[A/N]: CHAPTER 10! The longest that I've made. 8.344 views, 87 fav, 127 follows 136 reviews. much luv
Sori kelamaan pos; 1. Menenangkan diri, 2. Tugas ospek tbtb membombardir. Maafkan keterlambatan ini.
Makasih buat reviewnya yang sangat sangat membangun. Mungkin karena pertama kali dijudge juga makanya aku sensitif bgt kemaren. Lol im so pathetic. Ga lama abis w curhat di ff timbul war di twittah. Setelah melihat segala war itu jadi banyak mempertimbangkan. Akhirnya lanjutin aja~
SO HERE U GO.
(Trainees belong to God, their families, their ent, and their fans. Me just own this story line.)
(Boy x Boy, you might hate it)
Unexpected Fate
10.
.
.
Aku baru saja kembali dari latihan danceku malam itu.. Biasanya, aku tidak menghabiskan hariku terjebak di ruang berkaca itu sampai pukul tujuh malam. Namun akhir-akhir ini aku butuh pengalih dari masalahku. Kalau aku hanya diam saja, yang ada aku pusing sendiri.
Capek. Satu kata yang mendeskripsikan kondisiku saat ini. Memang aku capek secara batin saat ini, namun ditambah capek fisik membuat kondisiku agak turun. Kalau sudah begitu pasti aku memikirkan Hyungseob lagi-
Ah, Hyungseob.
Hari-hari sekolah berjalan dengan sebagaimana mestinya. Semua normal kecuali tindakan Hyungseob. Dia memilih menukar tempat duduknya, membiarkan Yuta si manusia jepang itu duduk di sebelahku. Dia dengan santainya sudah duduk di sebelah Winwin dua hari lalu, padahal kan dia tahu kalau Yuta pacaran dengan Winwin. Aku tidak yakin apa yang membuat dua orang tersebut sampai rela pisah meja.
Ya, walaupun aku jadi tidak harus terjebak kondisi awkward dengannya.
Aku berhenti di depan vending machine, memikirkan Hyungseob membuat aku merasa haus.
"Ugh- kenapa gabisa masuk sih."
Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk mengikuti irama lagu.
Itu Jaehyun hyung. Kakaknya Hyungseob.
"Annyeong Hyungnim." Jaehyun hyung mengalihkan pandangannya.
"Ah. Engkau." Err- mukanya terlihat agak menyeramkan ntah kenapa.
"Mau ku bantu hyung?" Aku lihat dia kesulitan memasukkan uangnya.
"Eoh. Baiklah. Aku sudah haus sekali rasanya."
.
.
.
"Makasih ya." Ujarnya setelah kami mendapatkan minum kami masing-masing.
"Siap hyung. Ak-"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Baru mau ku balikkan badanku dia berkata demikian. Langsung saja aku kembali ke posisiku semula.
Itu masih Jaehyun hyung yang sama namun ntah kenapa aku merasa auranya agak menyeramkan. Dan tumben sekali dia berkata serius seperti itu.
"Yasudah hyung. Bicara saja."
"..."
BUK
BUK
BUK.
Aku memegang pipiku. Panas sekali rasanya.
"Aku tidak akan meminta maaf untuk hal itu." Jaehyun hyung langsung meminum sodanya dengan santai.
Aku menatap heran. Memang perasaanku mengatakan bahwa ada yang aneh dari Jaehyun hyung. Tapi pukulan tadi sama sekali tidak masuk perkiraanku. Aku sangat tidak mengantisipasi hal itu.
"Walau aku paham kau masih muda. Kau harus belajar berpikir tenang walaupun kau ada masalah."
Aku menaikkan pula ini?
"Pukulan itu sebagai balasan apa yang kau lakukan terhadap ayah kami."
Ekspresiku langsung berubah 180 derajat. Ternyata perkiraan Haknyeon tepat. Wajar saja jika tiba-tiba dia memukulku.
"Gimanapun dia itu ayah kami. Anggap saja pukulanku itu sebagai bentuk balasan."
Aku menghela nafas lalu menganggukan kepalaku. Ya, aku memang pantas.
"Apakah sesuatu terjadi pada Hyungseob? Kondisi dia baik kan?"
Jaehyun hyung menatapku sedih.
"Tidak. dan Tidak. Dua tidak untuk pertanyaanmu."
"Sehabis kejadian itu appa memang tidak memarahi dia sama sekali. Mungkin appa berpikir bahwa salah dia juga sudah melakukan tindakan pemaksaan depan umum. Tapi Hyungseob tidak baik-baik saja..Dia dengan sendirinya mengurung diri dalam kamar. Tidak mau makan, bahkan saat eomma masuk ke kamar dia hanya diam dan menatap eomma kosong."
Aku jadi teringat sesuatu.
"Oh ya hyung. Sebenarnya ada apa?"-
.
.
Aku memasuki kelas dengan suntuk. Semalaman aku tidak dapat tidur. Terus kepikiran masalah pembicaraanku dengan Jaehyun hyung.
"Sebenarnya, tidak ada apa-apa. Jauh sebelum aku sma, saat itu kalau tidak salah Hyungseob masih sd. Keluarga kami masih bahagia-bahagia saja."
"Lalu, saat Hyungseob sd dia mulai bertanya banyak hal kepadaku. Masalah sihir, melihat masa depan, dan sebagainya. Aku tentunya heran tapi tidak banyak komentar ku keluarkan. Ku pikir hanya khayalan anak sd. Lalu semua berubah semenjak saat itu."
Aku masih menatap Jaehyun hyung penasaran.
"Waktu itu Hyungseob kelas 3 sd saat appa menandatangani sebuah kontrak besar. Pada saat makan malam tiba-tiba Hyungseob bercerita bahwa dia baru saja melihat appa masuk penjara karena masalah hutang. Tentunya aku dan appa tertawa dan appa berkata bahwa Hyungseob mengada-ada. Tapi aku melihat dengan jelas bahwa eomma ketakutan. Ntah kenapa."
"Lalu eomma mulai berubah, dia jadi sering insomnia. Kadang kutemukan eomma sedang meminum sleeping pills, lalu saat kutanya dia beralasan tidak bisa tidur karena menunggu appa. Memang appa saat itu sedang sibuk-sibuknya mengurus masalah proyek yang dia tandatangani kala itu. Tapi ntah kenapa aku melihat sesuatu yang lain dari tindakan eomma."
Aku masih heran dengan alur cerita itu. "Apa yang dilihat Hyungseob benar terjadi?"
"Sayangnya iya..." Jaehyun hyung menghela nafas. "Semenjak semua itu, keluarga kami benar-benar retak. Kedua orang tua kami bercerai. Eomma dan Hyungseob terusir dari rumah. Aku saja baru bisa menemui mereka saat aku sudah bekerja."
"Aku masih tidak mengerti beberapa hal..."
Jaehyun hyung tersenyum kecil.
"Aku sebenarnya tahu lebih banyak dari itu. Namun... menurutku lebih baik kau tahu langsung dari Hyungseob. Sebab, yang tahu isi hatinya dia." Aku menganggukan kepalaku.
"Lagian kan yang pacaran kau dengan Hyungseob maka selesaikan masalah kalian berdua."
Perkataan itu membuatku membeku.
"Jangan bilang belum...?"
"Hehe."
"Kau benar-benar brengsek ya." Jaehyun menepuk pipiku yang lebam.
"ARGH SAKIT HYUNG."
"HAHAH RASAKAN SIAPA SURUH NGEGANTUNG HYUNGEOB."
.
.
"Aku mau bicara." Siang itu setelah pelajaran selesai aku berdiri di samping meja Hyungseob.
Hyungseob hari ini ntah kenapa terlihat lebih segar. Mukanya tidak kusam seperti biasanya. Dia terlihat seperti sudah maskeran semalam-
Shit, dia kan bisa baca masa depan. Pastinya dia sudah tahu aku mau berbicara dengannya.
"Hehe. Gausah dipikirkan." Hyungseob tersenyum, seperti biasa. Aku bersyukur akan hal itu.
"Yuk."
.
.
"Maafkan aku." Ujarku pelan.
Hyungseob yang sedari tadi menatap langit langsung mengalihkan pandangannya ke arahku. Sekarang kami memang sedang berada di atap sekolah.
"Hm. Aku juga. Maaf karena tidak jujur padamu."
Memikirkan masalah itu membuatku agak kesal lagi.
"Apa yang hyungku ceritakan?"
Aku terkekeh. "Kau harus barter dengan menceritakan semuanya."
Hyungseob menendang pantatku.
"YAK ITU SAKIT."
"Berisik." Aku hanya tersenyum saja menatap Hyungseob. Banyaknya aku bersyukur karena Hyungseob sudah kembali seperti biasa, kembali dengan sifat aslinya.
"Aku penasaran kenapa kau tidak memanggilku jodohmu lagi." Aku mendudukan pantatku di semen rooftop. Berdiri membuatku pegal juga lama-lama.
"Memangnya kau mau?"
Wow.
Wow.
Hyungseob ntah kenapa mendudukkan dirinya di pangkuanku. Tiba-tiba saja.
"Apa salahnya?" Daripada berpikiran kotor lebih baik aku memainkan rambut hitamnya saja. "Sepertinya itu ide bagus."
"Tapi... kita harus menye- maksudnya aku harus menyelesaikan semuanya terlebih dahulu."
"Kau tidak berminat menceritakan apa-apa kepadaku?" Hyungseob menggelengkan kepalanya.
"Toh hyungku sudah menjelaskan semuanya."
"Dia bilang masih ada yang harus aku tahu darimu langsung."
"Okai. Okai. Nanti saja kalau aku sudah menyelesaikan masalahku dengan tunanganku. Kau diam saja." Hyungseob mengecup pipiku secara berantakan. Sepertinya anak ini memang benar-benar berniat bermanja-manja kepadaku.
"Tapi... Aku sudah bertemu Yongbin." Hyungseob membolakan matanya dan langsung turun dari pangkuanku.
"SHIT." ... "Eh maaf aku kelepasan mengumpat hehe. Si licik itu sudah bercerita apa saja kepadamu?"
Aku menaikkan alisku. Kenapa harus di panggil licik? Menurutku Yongbin cukup baik.
Tapi nanti sajalah kutanyakan masalah itu.
"Hanya dengan bangga menceritakan bahwa dia tunanganmu. Dan aku hanya menelan pil pahit bahwa aku masih bukan siapa-siapamu."
Hyungseob menatapku sendu.
"Kau tahukan?" Aku menatap Hyungseob dalam. Aku masih saja buruk dalam mengungkapkan perasaanku, padahal aku sudah mengetahui bahwa aku sudah mencintainya-
"Haha. Aku juga." Hyungseob tersenyum, indah seperti biasanya. Aku menghela nafas lega.
"Aku juga mencintaimu."
.
.
Aku baru saja kembali dari sekolah, tentunya setelah berbicara dengan Hyungseob dan dengan tambahan bertemu squadku.
Kuputuskan untuk membelokkan badanku ke restoran cepat saji terdekat. Eomma dan appa tiba-tiba saja berkata bahwa mereka sedang dating. Sangat lucu mengingat mereka sangat sudah punya anak sebesarku.
Aku baru saja duduk di meja untuk menyantap burgerku sebelum sesuatu yang menarik perhatianku masuk ke pendengaranku.
"Noona. Aku lelah berpura-pura terus..." Itu Yongbin. Tidak salah lagi itu pasti Yongbin. Aku merasa sedikit terkejut mendengar suaranya dari belakangku. Dia sepertinya sedang berbicara dengan kakaknya (terlihat dari kemiripan muka mereka).
"Kau tahu sendirikan aku sudah punya pacar. Perempuan malah. Mana tertarik dengan batang." Wah pembicaraan yang sangat menarik. Aku patut menguping. Ku tundukkan kepalaku. Untung aku memakai masker.
"Sabar, Bin-ah. Kau sendiri tahukan pernikahan kalian akan diadalan saat Hyungseob lulus. Jalanmu masih panjang."
"Tck. Justru karena itu. Terlalu lama. Aku udah sering bertengkar dengan pacarku karena masalah ini."
Perempuan itu terdengar menghela nafasnya.
"Kau tahukan keuntungan apa yang kau dapat kalau kau menikahi dia? Dia bisa membaca masa depan, adikku sayang. Kau bisa meminta banyak pertolongan mengenai bisnis nantinya. Jangan kau lupa fakta bahwa kau sama sekali tidak mengerti bisnis sedangkan orang tua kita mewariskan perusahaan kepadamu."
Aku menatap burger di peganganku. Sedikit banyaknya aku mengerti mengapa Hyungseob tidak ingin dijodohkan. Dia sudah tahu bahwa Yongbin hanya memanfaatkannya dan bahkan sudah mempunyai orang lain yang dia sayangi.
"Lagipula hitung-hitung pembayaran hutang. Kau tahukan betapa banyaknya uang yang dihabiskan appa untuk membantu ayahnya Hyungseob?"
.
.
.
"Hoi Woojin." Aku baru saja memasuki ruang latihan dance ketika kulihat Rocky memegang sebuah brosur.
"Hoi." Aku menepuk pundaknya. "Apa itu?"
Dia menunjukkan kertas itu kepadaku. "Brosur lomba. Tadi di kasih sama temanku kebetulan dia kuliah disitu. Berminat ikut?"
Aku langsung refleks melihat kalender. Teringat lukisan Hyungseob kala itu.
"Boleh. Daftarkan aku ya!"
Semoga ini pilihan yang tepat. Mari kita lihat apakah penglihatan Hyungseob benar adanya atau tidak.
.
.
-TBC-
Hehe jadi masalahnya sudah banyak diuraikan disini~~ Nearing the end huhu. Aku menyiapkan satu suprise lagi sebelum end! dan aku buka QnA lol. Kalau ada yang mau ditanyakan ntah masalah ff ini ataupun diluar ff ini sok tanyakan di comment section. I will try my best to answer it!
SPECIAL THANKS FOR: reveluvv, rabzx, Babychickjojang, kharisma shima, yesita1807, parkwoojinslay, Park RinHyun-Uchiha, tryss, BulumataBerbi, LisaPoliman, Kiddongim, shimjxngi, yesgood, eunwhoo, sanaa11, maamf, hvyesung, monwii, bbypop, hyunelf13
RnR~
