Di salah satu bagian villa di dekat pantai, ada seorang wanita terus memeluk pria dicintainya di salah satu balkon menghadap ke pantai. Wanita dan pria tersebut tidak lain adalah Sakura dan Sasuke sendiri. Mereka sengaja saling berpelukan demi mendekatkan diri karena mereka tidak pernah bertemu sejak peristiwa empat tahun yang lalu. Bagi mereka 3-4 tahun itu sangatlah lama. Kerinduan mereka berkecamuk, dan tidak bisa ditahan lagi. Makanya mereka berbincang di tempat ini untuk mengeluarkan kerinduan tersebut.
"Tempat ini sangat indah, ya, Sakura," kata Sasuke, pria berambut biru kelam terus merangkul pundak isterinya tanpa melepaskannya.
Wajah Sakura terbenam di dada Sasuke sambil melihat laut nan biru. "Aku bersyukur pada Tuhan bisa melihat laut bersamamu."
"Maafkan aku telah mengabaikanmu selama ini, Sakura." Dikencangkan pundak Sakura, membenamkan wajahnya di rambut merah muda Sakura yang berbau harum.
Sakura menarik tubuhnya dari rangkulan suaminya, mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Sasuke dengan lembut. "Itu bukan salahmu. Kamu hanyalah korban, Sasuke. Jika aku jadi kamu, aku pasti akan melakukannya tanpa aku ketahui."
"Tapi… gara-gara aku…" Sasuke memalingkan muka, menutupi wajahnya menggunakan tangannya yang bebas.
Sakura meraih wajah suaminya lagi untuk berhadapan dengannya. "Lihat aku, Sasuke."
Akhirnya Sasuke melihat Sakura penuh kesedihan mendalam, mempunyai hati teriris-iris bagaikan pisau menancap di hati maupun jantung. Sakura bisa mengetahuinya lewat mata hitam Sasuke. Rasa bersalah menghinggapi dirinya seakan-akan mengurung rasa cinta itu dalam-dalam.
"Apakah kamu menyesal bertemu dengan kami?"
Dicengkram pundak Sakura menggunakan kedua tangan hingga Sakura terkaget-kaget. "Asal kamu tahu saja, Sakura. Aku tidak pernah sekalipun menyesali pertemuanku denganmu hari ini. Aku benar-benar merindukanmu. Apabila aku menjadi dirimu dan tinggal bersama anak-anak tanpa dirimu, mungkin aku tidak akan sekuat dirimu lagi. Jadi, aku tidak pernah menyesal pada pertemuan ini."
Wanita tiga anak ini pun memeluk tubuh suaminya, mendekapnya lebih dalam, dicium wangi aroma yang ada di sana yang selama ini tidak pernah dirasakannya di dalam penciumannya.
"Aku senang kamu ada di sini, Sasuke."
Dibalas pelukan tersebut, Sasuke tersenyum. Awal pertemuan ini mungkin mengubah segalanya. Demi masa depan mereka, dan juga masa depan keluarga mereka. Meskipun sebentar lagi akan terjadi badai yang tidak terhingga dan tidak tahu sampai di mana ujungnya.
..oOo..
.
SUNSHINE
.
.
DISCLAIMER: NARUTO © KISHIMOTO MASASHI
WARNING: OOC, AU, miss typo. Fanfict bergenre drama, dan romance. Rating-nya bisa berubah-ubah tergantung jalannya cerita. Dan, genre-nya juga bisa bertambah tergantung berjalannya alur cerita. Sekuel dari STARLIGHT.
..oOo..
PART X
Kembalinya sang anak, namun sang target telah berhasil di tangan sang pembunuh dan penghancur karena target itu menjerumuskan dirinya demi masa depan keluarganya.
Di kota Tokyo, di mansion milik keluarga Uchiha. Di dalam mansion tersebut, di sana ada seorang wanita berambut biru kelam duduk termenung sambil melihat foto besar di dalamnya ada dirinya dan suaminya. Suaminya telah meninggal dunia tadi malam, dan berhasil dikebumikan hari ini juga meski tidak ada satupun yang melayat. Anak-anaknya telah pergi meninggalkan dirinya, menyisakan rasa kesendirian.
Seorang Uchiha Mikoto yang telah jadi janda, selama sehari ini tidak pernah sekalipun keluar rumah apalagi bertemu orang-orang yang mengucapkan belasungkawa dengannya. Itu sangat menyakitkan hati karena itu menunjukkan bahwa sang suami telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Ada seorang pria berpakaian serba hitam berjalan menuju Mikoto, duduk di sampingnya sambil mendongak menatap foto besar. Rasa kerinduan sangat mendalam pada sepupunya benar-benar menguras otak dan juga istirahatnya. Karena tidak ada keluarga dari Uchiha membantunya, jadi keluarga Hyuuga-lah yang membuat acara seperti ini walau hanya sederhana.
"Aku tahu kamu sangat sedih, Mikoto. Tapi, tidak bisakah sekali-sekali kamu makan dulu agar kamu sehat?"
Tanpa mengalihkan pandangannya, Mikoto terus memandangi foto besar itu. "Buat apa, Hiashi? Tidak ada seorang pun yang mengkhawatirkan aku. Sasuke tidak ada. Itachi juga. Apalagi Hinata dan Sai. Mereka meninggalkan aku dan tidak mau melihat Ayah mereka dikuburkan ke dalam liang tanah."
"Aku yakin mereka pasti datang dan bertemu denganmu juga melihat Ayah mereka," ucap Hiashi tenang. Mikoto menangis dalam diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Di pangkuannya dieratkan tautan jari-jarinya.
"Seandainya aku tahu siapa pembunuh suamiku. Aku pasti akan menghancurkannya."
Mikoto tidak tahu kalau Uchiha Madara-lah yang menyuruh utusannya pergi membunuh Fugaku padahal sudah ada salah seorang yang diutus untuk membunuh Fugaku tanpa sepengetahuan Hiashi. Pria separuh baya ini juga tidak tahu kalau anaknya juga termasuk dalam insiden pembunuhan Fugaku. Tidak pernah diketahuinya sampai saat itu tiba.
Diraih tangan Mikoto di pangkuannya, Hiashi menenangkan isteri sepupunya. "Suatu saat nanti, kita akan membalas dendam pada orang-orang yang membunuh Fugaku. Selama itu pula, aku juga akan memanggil kerabat kita."
"Jika mereka mau, Hiashi." Mikoto bangkit berdiri, berjalan-jalan mengitari ruangan sambil memeluk dirinya. "Seandainya saja ada mereka di sini. Kita bisa berperang melawan Uchiha Madara."
Hiashi terkejut, seolah-olah diterpa angin badai. "Se-sejak kapan…?"
"Aku sudah tahu kalau Ayah mengkhianati kita demi bisnisnya di dunia gelap. Demi memperlancar bisnisnya, Ayah mengincar Itachi, Sasuke, Sai maupun Hinata. Karena mereka-lah satu-satunya cucu di keluarga ini. Apalagi Sakura telah melahirkan anak yang katanya bisa memperluas bisnisnya. Menurut ramalan yang aku dengar lewat seseorang, anak Sakura dan Sasuke akan jadi budak untuk selama-lamanya demi bisnis Ayah. Aku tidak tahu ramalan itu benar apa tidak."
Dikepalkan tangannya seerat mungkin, mengguncang yang ada di dalamnya. Hiashi tidak menyangka Mikoto bisa menyadari sampai sejauh ini padahal hari ini masih masa berkabung. Ternyata benar, Uchiha Madara memang selalu mementingkan dirinya sendiri dan bisnisnya ketimbang keluarganya.
"Jadi…"
Mikoto membalikkan badan menatap Hiashi yang pucat pasi, tersenyum lembut penuh kemisteriusan. "Ya, Hiashi. Aku tahu siapa pembunuh suamiku, Ayah dari anak-anakku juga Kakek dari cucu-cucuku. Dialah Uchiha Madara. Walaupun aku tidak tahu apa sebabnya dia melakukan ini."
Sementara itu di tempat lain, Uchiha Madara duduk di ruang kerjanya yang besar. Di Tokyo ini, Uchiha Madara tidak tinggal bersama keluarga Hyuuga melainkan tinggal di tempat peristirahatan istimewa di sebuah rumah elit di kawasan tertentu. Tidak ada yang tahu di mana pria separuh baya ini tinggal. Hanya orang tertentulah yang mengetahuinya.
.
.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok seorang Hyuuga Neji memasuki ruangan temaram diiringi cahaya di jendela besar menghadap sebuah hutan dan taman yang indah. Neji masuk ke ruangan ini karena ingin membicarakan sesuatu kepada Uchiha Madara.
"Ada apa datang ke sini, Neji?"
"Aku mau mengikuti Kakek. Aku harap Kakek mau menerimaku." Neji setengah membungkuk. Uchiha Madara tertawa.
"Akhirnya, kamu berada di sini bersamaku, di aliansiku." Uchiha Madara bangkit berdiri dari kursinya, berjalan menuju Neji yang tersenyum. Dipeluk tubuh Neji. "Terima kasih, cucuku. Kakek senang bisa melihatmu di sini bersama dengan Kakek. Demi tujuan kita yang akan sebentar lagi berhasil kita raih. Hahahaha!"
Suara tertawa itu bergema di dalam ruang kerja Uchiha Madara. Sedangkan di luar, Deidara ikut tersenyum bahagia karena Neji bergabung dalam bisnis Madara, tuannya yang tercinta. Sebelum beranjak dari sana, Deidara menerima sebuah panggilan dari pelayan di rumah Spanyol. Emosinya berkecamuk. Amarahnya meledak. Dirinya tidak menyangka bahwa Karin yang telah jadi miliknya terbaring koma di Rumah Sakit. Para pelayan di rumah Spanyol menemukan tubuh Karin dengan lengan bersimbah darah. Mereka membawa Karin ke Rumah Sakit, tetapi karena terlalu lama ditolong namun bisa diselamatkan, Karin harus koma dan belum bangun sampai sekarang.
Dikepalkan tinjunya, wajahnya memerah karena amarah di dalam dirinya. "Kurang ajar sekali kamu, Sasuke. Gara-gara kamu, Karin-ku harus berada dalam tidur yang panjang. Awas saja kamu, aku pasti bakalan membunuhmu."
Deidara beranjak pergi dari sana, meninggalkan tempat itu. Di balik dinding terletak paling ujung dan juga paling gelap tidak kentara, ada dua orang merekam semua suara dari pria berkuncir satu tadi. Mereka berdua tidak lain ada Asuma Sarutobi dan Shiranui.
"Sepertinya anak itu lagi masa labil karena cinta, Asuma," kata Shiranui menyilangkan kedua tangan sambil mengisap rokoknya, lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di dekatnya.
"Saatnya beraksi, Shiranui."
.
.
Di lain pihak, kepolisian Tokyo mengadakan rapat dikarenakan salah satu anggota kepolisan gagal menangkap sang pembunuh di Rumah Sakit tempat Uchiha Fugaku dirawat. Sesampainya mereka di sana, Uchiha Fugaku telah berhasil dibunuh. Kekecewaan mereka dikarenakan gagalnya menangkap anak buah sang pembunuh, juga kecewa karena tidak bisa menolong suami Uchiha Mikoto terkenal memiliki banyak perusahaan.
"Kita di sini untuk membahas bisnis dari Uchiha Madara." Sarutobi berkata serius di dalam rapat yang dipimpin olehnya. "Laki-laki itu telah mengutus salah seorang anak buahnya untuk membunuh anaknya sendiri. Aku tidak berharap melihat seorang Ayah rela membunuh anaknya sendiri demi ambisius yang didapatkannya dalam meraih sebuah bisnis gelap."
"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Haku duduk di samping Zabuza. "Apa kita harus menangkap Uchiha Madara yang jelas-jelas berada di Tokyo ini?"
"Jangan gegabah, Haku," perintahnya pada Haku. "Kita belum tahu apa rencana Uchiha Madara setelah ini. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi keluarga Uchiha yang lainnya apalagi ada seorang anak tidak bersalah akan menjadi budak seorang Uchiha Madara yang ambisius."
"Jadi…?"
Sarutobi mengangkat kepalanya menatap lelaki sedang berdiam diri di tempatnya. Dan salah seorang di sampingnya berbinar-binar untuk mendapatkan misi tersebut, Sarutobi menghela napas.
"Guy, jangan suka menatapku begitu." Sarutobi pucat pasi. Walau sudah tua, Sarutobi masih kuat memimpin kepolisian ini demi mendapatkan target paling diinginkan. "Aku mengutus kamu, Guy dan…." Sarutobi mendesah lagi. "… Orochimaru."
"A-apa?!" Guy melirik lelaki berambut hitam panjang sedang tersenyum kecil di bibirnya yang tipis, langsung bergidik ngeri. "Ta-tapi kenapa harus dia, Pak? Tidak bisakah cari yang lain? Misalnya Kurenai, Jiraiya atau Tsunade?"
"Jangan suka memilih-milih, Guy. Terima saja apa adanya." Orochimaru bangkit berdiri, setengah membungkuk pada Sarutobi. Lelaki tersebut meninggalkan ruangan diikuti setengah-setengah oleh Guy yang tidak terima pada perlakuan tersebut.
Alasan Orochimaru menerima semua ini dikarenakan isteri tercintanya telah jadi korban kebrutalan dan ambisius dari seorang Uchiha Madara. Bukan karena isteri dibunuh, tetapi melainkan seorang anak yang paling diidamkan mereka selama ini telah meninggal karena bantaian tersebut. Sekarang, isteri Orochimaru terus berada di dalam rumah menggunakan kursi roda sambil terus merenung di dalam kamarnya.
"Akan kudapatkan kamu, Madara," gumam Orochimaru mengepalkan erat tinjunya, meninggalkan gedung kepolisian tersebut bersama Guy.
..oOo..
Kembali ke Okinawa, Itachi mondar mandir di kamarnya sambil menggigit jari. Rasa khawatir kepada Ibunya terus berkeliaran di dalam benaknya. Sekarang Ayahnya telah tiada, meninggalkan seorang Ibu yang rapuh di dalam kesendirian. Ingin sekali Itachi berkeinginan untuk kembali ke Tokyo, menemui Ibunya dan memeluknya juga membantunya menemukan siapa pembunuh Ayahnya.
Suara pintu terbuka terdengar di kuping Itachi, membuatnya memalingkan wajah ke pintu. Di sana Itachi melihat seorang anak kecil berusia 3 tahun masuk sambil berjinjit demi meraih kenop pintu.
"Ada apa, Iori?"
Anak berambut biru masuk, dan mendorong pintu tersebut agar tertutup. Langkahnya yang kecil membuat Itachi bingung pada anak sekecil di depannya. "Ada apa denganmu, Iori?"
"Paman mau pergi, ya?" tanya Iori terdengar sangat muram dalam berkata.
"Memangnya kenapa?"
"Bolehkah Iori ikut bersama Paman?" tanya Iori sangat berharap walau itu sengaja dibuat paksa. Itachi terperanjat pada perkataan Iori, berjongkok agar bisa melihat Iori lebih dalam.
"Kenapa kamu mau ikut dengan Paman? Ada masalah?" Direngkuh lengan mungil Iori yang terasa di tangannya Iori gemetaran. "Kamu kenapa, Nak?"
"Iori mau bersama Paman. Izinkan Iori ikut." Sebuah air mata jatuh di kelopak matanya yang sendu. Jantung Itachi seakan-akan teriris-iris melihatnya, dipeluk tubuh mungil tersebut, menenangkannya. "Iori tidak mau di sini. Iori mau ikut Paman. Izinkan Iori ikut!"
Itachi belum bisa mengatakan apa-apa lagi. Dirinya tidak bisa mencari kata-kata bagus buat anak sekecil ini.
"Iori mau…"
"Apa Iori ada di sini, Kak?"
Pintu terbuka dan menampilkan sosok pria berambut biru hitam seperti Iori. Matanya tertuju pada seorang anak kecil yang dipeluk oleh Kakak laki-lakinya. Sasuke masuk, lalu melihat Iori yang memalingkan muka tidak mau menatapnya.
"Iori?"
"Sasuke, ada apa kamu ke sini?" tanya Itachi melepaskan pelukan tersebut.
"Aku mencari Iori. Aku tidak menyangka anak Ayah ada di sini. Biasanya selalu di tempat Ibunya," ucap Sasuke mengelus kepala Iori. Anak kecil berusia 3 tahun mengusap-usap air matanya dan beranjak pergi dari sana, meninggalkan Sasuke yang kebingungan. "Iori?"
Sasuke mengejar Iori, namun sebelum hal itu terjadi Itachi menangkap pergelangan tangan Sasuke. "Tunggu! Sebelum kamu pergi, aku mau bertanya padamu dulu."
"Ada apa?"
"Apakah kamu tidak melihat kalau Iori seperti menderita?" tanya Itachi langsung ke intinya. Sasuke mengerutkan keningnya, bingung. "Apakah kamu tidak melihat Anakmu yang tadi tidak mau melihatmu itu tadi sangat menderita dan meminta-minta padaku untuk membawanya pergi."
Sasuke menarik pergelangan tangannya, berkerut kening. "Apa keinginanmu untuk membawa Iori bersamamu? Kamu bukan Ayahnya, Itachi!"
"Aku memang bukan Ayahnya, Sasuke!" teriak Itachi lantang membuat Sasuke semakin marah padanya. "Apa bagi seorang Ayah tidak bisa melihat betapa menderitanya seorang anak dikarenakan perlakuan seorang Kakak terhadapnya?"
"Jangan menuduh Hikari, Itachi. Tidak mungkin Hikari melakukan itu pada Iori!" bantah Sasuke penuh kemarahan.
"Jika kamu memang lebih memilih Hikari dan lebih mementingkan anak pertamamu, itu sama saja kamu melukai anakmu, Sasuke. Meskipun dia tidak pernah diberikan kasih sayang selama dia beranjak dewasa tahun demi tahun!" Diraih kerah kemeja Sasuke, mengetat dan menatapnya penuh ketajaman bagaikan pisau. "Ingat hal ini, Sasuke! Jika kamu tidak mampu menyayangi Iori selayaknya, maka aku pastikan akulah yang akan menyayanginya dan tidak seorangpun yang boleh membawanya lagi dariku! Camkan itu!" ucap Itachi sembari mendorong tubuh Sasuke hingga cengkraman di kerahnya terlepas.
Sasuke menggeleng, lalu beranjak pergi dari sana demi mengejar Iori. Itachi mendesah panjang atas perbuatannya kepada adiknya yang tidak tahu apa-apa. Selama ini, Itachi mengetahui betapa tidak sukanya Hikari kepada Iori. Semenjak tinggal di rumah Sakura yang dulu, Itachi melihat gelagat Hikari lebih menyukai adiknya, Youta, ketimbang Iori. Karena Iori sangatlah mirip dengan Sasuke. Apakah mungkin Hikari begitu bencinya pada Iori?
Sasuke mendobrak kamar Iori, mengagetkan Iori di tempat tidurnya. Mata hitam bercampur biru memandangi Ayahnya yang sangat geram dan marah. Langkah kaki yang keras membuat Iori tidak pernah melihat Ayahnya sebegitu marah kepadanya. Tapi apa?
"Apa yang kamu katakan pada Paman Itachi?"
"I-Iori…"
"Katakan!" teriak Sasuke menggema di kamar Iori. Anak itu langsung beringsut menjauh.
"I-Iori tidak mengatakan apa-apa, A-Ayah…," ucap Iori takut-takut sambil gemetaran.
Sasuke tidak tahan lagi, meraih lengan Iori dan menariknya keluar dari kamar. Langkah Iori yang kecil harus mensejajarkan dengan langkah besar Sasuke. Mereka pergi ke Hikari yang terletak agak dekat dengan kamar Iori. Sasuke masuk ke sana dan melihat Hikari bersama Youta sedang bermain-main.
"Hikari!" panggil Sasuke setengah meredam amarahnya. Hikari tersenyum melihat Sasuke, bangkit berdiri untuk berhadapan dengan Ayahnya.
"Ada apa, Ayah?" Sekali-sekali melirik Iori yang dipegang oleh Sasuke, tersenyum lembut. "Iori, ke mana saja kamu?"
"Ayah mau tanya padamu, Hikari. Apa kamu membenci Iori karena Ayah tidak ada di sampingmu?" Hikari yang mendongak terus memasang senyum penuh misteri, menggeleng.
"Tidak pernah, Ayah. Padahal aku senang Iori ada di sini. Aku juga tadi mencari Iori, tapi dia tidak mau ikut bermain bersama kami," ucap Hikari terdengar tenang.
Youta meringis pada perkataan Hikari yang bikin hatinya terayat. "Dasar pembohong!" gumam Youta di dalam hati.
"Benar?" tanya Sasuke mencari-cari sesuatu di dalam mata biru Hikari, tetapi itu tidak ditemukannya karena Hikari tidak mengeluarkan arti itu. "Baiklah, Ayah tidak meminta penjelasan itu darimu lagi." Ditatap Iori yang matanya melebar pada kalimat Hikari tadi. "Iori, Kakakmu tadi mencarimu. Ayah yakin, kakakmu tidak membencimu. Kenapa harus takut dan menghindar? Apa kamu tidak menyayangi Kakakmu?"
Selagi Sasuke menatap Iori, mata Iori tertuju pada sunggingan senyuman dari Hikari yang menyeringai kemenangan. Iori melepaskan tangannya di genggaman Sasuke, berbalik badan hingga Sasuke harus mengejarnya.
Youta tidak tahan pada usaha dan juga tindakan kekanakan dari Kakaknya, memilih minggat dari kamar Hikari. "Aku tidak tahu harus bilang apa sama Kakak. Kakak terlalu egois, cemburuan, penuh kebencian dan kekanakan. Semoga Kakak tidak menyesal pada apa yang Kakak katakan pada Iori maupun Ayah. Tuhan tidak tidur, Kak. Tuhan pasti akan menunjukkan jalan kebenarannya."
Youta pergi, meninggalkan Hikari yang terkekeh geli. "Huh! Memangnya aku mau memikirkannya. Yang penting aku menang."
Iori terus berlari masuk ke kamarnya, diikuti Sasuke di belakang. "Iori! Apa-apaan kamu! Ayah sedang bicara padamu, tapi kenapa kamu malah pergi, hm?"
"…"
"Jawab pertanyaan Ayah, Iori!" bentak Sasuke membuat Iori terperanjat saking kaget mendengar bentakan Ayahnya di telinganya. "Iori!"
"…"
Dicengkram erat-erat lengan mungil Iori dan membalikkan tubuhnya. Di sana tidak ada satupun air mata maupun kesedihan melainkan wajah datar seperti dilakukan orang kebanyakan. Sasuke mengerutkan kening pada wajah datar Iori yang semakin dingin itu bisa dirasakan oleh auranya.
"Iori, jawab Ayah! Apa kamu tuli?"
"Sasuke, hentikan!" teriak Sakura berlari menghampiri keduanya. Ditepuk pundak Sasuke untuk tenang. "Mungkin Iori lagi capek, makanya tidak menjawab pertanyaanmu. Biarkan dia istirahat dulu."
"Cih! Baiklah." Sasuke bangkit, menatap tajam pada Iori. "Jika besok kamu tidak mau mengatakannya pada Ayah, Ayah beri kamu hukuman."
"Sasuke!" bentak Sakura tidak tahan pada kalimat Sasuke kepada anak bungsu mereka. "Jangan timpakan kemarahanmu pada Iori. Dia belum tentu salah pada semua ini, Sasuke."
"Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu, Sakura." Sasuke memilih pergi meninggalkan keduanya. Sakura memeluk tubuh Iori yang kaku seperti patung, tidak ada respon dari pemiliknya.
"Maafkan Ayahmu, Iori. Mungkin dia marah karena suatu hal." Diusap-usap punggung mungil kecil itu. Setelah itu, Sakura pergi meninggalkannya.
Wajah datar dan tubuh kaku terbentuk dikarenakan Iori mengetahui bahwa Sasuke lebih memilih Hikari ketimbang dirinya padahal kalimat itu jelas-jelas menyuruh dirinya untuk segera menjauh. Kalimat Hikari yang sangat jelas terdengar di kupingnya, menandakan sudah waktunya untuk pergi meninggalkan tempat ini. Meninggalkan kebersamaan tadi bisa dirangkulnya, tetapi dilepaskan karena terpaksa.
"Iori tidak akan menangis lagi. Iori akan melanjutkan apa yang sudah ditakdirkan. Saatnya matahari berubah jadi bulan purnama dan tidak akan menjadi matahari lagi," gumam Iori berbisik dalam hati.
.
.
"Apa-apaan kamu membentak Iori seperti itu, Sasuke!?"
Wanita berambut merah muda masuk ke kamar dan memarahi Sasuke yang tadinya duduk jadi kembali tertidur. Sakura berkacak pinggang melihat tindak tanduk Sasuke yang aneh.
"Apa alasanmu melakukan itu, Sasuke?!"
"Cih." Sasuke bangkit dari tempat tidur, menghadapi Sakura. "Anak itu jelas-jelas mengatakan kalau Hikari membenci dirinya! Mana mungkin seorang Kakak membenci Adiknya hanya karena masalah sepele. Jelas-jelas Hikari terus mencari Iori, tapi anak itu malah menghindar."
"Benci? Itu tidak mungkin, Sasuke. Hikari sangat menyayangi Iori sebagaimana dia menyayangi Youta."
"Nah, itu dia. Tapi, anak itu tidak mau menjawab pertanyaanku. Ini karena aku tidak bersama kalian bertahun-tahun, aku malah jadi menelantarkan anak yang tidak dididik seperti itu!" geram Sasuke penuh kemarahan.
"Sudahlah, Sasuke. Namanya juga dia masih kecil dan perlu diajari. Lebih baik kita tidur saja, ya?" Didorong tubuh Sasuke ke tempat tidur. Mereka tidur bersama-sama sambil berpelukan.
.
.
Di kamar lain, Itachi bergegas meninggalkan villa di Okinawa sambil berjingkat-jingkat. Dia tidak mau kalau didengar oleh penghuni villa ini, takut ditanya macam-macam. Itachi tidak membawa apapun dikarenakan sudah ada pakaian di rumahnya di Tokyo. Saat mencapai pintu depan yang tidak dijaga siapapun, terkejut pada langkah aneh di belakangnya.
"Si-siapa itu?" tanya Itachi meredakan suara agar tidak terlalu kencang.
Sosok yang berjalan-jalan hingga tidak terdengar di telinga mengagetkan Itachi. Sosok itu tidak lain adalah Iori yang menatap datar Itachi. Sepertinya tekad Iori sangatlah bulat, sampai-sampai harus mengorbankan dirinya demi kepentingan bersama milik keluarganya.
"Jadi, kamu ingin ikut bersama Paman?"
Wajah datar Iori berubah biasa yang sering dilakukannya apabila bersama Itachi, mengangguk sambil tersenyum. "Boleh 'kan? Please…"
Kata-kata itu sangatlah mirip dengan kata-kata waktu memohon agar dirinya pergi bersamanya. Itachi mengangguk, menggendong Iori dan membawanya pergi dari Okinawa menggunakan pesawat yang sengaja dipesan tadi siang untuk dua orang. Karena Itachi tahu, Iori memang ingin ikut bersamanya.
.
.
Sesampainya di bandara, Itachi dihadang oleh orang-orang berpakaian serba hitam. Itachi dan Iori tidak mengetahui kalau hal ini akan terjadi pada dirinya. Orang-orang berpakaian serba hitam berdiri mengelilinginya, lalu dibuka celah agar seseorang bisa masuk ke dalam lingkaran tersebut.
"Akhirnya aku menemukanmu, kak Itachi." Suara familiar terdengar jelas di kuping Itachi, terkejut pada apa yang dilihatnya. Seorang lelaki berambut cokelat panjang tersenyum kecil. "Dan juga, Iori. Paman senang bisa melihatmu."
"Neji?"
"Saatnya pulang, Kak. Kakek sudah menunggu kita." Neji memiringkan tubuhnya, mempersilakan Itachi maju duluan sambil menggendong Iori yang berwajah datar namun misterius.
"Kamu…"
"Hahaha! Kenapa? Kaget?" Neji menggeleng sambil terus tersenyum. "Tidak usah sekaget itu, Kak. Nanti Kakak akan kaget lagi setelah bertemu dengan Kakek."
"Sialan!" kutuk Itachi dalam dirinya. Iori melirik Neji yang tersenyum kepadanya, mengangguk penuh arti sambil menatapnya.
"Inilah tujuan Iori dari awal, Paman Itachi," gumam Iori dalam hati.
Iringan orang-orang berpakaian serba hitam membimbing Itachi dan Iori ke pesawat yang telah disediakan oleh Uchiha Madara tanpa diketahui oleh pihak kepolisian yang menyamar sebagai salah seorang pengawal terbaik Uchiha Madara dengan menyamarkan wajah mereka sebegitu beda dari aslinya.
To Be Continued…
..oOo..
A/N: Maaf, telaaat banget. Sebenarnya saya mau meng-update-nya minggu lalu, tapi karena sibuk menjelang akhir tahunan, jadi tidak bisa. Maafkan saya ini, ya. Jangan makan saya, saya kurus kok. Suerr! ._.V
Dan buat tambahan, di chapter 11 sampai seterusnya saya berubah rating jadi rating M. Karena kata-katanya kelewat pedas, dan ada pula kejadian yang bikin sakit hati gara-gara kedatangan Iori. Mungkin fict ini tamat sampai chapter 20, mohon bimbingan juga dukungannya, ya! ^^
Reply Review (Previous Chapter):
Hotaru Keiko: Makasih sudah menunggu dan juga me-review… ^^
Akbar123: Makasih sudah me-review… ^^
Kasih Hazumi: Yup! Mungkin belum terbukti jelas bagaimana Hikari benci pada Iori. Semoga ke depannya bisa dikasih jelas. Tentu saja You lebih memilih Iori yang tidak tahu apa-apa. Makasih sudah me-review… ^^
Febri Feven: Makasih atas review-nya… ^^
Hanazono Yuri: Makasih atas buat review-nya… ^^
UchiHaruno: Makasih atas review-nya… ^^
Thaaraw: Thanks for review… ^^
Racchan Cherry-desu: Yup! Karin bunuh diri. Kalau Karin masih hidup, bagaimana? :3
Minta permennya dong, bukannya lagi promosi #dibuang
Saya juga tidak menyangka. Neji begitu sadis banget.
Amiin. XD
Lihat saja nanti #wink. Makasih atas review-nya dan juga dukungannya! ^^
Guest: Bagaimana, ya? #digetok
Makasih atas review-nya… ^^
Yukiko Arashi: Ganti nama lagi? Semakin kepo deh, saya. -_- #miris
Kasihaan… #lirik kuburan Fugaku #buang tissue di sana #plak
Mudah-mudahan #evil smirk
Hahaha! Bakalan kuat, kok. Malah anak bungsu saja lebih kuat ketimbang anak lain, mana tahan. #diinjak sama Hikari
Nanti dicari, saya suka lupa-lupa ingat. :P
Makasih atas review-nya… ^^
Guest: Sudah ada, kok. Nih! #kasih chapter 10
Makasih atas review-nya… ^^
HimekaRaggs: Makasih atas pujiannya, dukungannya dan review-nya. Sungguh menggiurkan banget #memangnya makanan #plak :D
Signature,
Zecka S. B. Fujioka
Makassar, 25 Desember 2013
