.
.
Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn
.
.
"Hey, kau baik-baik saja?"
Tentu saja dia tidak baik-baik saja. Konishi ingin memukul dirinya sendiri.
Anak muda itu bersandar di dinding gang yang kotor, tak bergerak sedikitpun. Darah mengalir di wajahnya, membuatnya tidak bisa dikenali, lalu menetes ke seragam sekolahnya yang berantakan.
Anak ini memakai seragam sekolah yang sama dengannya yang berarti ada kemungkinan Konishi mengenalnya.
Wajah Konishi memucat. Dia tidak mau melihat seseorang mati di depannya seperti ini, apalagi jika ternyata dia mengenal orang itu.
Menahan diri untuk tidak muntah, Konishi mengguncang laki-laki terluka itu sepelan mungkin.
"Hey, bertahanlah! Aku sudah memanggil ambulan!"
Konishi bersyukur melihat salah satu kelopak matanya terbuka, menampilkan mata coklat yang tidak asing.
"Siapa...?" Laki-laki malang itu berbisik lemah.
Mulut Konishi menganga terbuka. Dia kenal anak ini.
Sawada Tsunayoshi, lebih dikenal dengan sebutan Dame-Tsuna, adalah bahan ejekan karena kepayahannya. Teman sekelasnya, Ryohei, selalu membantah semua ejekan itu (tapi, tidak ada yang benar-benar mendengarkan karena Ryohei memang selalu agak... aneh).
"Sawada-kun, siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Konishi tak percaya. Kemarahannya mulai memuncak. Jika ini perbuatan para murid pengganggu, mereka sudah keterlaluan. Dia harus melaporkan kejadian ini.
Konishi memperhatikan sekeliling. Dia tidak tau cara memberikan pertolongan pertama, jadi dia harus mencari bantuan. Tapi, seperti yang dia duga, gang itu sepi tanpa ada orang yang lewat. Dia sendiri datang ke tempat ini karena kebetulan mendengar erangan kesakitan.
Memikirkan erangan kesakitan itu membuat tubuh Konishi bergetar. Bagaimana seandainya dia tidak mendengarkan suara penuh penderitaan itu? Bagaimana jika Sawada Tsunayoshi terus terbaring disini, penuh luka, sampai seseorang menemukannya?
Konishi menggertakkan gigi. Siapapun yang melakukan ini benar-benar sudah melewati batas.
"Aku tidak disakiti siapapun."
Konishi tersentak. Dia menunduk, menatap wajah Tsuna. Laki-laki berambut coklat itu balas menatapnya.
Tatapan itu membuat Konishi merinding. Dia merasa Tsuna bisa melihat seluruh isi hatinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Tsuna memegang sisi kepalanya. "Aku tersandung."
Konishi kembali ternganga. Dia menarik nafas, menenangkan pikirannya.
"Sawada-kun, kau benar-benar cerob-"
Kata-katanya terpotong oleh suara rintihan.
Sawada mencengkeram kepalanya. Nafasnya menjadi tidak teratur.
Konishi berhenti dan kembali memikirkan kata-katanya. Jelas sekali, luka parah dan darah yang mengalir itu bukan hanya karena tersandung. Sawada baru saja berbohong.
"B-bertahanlah, Sawada-kun!" Konishi menggigit bibir. Mata coklat Tsuna mulai kehilangan cahayanya.
Oh, tidak, jangan lakukan ini padaku.
"Sawada-kun! Hey, Sawada-kun!"
Mobil ambulan datang tepat saat itu juga. Konishi berharap semuanya masih belum terlambat.
.
.
Konishi menceritakan kejadian ini pada Ryohei esoknya di sekolah. Jika ada temannya yang benar-benar memahami Sawada Tsunayoshi, Ryohei-lah orangnya.
Ryohei tampak sangat berterima kasih saat mendengar ceritanya. "Oh, jadi kau murid ekstrem yang menemukan Sawada saat pulang sekolah dan memanggilkan ambulan, ya!"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Sawada-kun?" Konishi bertanya khawatir. "Siapa yang menyerangnya?"
Tubuh Ryohei membeku. Laki-laki pecinta tinju itu memaksakan senyum. "Dia baik-baik saja. Tidak ada orang-orang aneh yang tiba-tiba menyerang kami atau semacamnya."
"Orang-orang aneh? 'Kami'?" Mata Konishi melebar. Pikirannya langsung membayangkan tubuh terluka lainnya ditempat yang hening dan sepi. Dia merasa mual. "Maksudmu Sawada-kun bukan satu-satunya yang diserang?"
"Maaf, Konishi! Aku sedang ada urusan, jadi aku harus pergi! Lupakan saja apa yang kita bicarakan ini!"
"Tung-"
Dalam sekejap, Ryohei sudah pergi meninggalkannya. Mata Konishi menyipit curiga. Mereka menyembunyikan sesuatu.
Dia masih belum tau siapa 'mereka' ini karena Ryohei hanya menyebutkan 'kami' tanpa menjelaskan siapa yang dia maksud. Yang jelas, Sawada adalah salah satunya.
Kenapa aku memikirkan ini?
Konishi menggelengkan kepala. Ini sama sekali bukan urusannya. Ryohei dan Sawada bebas melakukan apapun yang mereka mau.
Tubuh Sawada yang terluka langsung terbayang dalam pikirannya tanpa bisa dia hentikan.
Ini bukan urusanku, Konishi mengingatkan dirinya. Jika dia mengabaikan apa yang terjadi kemarin, segalanya akan tampak normal seakan tidak pernah terjadi apapun.
Gagasan itu sebenarnya membuatnya takut.
Sesuatu yang besar bisa saja sedang terjadi dan Konishi tetap tidak tau apa-apa. Seseorang bisa saja terluka dan Konishi tetap tidak mengerti apa-apa.
Tapi, mau bagaimana lagi, kan?
Konishi melihat keluar jendela. Namimori terlihat damai dari kelas yang normal ini.
.
.
A/N: Terima kasih untuk yang sudah mau repot-repot mereview!
Guys, Ly kembali setelah perjuangan yang sangat panjang.
Sebenarnya cerita ini sudah lama selesai, tapi semakin lama saya tidak mengapdet fanfic, semakin kecil kepercayaan diri untuk mengapdetnya. Sempat berpikir untuk berhenti menulis juga.
But, I miss this.
Please Give Me Your Reviews!
