Kent POV

Semua yang ada di sekitarku terasa sangat asing. Ruangan ini hanya berisi sebuah lemari pakaian, rak buku, dan sebuah tempat tidur. Kertas dinding berwarna pastel membuat kamar ini tampak lebih elegan. Aku belum sempat memperhatikan foto yang menarik perhatianku di atas meja saat suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku.

"Apa kamu sudah bangun, Kent?" tanya seorang wanita yang aku kenal bernama Jill. Aku memanggilnya Bibi Jill. "Ayo cepat mandi lalu sarapan. Dan tolong bangunkan Skye juga."

"Iya, bibi."

Setelah suara langkah kaki mulai menjauh, aku langsung menatap wajah tampan di sampingku. Paman Skye tampak masih tertidur nyenyak. Kenapa wajahnya tampak tidak asing, ya? Tanyaku dalam hati sambil menatap wajahnya.

Perlahan aku mengguncang tubuh rampingnya. "Paman Skye, paman bangun!"

Paman Skye hanya menggumam tidak jelas sebelum menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Kembali aku mengguncang tubuhnya, kali ini lebih kencang.

"Urg, tunggu sampai jam sepuluh."

"Jam sepuluh?" gumamku tidak percaya. Sekarang masih jam setengah enam. "Paman, ayo bangun. Paman!" Aku menarik selimut yang menutupi wajahnya. Untuk sesaat dia hanya menyipitkan matanya dan saat aku yakin dia sudah bangun, dia berguling ke arahku.

Vaughn POV

Aku membaringkan badanku di tempat tidur tanpa peduli untuk melepaskan sepatu. Aku benar-benar ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku. Aku tidak ingin memikirkan Sabrina ataupun Chelsea. Aku juga tidak ingin memikirkan pekerjaanku, sesuatu yang jarang aku lakukan karena pekerjaanku adalah segalanya.

*Kring-kring-kring*

*Kring-kring-kring*

*Kring-kring-kring*

Aku membiarkan mesin penjawab teleponku memutar suaraku. Aku sama sekali tidak berniat meninggalkan tempat tidurku. Bahkan saat aku mendengar suara bos sekaligus temanku, Guy, aku tetap tidak bergerak sedikitpun.

"Woi, Vaughn Phantom, aku tahu kau sudah sampai di rumah. Cepat ke kantorku dan berikan laporanmu selama dua hari di Sunshine Islands lalu bantu Jessica menangani virus yang sedang menyerang domba-domba di Bluebell. Lalu ada kiriman dari kekasihmu kemarin malam."

Tidak lama setelah bunyi sambungan terputus, suara dering telepon kembali terdengar. Seperti tadi aku hanya membiarkan mesin penjawab telepon melakukan tugasnya. Kali ini Sabrina yang menelepon.

"Vaughn, a-apa kau sudah tiba di apartemenmu? Aku ti-tidak ingin hu-hubungan kita berakhir seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Ka-kau satu-satunya orang yang mengerti kesedihanku setelah ibuku meninggalkanku dan daddy untuk be-bersama laki-laki lain. Aku menunggu te-teleponmu."

Sabrina. Tch.

*Kring-kring-kring*

*Kring-kring-kring*

*Kring-kring-kring*

Godness. Apakah semua orang berencana untuk menggangguku hari ini?

"VAUGHN!"

Aku langsung menutup kupingku saat mendengar teriakan Julia. Aku tidak tahu apa yang dilihat oleh Eliot dari Julia. Apa juga yang diinginkan Julia pagi-pagi begini? Aku menutup kedua telingaku rapat-rapat dan mencoba untuk tidur.

"Vaughn! Kau harus kembali ke Sunshine Islands secepatnya! Kent-"

Chelsea POV

"Apa yang kau lakukan?!" Julia berusaha mengambil kembali handphone miliknya tetapi aku menjauhkan handphone itu darinya. "Berikan benda itu, Chels!"

Aku hanya dapat menatap lantai yang ada di bawahku. Aku tahu Julia sangat mengkhawatirkan keadaan Kent tetapi aku tidak ingin dia memberi tahu Vaughn. Aku tahu Vaughn berhak tahu tentang keadaan anak-anaknya tapi aku tahu dia sangat lelah dan tidak ingin diganggu untuk saat ini.

"Aku sudah memberi tahu keluargaku yang ada di kota. Aku yakin bantuan dari mereka sudah cukup tanpa harus merepotkan Vaughn."

Julia menatapku tajam. "Vaughn berhak untuk tahu."

"Aku tidak ingin dia tahu."

"Dia BERHAK untuk tahu bahwa anaknya hilang entah kemana! Kau tidak bisa menutupi apapun darinya!"

Sebelum aku dapat berkata apapun, handphone Julia berdering. Untuk sesaat aku dan Julia hanya saling memandang. Aku tidak ingin memberikan handphone ini padanya tapi benda ini miliknya.

Berikan saja, Chels. Mungkin itu dari orang lain. Aku dapat membayangkan sosok kecil diriku yang memiliki sayap seperti malaikat berbisik di telinga kananku.

Jangan dengarkan dia. Bagaimana kalau yang menelepon itu ternyata Vaughn? Kau hanya akan membuatnya marah. Sosok kecil lainnya memiliki tanduk dan terlihat sangat licik berbisik di telinga kiriku.

Bukankah itu bagus jika Vaughn peduli pada Kent? Vaughn akan sangat marah jika sesuatu terjadi kepada anak-anaknya. Aku yakin Kent juga berarti baginya.

Jangan dengarkan dia Chels. Dia sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua.

Apa kau bilang? Memangnya kau lebih baik dariku? Kau sendiri juga yatim piatu.

Setidaknya di bumi ini aku memiliki banyak teman.

Aku ju-!

Sebelum si malaikat jadi-jadian membalas si iblis yang juga jadi-jadian Julia berhasil mengambil kembali handphone miliknya. Dia sengaja berjalan menjauhiku agar aku tidak dapat merampas kembali handphone miliknya.

"Hallo? Vaughn?"

"Ada apa dengan Kent?" Julia sengaja membuat suara Vaughn terdengar di telingaku. "Kenapa tadi kau memutuskan telepon tiba-tiba? Apa Chelsea ada di sana?"

"Ya, Chelsea ada di sini. Dia tidak ingin kau tahu apa yang terjadi kepada Kent."

"Apa sesuatu terjadi pada Kent?"

Julia menatapku, menungguku untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tapi saat dia sadar aku akan terus bungkam, Julia menghela nafas dan menjelaskan semua yang dia ketahui. Selama beberapa detik Vaughn terdiam setelah Julia selesai berbicara.

"Vaughn? Kau masih di sana, kan?" Julia menatapku bingung yang aku jawab dengan gelengan kepala.

Setelah beberapa detik kembali berlalu akhirnya Vaughn kembali bersuara. "Kenapa kau tidak ingin aku tahu keadaan Kent?" tanyanya dengan suara berat yang pelan. Dia terdengar sangat marah.

"A-aku tidak ingin mengganggumu," jawabku tergagap.

"'Mengganggu' katamu? Apa kau pikir aku sekejam itu dengan mengorbankan keselamatan anakku sendiri hanya untuk sekeping logam? Apa kau pikir aku tega membuang darah dagingku sendiri? Bukankah dari semua orang kau yang seharusnya tahu siapa aku sebenarnya?"

Vaughn yang sebenarnya. Kenapa aku sangat bodoh? Dari semua orang yang ada di dunia ini akulah yang paling tahu penderitaan dan kesedihan Vaughn. Vaughn memang antisosial dan kasar tapi dia tidak akan pernah berpaling dan menyakiti orang-orang yang dia sayangi. Dia tidak mungkin menyakiti Kent dan Erika.

"Maaf. Maafkan aku." Tanpa aku sadari air mata mengalir di kedua pipiku. "Tolong temukan Kent, Vaughn. Aku tidak ingin kehilangan anak kita."

Kent POV

Aku masih berusaha membersihkan bulu angsa yang mengotori rambutku saat sarapan dimulai. Selama setengah jam aku dan paman Skye bermain perang bantal, membuat seluruh kamar penuh bulu angsa. Entah apa yang membuatku sangat nyaman berada di keluarga ini.

"Apa kau sudah menghubungi orang tuamu?" tanya bibi Jill.

"Belum."

"Kenapa? Mereka akan khawatir jika terjadi sesuatu padamu."

Setelah mengambil bulu terakhir yang ada di kepalaku, aku memakan roti selai yang ada di depanku. "Ibu dan adikku, iya. Ayahku, tidak."

"Kenapa?" kali ini paman Skye yang bertanya.

"Ibuku seorang orang tua tunggal. Dia melahirkan kami saat berumur 16 tahun. Aku baru mengetahui keberadaan ayahku di musim semi. Tidak terlalu rumit jika saja ayah tidak memiliki kekasih dan akan menikah."

Kedua orang itu saling bertatapan. Aku tidak tahu telepati apa yang sedang terjadi di antara kedua orang itu karena aku sibuk memakan roti selaiku.

"Kalau boleh tahu siapa nama ayah dan ibumu?"

"Ibuku bernama Chelsea dan ayahku bernama Vaughn."

Setelah aku menyebut nama ayah, paman Skye langsung tersedak roti selainya. Bibi Jill dengan tanggap menuangkan air untuk suaminya.

"Anda baik-baik saja? Apa aku salah berbicara?" tanyaku khawatir. Wajah paman Skye yang pucat berubah menjadi merah.

Paman Skye tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget mendengar nama ayahmu. Nama anak laki-laki kami juga Vaughn tapi dia masih berumur 8 tahun."

"Benarkah? Dimana dia sekarang?"

Kedua orang itu saling berpandangan sebelum menatapku dengan pandangan sedih. "Dia tidak tinggal dengan kami."

"Dia di adopsi?" tanyaku terkejut. Menurutku keluarga Phantom tidak terlalu miskin untuk mengurus seorang anak.

"Kurang lebih begitu."

"Tolong ceritakan."

Paman Skye tertawa kecil. "Anak kecil sepertimu tidak akan paham masalah orang dewasa."

"Dengan IQ 200 aku dengan mudah mengerti kebanyakkan pembicaraan orang dewasa."

"Ini tidak ada hubungannya dengan IQ milikmu, sayang." Bibi Jill mengelus rambut perakku.

"Aku mohon. Mungkin ini bisa membantuku mengerti perasaan ayah. Walaupun tidak ada yang pernah mengatakan ini tapi aku tahu ayah memiliki masa kecil yang sulit. Aku merasa dengan mendengar cerita kalian akan membantuku memahami dirinya."

Kedua pasangan itu kembali saling menatap sebelum kembali menatapku. Wajah mereka tampak serius.

"Dari mana aku harus memulainya?" tanya bibi Jill pada dirinya sendiri.

Aku mengerutkan kening menatapnya. "Tentu saja dari awal."

Paman Skye tertawa kecil sambil mengusap rambutku. "Sepintar apapun kau, tetap saja masih anak-anak," ejeknya. Dengan kesal aku menepis tangannya.

Bibi Jill tersenyum. "Keluargaku turun-temurun menjadi petani di sebuah peternakkan kecil di sebuah desa. Kami berempat hidup bahagia sebelum kedua orang tuaku meninggal dunia. Saat itu aku berumur 15 tahun dan adikku, Mirabelle berumur 14 tahun. Adik sekaligus sahabat ayah membantu kami tapi karena serangan hama yang berkepanjangan membuat kami bangkrut."

Bibi Jill tersenyum murung, semakin larut dalam memorinya.

"Lalu tetangga kami yang memiliki beberapa bar besar melamarku dan membantu kami hingga semua hutang kami terluanasi."

"Apa tetangga bibi adalah paman Skye?"

"Sayangnya, bukan. 3 tahun perkawinan kami tanpa seorang anak membuat suamiku mulai mempertanyakan kesuburanku. Dia tidak tidak ingin percaya bahwa bukan hanya wanita yang bisa mandul dan hal itu membuatnya berlari ke pelukan wanita lain yang masih ada hubungan keluarga dengannya."

"Dan saat itulah aku muncul," sela paman Skye.

"Ya, saat itulah aku bertemu dengan Skye. Dulu Skye adalah pencuri yang sering mencuri di desa kami dan selalu meninggalkan pesan sehari sebelum memulai aksinya."

"Kenapa paman melakukan itu?" kali ini aku yang memotong cerita bibi Jill.

"Karena aku menyukai tantangan. Tidak menarik mencuri permen dari tangan bayi, tahu?"

"Tapi Skye tidak hanya berhasil mencuri beberapa perhiasan, dia juga berhasil mencuri hatiku. Saat suamiku dan wanitanya masuk ke dalam kamar tidurku –aku dan suamiku tidak tidur di kamar yang sama lagi- untuk mengecek keberadaan Skye, aku melindunginya. Sejak malam itu kami berdua menjadi sepasang kekasih dan beberapa bulan kemudian aku hamil, seminggu kemudian wanita suamiku juga hamil."

"Apa dia percaya bayi itu anaknya?"

"Awalnya iya tapi saat Vaughn lahir semua rahasia terbongkar."

Bibi Jill tersenyum sayang sambil bermain dengan rambutku. "Vaughn mewarisi bola mata ungu dariku tetapi warna rambut dan wajahnya banyak berasal dari ayahnya, Skye."

Vaughn. Berambut perak. Bola mata ungu. Tampan. Astaga! Mungkinkah Vaughn yang mereka bicarakan adalah Vaughn ayahku? Apakah mereka kakek dan nenekku? Mungkin saja karena kalau diperhatikan baik-baik, ayah merupakan perpaduan dari dua orang ini.

"Suamiku menceraikanku beberapa jam setelah kelahiranku dan menikahi wanita simpanannya. Dia menyuap hakim untuk memberikan hak asuh Vaughn kepadanya dan melarangku menemuinya. Satu-satunya benda yang mengingatkan kami tentang Vaughn adalah foto yang berhasil Skye curi sehari sebelum mereka sekeluarga pindah ke kota lain."

"Kenapa paman tidak membawa ay-anak paman?"

Paman Skye menggeleng kaku. "Rencananya memang seperti itu. Ternyata mereka memempatkan beberapa penjaga di depan pintu kamar anak. Aku hanya bisa mencuri foto itu." Dari tempatku duduk aku dapat mendengar suara gemeletuk gigi paman Skye. "Andai saja aku tahu malam itu adalah malam terakhirku untuk mendapatkan putraku kembali, aku tidak peduli dengan apapun selain mendapatkan Vaughn."

Untuk beberapa menit tidak ada yang mengeluarkan suara. Kami semua sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

Benarkah kedua orang ini sama? Ayah dan anak mereka adalah orang yang sama. Kalau memang benar, bagaimana perasaan ayah selama ini? Apakah dia tahu tentang orang tua kandungnnya? Apakah ini alasan Ayah selalu waspada kepada orang-orang di sekitarnya?

Aku menghela nafas dengan kesal, bermain dengan liontin di leherku. Apakah aku harus meneruskan rencanaku? Tapi tidak akan ada yang berubah, kan? Dengan atau tanpa kami ayah akan tetap sama.


udah lama ga update, sorry...

aku harap fictionku yang satu ini bisa sampai tamat -_-

thanks buat dukungan selama ini ^^