapkan..." jawab Lu Xun sambil berjalan mengitari panggung " Aku tidak menyangka ternyata kebahagiaan saat berdiri di atas panggung adalah seperti ini..."

" Peranmu di panggung tadi benar-benar bagus... Penonton nampaknya cukup menyukai improvisasi darimu mengenai Juliet muda. Mimikmu juga sangat bagus, seakan kamu benar-benar jatuh cinta kepada Romeo... "

Lu Xun tersenyum sambil menaruh tangannya di belakang punggungnya," Aku hanya sedikit mengingat perasaanku kepada seseorang yang aku cintai... Kami kebetulan bertemu dalam sebuah pesta dansa, dan tadinya aku cukup kesal karena ia menciumku di depan orang banyak. Namun, belakangan ini aku menyadari... ia kesepian dan aku ingin berada di sampingnya untuk memberikan support kepadanya... Sayang statusku berbeda jauh dengannya sehingga aku sulit bertemu dengannya..." Lu Xun menatap Sima Shi, " Mungkin tanpa sadar perasaanku bersatu dengan Juliet yang kuperankan tadi, ahaha..."

" Rupanya begitu..." Sima Shi nampak sedikit kecewa. " Ia benar-benar beruntung memiliki orang sepertimu..."

" Apa ada yang salah kuucapkan?" tanya Lu Xun yang heran melihat reaksi Sima Shi.

" Aku harus keluar untuk memberi salam kepada para fans dan wartawan..." Sima Shi membalik badannya. " Kau tidak ganti kostum? Panggung akan segera dibereskan..."

" Biarkan aku berdiri di sini sebentar lagi... Aku ingin merasakan kebahagiaan ini sebentar lagi..." jawab Lu Xun dengan wajah yang berseri memandang kursi penonton yang sudah kosong.

Sima Shi menepuk punggung Lu Xun. " Baik... Nanti malam akan ada makan-makan atas pementasan premier. Aku harap kamu bersedia menghadirinya karena kamu juga ikut berperan dalam suksesnya pementasan premier ini...". Sima Shi membalik badannya dan berjalan meninggalkan Lu Xun.

Beberapa kali para orang yang membereskan properti menyuruhnya minggir, namun Lu Xun masih tetap di sana sampai panggung kosong sama sekali. Saat lampu panggung sudah dimatikan dan para kru meminta Lu Xun meninggalkan panggung karena ruangan akan segera dikunci, barulah Lu Xun meninggalkan panggung dengan berat hati.

Saat berjalan ke ruang ganti, Lu Xun melihat kerumunan wartawan di depan pintu. Lu Xun tanpa sengaja menengok ke sumber keramaian dari sela-sela para wartawan yang sibuk mengambil gambar. Lu Xun kaget saat melihat sumber dari keramaian itu. Lu Xun melihat Cao Pi sedang menggandeng Zhen Ji yang membawa sebuket besar bunga mawar merah.

" Nona Zhen Ji akhirnya baikan dengan tunangannya!" kata seorang wartawan di depan mereka.

" Sejak kejadian Cao Pi dengan Cinderella misterius waktu itu, akhirnya mereka rujuk kembali! Pokoknya kamu harus mendapatkan gambar mereka!" kata wartawan yang lainnya.

" Berita hari ini bisa menjadi headline bagus untuk majalah kita!"

Wartawan semakin gencar mengambil gambar saat Cao Pi mencium Zhen Ji. Lu Xun terdorong mundur oleh para wartawan yang gencar mengambil gambar dan menulis berita.

" Anak pemilik teater dan seorang artis berbakat yang kaya. Mereka benar-benar pasangan yang cocok ya!" kata seorang fans yang ada dalam kerumunan.

" Ibu, mereka nampak seperti putri dan pangeran dalam dongeng yaa!"

Lu Xun masih shock terdiam. Baru kemarin ia merasa sangat bahagia saat Cao Pi menyatakan cinta kepadanya, tapi kini... hatinya sangat sakit melihat Cao Pi mencium gadis lain yang tak lain dari tunangannya. Zhen Ji memang sangat sempurna. Artis berbakat berwajah cantik dan terkenal di usianya yang masih muda, benar-benar pantas sebagai putri cantik pendamping sosok pangeran seperti Cao Pi. Sangat berbeda dengan dirinya... tidak lain dari orang miskin yang tidak lebih dari debu jika dibandingkan dengan Zhen Ji. Mungkin ia salah dalam menilai Cao Pi kemarin. Orang yang benar-benar dicintainya tentunya adalah Zhen Ji. Lu Xun berdiri dan segera berlari ke ruang ganti.


3 hari sudah berlalu sejak kejadian di panggung teater itu, namun Lu Xun masih memikirkan apa yang dilihatnya hari itu. Lu Xun tidak terlalu menaruh perhatiannya kepada pelajaran di hari itu. Saat bel pulang berbunyi, Lu Xun memtuskan untuk menenangkan dirinya di perpustakaan sekolah daripada mengikuti latihan drama untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian yang baru dialaminya.

Perpustakaan sangat kosong sore itu. Memang tidak heran, menjelang hari pementasan drama, para murid fokus untuk berlatih dan menyempurnakan properti untuk pertunjukannya. Untungnya bagian Lu Xun dalam drama Cinderella sudah selesai sehingga kini kelas tidak terlalu memerlukan bantuannya. Jiang Wei juga menyarankannya untuk mengambil hari istirahat sampai gladiresik karena Jiang Wei yang paling memahami segala kejadian yang menimpa Lu Xun. Jiang Wei menjamin bahwa latihan akan berjalan dengan baik selama Lu Xun absen dari latihan.

Lu Xun menelusuri bagian sastra kuno di rak perpustakaan. Ia sangat bahagia saat ia menemukan buku Phantom of the Opera. Buku itu adalah buku kesukaan kakeknya. Dulu kakeknya melarangnya untuk membaca buku ini karena ceritanya cukup gelap dan serius, tapi kini ia tidak sabar untuk membacanya. Sesaat sebelum Lu Xun hendak meminjamnya, Lu Xun mendengar suara orang sedang berbicara dari belakang rak bukunya. Lu Xun kenal betul suara itu, suara itu adalah suara Cao Pi. Lu Xun mengintip dari sela-sela buku untuk melihat. Lu Xun melihat Cao Pi sedang berbicara dengan Sima Shi, pria yang ia temui di teater drama kemarin. Tanpa sadar Lu Xun malah bersembunyi untuk mendengar pembicaraan mereka.

" Apa maksudmu dengan artikel koran hari ini?" Sima Shi menunjukan surat kabar kepada Cao Pi," Belum lama ini kamu heboh dengan beritamu bersama dengan gadis misterius yang kamu cium di pesta itu dan kini kamu heboh dengan beritamu dengan Zhen Ji..."

Cao Pi meneruskan membaca buku di tangannya tanpa menghiraukan surat kabar dari Cao Pi, " Wah, aku tak menyangka kau ternyata cukup memperdulikanku... "

" Jawab pertanyaanku, apa maksudmu dengan artikel ini? Kamu mempermainkan Zhen Ji?" tanya Sima Shi dengan marah.

Cao Pi menyeringai, " Kamu cemburu?"

" Tidak! Zhen Ji adalah tunanganmu, aku tidak akan menyentuhnya."

Cao Pi menatap Sima Shi, " Lalu? Ia adalah aset penting teaterku, jadi apa yang kulakukan untuknya bukan urusanmu. Bukankah seharusnya ia berterima kasih denganku? Karena adanya artikel itu, maka teater itu menjadi semakin banyak dikunjungi penonton, dan Zhen Ji akan semakin dikenal oleh public... Kamu ingat scandal antara aku dan gadis misterius itu? Berkat kejadian itu, kini gedung milikku itu menjadi tempat favorit untuk acara ulang tahun, acara pertunangan, bahkan acara pernikahan."

Sima Shi memukul meja Cao Pi," Maksudmu... kamu mencium gadis itu dalam pesta itu hanya demi menaikan popularitas gedung itu?"

" Apapun akan kulakukan demi bisnisku... Akulah yang akan menjadi pewaris perusahaan milik keluarga Cao!" jawab Cao Pi tegas. " Dan ingatlah... aku tidak akan kalah darimu juga..."

Jawaban Cao Pi seperti petir yang membuat lutut Lu Xun mendadak lemas. Tanpa sadar Lu Xun menyentuh tumpukan buku di dekatnya. Buku-buku pun terjatuh, Cao Pi dan Sima Shi menatap Lu Xun. Lu Xun panik karena ia ketahuan mendengar pembicaraan mereka.

" Lu Xun...?" Sima Shi menatap dengan kaget, " Kamu mendengar pembicaan kami...?"

Lu Xun menarik nafas panjang. " Ya... Aku tidak bermaksud, tapi maafkan aku karena mendengarnya..." Lu Xun mendatangi Cao Pi dan menamparnya, "Aku menyesal telah berpikir bahwa kamu adalah orang yang masih memiliki hati... Tapi ternyata kamu tidak berbeda dengan Sun Quan. Kalian sudah buta dengan uang dan kekuasaan!"

Tanpa sadar air mata mengalir di matanya. Lu Xun segera menyembunyikan wajahnya dan berlari meninggalkan Cao Pi.

" Padahal baru saja ada orang yang mencoba mempercayaimu, namun kamu sendiri yang menghancurkan kepercayaannya... Dengan sikapmu yang sekarang, kamu memang pantas mendapatkannya," Sima Shi meninggalkan Cao Pi juga.