Perjalanan panjang di tempuh untuk mencapai tujuan yang sama, mereka semua hanya mengininkan semua ini berakhir, peperangan yang hanya menghasilkan ke sengsaraan dan kesedihan di hati seluruh orang. Bukan hanya ksatria tapi para penduduk merasakan apa yang dirasakan oleh Raja mereka.

Kerajaan Rakuzan adalah kerajaan yang makmur dengan persediaan pangan yang melimpah ruah karena tanah mereka yang begitu subur, rakyat hidup dengan makmur karena hasil yang di berikan oleh alam melimpah ruah, serta Raja mereka yang bijaksana dalam melakukan tugasnya.

Begitulah keadaan Kerajaan Rakuzan sebelum peperangan terjadi, setelah sebelumnya para Iblis menghancurkan Kerajaan Seirin hingga tak bersisa dan sekarang mereka mulai menghancurkan Kerajaan Rakuzan.

Merasa menang karena pangeran Rakuzan sudah mati akibat serangan di Kerajaan Seirin. Mereka menyerang tanpa belas kasih, seluruh penduduk di bantai habis, para ksatria berjuang semampu mereka untuk mengalahkan para iblis yang ada walau hasil yang di dapatkan adalah tragis.

Sang Raja yang sudah tidak sekuat dulu menggunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi Kerajaan yang dia sayangi walau nyawa taruhannya. Dengan resiko yang besar bukan berarti hasil yang di dapatkan besar. Masaomi tau itu dan dia ikhlas melakukannya demi kedamaian Kerajaanya.

Sudah cukup dia kehilangan sang istri dan anak yang begitu dia cintai, maka dia akan melakukan apapun untuk rakyatnya. Maka dari itu kekuatan yang masih ada pada dirinya dia gunakan untuk membasmi semua iblis yang datang sampai hancur tak bersisa. Berakhir dengan dirinya yang harus kehilangan seluruh masa hidupnya menyusul sang istri dan anak di sana.

oOo oOo

Fallen Angel 10 – Penyerangan (Bag. Akhir)

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Pairing : AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu

Rating : T

Genre : Drama, Romance, Friendship

Warning : Typo dimana-dimana XD

oOo oOo

Hancur.

Hanya satu kata itu yang dapat mereka katakan setelah melihat pemdangan mengenaskan di hadapannya. Berharap mendapatkan sebuah sambutan hangat dari rakyat serta ksatria di kerajaannya juga dekapan hangat sang Ayah, namun yang di dapatkan adalah kebalikan itu semua.

Pemandangan yang tersaji bukanlah pemandangan indah dari Kerajaan Rakuzan, melainkan pemandangan yang sama seperti Kerajaan Seirin yang telah hancur. Kerajaan kesayangannya telah hancur.

"A…apa yang terjadi-ssu?" ucap Ryouta shock dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya.

"Sepertinya kita telat, Seijurou-sama"

"Apa para iblis yang menyerang Kerajaan Rakuzan Sei-chin?"

"Sialan! Awas saja kalian para iblis! Akan ku habisi kalian!" umpat Daiki, kesal dengan apa yang tersaji di hadapannya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Seijurou dan yang lainnya mengepakan sayap mereka menuju istana Kerajaan. Pemadangan yang tersaji di bawah mereka sungguh mengenaskan. Genagan darah berceceran dimana – mana, mayat yang tergeletak sembarangan, rumah yang hancur tak bersisa. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

Namun tidak dengan Istana Kerajaan. Dengan keadaan yang baik Istana masih berdiri dengan kokoh seperti tidak terjadi apapun. Dari kejauhan mereka masih bisa melihat para penjaga dan ksatria yang masih menjaga Istana di berbagai daerah.

"Hey lihat itu! Apa mungkin para iblis kembali lagi?" seru salah satu penjaga Istana yang melihat sekawanan bersayap datang mengampiri

"Tunggu bukankah itu….. Pangeran Seijurou?!"

oOo oOo

"Jadi, maksud kalian Otou-sama menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghabisi seluruh Iblis yang menyerang?"

"I…Iya Pangeran"

"Sialan" umpat Seijurou.

"Lalu? Apakah para warga semua di bantai?"

"Warga yang berhasilkan di selamatkan berada di ruang bawah tanah, bersama Nona Satsuki dan para tabib lainnya"

"Shintarou kau bantu Satsuki, Atsushi buat makanan untuk warga yang terselamatkan, Daiki dan Ryouta bantu petugas dan Ksatria lain membersihkan Desa, dan kalian ksatrian Seirin bantu Daiki dan Ryuota" perintah Seijurou

"Baik, Seijurou-sama" ucap mereka semua serentak.

Saat semua sudah pergi ke tempat tujuannya masing – masing, Seijurou pergi menuju kamar sang Ayah. Hanya ingin memastikan apa benar bahwa Raja Rakuzan yang begitu kuat telah tiada.

Ragu untuk membuka pintu besar yang ada di hadapannya. Tidak siap, sungguh Seijurou tidak siap jika harus melihat tubuh kaku sang Ayahnya. Memang Seijurou tidak begitu dekat dengan sang Ayah namun, tetap saja dirinya tidak siap dengan apa yang akan di lihatnya.

"Kau yakin akan membukanya Pangeran?" Tanya seseorang dari arah belakang.

"Aku hanya ingin memastikan semua"

"Tapi kau terlihat tidak yakin, Seijurou"

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, benar apa yang di katakan orang yang ada di belakangnya, dia memang tidak yakin dengan apa yang akan dia lihat jika memasuki kamar sang Ayah.

"Akan ku temani" ucapnya sambil menepuk bahu sang Pangeran.

Dan tanpa menunggu lagi mereka berdua masuk kedalam kamar sang Raja.

Di dalam sana, terlihat seseorang yang tengah tertidur dengan begitu nenyak hingga tidak menyadari bahwa ada yang masuk ke dalam kamarnya. Di hampiri sang Ayah yang sedang tertidur nyenyak itu, begitu pikir Seijurou.

"Dia tertidur? Berapa hari dia tidak istirahat hingga tidur lelap begitu?"

"Sejak kau mati tentunya"

"Pantas saja dia begitu tenang tidurnya hingga tidak menyadari bahwa anaknya telah kembali" ucapnya dengan lirih, menahan gejolak yang ingin keluar dari dalam dirinya.

"Tidak perlu kau tahan, aku di sini menemanimu Pangeran"

"Hey, boleh ku tanya satu hal?"

"Tentu, apa itu?"

"Wajah seperti apa yang dia perlihatkan sebelum dia tertidur?" suaranya bergetar sama seperti tangannya yang terkepal menahan sesuatu yang akan keluar.

"Tersenyum tentunya, karena bisa bersama Sang Ratu kembali, walau berharap kau ada di sana"

Hening. Tidak ada jawaban yang terucap dari Seijurou

Terdiam. Hanya itu yang dia lalukan

Lemas. Entah kenapa kakinya begitu lemas hingga tubuhnya merosot jatuh ke bawah.

Panas. Matanya terasa begitu panas dan basah, sesuatu mengalir dari ujung matanya.

Dan tidak lama terdengar isak tangis dari sana.

Dia tahu bahwa sang Ayah tidak akan pernah membuka kembali matanya, itu yang dia selalu harapkan dulu, namun entah kenapa sekarang dia ingin mata itu terbuka menatapnya dengan tatapan tajam namun hangat di saat yang bersamaan.

Kehangatan yang ada di hidupnya

Pelukan hangat sang Ibu

Tangan hangat sang Ayah

Dan

Senyuman hangat dari Tunangan Birunya

Dia merindukan semua itu.

Dan bersumpah pada dirinya sendiri

Dia akan mengakhiri perang yang terjadi

Dan mendatangkan kembali kehangatan yang sempat hilang dari dirinya

"Kau tidak sendirian Seijurou, aku dan yang lain ada bersamamu" ucap seseorang yang sejak tadi bersama Seijurou

"Ya aku tau itu, terima kasih Shuzou"

oOo oOo

"HAHAHAHAHAHA!" suara tawa terdengar keras dan menggema di salah satu ruangan sebuah Istana yang sudah hancur.

"Akhirnya yang ku tunggu akan tiba juga, bersiaplah Pangeran Seijurou dan kau akan membantu ku untuk mengalahkannya"

"Baik Hanamiya-sama" ucapnya begitu datar dan dingin.

oOo oOo

"Bagaimana keadaan mereka Shintarou?"

"Keadaannya membaik setelah diberi obat dan makanan yang di buat oleh Atsushi"

"Bagus, jika sudah selesai kau dan Satsuki temui aku di ruangan ku"

"Baik, Seijurou-sama"

Selesai melihat keadaan para warga yang bisa terselamatkan, selanjutnya Seijurou pergi menuju tempat Daiki dan Ryouta.

Sungguh jika di lihat lebih dekat keadaan desa jauh dari kata baik, walau tidak separah Kerajaan Seirin namun, tetap saja ini menyakitkan desa dan Kerajaan yang dia cintai hancur oleh para Iblis yang serakah.

"Daiki, Ryouta dan kalian, segera ke ruanganku sekarang" ucapnya dengan nada tegas yang langsung di jawab balasan semangat dari mereka.

Selesai dengan urusannya, segera Seijurou pergi menuju ruangannya, dan tanpa menuggu lama dia sudah sampai di depan ruangannya.

Masuk kedalam sana terlihat sang orang yang merupakan guru dan Panglima kerajaan sedang membaca sebuah dokumen yang ada di sana.

"Kau sudah temukan lokasinya, Shuzou?"

"Tidak, aku tidak mencari apa yang kau minta"

"Lalu? Apa yang kau baca?"

"Sesuatu yang menarik, seseorang yang sekarang begitu di takuti bahkan oleh sahabatnya sendiri, dulu begitu menggemaskan"

"Huwaaa, Shuzou-san benar dia mengemaskan sekali"

"Hmmpp aku akui itu memang mengemaskan"

"Heeeee terlalu menggemaskan, aku sampai ingin memakannya"

"Hahahaha dia berbeda sekali dengan yang sekarang"

"Aku tidak tau kalau dia menggemaskan sekali-ssu"

Penasaran, namun baru selangkan dia akan mengampiri gerombolan pelanggi, Shuzou sudah menutup dan memasukan kembali buku tersebut pada tempat asalnya.

"Jadi? Ada apa kita di panggil kemari? Aku tidak mau lagi melakukan hal yang tidak berguna disini!" teriak si rambut belang.

"Janga ucapanmu Taiga"

Seketika beberapa pasang mata menatapnya tajam karena telah membuat sang singa bangun dari tidurnya.

"Kita akan menyusun rencana untuk menyelamatkan Tetsuya dan mengakhiri perang ini"

"Kau yakin? Kita saja belum mengetahui dimana tempat Tetsuya-sama berada"

"Hanya ada satu tempat yang akan mereka jadikan tempat bersembunyi"

"Jika kau sudah mengetahui nya itu cukup, jadi bagaimana kita akan menyerang mereka?"

"Tenang saja Shuzou, rencana sudah siapkan, dan besok kita akan pergi ke sana segera"

Rencana yang telah di buat, di jelaskan kepada mereka yang ada di sana. Berbagai rencana sudah di siapkan untuk menutupi kegagalan dan segala kemungkinan yang ada.

'Tunggu saja Tetsuya, aku pasti akan menyelamatkanmu'

oOo oOo

Semua sudah siap, rencana yang sudah di buat kemarin akan di lakukan sekarang, demi menyelamatkan kehangatan terakhir dirinya yang masih ada. Senjata di siapkan dan segera Kisedai bersama Ksatria Seirin dan Panglima Shuzou pergi menuju tujuan mereka yaitu reruntuhan Istana Kerajaan Seirin.

Selama perjalanan menuju Kerajaan Seirin banyak Iblis yang menyerang mereka mencoba menghentikan mereka yang sedang terbang menuju Kerajaan Seirin. Untuk sebuah bagunan yang sudah runtuh dan tidak berpenghuni aneh jika banyak iblis yang berkeliaran dan langsung menyerang begitu melihat muka Seijurou. Jika bukan suruhan Hanamiya maka Iblis itu belum tentu akan menyerang.

Tahu bahwa sang tunangan biru ada di Kerajaannya sendiri, Seijurou dan pasukan pelanginya segera membasmi semua para Iblis hingga tak tersisa. Selesai membersihkan bagian depan dari para Iblis, mereka masuk kedalam reruntuhan tersebut, namun sebelum mereka berjalan lebih jauh dua orang yang datang dari arah kegelapan muncul menghadang mereka.

"Maaf tapi kalian tidak bisa masuk lebih dari ini"

"Oleh karena itu, kami akan menghentikan kalian di sini"

Terkejut adalah kata yang pas untuk mengambarkan apa yang terjadi di hadapan mereka. Seseorang yang mereka kenal baik ada di hapadan mereka, menghadang mereka dengan aura yang begitu dingin.

"Tatsu-chin"

"Kazunari"

"Bagaimana ini-ssu, mereka kenapa menghadang kita?" ucap Ryouta panik.

"Shintarou, Atsushi, Taiga, Izuki, Hyuuga kalian lawan mereka" perintah Seijurou dan yang lain terbang mengikuti kemana Seijurou pergi.

"Apa mereka akan baik – baik saja-ssu?"

"Mereka bukan orang lemah jadi pasti mereka baik-baik saja"

"Tapi bukannya Kazunari-cchi dan Tatsuya-cchi itu…." Kelu, lidahnya kelu untuk melanjutkan kalimat yang ingin dia sampaikan.

"Tenang saja kau tidak usah khawatir pada mereka" ucap Daiki sambil mengelus – elus surai kuning Ryouta.

"Tapi sayang mereka yang akan mati!" teriakan terdengan saat mereka berusaha menuju tempat Tetsuya berada.

"KAU!" teriak Ryouta saat tau siapa yang kembali menghadang mereka.

"Lama tidak bertemu Ryouta"

"Haizaki" geram Daiki

"Kalian tidak akan kemana-mana karena aku akan mengalahkan kalian semua" ucap Haizaki dan seketika segerombolan iblis muncul menyerang mereka.

"Cih, dasar malaikat pengkhianat, Seijurou! Kau pergi sendiri menuju tempat kekasihmu berada, yang ada di sini serahkan pada kami saja!" teriak Shuzou sambil menyerang beberapa Iblis.

Tanpa menunggu waktu lagi Seijurou pergi sendiran menuju tempat sang kekasih berada.

Selagi mereka sibuk melawan para Iblis, Kiyoshi salah satu Ksatria Seirin ternyata diam – diam mengikuti kemana Seijurou pergi. Dia ingin memastikan sesuatu jika orang yang mereka sebut sebagai dalang dari semua kekacauan ini bukanlah orang yang dia kenal. Maka dari itu dia pergi untuk memastikan bahwa apa yang dia pikirkan itu salah.

"Lama tidak berjumpa Shuzou"

"Ya, lama tidak berjumpa dan kau berubah menjadi Iblis"

"Hohohoo, kurasa kau tau salah siapa ini Shu~zou~"

"Jangan pernah menyalahkan Shuzou-cchi, Haizaki!"

"Diam kau Ryouta!" kesal Haizaki yang menerang Ryota dengan sihirnya.

Belum serangan tersebut mengenai Ryouta, Daiki yang berada di sisinya menghalau serangan tersebut dan membalasnya.

Shuzou yang melihat ada kesempatan ikut menyerang Haizaki, yang merupakan mantan kekasihnya tanpa ampun, di bantu juga dengan serangan Ryouta yang dapat meniru sihir siapapun termasuk sihir Seijurou.

Apes memang nasib Haizaki jika berhadapan dengan Shuzou, belum sempat dia melihat Seijurou menangis karena kekasih birunya sudah kalah duluan, babak belur di hajar Shuzou, dan juga Daiki di bantu oleh Ryouta yang meniru sihir Daiki.

Jadi, katakan selamat tinggal pada Haizaki yang tinggal nama karena telah di keroyok oleh tiga orang yang jago berkelahi.

"Ku kira dia akan semakin kuat, tapi apa-apan tadi? Kenapa dia lemah begitu? Menyesal aku pernah menyukainya!" kesal Shuzou entah pada siapa.

'Bagaimana tidak terlihat lemah, Shuzou-cchi menyerang nya tanpa ampun gitu sih, wajar Haizaki langsung K.O" ucap Ryouta.

"Tapi Chihiro tidak begitu, dia kuat malah aku 'serang' beberapa kalipun"

"Shuzou-senpai, jangan bahas itu di sini"

"Aku hanya berkata kebenaran!"

"Terserah, selain itu. Kau baik – baik saja kan Ryouta?"

"Tentu, kau tidak perlu khawatir Daiki-cchi" balas Ryouta dengan senyuman khas nya yang langsung membuat pipi Daiki merona, walau tidak terlihat.

"Berhenti bermesraan atau ku tendang kalian!" kesal Shuzou.

"Ha….Hai/ssu"

oOo oOo

Di tempat lain

"Kau lihat itu? Mereka melawan teman mereka sendiri, bukannya menyedihkan?" Tanya seseorang pada sosok yang ada di sebelahnya.

"Bagaimana menurut mu? Bukannya ini menarik? Sesama malaikat saling menyerang sungguh pemandangan yang indah bukan?"

"Iya, Hanamiya-sama"

"Hahahahaha, jawaban bagus dan kau lihat seseorang dengan sayap dan surai merah itu? Dia adalah orang yang memerintahkan mereka untuk menyerang malaikat, sungguh kejam bukan? Dan tugas mu adalah membunuh dia kau paham?"

"Baik, Hanamiya-sama"

"Hahahahahaha, bagus"

'Selamat menemui ajalmu, Pangeran Seijurou'

oOo oOo

Di Bagunan Bagian Depan

Sihir – sihir saling beradu, yang satu menyerang dan yang lain menghindar begitu pula sebaliknya. Mereka saling menyerang dengan kekuatan yang mereka miliki, tidak ada kata menyerah atau belas kasihan walau orang yang mereka serang adalah orang yang kalian cintai.

Begitu pikir Shintarou yang harus menyerang kekasihnya sendiri. Entah apa yang terjadi padanya tetapi dia yakin ini perbuatan Hanamiya, dia menyihir Kazunari dan Tatsuya menjadi seperti ini, dan dengan apapun caranya akan dia kembalikan kekasih nya seperti semula.

'Apapun akan kulakukan untukmu, jadi kumohon bertahanlah' ucap Shintarou dalam hatinya.

Serangan demi serangan terus mereka keluarkan pada lawan atau teman mereka. Hyuuga menyerang membatu Shintarou dan Izuki mengamati pergerakan lawan dan membaru menyerang juga.

Jika mereka bertiga berusaha untuk tidak melukai apalagi membunuh orang yang ada di hadapannya, lain lagi dengan orang yang menjadi lawan mereka. Menyerang dengan sekuat tenaga agar mereka mati di hadapannya. Terus dan terus mereka saling menyerang sampi suatu suara terdengar.

'Tolong…..'

'Tolong aku….'

Terdiam, Shitarou terdiam saat mendegar suara memohon yang begitu lirih itu. Alih – alih mencoba untuk memfokuskan pendengaran mengenai suara tersebut, Shintarou malah terkena serangan sihir dari lawannya.

Tidak masalah bagi dia terkena serangan, lagipula sihir penyeumbuhnya akan langsung mengobati luka tersebut.

'Tolong aku…'

'Aku mohon tolong aku…'

'Shin-chan…..'

Sadar. Shintarou tersadar bahwa suara tersebut adalah suara orang yang dia cintai, dia tidak suka mendegar suara itu, dia membencinya. Kemudian keinginan untuk menolong nya keluar dengan sebuah ide yang cukup gila.

Menunggu waktu yang tepat saat Izuki dan Hyuuga menyerang Kazunari, Shintarou langsung menggunakan sihirnya untuk membuat sebuah sulur sihir dan mengikat tubuh Kazunari. Dan tanpa menunggu lama lagi Shintarou menyatukan bibirnya pada bibir sang kekasih untuk membuatnya terlepas dari sihir yang membelenggunya.

Tidak butuh waktu lama, sihir yang membelengunya terlepas dan hilang. Manik yang asalnya berwarna kuning itu berubah menjadi manik yang dia rindukan.

"Shin….chan?" ucap nya lirih.

"Ya ini aku, aku kembali" balas Shintarou sambil memeluk erat Kazunari.

oOo oOo

Di Bagunan Bagian Tengah

Tidak berbeda dengan apa yang terjadi di bagian depan, Taiga dan Atsushi berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Tatsuya yang mengamuk. Berbagai seragan mereka keluarkan untuk meredakan amukan pada Tatsuya, dan berbagai cara mereka lakukan agar orang yang mereka kenal kembali lagi seperti semula.

Melihat orang yang dia sayangi harus menjadi seperti ini membuat hari Atsushi yang memang dasarnya seperti anak kecil tidak tega, berbekal nekat dia menghampiri Tatsuya yang sedang mencoba untuk membunuh Taiga dengan mencekiknya. Dan tanpa pikir panjang lagi Atsushi langsung memeluk Tatsuya dengan erat takut jika dia akan melarikan diri lagi.

Setitik air keluar dari pelupuk matanya, di susul dengan suara isak tangis yang terdengar begitu menyakitkan. Atsushi menangis melihat orang yang dia cintai harus seperti ini, dia tidak suka orang yang begitu baik hati ini menjadi orang yang bengis dan menyerang orang tanpa ampun. Dia ingin Tatsuya yang dulu, dia ingin Tatsuya yang ceria dan selalu bersamanya.

"Tatsu-chin~ aku mohon kembalilah jadi dirimu yang dulu"

"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku mohon"

Ucapan permohonan yang tulus, itu yang di dengar oleh Tatsuya, dan seketika air mata mengalir deras dari pelupuk matanya di sertai tangisan.

"Maafkan aku, Atsushi"

oOo oOo

Ruang bawah tanah Kerajaan Seirin

Gelap, sepi, begitulah keadaan ruang bawah tanah di sana, tidak terlihat kehidupan setidaknya begitu menurut Seijurou sebelum dia menggunakan emperor eye-nya, namun setelah tau bahwa di sana ada orang yang dia cari, Seijurou segera melakukan serangan pada orang yang ada di hadapannya.

Sihir api yang dia gunakan membuat ruangan yang tadinya gelap menjadi terang walau, penerangan itu sedikit redup. Berniat menyerang orang yang sudah membuat kekacauan besar yang sudah memakan banyak korban, namun sayang serangan itu tertahan oleh perisai es yang sejak tadi melindunginya, dan di deti berikutnya serangan membabi buta muncul kea rah Seijurou yang sedikit lengah. Namun serangan tersebut tidak mengenainya, karena perisai yang telah di buat oleh Kiyoshi untuk melindunginya.

Tepat setelah berhentinya serangan itu, penerangan yang ada di ruang bawah tanah itu menyala, menampilkan satu sosok yang menatapnya dengan pandangan sedingin es dengan wajah yang begitu datar.

"Ka…kau" ucap Seijurou yang kaget melihat apa yang ada di hadapannya.

"Kau lihat tadi dia mencoba menyerangku kan? Padahal aku tidak melakukan apapun, itu terlalu kejam. Jadi, lakukan tugas mu" ucap Hanamiya dengan seringai di wajahnya.

Kembali orang yang di perintahkan Hanamiya melakukan serangan, mengeluarkan bola – bola es untuk menyerang Seijuoru.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA TETSUYA!" teriak Seijurou sambil menghindar dari serangan Tetsuya.

"Aku tidak melakukan apapun Pangeran, dia melakukan itu atas keinginannya sendiri"

"Sialan!" umpat Seijurou mencoba untuk kembali menyerang Hanamiya, namun sayang perisai es yang di buat oleh Tetsuya terlalu kuat.

"Pangeran Seijurou, biar aku yang akan mengalahkan Hanamiya, anda sebaiknya menyelamatkan Tetsuya-sama saja, saya yakin anda bisa mengembalikan Tetsuya-sama kembali seperti semula" ucap Kiyoshi mengeluarkan pedang miliknya dan langsung menyerang Hanamiya.

Melihat bahwa tuannya akan di serang, Tetsuya mengeluarkan batu es nya dan melemparkannya kea rah Kiyoshi, namun bola api memecahkannya.

"Aku lawanmu Tetsuya!" teriak Seijurou yang di balas pandangan dingin dari makhluk biru itu.

Sayap di kepakan dan terbang keluar, di ikuti sepasang sayap biru muda dengan noda hitam di sana. Bertarung diluar itu lebih baik begitu pikir Seijurou dengan begitu dia lebih mudah untuk menyerang kekasih birunya dan mengembalikan dirinya seperti semua, melesat pergi di ikuti makhluk biru dengan tatapan membunuh yang begitu besar, mereka pergi menuju salah satu tempat yang Seijurou yakini bisa membuat kekasih birunya itu kembali seperti semula.

'Tunggu aku Tetsuya, setelah sampai di tempat itu aku akan mengembalikanmu, pasti' ucapnya dalam hati.

Mempercepat lajunya agar bisa segera sampai di Danau para leluhur, Seijurou harus berusaha menghindar dari serangan Tetsuya yang tidak kenal ampun itu.

Sihir es Tetsuya benar – benar berbahaya, dan Seijurou tau itu. Dia bisa membuat es dari udara atau air yang ada di pepohonan ataupun rumput, jadi karena sekarang mereka berada di dalam hutan, Seijurou kewalahan sebenarnya, tapi demi mengembalikan kekasih biru mudanya seperti semula apapun akan Seijurou lakukan.

Keluar dari dalam hutan dan terlihatlah di sana sebuah danau yang begitu Seijurou kenal, berdiam di seberang danau kecil itu berhadapan dengan Tetsuya yang masih menatapnya dengan tatapan dingin.

"Tetsuya" lirihnya. Seijurou membencu tatapan itu, dia merindukan tatapan penuh kehangatan si biru.

Tanpa membalas ucapan Seijurou, Tetsuya kembali menyerang Seijurou dengan batu – batu es.

Bukannya menghindar Seijurou malah berdiam di sana, memasang perisai apinya agar serangan batu es Tetsuya tidak melukainya.

"Kau salah membawaku ke sini Pangeran Seijurou" ucap Tetsuya dengan suara yang begitu sinis.

"Tidak, aku benar membawamu ke sini Tetsuya" belum ada niat untuk menyerang Tetsuya tetapi sejak tadi Seijurou merapalkan sesuatu.

Kembali batu – batu es Tetsuya keluarkan dan mengarahkannya pada Seijurou, namun belum senpat batu – batu es tersebut mengenai Seijurou, sebuah sulur air muncul dari danau yang ada di hadapan Tetsuya, mengikat seluruh tubuhnya agar tidak bisa bergerak.

"AAARRRRGGGGHHHHHH!" teriak Tetsuya kesakitan saat sulur – sulur tersebut terus melukainya.

'Maafkan aku Tetsuya, tapi ini salah satu cara agar kau kembali' lirih Seijurou yang masih merapalkan sebuah mantra.

Seketika sulur – sulur tersebut menarik Tetsuya kedalam danau, menenggelamkan dirinya.

"Aku meminta bantuanmu Aquamanire peri penjagan danau para leluhur" ucap Seijurou.

Seketika cahaya biru bersinar terang di dalam danau tersebut, sihir yang kuat mengitari tubuh Tetsuya.

Teriakan kesakitan terus terdengar di sana, Seijurou tidak tega mendengarnya tapi, hanya ini salah satu cara yang bisa ia lakukan. Yaitu Pensucian.

'Bertahanlah Tetsuya, bertahanlah'

oOo oOo

Di ruang bawah tanah Kerajaan Seirin

Kewalahan.

Kiyoshi kewalahan melawan Hanamiya, tubuhnya sudah penuh dengan luka namun sayangnya Hanamiya tanpa luka sedikitpun.

"Kau bodoh Kiyoshi, mencoba menjepumput maut mu sendiri" ucap Hanamiya meremehkan.

"Aku hanya melakukan tugasku saja"

"Hah! Orang bodoh sepertimu itu yang paling ku benci! Jadi, sebaiknya kau mati saja!" teriak Hanamiya sambil mengeluarkan sihirnya dan mengarahkannya pada Kiyoshi.

Sudah bersiap menerima serangan yang mungkin akan membunuhnya saat itu juga, Kiyoshi menutup matanya memohon maaf karena tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.

Namun, setelah sekian lama menutup mata rasa sakit akibat serangan Hanamiya, hanya suara kesakitan seseorang yang dia dapat rasakan oleh indra pendengarannya.

"Sampai kapan kau akan menutup matamu, bodoh!"

"Kita sudah di sini sisanya, serahkan pada kami"

"Senpai, beristirahatlah! Kami yang akan menyelesaikan dia!"

'Suara ini. Apa mungkin?' ucapnya dalam hati, dan begitu dia membuka matanya mereka, orang – orang yang dia kenal berada di hadapannya, melindunginya, membatunya dari serangan Hanamiya.

"Kau baik – baik saja kan?" Tanya Shintarou yang berada di sebelahnya.

Tanpa pikir panjang lagi Shintarou menggunakan sihir penyembuhnya untuk menyembuhkan luka – luka di tubuh Kiyoshi.

Sementara dia mendapatkan penyembuhan dari Shintarou, Hyuuga, Izuki, Taiga, dan Kisedai bersama melawan Hanamiya.

Tidak ada kata ampun bagi mereka, selain telah melukai orang yang paling berharga bagi mereka semua, dia juga orang yang membuat Pangeran Tetsuya menderita. Jadi dengan serangan begini belum setimpal dengan apa yang dia lakukan. Dan berakhir dengan Hanamiya yang mati tertusuk tiga pedang dari Hyuuga, Izuki dan Taiga tepat di jantungnya.

Namun sayang, mereka yang tidak mengetahui apa yang ada di balik jubah yang di kenakan itu adalah sesuatu yang sangat berharga untuk seseorang. Batu Kristal Abadi yang merupakan jiwa Tetsuya terpecah, dan pecahan yang ada menghilang entah kemana bersama dengan beberapa cahaya yang menghilang keluar.

"Se…senpai sepertinya kita akan bertemu dengan malaikat maut sesungguhnya"

"Se…..sepertinya" ucap Hyuuga dan Izuki bersamaan.

oOo oOo

Danau para leluhur, Hutan barat Kerajaan Seirin

'Sebentar lagi, bertahanlah Tetsuya kumohon' pinta Seijurou dalam hatinya.

Sebentar lagi pensucian itu akan berakhir, namun sesuatu yang bercahaya masuk kedalam danau itu, membuat danau tersebut mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.

"A…Apa yang terjadi?" Tanya Seijurou entah pada siapa.

Cahaya yang menyilaukan tersebut berangsur – angsur menghilang, dan setelahnya terlihat sosok Tetsuya yang terbang melayang dengan bola air yang membungkusi tubuhnya.

"Tetsuya!" teriak Seijurou.

Sedekit kemudian bola air tersebut pecah dan Tetsuya yang berada di dalamnya segera Seijurou tangkap.

Namun perasaan aneh muncul, sesaat setelah Seijurou menangkap tubuh ringkih Tetsuya.

"Di….dingin"

"Seijurou-sama" terdengar sebuah seuara anak kecil.

"Peri Aquamarine?"

"Ya itu aku, dan maaf Seijurou-sama hamba harus mengatakan ini pada anda" ucapnya dengan suara lirih.

"Ada apa? Apa yang terjadi pada Tetsuya! Katakan!"

"Jiwa Pangeran Tetsuta telah tiada, namun saat pensucian tadi pecahan Batu Kristal Abadi masuk kedalam tubuh Pangeran Tetsuya"

Tanpa perlu di jelaskan lagi, Seijurou paham maksud dari peri tadi. Tetsuya yang ada di dekapannya hanyalah sebuah tubuh tanpa jiwa. Sejak kecil Seijurou tau bahwa Tetsuya tidak akan bisa hidup tanpa jiwa – jiwa dari para leluhur, karena memang seharusnya Tetsuya sudah meninggal semenjak di lahirkan.

Namun, orang tuanya tida rela jika harus kehilangan anak satu – satunya yang akan menjadi Pangeran kecil mereka, oleh karena itu jiwa – jiwa para leluhur mereka kumpulkan dan mereka jadikan sebuah Batu Kristal Abadi yang merupakan jiwab Tetsuya.

Jadi, tanpa Batu Kristal Abadi itu Tetsuya tidak akan pernah hidup.

Saat sedang sibuk dengan pemikirannya, sepasang kelopak mata yang sejak tadi menutup terbuka dengan sempurna, menampilkan sepasang manik biru yang tampak begitu kosong.

Sadar bahwa orang yang ada di pangkuannya membuka mata, Seijurou hanya bisa tersenyum miris melihat tidak adanya sinar kehidupan pada kelopak mata yang ada di hadapannya itu, begitu kosong dan hampa.

Kehangatan yang dia tunggu – tunggu hilang sudah tergantikan dengan kesedihan.

Sedih karena tidak bisa menjaga dengan baik sosok yang ada di hadapannya.

Sedih karena mengetahui bahwa sosok yang ada di hadapannya hanya menatapnya dengan pandangan kosong

Sedih karena merasa gagal sebagai seorang Ksatria dan juga seorang Pangeran yang begitu di segani.

Tetesan air matapun tak dapat di tahan lagi, Seijurou tau dia tidak boleh menangis di hadapan Tetsuya, dia tidak ingin membuat makhluk biru itu khawatir, tapi sekuat apapun tangisan itu di tahan, air mata yang mengalir malah semakin deras.

"Maafkan aku Tetsuya, maafkan aku" ucapnya di sela – sela tangisan.

Namun, terdengar satu suara lembut dan pelan yang dapat menghentikan tangisannya.

"Seijurou-kun?" ucapnya pelan, masih menatap orang yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong.

"Te…Tetsuya?" bukan sebuah suara yang kembali di dapat namun, tangan lembut Tetsuya yang berada di pipi Seijurou, menghapus air mata yang ada di sana/

"Jangan ….. menangis … Seijurou….kun" ucapnya saat mata tersebut kembali terpejam.

"Tetsuya…..Tetsuya!" teriak Seijurou, khawatir jika makhluk biru itu tidak akan membuka matanya kembali.

"Tenang saja Seijurou-sama, Pangeran Tetsuya hanya tertidur" ucap sang peri

"Syukurlah" ucap Seijurou merasa lega.

Diperhatikannya kembali wajah lugu Tetsuya yang sedang tidur tesebut, di elusnya surau Biru yang lembut itu dengan penuh sayang, di peluknya erat tubuh ringkih itu. Menjaganya dan melindunginya ada bahaya yang akan mengancam kapan saja, dan dia siap untuk melakukan itu pada orang yang begitu dia cintai.

"Aku akan melindungi dan mengembalikan dirimu seperti dulu Tetsuya, aku janji" ucapnya sambil mengecup kening Tetsuya dengan sayang.

TBC