Nami : halo... maaf setelah sekian lama baru bisa update, padahal inginnya bisa update kilat. Tapi mau bagaimana lagi, kehidupan nyata memang menyibukkanku. Hehe...
Oke... semoga suka dengan chapter ini... :)
Happy reading! ^_^
Disclaimer by Masashi Kishimoto
•
•
•
Inspired by Drakor Boys Before Flowers
Pairing : NaruSaku slight NaruHina, slight SasuSaku, SaiIno & NejiTen
Rated : T
Genre : Drama & Friendship, Romance, little bit humor(sewaktu-waktu bisa berubah)
Warning : Newbie, OOC, Typos, Boring, Mainstream, Gaje etc.
Jangan di baca kalau tidak suka!
…
Story by NamiKura10
•
•
•
…^…
"4Q{Four Queen}"
…^…
•
•
•
Kamis, 2 maret 20xx
Pukul 06.40
"Sakura... kau yakin?" Ino menatap Sakura yang berada di sampingnya dengan mata melebar.
Sakura yang tengah asik memainkan smartphonenya hanya mengangguk malas menanggapi Ino.
"Apa kau sedang sakit?" Ino kembali bertanya, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Sakura lima menit yang lalu. Bagaimana bisa semua ini terjadi?.
Sakura berdecak kesal, ia mengalihkan pandangan sebal kepada Ino. "Ck..diamlah!, hanya dia yang saat ini bisa membantuku."
"Memangnya dia bisa?" Giliran Tenten yang mempertanyakan kesanggupan sosok yang tengah di bicarakan.
Sebelum menuturkan jawabannya, ia menghela nafas panjang. "Bukankah aku sudah bilang?, aku akan melatihnya. Aku yakin dia bisa mengalahkan Sasuke." Sakura sangat yakin dengan hal itu.
"Ya...kami tau Naruto memang lebih unggul daripada Sasuke soal kecerdasan, tapi apa dia bisa mengalahkan kepiawaian Sasuke dalam berkuda?" Ino masih mempertanyakan hal yang sama, ia masih terfikir tentang hal itu.
Sakura yang semakin kesal, ia bangkit dari duduknya dengan kasar. "Sudahlah! Lihat saja nanti hasilnya. Oke?" Ia semakin kesal karena pertanyaan itu-itu terus yang di pertanyakan padanya. Ia sudah menaruh keyakinan pada Naruto, bahwa dia pasti bisa mengalahkan Sasuke. Entah mengapa ia begitu yakin tentang hal itu.
Hinata merasa hubungan Sakura dan Naruto akhir-akhir ini semakin dekat, dan ia merasa sikap Sakura juga berubah. Mungkin usaha Naruto sedikit demi sedikit telah membuahkan hasil. Ia bahagia, akhirnya mungkin Sakura akan bisa kembali seperti dulu lagi.
"Emm...kelihatannya kau begitu percaya dengan Naruto?, jangan-jangan kau..." Ino menyeringai melihat mimik Sakura berubah setelah mendengar godaannya.
Sakura gelagapan, "jangan-jangan apa?" Tudingnya dengan mata menajam.
Ino dan Tenten saling pandang dengan menyeringai, lalu mereka menatap Sakura dengan senyum jahil. "Jangan-jangan kau suka Naruto yaa?" Sengaja mereka menggoda Sakura yang tampak gelagapan.
Sakura mengalihkan pandang sambil bersedekap, "a-apaan sih, enggak tau." Elaknya dengan gugup. Entah mengapa ia merasa gelagapan saat di goda seperti itu oleh sahabatnya.
"Hei...jika kau tidak menyukainya, kenapa kau bersemu begitu?" Ino semakin gencar menggoda Sakura, saat melihat gadis itu semakin gelagapan mendengar godaannya.
"Heh...m-mana mungkin aku menyukai cowok miskin seperti dia?"
"Lalu kenapa kau jadi sensitif begitu saat kami menggodamu?, ayo jujur saja?" Paksa Tenten dengan nada jahil.
"Apa benar kau menyukai Naruto, Sakura?" Hinata yang sedari tadi diam terpaku, akhirnya ikut menanyakan hal yang belum tentu benar 'kata hatinya'. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat mengetahui bahwa Sakura menyimpan rasa untuk Naruto.
"Sudahlah...pokoknya aku tidak akan pernah menyukai cowok menyebalkan seperti Naruto, titik." Ujar Sakura mencoba meyakinkan para sahabatnya.
"Kau jangan berbicara seperti itu! Bagaimana kalau nanti kau benar-benar menyukai dia?" Ujar Ino.
Sakura bersedekap sambil mengangkat wajah, "itu tidak akan mingkin." Ujarnya dengan angkuh.
"Ya...untuk sekarang memang belum mungkin, tapi nanti-..."
"Sudahlah! apa kalian tidak punya bahasan lain." Sakura melangkah menuju pintu keluar markas dengan kesal. 'Apa mereka tidak bosan menggodaku terus?, menyebalkan.'
"Tenten.. apa kau juga berfikiran sama denganku?" Tanya Ino pada Tenten tanpa melepas pandangannya dari pintu markas yang tertutup setelah kepergian Sakura.
"Ya.. aku juga seperti itu." Jawab Tenten sambil melakukan hal yang sama dengan Ino.
Ino mengerutkan dahi, ia pun menoleh ke arah Tenten. "Memangnya kau tau apa yang aku fikirkan?" Tanyanya.
Tenten ikut beralih memandang Ino, ia menggelengkan kepala dengan wajah polosnya.
Ino menghela nafas, "hahh~… kau benar-benar deh."
Tenten menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir tanpa dosa. "Hehe..."
'Apa benar, Sakura menyukai Naruto?' Hinata masih belum bisa melupakan hal itu. Ia merasa syock dan aneh.
…
…
"Ish...mereka ada-ada saja, mana mungkin aku menyukai si cowok menyebalkan itu. Jelas-jelas aku hanya memanfaatkannya saja." Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, Sakura tak henti-hentinya menggerutu.
Tapi sebenarnya ia sendiri merasa aneh saat berdekatan dengan Naruto, entah mengapa ia berdebar-debar saat bersamanya. 'Apa benar ya?, ish.. itu tidak akan terjadi.' Ia mengeleng-gelengkan kepala mencoba menepis pikiran itu.
"Sakura..."
Sakura menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu kelasnya setelah mendengar suara dingin yang memanggilnya, "kau... ada apa?" Tanyanya setelah berbalik menatap sang pemanggil dengan dahi berkerut.
Sasuke melangkah pelan mendekati Sakura dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana creamnya, "Aku ingin berbicara sesuatu padamu." Ujarnya pelan setelah sampai di hadapan Sakura.
Sakura celingukkan, ia mencari tahu apakah ada murid lain yang berada di koridor kelasnya. "Bicara apa?" Tanyanya setelahnya.
"Apa benar kau berpacaran dengan Naruto?" Sasuke menuding Sakura dengan tajam.
Sakura terdiam sejenak, lalu menghela nafas dan akhirnya menjawab. "Iya.. tapi cuma berpura-pura. Memangnya kenapa?" Ia menatap Sasuke dengan mengangkat alis.
"Kenapa kau lakukan itu?, apa itu bagian dari rencanamu untuk membatalkan perjodohan kita?" Tanya Sasuke.
Sakura membalik badan memunggungi Sasuke sambil bersedekap, "hm.. benar, mungkin kau sudah tau dari ibu. Lalu apa yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku dulu?, bukankah kau sudah berjanji kita akan bekerja sama?" Sasuke menuding Sakura dengan tajam.
Sakura mendengus, "kau juga pasti akan tau sendiri, untuk apa aku memberitahumu." Ujarnya dengan ketus.
Sasuke kembali menghela nafas. Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya. Untung saja ia bisa menjaga amarahnya, kalau tidak...entahlah apa yang akan terjadi. "Jadi apa 'pacarmu' itu bisa bermain kuda?" Sasuke berujar sinis dengan menekankan kata pacarmu.
"Tenang saja, dia pasti bisa mengalahkanmu. Lihat saja nanti!" Sakura begitu yakin tentang hal itu, meskipun ia belum mengetahui yang sebenarnya nanti.
"Oke...kita lihat nanti! Jika pacar palsumu berhasil mengalahkanku, maka rencana kita-... maksudku rencanamu untuk membatalkan perjodohan kita akan berhasil. Tapi aku tidak akan mengalah, suruh pacar palsumu itu untuk berusaha."
Setelah mengatakan kalimat yang menurut Sakura terdengar aneh di telinganya, Sasuke segera berbalik meninggalkan Sakura yang tampak memandang punggungnya dengan dahi berkerut.
"Ada apa dengan dia?, aneh." Setelahnya Sakura melanjutkan langkahnya hendak memasuki kelasnya yang sempat terhenti.
…
…
…
…
Pukul 10.15
"Di mana sih dia?, katanya di kantin. Tapi kok ngak ada."
Sakura celingukkan, ia tengah mencari sosok siswa pirang yang menyebalkan baginya. Ia memandang ke seluruh isi kantin yang penuh dengan murid KG, ia memandangnya dengan teliti.
Sampai pandangannya terhenti pada sosok pemuda pirang yang sedari tadi ia cari. Dia terlihat tengah duduk di salah satu bangku kantin yang terletak di tengah ruangan bersama dengan teman-temannya, dia tampak asyik mengobrol.
Sakura memutuskan untuk menghampirinya. Namun sebelum langkahnya sampai pada tujuan, tiba-tiba seorang siswa culun menabraknya dan membuat seragamnya basah terkena minuman siswa itu.
Matanya melebar merasakan basah pada rok seragamnya, ia mengangkat wajah dengan ekspresi horor.
Sang siswa culun tampak gemetaran, ia sangat takut karena sebentar lagi ia akan mendapatkan sebuah bencana besar.
"Apa yang kau lakukan, hah?" Sakura berujar pelan penuh penekanan, seakan-akan dirinya membuat takut si siswa.
"M-maafkan a-aku S-sakura-sama." ujar siswa culun itu dengan menunduk dalam, ia tidak berani menatap wajah horor Sakura.
"MEMANGNYA SEMUDAH ITU AKU MEMAAFKANMU?, KAU HARUS DI BERI PELAJARAN." Sakura langsung naik pitam, ia merasa jengkel dengan siswa culun ini. Bisa-bisanya dia meminta maaf, sedangkan rok seragamnya telah basah oleh minumannya.
Hal itu membuat seluruh perhatian isi kantin tertuju pada Sakura dan siswa culun.
Si siswa culun semakin ketakutan saat Sakura meneriakinya dengan keras.
"Rasakan ini!" Sakura mengangkat tangan hendak memukul siswa culun yang tertunduk dengan mata terpejam erat ketakutan, namun sebuah suara yang di kenalnya menghentikannya.
"Ehem..."
Tangannya kanannya mengambang di udara tepat di depan wajah sang siswa culun. Ia menggerakkan kepalanya menoleh ke kanan, ke arah si pemilik suara. Ia dapat melihat, pemuda itu tengah menatapnya tajam dengan tangan terlipat di depan dadanya.
Sakura yang masih bersungut-sungut terpaksa menghela nafas, mencoba meredam kemarahan. Ia lalu menurunkan tangan seraya berbalik menatap si siswa culun, "oke...kau ku maafkan, sekarang pergilah!" Ujarnya dengan berat hati.
Sang siswa culun terbelalak dalam tunduknya, ia mengangkat wajah dengan segera. Ia menatap Sakura tak percaya, "benarkah?" Ujarnya dengan riang.
Sakura kembali menghela nafas, benar-benar kesabarannya telah di uji. "Ya...sekarang pergilah, sebelum aku berubah fikiran."
Sebelum pergi, sang siswa culun menyempatkan diri menjabat tangan Sakura dengan erat. Ia sangat bahagia, karena Sakura- sama untuk pertama kalinya telah memaafkan dirinya.
Setelah kepergian siswa culun. Sakura mengeluarkan sapu tangannya dan menggunakannya untuk mengelap tangannya yang baru saja di jabat si siswa culun. 'Hii...jijik.'
Naruto tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Sakura. 'Dasar gadis aneh.' Entah mengapa ia sangat suka melihat tingkah-tingkah aneh yang di lakukan Sakura. Apalagi saat dia mengerakkan bibirnya sampai mengeluarkan suara yang begitu menyebalkan baginya, itu sangat lucu dan... 'menggemaskan'.
"Hei... aku kesini untuk-... hei... kau k-kenapa?" Sakura mengerutkan dahi melihat Naruto menatapnya dengan senyum lembut. Tiba-tiba ia merasa gugup karena di perhatikan seperti itu. Ia pun mengalihkan pandang dengan pipi bersemu samar, "a-ada apa sih?" Tanyanya dengan gugup. 'Sial...kenapa aku jadi begini?' Innernya merutuki keanehan dirinya. Entah mengapa semenjak kejadian kemarin, ia menjadi gugup saat berdekatan dengan Naruto.
Naruto tersadar, ia berdehem pelan. "Bukankah kita sudah membuat kesepakatan, bahwa kau akan berubah jika aku mau menjadi pacar bohonganmu?" Tanyanya kemudian.
Sakura kembali menatap Naruto dengan wajah masih bersemu samar, "tujuanku datang kemari memang untuk mencarimu." Ia menghela nafas sejenak, lalu kembali berucap "nanti sepulang sekolah kita akan berlatih berkuda."
"Apa?, tapi-..." Naruto hendak memprotes, namun Sakura segera menyela.
"Tidak bisa, pertandingannya akan di laksanakan pada hari minggu besok. Bagaimana kalau kau kalah? Pokoknya kau harus mau!" Paksa Sakura, ia lalu berbalik memunggungi Naruto hendak pergi. "Aku tunggu kau di lapangan berkuda nanti sepulang sekolah!" Titahnya mutlak tak ingin di bantah. Lalu ia melangkah meninggalkan Naruto yang tampak geram menahan amarah.
'Hahh~…baiklah, demi Konoha Gakuen.'
Ia lalu berbalik melangkah kembali menuju bangku yang terdapat teman-temannya.
"Naruto-san... apa yang kau lakukan pada Sakura, sehingga dia begitu menurut padamu?" Tanya Kiba setelah Naruto duduk kembali di bangkunya di dekat Shikamaru dan dirinya.
Naruto menghela nafas, "aku tidak melakukan apa-apa?" Jawabnya malas.
"Lalu kami lihat akhir-akhir ini kau dan Sakura terlihat begitu akrab, apa kalian sudah memiliki hubungan khusus?" Tak menghiraukan jawaban Naruto, Kiba kembali bertanya dengan seringai jahilnya.
"Jangan mengada-ada, aku dan dia hanyalah teman biasa."
"Teman atau teman?" Goda Kiba.
Naruto sedikit merasa geram dengan godaan Kiba, "sudahlah! Jangan bahas itu! Itu tidak penting." Ujarnya dengan malas. Ia lalu mengambil minumannya di atas meja dan menyruputnya dengan pelan.
"Naruto... apa yang di bicarakan Sakura padamu tadi?" Shikamaru yang sedari tadi terdiam akhirnya membuka suara.
Naruto meletakkan kembali minumannya di atas meja, ia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil bersedekap. "nanti sore dia menyuruhku latihan."
"Hah...kurasa kau tidak akan bisa berkuda." Shikamaru tersenyum mengejek.
Naruto memandang Shikamaru dengan tajam, "apa maksudmu?, kau jangan mengejekku ya!"
"Kau tau?, bermain kuda di perlukan keberanian dan feel antara penunggang dan kudanya. Jadi kau harus bisa menciptakan chemistri antara kau dan kudamu nanti." Tutur Shikamaru.
"Heh... kau jangan meremehkanku ya, aku bukan hanya cerdas dalam bidang akademik. Tapi aku juga sangat pandai dalam bidang olahraga, lihat saja nanti! Dalam waktu tiga hari aku pasti akan bisa mengalahkan Sasuke." Ia sangat yakin tentang hal itu.
Shikamaru mendengus, "hah... terserah kau.. Mendokusai." Shikamaru kembali memejamkan mata di tengah ia bersandar dan bersedekap di atas kursi.
Kiba dan Chouji tampak binggung melihat obrolan Naruto dan Shikamaru yang tidak mereka mengerti.
"Sebenarnya.. apa yang kalian bicarakan?" Akhirnya Chouji memutuskan bertanya.
Shikamaru tak menjawab, ia tetap pada posisi sebelumnya.
Sedangkan Naruto sibuk dengan buku dalam genggamannya.
Kiba merasa geram karena di acuhkan, "hei...apa kalian tuli?"
"Lihat saja nanti!"
…
…
…
…
Pukul 15.30
"Hayate-sensei..."
Pria bersurai raven itu menoleh dan menghentikan kegiatannya sejenak, "oh...Sakura-san, tumben... ada apa?." Tanyanya dengan Senyuman.
"Wow... kuda yang keren, apakah dia memiliki nama?" Naruto mendekati seekor kuda ponny putih yang tadi di sisir rambutnya oleh Hayate. Ia mengelusnya dengan lembut.
Hayate tersenyum, "Sepertinya kau sangat menyukai hewan?" Ia melihat Naruto tampak bisa akrab dengan kuda kesayangannya. "Dia namanya Gyuki, kuda kesayanganku."
"Wah...nama yang keren, persis dengan rupanya." Naruto beralih menatap Hayate dengan berbinar, " bolehkah aku menungganginya untuk latihan?".
Hayate kembali tersenyum, "pilihan yang tepat. Gyuki adalah kuda yang dapat langsung akrab dengan sang penunggang pemula, jadi dia sangat cocok di gunakan latihan untuk seorang pemula."
"Ehem...apa kalian melupakan sesuatu?" Sakura merasa jengkel karena di acuhkan sedari tadi.
Hayate dan Naruto menoleh, "ah...maafkan kami Sakura-san! Kami lupa kalau ada kamu di sini."
"Oke...tak apa, jadi Hayate-sensei bisa mengajari Naruto sekarang?!"
"Baiklah...sekarang kalian pakai pengaman dulu ya!"
…
…
…
…
Sabtu, 4 maret 20xx
Pukul 15.55
"Hayate-sensei... anda mau apa?" Naruto tampak khawatir saat Hayate turun dari kuda yang di tungganginya.
"Tenang saja! Aku rasa kamu sudah sedikit mahir, jadi aku akan melepaskanmu sendiri."
"Tapi sensei, a-aku masih sedikit takut."
"Tenanglah! Kau akan baik-baik saja." Hayate lalu menepuk badan Gyuki, menyuruhnya untuk jalan.
"Eh...Hayate-sensei.. apa yang kau lakukan?" Ia sangat takut terjatuh atau kudanya akan mengamuk.
"Naruto... kau itu cowok, masak gitu aja takut. Lihat aku!" Sakura mengerakkan cemetinya menyuruh kudanya untuk berjalan, ia mengerakkan cemetinya berkali-kali sehingga membuat kuda yang di tungganginya berlari dengan kencang. "AYO KEJAR AKU!" Teriaknya kepada Naruto dengan kencang.
Naruto berdecak, "OKE...KITA LIHAT SIAPA YANG AKAN MENANG." Ia pun menambah kecepatan kudanya, sehingga ia dapat mensejajarkan kudanya dengan kuda Sakura. "Kau lihat kan?, sekarang aku sudah berada di dekatmu."
"Kita bertanding dua putaran, siapa yang sampai lebih dulu dia yang menang." Tantang Sakura. 'Aku sangat yakin, Naruto pasti bisa mengalahkan Sasuke. Baru dua hari latihan, dia sudah mahir.'
"Oke... siapa takut."
Mereka pun saling adu kecepatan. Sampai pada akhirnya Sakura berada di depan Naruto. Naruto tak mau kalah, ia menambah kecepatan kudanya. Dan akhirnya mereka berdua finish secara bersamaan.
…
"Huff... lelahnya.." Naruto mengelap dahinya yang berkeringat dengan tisu. Ini sudah pukul lima sore, entah mengapa masih terasa panas. Ia menghentikan gerakan tangannya dan memandang sebuah minuman dingin yang tersodor tiba-tiba di depan wajahnya, ia menoleh dan menatap si pelaku dengan dahi berkerut.
"Kau tidak mau?, ya sudah." Sakura kembali menarik minumannya namun Naruto mencekalnya. Ia kembali menatap Naruto. "Kukira kau tidak mau."
"Jangan kira-kira!" Naruto membuka tutup botol minuman itu dan menegaknya dengan rakus.
Sakura melongo menatap Naruto yang tengah meminum minuman dingin yang ia berikan. Dia terlihat keren dengan keringat bercucuran di sekitar wajah dan lehernya, surai pirang layu karena basah terkena keringat. 'Ya ampun...dia keren banget.'
Ahhh...
Naruto menegak habis isi minuman yang di berikan Sakura padanya. Ia mengerutkan dahi melihat Sakura memandangnya dengan mulut terbuka dan mata membulat. "Hei...kau kenapa?" Naruto mengibaskan tangannya di depan wajah Sakura.
"Eh...bukan apa-apa." Sakura segera mengalihkan pandang, ia sangat malu dengan apa yang barusan ia lakukan. 'Apa-apaan tadi, kenapa aku bisa terpesona dengan cowok menyebalkan ini sih?'
Naruto mengendihkan bahu, ia kembali menatap ke depan. "Terima kasih untuk minumannya?"
"Y-ya... tak masalah." Ujar Sakura tanpa menoleh.
"Boleh aku tau, apa alasan utamamu menyuruhku berpura-pura menjadi pacarmu? Dan kenapa ibumu menyuruhku bertanding melawan Sasuke?"
Sejenak Sakura terdiam, 'mungkin sebaiknya Naruto mengetahuinya.' Sebelum mengatakan kebenarannya ia menghela nafas sejenak, "ini adalah rencana untuk membatalkan perjodohanku dengan Sasuke."
Refleks, Naruto memandang Sakura dengan wajah tak percaya. "Jadi, Sasuke adalah jodohmu?"
"Hm..." Sakura mengangguk, ia pun menceritakan semuanya tentang perjodohannya dengan Sasuke kepada Naruto.
"Kenapa kau tidak mau di jodohkan dengan Sasuke?, ya.. aku tau dia memang menyebalkan. Tapi banyak gadis yang menyukainya tuh."
Sakura mendengus, "hah... Memang benar, dia pemuda yang sempurna. Tapi sejak awal aku tidak menyukainya, karena aku tidak suka di paksa." jelas Sakura.
Sejak kecil ia memang tidak suka di paksa, ia ingin semuanya ia lakukan dengan keinginannya sendiri. Ibunya selalu suka mengatur kehidupannya. Mulai dari kebiasaanya, pendidikannya, apa yang ia suka dan tidak suka, bahkan masa depannya. Semuanya telah di atur oleh ibunya sejak kecil. Ia selalu di kekang, tidak boleh melakukan ini dan itu. Semuanya tidak boleh ia lakukan dengan keinginannya sendiri tanpa persetujuan dari sang ibu.
Tetapi sekarang berbeda, ia sudah besar. Ia tidak ingin lagi menuruti semua permintaan sang ibu yang tidak ia suka, termasuk masa depannya. Ia tahu, ibunya melakukan semua ini demi kebaikannya. Tetapi soal masa depannya, ia bisa menentukannya sendiri. Ia tidak ingin diatur, ia ingin menentukan sendiri masa depannya. Jadi ia harus melakukan hal ini.
Naruto tidak menyangka bahwa kehidupan gadis yang selama ini di benci oleh semua orang begitu menyedihkan, ia jadi bersimpati padanya.
Naruto tersenyum kecil, "memang benar, di paksa itu tidak enak. Dan kita juga berhak menentukan kehidupan kita sendiri, namun ada kalanya orang tua ingin membantu. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk masa depan anaknya." Ia menoleh memandang Sakura, "tapi jika pilihan orang tua tidak tepat menurut kita, kita berhak menolaknya. Menurutku caramu tidak tepat, tapi mau bagaimana lagi orang tuamu tidak mau mendengarkan hakmu." sudah di putuskan, ia akan membantunya. "baiklah... aku akan membantumu sebisaku!"
Seketika Sakura menoleh menatap Naruto dengan wajah berbinar, "benarkah?" Tanyanya dengan riang. Entah mengapa baru kali ini ia merasa begitu bahagia, daripada rasa bahagianya saat ia membully.
Naruto mengangguk sebagai jawaban.
"Kyaa... terima kasih banyak..." Tanpa ia sadari, ia menerjang Naruto dengan pelukkan erat.
Naruto terpaku, ia membulatkan mata dan menahan nafas. Bahkan kedua pipinya bersemu samar. Jantungnya berdegup dengan kencang, bulu kuduknya meremang. Dan fikirannya melayang entah kemana, 'perasaan apa ini?, aneh.'
"Ehem..."
Sakura segera melepaskan Naruto dan memandang sang pemilik suara. "H-hayate-sensei..." suaranya terdengar mengecil, ia sangat malu.
"Kalau mau berpacaran cari tempat yang pas jangan di arena berkuda, tempat ini sangat tidak cocok untuk berpacaran."
"A-apa maksud sensei? K-kami tidak berpacaran." Naruto mencoba menjelaskan.
"B-benar, s-sensei salah paham. Tadi itu-..." Sakura hendak menjelaskan, namun...
"Sudahlah, jangan mengelak. Sensei tau sedari tadi kalian itu mencari-cari kesempatan untuk berduaan kan?" Hayate tersenyum menyeringai melihat kedua muridnya ini tampak salah tingkah.
"T-tidak, siapa yang-..."
"Sudahlah, kalau begitu maafkan sensei! Karena sudah mengganggu kalian ya. Sensei hanya mau berpamitan pada kalian, oke...kalian boleh lanjutkan. Sensei pergi dulu ya, ingat! Jangan sampai keblabasan." Hayate berbalik melangkah meninggalkan kedua muridnya yang tampak bersemu karena mendengar godaannya.
"Apaan sih senseiiii..."
'Hahh~ dasar anak muda, jadi ingat masa mudaku dulu.'
…
…
…
…
Pukul 20.15
Tuk.. tuk... tuk...
Terdengar suara ketukan yang berasal dari bolpoin dan meja kayu yang saling beradu dengan pelan memenuhi ruangan besar dominan warna pink itu.
Terlihat seorang gadis bersurai soft pink duduk terdiam dengan menyanggah dagu di depan meja belajarnya sambil memainkan bolpainnya, pandangannya tertuju entah kemana. Pandangan itu tampak kosong, namun fikirannya di penuhi oleh seseorang.
Terkadang, bibir tipisnya menciptakan sebuah lengkungan kecil nan manis di saat otaknya mengingat sebuah kejadian yang telah ia dan seseorang itu lalui, mungkin kejadian lucu atau kejadian yang tak terduga. Bahkan dua buah semu menghias samar kedua pipi putih nan mulusnya. Sedikit demi sedikit terdengar suara-suara imut nan lucu, jika mungkin ada yang mendengarnya sudah pasti orang itu akan tersenyum bahkan tertawa mendengar dan memperhatikannya.
Termasuk orang yang baru saja memasuki ruangan ini. Dia tampak menahan tawa melihat tingkah gadis soft pink itu. Dia pun memutuskan meringankan langkahnya dan menahan deru nafasnya mendekati si gadis dengan perlahan. Saat sampai di belakang si gadis, dengan gesit ia membekap kedua mata si gadis tak terlalu erat. Ia tidak ingin menyakiti si gadis.
Sakura terlonjak, terlihat badannya bergetar kencang saat kedua matanya di bekap. Seketika aura kesal menguar dari dirinya, "siapa ini?, lepaskan!" Sangat jelas dari suaranya, bahwa ia sangat kesal.
Si pelaku tertawa tanpa suara, ia sangat senang menjahili si gadis. "Coba tebak?" Ujarnya dengan suara yang di buat berbeda dengan suara aslinya.
Sakura menghentikan berontaknya seraya berfikir. Dari suaranya, ia tidak pernah mendengarnya dari orang yang dikenalnya. "siapa?"
Di sela membekap Sakura, si pelaku menghela nafas. Ia sudah tidak tahan melihat reaksi sang gadis kesayangannya ketika melihatnya berada di sini, ia pun memutuskan membuka bekapannya pada kedua mata sang gadis.
Sakura mengerjapkan matanya yang terasa kaku, ia lalu menoleh ke samping ke arah si pelaku. Matanya membulat, mulutnya terbuka dan badannya kaku seketika. Ia terpaku, "S-sasori-nii..." bahkan mulutnya terasa kelu. Ia benar-benar sangat terkejut.
Orang yang di panggil Sasori tersenyum manis sampai kedua pipinya melesung. Pria itu, pria tampan nan imut. Tak terlalu tinggi, berkulit putih, bersurai merah dan yang terpenting lesung pipitnya. Dia memang Sasori, "tadaima... Honey!" Ia merentangkan kedua tangannya, bersiap menerima pelukkan erat dari seseorang yang paling ia rindukan.
Sakura lekas berdiri dan menerjang sang kakak tercinta dengan dekapan mautnya, ia sangat merindukan sosok 'kakak bonekanya'.
"Okaeri..." ujarnya dengan sesegukkan. Ia merasakan sang kakak membalas pelukkannya. "Hiks...hiks.. kenapa nii-chan tidak bilang kalau akan pulang?"
Sasori tersenyum lebar, "kejutan. Aku ingin lihat bagaimana ekspresimu saat melihat nii-chan tiba-tiba ada di depanmu. Dan ternyata, ekspresimu tetap sama." Senyumannya terganti dengan kerutan di bibir, "bisakah sekali-kali kau menyambut nii-chan dengan senyuman manismu tadi?, Kalau bisa dengan rona merah di kedua pipimu juga." ia mengantinya lagi dengan seringaian.
Seketika Sakura melepaskan pelukkannya dan menatap sang kakak dengan dahi berkerut, "a-apa maksud nii-chan?".
Sasori menyeringai, "tadi nii-chan lihat, kamu lagi melamun sambil senyam-senyum sendiri. Bahkan nii-chan bisa lihat kalau kamu tengah bersemu juga, hayo... sedang mikirin apa sama pacarmu?"
"E-enggak, aku tidak mikirin apa-apa kok. Nii-chan saja yang salah lihat." Sakura mencoba mengelak. Ia berbalik dan membelakangi Sasori. Bibirnya mengerucut dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Masak sih dia tadi sampai bersemu.
"Oke...oke... tak apa jika kamu tidak mau memberitahu nii-chan. Sekarang nii-chan ingin tahu seperti apa sih pacarmu itu?" Sasori menggiring Sakura untuk duduk di sofa. "Apa pacarmu itu pemuda yang sering kau ceritakan?"
"Hm..hm.." Sakura menganggukkan kepala, "tapi dia cuma-... nii-chan jangan ceritakan ini pada siapa-siapa ya!" Ia mengerakkan telunjuknya di depan wajah sang kakak, mencoba memperingati.
Sasori mengangguk, meskipun ia sedikit tidak mengerti.
"Tapi dia hanyalah pacar bohonganku." Jelasnya.
Sasori memiringkan kepala, "maksudnya?" Tanyanya tidak mengerti.
"Nii-chan tau kan? Kalau aku tidak mau di jodohkan. Jadi, aku meminta dia untuk menjadi pacar bohonganku."
"Oh... tapi apa dia mau?"
"Hm... dia mau." Sakura mengangguk.
"Tapi nii-chan lihat perasaanmu untuk dia tidak bohongan tuh." Memang benar, terlihat dari sang adik saat menceritakan dia sangat berbeda. Memang cinta datangnya tidak bisa di tebak.
"Apaan sih, aku tidak menyukainya tau." Ujar Sakura dengan bibir mengerucut.
"Lha... itu tadi apa?"
"Apa?"
"Barusan yang kamu katakan?!"
"Aku tidak mengatakan apa-apa, sudahlah... mana oleh-olehnya?!"
Cinta memang selalu hadir di tengah-tengah hubungan lawan jenis, 'dia' selalu datang tanpa di duga. Tidak ada yang bisa menyembunyikan atau mengelaknya, semua pasti akan tahu yang sebenarnya.
…
…
…
…
Minggu, 5 maret 20xx
Pukul 09.00
"Jadi dia pacarmu? Emm... cukup sempurna dan tak kalah dengan Sasuke. Apa kamu yakin kalau dia tidak akan kalah dari Sasuke?"
Sakura memandang serius ke dalam arena. Di sana tampak dua ekor kuda yang tengah di tunggangi oleh masing-masing orang. Satu kuda putih tengah di tunggangi oleh Naruto dan satu kuda hitam di tunggangi oleh Sasuke. Mereka tampak gagah dengan pakaian khas berkudanya.
Sakura menujukan pandangan seriusnya ke arah Naruto, "aku sangat yakin kalau Naruto pasti akan menang." Ujarnya penuh keyakinan.
"Jika kau sangat yakin, maka ayo kita lihat hasilnya nanti."
Mebuki tiba-tiba menyahut, Sakura tidak tau kapan sang ibu telah duduk di sampingnya.
"Naruto keren juga ya?" Ujar Tenten dengan mata tertuju pada Naruto.
"Sstt ... diamlah! Sebentar lagi pertandingannya akan di mulai." Ino yang duduk di samping Tenten memberi peringatan padanya.
Pertandingan ini tak hanya di saksikan oleh keluarga Haruno saja, namun sahabat Sakura yang tergabung dalam anggota 4Qnya juga ikut hadir menyaksikan. Sedangkan keluarga Uchiha tampak tidak hadir, itu karena Mebuki telah melarang Sasuke untuk memberitahu mereka tentang hal ini. Karena Mebuki tidak ingin membatalkan perjodohan mereka.
…
"Kalian bersedia...siap..."
Hayate berdiri di depan kuda Naruto dan Sasuke, ia memegang dua berdera hitam putih di kedua tangannya dan merentangkannya.
Naruto dan Sasuke bersiap mengerakkan cemetinya, pandangan serius mengarah ke depan. Sebelum bersiap melepaskan langkah kuda mereka, mereka menyempatkan diri untuk saling pandang dengan sengit. Seakan-akan mengatakan 'aku tidak akan membiarkanmu menang'. Lalu mereka kembali fokus ke depan.
"MULAI..." Hayate berteriak dengan kencang sambil menarik kedua benderanya dalam dekapan.
Seketika Naruto dan Sasuke mengerakkan cemetinya dengan keras sehingga membuat kuda mereka memulai langkah dengan kencang.
Sasuke berhasil mendahului Naruto saat awal start, ia menyeringai di sela memacu kudanya. 'Dia tidak akan bisa mengalahkanku.' Batinnya percaya diri. Ia terus menggerakkan cemetinya untuk membuat pacuan kudanya semakin kencang.
Sedangkan Naruto yang tertinggal dua meter dari Sasuke tampak terus berusaha mengejarnya, ia tidak akan menyerah. Ia terus memacu kudanya dengan cepat.
Di bangku penonton, semua orang tampak tegang menyaksikan pertandingan sengit ini. Sakura terlihat sangat cemas melihat Naruto yang tertinggal sedikit jauh dari Sasuke, sedangkan Mebuki tampak tersenyum percaya diri. Dia sangat yakin Naruto tidak akan bisa mengalahkan Sasuke.
Naruto dan Sasuke harus saling beradu kecepatan memutari arena berkuda dengan panjang 1Km sebanyak tiga kali putaran.
Naruto terus berusaha mengejar, ia mengerakkan cemetinya berkali-kali untuk membuat kudanya semakin berpacu dengan kencang. Ia lihat Sasuke di depannya menungang di tengah jalan, dia berusaha menghalanginya. Saat ia sudah berada dekat dengan Sasuke, ia berusaha melewati Sasuke yang berusaha menghalanginya.
Sedangkan Sasuke tampak terus berusaha menghalangi Naruto untuk tidak mendahuluinya, ia mengerakkan kudanya ke kanan saat Naruto mencoba menyalipnya dari arah kanannya.
Naruto pun memilih mengalah sejenak, ia menarik tali kudanya mengurangi kecepatan pacuannya. Di sela memacu, ia berfikir dengan keras. 'Sasuke berusaha menghalangiku untuk mendahuluinya, aku harus mencari cara.' Ia memperhatikan Sasuke dan kudanya seraya berfikir, 'aku tau caranya... '. Naruto pun mengerakkan cemetinya kembali dengan keras untuk menambah pacuan kudanya, sampai akhirnya ia berada tepat di belakang kuda Sasuke. Sasuke kembali menghalanginya, dia selalu bergerak mengikuti arah gerak Naruto yang hendak menyalipnya. Naruto terus mengerakkan kudanya ke kanan dan ke kiri sampai ia menemukan celah lebar di sebelah kanan Sasuke, ia pun segera mengerakkan kudanya ke kanan dengan cepat. Dan... berhasil, ia dapat mendahului Sasuke. 'Heh... ternyata taktikku berhasil juga' ia menyeringai penuh kemenangan.
Sedangkan di bangku penonton, Sakura tampak bangkit dari duduknya dan bersorak riang. "Yeeyy... bagus Naruto, ayo kurang dua putaran lagi." Teriaknya sambil menaikkan kedua lengannya.
"Ayo...Naruto.. aku mendukungmu." Teriak Tenten mengikuti Sakura.
Ino dan Hinata hanya mendengus melihat kelakuan kedua temannya.
Kembali ke arena. Sasuke terlihat geram, ia tidak menyangka bahwa Naruto bisa melewatinya. Ia pun kembali berusaha mendahului Naruto, namun di putaran ke dua ia tetap tertinggal tipis di belakangnya. Ini adalah putaran terakhir dan kesempatan terakhirnya, 'aku harus bisa mengalahkannya, aku tidak akan membiarkannya menang.' Sasuke berusaha melewati Naruto, namun Naruto terus berusaha menghalang-halanginya.
Di bangku penonton tampak tengang menyaksikan pertandingan yang tampak sengit antara Naruto dan Sasuke. Jarak di antara mereka sangat tipis.
Naruto berusaha mempertahankan posisinya. Ia tidak akan membiarkan Sasuke menang.
Terlihat garis finish dalam jarak tujuh meter, di sana berdiri Hayate dengan kedua benderanya bersiap untuk mengakhiri pertandingan. Semua penonton tampak tegang dengan harap-harap cemas menunggu hasilnya.
'Aku tidak boleh kalah.' Sasuke menambah kecepatan pacuan kudanya sampai akhirnya ia sejajar dengan Naruto.
'Aku pun juga tidak boleh kalah, demi kebahagiaan Sakura'. Naruto juga menjalankan pacuan kudanya dengan cepat, tak ingin kalah dari Sasuke.
Garis finish terlihat dari jarak satu meter. Mereka masih dalam posisi sejajar menuju finish.
Hayate mengibarkan kedua bendera di kedua tangannya saat melihat mereka berdua hampir sampai dengan kuda mereka.
Bagaikan adegan slow motion. Naruto telah tersalip tipis dari Sasuke saat mereka sampai di garis finish. Dan kemenangan telah di raih oleh Sasuke.
…
'Sial...padahal tinggal sedikit lagi.' Naruto mengutuk dirinya akibat kesalahannya yang kurang cepat dari Sasuke.
"Biar kubantu..."
Naruto menoleh, ia mendapati Sakura tengah berdiri di sampingnya menatapnya dengan lembut. Dia mengangkat tangan, hendak membantunya melepaskan helm dan setelahnya kacamata. Ia terpaku, entah mengapa Sakura begitu perhatian padanya.
"Nih..." Setelahnya Sakura menyerahkan sebotol air putih untuk Naruto.
Naruto tersenyum dan menerimanya, "terima kasih." Ujarnya dengan tulus.
Sakura membalasnya dengan senyuman lembut, ia lalu mengusap keringat yang bercucuran di wajah Naruto dengan handuk lembut. Ia melakukannya dengan senang hati, lagi pula pemuda ini telah berjuang demi dirinya meskipun hasilnya kegagalan.
Sasuke yang berada tidak jauh dari mereka tampak memandang mereka dengan ekspresi dingin, dia tampak tidak suka.
"Sasuke-kun..."
Sasuke menolehkan wajahnya ke samping, "Mebuki-sama..." serunya dengan kaget melihat Mebuki tiba-tiba berada di sampingnya.
"Terima kasih ya, kamu sudah memenangkan tantangan ini. Dengan begini Sakura tidak akan menolak lagi."
Sasuke tersenyum tipis, "sebenarnya bukan sayalah pemenangnya, tapi dia. Apa Mebuki-sama tidak melihat?, kalau dia sangat piawai dalam berkuda. Mungkin tadi adalah keberuntungan saya saja, sebaiknya- Mebuki-sama merestui mereka!".
"Itu tid-..."
"Ibu..."
Mebuki dan Sasuke menoleh, mereka melihat Sakura berjalan sambil mengenggam tangan Naruto mendekati mereka.
"Ibu... aku mohon ibu merestui hubungan kami dan batalkan perjodohanku dengan Sasuke, memang benar Naruto telah kalah dalam tantangan Ibu. Tapi aku sangat mencintai Naruto ibu, aku mohon!" Sakura menangkupkan kedua tangannya di depan wajah dan menatap Mebuki dengan memelas.
Mebuki mengalihkan pandang ke arah Sasuke, seakan ia bertanya 'bagaimana pendapatmu'. Ia lihat Sasuke menganggukkan kepalanya samar, sebagai tanda ia menyetujuinya. Ia pun menghela nafas, lalu kembali menatap Sakura tajam. "Oke..."
Seketika Sakura berbinar. Nanum perkataan sang ibu belum selesai.
"Tapi... masih ada satu tantangan lagi. Jika pacarmu berhasil, ibu akan merestui kalian."
"Bernarkah?"
Mebuki hanya mengangguk, ia lalu menyempatkan diri menyampaikan tantangan berikutnya kepada mereka sebelum akhirnya melangkah meninggalkan mereka.
"Tantangan berikutnya adalah...menari balet, ibu sangat menyukai tari balet. Jadi ibu ingin lihat pacarmu menari balet. Ibu tunggu minggu berikutnya dan ibu akan memutuskan hasilnya."
Sakura, Naruto dan Sasuke terpaku mendengar tantangan berikutnya yang di berikan Mebuki untuk Naruto.
Bagaimana bisa Naruto melakukan tarian lemah gemulai seperti itu. Ingat! Dirinya adalah cowok jantan, ia tidak bisa melakukan hal itu. Itu sangat memalukan, bagaimana kalau fans-fansnya tau?. Tidak... pokoknya ia tidak mau melakukannya.
'Apa ibu bercanda?, bagaimana bisa ibu menyuruh cowok keren seperti Naruto untuk menari balet. Ibu benar-benar keterlaluan. Ibu pasti sudah tau kalau Naruto tidak mungkin mau melakukannya, dan ibu akan tetap menjodohkanku. Tidak-... aku harus meyakinkan Naruto untuk mau menerima tantangan ibu ini, ya... aku harus membuatnya mau.'
…
…
…
To Be Continued
…
…
…
A/N : yey...akhirnya chap 10 selesai juga. Maaf baru bisa update, soalnya ngak ada waktu buat ngetik. Maaf kalau chapter ini gaje, boring dll. Tapi Semoga suka ya!, terima kasih buat semuanya yang sudah mau mampir membaca, dan mereview. Reviewan kalian sangat berarti.
Mohon riviewnya...
Arigatou...
Salam Dattebayou by NamiKura10
