Warning : Lemon Inside (Sasuke Uchiha x Sakura Haruno)
Char :
Sasuke Uchiha
Sakura Haruno
Iruka
Hayate Gekko
Sara
Itachi Uchiha
Mikoto Uchiha
THE HIT MAN
Itachi berjalan menuju ruangan sang ibu , "Itachi, kenapa aku tidak pernah lagi mendengar pembunuh bayaran yang sering membunuh pejabat korup?"
"Entahlah, Bu"
"Atau mungkinkah dia sudah terbunuh" tersirat nada yang sama sekali tidak nyaman dari mulut Mikoto saat mengucap kan kata terbunuh pada orang yang menjadi topik pembicaraannya.
"Kenapa Ibu malah seperti kelihatan sedih?"
"Entahlah, Nak. Sejak kemunculan dia sebagai pembantai pejabat korup, Ibu malah teringat dengan adikmu" di mata Itachi, Ibunya yang di depannya kini sedang meneteskan air mata.
Itachi tidak memberi tanggapan lagi. Mungkinkah perasaan Ibunya itu merasa kalau sang pembantai adalah Sasuke. Itachi menggelengkan kepalnya. Mustahil Sasuke mau di peralat, itulah alasan Itachi menolak insting sang Ibu. Jika insting ibunya benar, kecil kemungkinan ia terbunuh, lalu kemana dia, kenapa tidak pernah lagi terdengar kabar dan aksinya.
Itachi menatap ibunya, jadi seperti itulah alasannya, sejak munculnya Sang Pembantai itu, ibunya sering kelihatan gelisah. Tapi sejak kabar tidak terdengarnya orang yang menggunakan pistol dan pedang untuk membantai, ibunya malah sering jatuh sakit.
Itachi menerawang jauh. Mungkinkah The Gunder memang sudah terbunuh? Ataukah ia harus menerima kalau adiknya adalah Sang pembantai itu. Dan Itachi secara nurani, mengakui insting seorang ibu sangat kuat.
.
.
.
"Aaahhh…ngg.. Sasuke.. tu..tunggu, a..ada yang ingin ku katakan". Sakura di sela desahannya. Tampak sasuke sedang menghisap dan menjilati klitorisnya.
"Ck, apaan sih! Ngomongnya nanti saja". Sebal karena keasikannya memainkan klitoris Sakura dihentikan.
"I..iya aku hanya ingin..kyaaa..ahh, ohh..shaaa!" belum selesai mengatakan maksudnya, Sasuke sudah memasukan jari tengah dan jari manisnya kedalam vagina Sakura.
Sakura menahan gerakan tangan Sauske, "tungguuu..oahh..Sasu…khee..assshhh!" Sasuke menggosok-gosokan tangannya membuat Sakura makin menggelinjang hebat. "Sebaiknya kau diam, vagina sempit", Sasuke mengosokan tangannya secara vertikal sehingga gosokannya mengenai bagian klitoris Sakura.
Desahan Sakura terus belanjut, Sasuke makin mempercepat gosokan tangannnya.
"Sasu..ahng..shaa..aaaaah, ngkk" tubuh Sakura meronta menahan orgasmenya.
Sakura mengambil nafas setelah orgasme akibat permainan tangan Sasuke itu. Sasuke sama sekali tidak memberi kesempatan pada Sakura, ia segera menarik kepala Sakura dan melumat bibir mungil itu
Setelah puas melumat bibir Sakura, Sasuke segera meletakkan batang kemaluannya di gerbang liang kemaluan Sakura. "Sasu.. tunggu!" Sakura memohon-mohon karena ia merasa belum cukup mengambil nafas.
"Diam.. cerewet!"Sasuke menjawab dengan sembarangan. Sekali batang kemaluannya ia dorong ke depan, tubuhnya sudah menjadi satu dengan Sakura. "Iiiih... shiit!" Sakura mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Sasuke menggoyangkan pinggangnya secara liar, hingga batang kemaluannya mengocok-kocok liang kemaluann Sakura.
"Ahh... shiit! ah shiiit! Sasu stop!" Sakura memaki dan mengumpat merasakan kenikmatan dari dalam liang vaginanya.
Sambil memompa liang kemaluannya, Sasuke menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. teruskan Sashukhee!" Sakura masih mendesah " Aduhh sshhh Sasukee.. hhh.. sssh!" suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat. Sakura melingkarkan kakinya saat tubuhnya mengejang pertanda ia kembali merasakan sensasi orgasmenya.
Sasuke menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuh Sakura semakin bergetar setiap kali batang kemaluan Sasuke menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu.
Berikutnya Sasuke dan Sakura masih bertempur sengit. Berkali-kali Sakura orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat, kerena bersamaan dengan saat Sasuke ejakulasi. Spermanya menyemprot kencang bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir.
Mereka terkulai lemas diatas ranjang dengan kemaluan masih menempel satu sama lain
"Sasuke.." panggil Sakura setengah berbisik.
"Hn"
Sakura melingkarkan tangannya di leher Sasuke, "aku ingin berbelanja, Sasuke temani aku"
.
.
.
.
.
.
.
Sesuai janji Sasuke ia menemani Sakura berbelanja, tempat belanja yang dinginkan Sakura bukanlah pusat perbelanjaan yang ada tidak terlalu jauh dari tempat mereka, melainkan ke ibukota Oto.
Mau tidak mau Sasuke harus menerima atau ia akan menghadapi Sakuranya sedang merajuk, yang paling membuat Sasuke tidak tahan jika Sakura merajuk.
Mereka tiba di gerbang Kota. Keduanya agak heran melihat ketatnya penjagaan gerbang masuk itu. Terlihat dari pemeriksaan yang dilakukan para petugas terhadap beberapa pendatang.
"Entah sudah terjadi apa di Kota Oto ini, sehingga penjagaan demikian ketat, dan harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu...?" gumam Sasuke sambil melangkah lambat, mendekati gerbang kota Oto.
Sedangkan Sakura sama sekali tidak berkata-kata. Gadis bersurai merah muda itu menjadi sedikit gelisah ketika disadari kalau di pinggang Sasuke terselip senjata. Sebab, kalau memang ucapan Sasuke barusan benar, ada kemungkinan senjatanya akan dilucuti dan ditangkap para penjaga gerbang. Walaupun begitu, kakinya tetap melangkah mengikuti kekasihnya, karena mereka memang berniat memasuki kota Oto itu.
"Kalian harap berhenti sebentar...!" seru seorang petugas sambil melangkah menghadang jalan, menahan langkah mereka.
Tanpa banyak bicara lagi, keduanya menuruti kehendak petugas itu.
"Hm... Kalian bukan penduduk Kota Oto...?" tanya petugas bertubuh sedang sambil meneliti wajah dan penampilan kedua orang muda itu.
"Kami memang bukan penduduk kota ini Tuan. Tapi, apa ada larangan bagi orang luar untuk memasuki kota ini...?" sahut Sasuke, sekaligus melontarkan pertanyaan kepada prajurit tadi.
"Sebenarnya tidak, kecuali kali ini. Karena kalian adalah orang asing, maka kami terpaksa menahan kalian untuk sementara...," ujar petugas yang tampak mencurigai Sasuke dan Sakura.
Wajah Sasuke tidak menunjukkan perubahan. Dimakluminya kalau petugas itu hanya melaksanakan tugas.
"Mari, kalian ikut kami menghadap komandan jaga, " kata petugas itu lagi, bermaksud menggiring pasangan itu ke pos jaganya.
"Hey...! Kami bukan penjahat, kenapa harus ditahan dan diperiksa seperti pesakitan? Aku keberatan...!" Sasuke yang tidak bersedia untuk diperiksa, langsung mengemukakan perasaannya tanpa kenal takut. Sebab, dia merasa tidak bersalah apa-apa.
"Maaf, anak muda. Kami hanya melaksanakan tugas dari kepala wilayah. Kuharap kalian tidak memperberat tugas kami...," ujar prajurit bertubuh sedang itu.
"Sudahlah, Sasuke. Tak ada salahnya mengikuti peraturan yang berlaku di sini, selama tidak menyusahkan kita," bujuk Sakura menenangkan kekasihnya. Ia tahu meski sebenarnya Sasuke bukanlah tipe temperamental, tapi ia khawatir kalau Sasuke tersinggung dan membuat keributan disini.
"Baiklah, tapi jika mereka bertindak yang berlebihan padamu aku akan…."
"Iya..iya.. aku tidak akan membiarkan". Sakura memotong perkataan kekasihnya karena pasti yang terlontar adalah kata yang mengundang kekerasan.
.
.
.
"Tuan Komandan. Mereka adalah orang asing yang hendak memasuki kota. Kami menahan mereka untuk diperiksa...," lapor petugas itu kepada seorang komandan bertubuh gemuk dengan wajah bulat dihiasi sepasang mata sipit, karena wajahnya kebanyakan lemak.
"Hm…. Kau boleh kembali ke tempatmu...," perintah komandan itu kepada prajurit yang membawa Sasuke dan Sakura.
"Kalian siapa, dan berasal dari mana...?" tanya komandan bermata sipit itu dengan nada sinis.
Mulutnya berkata demikian, tapi sepasang matanya menjilati sekujur tubuh ramping Sakura dengan lahap. Sehingga, bulu -bulu di tubuh gadis musim semi itu meremang. Sakura merasa bukan sedang berhadapan dengan manusia, melainkan seekor serigala lapar yang tergiur kijang muda. Beruntunglah di sampingnya ada Sasuke, jadi ia akan merasa aman.
"Lalu, apa tujuan kalian ke kota ini...?" lanjutnya penuh selidik.
"Kami datang dari desa Kho yang terletak dipinggir barat Kota Oto" Sakura menjawab.
"Kami datang kekota ini karena ingin memenuhi kebutuhan belanja calon isteriku". Sasuke menambahkan dengan sikap hormat, yang sesudahnya ia menoleh kearah Sakura, ia juga tak ingin memulai keributan, meski telinganya sangat panas saat melihat cara komandan itu menatap kekasihnya.
"Kalian tidak mempunyai sanak keluarga di kota ini...?"
"Tidak"
Sambil mengangguk-anggukkan kepala, kaki komandan bermata sipit itu kembali bergerak mengitari Sasuke dan Sakura.
Langkahnya terhenti tiba-tiba di depan Sakura. Sasuke menarik napas perlahan, menekan kemarahan yang meletup-letup dalam dadanya. Sebenarnya, dia sudah begitu jengkel dan muak pada komandan bermata sipit itu. Tapi, karena komandan itu belum memperlihatkan sikap kurang ajar, Sasuke masih menahan luapan amarah. Diam-diam hatinya berharap agar orang menyebalkan itu berbuat di luar batas, agar ada alasan untuk melabraknya.
Komandan itu menatap kepinggang Sasuke, ia melihat sepucuk pistol terselip di di pinggangnya. Ia menatap Sasuke.
"Kau punya izin untuk memegang benda itu?"dengus komandan itu agak kasar.
"Buat jaga-jaga". Jawab Sasuke senaknya, ia benar-benar kesal dengan sikap komandan gemuk itu.
"Aku bilang apa kau punya surat izin untuk memegang pistol itu bodoh! Geledah mereka". Sang komandan bergerak ingin menggeledah Sakura yang dari tadi ia ingin sekali menyentuh tubuh gadis itu.
Greppp!
"Eh!"
Sasuke dengan sigap memegang tangan komandan dengan keras, saat komandan itu ingin menyentuh Sakura. Ini kesempatan bagi Sasuke, kini ia punya alasan yang dari tadi ingin melabrak komandan itu.
"Jika kau berani menyentuh gadisku, tangan itu akan menjadi tangan terakhir kali untuk menyentuh" lanjutnya dengan pegangan tangan yang makin dieratkan. Sang komandan meringis kesakitan.
Komandan menghentakan tangannya sambil menatap tajam pada Sasuke.
"Kenapa? Hei kau, aku bisa saja menahanmu karena melawan petugas". Komandan menuding kearah Sasuke.
"Siapa yang melawan? Aku hanya tidak ingin kekasihku disentuh oleh tangan kotor sepertimu". Sasuke kian kesal, ia tahu komandan itu mencari-cari kesempatan untuk menyentuh gadisnya.
"Bocah kurang ajar!" bentak komandan merasa di remehkan. "Aku bisa menghukummu, tindakanmu melawan petugas menjadi alasan untuk segera menangkapmu".
"Kau pikir kami akan menurut diancam seperti itu? Kau salah, Tuan Komandan. Jangankan seorang komandan, kalaupun kepala wilayah sendiri melontarkan ancaman, aku sama sekali tidak takut. Mau dianggap pemberontak, silakan. Mau ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, boleh. Tegasnya, kami tidak suka caramu dan kami tidak sudi lagi diperiksa seperti pesakitan" seru Sakura mendukung Sasuke, ia juga sadar kalau komandan itu ingin sekali melecehkannya.
Setelah Sakura berkata demikian, Sasuke menarik tangan Sakura meninggalkan tempat itu.
"Ayo kita pergi dari sini, Sakura..." Kali ini Sasuke tidak peduli ia bahkan sudah siap, jika para petugas tak bertanggungjawab itu mau mengambil jalan kekerasan
Sakura pun tidak suka dengan komandan bermata sipit itu. Kalau pada mulanya mau diperiksa, hal itu karena ia mengira akan diperlakukan secara baik .
"Hei, tunggu. Jangan harap kalian dapat pergi begitu saja dari sini" bentak komandan bermata sipit itu. Tubuh gemuknya bergerak ke depan, bermaksud mencegah kepergian pasangan itu.
Mulanya Sasuke tidak mempedulikan seruan tadi. Tapi, ketika mereka dikepung belasan petugas, terpaksa keduanya menunda langkah.
"Tangkap mereka...!" perintah komandan itu kepada para petugas yang mengepung Sasuke dan Sakura. Sepertinya dia tidak ingin banyak bicara lagi.
"Baik... Jangan salahkan jika aku melawan. Kalian terlalu memaksa...!" ujar Sasuke seraya mengedarkan pandang satu demi satu pada wajah tegang para pengepung. Lalu berhenti pada wajah penuh lemak yang bermata sipit.
"Hm... Kalian berdua memang sangat mencurigakan. Patut dikaitkan dengan kejadian semalam," geram komandan bermata sipit itu tanpa berani menentang pandangan Sasuke. "Tangkap mereka hidup-hidup, terutama gadis itu...!"
Sambil berkata demikian, jari telunjuk lelaki gemuk bermata sipit itu menunjuk ke arah Sakura.
"Sudah kuduga" ucap Sasuke sinis. Ia menyembunyikan Sakura dibelakang punggungnya bermaksud melindungi.
Kedua bela pihak sudah menodongkan senjata masing-masing.
Sasuke dengan cepat mendorong Sakura menjauh, dengan cepat pula ia bergerak ke lawan-lawannya.
Bukk! Plakk!
Gerakan yang tiba-tiba dari Sasuke membuat para petugas itu tak sempat berbuat apa-apa. Tendangan dan pukulan cepat Sasuke telah menjatuhkan mereka satu per satu.
Buagh!
Petugas yang terakhir jatuh, dan tak bisa bangun lagi akibat pukulan telak dan keras Sasuke.
"Sial"
Dorr!
Komandan bermata sipit menembakkan senjatanya, Sasuke yang memang sudah terlatih, segera melompat menjauh menjaga jarak.
Dorr! Dorr!
Sasuke berkelit, menghindari jalur peluru itu. Komandan kaget, baru kali ini ia menyaksikan ada orang yang bisa menghindari diri dari kecepatan lesatan peluru, bahkan dengan jarak sedekat itu. Sasuke melihat ada kesempatan, ia bergerak cepat dan,
Bugh!
"Aaakh!"
Sasuke meninju perut gendut itu hingga terhuyung-huyung ke belakang. Sebelum ia terjatuh, Sasuke kembali dengan sigap menarik kerah bajunya dan mengarahkan pistol ke dahi komandan. Ia menoleh ke petugas lain.
"Jika kalian tidak ingin si bangsat ini mati, jatuhkan senjata kalian!" bentak Sasuke.
"Sasuke , hentikan!" Sakura berteriak mencegah Sasuke, agar tidak bertindak terlalu jauh, ia bergerak memegang tangan Sasuke.
"Hentikan!" Kali ini bukan lagi suara Sakura, tapi ada suara lain yang muncul. "Ada apa ini?"
Semua menoleh ke sumber suara yang baru muncul. Seorang pria berusia sekitar duapuluh delapan tahun, rambut di kucir keatas, dengan sebuah tanda bekas irisan melintang di atas hidung.
"Tuan Iruka?" Seru para petugas hampir bersamaan.
"Aku kepalah wilayah kota ini. Ada apa yang membuatmu membuat kekacauan ditempat pos pemeriksaan anak muda?" Orang yang dipanggil Iruka bertanya.
"Ia menolak di periksa ,Tuan" yang menjawab kali ini adalah komandan gemuk.
"Benarkah itu anak muda?"
"Bukannya kami menolak diperiksa, tapi si brengsek ini mau bertindak kurang ajar pada calon isteriku" jawab Sasuke.
"Itu tidak benar tuan" komandan itu menyangkal.
"Tidak benar katamu? Kau pikir aku tidak bisa melihat tatapan kotormu itu hah!" seru Sasuke tanpa peduli dengan orang nomor satu di Oto yang hadir.
"Cukup!" Iruka memotong perkataan Sasuke, "Dan kau" ia menunjuk pada komandan, "aku sudah mendengar banyak laporan tentangmu dari para pengunjung. Kau seringkali melakukan tindakan pelecehan saat kau melakukan pemeriksaan".
Komandan hanya bisa diam ia menundukan kepala.
"Segeralah kekantorku dan tunggu aku disana" perintahnya pada komandan gemuk tadi. Si komandan hanya bisa menganggukan kepala, ia tahu konsekuensi yang akan dia terima.
"Dan kalian berdua kalian harus tetap di periksa" lanjut Iruka pada Sasuke dan Sakura. Ia memberi kode agar memeriksa Sasuke. Mereka memberikan sepucuk pistol dan dompet milik Sasuke. Iruka memeriksa dompet dan ia terbelalak ketika ia melihat isi dompet itu. ia menatap Sasuke dengan seksama.
Ia menganggukan kepala agar pemeriksaan dihentikan. "Maaf" lalu menyodorkan kembali dompet dan pistolnya pada Sasuke.
Sakura bingung melihat perubahan sikap pada kepala wilayah.
Sementara Sasuke jadi kaget, ia ingat kalau tanda pengenalnya sebagai Uchiha belum sempat ia buang, beruntunglah selama ini Sakura tidak pernah memeriksa isi dompetnya sehingga ia belum tahu kalau ia berasal dari klan golongan atas. Sasuke jadi was-was jika Iruka memanggil nama marganya. Itu artinya Sakura akan tahu siapa Sasuke.
Bukan hanya itu, Sasuke juga kwatir, jika para Uchiha tahu kalau ada seorang Renegade sepertinya masih memakai identitas Uchiha. Itu artinya ia dan Sakura akan menjadi buruan para Uchiha.
"Boleh berbicara berdua? Atau kalau nona juga mau ikut juga tidak apa-apa". Lanjut Iruka setelah mengembalikan barang milik Sasuke.
Sakura menatap Sasuke lalu berkata, "ku rasa tidak perlu, biar aku disini saja". Iruka mengangguk, dan mengajak Sasuke keruangan lain.
"Maaf telah menganggu mu Tuan Uchiha, tapi kuharap kau mengerti jika kondisi wilayah ini sedang tidak aman" sesal Iruka.
"Hn" gumaman Sasuke tanda ia tidak mempermasalahkan kejadian barusan.
"Kami terpaksa memeriksa data dari setiap pendatang yang memasuki gerbang ini" Iruka berusaha menjelaskan.
"Baiklah" Sasuke merasa tidak ada urusan lagi, ia hendak beranjak pergi.
"Tunggu Tuan Uchiha, sebenarnya aku mengajakmu kesini karena aku butuh bantuanmu, kalian para Uchiha mempunyai kemampuan diatas kemampuan manusia normal, jadi aku sebagai kepala dan jaksa diwilayah ini meminta bantuan kepadamu secara pribadi atau resmi". Iruka meminta secara tulus.
"Apa yang bisa kulakukan, dan masalahnya apa?" Sasuke meminta alasan.
"Mungkin kau pernah mendengar Sang Pembantai The Gunder, belakangan ini muncul pula pembunuh lain ia menamai dirinya Black Mask. Menurut para saksi, ia memakai topeng berwarna hitam memakai topi dan tuxedo hitam pula". Iruka kemukakan alasan.
"Lalu? Apa masalah yang dibuat Black Mask ini?" tanya Sasuke.
"Bedanya kalau The Gunder, ia membunuh para pejabat korup, untuk beberapa pihak, ada yang maklum dan mungkin ada yang mendukung, tapi si Black Mask ini, ia adalah pembunuh bayaran atau bisa saja membunuh untuk kesenangan. Ia membunuh secara acak, masyarakat umum jadi resah karenanya. Beda dengan The Gunder, ia hanya meresahkan mereka para koruptor, untuk para pejabat yang merasa dirinya bersih, kurasa tak perlu khawatir, apatah lagi bagi masyarakat umum, dia sama sekali tidak menganggu".
"Baiklah, lalu apa tindakanmu selanjutnya" Sasuke tampak menyetujui untuk membantu Iruka.
"Untuk amannya, jika tuan bersedia membantu, sebaiknya tuan bekerja di ruang khusus di kantorku. Tuan bisa menganalisa dan merencanakan segala sesuatunya disana. Kita juga bisa membicarakan sisanya disana".
"Apa kau bisa memastikan kalau Sakura aman saat aku keluar mennyelidiki kasus ini?"
"Tentu saja Tuan Uchiha, anda dan kekasih anda akan berada di kantorku, jadi dia akan aman selama anda tidak berada disana". Iruka mengerti Siapa yang dimaksud dengan Sakura.
"Hn, satu lagi, panggil aku Sasuke Haruno, kuharap tuan tidak memanggilku dengan embel-embel 'Tuan', apalagi margaku yang sebenarnya".
"Baiklah dan terima kasih sekali lagi". Iruka tidak ingin mempertanyakan mengapa Sasuke enggan dipanggil dengan nama marganya, meski ia juga penasaran.
.
.
.
"Ada apa Sasuke? Apa semuanya baik-baik saja?" Sakura bertanya ketika melihat orang yang di panggil Iruka itu pergi.
"Hn… kurasa kita tidak pulang untuk sementara Sakura".
"Tapi, kenapa?" Sakura bingung, jika tak pulang ke rumah mereka, mereka mau tinggal dimana.
"Kau tahu kenapa kita diperiksa? Akhir-akhir ini ada kasus pembunuhan berantai, entah itu adalah ulah pembunuh bayaran, atau hanya kesenangan dari seorang psychophat. Aku menerima tawaran Iruka untuk menyelidiki dan menghentikan perbuatannya itu. Bukan tidak mungkin nantinya dia akan merambah ke desa tempat kita tinggal, mengingat desa tempat kita yang paling dekat dengan kota ini".
Sakura tak bisa berbuat apa-apa lagi ia hanya menundukan kepala dengan perasaan berkecamuk. Sisi lain kekasihnya memang bisa diandalkan, tapi perasaannya tetap saja khawatir dengan pekerjaan Sasuke saat ini.
Sasuke bisa menebak kegundahan Sakura, ia segera menarik Sakura dalam pelukannya, "percayalah Sakura, aku tidak akan apa-apa. Apa kau lupa kalau aku akan selalu bersamamu, jadi aku tidak akan kalah dari pembunuh itu".
Pelukan Sasuke sedikit banyak menenangkan Sakura, "hn.. tapi berjanjilah, kau akan selalu berhati-hati, aku takut Sasuke, aku takut kehilanganmu", suara Sakura semakin lirih. Ia makin mengeratkan pelukannya.
Sasuke hanya membelai kepala gadisnya dengan penuh perasaan dan kelembutan. Ia sedikit menyesal telah menerima tawaran itu, karena menerima tawaran itulah Sakuranya jadi seperti ini.
"Tidak apa Sakura, aku janji kau tidak akan kehilanganku, dan lagipula ini menyangkut orang banyak. Jadi tidak apa kan sakura? Jika aku sedikit bisa membantu orang-orang".
Sakura mengendorkan pelukannya dan mengangkat kepalanya. Ia mengangguk seraya tersenyum tipis, yang membuat Sasuke sedikit tenang. Ia segera mengecup bibir itu dengan penuh kelembutan.
"Ayo ke kantor tuan Iruka"
.
.
.
Di kantor jaksa wilyah tempat Iruka bekerja saat itu terjadi kesibukan. Atas perintah Iruka, para pejabat dan staff berkumpul di ruang pertemuan. Tujuannya untuk menenangkan suasana kota yang dilanda keresahan.
"Saudara-saudara sekalian!" Terdengar seorang lelaki gagah berusia sekitar dua puluh delapan tahun membuka pertemuan.
"Aku berharap agar peristiwa ini tidak tersebar luas. Kalau sampai hal itu terjadi, kemungkinan besar masyarakat akan semakin resah. Ku harap kalian semua dapat mengerti...," lanjut lelaki gagah.
"Tuan Iruka! Boleh kami mengajukan pendapat..?" seorang pejabat yang berada di sudut, mohon izin untuk berbicara.
"Silakan...," ujar Iruka dengan suara berwibawa. Sepasang mata lelaki berambut dikucir itu agak menyipit, seolah menilai pejabat yang ingin mengajukan pendapatnya itu.
"Karena kejadian ini menyangkut kewibawaan kejaksaan wilayah, tidakkah sebaiknya kalau diam-diam kita memerintahkan pasukan untuk melakukan penyelidikan? Siapa tahu manusia jahanam itu belum lari jauh dari daerah ini. Dengan begitu, kita akan mudah menangkapnya. Sebab kalau hal ini dibiarkan, kita bisa celaka. Mungkin di antara kita tidak akan ada yang membocorkan rahasia ini. Tapi, apakah mulut manusia laknat itu dapat kita jaga pula? Bagaimana kalau dia sendiri yang akan menyebarluaskan berita ini...?" tutur pejabat berwajah brewok yang memiliki sepasang mata tajam itu dengan suara yang lantang, hingga terdengar oleh semua orang yang hadir di ruangan itu.
Terdengar kasak-kusuk yang membuat ruangan itu menjadi bising. Beberapa pejabat tampak mengangguk-anggukkan kepala, membenarkan ucapan pejabat perwira bertubuh kekar tadi.
"Benar apa yang dikemukakan Pejabat Maki itu, Tuan Iruka. Rasanya kita tidak bisa berdiam diri setelah mengetahui perbuatan manusia jahat itu terhadap wilayah yang kita cintai ini. Aku ikut mendukung Tuan Maki...," timpal lelaki tinggi yang kelihatan masih lebih muda dari Iruka. Dia pun berpangkat perwira, seperti halnya Maki.
"Hm...," Iruka tidak segera menyahuti ataupun menyetujui pendapat kedua perwira itui. Pandang matanya menerawang jauh. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Saudara-saudara sekalian. Aku bukan tidak setuju dengan pendapat Pejabat Maki maupun Perwira pejabat Hayate Gekko. Tapi, apakah di antara kita ada yang mengenali manusia laknat itu? Kalau kita mengirim sepasukan keamanan untuk menyelidiki, bukankah hal itu hanya buang-buang tenaga? Sebab, siapa orang yang harus kita cari itu? Adakah di antara kalian yang mengetahuinya? Sementara kita tidak tahu kapan dan siapa target sasarannya"
Para pejabat yang berkumpul di ruang pertemuan itu kembali saling berbicara satu sama lain. Kepala mereka tertunduk lesu. Sebab, apa yang dikatakan memang tidak bisa dibantah.
"Tuan Iruka, apa tidak sebaiknya kita memberitahukan para Uchiha saja, bukankah Oto adalah negara bagian teritorial Konoha. Dan Uchiha adalah sepasukan pengawal kepolisian Konoha, kurasa tanggung jawab keamanan Oto juga adalah tanggung jawab Uchiha juga". Pejabat perwira Maki mengusul.
"Benar, tapi hampir keseluruhan Uchiha itu adalah pasukan petarung, sangat jarang yang menjadi penyidik, dan dalam kasus kita ini, dibutuhkan penyidikan, itu alasan pertama. Alasan kedua jika kita meminta para Uchiha, ku takutkan jika tambah meresahkan masyarakat, jika tiba-tiba sepasukan Uchiha ada dan menuju kesini".
"Kalau soal penyidikan kita tahu ada beberapa para Uchiha yang bisa bukan? Ada itachi yang sudah terkenal banyak memecahkan kasus, ada juga Sishui, sepupu Itachi yang mampu mencari jejak". Maki sepertinya akan memaksakan kehendak memakai tenaga Uchiha.
"Itu juga benar" Iruka masih nada tenang, "tapi kedua pemuda itu tidak ada ditempat, mereka menjalankan misi"
"oh ya, kudengar Itachi masih mempunyai seorang adik, meski ia baru lulus dari akademi, tapi konon ia telah menyelesaikan beberapa misi, dan kalau tidak salah juga, ia adalah cucu kesayangan Madara, pemimpin para Uchiha". Maki belum menyerah.
"Dia juga tidak ada ditempat. Dan lagi, kita bukanlah dalam kondisi perang, untuk sementara kita jangan melibatkan para Uchiha", Iruka menarik nafas, "untuk sementara rapat ditunda, silakan saudara-saudara kembali ketempat".
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" Perintah Iruka begitu ada yang mengetuk pintu. "Ada apa, Saara!" Iruka kembali bertanya begitu sekretaris berambut warna merah masuk.
"Maaf, mengganggu tuan, seorang pemuda mengaku bernama Sasuke Haruno ingin bertemu dengan tuan". Sahut Saara.
"Oh, antarkan langsung kesini"
"Baik Tuan", Saara pamit.
.
.
.
"Maaf, Tuan U… maksud saya Sasuke, Kami baru saja mengadakan rapat dan mungkin sudah menunggu lama". Iruka hampir saja keceplosan menyebutkan marga Sasuke.
"Tidak mengapa Tuan Iruka, kami juga baru tiba", Sasuke sempat mendelik ketika Iruka hampir menggunakan nama 'mantan' marganya.
"Mungkin sebaiknya Sasuke dan nona istirahat terlebih dahulu. Nanti kita bicarakan kembali. Mari kuantarkan keruangan kalian".
….
"Tuan, Ini…" Sakura tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tidak perlu heran Nona, ini adalah ruang istirahatku untuk bermalam jika saya tidak sempat pulang, nah, sekarang akan dipakai oleh kekasih Nona, sebagai ruang kerjanya selama berada disini".
Sakura membulatkan bibirnya tanda ia mengerti.
"Semua pasilitas ada disini, silakan istirahat" Iruka mohon pamit.
"Tuan Jaksa, tunggu" Sasuke mencegat ketika iruka hendak beranjak dari dalam ruangan. "Kalau boleh, saya belum mau istirahat, saya ingin melihat-lihat disekitar sini"
"Sekitar sini? Apa maksudnya hendak keluar dari kantor?" tanya Iruka.
"Iya"
"Maaf Sasuke, anda harus punya surat izin khusus dari saya jika hendak meninggalkan kantor ini. Bukan apanya, saya kwatir jika nanti anda akan terkena razia lagi, yang justru akan merepotkan anda. Anda harus memiliki keterangan kalau anda adalah mempunyai kerjasama dengan kami, maaf sekali lagi Sasuke".
"Baiklah kapan bisa disiapkan".
"Apa sebaiknya kalian istirahat dahulu, kasihan juga nona…err"
"Sakura"
"Iya nona Sakura, dia masih kelihatan keletihan, soal surat keterangan itu, nanti saya yang buatkan. Saya mohon pamit, dan selamat beristirahat".
"Tunggu! Bagaimana anda bisa tenang sekarang sementara pembunuh diluar sana berkeliaran?"
"Maaf, tapi sebaiknya anda berdua istirahat saja dulu dan sebaiknya jangan melakukan sesuatu terburu-buru, saya mohon pamit sekarang".
Sasuke masih sempat ingin protes tapi ketika menoleh kearah Sakura, ia melihat Sakura memang kelihatan kelelahan..
.
.
.
Malam sudah lama turun membasahi permukaan bumi. Suara hewan malam menyemarakkan suasana. Bulan yang menggantung separuh di langit kelam, tak mampu menerobos kegelapan.
Sasuke bingung dia memulai penyidikan dari mana, ia berjalan hanya dengan menuruti langkah kakinya, ia berharap segera menyelesaikan masalah yang telah ia terima, dan berhenti membuat Sakura khawatir.
Tanpa sengaja ia melihat sosok bayangan hitam sedang mengendap-endap kerumah salah seorang penduduk.
Tampak tiga tubuh bergerak melompati tembok yang mengelilingi kediaman salah seorang, jika melihat keadaan rumah itu, pastilah pemiliknya orang berada.
Dengan memilih jalan yang terlindung bayang-bayang pohon maupun tembok gelap, ketiga sosok hitam itu menyelinap ke dalam rumah.
Sasuke terus mengikuti kegiatan ketiga orang itu, Saat ketiga orang itu mencongkel pintu rumah tersebut, Sasuke bergerak cepat. Jika ia terlambat kemungkinan korban akan jatuh dalam rumah itu.
"Kyaaaaaa…" terdengar jeritan dari dalam, ruoanya penghuni rumah tersebut masih ada yang terjaga. Sasuke segera bergerak berlari masuk kedalam rumah. Tampak tiga orang itu membentak dan mengacungkan sebuah benda tajam kearah perempuan paruhbaya.
Jleb!
Aaakh!
Sasuke dengan cepat mengambil pisau lempar yang ia selipkan dipinggangnya dan melempar tangan salah seorang penyusup itu.
"Sial!" salah seorang diantaranya.
Dorr!
Ia menembak secara spontan kearah Sasuke. Dengan sigap Sasuke segera memiringkan badannya kesamping.
"Gila! bagaimana bisa" penyusup itu kaget. Dengan jarak tembak seperti itu, tak mungkin ia bisa meleset, itu artinya pemuda didepannya ini mengelakan lesatan pelurunya.
"Benar-benar gila! Lari!" dengan cepat ia melompati jendela, yang lebih dekat disamping mereka. Sebelum melompat salah seorang melemparkan sesuatu. Sasuke melihat itu adalah granat, "sial" Sasuke mengumpat. Sebenarnya Sasuke bisa ikut melompat dan segera mengejar mereka tapi ia juga tahu kalau ada seseorang selain dia disini. Jika ia pergi mengejar, maka perempuan paruhbaya itu dalam bahaya terkena pecahan ledakan granat.
Darrrr!
Sasuke melompat mendorong perempuan paruhbaya itu, sehingga ia selamat dari pecahan ledakan granat.
Dari jauh terdengar suara sepeda motor, Sasuke tahu itu adalah milik para penyusup tadi.
TO BE CONTINUE
He..he..he.. yoo.. sebenarnya tanpa adegan lemonnya pun, kayaknya target word in one Chapter-nya udah cukup deh sekitar 3.5 K (Ingat kan? target Word saya per chapternya, 3K – 4K. cek di bacot saya di chap 4)
Tapi mumpung otak saya belom di bersihin, maka lemonnya nancap tuh :D
Jangan lupa lagi RnR
THX
