"talking"

'thinking'

"indirect talking"

'indirect thinking'

"Demon, Summon, Non-human talking"

'Demon, Summon, Non-human thinking'

Setting Change

Disclaimer:

I do not own Naruto along with its setting and character.

88888

Wounded Dragon, Crying Fox

Chapter 10: The Lightning God of Gelel

88888

Suara ledakan yang bersahutan di kejauhan akhirnya sampai ke telinganya. Jari-jari tangan yang saling berkaitan menyangga wajahnya di atas meja yang tertutup dengan strategi perang dan peta daerah sekitar yang pasukannya dapatkan dari ninja yang diam-diam dia sudah bunuh, memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Dia pernah menginjakan kaki di tempat ini, dia tahu itu. Namun dengan keadaan yang sulit membuatnya mengambil keputusan yang juga sulit. Cepat atau lambat, dia akan bertemu dengannya lagi. Orang yang sudah membawanya kembali ke jalan yang benar, kali ini dia akan beradu senjata dengan orang itu. Tidak pernah dia memikirkan scenario seperti ini, membuatnya sedikit ragu dengan apa yang sudah dia lakukan. Namun kondisi orang-orangnya adalah yang terpenting, dia akan lakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka meski harus membuat perjanjian dengan orang-orang gila yang memerintah negara yang sudah meliquidasi tempat tinggal mereka.

Dia mendengar suara kain yang menjadi pintu tendanya tersibak, dan seorang prajuritnya yang berbaju zirah lengkap berdiri tegak di depannya sambil memberi hormat. Melepaskan tanganya dari posisi mengatupnya untuk membalas salam prajurit itu, lalu mempersilahkan untuk memberi laporannya. Prajurit itu mengangguk.

"Pasukan artileri kita sudah melancarkan serangan mereka ke Kirigakure dengan sukses setelah strategi serangan pura-pura telah dilancarkan. Namun tidak lama setelah itu, pasukan dari Devisi IX Mediterran bersama pasukan bantuan negara ninja luar menghadang majunya pasukan kaki untuk bergerak lebih jauh. Tentara artileri kita terpaksa mundur untuk menghindari kerugian lebih lanjut."

"Begitu, kah? Sepertinya memang benar orang-orang dari Persatuan sudah ambil start lebih dulu untuk mendapat bantuan dari para ninja itu. Pasti para Kage-nya sudah membongkar tentang perjanjian rahasia yang tetua Konoha buat dengan Ebony dan Ivory sampai mereka bisa semudah itu bersekutu dengan orang Mediterran. Yah… bukan salah mereka."

"Jenderal Khan?"

"Ada apa?"

"Maaf jika saya lancang, jenderal. Namun tentara saya mendengar soal rumor yang beredar, bahwa tuan jenderal pernah datang ke tanah ini. Apa itu benar, tuan?"

Sang jenderal hanya memijit jembatan hidungnya. Bagaimanapun juga, mereka pasti akan tahu. Namun masalahnya seharusnya tidak tepat pada saat dia sedang galau akan keadaan moralnya yang terjebak dalam keputusan 'teman atau rakyat' dengan tindakannya menyerang negara shinobi besar. Dia akan bertanya dari mana prajuritnya itu tahu, namun dia menahan diri. Dia tidak bisa menghalangi orang untuk bercerita soal hal seperti ini, toh bukan rahasia ini.

"Ya... itu benar. Aku dan klanku dulu pernah datang ke sini kira-kira 10 tahun lalu. Dan kami tadinya juga menginvasi sebelum menyadari kami sudah ditipu, lalu kami menggabungkan kekuatan untuk mengalahkan lawan kami."

Meski tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup helm, sang jenderal bisa menebak mata prajuritnya itu terbelalak mendengar hal itu.

"T-Tapi... kalau begitu anda saat ini sedang melawan teman lama anda sendiri?"

"Begitulah."

"Anda sama sekali tidak terganggu dengan prospek itu?"

Kepalan tangan jenderalnya melayang tepat saat dia menyelesaikan kalimatnya, menghantam dan membelah mejanya dengan sekali pukul. Prajurit itu melompat mundur, namun tidak melakukan apapun untuk melindungi dirinya sendiri. Dia sadar dia sudah melangkahi authoritasnya, dan dia tidak memiliki hak sama sekali untuk melawan kemurkaan atasannya itu. Namun apa yang ditunggu tidak datang, dan dia memberanikan diri untuk membuka mata yang tidak sadar sudah dia tutup.

"Kau pikir aku ini apa?"

"Maafkan saya, jenderal..."

"Pergi dari hadapanku."

Prajurit itu segera mematuhi perintah atasannya, tidak lagi mau membuatnya semakin berang dengan salah bicara. Namun paling tidak dia selamat dan bisa menceritakan apa sejarah jenderal mereka dengan tanah shinobi ini pada yang lainnya.

88888

Konohagakure no Sato, Menara Hokage

"From the hometown, ma'am."

"Thank you."

Hinata membuka perkamen yang baru saja diserahkan oleh pengantar pesan kerajaan. Kelompok yang secara spesifik dilatih dalam tehnik teleportasi dan sihir elemen angin untuk membantu mempercepat lari mereka jika dibutuhkan, membuat mereka sebagai sekelompok orang tercepat di seluruh tanah barat. Namun meski memiliki potensi untuk menjadi pembunuh bayaran yang sangat efisien karena mereka nyaris tidak membuat suara dalam aksinya dan kerja mereka yang selalu bersih, orang-orang kebanyakan hanya menggunakan kemampuan mereka sebagai pengantar surat membuat kebanyakan anggotanya pergi dan bergabung dengan pasukan Persekutuan karena tawaran yang sangat menggiurkan.

Kaias adalah salah satu dari 33 orang dari 227 pengantar pesan yang tetap tinggal di pihak Persatuan setelah imigrasi masal 17 bulan yang lalu dengan alasan orang-orang Persekutuan tidak mungkin mau untuk menepati janji mereka. Sejak itu dia menerima pekerjaan langsung dari para jenderal juga dengan mendapat imbalan yang besar, membuat mereka yang setia semakin percaya. Hinata melemparkan senyum padanya saat dia memberikan gulungan kertas itu, dan dia membalas dengan sedikit menurunkan topi baretnya sambil menunduk dan menghilang dari ruangan itu dengan sebuah kilatan cahaya.

Hinata hanya menyisir cepat suratnya sebelum menghela nafas dan melempar seluruh beratnya ke sebuah kursi yang berhadapan dengan Naruto yang hanya mengangkat alis. Pertemuan para Kage sudah selesai dan masing-masing sudah kembali ke kamar hotel masing-masing, namun mereka berdua sedang menunggu berita dari Mediterran tentang perbaikan kapal laut milik Devisi VI yang katanya rusak menghantam karang dan mesinnya meleleh. Naruto berdiri dari kursinya dan berjalan ke lemari es yang dia pasang sendiri di sudut ruangan. Mengeluarkan dua botol sake dan menuangkannya ke sebuah piring ceper, dia memberikan salah satunya pada Hinata yang masih menutupi wajahnya dengan gulungan kertas itu.

"Jadi… apa katanya?"

"Mereka bisa kirim bantuan tenaga, bahan, dan peralatan. Masalahnya adalah di bagian pengirimannya, kapal kargo tidak memiliki senjata untuk melindungi bawaannya. Kita tidak akan pernah tahu apakah orang Persekutuan akan menyerang kapalnya di tengah jalan atau tidak."

"Kenapa tidak tugaskan saja kapal penyerang untuk menjaga? Bukannya itu seharusnya sudah jadi protocol dasar, sama saja seperti misi kelas B penjagaan orang penting, kan?"

"Memang. Tapi masalahnya sekarang adalah tidak ada kapal penyerang yang bebas tugas di Mediterran dan yang tersisa di markas besar hanya kapal pemancing dan kapal layar; jelas bukan jenis yang bisa kau harapkan untuk menjaga 3 kargo yang masing-masing lebih berat dari Kuchiyose Gamabunta-sama."

"Jadi kau bawa semua kapal perangmu." Naruto menggelengkan kepala. "Bagaimana dengan negaramu kalau semua pasukan pertahanannya pergi?"

"Memang semua kapal angkatan laut keluar dari dermaga bersama dengan pasukan naga angkatan udara, tapi Mediterran tidak sekecil itu. Kebanyakan pasukan pertahanan yang tinggal adalah orang-orang dari angkatan darat yang memang paling banyak jumlahnya. Meski begitu bukan berarti tidak ada masalah."

"Seperti kenyataan bahwa angkatan laut itu adalah devisi terkuat kalian? Bagaimana kalau kau kirimkan kapal yang masih benar untuk mengintersepsi kargonya? Dengan begitu dia jadi punya penjaga."

"Kalau begitu masalahnya adalah waktu. Dari Mediterran ke selatan Hi no Kuni perlu sekitar 12 jam; mengirim pasukan penjaga dan kembali akan makan waktu... tapi mungkin bisa kalau hanya separuh jalan. Memang kesannya jadi seperti bertaruh apa selama setengah jalan itu kargonya akan diserang atau tidak, tapi kalau melakukan intersepsi mungkin kita bisa..."

Naruto menutup mulutnya untuk menahan reaksi kantuk yang sudah menumpuk selama beberapa hari ini dengan banyaknya pertemuan-pertemuan dan rapat strategi, membuat Hinata menggelengkan kepala melihat ketidakseriusannya dalam masalah itu. Hinata menyuarakan ketidaksenangannya, yang hanya dibalas dengan senyum malas dan membuat sang jenderal memutar mata tunggalnya. Menggigit lidahnya untuk mengehentikan gumaman sarkastik yang siap meluncur, Hinata berusahan mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Hinata memperhatikan bayangan yang terpantul di atas sake miliknya. Masih belum tersentuh, terletak di atas meja, dia mengambil cawan itu dan meneguknya perlahan. Pahit dan panas meluncur di tenggorokan, namun itu bukan sensasi yang tidak diinginkan mengingat bagaimana hasil fermentasi beras ini bisa sedikit menghilangkan sedikit kepenatannya hanya dengan rasa. Tapi kalau diingat lagi, dia sebenarnya belum pernah minum sake sebelumnya. Memang selalu ada yang pertama untuk semuanya.

"Ada apa?"

"...Tidak ada."

Hinata tersenyum pada dirinya sendiri dan kembali meneguk jatahnya. Cawan kedua, dan dia sudah mulai agak pusing. Sedikit membuatnya terkejut karena dia sebenarnya bisa tahan sampai gelas ke-4 gin. Kepalanya mendengung, dan sedikit terbuai uforia. Paling tidak dia bisa sedikit menghilang rasa khawatirnya akan bagaimana kelanjutan kisah ini.

Sementara jenderal Mediterran termenung, sang Hokage merasa tidak nyaman dengan kesunyian yang menyelimuti ruangannya itu. Memainkan jari-jarinya, dia berusaha mengucapkan sesuatu dan berhenti saat dia melihat Hinata yang menatap keluar jendela dengan mata yang nanar. Dia terpaksa menelan lagi kata-kata yang sudah dia rancang dengan baik beserta dengan jawaban yang dia sudah bayangkan untuk dia ucapkan untuk setiap situasi. Hinata tersenyum pada dirinya sendiri, lalu bertanya tanpa menoleh pada lawan bicaranya.

"Ichiraku Ramen masih ada, kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Hanya bertanya. Kalau kedai itu masih ada, Konoha tidak perlu keluar anggaran tambahan untuk impor ramenmu itu. Baguslah."

"Aw... Hinata, kau jahat sekali padaku~"

Dia tidak bisa lagi menahan tawanya saat dia melihat wajah sang Rokudaime Hokage yang terkenal dan disegani di seluruh penjuru benua berubah menjadi apa yang hanya bisa dilihat di wajah anak kecil yang sedang marah dengan ibunya karena tidak dipenuhi keinginannya. Kedua mata tertutup yang membuatnya makin terlihat seperti rubah secara tidak sadar sudah menyebabkan tangannya membelai pipi bergaris tiga, sebelum Hinata menarik tangannya itu. Melempar pandangannya ke tangan pengkhianatnya; hal yang tidak lepas dari mata Naruto, yang pada awalnya hanya memandang bingung lalu segera berubah menjadi seringai jahil.

"Sudah kuduga..."

"Apanya?" Naruto hanya menyilangkan lengannya di depan dada.

"Kau masih punya rasa padaku." Hinata mendengus, lalu tertawa pendek, hambar dan mengejek.

"Apa itu punya arti di matamu? Jangan besar kepala kau hanya karena aku masih menyimpan sisa-sisa hospitalitas pada teman lama, Hokage-sama, karena kalau itu yang kau maksud maka kau tidaklah istimewa."

"Memangnya aku tidak boleh bermimpi?"

Dia kemudian terdiam beberapa saat, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu di pikirannya. Namun tatapan matanya masih tetap terpaku pada si mantan Hyuuga yang mulai tidak nyaman dengan tatapan tersebut.

"Ada apa lagi?"

"Ichiraku Ramen... jam setengah 8."

"Maaf?"

"Kau, aku, ke Ichiraku Ramen." Hinata menggelengkan kepala sambil menahan tawa saat dia mulai mengerti maksudnya.

"Seperti itukah caramu mengajak kencan wanita?"

"Ayolah... kau mau membuatku makin nggak enak hati? Aku sudah cukup merendah untuk bisa mengeluarkan itu dari mulutku."

"Oke, jam setengah 8. Kau tidak perlu menjemputku atau semacamnya, jadi kau tidak perlu memikirkan apa-apa soal itu." Melangkah keluar jendela, Hinata tersenyum tipis sebelum melompat turun ke atap rumah yang mengelilingi Menara Hokage. "Sampai nanti malam, Hokage-sama."

Naruto hanya terdiam selama 22 detik di tempat sambil menatap titik tadinya Hinata berdiri, paling tidak sampai satu hal yang baru saja dia sadari membuatnya tiba-tiba panik.

"Gila... aku punya kencan malam ini..."

88888

Kirigakure no Sato, Lokasi Bentrokan

Sunyi setelah badai, paling tidak kelihatannya. Siapa saja yang berada di sana akan menyadari tensi yang menyesakkan menyelimuti seluruh Mizu no Kuni seperti belitan Kuchiyose Orochimaru, dan tidak ada satu pun yang berani untuk memecahnya. Di antara kabut yang semakin tebal bersama dengan tenggelamnya matahari, pasukan gabungan Mediterran dan aliansi shinobi membuat tenda sementara untuk menyusun rencana selanjutnya.

Berdiri di antara tentaranya yang sedang istirahat di sekililing api unggun, Saibara mulai memutar otak saat dia menerima informasi dari intel yang sudah menyusup ke antara pasukan musuh. Jika benar mereka yang menjadi lawan mereka sekarang, akan sangat sulit untuk bertempur dengan sepenuh tenaga dikarenakan bagaimana hubungan pasukan itu dengan pasukan Persekutuan. Gelel bukanlah musuh, itu yang selalu Yang Mulia Dhani katakan. Dan dia setuju akan hal itu. Namun jika keadaannya seperti ini, mereka tidak punya pilihan lain selain bertempur.

"Ada apa sebenarnya?"

Saibara menoleh pada wakil aliansi shinobi yang baru saja selesai mengurusi mereka yang terluka. Sakura sedikit khawatir karena dia melihat jenderal Mediterran itu menerima berita dari mata-mata dan sekarang dia terlihat ragu. Apa dia mengenali musuh mereka?

"...Bisa dibilang keadaaan akan jadi sedikit rumit di sini."

Sudah kuduga, itu yang muncul di pikiran Sakura Haruno. Dia menyuarakan pikirannya, dan jenderal Devisi IX membenarkannya.

"Tapi tujuan kita ke sini adalah untuk mengusir penyerang Kirigakure keluar dari daerah ini. Pasukan kaki punya kelemahan dengan pasukan penunggang naga karena jarak tembak mereka tidak bisa mengenai kami yang terbang di angkasa, jadi yang menjadi masalah adalah pasukan artileri mereka. Mereka besar dan bisa menembak jauh, namun butuh waktu untuk membidik dan tidak bisa dipindahkan begitu saja. Namun dengan jumlah kita yang lumayan banyak, akan sulit untuk melakukan manuver udara tanpa salah satu tembakan mereka mengenai kita."

"Jadi menurutmu bagaimana? Melakukan sabotase?"

"Itu rencananya. Tapi dengan lumpuhnya pasukan kaki karena adanya pasukan udara kita, mereka akan memperkuat pertahanan di sekitar pasukan artileri, otomatis membuat sabotase nyaris tidak mungkin."

"Jadi untuk melakukan sabotase harus di saat pertahanan mereka melemah, dan saat itu hanyalah pada malam hari dimana kebanyakan mereka sedang istirahat. Tapi sekarang muncul masalah baru; saat malam adalah juga pada saat kita terbatas dalam soal pengelihatan. Kedua pihak tidak bisa bergerak dengan sedikitnya cahaya, ditambah lagi dengan kabut alami Kirigakure yang semakin memperburuk situasi." Saibara mengangguk setuju dengan perkataan Jounin itu, dan mulai menimbang-nimbang rencana apa yang bisa mereka gunakan.

"Yang perlu kita lakukan adalah melumpuhkan penjaga artileri mereka dari jauh, lalu melakukan sabotase setelahnya. Pasukan Devisi XI yang ikut dengan kita adalah para penembak jitu, namun tanpa bisa melihat target mereka tidak berguna. Kalian punya beberapa Hyuuga yang bisa menunjukkan posisi penjaga mereka, kan?"

"Tapi itu mustahil! Bagaimana bisa kalian menembak tepat jika hanya dengan petunjuk dari mulut ke mulut?"

"Akan jadi sedikit bertaruh, memang. Tapi orang-orang Devisi XI itu kemampuannya selalu bisa diandalkan, meski aku belum pernah melihat mereka menembak target dengan hanya petunjuk lisan."

Sakura menghela nafas mendengarnya. Mereka tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan rencana yang tidak seratus persen. Jika serangan initial mereka tidak mengenai sasaran, itu akan memperingatkan yang lain dan habis sudahlah mereka karena sudah membongkar posisi mereka. Tapi mereka juga tidak ada pilihan lain. Kalau mereka tidak bisa melumpuhkan artileri musuh, itu akan membuat lubang besar di tatanan pasukan mereka. Dengan cepatnya perkembangan di garis depan, tidak sampai besok untuk bisa yakin lawan akan menduduki Kirigakure. Sakura tidak pernah menyukai di saat terlalu banyak konflik dalam sebuah pilihan, itu membuatnya ingat pada...

"...Kita akan mengirim pasukan dengan jumlah kecil, namun tersebar banyak di sekitar tempat artileri mereka parkir, menghabisi satu persatu para penjaganya sementara kalian para shinobi bergerak mendekat untuk menghancurkan ketapel-ketapel itu."

Sakura tidak memperhatikan Saibara sampai dia menyodorkan selembar kertas dengan gambar skema sederhana sebuah mekanisme pelontar. Mengambil dan mengamati gambar itu, dia melihat sebuah anak panah yang menunjuk titik di antara dua garis yang sepertinya adalah pelontarnya dan mekanisme roda.

"Rusak saja bagian yang sudah ditunjuk di dalam skema itu, aku tidak perduli bagaimana asalkan tidak berisik. Jika titik tumpu pada sebuah pengungkit rusak, akan sulit untuk memperbaikinya dan itu memberi kita waktu. Devisi XI akan lindungi kalian, baik dari jauh atau pun dekat."

"Bagaimana dengan kalian penunggang naga?"

"Sayangnya, situasi seperti ini adalah saat kami sedang berada di titik paling tidak berguna. Kami akan menjaga kemah ini, dan akan langsung memberikan back-up saat keadaan jadi tidak terkendali dan memaksa kita untuk mundur."

Ragu dia merasa, namun Sakura mengangguk dan membawa pasukannya bersama dengan orang-orang Devisi XI. Hanya berbekalkan petunjuk yang di dapat oleh para Hyuuga yang ikut bersama mereka, mereka menelusuri tanah berkabut terkenal Kirigakure. Perjalanan mereka tenang dan tidak bersuara sama sekali, sampai Kurotsuchi menoleh pada seorang anggota pasukan penembak mereka; seorang gadis bertubuh kecil mengangkut sebuah senjata besar yang aneh di punggungnya, dan berbicara dengan suara pelan kepadanya.

"Kau tidak lelah mengangkat semua itu?"

"Aku sudah terbiasa."

Kunoichi Iwa itu terlihat tidak percaya, membuat si penembak jitu memutar mata kehijauannya. Kurotsuchi meneruskan,

"Kau terlihat terlalu muda untuk ikut berperang."

"Maybe because it's you who looks older that it should have. (Mungkin itu karena kau yang terlihat tua.)" Yang diajak bicara bergumam pelan, namun beberapa tentara Devisi XI yang mendengarnya berusaha menahan tawa. Kurotsuchi yang tidak mengerti bahasa yang mereka pakai, namun menyadari orang-orang asing itu sedang menertawakannya, meraih seragam gadis itu dan memaksanya untuk bertatap mata dengannya.

"Dengar, aku tidak tahu apa yang kalian rencanakan; tapi aku tidak akan pernah, kuulangi, tidak akan pernah beri kalian peluang untuk itu. Kau beruntung kita saat ini ada di pihak yang sama, dan kau beruntung aku sempat khawatir denganmu."

Sekarang, seluruh pasukan berhenti melihat pergumulan itu. Sakura mengerutkan alis dan melangkah maju untuk melerai, namun sebuah lengan segera memalangi jalannya sambil membuat isyarat untuk tidak ikut campur. Sakura hanya semakin tidak yakin dengan tindakan itu karena si gadis misterius mendengus tidak sopan pada Kurotsuchi.

"Kau tidak usah capek-capek mengkhawatirkan aku, kalau kau memang tidak perduli. Aku tidak memintanya. Kau pikir kami ini tidak bisa jaga diri kami sendiri? Tidak seperti kalian, kami ini sanggup bertahan perang berdekade, sementara kalian hanya dalam sehari kehilangan 50.000 orang dan yang terluka tidak terhitung. Simpan saja rasa kasihan itu untuk orang-orangmu saja."

"Kurang ajar!"

Kunoichi Iwagakure itu luar biasa berang, kepalan tangan kanannya ditarik untuk persiapan pukulan ke wajah. Gadis itu hanya mencengkram tangan yang masih menggenggam seragamnya dan melepaskannya dengan paksa sebelum Kurotsuchi sempat melayangkan tinju. Mendorong paksa wanita berambut hitam di hadapannya; Ali Hillis segera mengangkat senjata yanng tersambung di belakang punggungnya sebagai perisai, menahan serangan yang dilancarkan mengunakan senjata yang sama.

Jenderal Sawada tidak senang, melihat letnannya berkelahi dengan sekutunya bukanlah hal yang bagus. Namun, sampai mengeluarkan kata-kata yang menjurus sampai ke arah rasisme adalah keterlaluan. Dia tidak terlihat memiliki masalah dengan orang-orang dari Kumo, kenapa dengan Iwa tidak sama? Mendekatkan wajahnya ke depan wajah letnannya, jenderal Devisi XI menggeramkan ancamannya.

"What you had done is not very honorable, Hillis. Do you know it's hard enough to gain their trust? We need their help. (Apa yang kau lakukan itu tidaklah terpuji, Hillis. Kau tahu sudah cukup sulit untuk dapatkan kepercayaan mereka? Kita butuh mereka.)"

"We don't. We've survive this long without them. (Kita tidak butuh bantuan. Kita bertahan selama ini tanpa mereka.)"

"And just who do you meant by 'them'? Shinobi in general or just from the Village of Stone? I know you don't think highly of them the same as people of the Leaf or the Cloud, but why? Give me a valid reason why you hate them so much? (Dan siapa yang kau maksud dengan 'mereka'? Para shinobi secara garis besar atau hanya yang berasal dari Iwa? Aku tahu kau tidak menghormati mereka sama seperti Konoha atau pun Kumo, tapi kenapa? Beri aku satu alasan bagus kenapa kau sebegitu bencinya dengan mereka?)"

"Hate? It's not hate, General. It's properly caution, for them is not but a bunch of back-stabbing traitors that will actively sought a way to make them the superior. You can take my words, General, that they will be the first one who will sever our tie of alliance when the war finally ends. If, the war can really ends. (Benci? In bukan benci, Jenderal. Ini waspada, mereka itu tidak lebih dari sekelompok pengkhianat yang akan menusuk kita dari belakang dan berusaha mencari cara untuk menjadi yang superior dalam berbagai jalan. Anda bisa pegang kata-kata saya, Jenderal, bahwa mereka akan menjadi yang pertama yang memutuskan hubungan persekutuan saat perang ini akhirnya selesai. Kalau, perang ini memang bisa selesai.)"

"It's not the time, Hillis. You chose a wrong moment to speak, and you will be punished for it after this mission is completed because of your offense of wrong accusation. Hostility in the middle of battlefield should be aimed for enemies alone. (Bukan saatnya, Hillis. Kau memilih waktu yang salah untuk bicara, dan kau akan dihukum setelah misi ini selesai dikarenakan tuduhanmu yang tidak berbukti. Ketidakramahan di medan perang hanya dibagi untuk musuhmu saja.)"

"Yes, sir. (Baik, pak.)"

Tidak sedikit yang terkejut melihat letnan mereka menerima begitu saja hukumannya, meski alasan yang kenapa dia dihukum sedikit tidak 'adil', melihat kebebasan berbicara sebenarnya adalah hal yang sangat dianjurkan di Mediterran. Yang Mulia Dhani selalu memberikan kesempatan kepada setiap orangnya sebanyak mungkin menyuarakan pendapat, di mana saja dan kapan saja, dan melihat seorang letnan dihukum karena hal itu membuat beberapa tentara menjadi tidak senang. Namun Hillis seperti tidak perduli dengan kejadian itu, mengangkat bahu dan mengembalikan senjatanya ke belakang punggungnya. Tidak ada lagi yang bicara, mereka meneruskan perjalanan dengan atmosfer tegang luar biasa.

"Kita berada di jarak 300 meter dari daerah tempat mereka memarkir artileri mereka. Apa ini cukup?" Jenderal Sawada mengangguk.

"Ya, ini jarak aman untuk menembak. Kalau pun kita pada akhirnya ketahuan, kita bisa mengetahu itu dan langsung bisa menarik diri."

"Uhm, begitu?" Hyuuga yang menawarkan dirinya untuuk menjadi pemandu jenderal itu mengangguk setuju, begitu juga dengan si tangan kanan Mizukage, Ao.

"Everyone in position! Make sure to aim at different targets and shoot them without break. We have to make sure our entrance is invisible this time. (Semua masuk dalam posisi! Pastikan kalian membidik target yang berbeda dan tembak mereka tanpa adanya jeda. Kita harus memastikan kita masuk tanpa terlihat kali ini.)"

Membuat sebuah barisan lurus, mereka mulai berusaha menyesuai diri dengan petunjuk-petunjuk lisan yang para pengguna Byakugan berikan pada mereka. Tidak ada yang menghitung berapa banyak sebenarnya jumlah pasukan penembak Mediterran yang ikut dengan mereka, namun melihat mereka berbaris di depan membuat beberapa terkejut dengan sedikitnya jumlah mereka jika dibandingkan dengan pasukan shinobi yang hadir. Sawada mengangkat tangan kanannya, tanda bagi pasukannya itu untuk bersiap, lalu menurunkannya seperti dia sedang memukul udara. Tembakan yang sudah diredam suaranya mulai bermunculan, menjatuhkan satu persatu para penjaga yang sedang berpatroli di sekitar catapult. Mereka yang menyadari teman mereka ditembak dari jauh, segera menyusul nasibnya.

Kemampuan yang membuat para shinobi berdecak kagum, namun segera diingatkan akan tugas meereka sendiri membuat mereka segera bersiaga dan berangkat menuju pertempuran mereka. Masih dengan berbekalkan pentunjuk para Hyuuga, Devisi XI terus melumpuhkan tentara yang memasuki daerah itu. Namun keadaan menjadi lebih tegang saat seorang Hyuuga yang berada di belakang Hillis melihat seorang muncul dari arah kemah pasukan musuh.

"Ada yang datang, 5 meter di sebelah timurlaut dari yang terakhir kau tembak. Seorang dengan jubah biru dan rambut pirang panjang, tidak ada tanda-tanda seragam seperti yang dipakai oleh para penjaga. Aneh sekali, apa dia bukan bagian dari pasukannya?"

Hillis terlihat sedikit ragu untuk menembak atau tidak, membuat Hyuuga itu berpikir bahwa yang baru saja dia beritahu posisinya adalah seorang yang bukan berasal dari pasukan musuh. Namun, tanpa peringatan Hillis langsung menembak ke arah yang sudah ditunjuk oleh sang Hyuuga. Orang itu sudah sedikit bergeser dari posisi yang sebelumnya, membuat tembakan yang diterimanya tidaklah fatal. Seperti bisa merasakan targetnya masih hidup, letnan Devisi XI itu berkata perlahan,

"Aku tidak mengenainya, ya?"

Hyuuga itu mengangguk, membuat Hillis segera berteriak kepada jenderalnya.

"Sir! I think I just shot General Khan, and I missed! (Pak! Sepertinya saya baru saja menembak Jenderal Khan, dan saya meleset!)"

Seketika, seluruh pasukan penembak menghentikan tugas mereka, memandang gadis itu dengan mata terbelalak.

88888

Catapult's Check Point, Sakura's POV

Sepertinya semua berjalan lancar; dengan berhasilnya pertaruhan yang dilakukan para pasukan penembak, kami berhasil masuk. Aku sudah melihat bagaimana skema yang diberikan Saibara-san, dan melihat yang aslinya membuatku agak gugup. Benda ini nyaris tidak punya kesamaan dengan yang ada di gambarnya. Tapi, memang kami tidak memiliki kemewahan untuk mendapat gambar yang mendetail soal senjata ini. Dengan menyebar dalam pasukan kecil, kami bisa mencakup daerah yang luas, dan melihat posisi artileri mereka yang sedikit jauh satu sama lain, itu sngatlah dibutuhkan.

Sekarang kita lihat apa yang kita punya di sini. Dengan menghancurkan titik sambungan antara pelontar dan pengungkit, sebuah artileri tidak akan bisa berfungsi sama sekali. Pelontar dan pengungkit, ya…? Pelontar pasti bagian yang melemparkan batu-batu api itu. Bagian yang menyambungkannya berarti engsel baja yang sebelah sini… sekarang untuk menghancurkannya.

"Hei, you!"

Aku menoleh, seorang yang membawa senjata yang terlihat mirip dengan yang dibawa pasukan penembak Devisi XI namun lebih kecil berteriak dan menodongkan senjatanya ke arahku. Tanganku sudah bersiap mencabut kunai di kantung belakang, sebelum tiba-tiba kepala orang itu meledak di depan mataku. Darahnya sedikit menyiprat ke wajahku, membuat tanganku secara refleks menyekanya. Aku tidak melihat bagaimana keadaan mereka yang dilumpuhkan, tapi melihat mereka bisa begitu saja menghabisi orang-orang ini dengan cara yang bisa dibilang berdarah dingin membuatku menelan ludah. Aku memang mendengar bahwa perang mereka sudah berlangsung selama 20 tahun, jadi kemungkinan hal seperti ini tidak langka lagi. Kami para shinobi memang dilatih untuk membunuh, namun bahkan dengan standar kami, hal yang seperti ini sedikit berdarah. Mereka hanya menggunakan satu peluru untuk setiap tembakan, bukan? Sebuah bongkahan baja kecil!

Tapi aku segera mengingatkan diriku sendiri untuk apa aku berada di tempat ini. Menghancurkan engsel baja, tanpa mengeluarkan suara lebih bagus. Aku meraih engselnya dan mulai mengumpulkan chakraku. Konsentrasikan pada telapak tangan, dan aku mulai meremas. Tidak butuh waktu lama sampai engsel itu remuk, tidak sulit.

Tapi bagaimana dengan yang lainnya, ya?

*Srirk*

Suara senjata tajam yang sedang dikeluarkan dari sarungnya segera menarik perhatianku. Seorang berambut pirang panjang sedang mencabut pedangnya dan akan menebas kepalaku berlari dengan kecepatan luar biasa. Dan sekali lagi, sebuah tembakan menyelamatkanku. Namun kali ini, tembakannya tidak fatal. Apa yang menembak meleset, atau memang sengaja memelesetkannya? Tunggu dulu… rasanya aku mengenali pria ini…

Suara statik dari radio wireless yang tersambung di leherku meneriakkan perintah untuk mundur. Apa? Apa yang terjadi? Pria itu mulai berdiri, dan suara langkah bersepatu boots bisa terdengar menghancurkan kerikil dan daun kering. Bukan dua, bukan tiga, namun lusinan. Apa kita ketahuan? Aku mulai berbalik untuk berlari kembali ke tempat rendezvous, namun sebuah kilasan dari wajah pria itu membuatku menghentikan langkahku. Aku tahu aku pernah bertemu dengannya, dan aku memberanikan diri untuk menyebutkan nama orang yang kucurigai adalah namanya.

"T-Temujin-san? Apa itu kau?"

Kepalanya tersentak, matanya terbelalak. Tangannya yang sedang meremas lukanya untuk memperlambat pendarahannya sedikit melemas saat dia seperti sedang mencoba mengenaliku. Suara langkah pasukan musuh mendekat, aku mencoba menimbang-nimbang apakah aku akan lari dari tempat itu atau aku akan menunggu dia mengenaliku dulu untuk melihat bagaimana selanjutnya yang akan terjadi. Aku memilih yang kedua.

"Ninja Konoha berambut merah muda...? Kau Sakura, kan? Temannya Naruto?"

Aku melepaskan nafas yang tidak kusadari kutahan dengan lega. Dia benar-benar Temujin-san. Tapi tunggu, kenapa dia menyerang Kirigakure kalau dia mengenali daerah ini? Kini pasukannya sudah mengelilingiku, menodongkan senjata mereka ke arahku. Aku tidak perduli, kalau aku bisa bicara dengan Temujin-san, aku paling tidak bisa berbuat sesuatu tentang keadaan yang membingungkan ini. Aku punya perasaan Temujin-san memiliki posisi yang cukup tinggi di pasukan ini.

"Tolong, dengarkan aku dulu! Pertempuran ini tidak punya arti sama sekali. Kita tidak seharusnya berada di pihak yang berseteru."

"... Namun, memang seperti inilah kenyataannya, Sakura. Kau tidak mengerti, setelah aku dan orang-orangku lepas dari pengaruh Haido dan kembali ke tanah kami, kami ternyata salah perhitungan. Orang-orangku ternyata masih berada di daerah yang terpencil jika dibandingkan dengan daerah yang hancur karena perang enam negara. Saat pasukan Oriflame menyerang kota kami, kami yang tidak lagi memiliki keinginan untuk kembali berperang segera dihancurkan oleh mereka. Kini kami tidak punya apa-apa lagi untuk bisa bertahan hidup, dengan adanya Oriflame yang memonopoli sumber daya kami untuk keperluan perang mereka. Tidak ada jalan lain, selain bergabung dengan pasukan Persekutuan."

"Tidak mungkin..."

"Aku sudah dengar, bahwa orang-orang Persatuan meminta bantuan pada Negara Shinobi Besar. Aku sudah memikirkannya masak-masak, bahwa aku, cepat atau lambat, akan bertemu dengannya di medan perang. Mengertilah, aku tidak menginginkan ini. Namun keselamatan dan kelangsungan hidup orang-orangku adalah yang terpenting."

"Aku… mengerti…"

Tidak bisa kubayangkan bagaimana dan apa yang akan terjadi jika saja mereka menolak dan tetap melawan. Saat meninggalkan Kaze no Kuni 10 tahun lalu, kelompok Temujin-san hanya sekitar dua lusin dan semuanya anak-anak. Kalau pun bisa mengumpulkan orang lebih banyak, tidak akan cukup untuk melawan negara-negara besar. Temujin-san sudah mendapat pengobatan darurat dari beberapa medisnya, dan sekarang sedang memerintahkan beberapa orang untuk menjadikanku tawanan perang. Aku sudah memilih untuk menunggu, aku tidak menyesalkan keputusanku karena dengan ini aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.

88888

Titik Pertemuan Pasukan Gabungan Persekutuan

"Sakura-san menyerahkan diri untuk menjadi tahanan..."

"Apa? Bagaimana bisa dia melakukan itu?"

"Itu benar, dia tidak melakukan perlawanan sama sekali. Pasukan Jenderal Khan juga sepertinya tidak memiliki niat untuk menghabisinya. Namun, sepertinya Sakura-san juga sedikit melakukan semacam negosiasi."

"Menurut kalian, sebaiknya kita rebut kembali dia atau kita mengambil resiko menghadapi kemurkaan Hokage-sama saat melaporkan temannya ditahan oleh pasukan musuh?"

Semua yang hadir di tempat itu saling bertukar tatapan, sebelum mengangguk dan berlari kembali ke tempat senjata artileri itu membuat sarang.

88888

Konohagakure, Ichiraku Ramen

"Itadakimasu!"

Menyeruput mangkuk masing-masing, Naruto dan Hinata dalam hati menghembuskan nafas lega. 15 menit menunggu pesanan mereka dihabiskan dengan saling membisu membuat suasana di sekitar mereka menegang. Teuchi yang sepertinya juga menyadari keadaan itu hanya bisa menghela nafas. Dasar anak muda, kencan pertama pasti tidak tahu harus berbuat apa.

Masih ragu, namun tidak mau lagi berlama-lama terdiam dan membuat suasana semakin tidak enah, Hinata sudah menghabiskan sebagian besar ramen yang ada di mangkuk dan hanya meninggalkan kuahnya. 'Teuchi-san memang hebat. Kuah ramennya sangat bening dan rasanya tidak hilang meski sudah agak lama dididihkan.' Pikirnya dengan setengah melantur, memandangi bayangannya sendiri yang dipantulkan oleh kuah di hadapannya. Hinata mengerutkan alis, dia sudah berubah banyak sekali, dia sampai tidak mengenali dirinya sendiri. Sedikit memiringkan kepalanya, membuat rambut yang menutupi perban mata kanannya tersibak, dia kembali ingat rasa sakitnya. Menggelengkan kepala, sudah terlalu lama dia tenggelam di masa lalu,

"Jadi, waktu aku bertemu denganmu di danau, kau itu sedang apa?"

"Oh, itu... hanya mencoba apa aku masih bisa menggunakan chakra setelah sekian lama rehat menggunakan Jyuuken. Sepertinya kemampuanku sudah berkarat."

"Kau... tidak bisa menggunakan chakra? Memangnya- oh, aku ingat. Saat di tanah barat memang tidak bisa menggunakan jurus ninja sama sekali. Tapi memangnya kenapa tidak bisa?"

"Bukannya tidak bisa, tapi... aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Agak mengerikan juga kalau diingat. Di tanah barat kau tidak bisa menggunakan chakra karena saat kau menggunakannya, akan muncul reaksi penolakan."

Naruto menelan kuah ramen yang sedang diteguk. Baru kali ini dia mendengar soal yang ini. Mungkin itu bisa menjawab kenapa para pemimpin Persatuan begitu mengotot untuk tidak membawa perang ini ke daerah mereka.

"Apa maksudnya penolakan? Apa chakra akan menolak untuk dipakai atau..."

"Bukan chakranya yang menolak untuk digunakan, tapi antara campuran energi fisik dan mental yang menjadi bahan dasar chakra itu yang akan saling memisah secara paksa jika digunakan. Entah apa yang menyebabkan fenomena ini sampai terjadi dan tidak ada penelitian mendalam soal itu karena orang-orang yang bisa menggunakan chakra, yaitu aku dan Sawada-san, menolak untuk melakukannya. Minggu pertama di sana dan aku menggunakan Jyuuken untuk melindungi diri, mataku buta dan kedua tanganku lumpuh selama tiga hari karenanya."

"Separah itu? Tunggu, memisahkan energi fisik dan mental secara paksa, jadi kemungkinannya jalur aliran chakranya meledak saat terjadi pemisahan itu, kan? Memangnya benar-benar tidak bisa menggunakan jurus tenaga dalam bentuk apapun?"

"Tidak juga. Memang terjadi pemisahan kalau kita menggunakan chakra, namun kita bisa menggunakan energi fisik dan mental secara terpisah untuk menggunakan jurus. Tapi, tetap saja setelah sekian lama, aku jadi agak rindu untuk menggunakan jurus turunan keluargaku."

"Tentu saja kau rindu. Tidak perduli sejauh apapun, meski kau sudah jadi jenderal atau semacamnya, kau tetap Hinata dari klan Hyuuga sang jounin dari Konoha."

Dalam hati, Naruto sedikit bangga karena dia bisa mengatakan itu. Mengingat dia yang tidak melakukan apa-apa saat Hinata diasingkan selalu membuat hatinya sakit. Namun, dengan ini paling tidak dia bisa sedikit berbenah diri. Namun saat melihat kencannya itu menatapnya dengan wajah tanpa emosi, dia jadi sedikit khawatir. Apa Hinata tidak lagi berpikir sama?

"Kau bener-benar percaya... aku masih punya tempat di sini?"

Sang Hokage tersenyum lebar.

"Tentu saja."

*Krt... krt...*

"Apa itu?"

"Maaf."

Hinata segera mengangkat tangan kanannya dan menurunkan lengan seragamnya. Dia mengatakan bahwa itu sudah aturannya bahwa semua personel Mediterran harus menggunakan seragam militer saat berada di negara orang untuk urusan perang dan politik, namun Naruto tidak menyangka mereka juga membawa alat komunikasi mereka. Telegraf mini, terikat di lengan Hinata, sedang mengeluarkan sebaris kertas berisi titik dan garis sandi morse. Mengambil kertasnya setelah tidak ada lagi deret yang keluar, alis wanita itu berkerut.

"Hokage-sama, berjanjilah kau tidak akan gegabah saat saya mengatakan apa yang selanjutnya saya katakan." Mendengar nada profesional dari Hinata membuat dia tersentak. Kalau dia sampai berkata sejauh ini, berarti berita ini penting dan ini adalah berita buruk. Namun dia mencoba memenuhi janjinya, dan mengangguk. Hinata mengambil nafas, seperti dia sedang mencoba menyiapkan mentalnya.

"Sakura-san baru saja menyerahkan diri pada pasukan musuh. Saat ini pasukan gabungan sedang berbalik untuk merebutnya kembali." Melihat Naruto juga mulai mnegerutkan alisnya, Hinata melanjutkan, "Tapi, bukan itu masalahnya. Beritanya sudah sampai di telinga tiga pemimpin Persatuan, dan Yang Mulia Zakaria menyerukan pengkhianatan Konoha karena tindakan Sakura-san ini meski belum diketahui apa alasannya melakukan hal itu."

Chapter 10 End

88888

Author Note:

Rasanya drive ku untuk nerusin beberapa fanfic udah mulai kendor. Mungkin karena sudah agak lama juga, jadi agak jenuh. Tapi cerita yang satu ini sebenarnya belum ada setengah jalan, jadi aku nggak bisa tinggal terlalu lama.

Sama seperti fanfic yang di Harvest Moon fandom, aku mulai menggunakan cara penulisan yang sama dengan yang kupelajarin di Haruhi Suzumiya fandom atas bantuan teman-teman yang sudah berbaik hati menolong memberikan kritikan yang bagus sekali. Berguna untuk memberikan detail yang lebih di beberapa bagian yang memang sedikit perlu padding, untuk bagian-bagian yang sebenarnya bisa dibilang tidak terlalu penting, tapi apalah.

Konsep tentang tidak bisa digunakannya chakra di tanah barat memang sudah kuperkenalkan sejak beberapa chapter lalu, tapi belum pernah dielaborasi lebih lanjut. Karena itu, aku akan coba jelaskan kalau ada yang merasa penjelasan pendek yang diberikan Hinata tidak begitu jelas.

88888

Chakra terbentuk dengan bercampurnya energi fisik, yang ada di tubuh sejak dari lahir dan berhubungan dengan kondisi tubuh, dan mental, yang dibentuk dari latihan batin dan biasanya berhubungan dengan motivasi hidup dan filosofinya. Dengan menggabungkan kedua bagian ini dengan seimbang, terjadi harmonisasi antara fisik dan mental, dan menciptakan tenaga yang bisa digunakan untuk memperkuat diri atau menggunakan jurus.

Di tanah barat, tempat di balik kabut Iwagakure, ada semacam medan alami yang secara paksa memisahkan energi fisik (ki) dengan energi mental (mana) dengan cara memberatkan salah satu dari bagian itu. Gunakan air mendidih sebagai analogi. Air dalam bentuk cair terbentuk karena suhu ruang yang seimbang, tidak panas atau dingin, namun suhu dingin berguna sebagai penyeimbang dasar dari sirklus air dikarenakan bagaimana bentuk air pada saat itu tergantung dari suhu dinginnya. Saat air mendidih, suhu dingin dan panas mengalami ketidakseimbangan karena air mengambil suhu panas lebih banyak dari dingin. Sementara secara alami udara panas akan berusaha keluar didorong oleh suhu dingin, tempat yang tertutup mencegah stabilisasi yang dilakukan kecuali dengan terbukanya tempat yang mengekang proses tersebut.

Jalur aliran chakra tidak memiliki jalan keluar selain tenketsu, tapi karena jumlah energi yang keluarnya terlalu besar membuat energi keluar dengan ledakan, menghancurkan daerah yang menggunakan chakra. Karena itu Hinata tangannya lumpuh dan matanya buta saat dia menggunakan Jyuuken di tahan barat. Bagaimana kejadian lengkapnya Hinata bisa sampai seperti itu, mungkin aku akan tulis cerita spin-off dari fanfic ini.

88888

Dan sekarang untuk tokoh baru yang keluar di chapter ini. Temujin, alias Yang Mulia Jenderal Genghis Khan, deutragonis dari Naruto Movie 2: Legend of the Stone of Gelel.

Setelah kembali ke negaranya di seberang lautan, Temujin dan orang-orangnya kembali tinggal di dalam isolasi diri karena rasa takut akan terlibat di dalam perang lagi dan digunakannya warisan mereka sebagai senjata. Namun, hal itu membuat mereka tidak mengetahui tentang perang yang pada saat itu sudah berjalan selama 12 tahun sebelum akhirnya pasukan Oriflame yang dipimpin langsung oleh Yang Mulia Kaisar Ebony. Ketidaksiapan mereka untuk berperang menyebabkan kekalahan mutlak mereka dan jatuhnya Negara Gelel ke tangan kolonialisasi Persekutuan. Membuat perjanjian dengan Persekutuan, Temujin berusaha menolong orang-orangnya yang kehabisan makanan dan sumber daya karena diperas oleh monopoli perdagangan Persekutuan dengan menjadikan pasukannya bagian dari tentara Persekutuan.

Mendengar kisah Negara itu, orang-orang Persatuan sebenarnya sangat segan untuk beradu senjata dengan mereka, namun seiring dengan berulurnya waktu dan lamanya perang ini berlangsung sebagian besar tentara sudah tidak lagi memiliki simpati sebesar dulu. Temujin yang sadar akan bahayanya terus berada di sisi buruk Persekutuan, bergabung dengan rencana penyerangan langsung ke istana Mediterran yang berakhir dengan tewasnya mantan pemimpin Devisi III dan suami dari Jenderal Diana dari Devisi VIII, Jenderal Preta, dan terluka parahnya Yang Mulia Dhani sampai dia tidak bisa keluar dari ranjangnya selama 13 bulan.

Karena berhasil melakukan yang banyak orang anggap tidak mungkin, bangsanya mulai memanggilnya Genghis Khan, sementara orang-orang Persekutuan memanggilnya dengan sebutan Dewa Petir dari Gelel karena kemampuannya memanipulasi elemen ini. Namun hal ini membuat orang-orang Mediterran luar biasa dendam dan berusaha dengan segala cara untuk memberantas bangsanya, menambah pahit hubungan antara negara kecil ini dengan para anak-anak padang pasir Mediterran.