Bisakah?
Disclaimer :: Naruto © Masashi Kishimoto
Satu jam sejak pemaikaian obat Sakura tidak merasakan efek apapun, bahkan dia sudah mulai mau makan meskipun sangat sedikit.
Dua jam, tiga jam Sakura merasa payudaranya menjadi nyeri dan membengkak mirip seperti saat dia akan menglami menstruasi. Mungkin saja ini adalah respon tubuhnya yang baru saja menerima hormon dengan dosis tinggi.
Sakura membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menurutnya akan lebih baik jika dia beristirahat dan membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan hormon yang baru saja bersatu dengan darah di dalam tubuhnya itu.
Namun tidak lama berselang, Sakura terbangun karena dia merasa semua yang berada di sekitarnya berputar tak terkendali tubuhnya juga menggigil. Saat Sakura membuka mata, matanya serasa berkunang-kunang dan langit-langit kamar itu serasa berputar.
Seketika dia menjadi mual karena sensasi berputar yang dia rasakan.
"Ino?" Sakura mencoba bangun dari tempat tidur. Meskipun hampir terjerembab dia tetap berusaha untuk dapat sampai ke toilet. Dia berjalan limbung dan merabah-rabah. Pengelihatannya tidak lagi dapat diandalkan, semuanya terlihat gelap.
Makanan yang baru saja mengisi lambung Sakura kini telah termuntahkan. Sakura menguras habis seluruh isi lambungnya, hingga tidak ada yang bisa dia muntahkan lagi.
"INO!" Dengan suaranya yang serak Sakura tetap mencoba berteriak untuk memanggil Ino.
Sesak, nafasnya terasa dangkal. Udara yang dia hirup tidak lagi terasa menyentuh dasar paru-parunya. Sakura merasa panik. Belum pernah dia merasa sesulit ini untuk bernafas.
"Ino!" Suaranya menjadi lirih karena dia mulai lemas kekurangan oksigen. Percuma, suara jeritannya hapir tidak terdengar sekalipun. Sekarang ini kepala belakang Sakura terasa sangan berat, pertanda dia pastilah akan terkapar.
Dengan berpegangan pada dinding dan toilet, Sakura berusaha untuk berdiri dan mencari pertolongan. Dia terhuyung karena pandangannya menjadi gelap sedangkan otot-ototnya sudah berubah menjadi agar-agar yang lembek. Tapi dia tidak akan menyerah sampai di sini. Sakura tau benar jika dia menyerah sekarang, mungki dia akan kehilangan hidupnya.
Perlahan tapi pasti dia merambat melalui tembok-tembok ruangan kamarnya. Samar-samar dia dapat melihat pintu kayu berwarna coklat tua yang merupakan pintu yang dia cari.
Jarinya yang gemetar hebat mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaga. Sekali, dia gagal, apa yang dia fikirkan tak semudah kenyataan. Kedua, ketiga, Sakura mulai menangis dengan keadaannya.
'Ayo, kau pasti bisa, Sakura! ' Dia menyemangati dirinya sendiri.
Ini adalah yang terakhir, dia memutuskan ini adalah usahanya yang terakhir. Dia mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa di dalam otot-ototnya.
Berhasil pintu itu akhirnya terbuka juga. Sayang sekali, saat itu juga Sakura ambruk dan terjatuh tepat ke lantai hotel.
Beruntung sekali saat dia terjerembab yang mendarat dahulu bukan kepalah Sakura tetapi lengannya, sehingga kepalanya tidak langsung membentur lantai yang keras.
Sakura tidak menyadari jika Ino dan Kakashi sedang berbicara di depan kamarnya. Dia juga gagal menyadari panggilan Ino sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Semua orang terkejut, bukan hanya dua orang yang sedang berbicara di depan kamar itu, tetapi juga beberapa orang yang lewat di lorong hotel.
"Hei! ada apa itu?" Teriak seorang pria yang hendak masuk kedalam kamarnya. Dia terlihat terkejut dengan Sakura yang sedang terkapar.
Awalnya Kakashi malah menoleh ke arah laki-laki yang berteriak, kemudian dia mengikuti kemana arah jari orang itu menunjuk. Dia melihat Sakura, Sakura yang sedang roboh. Lalu dengan reflek, Kakashi mengangkat tubuh Sakura.
"Sakura!" Ino berteriak kaget.
"Siapa saja, tolong panggilkan ambulan!" Kakashi berteriak. Tetapi dia dapat melihat Ino yang berlari menuju lobby hotel.
Kakashi membawa tubuh Sakura kembali ke kamar, kemudian dia membaringkan Sakura di atas tempat tidur.
"Sakura? Hei? Sadarlah." Kakashi menepuk-nepuk pelan pipi Sakura yang suhunya lebih tinggi dari normal. Pria itu juga menggosok-gosok telapak tangan Sakura yang seolah akan membeku.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tanya Kakashi sambil terus mencoba menghangatkan Sakura.
Semua orang sekarang berada di rumah sakit. Ino, Kushina, Minato, dan juga Kakashi sedang berbincang-bincang di depan ruangan Sakura. Setelah dia pingsan di depan kamar, seseorang pegawai hotel langsung menelpon ambulance sehingga Sakura segera mendapat perawatan di rumah sakit.
Dokter mendiaknosa dia mengalami dehidrasi dan gangguan lambung. Setelah itu dia langsung dipindahkan ke sebuah kamar inap. Sakura harus mendapat perawatan sampai kondisinya stabil lagi.
"Aku akan tetap di sini sampai Sakura siuman." Jawab Ino saat Kushina dan Minato mengajaknya kembali ke hotel.
"Kakashi, ayo?" Tanya Minato kepada sutradara muda yang dia anggap sebagai anak didiknya.
"Duluan saja. Aku sedikit flu, jadi aku ingin kedokter sebentar." Minato menaikkan satu alis matanya saat mendengar jawaban Kakashi. Selama dua puluh tahun lebih dia mengenal Kakashi, tidak sekalipun dia mau pergi ke dokter dengan suka rela. Tapi apa gunanya menanyakan hal seperti itu sekarang dan di tempat seperti ini.
"Baiklah. Kami duluan." Kedua orang itu pergi, Kakashi menghampiri Ino untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sakura.
"Ino? Sebenarnya apa yang terjadi kepada Sakura?" Kakashi bertanya kepada gadis yang duduk di bangu tepat di hadapannya.
"Sebenarnya dia memiliki masalah lambung, dia tidak makan sama sekali dari kemarin pagi sampai tadi siang, penyakitnya kambuh."
"Tapi aku rasa dia sesak nafas karena efek samping pil morning after yang tadi dia minum. Aku sudah memberi tau masalah ini kepada dokter tadi, jadi dia tidak mengatakan apapun tentang itu kepada paman dan bibi."
"Morning after?"
"Iya. Meskipun dia tidak melaporkan masalah ini ke polisi, bukan berarti juga dia bersedia hamil." Kejutekan Ino muncul kepada Kakashi yang terus saja berada di sekitarnya dan juga banyak bertanya di saat seperti ini. Dia masih marah kepada orang ini.
Kakashi diam seketika mendengar jawaban Ino. Antara sebal dan juga merasa bersalah membuatnya tidak tau harus berkata apa.
"Bisakah kita masuk untuk melihat Sakura sekarang?" Kakashi berkata setelah beberapa lama mereka saling diam.
"Ya, mungkin saja dia sudah siuman."
Saat Ino memasuki ruangan, Sakura sudah kembali sadar, bahkan dia sudah dapat duduk di atas tempat tidurnya. Wajahnya sudah kembali mendapatkan warna, mungkin karena cairan infus yang memasukkan nutrisi ke dalam tubuhnya. Dia juga sudah terlihat bertenaga.
Sakura menoleh ke arah Ino. "Ino?"
Ino hanya mengangguk saat mendengar sapaan Sakura. Dia berjalan mendekati Sakura, sedangkan Kakashi berdiri dengan jarak yang sedikit jauh dari Sakura.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sakura?"
"Masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari pada tadi." Sakura menjawab sambil memegang keningnya yang masih berdenyut.
"Hai, Sakura." Sepertinya dia tidak menyadari kehadiran Kakashi, karena ketika laki-laki itu menyapanya, Sakura menjadi sedikit terkejut.
"Kakashi, kau ada di sini." Sakura berkata dengan ekspresi kagetnya. Tidak tau harus berkata apa lagi, Kakashi hanya mengangguk ke arah Sakura.
"Dia ada di depan kamar saat kau pingsan tadi."
"Oh. Ino, sekarang jam berapa?"
"Sekarang sudah cukup malam, jam 11:30." Ino menjawab sambil melihat jam di ponselnya.
"Aku belum meminum pil yang kedua. Apa kau membawanya?"
"Tidak. Dokter sudah bilang jika kau tidak perlu meminum pil yang kedua."
"Apa, lalu bagaimana ini?" Sekarang Sakura kembali kebakaran jenggot. Bagaimana bisa dokter melarangnya untuk meminum obat itu? Dan Sakura kembali menangis.
"Tenanglah, Sakura. Kondisimu tidak memungkinkan untuk mengkonsumsi obat itu lagi. Tubuhmu juga sudah cukup mendapatkan hormon itu."
"Ingatlah jika keefektifan obat itu 95%. Meskipun kau meminum tablet keduanya, masih ada kemungkinan kau akan hamil. Setidaknya kau sudah berusaha, apapun yang nanti terjadi memang sudah takdir, Sakura." Lanjut Ino.
"Jangan memaksakan diri, Sakura. Aku tidak tau apa perkataanku ini bisa menenangkanmu. Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama-sama. Kau tidak akan menghadapi apapun sendirian." Ucap Kakashi yang berjalan sedikit mendekat ke arah Sakura.
"Mudah sekali kau bilang begitu! Bagaimana jika kau ada di posisiku saat ini? Bisakah kau tenang?" Entah mengapa kemarahan Sakura tersulut oleh kata-kata Kakashi.
Lelaki itu tau benar jika dalam hal ini dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sakura sedang dalam titik terendah dalam hidupnya, dia stres, depresi, dan juga panik.
"Aku masih 20 tahun! Aku sama sekali belum bekerja, bahkan aku juga belum selesai kuliah! Anak? Bagaimana aku bisa mengurus seorang anak jika sekarang aku belum bisa hidup mandiri?"
"Sekarang kita belum tau apa itu semua akan terjadi, Sakura. Jika nanti semua menjadi kenyataan, aku berjanji padamu, aku akan tanggung semua kesalahanku. Aku janji padamu, aku akan mendukung semua keputusanmu." Kakashi yang mencoba menenangkan Sakura terlihat kualahan untuk meyakinkan gadis itu.
"Sakura, Kakashi benar. Kau tidak akan sendiri, ada aku, dan juga ada dia. Dan jika dia berani melanggar janji, aku akan membunuhnya." Ruangan menjadi dingin setelah Ino mengatakan itu. Sedangkan Sakura dan Kakashi memandang Ino dengan tatapan yang berbeda.
"Apa? Aku akan membunuhmu jika kau meninggalkan Sakura yang menanggung kesalahanmu sendirian." Ino menegaskan kembali maksud dari perkataannya.
Pusing dengan apa yang ada di hadapannya sekarang dan tak tau harus bagaimana lagi membuat Sakura mengerang. Atmosfir dalam ruangan ini juga menjadi sangat sesak dan berat untuk bernafas.
"Sudah terlalu larut, lebih baik kalian kembali ke hotel sekarang." Sakura berkata sambil memijit keningnya.
"Baiklah, aku kembali. Sampai jumpa besok." Kedua gadis itu berpelukan sebelum berpisah.
Ino meninggalkan ruangan Sakura namun Kakashi tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa kau tidak pergi?"
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku benar-benar serius dengan apa yang aku katakan tadi. Kau, jangan khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti."
Sakura hanya diam tanpa merespon apa yang diungkapkan oleh Kakashi. Bahkan dia tidak lagi menatap wajah laki-laki itu.
Namun bukan itu saja yang menjadi tujuan Kakashi tetap berada di ruangan ini bersama Sakura. Ada hal yang lebih membuatnya bertanya-tanya tetang tindakan Sakura.
"Sakura, bisakah aku bertanya padamu?"
"Hm."
"Kenapa kau memilih untuk merahasiakan ini semua?"
"Aku... aku tidak tau. Jangan bertanya hal itu dulu padaku! Aku lelah dan masih pusing." Kakashi terdiam sejenak akibat perkataan Sakura.
"Baiklah. Istirahatlah, Sakura."
Sakura mengangguk.
"Kakashi! Tolong beri tau Ino untuk membawakan ponselku jika dia ke sini besok?" Sakura bertanya tepat sebelum Kakashi pergi dari ruangannya.
"Ya, aku akan memberi tau Ino." Setelah itu Kakashi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kamar hotelnya.
Pada malam itu, kantuk sama sekali tidak menghampiri Kakashi dan Sakura. Walaupun di tempat yang berbeda, mereka tetap memikirkan hal yang sama. 'Bagaimanakah masa depan dan apa yang harus mereka lakukan saat semua itu datang.'
#FanFiction#
Beberapa hari kemudian...
Sejak keberangkatannya pada hari itu, Sakura tidak sekalipun berkomunikasi dengan keluarganya. Baik ayah ataupun ibunya telah mecoba menghubunginya ratusan kali melalui semua media yang ada.
Saat Ino memberikan ponselnya beberapa hari lalu, benda itu rupanya telah berdering hampir setiap waktu. Bahkan laki-laki itu, Taka, penghianat itu juga menelponnya berkali-kali.
Dia merasa bersalah kepada ayahnya yang tidak ikut andil dalam masalah ini tapi tetap ikut khawatir. Ayahnya telah mengirim banyak sekali pesan tentang ajakan pulang ke rumahnya dan juga dia menanyakan pertengkaran antara Sakura dan Tsunade.
"Maafkan aku, Ayah." Sakura membalas pesan itu dengan kata-kata yang menunjukkan keadaannya baik-baik saja dan agar ayahnya tidak perlu khawatir tentang semua masalah.
Kemudian tanpa membalas pesan dari Tsunade dan Taka, Sakura memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. Mengingat pertengkarannya dengan Tsunade, membuat Sakura merasa galau. Tapi hari ini bukanlah hari yang pas untuk itu.
Sejak keluar dari rumah sakit, Sakura masih harus beristirahat total sehingga dia tidak bisa menggunjungi lokasi Shooting. Dan sekaranglah kesempatan itu datang. Walaupun masih harus meminum obat untuk organ pencernaannya yang bermasalah, tetapi setidaknya dia bisa berjalan-jalan.
Ternyata lokasi shooting berada di sebuah studio besar yang disulap menyerupai hutan dan pedesaan yang cukup kuno. Di sana banyak sekali orang-orang lokal yang didandani kurus kering dan tidak terawat, serta menggunakan kain saja sebagai pakaian mereka. Ada juga beberapa orang Jepang yang menggunakan kostun tentara Jepang pada era perang dunia ke-2.
Sakura pernah melihat film karya Kakashi yang semuanya adalah film action. Jika dulu dia Kushina mengatakan bahwa film ini tentang perjuangan wanita, apakah berarti film ini juga berbau drama?
Adegan pertempuran juga dimainkan oleh banyak orang. Ada juga adegan dimana beberapa gadis muda diseret secara paksa oleh prajurit-prajurit Jepang. Saat pengambilan gambar untuk adegan itu, Sakura tak lagi mau melihat aktor dan aktris yang sedang berakting. Dia mengalihkan pandangannya kepada para kru.
Mereka terlihat sangat berkonsentrasi, tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Sepertinya mereka ingin semua adegan tertangkap dengan sempurna. Tapi entah mengapa mata Sakura tiba-tiba mengarah kepada Kakashi yang sedang memperhatikan monitor dengan seksama.
Dia berekspresi seolah ingin memperhatikan adegan itu secara detail, tetapi dia juga seperti muak dengan adegan itu.
"Cut!" Adegan itu selesai dengan pas dan sempurna. Dan kini waktunya mereka berpindah setting tempat ke sebuah ruangan yang nampak seperti gua.
Make up para gadis itu juga diubah sehingga tampak semakin kacau, darah buatan juga dibumbukan di atas kulit kaki mereka, seolah kaki mereka terluka akibat perlakuan kasar dari para prajurit.
Kakashi yang sebelumnya telah bersiap di depan monitor tiba-tiba mengumumkan break. Sakura tau dari naskah yang tadi dia baca, ini adalah adegan perkosaan.
Laki-laki itu berdiri kemudian berjalan tanpa melihat ke depan, hingga dia berpapasan dengan Sakura yang sedang berdiri di samping pintu. Dia tampak terkejut, tapi kemudian dia menyapa Sakura.
"Sakura? Kau di sini?"
"Ya."
Atmosfer di antara mereka menjadi dingin, hingga Kakashi berlalu keluar ruangan. Rupanya dia merenung sebentar sebelum masuk kembali dan memulai adegan itu.
"Action!" Dia memberikan komando. Para aktor dan aktris itu melakukan adegan mereka masing-masing yang tertulis dalam naskah. Tapi entah apa yang salah dari aktor itu, sehingga Kakashi menghentikan pengambilan gambar kemudian menghampirinya.
Dia memberikan arahan kepada aktor itu. Sakura tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Kakashi, tapi dia mengerti bahwa ekspresi dan gerakan si aktor tidak cukup pas untuk adegan itu.
"Dia memang sangat tau apa yang harus dilakukan dalam adegan ini." Sakura beguma pelan.
"Kau terdengar yakin sekali, Sakura." Minato muncul entah dari mana sehingga membuat Sakura kaget. Bahkan dia mendengar apa yang Sakura katakan sebelumnya,
"Paman Minato! Tidak, aku hanya mengingat dia adalah sutradara yang brilian. Jadi aku yakin dia pasti bisa menyelesaikan film ini dengan bagus." Jawab Sakura sepontan saat melihat wajah Minato.
"Begitukah?"
"Iya." Mereka berdua tertawa, tetapi tawa Sakura terdengar aneh dan dipaksakan.
Tanpa mereka sadari suara tawa mereka terdengar oleh seluruh kru dan mengganggu jalannya shooting. Hingga semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah mereka.
"Maaf ya, silahkan dilanjutkan." Minato berkata kepada kru sambil menggaruk tengkuknya, sedangkan Sakura hanya tertunduk malu.
Tapi sebelum memulai adegan itu lagi, Kakashi melihat ke arah Sakura dan Minato seolah meminta mereka keluar dari dalam sana.
"Ayo pergi. Sepertinya Kakashi tidak nyaman jika ada yang melihat." Ajakan Minato sambil menggandeng Sakura keluar dari ruangan itu. Sama seperti Ino, Minato juga menganggap Sakura seperti anggota keluarganya sendiri.
"Sakura bisakah kau membantu kami di sini?" Tanya Minato.
"Ya?"
"Kalau tidak salah kau dan Ino pernah belajar make up karakter saat masih sekolah dulu. Bisakah kalian membantu kami? Banyak sekali orang yang harus dimake up di sini, tapi sepertinya bagian itu masih kewalahan. Bisakah kalian membantu di sini?"
"Ya, mungkin kami bisa membantu." Jawab Sakura dengan riang. Akhirnya setelah selama ini menganggur selama ini, mereka bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ketempat kau beraksi besok."
"Ayo."
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang sedikit bising. Baberapa orang berlalu-lalang membawa kain-kain tradisional yang digunakan sebagai kostum.
"Sebentar lagi pengambilan gambar sudah akan istirahat, jadi tidak ada yang akan dimake up. Kamu lihat-lihat saja di sini." Setelah mengantarkan Sakura, Minato segera pergi dan menghilang entah kemana.
Sakura melihat beberapa orang yang berperan sebagai prajurit dan penduduk asli berjalan menuju ruangan itu. Mungkin saja besok akan lebih mudah jika dia menangani tokoh yang make upnya sederhana saja.
Sakura menuju sebuah sofa yang berada di sisi lain ruangan itu, sehingga dia dapat melihat kostum yang digunakan oleh para aktor dan aktris itu. Sangat simpel tapi juga rumit karena harus melilitkan kain-kain itu sehingga membentuk baju yang tidak akan bergeser saat di gunakan untuk adegan lari-larian.
Rupanya mereka telah beristirahat, karena sang sutradara ikut memasuki ruangan itu. Saat dia melihat Sakura yang duduk di ujung ruangan, Kakashi berjalan menuju Sakura.
"Bagaimana kabarmu, Sakura?" Kakashi mencoba duduk di samping Sakura, akan tetapi Sakura bergeser menjauhinya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sakura secara singkat dan kaku.
"Jadi bagaimana kata dokter tentang keadaanmu?" Tanya Kakashi.
"Dia bilang kita akan baru bisa mengetahui apa yang terjadi setelah 21 hari. Tapi jika sebelum itu aku mengalami pendarahan, itu berarti kita tidak perlu khawatir." Jawab Sakura mengenai penjelasan dokter tentang treatment darurat yang baru di alaminya.
"Seperti itu? Sebenarnya bukan hal itu yang aku tanyakan padamu."
"Aku.. lambungku bermasalah jadi aku merasa mual dan kemarin aku dehidrasi sehingga aku pingsan."
"Maaf aku harus mengatakan ini, tapi kau tidak perlu takut padaku, Sakura. Aku tidak akan pernah membiarkan diriku menjadi iblis lagi."
"Ya, aku tau itu." Sakura menjawab lirih.
"Benarkah? Apa karena itu juga kau-" Sebelum selesai bicara. Sakura telah memotong pembicaraan Kakashi yang membuatnya tidak nyaman.
"Berhenti, Kakashi. Aku tidak ingin mrmbicarakan itu."
"Maaf."
Seolah detak jam dapat terdengar akibat kesunyian di antara merekan. Mereka berdua tidak tau lagi harus bicara apa untuk mencairkan suasana kaku ini. Tapi Kakashi mengambil inisiatif kembali, dan mulai bertanya.
"Aku dengar mulai besok kau akan membantu kami di sini, apa itu benar?"
"Iya, itu benar."
"Selamat bergabung, Sakura. Kau tau tidak jika shooting ini sangat menyenangkan?"
"Aku fikir juga begitu, berkreasi dengan wajah orang akan menyenangkan."
Sakura dapat melihat jika Kakashi melirik ke arah jam dinding. Mungkin sekarang sudah saatnya dia kembali melanjutkan shooting.
"Jangan lupa kesehatanmu lagi. Baiklah. Sampai jumpa besok." Sebelum kembali dia mengatakan hal yang sering dilupakan oleh Sakura... menjaga kesehatan
Tbc
Terima kasih atas reviewnya ya teman-teman
Kynha-Chan
dindachan06
guardien
Taskia Hatake46
Maaf ya jika ada typo ~
Sampai jumpa!
