Gadis Air
Chapter 10
"Apa kau senang, Juvia?"
"Ya!Juvia...Juvia sangat senang!"
.
.
.
Gray turut tersenyum melihat gadis di belakangnya bahagia. Gray tahu, senyuman Juvia kali ini jauh berbeda dibandingkan dengan senyuman-senyuman tipis yang selama ini dia tampilkan. Kali ini, Juvia benar-benar tersenyum tulus dari hatinya.
Akhirnya, mereka berhasil keluar dari Hutan Berkabut. Sepertinya tidak lama lagi nama itu akan dicabut dari hutan di belakang Gray. Karena hutan itu tidak akan berkabut lagi.
"Ayo, kita langsung ke rumahku!" ajak Gray. Diikuti anggukan oleh Juvia.
.
.
Memasuki desa, suasana yang sepi menyambut Gray dan Juvia. Tidak ada seorang pun yang berada di luar. Mereka memaklumi hal ini. Selain karena sudah malam, tentu saja karena hujan yang dibawa Juvia. Meski masih ada rasa khawatir mengganggu penduduk desa, Juvia tetap mengikuti Gray. Dia yakin mereka sudah tahu kalau dirinya sedang berada di desa.
"Juvia?"
"Eh, ada apa, Gray-sama?"
"Emm...tidak ada apa-apa. Hanya saja...kau kelihatan cemas." Rupanya Gray bisa menangkap raut kekhawatiran dari wajah Juvia.
Juvia menggeleng, "Tidak, Juvia tidak apa-apa."
Sisa perjalanan dihabiskan dalam keheningan. Hanya suasana sepi yang menyelimuti mereka. Sementara itu, Gray merasa seseorang-tepatnya beberapa orang-mengawasi rumah-rumah penduduk yang mereka lewati. Dari jendela, Gray bisa melihat lampu rumah mereka masih menyala. Beberapa gorden yang menutup jendela tersibak. Dari jendela-jendela itu, Gray bisa melihat bayangan manusia, mengawasi mereka.
"Sudah kuduga. Mereka mengawasi kami."
Gray memutuskan untuk mempercepat langkahnya agar segera sampai di rumah, "Akan kuselesaikan masalah Juvia besok."
.
.
"Kita sudah sampai." Gray membuka pagar rumahnya dan menyuruh Juvia masuk lebih dulu. Setelah mengunci pagar, Gray menyusul Juvia yang sudah menunggu di teras.
Klek.
Gray membuka pintu yang terkunci, "Masuklah."
"Permisi." Juvia masuk dengan ragu. Sedangkan Gray tidak langsung masuk. Ia melihat rumah tetangga-tetangganya. Jendela-jendela depannya tertutup. Itu berarti tidak ada yang melihatnya.
"Gray-sama?" panggil Juvia, " Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa." Gray cepat-cepat masuk dan kembali mengunci pintu. Ia menyuruh Juvia mengikutinya ke ruang makan. Tas milik Juvia diletakkan di salah satu kursi.
"Duduklah, biar kubuatkan teh." Gray melangkah menuju dapur. Juvia hanya mengangguk dan menunggu di ruang makan.
Awalnya perhatian Juvia memang tertuju pada Gray yang sedang menyeduh teh, tapi kemudian, mata biru gelapnya menangkap sebuah pintu yang sedikit terbuka tak jauh dari ruang makan. Karena penasaran, tanpa sadar Juvia melangkah meninggalkan kursinya dan berjalan menuju pintu itu.
Sesampainya di sana, Juvia mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Di dalamnya gelap. Tapi Juvia masih bisa melihat beberapa peti kayu besar berisi barang-barang tak terpakai, "Oh...ternyata gudang." Juvia menyimpulkan.
Kakinya melangkah masuk, mendekati salah satu peti kayu. Dengan bantuan cahaya dari luar gudang, Juvia bisa melihat isi peti di depannya.
"Apa ini?" Juvia meraih sesuatu yang nampak seperti papan kayu kecil, "Foto?"
Benda itu adalah sebuah foto yang dibingkai. Foto itu menampilkan keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak perempuan. Dalam foto ibu, si ibu tampak merangkul sang anak.
"Juvia?"
Juvia langsung terlonjak kaget. Kepalanya menoleh ke belakang, ke arah sumber suara. Rupanya, Gray sudah berada di depan gudang, "Sedang apa kau disini?" tanya Gray sembari mendekati Juvia.
"Gray-sama, Juvia hanya..." Belum sempat Juvia menyelesaikan kalimatnya, Gray sudah menyela saat melihat foto yang dipegang Juvia, "Foto itu! Dimana kau mendapatkannya?!"
"Juvia menemukannya di peti kayu ini." Juvia menunjuk peti yang dimaksud.
Pandangan Gray berubah, tangannya mengelus foto keluarganya, "Sudah lama sekali. Kupikir foto ini sudah hilang..." desis Gray lirih. Juvia mengernyit, tidak mengerti.
"Mereka adalah keluargaku." Gray menjelaskan tanpa diminta, "Ini ibuku, Ul." Gray menunjuk seorang wanita berambut pendek dalam foto, "...dia sudah meninggal dua tahun yang lalu. Yang ini..." telunjuk Gray menyentuh sosok anak perempuan mungil, "...kakakku. Dalam foto ini umurnya masih lima tahun. Sekarang dia bekerja di kota lain."
"Mirip sekali dengan ibunya." komentar Juvia, dibalas anggukan dari Gray, "Saat foto ini diambil, aku belum lahir. Lalu..."Jari Gray beralih pada seorang pria disamping ibunya, "...yang ini, kau pasti sudah tahu. Silver Fullbuster, ayahku."
"Silver Fullbuster?!" Juvia terkejut, "Be-benarkah itu namanya?"
"Ya." sahut Gray pendek, tapi sesaat kemudian dia heran melihat reaksi Juvia, "Memangnya kenapa?"
"Di-dia...dia adalah penyihir es yang sangat hebat!" Suara Juvia meninggi saking terkejutnya, nyaris berteriak.
"Apa?" Gray terperangah, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, "Yang benar saja. Kenapa kau berkata begitu?"
"Namanya ada dalam buku sejarah sihir yang Juvia baca di perpustakaan kastil akhir-akhir ini," Juvia berusaha mengingat-ingat, "Sekitar 20 tahun yang lalu, atau mungkin lebih dari itu, Silver mengalahkan iblis bernama Deliora seorang diri."
"Deliora? Apakah dia sangat kuat?"
"Ya. Sudah banyak desa dan tempat lain yang dihancurkan Deliora. Katanya, semakin banyak menghancurkan, Deliora akan semakin kuat. Silver-san ingin menghentikan Deliora."
"Sihir macam apa yang digunakan ayahku untuk mengalahkannya?" tanya Gray, penasaran.
"Di buku tertulis, Silver-san menggunakan sihir yang disebut Iced Shell. Sesuai namanya, Iced Shell adalah salah satu mantra sihir es. Mantra ini sangat kuat. Silver-san memang berhasil menguasainya. Tapi..." Juvia menahan kalimatnya, membuat Gray semakin penasaran, "Tapi apa?"
"Sebenarnya, daripada 'mengalahkan', lebih tepat dikatakan 'menyegel'. Iced Shell memang sangat kuat, tetapi sihir itu menggunakan tubuh penggunanya sendiri, mengubahnya menjadi es. Karena itulah, Iced Shell yang menyegel Deliora tidak bisa mencair, ataupun dicairkan. Sampai sekarang."
"Itu artinya ayahku sudah mati, kan? Lalu, dimana Deliora sekarang?"
Juvia sedikit bingung menjawab pertanyaan Gray. Ia terdiam sesaat untuk menyusun kalimat, "Mungkin...tidak benar-benar mati. Pengguna mantra Iced Shell hidup sebagai es. Karena tidak disebutkan dalam buku, Juvia tidak mengetahui lokasi penyegelan Deliora."
Sekarang Gray tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Memang benar, selama ini Ul tidak pernah menceritakan apapun tentang Silver. Dia hanya mengatakan Silver meninggal saat melakukan pekerjaannya. Gray juga tidak pernah tahu apa pekerjaan ayahnya. Setiap kali Gray menanyakannya, Ul tidak pernah menjawab.
"Ternyata ayahku adalah penyihir, dan aku mewarisi kekuatannya." Tangan Gray terkepal erat, mencoba mengumpulkan sihir di telapak tangannya. Tapi tidak bisa.
"Juvia sudah menyadarinya sejak kita bertarung. Gray-sama memang memiliki bakat dan kekuatan sihir yang luar biasa."
"Ibu bilang dia sudah meninggal ketika aku masih kecil. Jadi aku tak sempat melihat wajahnya secara langsung. Hanya dari foto ini saja, aku bisa mengetahui wajahnya," Gray berbalik, lalu melangkah pelan sembari memandang foto yang dipegangnya, "Sepertinya, ibu ingin aku dan Ultear-nee memiliki kehidupan normal seperti orang pada umumnya. Entahlah, aku merasa ibu tidak ingin kami terlibat dalam dunia sihir seperti ayah."
Gray sudah keluar dari gudang dan melihat Juvia masih diam di gudang. Dia nampak sedang memikirkan sesuatu, melamun tepatnya.
"Hei, mau sampai kapan kau tetap di situ? Tehnya sudah hampir siap!"
"Eh? I-iya!" Juvia langsung sadar dan bergegas menyusul Gray.
.
.
.
Pagi ini bukanlah pagi yang cerah dimana matahari memancarkan sinar hangat seperti biasa. Hujan terus-menerus turun sejak semalam. Penyebabnya sudah jelas. Siapa lagi kalau bukan Juvia. Kedengarannya memang aneh, hujan selalu mengikutinya. Hari ini Gray kembali bersiap-siap untuk bekerja. Dia meletakkan surat kabar yang sudah selesai dibaca di meja makan. Jarum jam di dinding sudah menunjuk angka delapan. Tapi Juvia masih terlelap di kamarnya-yang sebelumnya adalah kamar Ultear. Padahal Gray sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Aku berangkat!"
.
.
.
Jalanan desa masih sangat sepi. Satu-satunya manusia yang terlihat berjalan menembus hujan adalah Gray. Dalam hati, Gray ingin tahu mengapa para penduduk desa tak beraktivitas seperti yang biasa mereka lakukan setiap pagi. Dia tahu penduduk desa tetap giat bekerja meski sedang hujan. Hanya sekarang ini saja yang berbeda.
Sepanjang perjalanan, hanya dua atau tiga orang saja yang ditemui Gray. Mereka tampak terkejut dan buru-buru pergi saat melihat Gray. Hal itu membuatnya semakin heran. Kebingungan Gray bertambah ketika sekelompok orang menghadangnya di depan kantor kepala desa. Tatapan mereka menunjukkan kemarahan begitu melihat Gray.
"Ada apa dengan kali-"
"Apa kau sudah gila, Gray?!" bentak salah seorang dari mereka.
Gray terlonjak kaget. Sesaat kemudian, dia mengerti, pasti ada hubungannya dengan Juvia.
"Berani-beraninya kau membawa gadis air itu kemari!" teriak yang lain.
"Gray, kau tahu, kan gadis air itu berbahaya. Tapi kenapa kau mengajaknya ke Rosemary?" tanya seorang wanita.
"Kalau begini, aku tidak bisa membiarkan Romeo keluar rumah." Macao mengeluh.
"Tunggu, kalian salah. Dia tidak seperti yang kalian pikirkan," bantah Gray, berusaha tetap tenang, "Juvia hanya menginginkan teman, dia-"
"Sekarang kau sudah menjadi temannya!"
"Kalau makhluk itu menginginkan teman, sebaiknya dia pergi ke tempat lain!"
"Suruh dia pergi dari desa! Kembali saja ke Hutan Berkabut!"
"Kalau kau tidak mengusirnya, aku akan-"
"Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak seperti itu?" Suara seseorang langsung membuat kerumunan orang itu menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. Mereka menyingkir untuk memberi jalan begitu mengetahuinya. Seorang pria tua bertubuh pendek mendekati Gray.
"Pak Makarov, aku..."
Makarov menatap Gray. Dalam waktu singkat, ia mengerti apa yang terjadi, "Ya, Gray. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Tapi aku perlu mendengarnya langsung darimu."
Dari sini, Gray mulai menceritakan semuanya. Mulai dari masa lalu dan alasan perbuatan Juvia, percakapannya setelah pertarungan mereka, lalu saat Gray mengunjungi dan mengajak Juvia tinggal di Rosemary. Selama bercerita, Gray mengabaikan komentar-komentar yang dilontarkan penduduk desa.
"Dia kesepian. Seperti yang kukatakan tadi, Juvia menginginkan teman. Kupikir dengan mengajaknya tinggal bersama, dia menjadi lebih terbuka dan kalian tidak salah paham lagi." Gray mengakhiri ceritanya. Penduduk desa terdiam, begitu juga dengan Makarov. Pria tua itu menimbang-nimbang apakah Juvia akan membahayakan mereka atau tidak. Semua menunggu keputusan Makarov.
"Sejujurnya, aku setuju denganmu, Gray," kata Makarov, akhirnya.
Gray menjadi sedikit lega.
"Menurutku gadis air itu hanya melampiaskan perasaannya. Aku terkesan kau bersedia menyadarkan dan menjadi temannya."
Mulai terdengar protes dari penduduk yang lain, "Jadi Anda bermaksud membiarkan gadis air tinggal di Rosemary?!"
"Tinggal bersama kita?!"
"Berhati-hatilah, Gray! Gadis air itu bisa saja menipumu! Mungkin sekarang dia pura-pura baik dan menyesal. Tapi sebenarnya dia mencari kesempatan untuk membunuhmu!"
"Benar! Dia pasti dendam padamu karena kau telah mengalahkannya!"
"Kalian semua, diam!" teriak Makarov.
Penduduk desa langsung terdiam, tidak ada yang berani bicara. Makarov kembali beralih pada Gray, "Bagaimanapun juga, gadis air itu pernah menjadi bagian dari desa kita. Namun, ia memilih menyendiri karena kita tak bisa menerima keberadaannya. Kurasa hal itu cukup bisa dimaklumi."
Gray menjadi lega, itu artinya ada kemungkinan Juvia diterima kembali. Makarov mendongak, pandangannya tertuju ke langit, "Kalau kesepiannya diibaratkan hujan, maka seseorang harus menjadi matahari untuk menyingkirkannya."
"Maksud Anda..." Gray tak melanjutkan kata-katanya, ia mengerti maksud dari ucapan Makarov.
"Ya, aku memutuskan menerima gadis air, maksudku Juvia, kalau kau bisa menyingkirkan hujan yang mengikutinya. Hujan ini bisa dianggap sebagai simbol kesepian dan kesuramannya. Karena itu kau harus melenyapkannya."
"Pak Makarov, tolong suruh Gray membuktikan kalau gadis air tidak berbahaya dan bisa berguna!" usul Macao, disusul gumaman dan anggukan tanda setuju penduduk lainnya. Makarov sendiri juga merasa kalau itu cukup adil.
"Itu ide yang bagus. Bagaimana, Gray? Apa kau sanggup memenuhi persyaratan itu?"
Gray terdiam sesaat, kemudian dia tersenyum yakin, "Baiklah, aku akan melakukannya!"
.
.
.
"Sebenarnya kita mau kemana, Gray-sama?" Ini sudah ketiga kalinya Juvia mengajukan pertanyaan yang sama. Dan Gray juga menjawab dengan kalimat yang sama, "Nanti kau juga akan tahu."
Juvia mengernyit bingung. Tadi pagi Gray tiba-tiba pulang dan menyuruhnya segera berkemas. Meskipun tidak mengerti, Juvia tetap menuruti perintah Gray, berharap Gray akan memberi penjelasan nanti. Namun sampai sekarang, setelah berjam-jam lamanya duduk di dalam kereta kuda yang membawa mereka entah kemana, Gray tidak mengatakan apapun. Gray memegang sebuah surat kabar yang terbit kemarin, pandangan matanya fokus membaca berita yang dimuat.
Juvia menghela nafas pasrah, kepalanya disandarkan pada jendela kereta di sampingnya. Kepala Juvia penuh dengan berbagai dugaan. Dan semuanya bukan hal yang bagus. Apakah Gray berniat mengusirnya? Membuangnya di tempat yang jauh dari Rosemary? Mengajaknya ke suatu tempat asing lalu meninggalkannya sendirian disana?
Juvia menggeleng cepat, menepis semua dugaannya. Kalau benar begitu, kenapa Gray harus ikut bersamanya? Juvia sudah tahu kalau kehadirannya tidak bisa langsung diterima. Mungkinkah Gray mengajaknya tinggal di tempat lain?
Padahal Juvia sudah sangat senang ketika Gray mengajaknya kembali ke Rosemary, tapi sekarang Gray malah menjauhkannya dari desa itu? Apa maksudnya? Juvia terus bertanya-tanya.
"Juvia!"
Sayup-sayup terdengar suara Gray memanggil.
"Juvia!"
Juvia tersentak, kedua matanya terbuka. Rupanya dia tertidur. Juvia langsung menegakkan punggung, posisi duduk sempurna. Dia tidak melihat Gray, tidak di dalam kereta. Juvia turun, Gray telah berada di luar. Di tengah hujan, ia sedang menurunkan barang-barang milik mereka.
"Kita sudah sampai, Gray-sama?"
Gray tetap sibuk menurunkan barang-barang tanpa melirik Juvia, tidak peduli tubuhnya basah kuyup akibat guyuran hujan, "Belum, ini bukan tempat tujuan kita."
Juvia menaikkan alis, "Kalau begitu kenapa kita turun disini?" Iris biru gelap Juvia mengawasi kereta kuda yang kembali melaju meninggalkan mereka. Gray membawa tasnya, "Setelah ini kita masih harus berjalan."
Bukannya kejelasan, Juvia malah dibuat bertambah bingung mendengar jawaban Gray. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Cepat-cepat Juvia mengambil payungnya guna melindungi diri agar tidak kehujanan. Begitu juga dengan Gray. Setelah membuka payung, ia mulai berjalan diikuti Juvia.
"Kita...mau kemana?"
Lagi-lagi tak ada jawaban, Gray terus melangkah seakan tidak mendengar pertanyaan Juvia.
Hari sudah mulai malam, mereka sudah jauh meninggalkan Rosemary. Juvia tertegun melihat lingkungan di sekitarnya. Dilihat dari kondisi tanah yang pecah-pecah, Juvia tahu daerah ini tidak diguyur hujan dalam waktu lama. Apalagi ditambah pohon-pohon tak berdaun sehelai pun, rumput-rumput berwarna kecokelatan karena sudah mengering, semakin membuat Juvia yakin akan penilaiannya, "Pasti sebelumnya disini sangat gersang."
Sampailah mereka di sebuah desa kecil, lebih kecil dari Rosemary. Juvia melihat penduduk desa itu-desa Tenrou-tampak sangat senang. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka membiarkan tubuh mereka basah disiram hujan.
"Gray-sama, ini..."
"Ya, kau mengerti, kan? Aku tahu kau bisa menolong mereka."
Juvia mengangguk. Tanpa disadari, wajahnya turut berseri-seri menyaksikan orang-orang disekitarnya gembira. Untuk pertama kalinya, Juvia merasa berguna. Ia bisa menolong orang lain. Sebuah kebahagiaan menyelinap masuk ke hatinya.
.
.
"Namamu Juvia? Nama yang bagus." puji Belno, wanita pemilik penginapan. Karena hari sudah malam, tentu saja Gray menyewa kamar di penginapan desa Tenrou.
"Te-terima kasih." balas Juvia gugup. Untuk pertama kalinya juga, ada seseorang yang memujinya. Kalau diingat-ingat, selama ini Gray belum pernah memujinya, kan?
"Kami beruntung. Sebelum kalian datang, hujan tidak pernah turun di desa kami selama lebih dari setahun." Belno membuka pembicaraan. Dua cangkir berisi teh sudah dihidangkan untuk Gray dan Juvia.
"Oh, ya?" sahut Juvia. "Kami mengetahui keadaan desa ini dari surat kabar." jelas Gray. Ah, Juvia ingat sekarang. Dalam perjalanan, Gray sempat membaca sebuah surat kabar, "Gray-sama sengaja mengajak Juvia ke sini."
"Begitukah? Aku senang sekali, akhirnya hujan kembali turun."
"Ini semua berkat dirinya, Nyonya." Gray menepuk bahu Juvia, "Dialah yang membawa hujan kemari."
"Oh? Aku pernah dengar, di Rosemary ada rumor tentang seorang gadis yang selalu diikuti hujan. Jangan-jangan kaulah gadis itu?" Belno menyelidik.
"Benar." Justru Gray yang menjawab.
"Kudengar banyak yang takut dengannya. Tapi aku tidak percaya kau menakutkan seperti yang dikatakan orang-orang. Mereka pasti salah menilaimu."
"Menurut Anda begitu?" Gray seakan meminta pendapat.
"Aku yakin sebenarnya kau gadis yang baik."
Satu kalimat itu sudah cukup menyadarkan Juvia. Selama ini belum pernah ada yang menganggapnya 'baik'.
"Nah, selamat beristirahat. Aku masih ada urusan di dapur." Belno beranjak dari kursi dan melangkah ke dapur.
"Kau lihat?" Gray menunjukkan senyum kemenangan, "Kau bisa berguna, hujan tidak selalu membawa kesuraman. Disini kau dibutuhkan, kau membawa kebahagiaan."
Juvia tidak mampu berkata-kata lagi, dia telah dikuasai perasaan senang yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Air matanya mulai menggenang, Juvia berusaha agar cairan bening itu tidak jatuh menuruni pipinya. Sayangnya, tidak berhasil. Saat itu, Juvia benar-benar menyesal akan perbuatannya yang tidak berguna selama ini. Selain semakin dijauhi penduduk desa, ia hanya akan membuat dirinya semakin kesepian.
"Kenapa...aku baru menyadarinya...sekarang?" Air mata Juvia semakin deras mengalir, "Kenapa aku malah terbawa emosi? Seharusnya aku berusaha jadi berguna sejak dulu."
Rencana Gray berhasil. Tapi dia masih belum puas. Karena itulah, Gray akan membuat rencananya lebih berhasil, "Hey, Juvia..."
Juvia berusaha menahan tangisnya, sekaligus menyeka air mata sebelum menyahut, "Y-ya, ada apa, Gray-sama?"
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?"
.
.
.
Meskipun masih pagi, jalanan desa Tenrou sudah ramai dipadati oleh para penduduk. Tidak hanya orang dewasa saja, anak-anak juga ada. Karena sudah lama tidak turun hujan, para orang tua membiarkan anak-anak mereka bermain di bawah hujan.
Pemandangan yang Juvia lihat hari ini tak berbeda dibandingkan dengan kemarin. Orang-orang masih tampak gembira. Tak seorangpun yang terlihat murung atau bersedih. Saat ini, Juvia berdiri di tengah-tengah mereka, menyaksikan semua itu. Sebuah pemandangan baru baginya.
Beberapa di antara penduduk desa bahkan menyapa Juvia dengan ramah. Walaupun canggung, Juvia mencoba membalas sapaan mereka.
Gray membiarkan Juvia mengamati semuanya, menikmati pengalaman barunya. Setelah dirasa cukup, Gray mengajak Juvia pergi ke tempat lain. Mereka mengunjungi berbagai tempat, mulai dari pasar, pertokoan, dan permukiman penduduk. Setiap tempat memberi kenangan berharga bagi Juvia.
Ini pertama kalinya Juvia berada di tengah banyak orang tanpa harus ada yang memandang sinis dan menjauhinya. Setelah puas berjalan-jalan di desa, Gray tidak langsung mengajak Juvia kembali ke penginapan.
"Pasti masih banyak tempat lain yang belum kita kunjungi." begitu alasan Gray. Seperti biasa, Juvia tidak menolak dan mengikuti Gray.
Gray berjalan sampai ke luar desa. Mereka berjalan ke arah selatan.
"Kenapa kita keluar desa?" tanya Juvia.
"Menurut Belno-san, disana ada sebuah sungai. Aku yakin kau bisa melakukan sesuatu."
Benar saja, tak sampai lima belas menit berjalan, mereka mendapati sebuah sungai. Sungai itu tidak dalam, arusnya juga tidak deras, "Sepertinya sungai ini hampir kering." pikir Juvia. Ia bahkan bisa melihat dasar sungai. Ia juga memperhatikan tanah di sekitar sungai itu. Banyak tanaman yang terlihat kering dan hampir mati.
"Kau mengerti, kan?"
"Ya."
Selama beberapa menit, Juvia duduk di dekat sungai. Sedangkan Gray berdiri tak jauh darinya. Gadis berambut biru itu tak henti-hentinya menatap langit kelabu di atas. Iris biru gelapnya tak lagi memancarkan kesepian sedikitpun.
Hari ini, Juvia merasa sangat bangga akan hujan yang selalu menyertainya. Setelah beberapa saat disana, setelah rumput-rumput kembali tegak, setelah daun-daun kembali hijau dan arus sungai menjadi deras, Gray memutuskan untuk pulang, "Ayo, kita sudah cukup berada disini." Gray berbalik, menuju desa.
"Apakah kita langsung kembali ke Rosemary?" tanya Juvia sambil menyusul Gray.
"Tentu saja tidak, kita akan kembali ke desa Tenrou. Aku tahu kau pasti masih ingin memberi bantuan."
.
.
.
Tiga hari di desa Tenrou benar-benar merupakan pengalaman tak terlupakan bagi Juvia. Begitu juga dengan Gray, meskipun sampai saat ini dia masih belum mampu melenyapkan hujan yang menyertai Juvia.
"Mungkin...tidak perlu dihilangkan," pikir Gray, "setidaknya aku sudah membuktikan kalau hujan tidak selalu suram."
Saat ini, Gray dan Juvia sedang menunggu kereta kuda yang akan mengantar mereka kembali ke Rosemary.
"Belno-san benar-benar orang yang baik, ya, Gray-sama." Tiba-tiba Juvia membuka pembicaraan.
"Eh? Ya, tentu saja. Tapi itu semua berkat dirimu." Gray teringat kembali saat mereka akan meninggalkan desa Tenrou. Belno membebaskan biaya menginap Gray dan Juvia sebagai ungkapan terima kasih. Belno juga menyampaikan ucapan-ucapan terima kasih dari para penduduk. Bahkan banyak diantara mereka yang memberi Juvia berbagai macam barang sebagai hadiah.
Tes. Tes. Tes.
Butir-butir air menyentuh tangan Gray. Untuk kesekian kalinya Gray yakin hujan sudah tidak sederas pertama kali ia bertemu Juvia. Walaupun begitu, Gray tetap tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Gray-sama, keretanya sudah datang." Juvia menunjuk kereta kuda yang datang menghampiri mereka.
Begitu kereta berhenti, Gray menyadari kalau hari sudah malam, "Sepertinya kita akan tiba di Rosemary besok siang."
Kusir kereta mendengar ucapan Gray dan bertanya, "Apakah Anda ingin segera sampai di Rosemary?"
"Tidak, hanya saja..." Gray melirik Juvia yang baru saja memasuki kereta. Kelihatannya Juvia ingin segera pulang, "Mungkin dia kelelahan." batin Gray, dia jadi merasa kasihan pada Juvia.
"Sebenarnya aku tahu jalan pintas menuju Rosemary. Lewat hutan itu," Kusir kereta menunjuk hutan yang dimaksud, "Anda bisa sampai di sana besok pagi."
"Benarkah?"
"Ya, tapi sebaiknya kita tidak melewatinya. Berbahaya, Tuan. Apalagi sekarang sudah malam."
"Memangnya kenapa?"
"Katanya di hutan itu sering terjadi perampokan. Kudengar ada sekelompok perampok yang tinggal di hutan itu. Aku tidak yakin hutan itu aman dilewati sekarang."
"Tidak masalah," tukas Gray percaya diri, "akan kukalahkan kawanan perampok itu."
"Anda yakin?" Kusir kereta terlihat khawatir.
"Tenang saja, kupikir aku bisa mengatasi mereka."
.
.
Malam itu, kereta yang ditumpangi Gray benar-benar akan melewati hutan jalan pintas menuju Rosemary. Di dalam kereta, Gray dan Juvia duduk berhadapan tanpa membicarakan apapun. Malam semakin larut, akhirnya Juvia sudah tidak sanggup menahan rasa kantuknya dan jatuh tertidur. Sementara Gray masih tetap terjaga. Ketika kereta mulai memasuki hutan, Gray semakin waspada. Tangannya sudah siap mengeluarkan tongkat sihirnya kapan saja.
Belum sampai di pertengahan hutan, sekelompok orang tak dikenal muncul entah dari mana dan memaksa kereta untuk berhenti.
"Berhenti!" salah satu dari mereka menghadang. Sang kusir terpaksa menghentikan keretanya.
"A-apa mau kalian?" kusir kereta bertanya walaupun sudah tahu jawabannya.
"Sudah jelas, kan? Kami menginginkan barang berharga yang ada di keretamu!"
"Oy, oy," Gray langsung turun dari kereta, berniat menghadapi para perampok di depannya, "bagaimana kalau kami tidak mau menyerahkannya?"
"Kalau begitu, kami akan memaksa kalian!" Semua perampok mengeluarkan senjatanya masing-masing, bersiap menghadapi Gray.
"Kau...pergilah dan bersembunyi di suatu tempat!" perintah Gray pada kusir kereta, "kau baru boleh kembali kalau aku sudah membereskan mereka."
"E-eh?! Tuan akan menghadapi mereka sendirian?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya atau kau akan terbunuh di sini."
Walaupun ragu, sang kusir akhirnya berlari menjauhi kereta dan bersembunyi di antara pepohonan.
"Berani sekali kau menantang kami." geram seorang perampok berkulit gelap.
"Nah, karena sudah tidak ada yang menghalangi, aku tidak perlu menahan diri lagi." Gray mengeluarkan tongkat sihirnya dan melempar serangan es pada beberapa perampok.
"Apa?! Dia membeku!" Perampok berkulit gelap tadi terkejut melihat temannya berselimut es.
"Jangan-jangan dia juga seorang penyihir?"
"Apa maksudnya 'juga'?" Gray kembali melancarkan serangan, "Ice Arrow!"
"UWAAAAAAAAAA!"
"Aaaaarghhh...!"
"Ini gawat, cepat panggil Bora-san!"
Gray melihat salah seorang dari mereka berbalik masuk ke hutan. Sementara yang lain masih terus berusaha menyerang Gray. Dua orang perampok di belakang Gray mencoba menikamnya dengan pedang. Tapi sebelum mereka sempat melukainya, kedua perampok itu langsung jatuh terkapar dengan punggung bersimbah darah.
"Juvia!"
"Gray-sama!" Sosok Juvia sudah berdiri di dekat pintu kereta. Sepertinya dia terbangun karena mendengar keributan dari luar. Juvia bergegas mendekati Gray, ikut bertarung bersamanya, "Ayo, kita habisi mereka, Gray-sama! Water Lock!"
"Bagus, Juvia! Ice Geyser!"
"Water Cane!"
Serangan demi serangan dilancarkan, semakin lama semakin banyak perampok yang dikalahkan oleh mereka berdua. Banyak diantara para perampok itu yang terluka dan tidak mampu menyerang lagi. Ada beberapa perampok yang memilih melarikan diri.
"Wah, wah, sepertinya kita mendapat mangsa yang kuat." Seseorang muncul mendekati Gray dan Juvia bersama beberapa orang yang terluka. Orang itu mengenakan jubah berwarna ungu, Gray yakin dia adalah pemimpin kawanan perampok.
"Siapa kau? Kau pasti pemimpin mereka, kan?" tanya Gray, menghentikan serangan.
Orang itu justru balik bertanya, "Kau tidak mengenalku?"
"Bagaimana mungkin aku mengenal orang yang belum pernah kutemui?"
"Baiklah, izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Bora, dan seperti yang kau katakan, aku adalah pemimpin mereka."
"Bora? Juvia tidak pernah dengar nama itu." sahut Juvia.
"Oh iya, sepertinya aku pernah mendengar namamu. Kalau tidak salah, kau adalah pemimpin perampok nomor satu dari Bosco. Tapi tidak kusangka, ternyata kau seorang penyihir."
"Kau sudah tahu," Bora tersenyum angkuh, "Kau juga penyihir, kan? Aku melihatmu menggunakan sihir tadi."
Masih dengan gayanya yang sombong, Bora maju mendekati Gray. Sementara Gray mengacungkan tongkatnya ke depan, "Kau ingin menantangku duel?"
"Rupanya kau mengerti maksudku," Bora mengeluarkan tongkat miliknya. Tongkat itu berwarna putih dengan motif lidah api berwarna ungu, "karena kau sudah menunjukkan sihirmu, maka izinkan aku memperlihatkan sihirku..." Tongkat Bora sudah terarah pada Gray, "...Prominence Typhoon!"
Api ungu muncul dari ujung tongkat, bergerak dalam bentuk spiral dan langsung menuju ke arah Gray.
"Api? Woah!" Untungnya, Gray mampu menghindari mantra Bora.
"Gray-sama!" pekik Juvia.
"Tetap disana, aku akan menghadapinya sendiri!" perintah Gray.
"Kau ini memang sombong," Bora menyiapkan mantra berikutnya, "Red Shower!" Api ungu kembali muncul. Kali ini dalam bentuk lingkaran dan berjumlah banyak.
"Ice Shield!" Merasa tak sanggup menghindar, Gray menciptakan perisai es di depannya, mantra api Bora membentur perisai es Gray.
Anak buah Bora yang menonton pertarungan hanya bisa terperangah, "Hebat, dia bisa menghentikan sihir Bora-san."
"Bodoh! Ini bukan saatnya mengagumi kekuatan musuh!"
"Benar, kita harus mendukung pemimpin kita!"
"Bora-san, hajar pengacau itu!"
Anak buah Bora mulai berteriak memberi semangat pada Bora. Bora tersenyum senang melihat dukungan dari bawahannya, "Hmph, mereka mulai berisik. Tapi itu wajar," Bora malah berbalik menghadap anak buah yang sedang menyemangatinya.
"Kalian semua tenang saja, aku akan sege-WAAAA!" Sebelum Bora sempat menyelesaikan kalimatnya, Gray sudah menyerang lagi. Dengan tangan kanan Bora yang memegang tongkat sebagai sasarannya. Akibatnya, pergelangan tangan Bora membeku.
"Kau! Apa kau tidak tahu sopan santun, hah! Setidaknya biarkan aku menyelesaikan ucapanku!" teriak Bora, marah.
"Bukankah kau sendiri yang lengah?" balas Gray, santai, "Ingat, kita sedang dalam pertarungan. Tak ada alasan bagiku menunggumu. Aku akan mengambil setiap kesempatan yang ada."
"Kau...eh?" Bora baru menyadari kalau tongkatnya sudah tidak ada, "Tongkatku! Dimana tongkatku?"
Dengan panik, Bora mencari tongkatnya.
"Ini yang kutunggu-tunggu!" batin Gray, senang, "Serangan terakhir...Ice spikes!"
Sama seperti saat melawan Juvia, beberapa es berbentuk duri yang panjang dan tipis terbentuk di sekitar Gray dan melesat cepat ke arah Bora. Kali ini dengan jumlah dua kali lipat.
Gray mengira Bora lengah saat mencari tongkatnya dan mantra esnya dapat mengenai pemimpin kawanan perampok itu. Sayangnya, perkiraan itu meleset. Bora tetap waspada, ia bahkan berhasil menangkis sihir Gray tanpa tongkatnya.
Gray menyadari, di tangan Bora, ada sesuatu yang melindunginya. Sesuatu itu kecil dan berkilauan, menunjukkan reaksi sihir.
"Itu...cincin sihir?"
"Kau tahu juga," Bora mengangkat tangannya lebih tinggi, seolah bermaksud memamerkan benda yang terpasang di jari tengahnya, "Benar, ini disebut Cincin Penangkal. Menolak setiap serangan berbasis sihir."
Melihat Gray tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Bora tersenyum bangga. Dia mengira Gray merasa terkejut, "Yah, meski tidak semua sihir bisa ditolak. Kau tahu, semua hal itu ada batasannya."
"Menarik." Gray mengalirkan seluruh kekuatan sihirnya pada tongkat, dia merasa lebih mudah melakukannya setelah mengetahui kebenaran tentang ayahnya. Aura kebiruan muncul di sekitar Gray. Menandakan ia sedang berkonsentrasi penuh untuk memusatkan kekuatannya.
Gray benar-benar ingin segera mengakhiri pertarungan ini. Tentu saja dengan kemenangan berada di pihaknya. Sembari tersenyum penuh percaya diri, Gray berkata, "Kalau begitu, apakah cincin itu bisa menahan yang satu ini?" Dengan sekali ayunan tangan yang lebih cepat, cahaya biru bercampur putih muncul di ujung tongkat, "ICE GEYSER!"
Bora mundur beberapa langkah, ia mengarahkan tangannya ke depan. Selama beberapa detik, sihir es Gray bertabrakan dengan sihir pelindung yang berasal dari cincin. Sihir itu menyelimuti sekujur tubuh Bora dan menjadi perisai baginya.
Tak lama kemudian, serangan es Gray memantul.
Gray sempat merasa kesal, tapi kekesalan itu berubah menjadi keterkejutan. Serangannya malah terpantul ke arah Juvia!
"Menyingkir, Juvia!" seru Gray, memperingatkan. Juvia terlalu fokus pada Gray sehingga tidak memperhatikan keadaan disekitarnya. Untuk sesaat, Juvia berpikir tidak masalah kalau tidak menghindari serangan Gray. Tubuhnya terbuat dari air, kan? Juvia tidak akan bisa terluka. Namun, dugaannya salah.
Entah mengapa, saat berada di dalam tubuh Juvia, serangan itu seolah tertahan di sana dan tidak bisa menembus tubuhnya.
"Eh?" Juvia terkejut melihat tubuhnya malah bersatu dengan sihir Gray, "A-apa yang terjadi?!"
Sihir es berubah padat, lalu terpecah-pecah dan menyebar seperti virus. Juvia sendiri tidak berkutik dan tidak menunjukkan reaksi apapun. Perlahan-lahan, Juvia kehilangan kesadarannya.
"JUVIAAAA!"
Tanpa pikir panjang, Gray langsung berlari menghampiri Juvia, tidak peduli lagi dengan pertarungannya. Ia berhasil menangkap tubuh Juvia sebelum menyentuh tanah.
"Bertahanlah, Juvia!" Gray mengguncang tubuh Juvia, mencoba membangunkannya. Percuma saja, mata Juvia tetap tertutup. Suhu tubuhnya juga menjadi dingin seperti es.
"Sial!"
Bora hanya bisa terdiam dan menatap mereka.
"Bora-san, ini kesempatan bagus! Cepat habisi mereka!"
"Benar, lalu kita rampas muatan mereka."
Beberapa orang perampok sudah siap merampas barang-barang yang berada di kereta.
"Tunggu!"
"Ada apa...Bora-san?"
"Kita pergi."
"Apa?!" Para perampok kaget, begitu juga dengan Gray, "Kenapa, Bora-san?"
"Padahal sudah sampai sejauh ini."
"Setelah Anda bersusah payah melawan penyihir es itu, kenapa Anda malah...?"
Bora mengabaikan protes dari anak buahnya, memungut tongkat, lalu menjauh begitu saja.
"Bora-san!"
Sambil tetap berjalan, Bora berujar, "Tidak ada gunanya melawan musuh yang sudah tidak bisa bertarung."
Gray melirik Bora dengan tatapan tajam, tidak terima dengan perkataannya barusan.
"Kami adalah perampok nomor satu dari Bosco. Orang-orang menyebut kami begitu karena kami selalu melukai mangsa kami. Tapi kau yang sekarang, tidak pantas untuk dihabisi. Itu hanya akan merusak reputasi kami."
"Apa kau bilang?!"
"Hei, apa kau tidak peduli dengan kondisi gadis itu? Sebaiknya kau segera merawatnya. Ayo, kita pergi."
Anak buah Bora terpaksa menuruti perintah pemimpin mereka. Gray kesal, dia merasa diremehkan. Tapi apa boleh buat. Bora benar, kondisi Juvia lebih penting. Gray memindahkan tubuh Juvia masuk ke kereta. Untunglah, kusir kereta segera datang. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Gray menyandarkan kepala Juvia ke bahunya, karena tidak ada cukup ruang untuk membaringkan tubuh Juvia. Gray juga menyelimutinya dengan selimut yang Gray temukan di tas Juvia.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan itu berulang kali muncul di kepala Gray. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, hanya bisa berharap Juvia baik-baik saja. Penyihir es itu terjaga hingga dini hari.
Menjelang pagi, Gray jatuh tertidur.
.
.
Gray tersentak bangun. Kedua matanya terasa berat untuk dibuka. Itu wajar, karena waktu tidurnya memang singkat. Tanpa sengaja, Gray melirik keluar jendela. Ia ingin tahu apakah mereka sudah sampai di Rosemary atau belum.
Di luar, sekumpulan anak-anak berwajah ceria berlarian di antara tanaman-tanaman bunga. Mereka mengejar seekor kupu-kupu yang terbang dari satu bunga ke bunga lainnya. Sungguh pemandangan yang biasa, begitulah pemikiran pertama Gray. Dia baru akan kembali ke alam mimpi, tapi Gray menyadari ada sesuatu yang salah sehingga memaksakan diri bangun.
Tunggu dulu...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa-apaan pemandangan yang dilihatnya tadi?!
Gray langsung bangkit dan kembali menengok keluar. Benar, matanya tidak salah. Cuaca di luar sana benar-benar CERAH DAN HANGAT. Angin berhembus pelan. Sinar matahari cerah mewarnai langit pagi. Gray tidak sedang bermimpi, berhalusinasi, atau apapun itu. Masih tidak percaya, Gray menjulurkan tangan keluar jendela. Merasakan hangatnya sinar matahari. Gray melirik kursi kereta di sebelahnya. Seorang gadis berkulit pucat masih tertidur disana. Juvia masih ada bersamanya. Lalu ...?!
"Apa aku bermimpi?"
"Anda sudah bangun, Tuan?" sapa kusir kereta yang menyadari kehadiran Gray.
"Dimana kita?"
"Kita hampir sampai di Rosemary."
Laju kereta kuda mulai melambat. Gray memeriksa kondisi Juvia. Suhu tubuhnya tetap dingin. Sama sekali tidak menghangat.
"Tidak ada yang berubah, sepertinya dia masih belum membaik."
Sekarang mereka sedang berada di padang bunga matahari, tempat yang dulu pernah dikunjungi Gray bersama Lyon. Membawa kembali ingatannya ke masa lalu. Gray ingat, saat di padang bunga ini, itulah pertama kalinya ia bertemu dengan Porlyusica, orang yang memperingatkannya tentang gadis air.
"Oh, iya, kalau tidak salah..." Gray menengok ke luar jendela. Benar saja, di antara tanaman bunga matahari, ada sebuah rumah kecil berdiri di tengah-tengahnya.
Gray tahu siapa pemilik rumah itu, "Maaf, tolong berhenti di depan rumah itu."
.
.
.
"Maaf merepotkan Anda, Porlyusica-san."
"Untuk saat ini, tidak masalah," tukas Porlyusica sembari menutup botol berisi ramuan, "kondisi gadis ini benar-benar tidak biasa. Setidaknya ramuan yang kuberikan bisa membuatnya tetap hangat."
Gray berdiri di dekat ranjang tempat Juvia dibaringkan, mengamati gadis berambut biru itu sambil berharap Porlyusica bisa menyembuhkannya.
"Tapi...tidak kusangka, Anda bisa membuat ramuan sihir. Seharusnya ramuan itu hanya bisa dibuat oleh penyihir."
"Aku pernah belajar sihir dulu. Meski hanya sebentar. Sudah lama sekali, sampai aku memutuskan untuk berhenti menjadi penyihir. Meski begitu, aku tidak berhenti mempelajari sihir penyembuhan."
"Lalu, apakah Anda mengetahui sesuatu? Apa yang terjadi dengan Juvia? Maksudku, seharusnya dia..."
"...tidak terluka? Memang, mendengar ceritamu seharusnya dia baik-baik saja." Porlyusica memberi isyarat pada Gray untuk mendekat, "Kemarilah, aku ingin menunjukkan sesuatu."
Gray mendekati meja yang digunakan Porlyusica. Wanita tua itu tampak menyiapkan sesuatu. Di meja, sudah disiapkan beberapa peralatan. Ada wadah kecil berisi air dengan serpihan-serpihan es kecil.
"Apa itu?"
"Ini adalah es yang kuambil dari tubuh Juvia. Yang berarti, ini adalah sihirmu. Aku mengambil beberapa untuk bahan percobaanku."
"Dari tubuh Juvia? Itu artinya Juvia benar-benar membeku?!" Rasa bersalah Gray bertambah. Tapi ia sadar tidak ada gunanya menyesal. Bukankah lebih baik kalau dia mencari cara untuk menolong Juvia? Gray mulai memperhatikan serpihan es kecil dalam wadah yang dibawa Porlyusica dengan seksama selama beberapa menit, "Sepertinya...tidak meleleh?"
"Benar sekali. Perhatikan ini," Sang tabib desa mengambil wadah lain berisi air dan memasukkan es yang sama. Gray menunggu sesuatu terjadi. Sebentar saja, air mulai berubah. Bongkahan es terbentuk di tengah wadah. Bongkahan es itu pecah, lalu menyebar. Sama seperti saat sihir Gray tak sengaja mengenai Juvia.
"Porlyusica-san, apa maksudnya ini?"
"Seperti yang kau lihat, es itu jelas bukan es biasa. Bukan berarti tidak bisa meleleh, tapi es itu butuh waktu beberapa jam untuk meleleh."
"Beberapa jam?! Tunggu dulu, sihirku tidak pernah seperti itu sebelumnya!"
"Tentu saja ...kau sudah menguasai tingkatan baru. Walaupun tanpa sengaja."
Seandainya Juvia tidak terluka, Gray pasti akan merasa senang mendengarnya.
"Secepat itu?! Aku baru mempelajari sihir beberapa hari yang lalu!"
"Kalau begitu kau harus bersyukur karena kau berbakat."
Ah, iya, Gray bahkan lupa bahwa dirinya mewarisi kemampuan sihir dari ayahnya.
"Dengar, Nak, setiap sihir memiliki tingkatan. Kalau sebelumnya atau saat ini kau hanya bisa mengeluarkan dan menggunakannya saja, itu disebut tingkatan dasar atau tingkatan pertama. Tingkat berikutnya adalah saat dimana kau bisa memperkuat sihirmu. Dan kau baru saja sampai di tingkatan itu." jelas Porlyusica.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Gray, "Aku bahkan belum melewati satu minggu..."
"Satu minggu, itu waktu yang normal untuk sebagian besar orang. Tapi bagi mereka yang berbakat, waktu satu hari sudah cukup untuk naik ke tingkat berikutnya," Porlyusica mulai membereskan peralatan yang tadi dia gunakan untuk percobaan, "Mungkin sebaiknya kau mencari seorang penyihir dan memintanya memberi penjelasan lebih lanjut kalau kau masih punya pertanyaan. Aku hanya bisa menjelaskan sampai disini saja."
"Penyihir lain, ya?" Gray langsung teringat pada sosok berambut merah muda dan gadis mungil yang selalu bersamanya, "Kebetulan sekali, aku sudah punya teman penyihir."
"Maaf, tolong jaga Juvia. Aku harus pergi ke suatu tempat."
.
.
.
Hutan Berkabut, di tengah-tengah hutan itu ada sebuah kastil yang kini dihuni dua orang penyihir. Dan itulah tempat yang Gray tuju.
"Nenek itu memang benar. Kau sudah menguasai tingkatan sihir baru." ucap Natsu setelah mendengar cerita Gray, "Yah, berarti kita sama. Dulu aku juga bisa menguasai tingkatan dasar dalam satu hari."
"Begitu rupanya. Aku masih tidak percaya bisa menguasai tingkatan baru secepat itu."
"Awalnya memang akan terasa terlalu cepat, tapi lama-kelamaan, kau pasti akan merasa semakin sulit naik ke tingkat berikutnya."
"Lalu, bagaimana dengan Juvia-san?" Wendy yang bertanya.
"Dia masih dirawat. Aku mempercayakan urusan perawatannya pada Porlyusica-san. Sekarang dia masih belum sadar."
Mendengar jawaban Gray, Wendy langsung terlihat cemas. Ia berlari ke arah pintu, "Gray-san, kalau kau tidak keberatan, maukah kau menungguku kembali? Aku tidak akan lama."
"Ya, sepertinya aku bisa menunggu."
Wendy meninggalkan ruangan. Sekarang hanya ada Natsu dan Gray saja di ruang tamu kastil yang sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali Gray datang. Perabotan yang ada masih tetap sama. Ruangan itu tetap hening selama beberapa saat sebelum Gray kembali membuka pembicaraan, "Lalu, apa yang harus kulakukan?"
"Hmm? Apa ini tentang perkembangan sihirmu?"
"Seandainya aku sudah menguasai beberapa tingkatan baru, bagaimana kalau esnya tidak bisa mencair? Juvia pasti akan-"
"Tidak akan," potong Natsu, "Tidak mungkin gadis air itu membeku selamanya, tidak peduli seberapa kuat sihirmu. Kau memang sudah berhasil menguasai tingkatan baru, tapi itu bukan berarti sihirmu akan berpengaruh selamanya. Yang pasti, kekuatanmu masih belum cukup kuat..."
Gray tersenyum lega. Kalau seperti ini, Juvia pasti akan baik-baik saja.
"...terutama untuk mengalahkanku."
"Hah?!" Gray langsung berdiri, "Oy,oy, apa yang kau bicarakan? Itu sama sekali tidak ada hubungannya!"
"Memangnya kenapa?" balas Natsu dengan santai. Ekspresinya berubah, menjadi ekspresi yang menurut Gray menyebalkan, "Tidak masalah, kan?"
"Jangan seenaknya meremehkanku." Gray tidak mau kalah.
Selama tiga jam, Gray terus berada di kastil dan membicarakan banyak hal dengan Natsu. Tentang ayahnya, Silver, yang merupakan penyihir hebat,...
"Silver? Hmm...Silver, ya?Benarkah?!" Natsu terlihat bersemangat. Bisa dilihat dari wajahnya yang berseri-seri.
"Kau kenal ayahku, Natsu?"
"Sedikit, seingatku aku pernah bertemu dengannya. Saat itu, aku masih kecil dan bahkan belum masuk akademi. Wendy...tentu saja belum lahir. Pantas saja, aku merasa kau mengingatkanku dengan seseorang. Kalian benar-benar mirip!"
...atau meminta saran pada Natsu tentang apa yang harus dilakukannya, saat ini Natsu cukup bisa menjawab pertanyaan Gray dengan singkat, jelas, dan padat. Itu sudah cukup mengusir rasa penasaran Gray, walaupun sebenarnya dia sendiri tidak begitu tertarik pada dunia penyihir.
"Oh? Apa itu artinya kau serius ingin menjadi penyihir?"
Gray tidak langsung menjawab, dia teringat dengan semua penuturan Juvia tentang Silver dan kesimpulan kalau Ul menginginkan anak-anaknya memiliki kehidupan normal, "Entahlah...aku tidak tahu..." Tangan Gray meraih tongkatnya, "...mungkin aku akan menjadi penyihir di saat-saat yang diperlukan saja."
Hanya dalam beberapa kali pertemuan saja, kedua penyihir yang menggunakan elemen berbeda itu terlihat sangat akrab seakan-akan sudah lama berteman. Terkadang pembicaraan mereka berujung pada perdebatan.
Sementara itu, Wendy sedang membuat ramuan untuk membantu pemulihan Juvia. Pembuatannya tidak sesulit ramuan Zunegy. Wendy bisa menyelesaikannya lebih cepat walaupun membutuhkan lebih banyak bahan. Berkali-kali Wendy menuang, mencampur, dan mengaduk bahan-bahan di dalam kuali. Gadis cilik itu juga memastikan api tetap menyala dan menjaga suhu tetap panas.
Sama seperti sebelumnya, Wendy baru menyerahkan ramuan yang dibuatnya saat Gray hendak pulang.
"Kali ini, kau membuat ramuan apa?" tanya Gray ketika menerima pemberian Wendy.
"Hanya ramuan pemulih biasa. Aku membuatnya dari daun tanaman obat yang kutemukan di hutan dan sedikit madu. Berikan saja pada Juvia-san setelah dia sadar."
"Aku berterima kasih atas bantuannya, lagi-lagi aku merepotkan kalian."
"Kenapa kau tidak tetap disini lebih lama, Gray? Biar nenek tabib itu saja yang menjaga Juvia."
Gray menggeleng, "Tidak, aku juga harus ikut merawatnya. Bukankah aku yang telah membuatnya seperti itu?"
"Lihat sisi baiknya. Aku tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi setidaknya kau berhasil menyingkirkan hujannya, kan?"
Benar juga, Gray bahkan tidak memikirkan itu karena terlalu khawatir. Bisa saja, kan, sihirnya memang berhasil melenyapkan hujan yang terus mengikuti Juvia.
"Satu hal yang pasti, kau berhasil menyegel kegelapan di hatinya."
.
.
.
"Kau berhasil menyegel kegelapan di hatinya."
Kata-kata Natsu terus terbayang di benak Gray. Hari sudah beranjak siang. Gray juga sudah kembali ke rumah Porlyusica. Juvia masih belum sadar, meskipun suhu tubuhnya kembali normal. Porlyusica sudah memberikan sihir penyembuhan pada Juvia untuk membantu mencairkan es di tubuhnya lebih cepat.
"Kau terlihat lelah." Porlyusica muncul tepat di sebelah Gray. Pemuda itu tidak menjawab, pikirannya terlalu fokus pada Juvia. Melihat Gray tidak bereaksi, Porlyusica bermaksud meninggalkannya, "Kau juga harus istirahat. Aku akan pergi mengumpulkan tanaman obat. Kau tidak keberatan kutinggal sebentar, kan?"
Gray hanya mengangguk sebagai jawaban. Porlyusica meninggalkan rumah. Gray duduk di samping tempat tidur, pandangannya tertuju ke luar jendela, ke padang bunga. Di sisi kanan jendela, ada gorden yang menghalangi pandangannya.
Bunga-bunga itu terlihat semakin indah tertimpa sinar matahari. Gray tidak sabar menunggu Juvia sadar, ia ingin agar Juvia segera melihatnya, "Dia pasti sangat senang, ini akan menjadi kejutan untuk-"
GREP!
Gray refleks berdiri, seseorang memegang pergelangan tangannya. Sudah pasti orang itu adalah...Juvia!
"Ju-Juvia! Syukurlah, akhirnya kau sadar!" seru Gray gembira. Juvia hanya tersenyum tipis, "Gray-sama..." Gadis berambut sewarna lautan itu mencoba duduk, dia tidak melepaskan tangan Gray sedikit pun.
"Jangan memaksakan diri." Gray mendekat, "Bagaimana perasaanmu seka-!"
Tanpa Gray duga sama sekali, Juvia memeluknya. Gadis itu sama sekali tak terlihat kurang sehat. Meskipun kaget dengan perlakuan Juvia yang tiba-tiba itu, Gray tidak berbuat apapun. Bahkan tak ada keinginan sedikitpun untuk menolaknya.
"Gray-sama...terima kasih untuk semuanya." Juvia berkata dengan sangat pelan, sampai Gray nyaris tidak bisa mendengarnya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Juvia melepas pelukannya, lalu menjawab dengan sekali anggukan. Mata Juvia terpaku pada jendela di depan ranjang. Gray mengikuti arah pandang Juvia, "Indah sekali, kan?"
Mata Juvia kembali berkaca-kaca, air matanya mulai menggenang .Juvia menggeleng, dia tidak boleh menangis. Sudah cukup, ia sudah terlalu lama menangis. Juvia tidak ingin ada 'hujan' lagi sekarang.
"Ya..." Tangan Juvia menghapus air mata yang hampir keluar, "Indah sekali. Ini pertama kali...Juvia melihatnya." Juvia beranjak turun, mendekati jendela. Ia ingin melihat langit biru cerah berawan lebih dekat. Gray membuka gorden dan jendela. Angin langsung berhembus masuk, menyejukkan ruangan. Gray membiarkan Juvia berdiri di depan jendela.
Juvia kembali berdecak kagum melihat pemandangan didepannya. Matanya berseri-seri. Padang bunga matahari menyambut Juvia. Hamparan bunga berkelopak kuning itu seolah tersenyum ramah kepadanya.
"Cantik sekali..." Juvia mencoba memetik bunga yang paling dekat dengannya. Tapi dia tidak mampu meraih bunga yang dimaksud. Gray kembali membantu. Tangannya menjulur keluar untuk memetik setangkai bunga.
"Ini," Gray menyelipkan bunga yang dipetiknya di belakang telinga Juvia, "Tidak kusangka. Kau terlihat cocok dengan bunga itu."
Wajah Juvia memerah sempurna, ia mundur beberapa langkah dari Gray,"K-Kalau begitu, kapan kita kembali ke Rosemary? G-Gray-sama sudah berhasil, kan?" tanya Juvia gugup, jemari lentiknya memainkan bunga pemberian Gray, "Juvia sudah merasa sehat, ya, sangat sehat!"
Gray tersenyum simpul, "Beristirahatlah, aku masih harus menunggu Porlyusica-san kembali. Kita akan kembali nanti sore. Oh ya, jangan lupa meminum ramuan yang sudah kusiapkan."
.
.
.
"Juvia masih belum percaya ini." Juvia tidak henti-hentinya memandang langit. Siang sudah lama berlalu, matahari hampir terbenam sepenuhnya. Saat-saat seperti ini dimanfaatkan Juvia menikmati keindahan langit senja.
Kali ini Gray benar-benar merasa puas. Ia sudah tidak sabar melihat reaksi penduduk desa atas keberhasilannya. Tinggal beberapa ratus meter lagi, mereka akan sampai di Rosemary. Gray sudah membayangkan, penduduk desa akan terkejut melihat Juvia yang sekarang, mantan gadis air.
Di Rosemary, Gray sudah tidak mampu menyembunyikan kegembiraannya lagi. Senyumnya mengembang ketika melihat reaksi penduduk desa. Seakan melihat keajaiban, mereka memandang Juvia dengan ekspresi yang menunjukkan ketidakpercayaan.
"Oy, apa benar dia gadis air yang itu?"
"Yang benar saja! Gray berhasil?!"
"Bagaimana dia melakukannya?"
"Gray sudah pulang!"
"Sudah kuduga dia akan berhasil."
Selain ketidakpercayaan, ada juga yang menampakkan ekspresi kagum, heran, dan ada juga yang senang. Rosemary kembali menjadi ramai dengan kembalinya Gray. Seperti sedang ada festival. Gray mengajak Juvia langsung ke kantor kepala desa. Ia ingin segera menunjukkan hasil perjalanannya selama beberapa hari ini.
"Hibiki!" Gray memanggil seseorang yang menjadi teman kerjanya. Orang yang bersangkutan sepertinya baru saja akan pulang, "Eh? Gray-san!" Sama seperti yang lain, Hibiki juga terkejut melihat kedatangan Gray, "Ternyata kau sudah pulang. Bagaimana perjalananmu?"
"Seperti yang kau lihat, aku berhasil."
Hibiki sontak melihat ke arah Juvia, yang terus berada di belakang Gray, "Tunggu sebentar, aku akan meminta Pak Makarov kesini."
"Itu tidak perlu." Sang kepala desa sudah berada di belakang Hibiki tanpa dipanggil.
"Bagaimana, Pak Makarov? Aku sudah berhasil memenuhi persyaratan dari Anda, kan?" Gray kembali menampilkan senyum kemenangannya. Penduduk desa mulai berkumpul di sekitar kantor, ingin tahu apa yang terjadi pada Gray dan Juvia selanjutnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Gray, Makarov malah mengalihkan pertanyaan Gray kepada penduduk desa yang hadir, "Bagaimana, semuanya? Kalian setuju menerima kembali Juvia sebagai bagian dari Rosemary?"
Para warga saling berbisik dengan orang yang berada di sebelahnya, seperti berdiskusi sejenak untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan Makarov.
"Bagaimana denganmu, Macao?" Makarov beralih pada Macao, orang yang mengajukan syarat kedua, "Kau yang mengusulkan agar Gray dapat membuktikan Juvia tidak berbahaya dan bisa berguna. Dan sekarang dia sudah memenuhi syarat itu."
Berpasang-pasang mata tertuju pada Macao. Macao tampak ragu, jelas sekali dia tidak menyangka Gray mampu melakukannya. Tapi janji adalah janji. Harus ditepati.
"Baiklah..." jawab Macao, akhirnya, "Aku bersedia menerima gadis air, ehm...maksudku Juvia, kembali tinggal di Rosemary."
"Yang lain? Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian setuju dengan jawaban Macao?" Makarov meminta jawaban dari seluruh penduduk yang tersisa. Sekarang, Juvia hanya bisa berharap-harap cemas sambil menunduk. Berbanding terbalik dengan Gray yang terlihat sangat yakin.
Tanpa ragu, semuanya menjawab serentak, "YAAAAA! KAMI SETUJU!"
Kepala Juvia langsung terangkat mendengar jawaban dari warga Rosemary. Apa pendengarannya tidak salah? Dia tidak sedang bermimpi, kan?
Makarov tersenyum lebar, "Nah, semuanya! Untuk merayakan kembalinya Juvia, dan untuk keberhasilan Gray, mari kita adakan pesta untuk mereka!"
Semua orang bersorak, menyambut baik ide Makarov.
Saat itulah, Juvia menjadi yakin...ini bukan mimpi.
.
.
Hari itu, semua penduduk Rosemary bergembira. Menyambut dengan suka cita orang yang pernah menghilang namun kini kembali menjadi bagian dari mereka. Juvia Loxar, yang selama ini dikenal menakutkan dan tidak memiliki emosi kini telah berubah menjadi lebih hangat, walaupun dia masih canggung saat bersosialisasi dengan orang lain dan belum mampu mengekspresikan perasaan sepenuhnya. Tapi perubahannya sekarang jauh lebih baik.
Meja-meja berlapis taplak putih sudah dikeluarkan dan ditata rapi di halaman kantor yang luas. Di atasnya sudah dipenuhi piring-piring berisi kue, beraneka macam hidangan, dan minuman. Kursi-kursi dan beberapa rangkaian bunga untuk hiasan juga sudah dikeluarkan. Gray sempat terkejut ketika melihat pesta sudah siap hanya dalam beberapa menit saja.
"Wah, cepat sekali persiapannya." ucap Gray sembari duduk di salah satu kursi. "Ini hebat, kan?" tanya Makarov yang duduk di sebelah Gray. Tangannya memegang cangkir berisi kopi hitam.
"Pak Makarov...jangan-jangan Anda sudah menduga kalau aku akan berhasil?"
"Bukan menduga..." Makarov mengeluarkan amplop hijau pucat dari saku jasnya, "...aku sudah tahu kau pasti bisa."
Gray membaca nama si pengirim surat. Asalnya dari desa Tenrou. Surat itu dikirim oleh Belno, wanita pemilik penginapan, "Wanita tua itu memberi tahuku kedatangan kalian dan apa yang kalian lakukan di sana. Aku sangat senang mendengarnya. Firasatku mengatakan kalian bisa memenuhi syarat yang kuajukan. Walaupun secara pribadi, aku akan menerima Juvia dengan sukarela tanpa persyaratan apapun. Kedua syarat itu kuajukan hanya karena tuntutan dari wargaku."
"Anda kenal Belno-san?" Gray mengubah posisi duduknya, kali ini ia benar-benar berhadapan dengan atasannya. "Ya, dia teman lamaku. Pernah tinggal di Rosemary dan jadi sekretarisku juga. Tapi Belno ingin membuka penginapan, makanya dia pindah ke Tenrou."
Gray mengangguk-angguk mendengar penuturan Makarov. Pria tua itu menyeruput kopinya yang tinggal sedikit sampai habis, "Aku akan mengambil kopi lagi." Makarov beranjak dari kursi, sebelum benar-benar tak terlihat ia berkata, "Kau juga, Gray. Bergabunglah di keramaian pesta dan bersenang-senanglah."
Baru saja Makarov pergi, mata Gray menangkap kehadiran sosok lain. Itu Sherry! Bagaimana mungkin Gray melupakan teman lamanya?
"Sherry!" Gray langsung menghampiri wanita yang selalu menggunakan riasan wajah itu. Sherry menengok ke arah Gray dan tersenyum, "Selamat datang kembali, Gray! Selamat juga untuk keberhasilanmu."
"Oh, terima ka-"
"Gray-samaaa!" Belum sempat Gray menyelesaikan ucapannya, tanpa sengaja Juvia menabraknya dari belakang. Juvia segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf berkali-kali.
"Juvia! Kenapa kau terburu-buru?" tanya Gray, mengabaikan permintaan maaf Juvia.
"Ju-Juvia hanya berjalan-jalan di sekitar Juvia bertemu banyak orang. Dan...dan...Juvia tidak tahu harus berkata apa! Juvia terlalu gugup untuk bicara!"
"Itu sebabnya kau lari kesini?"
Juvia mengangguk pelan, "Gray-sama pasti berpikir Juvia pengecut."
"Kau masih belum terbiasa bersama orang lain."
Juvia mengangguk lagi.
"Tidak apa-apa, kau pasti terbiasa..."
Untuk ketiga kalinya, Juvia bersyukur, Gray bisa mengerti dirinya.
"...meski orang sepertimu pasti membutuhkan waktu lama."
JLEB! Batin Juvia kembali tertusuk. Ucapan Gray kadang-kadang bisa menjadi pisau baginya.
"Sherry, ini Juvia. Gadis air yang dulu ditakuti penduduk desa. Juvia, ini Sherry, teman lamaku. Kau ingat? Dulu kau pernah melihatnya sekali saat kami masih kecil."
Juvia segera bangkit dari keterpurukan sementaranya, ia mencoba mengingat-ingat, "Oh, ya! Juvia ingat! Kalau tidak salah, waktu itu ada seorang anak laki-laki berambut putih juga."
"Benar, itu Lyon, teman lkami juga,"sahut Sherry, "Tapi sekarang ia berada di Crocus. Hebat, ternyata kau masih ingat."
Juvia mengamati Sherry, dan langsung teringat sesuatu, "Maaf, apa kau kakak dari gadis yang terakhir kuculik? Kalian mirip sekali..."
"Aku bukan kakaknya, aku sepupunya."
"Maaf, sebenarnya Juvia tidak bermaksud menyakitinya. Juvia hanya ingin dia menemani Juvia di kastil sepi itu. Tapi...Juvia..." Juvia tidak melanjutkan ucapannya. Sherry menyentuh rambut Juvia yang sudah menjadi ciri khasnya. Rambut biru yang bergulung seperti ombak itu, sejak dulu tidak pernah berubah.
"Apa-apaan gaya rambutmu? Model rambutmu ini hanya populer berabad-abad yang lalu!" komentar Sherry pedas. Sangat pedas, malah.
"Oy, oy, Sherry jangan terlalu berlebihan." Gray berdiri di depan Juvia, bermaksud membelanya, tapi mantan gadis air itu sudah diseret Sherry menemui seseorang, "Flare!"
"Ada apa?" Seorang gadis berwajah suram menyahut, gadis itu tadinya sedang membantu Mira menyiapkan minuman.
"Tolong ubah gaya rambut gadis ini! Kau bisa, kan? Bukannya tidak cocok, tapi kupikir seharusnya dia bisa jadi lebih cantik lagi."
"Eh, tidak! Juvia tidak perlu..."
Flare mengamati Juvia sebentar, lalu mengangguk, "Kurasa aku tahu gaya rambut yang cocok untuknya. Kau bisa datang ke salonku besok, jam 9 pagi."
"Ano...Juvia..." Juvia masih berusaha menolak.
"Pokoknya, besok kau harus datang. Kau masih tinggal di rumah Gray, kan? Aku akan menjemputmu."
Juvia hanya bisa pasrah, tapi dalam hati ia juga merasa senang. Ia mendapat banyak teman yang tidak pernah ia impikan sebelumnya. Walaupun masih banyak orang yang tampak takut berbicara dengannya, Juvia tidak mempermasalahkan hal itu. Bagi Juvia, yang paling penting adalah berusaha bersikap seramah mungkin dan mengubah pemikiran mereka tentang dirinya, "Yah, sepertinya mengganti gaya rambut bukan pilihan buruk. Itu tidak sebanding dengan teman-teman baru Juvia yang jauh lebih berharga."
.
.
.
Sudah pukul 11 pagi. Dua jam yang lalu, Sherry datang dan mengajak Juvia menemui Flare sesuai janji kemarin malam. Gray menghela nafas bosan. Ia merasa kesepian. Padahal memang beginilah seharusnya keadaan di rumah. Sepi dan hening tanpa kehadiran seorang pun. Sejak Ultear memutuskan mencari penghasilan di kota Clover.
"Lama sekali mereka pergi. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?"
Tepat setelah Gray menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara pintu rumahnya yang diketuk tiga kali, "Kau sudah siap, Gray?" Terdengar suara Sherry.
"Hah? Siap untuk apa?"
"Ini dia penampilan baru Juvia!"
Gray keluar dari balik pintu rumahnya. Mata Gray melebar melihat penampilan baru Juvia. Rambut menggulung yang menjadi ciri khas gadis itu sudah hilang. Kini Juvia membiarkan rambutnya bergelombang tebal, dengan panjang rambut melewati bahu .Gray menatap Juvia tidak percaya,"Juvia?"
"Bagaimana?" Senyum mengembang di bibir Sherry, "Dia terlihat manis, bukan? Gray?"
"Yah, itu..." Gray menggaruk kepalanya, tidak tahu harus berkata apa. Sementara Juvia menunggu kelanjutan kalimat Gray.
"...lumayan cocok."
Juvia tersipu mendengarnya. Itu berarti Gray memujinya, kan?
"Ti-tidak aneh, ya? Tadi dalam perjalanan pulang, semua orang memandang ke arah Juvia..."
"Tentu saja, itu karena kau sangat manis! Mira bahkan memintamu bekerja di barnya! Kau boleh mulai bekerja nanti sore!" celoteh Sherry riang.
"Apa? Benarkah itu?" Gray kembali menatap Juvia, "Kau menerima tawaran Mira?"
Juvia menunduk, ia kembali memainkan jemarinya,"Ki-kita akan ti-tinggal bersama. Ju-Juvia hanya tidak ingin menjadi beban Gray-sama."
"Begitulah. Nah, sudah dulu, ya. Aku harus berkemas-kemas. Aku akan kembali ke Orchid City besok. Sampai bertemu lagi."
"Eh? Sherry, tunggu!" Gray buru-buru mengejar teman masa kecilnya. Mereka berbicara di depan pagar. Juvia memperhatikan tingkah laku kedua orang itu, mencoba menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, Sherry tersenyum sambil mengangguk. Gray nampak sangat berterima kasih. "Setidaknya kau masih punya tetangga. Yang benar saja, rumah di kanan-kiri rumahmu, kedua-duanya kosong. Tanpa penghuni."
"Kosong?" Gray menaikkan sebelah alisnya. Sontak memandang ke rumah yang dulu ditempati Lyon, "Rumah Lyon kosong?"
"Ah, tentu saja kau belum tahu. Mereka-aku tidak tahu siapa namanya-kembali ke Crocus kemarin malam. Tepat sejam sebelum kau kembali. Sayang sekali, ya, mereka tidak sempat berpamitan denganmu." Gray tidak tahu harus bereaksi apa. Ada perasaan menyesal sekaligus rasa bersalah. Entah apa sebabnya. Mungkin karena dia tidak sempat menyampaikan salam perpisahan? Terutama pada Rufus, bagaimanapun juga, dia telah membantunya. Sudah sepantasnya Gray berterima kasih. Sayangnya dia juga belum sempat melakukannya.
"Begitu, ya. " Akhirnya hanya itu yang bisa Gray katakan. Setelah Sherry pergi, Gray kembali menghampiri Juvia. Dengan tidak sabaran, mantan gadis air itu bertanya, "Apa yang Gray-sama bicarakan?"
"Aku hanya meminta Sherry meminjamkan rumahnya. Dan dia bilang, kau boleh tinggal disana."
"Eh?!" Juvia terkejut.
"Bukankah kau bilang tidak ingin menjadi bebanku?"
Juvia langsung diserang perasaan menyesal, ingin rasanya ia menarik kembali kata-katanya.
.
.
.
Tak terasa, sudah sebulan sejak Juvia menetap di Rosemary. Dan selama waktu itu, warga desa tak henti-hentinya membicarakan Juvia. Sepertinya mereka masih belum bosan memperhatikan gadis berkulit pucat itu.
"Menurutku dia memang tidak berbahaya."
"Kudengar dia kehilangan kekuatannya."
"Benarkah? Kurasa itu berkat Gray."
"Tidak masalah, kan? Dia gadis yang baik dan manis."
"Mungkin sebenarnya Juvia hanya tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan orang lain."
Tapi ini sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu. Pandangan orang-orang tentang Juvia pun perlahan-lahan berubah. Gray bahkan merasa Rosemary jadi lebih menyenangkan sejak kehadiran Juvia. Sedikit demi sedikit, Juvia berusaha menghilangkan kecanggungannya dan mulai berani menyapa orang lain. Semua itu berkat bantuan Mira yang membimbingnya. Juvia juga belajar untuk bersikap terbuka.
"Kau sudah berusaha keras, ya." sapa Gray suatu pagi di hari Minggu. Kebetulan saat itu Juvia juga sedang berada di teras, "Gray-sama, selamat pagi." "Selamat pagi."
"Kalau dipikir-pikir...", Gray baru menyadari. Setiap pagi Juvia tidak pernah absen menyapanya. Sepertinya pelajaran dari Mira sangat berguna untuk Juvia. Gadis itu menampilkan senyumannya, senyum yang bisa membuat pandangan buruk tentang dirinya hancur. Gray terdiam selama beberapa detik,"Ternyata kau juga sudah bisa tersenyum, ya."
Untuk saat ini Gray hanya bisa membiarkan Juvia menekuni kegemarannya. Dia mengamati gadis itu senang sekali membuat boneka sambil duduk di teras rumah. Keterampilan menjahit Juvia memang luar biasa, "Gray-sama, Juvia punya permintaan." ucap Juvia tiba-tiba. Gray sendiri tidak menduga Juvia akan berkata seperti itu. Baru kali ini ia mendengar Juvia meminta sesuatu, "Katakan saja, apa permintaanmu?"
.
.
.
Juvia tampak sibuk memilih buku. Ia berpindah dari satu rak ke rak buku lainnya, entah buku apa yang dia cari. Gray hanya mengamati Juvia dari jauh. Meski banyak orang yang memperhatikannya, Juvia sudah terbiasa tidak selalu berada di dekat Gray.
"Ternyata dia hanya ingin ditemani ke toko buku. Benar-benar tidak kusangka." Walaupun begitu, Gray tidak keberatan. Tidak ada salahnya menghabiskan waktu di toko buku. Lagipula ia juga sudah lama tidak berkunjung ke sini. Bicara soal buku, Gray jadi teringat dengan Freed. Apakah ia sudah menyelesaikan bukunya? Tiba-tiba Gray khawatir dengan apa yang akan Freed tulis tentang Juvia. Apa yang akan orang itu tulis? Gray tidak ingin Freed menulis sesuatu yang buruk. Orang-orang di luar Rosemary bisa berpikiran salah. Walaupun itu tidak benar, karena Juvia yang sekarang sudah jauh berbeda, tetap saja sang penyihir es tidak ingin itu terjadi. Mata Gray meneliti satu-persatu buku yang terpajang di rak. Ia tidak menemukan buku dengan nama Freed sebagai penulisnya. Mungkinkah ia belum menerbitkan bukunya?
"Gray-sama?" Saat Gray menoleh, dia sudah mendapati Juvia menenteng tas kertas berisi buku-buku yang dibelinya, "Apa Gray-sama mencari sesuatu?" "Tidak, sama sekali tidak." Karena buku yang dicari tidak ada, Gray langsung mengajak Juvia pulang. Dalam perjalanan, mata Gray tertuju pada tas di tangan Juvia, "Buku apa yang kau beli?"
"Juvia membeli buku keterampilan menjahit. Juvia ingin bisa menjahit lebih bagus. Saat ini, Juvia hanya bisa merajut atau membuat boneka saja." jelas Juvia.
"Begitu, jadi kau ingin mengembangkan keterampilanmu."
Ketika berpapasan dengan Hibiki, Juvia menyapanya, "Hibiki-san, selamat pagi."
"Eh...ya, selamat pagi." Hibiki nampak terkejut. Tidak menyangka Juvia akan menyapanya. Gray juga menunjukkan reaksi yang tidak jauh berbeda dengan Hibiki. Bukan hanya Hibiki, semua orang, bahkan yang Gray tidak kenal pun, semuanya disapa oleh Juvia. Hal ini jelas membuat Gray takjub, "Wah, kau sudah benar-benar bukan Juvia yang dulu. Kau sudah berubah!"
"Ya," Juvia mengangguk setuju, "Ini semua berkat bantuan Gray-sama."
"Kalau begitu, khusus hari ini, akan kuajak kau jalan-jalan. Anggap saja hadiah atas keberhasilanmu. Aku tahu banyak tempat yang bagus. Walaupun kau juga berasal dari Rosemary, aku yakin kau belum pernah mengunjunginya."
Tentu saja Juvia langsung menyetujui tawaran Gray. Kalau itu ajakan dari Gray, mana mungkin ia bisa melewatkannya, "Ya, dengan senang hati!" Juvia menjawab sembari memeluk erat lengan Gray.
"Oy, oy, apa yang kau lakukan?!" Gray terkejut menerima perlakuan Juvia. Sedangkan Juvia malah bersikap seolah tidak mendengar seruan Gray dan mempererat pelukannya. Yah, setidaknya dengan bersenang-senang seharian dengan Juvia, membuat Gray bisa melupakan kekhawatirannya di toko buku untuk sementara.
Keesokan harinya, ketika akan berangkat kerja, Gray menemukan sebuah paket di depan pintu rumahnya. "Paket? Dari siapa?" Tidak ada nama pengirim tertera di bagian luar paket. Karena penasaran, Gray langsung menyobek kertas pembungkus paket. Gray terkejut ketika mengetahui isinya. Paket itu berisi sebuah buku yang tidak terlalu tebal dengan sampul hijau cerah. Dan nama pengarang buku itu adalah Freed Justine!
"Ternyata memang sudah terbit, ya?" Dengan cepat, Gray membuka bagian daftar isi untuk mencari bab berjudul 'Gadis Air'.Gray yakin Freed pasti memuat informasi dari Rufus. Tapi dia tidak menemukan judul bab yang dicari. Untuk meyakinkan dirinya, pemuda raven itu pun membalik halaman demi halaman buku dengan sangat cepat. Namun hingga halaman terakhir, tak satu pun kata 'gadis air' tertangkap oleh penglihatannya.
"Aneh, kenapa tidak ada? Apa Rufus lupa memberi tahunya? Tidak mungkin!" Sebelum Gray sempat memikirkan dugaan lainnya, ia menemukan sebuah kartu di sampul belakang buku. Ada pesan tertulis di atasnya.
Aku sudah menduga kalau ini akan terjadi.
Kau bisa mengubah gadis air itu.
Tentu saja aku sudah memberi tahu Freed semua yang kutahu.
Tapi, aku memintanya untuk tidak memuat informasi dariku.
Kalau gadis air sudah berubah, bukankah semua itu jadi tidak ada gunanya?
Terjawab sudah pertanyaan Gray. Perasaannya campur aduk. Ia merasa lega sekaligus kesal karena telah mencemaskan hal yang belum tentu terjadi. Meski tanpa nama, Gray tahu pasti siapa penulis pesan yang baru saja dibacanya.
"Sialan kau, Rufus..."
The End
Akhirnya fic ini bisa tamat juga setelah sekian lama author telantarkan.
Karena chapter terakhir ini lebih panjang dari biasanya, semoga kalian tidak bosan membacanya.
Author berterima kasih untuk semua readers, baik yang sudah memberikan review, favs dan follows
maupun yang sekedar menjadi silent readers karena bersedia meluangkan waktu membaca fic ini.
Untuk author synstropezia, maaf karena tagihannya terlalu lama dilunasi.
Terima kasih karena selalu mengingatkan author untuk melanjutkan fic ini.
Semoga kamu suka endingnya.
I Love Erza
