Kembale lageeeee! *dilempar vas bungga ama Aupu* lanjut yak?

Thanks for the tip! *plakk!* I mean, review!

Jiangxinniang:

Kemoceng? Kalo kemoceng mah... Mana bisa perang! ntar mala cuma bawa luka pulangnya... ^^''
Selanjutnya akan membuat anda penasaran... Thanks for read, and reviews!

ScarletAndBlossoms:

Oh... wa pikir Gaje... cocok ama kisahnya? thanks lho! oke, lanjutkan! *dilempar vas bungga lagi* =,=''
Selanjutnya kemungkinan akan membuat kamu penasaran... Thanks for read, and reviews!


Games: Dynasty Warriors, belong from KOEI
Chapter 10: gawat!
Gendre: Friendship & Adventure
Rate: T (ntar diturunin lagi ga yah...? ^w^)
Chara: Jiang Wei
Summary: menangis di depan seseorang bisa dikatakan, aku ini pengecut... Tetapi, aku tidak bisa menahan rasa sedih dan ketakutan yang kuterima. kalau saja aku tidak disini, aku tidak akan melihat tragedi ini...

.

.

.

Aku mencoba tenang, tetapi air mataku tetap saja jatuh tumpah tumpah. Pembunuhan? apakah aku sudah gila? aku benar benar melakukan pembunuhan yang bisa membuat nama baik keluargaku hancur! tetapi, tidak ada yang tau, aku disini...

Sima Yi menatapku dengan serius, dan tiba tiba berdiri menyapu kotoran dibajunya, dan mengambil kipasnya yang terseret di depanku. Tiba tiba dia menaiki daguku membuatku sedikit kaget.

"Saya mengaku kalah, anggaplah ini semua, kemenangan milikmu"

Kata Sima Yi, hanya itulah. Aku agak kaget, dia menyerah? berarti, berarti, berarti... kami menang? benarkah? apa aku bermimpi? tidak, aku tidak bermimpi aku benar benar menang! hebat... aku mulai tersenyum dan berterima kasih padanya. aneh bukan? padahal musuh malah berterima kasih. tetapi, aku benar benar sangat senang!

Aku melihat semuanya mulai sadar sesaat aku melihat kebelakang, mereka memegang kepala mereka dan bertanya padaku, dan yang sangat khawatir adalah Nona Yue Ying yang menghampiriku sambil menguncang guncangkan badanku. mungkin dia khawatir karena cuma seorang dirikulah yang selamat dan bertarung dengan Sima Yi...

"Kamu tidak apa apa? Nona Fong!?" tanya Yue Ying menuruni alisnya dan tetap menguncang guncangkan badanku.

"I... i... iya, aku baik baik saja, dan... kita menang! berkat kalian semua!" jawabku tersenyum bangga.

"Bukankah ini semua karena dirimu?" tanya Jiang Wei memegang kepalanya.

"Em... kelihatannya memang aku yang memenangkan, tapi... aku bisa menang, karena kalian! kalianlah yang mengajariku percaya diri, dan... tenang"

"Nona Fong, apa kamu melepaskan panah dengan tenang? jangan terburu buru!" lagi lagi Guru Huang Zhong memperingatiku...

"Aku tau itu! tenang saja!"

"Anda... hebat... saya... juga..." Wei Yan menambah.

"Ya, anda sangat hebat!"

"Ayo, kita pulang ke Istana Bai Di, dan mengatakannya pada Yang Mulia Liu Bei!" kata Jiang Wei.

Akupun turut senang, mereka ternyata hebat sekali bukan? walau aku yang memenangkan, ini juga berkat usaha mereka! dan... disini juga tidak ada kalung itu... dimana yah? apa terjatuh di tangan seseorang? sudahlah, pikirkan itu nanti... aku berdiri dan tiba tiba terjatuh lagi.

"Ugh..."

"Nona Fong, kamu baik baik saja?" tanya Yue Ying khawatir.

"Ya, ya, ya... aku baik baik saja, tidak perlu mempedulikanku!" jawabku.

"Mana bisa begitu, mari kamu kuantar sampai kapal" kata Jiang Wei mengendongku.

Aku hanya bisa tetap diam, beginilah rasanya kakak adik... sangat menyenangkan... coba kalau aku punya kakak, tetapi, mana mungkin... aku mencengkram baju dipunggung Jiang Wei dan menghela nafas. tiba tiba Jiang Wei menoleh kebelakang.

"Kenapa? malu yah?" tanyanya membuatku blushing.

"Ti... tidak! siapa yang malu? aku tidak malu!" jawabku menoleh ke samping. menyembunyikan wajah merahku ini.

"Kalau malu, ya malu saja..."

"Ugh..."

Pikirannya tepat dan membuat wajahku memerah semerah kepiting rebus. selalu saja tepat... Ugh... tapi, aku memang menantikan saat saat seperti ini...

Sesampai kami semua dikapal, aku dituruni di pojokan kapal, Jiang Wei mengusap ngusap rambut hitamku yang akan membuat rambutku berantakan (?). dia seperti menganggap diriku sebagai adik atau anak kecil... ya, tapi aku memang anak kecil sih, itu bukan artinya umurku dengannya beda jauh!

"Apa?"

"Hanya memujimu, kamu hebat. Bertarung sendiri"

"Ya... terima kasih kembali"

"Hem? buat apa?"

"Telah berlatih denganku! dan semua kebaikanmu selama ini!"

"Ya, itu bukan apa apa, tapi, ucapan terima kasih, diterima"

Jiang Wei hanya mengucapkan begitu padaku, dan pergi membantu pelayaran. Aku melihatnya dari sini, dia sangat tekun, pintar, dan intelek. walau begitu, aku tidak bisa menyukainya, karena perasaan suka ku ini tidak akan terbalas, kau tau dia menyukai wanita penjual bungga itu... pasti, aku akan ditolak...

Sesampai ke Istana Bai Di, kami semua turun. aku sudah bisa berjalan sedikit sedikit, walau sedikit sakit setiap kali berjalan... tetapi, yang pasti bukan patah!

Jiang Wei masuk ke Istana Bai Di, dan yang lainnya menunduk dan mundur pelan pelan. aku duduk di samping gerbang Istana, menunggu Jiang Wei keluar... tiba tiba aku tertidur tanpa sadar... tapi, sudahlah.

CIP! CIP! CIP!

"No... Na... Nona Fong!" suara teriakan lelaki memanggilku.

"Ehm?" aku mengucek ngucek mataku yang agak kabur dan melihat, Jiang Wei...

"Syukurlah, kamu menungguku disini semalaman?"

"Eh? I... iya..."

"Nona Yue Ying mencarimu, dia sampai mengelilingi Istana Bai Di, karena gelap, jadi susah mencarinya"

"Eh? a... aku harus minta maaf pada Nona Yue Ying! dah!"

"E.. Eh? tunggu dulu, Nona Fong... ah..."

Aku berlari ke rumah Nona Yue Ying, pokoknya aku sudah salah... gara gara ingin menunggu Jiang Wei, aku malah tertidur... tiba tiba di jalan Cao Ma Lie berdiri tepat didepanku... aku langsung berhenti didepannya.

"A... ada apa? kak Cao Ma Lie?" tanyaku.

"Tuan Cao Pi ingin aku kembali! karena itu, aku harus pulang, aku ingin memberimu, kalung ini, sebagai ucapan terima kasih... terimalah"

"Ka... kalung ini..."

"Dah! kita pasti akan bertemu lagi!"

"Ya, dah..."

Aku melambaikan tanganku pada Cao Ma Lie yang sudah tampak jauh, dan menatap serius pada kalung yang dia berikan, kalung ini... kalau tidak salah... kalung saat aku kesini! akhirnya! aku bisa pulang! aku mengengam kalung itu erat erat dan bersorak.

"Akhirnya! aku bisa pulang kedunia asalku!" sorakku.

"Dunia mana?"

"eh?"

Aku membalikkan badanku, dan melihat Jiang Wei menatap heran dan ingin tau. Apa... dia telah mendengar apa yang kusorak? pasti dia telah mendengarnya...

"Dunia mana?" ulang Jiang Wei.

"Eh... itu..."

"Kamu bukan dari dunia ini bukan? kamu dari mana?"

"Eh... itu... ano..."

"Jelaskan padaku Li Ling Fong!"

"Ka... kalau kau bertanya begitu terus! aku bisa nangis tau!"

"... Yang ingin nangiskan... sebenarnya saya... jelaskan padaku... kamu akan pergi? meninggalkanku? dan Nona Yue Ying?"

"Eh? kau... tidak ingin... aku pergi?"

"Tentu saja! saya menyukaimu! dan jika kamu pergi... saya harus mengutarakan rasa suka, pada siapa?"

Aku terdiam sejenak. Jiang Wei... menyukaiku? yang benar saja... yang suka pada Jiang Wei kan... aku...

.

.

.

TBC


Capek juga bungkuk bungkuk sambil ngetik FF... soalnya lagi ngecas leptop sih, ga bisa bawa meja deh... (=,='')
Please reviews!