Sungguh manis. Satu kata itu yang terlintas di benak Hinata. Naruto yang selalu memasang wajah kesal saat bersamanya kini tengah berwajah polos dengan Vio di pelukannya.

Ya. Mereka tertidur di ruang tengah. Naruto saja masih memakai seragam, sepertinya pemuda itu baru pulang dan bermain dengan Vio lalu ketiduran di sofa.

Tanpa sadar Hinata menarik sudut bibirnya ke atas, ia tersenyum manis.

'Sepertinya aku sudah terbiasa dengan kehadirannya.'

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Like An Ilusion © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC, typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

.

Tangan Hinata terulur untuk mengusap surai pirang Naruto. Entah kenapa rambut pirang yang selalu tampak berantakan itu begitu lembut.

Lavendernya membulat kala Naruto bergerak. Sepertinya akan terbangun dan–

"Kau–" Suara Naruto terdengar serak. Ia mengucek matanya dan berusaha duduk sambil memangku Vio. "–pukul berapa sekarang?"

Hinata melihat jam tangannya. "Emh... Setengah tiga sore."

Mulut Naruto membulat. Ia mengelus bulu Vio sambil mengumpulkan nyawanya yang entah sedang dimana. "Masih ada waktu." gumamnya.

Hinata yang tertarik dengan Vio ikut terduduk di samping Naruto. "Naruto-san sudah makan siang?"

"Sudah." Naruto mengangguk lalu menatap penampilan Hinata, gadis Hyuu– maksud Naruto, gadis Namikaze itu masih memakai seragamnya lengkap dengan tas gendong hitam mungil kesayangannya, sudah dipastikan jika Hinata baru datang.

Tatapan Naruto berubah, kini sapphire birunya menajam. Ia memicingkan sebelah matanya.

Hinata yang merasakan itu mengangkat kepalanya lalu berkedip polos. "A-ada apa?"

Setelahnya Hinata merasakan hidungnya di cubit dengan keras. "A-aw! Naruto-san."

"Apa? Apa?" Naruto semakin keras mencubit Hinata. Ia bahkan tidak peduli jika gadis itu kesakitan, pokoknya ia kesal!

Sangat kesal!

"Naruto-san..." Hinata ingin menangis, hidungnya sangat sakit.

Vio sendiri bergerak dipangkuan Naruto. Anjing lucu itu mengibaskan ekornya, mata hitam bulat dan lucu miliknya menatap ke arah istri majikannya yang tengah di cubit. Vio memiringkan kepalanya, anjing lucu itu tidak mengerti.

"A-aku salah apa?"

Naruto mengendurkan cubitannya. "Salah apa?"

Hinata mengangguk, ia memegang lengan Naruto.

"Aku menunggumu dua jam. Ingat. Du-a jam." Katanya penuh penekanan.

Eh? Tunggu, Naruto bilang menunggu?

"Kenapa menungguku?"

Naruto mendelik, ia merasakan lengannya basah dan ternyata Vio tengah menjilati lengannya. "Ah! Kau juga! Mau berkhianat?"

Vio menggonggong, lalu pindah kepangkuan Hinata. Senyum Hinata merekah, ia suka Vio. Biar saja Vio berkhianat, toh Naruto itu kejam. Tidak pantas memelihara Vio yang lucu.

"Aku menyuruhmu menunggu diparkiran, namun malah aku yang menunggu." Akhirnya cubitan Naruto terlepas.

"A-apa?"

"Aku sudah mengirimimu pesan untuk pulang bersama."

Hinata diam. Apa kata Naruto? Pulang bersama?

Lavendernya melirik ke arah jendela, cerah. Tidak ada angin tidak ada hujan Naruto mengajaknya pulang berasama? Sugoii..

"Apa? Kau tidak percaya?" Naruto berwajah malas. Ia melipat tangannya di depan dada. "Kau online, namun tidak membalas pesanku, sibuk dengan yang lain?"

"A-ano... Dari tadi ponselku di pinjam Ino-chan."

Sebelah alis Naruto terangkat. "Memangnya kau kemana?"

Hinata mengigit bibirnya, ia tampak tidak yakin dengan jawabannya. "Menemani Gaara-kun."

Hening.

Ekspresi Naruto begitu datar.

"Oh." Jawabannya, ia jadi badmood. Naruto bergeser ke arah kiri. Ia merapatkan duduknya pada Hinata lalu menaruh kepalanya di bahu si gadis. "Aku mengantuk."

Hinata yang kaget malah mengangguk.

"Tadi selama rapat kau kemana?" Kepala Hinata ingin menoleh, namun tidak bisa.

"Emh.. Di perpustakaan."

Dari jam 10 pagi hingga sore para guru memang mengadakan rapat, entah rapat apa itu Naruto tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah ajakan pulangnya yang ternyata malah diabaikan. Katanya sih, study tour untuk refreshing kelas 12 sebelum disibukan oleh ujian, padahal ujian masih lama. Malas sekali.

Untuk itulah, untuk mengurangi beban para guru murid dipulangkan lebih awal.

"Hey?"

"A-apa?"

"Cepatlah mandi, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat?"

Hinata menatap Naruto yang tak lagi menyandar di bahunya, ia malah mengangkat alisnya.

"Tenang saja, aku tidak akan menjualmu."

Hinata cemberut.

Naruto berdiri. "Oh, ya."

Hinata yang merasa terpanggil mendongakkan kepalanya. "Ini pasti sakit." Naruto menunjuk hidung Hinata.

Si gadis mengangguk.

Cup.

Lavender Hinata membulat. Bahkan elusannya pada Vio berhenti.

Baru saja–

"Nah, sudah kusembuhkan." Naruto tersenyum manis, setelahnya ia melangkah ke arah kamar mandi meninggalkan Hinata dengan wajah kagetnya.

–Naruto mengecup hidungnya.

"Ke-kenapa aku berdebar?"

.

.

.

"Ramai sekali..."

"Tentu saja, ini taman. Bukan kuburan."

Hinata cemberut, Naruto memang memiliki perkataan yang sangat pedas. Bahkan Hinata penasaran, apa Naruto sangat menyukai makanan pedas?

Ya, sekarang mereka memang sedang di taman dekat apartemen. Meski sudah sore tapi taman ini ramai dengan penghuni apartemen yang biasanya datang untuk refreshing.

"Vio, jangan lari!" Naruto menarik tali yang mengikat leher Vio. Ia memang membawa anjing lucunya, sudah lama juga Vio tidak jalan-jalan.

"Kau lapar?"

Hinata menoleh. "Aku haus." Ungkapnya polos.

Naruto yang melihat itu menahan senyumnya. "Kita cari minum."

"Eh?" Hinata menatap tangannya yang di genggam tangan kiri Naruto, sebab tangan kanannya harus memegang tali Vio.

Dengan wajah yang menatap ke depan, Naruto menjawab. "Nanti kau hilang, taman inikan ramai. Bisa repot jika aku mencarimu."

Benar kata Naruto, meski bukan akhir pekan tapi taman ini ramai.

"Ba-baiklah..."

Ternyata Hinata di gandeng menuju mesin minuman, ia hanya mengikuti genggaman tangan Naruto.

Satu kata yang terlintas di kepalanya.

Hangat.

"Bawa uang?"

"H-huh?" Hinata menoleh dengan bibir yang maju ke depan.

Naruto mengulum bibirnya, ia mencoba menahan senyumnya. Kenapa Hinata sangat menggemaskan?

"Pegang Vio."

Dengan semangat Hinata mengangguk, ia pindah ke sisi lain tubuh Naruto lalu memangku Vio dan duduk di kursi yang disediakan di samping mesin minuman, membiarkan Naruto yang sibuk mencari uang–di dometnya–untuk dimasukan pada mesin otomatis itu.

"Mau minum apa?"

Lavender Hinata menatap Naruto yang kini memegang susu kemasan, ah, bahkan Hinata baru tahu jika mesin minuman menyediakan susu strawberry. Ia mengalihkan tatapannya, satu kaleng minuman menarik perhatiannya. "Aku ingin cappuccino!"

"Hah?" Naruto berkedip. Apa katanya?

"Itu yang itu." Hinata berdiri di belakang tubuh Naruto. Ia menunjuk minuman yang berada di tengah.

"Mana?"

"Itu! Itu!" Bahkan sekarang jika di lihat dari jauh posisi Hinata seperti memeluk Naruto dari belakang.

"E-eh..."

"Yang ini?"

Hinata kaget saat Naruto berbalik jarak wajahnya sangat dekat, apa Hinata sangat menempelkan pada punggung Naruto?

"Apa?" Tanya Naruto datar, padahal entah kenapa ia berdebar. "Kau mau membalas ciumanku yang tadi?"

Wajah Hinata memerah, dengan secepat kilat ia ambil minumannya lalu kembali ke kegiatan awalnya–duduk di kursi taman dengan Vio di pangkuannya.

Naruto mengikutinya, ia duduk di samping Hinata. Menikmati susu strawberry yang menurutnya sangat nikmat.

"Kau suka kopi?"

Hinata mengangguk, lalu kembali meneguk kopinya. "Rasanya hidupku lebih banyak rasa karena kopi."

"Lebay." Naruto mencibir.

"Tidak kok. Aku jujur. Mau coba?" Hinata menyodorkan kaleng kopinya.

Sedangkan si pirang sendiri mengangkat alisnya. Apa gadis ini menawarkan ciuman tidak langsung?

"Naruto-san..." Hinata menggoyangkan minumannya di depan wajah Naruto.

Kedip. Kedip. "Apa?"

"Ayo coba."

Naruto mengambil kopi Hinata, lalu meminumnya. "Uhuk!"

"Naruto-san." Hinata yang panik refleks mengelus punggung Naruto. "Ke-kenapa?"

"Astaga!" Naruto menyerahkan keleng minuman Hinata sambil mengelus dadanya. "Bagaimana bisa kau minum minuman pahit begini?!"

Elusan Hinata berhenti. Ia menatap kaleng minumannya lalu meminum satu teguk cappuccino. "Tidak kok. Ini manis." Ia menjilat bibir atasnya.

Bahkan anak kecil pun akan setuju jika cappuccino itu manis dan enak, tidak! Bukan hanya anak kecil, tapi semua orang. Lalu kenapa Naruto tidak suka cappuccino?

Naruto meneguk ludahnya, shit! Ia mengalihkan pandangannya ke depan. "Cih! Aku tidak suka, hanya orangtua saja yang minum kopi."

"Naruto-san tidak gentle, masa sudah besar minum susu."

"Apa katamu?"

"Apa kataku?"

Mereka bertatap. Setelah beberapa detik Hinata membulatkan matanya, ia menggeser duduknya.

"Mau kemana? Hm?" Naruto dengan sigap melingkarkan lengannya ke pinggang kanan Hinata.

"Susu itu sehat." Entah sejak kapan kedua pipi Hinata di cub–bukan, tapi di tarik Naruto hingga ia kesulitan bicara. "Kopi yang mengandung banyak kafein."

"A-aku ta-tahu. Lepaskan..." Hinata menarik lengan Naruto.

Naruto tampak acuh. Ia mengedarkan pandangannya sambil terus menarik pipi Hinata. Tanpa di sadarinya, ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka. Naruto yang menyadari itu melepaskan cubitannya.

"Banyak yang memerhatikan kita."

"H-huh?" Hinata mengelus pipinya, ia ikut mengalihkan pandangannya.

"Mungkin mereka berpikir kita pasangan yang romantis."

"A-apa?" Hinata menoleh, ia berkedip lucu.

"Pasti mereka berpikir kau baby sister Vio yang tidak benar." Naruto berdiri, lalu mengambil Vio, memegang talinya membiarkan anjing itu berjalan.

"Naruto-san. Yang tadi bilang apa?" Hinata memang tidak mendengarnya, pipinya sangat sakit tadi.

"Kau menyebalkan."

"Bukan itu." Hinata menyusul langkah Naruto, ia mensejajarkannya.

"Lalu apa?"

"Naruto-san bilang aku manis." Hinata tersenyum hingga matanya menyipit, dan entah bagaimana rona merah hadir di pipi Hinata.

"Siapa? Kau?" Hinata mengangguk. "Yah... Kau manis seperti Orochimaru Sensei."

Hinata cemberut, ia mengerucutkan bibir bawahnya. "Padahal aku hanya bercanda."

"Bagus." Naruto kembali menggenggam tangan Hinata. "Kita cari makan."

"Tapi aku tidak lapar."

"Hah? Masa?"

"Iya."

"Terus kenapa perutmu bunyi?"

Hinata menoleh. Ia memang belum makan siang, dan selalu melewatkan waktu makanannya. "Tidak kok."

"Iya. Aku mendengarnya."

Wajah Hinata memerah, tangan kirinya memegang perutnya. "Bohong."

"Serius, seperti berdisko."

"Naruto-san."

Naruto tertawa. "Terserah kau saja. Oh, ya."

Mendengar nada bicara Naruto yang berubah serius Hinata menoleh. "Iya?"

"Nanti jangan beli minum, kan sudah."

"Ih! Pelit."

"Biar nanti cepat kaya."

"Pokoknya pelit."

"Aku ini kepala keluarga bijaksana."

"A-apa?"

"Aku bilang, kau lambat sekali jalannya. Ayo."

Dan Naruto berjalan lebih cepat dengan tangan Hinata di genggamannya. Satu hal yang ternyata baru di ketahui Naruto, Hinata adalah gadis menggemaskan yang membuatnya menahan tawa.

.

.

.

.

"Katanya hasil rapat sudah diumumkan."

Kiba mengabaikan gamenya, ia menatap Sai yang kini mengunyah sandwichnya.

Sai mengangguk, ia menelan makanannya lalu mengambil soda yang di simpannya di atas meja bundar yang tersedia di taman, kemudian meminumnya. "Iya, kau tidak melihatnya?"

"Melihat? Dimana?"

"Hatiku."

Kiba yang ingin muntah cepat-cepat ia mengambil cappuccinonya lalu meminumnya. "Menjijikkan!"

"Apa? Romantis? Terimakasih." Sai tersenyum.

"Kau gila Sai!"

"Aku tampan? Memang, iya."

"Sai!" Kiba yang merasa frustrasi lebih baik mengabaikan Sai. Ia dalam mode kesal.

"Hasilnya?"

Sai menoleh. "Katanya ada dua tem– eh tidak tahu entah dua tempat atau tiga tempat atau bahkan lebih."

Naruto mengangguk, ia kembali menyantap ramennya. Ramen, ia jadi teringat kemarin, memang saat mengajak Hinata makan Naruto membelikan ramen di minimarket.

"Pada mau ikut?"

Semua menatap Sai, bahkan Shikamaru yang akan berbaring di kursi panjang pun pindah ke meja bundar yang memang berisi lima kursi.

"Paling-paling Shikamaru disana hanya tidur." Sasuke menatap malas Shikamaru.

Shikamaru menggaruk pelipisnya. "Tuh tahu."

"Bagaimana denganmu Sasuke?"

Sasuke melirik Naruto, ia sedang memerhatikan sahabatnya yang tampak tenang dan mengabaikan pertanyaan Sai. "Yang pastinya kita semua harus ikut."

Semua mengangguk.

"Tahun terakhir nih." Kiba mengantongi ponselnya, ia memang berniat melihat jam untuk mengecek apa istirahat masih lama.

Naruto menatap satu persatu sahabatnya. "Aku malas."

"Tapi pasti kau di tunjuk jadi panitia." Kiba tertawa, ia merasakan perutnya keram karena terlalu geli.

"Ck!" Naruto sendiri berdecak.

Padahal ia bukan mantan anak Osis atau organisasi apapun, hanya memegang club karate, basket, juga musik. Tapi Kakashi selalu menunjuk dirinya, Sasuke, dan Shikamaru, juga kadang Sai dan Kiba untuk menjadi panitia.

Katanya, mereka–berlima–memang di segani dan pasti para murid akan menurut. Memang benar sih... Tapi tetap saja keberatan.

"Sekalian cari pasangan." Sai merangkul Kiba dengan alis yang dinaikan.

"Sai!" Yang membuat Kiba geli, bukan rangkulannya tapi elusan di pundak kirinya. "Dasar mesum!"

"Apa? Manis. Terimakasih."

Semua yang ada disana merasa bahagia karena Kiba menderita.

"Jika camping, pasanganmu monyet Sai."

Sai tertawa mendengar candaan Sasuke. "Nanti kujodohkan dengan Kiba."

Kiba makin jijik. "I'll kill you Mr. Shimura."

"You know, i'm not affraid."

"And I'll kill you now, Inuzuka." Naruto menyeringai, ia menodongkan dua sumpit pada Kiba.

"Shut up! Aku mau tidur." Shikamaru menatap malas, ia seperti menonton orang yang belajar bahasa Inggris.

"Lihat, Rusa terganggu. Uh, kasian." Kiba mengelus kepala Shikamaru.

"Diam. Atau kumutilasi."

"Jangan-jangan!" Sai menggoyangkan telapak tangannya. "Nanti tidak ada yang enak di bully."

Naruto tertawa, Sasuke tersenyum tipis.

"Iya, lebih baik do'akan saja kita berumur panjang agar puas membully Kiba."

"Sialan!"

Naruto dan perkataan pedasnya adalah paket komplite.

"Eh! Eh!" Sai menepuk-nepuk pundak Kiba dengan keras.

"Sakit Pucat!"

Sai mengabaikannya, ia malah menepuk pundak Kiba dengan keras. "Naruto!"

"Naruto di depanmu! Kenapa aku yang kau siksa?!"

Lagi-lagi Sai mengabaikan Kiba. "Itu istrimu?"

Semua menoleh dengan alis berkerut, bahkan Naruto tengah memicingkan matanya setajam-tajamnya. Taman belakang sekolah memang luas, namun tidak memungkinkan bagi Hinata untuk tidak terlihat. Apa lagi gadis itu selalu bersama dengan Gaara dan Ino, duo yang lumayan populer, Gaara bukan lumayan lagi, tapi sebanding dengan mereka berlima.

"Wah... Istrimu selingkuh?"

Dengan sapphire yang menajam Naruto menatap Kiba.

"Lagi pula siapa yang mau jika di bully suami sendiri?"

Sasuke juga kenapa ikut-ikutan?!

"Ya sih, aku mendukung Hinata-san. Naruto pantas ditinggalkan."

Sai dan lidah beracunnya.

"Suami ditinggalkan istrinya karena kasus pembullyan. Fix, judul berita yang bagus."

Cukup! Shikamaru!

"Biar saja, apa peduliku."

Meski begitu, tetap saja hati Naruto panas. Sial, Sabaku memang berbahaya.

Shikamaru mengangguk. "Sabaku dan Hyuuga, perpaduan yang pas."

Brak!

Naruto dengan kasar menaruh ramen di meja. Ia mengambil orange jus kemasan Sai dan meneguknya hingga habis.

"Oi! Minumanku!"

"Apa peduliku!" Naruto mendengus. "Aku lebih kepanasan!"

"Panas? Perasaan cuacanya sejuk."

Oke. Sasuke memang sialan.

"Iyalah, orang istrinya– Naruto!"

Naruto tertawa, ia berhasil memasukan satu kacang ke mulut Kiba.

"Sial! Kau tidak mengupasnya."

"Kupas dengan gigimu."

"Uh... Mesranya..." Ternyata Sai masih memerhatikan Hinata dan Gaara. Naruto juga ikut memerhatikan, posisinya... Seperti Hinata sedang memeluk Gaara.

'Sial! Kenapa aku kesal?!'

"Aku iri." Sebenarnya Sasuke tidak pantas mengucapkan kalimat itu dengan wajah datar.

"Ya tinggal lakukan saja."

"Yakin menyuruh Sasuke melakukannya dengan istrimu?" Shikamaru mengangkat alisnya.

Rahang Naruto mengeras, ada apa dengan sahabatnya? "Memangnya kenapa harus tidak yakin?"

Seringai mengerikan terbentuk di wajah Sasuke. "Kalau begitu, kunikahi dia. Cepat kalian cerai."

Brak!

Naruto memukul meja. Ia berdiri.

"Mau kemana?" Sai menoleh ke arah Naruto.

"Kolam renang. Tubuhku gerah."

"Wah! Hati-hati bunuh diri!" Bahkan teriakan Kiba mengundang banyak perhatian.

Naruto tidak peduli, ia kesal.

"Mengaku tidak suka, tapi tidak mau di suruh cerai."

.

.

"Kenapa harus makan di taman?"

Hinata kembali menarik lengan Ino, ia mencari tempat duduk yang pas. "Cari suasana baru." Katanya sambil melihat-lihat apakah masih ada tempat duduk.

"Tuh, kan. Kita duduk dimana?" Ino terlihat frustrasi. "Aku tidak mau duduk di rumput!"

"Iya, kita cari bangku kosong." Lavender Hinata menatap sekeliling, namun hasilnya nihil. Ia cemberut.

"Aku tidak suka taman."

Ini lagi, mahkluk bernama Gaara Sabaku. Tidak mau tapi masih saja mengikuti.

"Ya Gaara-kun makan saja di kantin."

"Dimana ada Hinata, pasti ada Gaara."

"Iuh! Najis!"

"Kau juga menjijikan." Gaara menatap Ino dengan wajah datar.

"Lingkar hitam di matamu yang menjijikan!"

"Rambut kudamu memuakkan."

Cukup, Ino kesal!

"Kau–"

"Ah... Tidak ada bangku kosong..." Hinata berbalik, dan refleks langkah ketiga orang itu berhenti. Lavendernya menatap memelas pada kedua sahabatnya, ia berharap Gaara dan Ino tidak minta pindah tempat.

Dengan semangat Ino menarik lengan Hinata. "Ke kelas saja yuk!"

Hinata cemberut. "Jangan yah... Ino-chan."

"Ke kelas saja yah? Yah?" Ino menangkup telapak tangannya di depan dada.

"Jangan ya..." Kembali Hinata membulatkan lavendernya. Sial, jika soal kepolosan Ino kalah. Bahkan sekarang Hinata mengalihkan pandangannya pada Gaara meminta persetujuan.

"Tid–"

"Gaara-kun..."

"Baiklah." Wajah masam tercetak jelas pada Gaara, ia duduk di bawah pohon sakura yang kini tengah mekar, sepertinya mereka mendapat tempat yang bagus.

Hinata tersenyum, ia duduk dihadapan Gaara sedangkan Ino di samping pemuda itu. Ia membuka kantung plastik putih yang berisi cappuccino dan satu sandwich. Ino memilih sandwich dengan orange jus, Gaara hanya membawa minuman kaleng andalannya, katanya selain enak minuman kaleng membuatnya terlihat keren. Entahlah, Hinata juga pusing.

Ino yang tadinya cemberut merubah taut wajahnya dalam sekejap. "Hinata-chan, kenapa tidak bilang disini banyak cowok keren dan tampan." Ia membenarkan tatanan rambutnya yang padahal sudah rapi.

"Benarkah?" Hinata juga mengikuti pandangan Ino, ternyata gadis dengan rambut ekor kuda itu tengah memandangi Sasori, Yahiko, bahkan Toneri yang kini tengah bercanda sambil bermain ponsel.

"Iya lihat! Lihat! Mereka sangat keren!"

Hinata tertawa kecil. "Siapa yang keren?"

"Itu, Sasori Akasuna. Toneri Otsutsuki juga boleh." Sebelah mata Ino berkedip pada Hinata.

Hinata yang melihat itu hanya tertawa.

Gaara? Jangan tanya, kini ia tengah berekspresi jijik. "Ck. Yamanaka, minumanku jadi pahit akibat ocehanmu "

"Apa?" Ino merubah raut wajahnya, ia menatap garang Gaara. "Makanya, tampan seperti mereka, agar kulirik."

"Memangnya aku tidak tampan?" Bukannya menatap Ino, Gaara malah menatap Hinata.

"E-eh? I-it–"

"Tentu saja tidak! Kau itu menyeramkan!"

"Kau juga berisik."

"Datar!"

"Tukang gosip."

"Pan–"

"Diamlah rempong. Aku bertanya pada Hinata."

Ino mengepalkan tangannya. "Dasar wajah batu!" Lalu kembali menikmati ketiga pemuda tampan.

Gaara mengangkat bahunya. Ia kembali menatap Hinata dan mengabaikan Ino. "Bagaimana?"

Lavender Hinata menatap penampilan Gaara, satu kata. Keren. Wajah Gaara juga di atas rata-rata. Banyak gadis di sekolah mereka bahkan diluaran sana yang menanti menjadi seorang kekasih Gaara Sabaku. Tapi sampai sekarang pemuda berambut merah maroon itu belum memiliki kekasih.

He alone now.

"Tentu saja tampan."

Senyum Gaara merekah.

"–jika di lihat dari puncak Fuji."

Ino tertawa, ia puas. Ledekan Hinata memang tepat.

"Hinata!" Dengan kasar Gaara mengambil cappuccino kaleng milik Hinata yang akan di minum gadis itu.

Hinata kaget, baru saja ia akan minum namun Gaara merampasnya. "Gaara-kun berikan."

"Tidak!" Gaara menyembunyikan minuman Hinata di belakang punggungnya.

"Ayolah... Aku haus."

Gaara menggeleng.

"Gaara-kun dari kemarin aku belum minum."

Ino kaget.

Gaara mengangkat sebelah alisnya.

Sebenarnya Hinata bercanda, kemarin ia hanya tidak minum saat makan di minimarket dengan Naruto. Ternyata perkataan Naruto tidak main-main, Hinata tidak di traktri minum bahkan ia sempat kepedasan untung saja Hinata tahan pedas. Dan satu fakta baru yang Hinata ketahui, Naruto tidak suka pedas. Buktinya bumbu cabai ramen Naruto diberikan pada Hinata.

Lalu kenapa perkataan Naruto bisa sangat pedas? Jika pemuda itu saja tidak suka pedas.

Sungguh menyebalkan, Hinata dibiarkan kepedasan dengan bumbu cabainya. Anehnya, Hinata memang kesal. Namun ia juga bahagia, setiap mengingat hari kemarin Hinata selalu ingin tersenyum.

Ada apa dengannya?

"Alasan."

"Memang." Hinata maju, ia mencoba mengambil minumannya.

"Tuh, kan." Gaara mencoba mengamankan minuman Hinata.

Jika di lihat memang Hinata seperti memeluk Gaara.

Ino memutar bola matanya, Gaara memang selalu mengusik Ino dengan ejekannya. Namun, berbeda pada Hinata, Gaara mengusik Hinata dengan candaan yang terkesan... Lembut.

Kadang Ino berpikir ada apa dengan Gaara?

"Ini."

Senyum Hinata merekah. "Terimakasih." Ia mengambil cappuccinonya yang di dapat Ino dari punggung Gaara.

Sedangkan Gaara hanya mendengus kesal.

.

.

Naruto menatap pantulan wajahnya di cermin. Rambutnya pirang, matanya sapphire, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Lalu kenapa Hinata mencoba berselingkuh darinya? Padahal ia tampan. Sangat malah.

Apa karena sikapnya?

Haruskah Naruto baik pada Hinata?

Tunggu! Kenapa harus baik padanya.

Naruto mengacak rambutnya. Sialan! Sahabatnya memang paling top jika urusan membuatnya kesal.

Naruto kembali mencuci wajahnya, ia memang berada di kamar mandi. Gila saja jika Naruto benar-benar ke kolam renang.

Padahal kemarin baru saja Naruto mengetahui saru fakta. Hinata suka cappuccino. Dan kemarin... Naruto sangat senang.

"Ada apa denganku?"

"Lalu, apa benar. Jika pernikahan kami hanya akan berakhir dengan perpisahan?"

...

Langit biru yang cerah dengan matahari di atasnya. Perpaduan yang pas untuk mengukir sebuah senyuman di bibir. Seperti halnya yang dilakukan olehnya.

Ia, mengambil segela jus lalu sedikit meminumnya lewat sedotan. Memberi kesan anggun sekaligus elegan. "Naruto, aku akan kembali." Ujarnya di iringi dengan senyum.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Sebelumnya, saya mau tanya. Apakah disini sudah ada yang kuliah? Mohon di jawab, saya sangat memerlukan jawabannya.

Oh, ya. Gimana kalo saya buat karakter NaruHina yang OOC? Masih rencana sih, tapi nggak tahu juga jadi apa nggak. Kalian suka fic yang gini atau fic saya yang OOC? Tergantung mood juga sih:v, nanti saya bikin takut nggak suka:'( repotkanT_T dan yang parah... Nggak ada yang notice T_T, sakit jangan abaikan aku kaya si 'dia'.

Up kilatkah?:v seneng nggak? Kalo kalian pada antusias saya bakal up kilat lagi, kalo nggak yang nggak jadi dong:( makanya respon yu:') i need your love:* apaan senah:)

Oh, ya? Apa Naruto manis? Padahal menurut saya nggak, saya nggak bisa bikin adegan manis soalnya:) ini juga serasa garing malah deket ke crispy:')

Tuh, muncul yang lagi minum jus. Siapa ya? Ada yang tahu? Kalo ada yang tahu saya kasih no hp saya:v bohong atuh:v

Makasih sama yang udah fav, follow, review, sama silent reader kuharap kalian meninggalkan satu atau dua patah kata yang dapat membuatku tersenyum:) ahay! Jangan kau mengecewakanku seperti 'dia' yang mengecewakanku:'(.. Karena galau akan membekas:(

Oke saatnya balas review:

muhammaddandi52: ini udah:)

cecepantonii: kayanya ada:v makasih udah nunggu:)

Norma Yunita: kok jadi ikutan merona saya:v

Kakek Legend: bagian mana yang mengingatkanmu pada waktu dulu?:v

csalsabiil: sama-sama, makasih juga udah baca+review:)... Hehehe kita liat aja ya nanti:) oke! Semangat!

riekincchan: kuharap ini sangat, sangat, panjang:), padahal Naruto itu kejam:v

Yunnaa-chan: makasih:) tapi apa bener Naruto manis?:)

Hinari chan: hehehe iya nih;) ah... Makasih:) silakan baca:)

Hinari chan: hehehe masa sih?:), iya Naruto emang bilang gitu, nakal ya dia?:v iya soalnya kalo panas Naruto butuh air:( iya nggak papa kok, kalo bisa saya kabulin:), iya tunggu aja ya, nanti dia ke ungkap. Makasih do'anya:D

Nana: iya udah up:), sayangnya disini nggak ada adegan kamar:) entar saya pikirin:) entahlah kapan dia keluarnya;( iya ni udah up kebetulan ada ide lewat:) nggak akan di stop kok:)

Atago: iya ini udah banyak saya rasa:), dan iya saya update:).. Ini udah..

Guest: pendek? Semoga yang ini panjang:D, makasih:) ini udah..

Guest: makasih:) ini udah sis!

uzunami28: ini udah:) kau membuatku tertawa:v, dan kebetulan aku perempuan, maka aku...

alvkwan: iya nggak tahu kapan gitunya tuh:(, kasian Gaara'kan belum punya doiT_T, iya dia yang kau gemas-gemaskan belum muncul. Nggak tahuT_T, seram pake acara santet:v oke semangat!

nawaha: makasih:) apa benar sampai segitunya?:D semoga sabar ya.. Akun wp saya?

salsal hime: iya udah up:) Naruto emang gitu:v

mega hinata: hehehe masa sih?:v, do'ain aja semoga dia nggak ngeganggu hubungan mereka:) semoga ini termasuk up cepet:)

Cicito: panas dingin?:v masa iya bikin ngiler?:v makasih...

BorutoUzumaki10: makasih udah nunggu:) semoga ini termasuk nggak lama;)

mawarjingga: iya nggak papa:), wah sibuk apa?:) hehehe makasih:) oke semangat!

Nia Anis: masa sih?:v makasih:) semoga ini banyakan romancenya kita liat aja siapa dia yah:)

Guest: iya udah di lanjut... Lanjut... Lanjut... Jut... Jut:v

Sampai jumpa di chapter depan... 👋

Mind to RnR?

Arigatou minna-san.

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

05 Juli 2018