Disclaimer: Any Original Character are property of myself and All Canon Character are property of the original creators, ENJOY! =D
.
.
Kali ini permasalahan ada pada Monta dan Akeno (sebenarnya lebih ke Akeno), dan tak lupa juga ada kejutan karena tiba-tiba ada aja yang 'main masuk' keruangan klub Enma. Penasaran? Selamat menikmati chapter 10! :p
.
.
Sebulan telah berlalu semenjak Sena diangkat menjadi kapten Enma Fires. Kebijakan-kebijakan baru pun Sena terapkan mulai dari penambahan jam latihan, membuat jadwal latihan yang lebih teratur hingga puncaknya ketika Enma Fires memaksa Keiou Cobras tunduk dihadapan mereka dengan skor telak 89-0 dihadapan publik Universitas Keiou yang tercengang melihat tim American Football kampus yang sudah malang melintang lebih dari 20 tahun digilas habis oleh tim yang baru berumur sebiji jagung.
Enma Fires pun pulang dengan kepala tegak, hal itu membuat kepercayaan diri anggota naik dan mereka optimis akan memenangkan Rice Bowl tahun ini. Sena dan Monta berjalan menuju rumah mereka, seperti biasa mereka berdua asik bergurau dan menyindir satu sama lain, hingga kemudian percakapan tak terduga pun terjadi.
"Monta, dengar-dengar kamu lagi dekat dengan Akeno ya?"
"Hah, tidak kok. Itu karena kita satu kelompok Sena."
"Monta Bohong, kata Karin kalian lagi dekat-dekatnya!"
"Karin? Coba ceritakan padaku apa yang ia bilang"
"Oke oke, tapi sebelum itu kita keapartemenku saja yang lebih dekat biar puas ceritanya." Merekapun pergi menuju rumah Sena. Jauh dilubuk hati Monta ia sebenarnya ingin memberitaukan pada sahabatnya ini kalau hal itu memang benar, ia memang sedang dekat dengan Akeno. Tapi karena ia takut mengatakan hal ini pada siapapun, maka ia hanya bisa tutup mulut.
"Sena, aku tak menyangka apartemenmu sangat nyaman."
"Semua karena bypass yang diberikan Kak Hiruma, walaupun sebetulnya aku tidak ingin memakainya."
"Aku juga ada, dan sudah kupergunakan dengan sangat baik."
"Semuanya pasti memakai bypass yang Kak Hiruma beri.."
"Sekarang ceritakan yang Karin beritau padamu Sena!"
"Hei santai saja Monta. Oke aku mulai ceritanya, dengarkan baik-baik!"
Flashback
Beberapa hari setelah pelantikan Sena sebagai kapten Enma, Karin, Julie, dan Suzuna sedang tertawa riang karena membicarakan banyak hal. Sena yang sedang melintas sesaat berhenti dan mendengar percakapan yang mereka bicarakan.
"Kalian tau tidak kalau Monta sedang dekat-dekatnya sama Akeno?"
"Hah? Jadi rencanaku berhasil ya Karin?"
"Kurang lebih begitu Suzuna Hihihi"
"Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba hal yang sama pada Karin?"
"Ah Julie, jangan langsung bicara didepan orangnya!"
"Kenapa harus aku? Aku masih tidak ingin punya pacar…"
Karena Sena penasaran apa benar yang dikatakan Karin kalau Monta dan Akeno sedang dekat-dekatnya, ia pun mendekat dan duduk disamping Karin dan memotong percakapan mereka bertiga. "Jadi apa benar yang kudengar ini kalau Monta dan Akeno sedang dekat-dekatnya?"
"Ah, kamu bikin kaget aja Sena." Suzuna, Karin, dan Julie pun kaget melihat kehadiran sang kapten baru yang telah duduk disamping Karin. Mereka sempat terdiam dan tak tau harus berbuat apa karena masih tak menyangka bahwa dari tadi Sena sudah mendengar percakapan mereka.
Karena Sena bertanya, maka Karin pun menjawabnya karena dialah yang tau semua cerita mengenai hal ini. "Iya Sena, itu benar. Jadi Akeno dan Monta sedang duduk berduaan dan saat aku melintas mereka seperti menutupinya, seru deh melihat tingkah laku mereka! Hihihi!","Giliran melihat orang berdekatan senangnya bukan main, giliran sendirinya berduaan sebaliknya. Huh dasar!" Kata Suzuna sambil menyenggol bahu Karin dan mereka pun tertawa kecil.
End of Flashback
"Jadi begitu ya Sena?"
"Kurang lebih begitu."
"Ya sudah, aku pulang ya." Monta pun memalingkan wajah dari Sena, Sena pun bingung dengan sikap sang receiver dan mencoba mengecek keadaan sahabatnya ini. "Sepertinya dia malu karena rahasianya terbongkar" katanya dalam hati, setelah melihatnya dengan seksama ternyata benar seperti dugaan Sena.
Monta pun melihat kearah Sena "Apa sekarang kamu puas Sena? Melihat rahasia temanmu terbongkar dan sebentar lagi akan menyebar luas!" tiba-tiba saja nada bicara Monta naik dan tangan Monta sudah mengepal dengan kerasnya, Sena pun bingung harus berkata apa pada sahabatnya ini. Namun disaat heningnya suasana tiba-tiba saja terlintas kata-kata yang cocok untuk sahabatnya ini. "Kamu bukan temanku, tapi sahabatku Monta!"
Monta pun terdiam mendengar perkataan sang kapten baru Enma Fires ini, kemudian Sena melanjutkan perkataannya "Seorang sahabat sejati pasti akan mendukung kawannya, disaat senang maupun duka. Aku pasti akan mendukungmu!" Kemudian Monta kembali terhenyak dalam suasana malam yang dingin.
"Maaf, Sena.." Monta pun memakai sepatunya dan bersiap untuk pulang kerumahnya, tapi sebelum Monta meninggalkan apartemen Sena, iapun memukul pelan bahu Monta dan berkata "Untuk apa kamu meminta maaf? Hahaha!" kemudian mereka berdua tertawa kecil dan Monta pamit pulang pada Sena.
.
.
Keesokan harinya, Sena pun bergegas menuju Kampus dengan berlari menggunakan teknik 'Devil Bat Ghost' agar kecepatannya bertambah sehingga waktu tempuh dari apartemen menuju Kampus menjadi lebih cepat. 2 menit telah berlalu dan Sena hampir sampai di depan gerbang Kampus, namun diluar perhitungan Sena, melintas seorang perempuan yang sedang memegang buku-buku hendak masuk ke Kampus.
*Brak!*
Terdengar suara tabrakan yang sangat kencang, sehingga orang-orang disekitar gerbang langsung menengok dan membantu Sena dan sang perempuan yang ditabrak oleh Sena secara tidak sengaja. "Kamu tidak apa-apa sayang?" terdengar seorang mahasiswa yang berusaha membangunkan sang perempuan tersebut, kemudian Sena seolah-olah mendapat serangan jantung, ternyata yang ia tabrak adalah Akeno.
"Sayang? Akeno sudah punya pacar?"hanya itu yang terlintas dalam pikirannya, ia pun langsung menghampiri Akeno. "Akeno, maaf aku menabrakmu!" Kata Sena dengan sangat formalnya, Akeno pun sesaat melihat Sena yang membungkukkan badannya dihadapan dirinya. "Ah tak apa kok kapten. Aku tak menyangka kapten kalau berlari, larinya sangat kencang" Jawab Akeno dengan senyuman yang membuat para lelaki jatuh hati.
"Ayo sayang, aku antar kamu ke ruang medis ya?","Iya.."akhirnya Akeno dan si mahasiswa misterius itu pun berjalan dengan tertatih-tatih menuju ruang medis yang dimaksud. "Aku harus bilang Monta soal ini." Pikirnya lagi dalam hati dan ia pun bergegas menuju kelasnya hari ini.
Sesampainya diruangan kelas, Sena langsung segera mencari Monta. Dan ternyata Monta sedang bersama Riku dan Mizumachi sambil tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon yang Mizumachi buat, lalu ia berkata dalam hati, "Seandainya Monta tau kalau Akeno itu punya..", Tiba-tiba datang Suzuna yang memeluknya dari belakang.
"Sena! Kamu kenapa bengong didepan pintu kelas? Kangen aku ya?" Suzuna bertanya pada Sena sambil memberikan senyuman manisnya pada Sena, "Ah iya aku kangan sama kamu, habisnya kita sama-sama sibuk di kesibukan masing-masing sih Hehehe" Jawab Sena sambil memegang tangan Suzuna dan menariknya untuk duduk bersama.
.
.
Setelah jam pelajaran kuliah selesai, Sena berusaha untuk memberitau Monta terkait dengan kejadian tadi pagi saat dirinya menabrak Akeno secara tidak sengaja. Dan akhirnya ia menemukan sahabatnya ini, dan ia makin bingung ketika Monta dan Akeno sedang duduk berduaan sambil membuka buku catatan berwarna hitam yang Sena yakini adalah milik Akeno.
Sebetulnya mau-mau saja dia melabrak Akeno dan menceritakan kejadian tadi, tapi karena tidak ingin merusak suasana Sena pun pergi meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju ruangan klub. Sesampainya diruang klub, Sena mengintip dari jendela pintu dan ia melihat Utsoshi dan Shanen terlihat sedang berdiskusi kecil sambil duduk santai.
"Kalian sedang apa?" Tanyanya sambil menutup pintu dan menurunkan tas selempangnya dimeja. "Oh ternyata yang masuk si Kapten baru kita!","Ayo kemari Kapten ikut diskusi kecil-kecilan kami!" ajak Shanen sambil menyiapkan kursi untuk Sena, dan diskusi kecil-kecilan mereka berlanjut.
"Jadi kalian tadi sendang membicarakan apa?"
"Tadi itu kita sedang membahas tim-tim peserta U' League"
"Ya, seperti yang dikatakan Utsoshi. Tadi itu kita sedang membahas kekuatan defense Ojo Silver Knight."
"Apa ada kabar dari Shin dan rekan-rekan ku di timnas U-17?"
"Ya! Tentu saja ada, ini.." Kemudian Shanen memberikan majalah Monthly American Football edisi terbaru yang ia beli pada Sena. Sekilas Sena membaca headline dan ia terkejut melihatnya,
"Ojo menerima tawaran pertandingan persahabatan melawan Universitas Kaiserlautern? Apa ini betulan?"
"Ya, ini ada sekmen wawancara eksklusif dengan Sakuraba. Biar aku bacakan.." Utsoshi pun mulai membaca percakapan sang reporter dengan Sakuraba,
"Sakuraba, bisa anda jelaskan persiapan Ojo Silver Knight menghadapi salah satu tim elit Eropa yang terkenal dengan kekuatan Offensenya yang disegani?"
"Untuk itu kami tidak gentar, karena titik kekuatan kami adalah Defense."
"Umm, persiapannya?"
"Oh iya aku lupa, untuk persiapan tidak ada latihan khusus yang kami dapatkan dari pelatih sampai sejauh ini, sehingga sepertinya kami akan bermain sebagaimana Ojo Silver Knight bermain. Itu saja"
"Siapa pemain yang anda anggap berbahaya dari tim Universitas Kaiserlautern?"
"Dari hasil pengamatanku dan rekan-rekan, yang kami waspadai adalah receiver mereka Mario Grosskrutz"
"Apa yang membuat anda dan rekan-rekan mewaspadai Mario Grosskrutz?"
"Dia mampu membaca situasi defense lawan dan dengan instingnya dia akan menentukan sendiri rute passnya."
"Menurut perkiraan anda, sekuat apa Mario Grosskrutz apabila dibandingkan dengan para pemain dari U' League?"
"Menurutku, dia itu seperti kombinasi antara teknik Manabu Yukimitsu dari Shuuei Doctor Fishes dan Raimon Taro dari Enma Fires."
"Apa alasan anda?"
"Karena Mario Grosskrutz ini memiliki kemampuan menentukan rute passnya sendiri layaknya teknik 'Option Route' milik Manabu Yukimitsu dan tangkapannya sangat mirip dengan teknik 'Devil Back Fire' milik Raimon Taro"
Mereka bertiga pun terpukau dengan kemampuan orang yang Ojo Silver Knight waspadai, kemudian diskusi kecil-kecilan merekapun berlanjut.
"Wah wah, seram juga ya Mario ini."
"Jika Quarterbacknya Karin, Mario itu pasti tak terkalahkan!"
"Ya, karena Karin memakai teknik 'Floral Shoot' yang sangat disukai oleh para receiver karena dengan pass seperti itu bola akan mudah ditangkap"
"Haha benar yang dikatakan Sena, sangat mudah menangkap pass dari Karin. Oiya, bukan Ojo saja yang akan melakukan pertandingan persahabatan melawan tim dari luar Jepang."
"Siapa lagi?"
"Saikyoudai Wizard"
"Melawan siapa Utsoshi?"
"Disini ada kok, mereka akan melawan Universitas Marseille"
"Marseille? Aku belum pernah dengar nama itu.."
"Saikyoudai mendapat undangan pertandingan persahabatan dari Marseille, kaptennya yang kita semua sudah ketahui itu pasti akan menerimanya dan menambah daftar buku ancamannya serta menambah jaringannya di Eropa."
"Kamu kenapa berpikiran segila itu Utsoshi?"
"Kapten kan sudah 2 tahun satu tim di Deimon sama Hiruma, masa tidak tau kebiasaannya.."
Namun diskusi kecil mereka terhenti ketika Sena dan Shanen mendengar ada seseorang yang asal membuka pintu ruangan klub tanpa permisi terlebih dahulu, kemudian orang itu berkata, "Selamat sore Enma Fires." Mereka bertiga menoleh kearah pintu dan alangkah terkejutnya mereka, bagaimana tidak terkejut ketika mengetahui bahwa yang membuka pintu ruang klub adalah Rektor Universitas Enma.
"Silahkan pak duduk." Sena menawarkan kursi pada sang Rektor, kemudian mereka semua pun duduk dan kali ini terjadi diskusi yang sangat seru,
"Maaf saya kesini mengganggu kalian, tapi ada beberapa hal yang ingin saya ketahui tentang Enma Fires."
"Oh iya pak tidak apa-apa, tapi bapak kenapa kesini? Keruangan klub kami yang bisa dibilang kecil ini?"
"Begini Sena, saya ingin menanyakan beberapa hal. Mohon dijawab dengan sejujur-jujurnya"
"Baik pak."
"Kapten Enma Fires sekarang siapa?"
"Sena pak, beberapa waktu lalu Unsui menunjuknya"
"Begitu ya Utsoshi, selanjutnya yang ingin saya tanyakan, apa keuangan klub stabil?" Kemudian Shanen beranjak dari tempat duduknya dan mencari data keuangan Enma Fires di lemari berwarna cokelat yang terletak disudut ruangan.
"Ah iya pak, bisa dicek disini kalau keuangan tim kami saat ini masih stabil"
"Hmm, statistik hasil pertandingan Enma Fires sudah sampai sejauh apa?"
"Dari tahun ajaran baru, kami sudah melaksanakan 3 pertandingan persahabatan melawan Koigahama Cupids, Kaijima Bulldogs, dan terakhir melawan Keiou Cobras. Hasilnya kami menang disemua pertandingan persahabtan yang kami jalani"
"Dan pertanyaan terakhir, apa kalian memiliki lapangan sendiri? Berhubung masih ada tanah kosong yang belum diberdayakan."
Mendengar pertanyaan itu, mereka bertiga sangat senang karena menurut mereka, mungkin jika mereka bilang Enma Fires belum punya lapangan sendiri, pasti akan dibuat. "Kami belum punya lapangan sendiri pak, selama ini kami menggunakan lapangan serbaguna dan terkadang menggunakan tanah kosong dan memasang tiang gawang sendiri"
"Begitu ya, baiklah kalau begitu saya pamit dulu. Sena, Utsoshi, dan Shanen, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena sudah mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya"
"Iya pak sama-sama"
Kemudian sang Rektor keluar dari ruangan klub Enma Fires. Sesudah ia keluar, mereka masih tak menyangka bahwa yang masuk tadi adalah Rektor mereka. Sena pun memecah keheningan sambil mengelus dadanya dan berkata "Semoga saja pak Rektor akan membuat lapangan sendiri untuk Enma Fires!"
"Kuharap begitu. Ayo kita pulang, sekarang sudah hampir malam." Ajak Shanen sambil merapihkan ruangan klub. Kemudian mereka bertiga berpisah ditengah jalan dan Sena kali ini berjalan sendirian di area pintu gerbang Enma, begitu banyak yang ia pikirkan mulai dari Akeno dengan sang mahasiswa misterius hingga rencana apa yang akan sang Rektor buat setelah mendengar jawaban dari mereka bertiga.
Setelah beberapa menit berjalan menuju apartemen, Sena teringat dengan Suzuna dan ia memutuskan untuk pergi kerumahnya mengingat rumah Suzuna searah dengan apartemen Sena. "walaupun tadi sekelas tapi rasanya seperti tak bertemu dengannya beberapa minggu." Ia pun melangkahkan kali menuju rumah Suzuna.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba saja Sena dilempari botol kaleng. "Aww! Sialan, siapa yang melempariku malam-malam begini?" Sena pun melihat sekitar, tidak ada orang di jalanan. Hanya seekor kucing Persia yang tertidur, spontan dirinya teringat dengna masa lalunya. "Aku jadi ingat kucingku dirumah" Sena pun tersenyum dan mengenang kejadian-kejadian konyol yang ia buat bersama kucingnya sambil berjalan menuju rumah Suzuna.
.
.
"Suzuna, aku bingung"
"Kenapa kamu bingung? Tak biasanya kalau bingung curhatnya ke aku."
"Maaf kedengarannya seperti hanya membutuhkanmu disaat seperti ini, tapi aku serius"
"Yasudah, kamu mau curhat masala apa?"
"Masalahku dengan…" Belum selesai dia bicara, ternyata bel rumah Suzuna berbunyi. Suzuna kemudian beranjak dari kamarnya dan hendak turun untuk membukakan pintu, "Suzuna, ini aku" seolah tau siapa yang datang ia pun dengan segera membukakan pintu. "Sena!" kemudian mereka saling berpelukan, diantara mereka berdua taka da yang mau melepaskan pelukannya hingga suatu ketika. "Akeno?!"
"Ahh, Kapten selamat malam."
"Maaf Suzuna, tapi aku harus mengklarifikasi kejadian tadi pagi."
"Sena, kamu bicara apa sih?"
"Akeno, yang tadi pagi itu siapa?"
"Jadi kapten tau siapa ya.. ya baiklah kalau begitu, Kapten bisa duduk bersama di kamar Suzuna karena sebetulnya aku kesini karena ingin curhat dengan pacar kapten." Sena yang mendengar tawaran dari Akeno langsung mengiyakan tanpa persetujuan dari Suzuna, namun karena Suzuna mulia mengerti apa yang sebenarnya terjadi kemudian mengajak mereka berdua kekamarnya untuk mendengar penjelasan dair Akeno.
Sesampainya dikamar, mereka bertiga duduk di kasur Suzuna yang sangat besar, "Suzuna, kamu dapat kasur sebesar in karena menggunakan itu ya?" Tanya Sena pada pacarnya, Suzuna hanya mengangguk sambil tersenyum pada pacarnya. Kemudian Sena melihat kearah Akeno dan berkata "Sekarang, tolong jelaskan semuanya Akeno"
"Tadi pagi itu sebetulnya adalah pacarku, nama lengkapnya Kokatsuna Rogashi tapi ia dipanggil Naro."
"Bukannya dia terkenal dengan nama Tatsujin dari angkatan atas?"
"Memang iya Suzuna, tapi yang sepantaran dengannya memanggilnya Naro"
"Tapi kenapa waktu di bis saat kamu berduaan dengan Monta kamu bilang kamu suka padanya?"
"Maaf kapten, aduh masalahnya jadi rumit deh"
"Kenapa malah jadi rumit?"
"Bagaimana tidak Suzuna, aku menyayangi Monta!"
"Lalu kenapa kamu masih mau pacaran dengan dia?"
"Karena aku diancam olehnya kapten"
"Diancam? Diancam bagaimana maksudmu?"
"Sejujurnya aku sudah bilang kalau aku tidak menyayanginya lagi, tapi dia malah mengancamku dengan pisau saat aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya"
"Kamu tau alasannya apa?"
"Dari yang kudengar, dia suka padaku bukan karena sayang padaku melainkan karena tubuhku ini"
"Aduh dasar mata keranjang orang itu, Huh! bikin sebal saja!"
"Sekarang bagaimana? Tolong bantu aku!" Kemudian air mata perlahan-lahan mulai membasahi pipi Akeno, dan Akeno menangis tersedu-sedu karena tak kuat menahan rasa yang ada didadanya. Suzuna mencoba menenangkan Akeno perlahan-lahan.
Sena sesaat terdiam, menyesal karena sudah menuduh Akeno bahwa ia hanya mempermainkan sahabatnya sejak satu SMA di Deimon. Kemudian Sena memikirkan bagaimana caranya dia bisa membantu, sangat kasihan memang mendengar status hubungan Akeno yang sekarang, dia berpacaran dengan orang yang sudah tidak disayanginya tapi orang itu malah mengancam jika ia mengakhiri hubungan maka bisa jadi ia diperkosa oleh Tatsujin itu.
Lalu Sena tersenyum sendiri dan Suzuna yang melihatnya tersenyum sendiri bertanya pada pacarnya ini, "Sena, kamu sedang gila ya? Akeno bersedih kamu malah senyum sendiri", "Akeno, dia itu berandalan kampus kan?" Tanya Sena pada Akeno yang mulai tenang, "Iya kapten, memangnya kenapa?","Mungkin aku akan mencoba meminta bantuan dari teman lama kita Suzuna"
"Siapa?" Akeno dan Suzuna bertanya secara bersamaan pada Sena, Kemudian Sena balik bertanya tapi kali ini sambil tersenyum kecil dan penuh percaya diri.
"Siapa lagi teman kita yang bisa melakukan itu?"
.
.
.
Pasti tau siapa yang Sena maksud kan? Jadi penulis tak perlu menjawabnya ya! :D
Don't be a silent reader dan mohon RnR dari kalian agar saya bisa belajar dari kesalahan yang ada!
Terimakasih!
