Akashi POV

Aku bertemu dengannya saat duduk dibangku SD tepat setelah berpisah dengan adikku. Kami bertemu ketika bermain di taman dekat sekolah.

Gadis pendiam yang sangat mencolok, wajahnya datar, dia selalu dikelilingi banyak orang. Rambutnya yang berwarna light blue menari mengikuti hembusan angin.

Mata saphirenya membuat suasana membeku, namun dia selalu dikelilingi oleh orang-orang. Bagaikan matahari yang berada di kutub utara. Dia juga sangat mirip adik lelakiku, kembaranku, Akashi Seiji. Namaku adalah Akashi Seijurou, anak pertama dari keluarga Akashi.

Aku pergi bersama ibuku ke Tokyo untuk menyembuhkan penyakit yang di deritanya. Sedangkan adikku tinggal bersama dengan ayahku di Kyoto.

Kami sangat mirip, yang membedakan hanyalah warna mata kami. Sifat dan kepribadian kami juga berbeda, ini mungkin akibat dari perbedaan lingkungan. Walau ibuku sakit, namun dia selalu lembut terhadapku. Dia selalu memberikan senyuman hangat untukku. Sedangkan Seiji, dia selalu mendapat perlakuan dingin dari ayah kami. Dia dituntut untuk menjadi yang nomor satu, selalu, dan selalu menjadi yang nomor satu.

Gadis kecil yang memiliki sifat sama sepertinya, gadis kecil yang menarik perhatianku, dan gadis kecil cinta pertamaku, telah mengubah hidup adikku.

Aku tak tahu kapan, dimana, dan bagaimana mereka bertemu. Yang kutahu adik lelakiku terlihat sangat hidup ketika menceritakan sosok gadis itu.

Aku pernah melihatnya sekali bersama dengannya. Wajahnya sangat berbeda ketika berada di depan orang-orang. Sifatnya juga lambat laun berubah, dia yang tadinya egois dan penuntut, begitu menuruti kemauan yang gadis itu katakan.

Gadis yang selalu berwajah datar itu juga menunjukkan ekspresi yang sangat mengagumkan.

Hanya ketika bersama dengan adikku, ia bisa tersenyum, dan tertawa. Itu adalah pertama kalinya dan kesekian kalinya aku melihat senyumnya.

Semakin sering mereka berdua, semakin sering senyum terlukis di wajah keduanya. Hal itu selalu membuatku iri, aku pernah berpikir 'seandainya lelaki itu adalah aku'. Namun itu semua takkan pernah terjadi. Ya, takkan pernah terjadi bila kejadian itu tak terjadi.

Jika saja aku ada di sana malam itu. Seandainya aku bisa mengulang waktu, maka senyum keduanya takkan pernah pudar.

Malam itu, ayah dan Seiji bertengkar hebat, mereka bertengkar sampai-sampai membuat Seiji lepas kendali. Ia menyakiti ayah, dan pergi dari rumah.

Setelah kejadian mengerikan itu, lama-kelamaan Seiji berubah seperti dulu. Tidak, bahkan lebih parah. Kesempurnaannya dalam segala hal mulai tak tertandingi. Bahkan hal itu berhasil mengalahkan cintanya pada basket dan kekasihnya, Tetsuna.

Suatu hari dia telah melukai perasaan rekan-rekan timnya, yang termasuk Tetsuya, kakak lelaki Tetsuna.

Bahkan dia berhasil membuat gadis yang sangat lugu, gadis yang jarang tersenyum dan mulai membuka hatinya ketakutan.

Hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat gadis yang adikku cintai terpukul. Dia sangat tertekan, dia sangat ketakutan, dia sangat sedih, dia sangat kecewa, dan dia menangis dengan air mata mengalir deras dari pelupuknya.

Hari itu juga, aku melihat wajah adikku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi yang menunjukkan 'Akulah nomor satu' atau bahkan 'Kau harus tunduk padaku.

Setelah kejadian menyakitkan itu, tak ada seorangpun yang dapat mengubah hatinya kembali.

Tetsuna berusaha membujuknya, namun percuma. Ia bukan takut melainkan khawatir, ia juga tak bisa melawan kata-kata Seiji.

Begitu juga denganku, setiap kali aku membujuknya dia selalu membandingkan lingkungan hidup kami yang berbeda. Dan jawaban itu selalu membuatku terdiam membisu.

Sore hari saat musim panas, kejadian tidak menyenangkan kembali terulang.

Bagaikan debur ombak yang menyapu bersih pasir di pantai. Sama seperti kejadian itu yang begitu saja menghapus sekaligus menambah semua penderitaan.

Seiji tewas dalam insiden kecelakaan, dia berusaha menyelamatkan seekor anak kucing. Aku salah bila mengira dirinya berubah. Dia tak berubah sama sekali, tidak.

Bahkan aku bisa menemukan sebuah bingkisan untuk Tetsuna yang berisi sepucuk surat dan sebuah kalung berbandul kucing hitam.

Aku menyuruh temannya untuk memberikan bingkisan itu padanya. Aku terlalu takut untuk melihat ekspresi sedihnya sekali lagi. Aku menghindarinya namun tuhan berkehendak lain, lagi-lagi aku diperlihatkan oleh pemandangan dimana dia lebih terpuruk dari sebelumnya.

Sangat terpukul hingga membuat dirinya sendiri jatuh sakit, untuk waktu yang lama. Setelah siuman entah bagaimana ceritanya namun Tetsuna melupakan semuanya.

Dokter bilang itu adalah penyakit yang jarang terjadi akibat rasa terkejut dan tak mau menerima keadaan yang menimpanya. Tetsuna melupakan Seiji, basket, dan semua yang pernah singgah di hatinya. Oleh karena itu orang-orang sekitarnya berusaha membantu untuk menumbuhkan ingatannya kembali. Namun sangatlah sulit bila melihat gadis yang polos itu kesakitan.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi Seiji, aku memang kakak yang buruk." Kataku, aku sungguh takut untuk melihat ekspresi wajahnya. Aku sangat takut bila dia kesakitan ketika mengingatnya. Namun yang terjadi sangatlah di luar dugaan.

Air mata terjatuh dengan lembutnya membasahi pipinya yang kering.

Kedua mataku membulat sempurna, dia menggenggam erat tanganku. Wajahnya tertunduk, tubuhnya gemetar, isak tangis lembut terdengar dari bibirnya.

"Seiji..." Panggilnya, dia terlihat sangat terpukul. Semua ingatannya sepertinya telah kembali. Aku ingin menyentuhnya, memeluknya namun kenapa rasanya sungguh berat. Aku mengurungkan niatku dan hanya terdiam.

"Seiji..." Tiba-tiba saja dia menjatuhkan kepalanya pada tubuhku. Aku sangat terkejut, ia meronta kesakitan seperti bayi. Hal ini membuatku semakin merasa bersalah.

Perlahan-lahan aku memberanikan diri membalas pelukannya. Saat memeluknya, air mata semakin jatuh dari pelupuk mata Tetsuna.

Gadis itu bukanlah otaku, dia hanyalah gadis biasa yang kebingungan harus pergi kemana. Gadis yang tidak sepenuhnya lupa, karena sebenarnya dia mengingat apa yang berharga bagi dirinya. Dia bisa mengingat sesuatu yang berharga bagi orang yang dicintainya.

Akashi Seiji, 15 tahun seorang otaku yang memiliki perhatian bagi para fujoshi.

Itulah yang membuatku mengetahui semua hal-hal berbau anime, manga, dan game. Karena adikku aku bertemu dengan gadis yang selama ini selalu ada di hatiku.

"Jaga dia seperti kau menjagaku, kakak. Tidak... Mungkin kakak akan selalu membuatnya bahagia, karena kakak memang cocok membuat dirinya tersenyum." Itulah kata-kata yang pernah adikku ucapkan.

Aku hanya ingin mengganti apa yang tertinggal baginya. Tapi aku sadar aku takkan pernah bisa menggantinya. Oleh karena itu, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.

Setelah keadaannya cukup tenang, Tetsuna masih tak beranjak. Dia menyembunyikan wajahnya pada tubuhku.

"Kenapa kalian menyembunyikannya? Apa Seiji yang menyuruhnya?" Tanyanya dengan sedikit isakan.

"Tidak, bukan. Kau selalu kebingungan dan kesakitan bila kita mengungkap nama itu. Hal itu semakin membuat kami berat dan lambat laun justru membantumu melupakannya." Balasku.

"Namun, Tetsuna... Ingatlah, kau tidak sepenuhnya melupakannya. Karena dirimu yang sekarang ada karena dia. Kau tidak melupakan apa yang menjadi kesukaannya. Kau terhubung dengan basket karena dirinya." Ucapku sembari mengusap rambutnya.

Ia terus menyalahkan dirinya dan berharap jika saja waktu bisa diulang kembali, maka aku tidak bisa memelukmu seperti ini.

"Apa kau pacaran denganku karena dia? Apa kau mendekatiku karena permintaannya? Apa semuanya hanya pura-pura?" Tanyanya kembali, kali ini sorot matanya begitu tajam menatapku.

"Tidak. Aku bertemu denganmu secara kebetulan, seperti saat pertama kali di loker. Aku juga mengajakmu pacaran, karena aku memang mencintaimu." Balasku mantap. Dia terlihat sangat terkejut, kedua kelopak matanya membulat.

"Kau mungkin lupa, namun kita pernah bertemu sebelumnya. Waktu itu di taman dekat sekolah, aku melihatmu menangis sendirian di bawah lorong tempat bermain." Kataku, mencoba mengingatnya.

"10 Tempat Rahasia Tetsuna yang pertama itu di sana kan?" Aku tersenyum lembut menatapnya. Tiba-tiba saja dia kembali menitikkan air mata dan memelukku.

Hal ini semakin membuatku terkejut, aku merasa berdosa pada adikku. Namun aku hanya ingin jujur padanya dan diriku.

Aku ingin mengutarakan perasaan dan cintaku padanya.

"10 Tempat Rahasia Tetsuna yang kedua ada di sini. Di dalam dekapan Akashi Seijurou." Ucapku kembali, dia mendekap diriku semakin erat.

Aku melepasnya dan menyentuh wajahnya dengan lembut.

"Aku mungkin kakak terburuk sepanjang masa, namun aku tak bisa menahan perasaan ini. Tetsuna, aku benar-benar mencintaimu." Tambahku dengan senyuman tulus, air mata Tetsuna kembali terjatuh. Aku mendekatkan wajahku dan mulai mencium bibir kecilnya.

Dia tak menolak dan justru memejamkan matanya. Kami berbagi perasaan yang sama dengan dera angin sore musim panas yang begitu lembut.

"Apa kau akan pergi meninggalkanku sama seperti Seiji?" Tanyanya dengan nada memelas.

"Tidak akan pernah, jangan pernah takutkan apapun lagi. Aku ada di sini bersamamu." Balasku membelai lembut rambutnya.

Dia tersenyum lembut, kami saling menyatukan kening dan tertawa bersama. Aku pikir dia akan menolak semuanya, namun ternyata salah. Dia bisa menerimanya dengan cepat.

"Ngomong-ngomong kenapa kau bisa menerimanya dengan cepat Tetsuna?" Tanyaku padanya.

"Aku sempat tak percaya, namun ingatanku sebelumnya telah kembali. Dan, ada Akashi-kun di sampingku. Aku selalu mempercayaimu." Senyum lembut kembali menghiasi wajahnya.

Seiji, apa aku boleh menjaganya? Apa aku boleh melihatnya tertawa dan tersenyum? Apa aku boleh membuatnya bahagia? Apa aku boleh berada di sisinya?

Yah walau kau tak membalasnya, sepertinya aku tahu jawabanmu. Karena kita dua tapi satu, dan karena kita mencintai gadis yang sama. Benar kan?

Adikku yang merupakan lelaki sempurna melampiaskan dirinya pada hal bodoh tak berguna, yaitu anime. Dia sangat bodoh hingga menghamburkan uangnya untuk hal tak berguna seperti itu. Mengasingkan diri dari dunia luar dengan senyum sadisnya.

Tertutup dan cenderung berimajinasi akan sesuatu yang tak bisa terjadi.

Namun, karena hal itu pula dia bisa menemukan orang yang sangat mencintainya sepenuh hati. Hal itu pula yang membuatnya bisa dengan mudah berbagi rasa kesepiannya. Dan hal itu juga yang bisa membuat dua hati bersatu dengan berjalannya waktu.

Seiji pernah bilang...

"Cinta itu sukar dipahami, apalagi untuk orang seperti diriku yang memiliki hobi berlebihan seperti ini. Namun, sekali menemukannya. Kau akan tetap mempertahankannya, walau harus membaginya sebanyak apapun. Cinta itu akan tetap menang. Yah aku otaku, apa itu cinta aku tak peduli." Dia berkata seperti itu dengan wajah puasnya, cengiran yang begitu bahagia.

Okeeeee final chapter here! Boom! /nak

Ceritanya terlalu terburu-buru ya? Maapkan ya, saya rerah dari kemarin lagi overtime mulu kerjanya jadi harus lembur :") dan ini dibuat karena gak tega juga kalau mesti ditunda2 kek dulu wkwkw /jahatkamu

Btw terima kasih untuk semua yang sudah setia menunggu dan membaca sampai dengan selesai! Otsukareee -/\-

Terima kasih untuk kalian2 yang sudah review, follow, dan bahkan fav cerita gaje ini. Aku padamuuu 3 /nyet

Eh iya masih ada extra chapter sebenarnya, kencannya Akashi sama Tetsuna tapi kapan2 aja deh yaaa ngehee /woi

Duh banyak omong diriku ini, btw ada yang fandom magi kah? Diriku sedang tak bisa lepas dari fandom laknat itu, dan banyak bikin fanfic tentang otp2 tercintaku di sana. itulah yang menyebabkan keterlambatan fic ini juga...

GAK BISA MOVE ON DARI MAGI PADAHAL PENGEN /santenak

Maaf yah gak pernah bales review kalian, tapi bener deh terima kasih sudah mau review dan memberi semangaat.. Kalian sumber kekuatanku dari bulan! /alaykamu /udahnak

Oke sampai sini dulu, tunggu kisah Akakuro lainnya ya... Ada ide sebenarnya tapi selalu buat fandom sebelah jadi sedih, buat aku move on dong biar bisa ke knb lagi *nangis*