-The Baddest Female-
Chapter 10
Satu hal fakta tentang Luhan yang selalu Sehun ingat. Luhan adalah Guardian masalalunya dan saat ini Luhan masih sosok bidadari dimatanya. Sehun adalah seorang remaja berumur 17 tahun, ia tau kalau bidadari hanyalah sebuah dongeng. Tapi, Luhan. Luhan adalah bidadari, yaah mungkin bidadari yang sudah tercemar. Pemuda itu meremas tangannya kesal. Ia tidak bisa menjaga gadis itu.
...
Heechul tersenyum melihat tatapan kosong anaknya. Tidak ada yang menangis diantara mereka. Tidak ada pembicaraan setelah mereka keluar dari pesta yang mewah para bangsawan itu, terakhir kali hanya suara tepuk tangan meriah yang Luhan dengar dan entah sejak kapan mereka ada ditaman kecil dibelakang Restort yang bersebrangan dengan pantai walaupun jauh tapi mereka masih dapat merasakan semilir angin.
Suasana begitu canggung tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan.
"Tadi penampilan yang sangat indah"
"Ya .. um.. terimakasih"
"Bu-"/"sua-"
"Ya, silahkan duluan"/"mama duluan"
"Hmmpp"
"Hahahaha, ini aneh"
"Ya sangat aneh. Baiklah, tadi benar-benar menakjubkan kau tau" ucap Heechul dengan senyum mengembang.
"Yaah, aku tau. Aku bersyukur suaraku tidak melengking saat itu atau tiba-tiba akan terdengar suara berat seperti kim ahjussi"
"Ehm, itu mengerikan. Tapi, aku sangat merindukan suaramu. Itu sangat menawan. Sungmin hampir berteriak saat Sehun mimisan, padahal kau tidak sedang striptease. Haha"
"Dia selalu seperti itu. Ah, anak manja itu" Luhan menggaruk kepalanya sambil tersenyum. Sepasang mata itu melengkung. Saling tertawa.
"Donghae akan sangag senang jika melihat penampilanmu tadi, ia akan memaksamu ikut kedalam klub vokal naungannya"
"Yah, dia selalu berlebihan. Aku masih ingat pasangan ikan-monyet itu yang paling histeris menangis saat aku divonis memiliki kerusakan pada pita suara. Memiliki node memang tidak menyenangkan"
"Aku benar-benar ingin menghajarmu saat itu. Kau beruntung aku masih punya belas kasih saat melihatmu di infus"
"Ya, sebenarnya saat itu aku benar-benar sangat tertekan" ucap gadis itu masih dengan senyum manisnya.
"Bodoh" Heechul terkekeh melihat wajah bersalah anaknya yang sangat tidak cocok. "Kau bukan hanya tertekan tapi depresi!" Pletak! Dan jitakan manis diberikan sang ibu.
"Appoo!"
"Ini masih belum terlambat sebenarnya jika kau mau dioprasi"
"Aku takut suaraku berubah"
"Hahh! Sudahlah. Aku tidak ingin pembicaraan ini terus berlanjut hingga berjam-jam!"
"Hahaha! Pita suaramu akan lepas jika berdebat denganku ma!"
"Anak sialan"
Dua orang itu kembali terdiam, Luhan masih senyum-senyum tanpa sepengetahuan Heechul. Ia masih ingat ia divonis memiliki node suara dan itu karena 'teriakan yang berlebihan' oke, Luhan kembali memasang cengiran. Ia selalu mendesah dan berteriak erotis saat bercinta dan bisa kalian tebak selanjutnya. Ia sering kehabisan suara setelah bercinta dengan 'hard'
"Luhan" suara Heechul rendah. Luhan mengerjapkan matanya menoleh kearah sebelah setelah menormalkan ekspresinya tentu. "E-eh .. ya mama?"
"Maafkan mama"
"M-maksud mama?"
"Mama tidak bisa memberikan keluarga yang sempurna untukmu. Anak mama pasti kesepian tanpa seorang ayah"
"Dengan mama sudah lebih dari cukup kok"
"Ish! Anak nakal"
"Ngomong-ngomong bagaimana mama bisa disini?"
"Aah, sebenarnya mama juga diundang di pesta pembukaan ini. Bersama Kyuhyun, Sungmin dan Kibum. Awalnya mama tidak ingin ikut tapi karena anak mama yang cantik ini membuat masalah dengan terpaksa mama harus kesini" gerutu Heechul.
"Hehe, miaaan"
"Sudahlah, ayo kita kembali ke resort" ajak Heechul setelah melihat Sungmin dan Sehun yang ada diseberang taman.
Sehun langsung menghampiri Luhan dan seperti biasa. Anak itu selalu berlebihan.
"Sudahlah Sehun, kau benar-benar menyebalkan. Aku baik-baik saja" ucap Luhan malas.
"Tapi nuuna aku sangat mengkhawatirkanmu"
"Sudahlah, bagaimana kalau kita kepantai?" Ajak Luhan mengedipkan matanya pada Sehun sedangkan Heechul dan Sungmin asik berbincang didepan mereka.
"Call! Disana ada banyak makanan enak kan nuuna?"
"Tentu!" Luhan tersenyum "Mama dan Sungmin eomma mau ikut?"
"Boleh, tapi kami akan menyusul nanti. Kalian duluan saja" Sungmin mengedipkan mata lalu berjalan meninggalkan dua remaja itu diperempatan jalan.
Dan selalu seperti ini, dua remaja itu selalu menarik perhatian dimanapun mereka berada. Mereka tengah berada di pasar tradisional yang khusus menjual baju dan pernak-pernik oleh-oleh khas jeju.
Luhan mengambil dua pasang kaos tipis warna putih dan biru. Mereka tidak mungkin memakai pakaian formal kepantai bukan?
Luhan memakai bikini soft biru atasnya dilapisi kaos longgar putih tipis ditambah selendang khas jeju yang diikat dipinggangnya. Sehun memakai kaos soft blue longgar tanpa lengan dan celana putih pendek.
Mereka melanjutkan perjalanan kepantai sambil menikmati pemandangan pasar yang ramai tidak luput kaca mata dan topi lucu berpindah ketangan mereka.
"Ini sudah menjelang musim dingin tapi disini masih sangat ramai" gumam Luhan setelah menempatkan diri dikursi pantai. Pemandangan manusia dengan pakaian minim dan tentunya otot-otot para bule tampan yang menggiurkan.
Sehun menuang sunblock ditangannya dan mulai memoleskan dikaki luhan yang sudah terbebas dari selendang tadi.
"Sehun-ah, kau bisa berenang?"
"Tentu saja bisa nuuna"
"Aku ingat terakhir kali saat ulang tahunmu waktu kecil. Hunm saat kau terjatuh kekolam renangmu sendiri. Aku mati-matian menolongmu" Luhan tertawa mengingat masa kecilnya. Kalau diingat-ingat lebih jauh ia memiliki banyak kenangan konyol bersama Sehun.
"Sejak saat itu aku belajar berenang"
Luhan merenyit menatap wajah datar Sehun yang sedikit cemberut. Ia membalikan tubuhnya yang sudah diolesi sunblock dan duduk tepat didepan Sehun yang memang duduk dipasir. Ia meraih tangan yang nyaris albino itu mengoleskan sunblock perlahan.
"Aku juga ingat saat penampilanku ditokyo festival children nation, bocah ingusan yang merengek minta foto! Itu kau kan! Astagaaa! Hahahaha"
Sehun menatap datar Luhan yang tertawa keras memegangi perutnya.
"Aku tidak ingusan. Hanya pilek"
"Tetap saja! Ahahaha! Itu sangat lucu Sehun! Aku tidak menyangka kau akan tubuh menjadi seperti ini"
"Agh, kau mulai menyebalkan" Sehun meninggalkan Luhan kesal menuju kearah pantai. Luhan yang melihat tidak tinggal diam dan melompat kepunggung Sehun mau tidak mau lelaki itu harus menahan Luhan demi lehernya yang sudah dililit oleh tangan mungil itu.
"Sehun! Ayo lari kesana!"
"Tidak mau"
"Eoh! Kau tidak mau hm? Kau merajuk?"
"Astaga Luhan, untuk apa ak- agh! Geli"
Luhan menyeringai menggelitik leher Sehun "makanya, ayo kesana"
...
Sungmin menutup mulutnya kaget melihat lelaki dewasa yang tengah berbincang dengan suaminya, ia menoleh kearah sahabat disebelahnya "Chullie, Hangeng..."
Heechul menggenggam tangannya erat menahan emosinya dan memilih menampilkan wajah poker biasanya. Dua manik itu bertemu menampilkan emosi tanpa kata.
"Ayo sayang kita biarkan mereka berbicara berdua dulu" Kyuhyun membawa Sungmin pergi, meninggalkan dua orang dewasa dalam keheningan.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik" ucap Heechul penuh percaya diri. Ia tidak boleh menunjukan sisi lemahnya dihadapan lelaki ini. Hatinya cukup pedih melihat lelaki itu menggendong anak bersama wanita lain. Dia sakit hati dan hanya ia yang boleh tau itu setidaknya lelaki didepannya tidak boleh tau.
"Gadis tadi ... dia ..."
"Namanya Luhan, dia anakku"
Hangeng menatap sendu kearah mata Heechul, wanita didepannya sudah memiliki anak bahkan sudah remaja. Siapa ayahnya? Apa Heechul sudah melupakannya? Apa rasa yang ia pendam selama ini tidak berarti apa-apa?
"Bagaimana dengan keluarga mu? Aku sempat melihat mu bersama anak dan istrimu"
"Begitulah ... anak itu namanya Hanli"
"Anak yang manis" Heechul tersenyum paksa.
Hangeng membalas senyum pedih, sebenarnya ia sudah terlalu sering mengundang Heechul dalam acara-acara perusahaan yang ada sangkut paut mereka berhubung Heechul arsitek terkenal walaupun masih berkembang. Ia tidak menyangka Heechul kemari apalagi bersama anaknya. Tapi, Luhan ... Hangeng merasa perasaan aneh saat menatap gadis itu. Apalagi tatapan gadis itu padanya, lagu itu. Semua sangat membuatnya frustasi.
"Luhan .. dia gadis yang cantik Heechul mirip sepertimu. Kau beruntung memilikinya. Aku sangat iri pada ayahnya"
Heechul menatap kaget kearah Hangeng tapi kembali mengatur raut wajahnya. Ia tidak membalas segala perkataan Hangeng.
Dering telpon memecah suasana, telpon urusan bisnis. Hangeng menatap sejenak ponselnya. Kembali menatap Heechul. Rencana awal ia ingin makan berdua bersama wanita itu "Mau makan malam bersama? Aku ... aku juga mengundang Kyuhyun, Sungmin, dan Kibum. Sehun juga ikut jadi ... aku ingin kau dan Luhan juga ikut" Seakan kepercayaan dirinya redup. Ia terlalu pengecut hanya untuk mengajak wanita yang dicintainya.
Heechul mengerutkan keningnya tajam, tengah memikirkan kata menolak yang sopan.
Mata bening itu membola kaget merasakan tangan itu. Tangan yang selama ini ia rindukan mengusap kepalanya lembut. Heechul menatap Hangeng.
"Aku tidak menerima penolakan oke" ucapnya tersenyum "nah, aku pergi dulu Heechul"
Heechul masih terdiam ditempatnya. Ia memegang keningnya. Senyum kecil terlukis diwajah manisnya "Hangeng ..."
...
Hangeng melepas dasinya lelah. Ia baru saja selesai menyelesaikan meeting penting dengan klien barunya.
Terdengar pintu terbuka dan suara heel yang bersentuhan dengan keramik.
Wanita itu menghempaskan tubuhnya disofa malas, ia menghempaskan setumpuk map "pengacaramu menitipkan ini padaku. SUDAH KUBILANG! AKU TIDAK MENERIMA PERCERAIAN!" Pekik wanita itu kesal. Hangeng menghela nafas kesal.
"Kau sudah melanggar perjanjian kita. Aku tidak melarang hubunganmu dengan pria lain. Tapi tanpa sepengetahuan publik shouer" ucap Hangeng datar.
Shouer membekalakan matanya menatap kertas artikel perselingkuhannya.
"Itu sudah diatasi oleh anak buahku. Ini sudah yang sekian kali kau melakukan kesalahan. Dan kau tau apa kesalahan terbesarmu!" Hangeng mencengkran kerah istrinya kasar.
"Kau menelantarkan Hanli! Kau juga melakukan kekerasan fisik padanya shouer! Aku akan tetap menceraikanmu! Sebaiknya kau tandatangani ini dengan diam atau aku akan melakukan cara lain" desis Hangeng meninggalkan wanita yang terdiam takut. "Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk mempertahankan mu. Aku menikahimu hanya karena paksaan ayah dan ibuku. Ibuku sudah meninggal dan ayahku juga tidak akan menerimamu! Karena ia juga tau tentang semua kebusukanmu!"
...
Dipantai seorang bocah perempuan tengah memberenggut kesal "ayolah ge, Hanli ingin naik itu" rengeknya lagi.
"Bocah sepertimu tidak diizinkan. Kau juga sudah mendengarnya. Bagaimana kalau ki- Hanli! Kau mau kemana!" Kris mengusap kepalanya pening. Sangat jarang adik sepupunya itu cerewet seperti ini. Ia menghela nafas, beberapa jam yang lalu hanli baru saja dimarahi oleh mamanya. Dan beginilah, dibalik senyum bocah mungil itu tersimpan kepedihan.
Bruk!
Tubuh mungil itu terjerembab kepasir lembab. Mata belonya menatap kaki jenjang yang baru saja menghalangi jalannya. Ia menutup mulutnya saat wajahnya dihadapkan paha mulus itu. Anak kecilpun mengerti tentang keindahan tubuh sosok didepannya. Matanya menyipit melihat tulisan dikulit mulus (r:tattoo) bagian pinggang. Mulut mungulnya menganga kagum menatap tatoo merpati kecil beterbangan dibagian perut menuju pusat dan terdapat tindikan kristal pink.
"Kau baik-baik saja?"
Hanli mengingat suara merdu ini, ia mendongak menatap wajah cantik didepannya. "E-eh .. b-baik .. um .. k-kakak bidadari?"
Luhan memiringkan kepalanya bingung.
"Hai jie-jie cantik! Hanli melihat penampilan jie saat pesta tadi! Sangat mengagumkan! Suara jie-jie sangat indah! Hanli ing- hmmp"
"Kamu ngomong apa sih!" Rengut Luhan membungkukan tubuhnya, lalu melepas tangannya dimulut kecil didepannya. Hanli kembali meneguk ludahnya dihadapkan payudara sintal yang tidak terlalu besar. Mungkin ia akan mengganti kakak didepannya sebagai panutan dibanding aktris china multitalent seperti fan bingbing.
"Apa kau tersesat? Dimana orang tuamu?" Gumam Luhan menatap sekeliling pantai yang ramai. Ia membalikam tubuhnya mencoba memanggil mamanya ataupun Sungmin, Kibum dan Sehun yang tengah berbincang. Tidak ada yang memperhatikannya.
"Hanli apa kau baik-baik saja? Gege tidak akan mengajakmu jalan-jalan lagi kalau kau nakal seperti ini. Kalau ada yang menculikmu bagaimana" Suara baritone mengalihkan pandangan Luhan ia melihat tangan besar dibalik punggung bocah aneh tadi.
Senyuman mengembang diwajah cantiknya melihat tattoo namanya dipergelangan tangan.
"Hanli menghampiri kakak cantik ini" Hanli menunjuk kearah Luhan lebih tepatnya kearah pinggang Luhan karena ia tidak sampai dan terasa tidak sopan menunjuk kewajah. Pikir gadis itu.
Kris menatap slow motion tubuh didepannya.
GLUP
Jangkun itu naik-turun sebelun menatap wajah menyeringai.
"LUHAN!"
"Hm" gumam Luhan malas.
"Aku sudah menyangka kalau itu dirimu" Kris tersenyum kagum.
Disini lah mereka bergabung dengan keluarga Luhan dan para ibu-ibu. Luhan memakai kimono outer abu melapisi bikininya, tentu dengan paksaan Heechul. Sebenarnya heechul tidak terlalu masalah, tapi ia merasa kasihan pada Sehun dan risih pada Kibum.
"Keluarga kalian nampak sangat akrab" komentar Kris menatap Sungmin yang tengah menganyam rambut Hanli bersama Heechul dan Kibum.
"Sudah sangat lama aku tidak melihat dia tersenyum seperti itu"
"Dia anakmu dari wanita mana?"
Kris mendelik kearah Luhan "aku tidak akan pernah mau punya anak" ujarnya malas. Sehun tertawa kecil mendudukan dirinya yang dari tadi rebahan.
"Hyung mandul?"
"Dia impoten"
"Yack! Kalian berdua!"
"Apa yang salah Kris? Kau tidak bisa lebih dari 10 ronde dan k.o"
Kris mendengus sebal "hari itu karena efek ganja yang kuhisap dan beberapa obat yang kau sudah tau itu"
Giliran Luhan yang mendengus sebal "Kau masih menggunakan serbuk haram itu?" Deliknya marah.
"Tidak, dua bulan lagi rehabilitasi jalanku selesai Lu. Tapi mungkin aku belum bisa meninggalkan ganjaku. Sebenarnya ganja itu diperlukan untuk kesehatan mental dan daya tahan tubuh kita"
"Tch, kesehatan bokongmu. Hei, kau harus lebih berusaha Kris. Kita hanya punya satu kesempatan lagi untuk winter cup basket. Aku tidak ingin kau tidak bisa ikut hanya karena tes kesehatan kau dinyatakan positif narkoba"
"He-"
"Maksudku addictive ganja oke"
"Itu bukan masalah. Lagi pula aku sudah bersih. Chanyeol lebih mengkhawatirkan"
"Dua idiot itu sangat mengkhawatirkan"
Luhan melirik punggung Sehun, lelaki itu tertidur tengkurap disebelahnya "Aku berharap kita bisa memenangkannya kali ini"
"Tenang saja. Aku pasti akan menang, tahun lalu itu kecelakaan ingat?"
"Gara-gara itu sekolah kita dicap sebagai generasi pecandu. White knight brengsek, mereka akan mati tahun ini"
.
.
.
Disisi lain Heechul menatap Hanli penasaran. Wajah anak itu tampak familiar tapi ia lupa dan terlalu malas untuk perpikir hal kecil seperti itu. Ia sudah terlalu banyak pikiran apalagi ajakan makan malam itu. Kepalanya bisa-bisa meledak hanya dengan memikirkannya.
.
.
.
Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Heechul mengenakan Dress santai berwarna maroon. Ia berdampingan dengan Sungmin, Kibum dan Hangeng dam tentunya Luhan dan Sehun. Mereka duduk memasuki ruangan yang sangat elegan, yang berdinding kaca tebal berhadapan langsung dengan Kolam renang. Hangeng tersenyum menyambut teman-temannya.
Heechul yang sangat cantik malam ini. Mereka saling bersalaman dan bertegur sapa sebelum makan malam dengan khidmat diselingi candaan. Walaupun masih canggung untuk Luhan karena sangat sulit mengendalikan dirinya dihadapan Ayah kandungnya.
"Kau sangat cantik Luhan, Heechul sangat beruntung memiliki mu" Hangeng tersenyum tulus, tanpa sadar tangannya mengusap pucuk kepala Luhan.
"T-terimakasih ... ahjussi-"
"Jangan panggil ahjussi. Aku merasa seperti ahjussi-ahjussi aneh. Kau bisa memanggilku pa- eh maksudku uncle lebih baik ... ya, itu lebih baik" Hangeng hampir menyuruh anak orang memanggilnya Papa. Ia tersenyum miris. Dan Luhan dapat menangkap segala kejanggalan itu.
Gadis manis itu memainkan hidangan dessert-nya ragu. Melirik Mamanya sebentar yang tengah duduk di sofa dengan Kyuhyun, Kibum dan Sehun.
"Ku dengar Uncle dulu punya hubungan Khusus dengan Mama" ucapnya To the point.
Hangeng meneguk salivanya kasar. Seperti ada batu yang mengganjal tenggorokannya.
"Sebenarnya ... iya"
"Wow, boleh aku tau tentang keluarga Uncle. Ku dengan Uncle punya anak dan istri yang cantik sekarang"
Hangeng melirik Luhan ragu "begitulah ..."
"Dimana Anak dan istri Uncle?"
"Sebenarnya aku ingin membawa Anak-ku tapi ia sedang bersama gege-nya dan agak terlambat pulang"
Luhan mengangguk.
"Bagaimana dengan Ayahmu?"
"Eeh? Maksud Uncle?"
"Lelaki beruntung yang sudah memiliki dua bidadari cantik seperti kalian" Hangeng melirik Heechul.
Luhan menghela nafas "Sebenarnya sejak lahir aku tidak punya ayah"
DEG!
Hangeng menatap kaget. Heechul memang tidak pernah membahas masalah ayah Luhan. Sungguh malang nasib mereka berdua tanpa lelaki. Hangeng menggeleng, mencoba berpikir lebih keras.
Luhan merasa canggung dengan Hangeng yang nampak terkejut. Hangeng tidak sebrengsek yang ia kira. Malah Lugu, menurutnya.
"A-aku ... ke toilet sebentar" Luhan memberi kode pada Sehun untuk menemaninya.
Hangeng masih terdiam.
"Hangeng" Sapa suara halus.
Hangeng melirik Sungmin bingung.
"Bisa kita berbicara bersama Heechul juga"
"Maksudmu?"
"Heechul! Kemarilah!" Panggil Sungmin.
Kini mereka berada diluar disamping kolam renang.
"Oke! Aku sudah muak dengan semua ini. Dan aku akan membongkarkan semuanya!" Ucapnya lantang. Kyuhyun dan Kibum yang jadi penonton menggeleng maklum.
"Sungmin kau sudah berjan-"
"Persetan Heechul, lagipula Kyuhyun sudah tau aku sering ke pijat plus-plus. Kau tidak punya bahan ancaman lagi" Sungmin menyeringai, Heechul memegangi kepalanya pusing. Apa Sungmin meminum banyak wine? Padahal wanita itu tidak se bar-bar ini dulu.
"Pertama! Luhan itu anak mu bodoh!"
"Ke dua! Kau lelaki pecundang yang pernah ada di dunia ini ! Kau membiarkan Heechul hamil muda dan meninggalkannya!
"Ke tiga! Heechul sampai saat ini masih mencintaimu dan selalu setia! Ugh walaupun ia juga sering ke pijat plus-plus bersamaku dan menggoda brondong"
"Ke empat! Kau hidup bahagia sebagai pengusaha sukses bersama keluarga barumu! Sedangkan Heechul! Ia merintis semuanya sendirian! Bersama Luhan Pula!"
Sungmin menggeleng, ia benar-benar mabuk. Tapi ia tidak peduli "KAU PECUNDANG!"
"CUKUP!" Kini suara Kyuhyun. Lelaki itu meletakan gelas Winenya kasar. Berjalan kearah tiga orang dewasa itu.
"Ini tidak sepenuhnya salah Hangeng!" Ya, lelaki selalu berpihak pada lelaki.
"Tidak perlu ikut campur Kyuhyun. Bajingan ini perlu kebenarannya!"
"Kau hanya melihat di sisi Heechul. Tapi selama ini Hangeng juga sangat tersiksa. Kau tau betapa menderitanya ia saat nenek dan ibunya menentang hubungan kalian?! Apalagi saat hangeng memilih Heechul, Neneknya meninggal karena serangan Jantung! Ia dianggap penjahat oleh keluarganya! Ibunya memaksanya menikah dengna wanita gila bernama shouer itu!" Kyuhyun menatap bersalah Heechul. Karena dua sejoli itu dulunya sangatlah pembangkang.
"Hari dimana Hangeng mengajak perpisah dengan mu! Sebenarnya ia berubah pikiran karena kau sakit tapi saat ia mau kembali anak buah ayahnya menculiknya dan saat ia bangun ia sudah ada di beijing" Kyuhyun menatap Heechul miris.
"Mereka dipaksa menikah dihadapan ibunya yang sekarat. Lalu resepsi mewah itu hanya rekayasa karena Hangeng ada disana hanya 30 menit tapi seakan Hangeng menemani istrinya sampai selesai. Hangeng tidak pernah melakukan Hubungan dengan Shouer. Pertama dan terakhir adalah saat anaknya tercipta. Itu pun dalam keadaan mabuk dan obat perangsang yang sengaja dimasukan oleh shouer. Hangeng terlalu mencintai mu Heechul-ah"
"Tapi kenapa ia tidak mengatakan itu dan malah membuat Heechul tersiska!" Sungmin kekeuh membela Heechul.
"Ibunya memiliki lemah jantung! Dan asal kau tau Hangeng sangat merindukan Heehul dan selalu bertanya tentang Heechul disetiap pertemuan kami. Dan satu hal!" Kyuhyun menarik nafas "Beberapa bulan lalu ibunya meninggal dan kau tau apa penyebabnya?"
Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi "Karena ibunya memergoki Shouer memukuli anaknya hampir mati saat itu. Selama ini Shouer memukuli anak mereka dibelakang. Ibu Hangeng menyesal dan terkena serangan jantung. Tidak bisa ditolong lagi, dan juga Hangeng sudah berkali-kali mengajukan surat cerai tapi tidak pernah ditanda tangani oleh shouer"
Heechul menutup mulutnya kaget, air matanya menetes deras sedari tadi. Hangeng menatap bersalah memeluk tubuh wanita itu lembut.
"Maafkan aku"
"Ani, maafkan aku hangeng ... hiks"
Luhan yang sedari tadi melihat kejadian itu tersenyum lega, ia menatap Sehun senang "Semoga mereka kembali bersama. Ya kan? Sehun-ah"
.
.
.
Setelah acara keluarga yang menurut Luhan sangat 'drama' dan berterimakasih kepada Kyuhyun dan Sungmin yang mengatakan kenyataan disaat mabuk.
Kini Luhan memberenggut kesal.
Ya, ini sudah seminggu kepulangan mereka dari pulau jeju. Setidaknya kepulangan Luhan dan ia dengan sangat-sangat terpaksa harus menjadi baby sitter anak berumur 7 tahun yang mengaku adalah fans nya.
"Lu jie! Mau kemana? Pakaian Lu jie sangat indah!"
Luhan merenyit, apa anak ini punya gangguan telinga. Kenapa berbicara harus berteriak begitu membuat telinganya berdengung sakit.
"Aku ada latihan. Dan Hanli. Kau dirumah bersama Ahjumma ne"
"Sirheo! Hanli mau ikut!"
Luhan mendengus "persetan" umpatnya pelan meninggalkan pekarangan rumah bersama Hanli yang merengek bersama Baby sitter asli.
Luhan tersenyum kecil mengajak Baekhyun berangkat bersama. Gadis itu merenyit melihat lebam kemerahan di pipi Baekhyun.
"Kenapa dengan pipi mu?"
"Eh? Masih kelihatan? Padahal aku sudah menutupinya dengan make up. Aish ... Dobi sialan itu memukulku terlalu keras"
"Mwo?"
"Aaah, itu ... kami bermain kata. Kau tau yang kalah kena pukul kan?"
"Tch, sekali preman tetap saja preman"
"Mwo! Kau mengejek ku huh! Cari mati ya?"
"Sudah lah-" Luhan terdiam melihat ponselnya yang bergetar.
'O- hun-ah'
'Nuuna, eodi?'
'Dijalan, wae?'
'Hehe, belikan aku bubble tea ne'
'No! Kau, aku akan membelikanmu isotonik. Tidak baik sehabis olah raga meminum bubble tea. Aku dijalan kkeut!'
"Hah ... hari ini benar-benar melelahkan. Apa kita tetap harus ikut ke camp?"
"Kita tetap harus mengawasi mereka. Lagi pula kau mau chanyeol digoda oleh anak cheers disana?"
"Ouuh, berarti dia cari mati. Ini sudah tahun ketiga kita di sma, dan masih harus mengikuti kegiatan melelahkan itu. Luhan-ah, apa kau yakin kali ini tim basket akan menang?"
"Tentu, aku yakin. Lagi pula naga itu sangat bersunggung-sungguh ingin memenangkan winter cup ditahun terakhirnya. Kau juga harus mengurus Chanyeol. Ia bisa gagal di tes kesehatan nanti jika memakai"
"Araa, lagi pula Suho sudah mengurus semuanya"
Luhan menggeleng pelan, mereka sudah sampai diarea parkir bell"s. Luhan menatap Sehun yang tengah beristirahat disalah satu bangku penonton. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang olahraga. Karena cheers juga akan mengikuti lomba diacara festival olagraga nasional, yang diadakan 3 hari 2 malam disebuah asrama pelatihan olahraga dipinggiran seoul.
...
Sehun baru saja akan melanjutkan latihan saat melihat punggung Luhan memasuki gedung olahraga. Ia terhenyak saat peluit latihan dibunyikan.
Sehun berlari kembali melakukan pemanasan.
"Kris hyung menggila" Bisik Kai yang berlari disebelahnya.
"Bagaimanapun caranya! KITA HARUS MENANG!" Seru Kris. Suho tertawa menggeleng melihat betapa serius temannya itu.
"KITA HARUS MENANG! UNTUK TIM! DAN SUNBAE KELAS TIGA YANG AKAN SEGERA LULUS!" Seru Kai tak kalah semangat.
"DAN UNTUK MENEBUS PIALA KITA YANG TERTUNDA TAHUN LALU!" Chanyeol mengangkat bola basketnya.
"SEMANGAT! DEVIL BATS!"
...
Luhan tersenyum melihat bagaimana keras teman-temannya berlatih, ditambah pemandangan diluar para tim basket juga berlatih keras.
"AKH!"
"Zitao!" Seru Luhan berlari menghampiri hoobae yang menyerupai panda china. Ia melirik kaki Tao yang terkilir.
"Coach, ini tidak parah. Aku akan memanggil Kris" Jessica menatap kaki Tao kasihan.
"Eiy. Tidak perlu. Hanyaa perluuu ..." Yoona menahan pergelangan kaki Tao, belum hitungan ketiga - CRACK "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Ditarik sedikit. Dan .." Yoona menggerakan kaki Tao "- selesai"
Tao menekuk bibirnya kesal, ia belum siap malah sudah ditarik. Yaah, walaupun sakitnya menghilang. Tapi tetap meninggalkan nyeri. Gadis bermata panda itu tresenyum saat Luhan dengan baik hati mengompres kakinya.
"Gomawoyo sunbae"
Luhan hanya membalas dengan senyuman kembali bergabung untuk latihan.
Luhan POV
Aku menghela nafas malas, kali ini aku yang kena omel karena berat badan yang meningkat. Salahkan nafsu makan ku yang akhir-akhir ini tidak terkontrol. Mungkin mulai besok aku harus menyiapkan program diet lagi.
Sudah jam 6 lewat, kami baru saja selesai latihan dan seperti biasa melakukan rapat kecil-kecilan dibangku penonton basket.
Kami hanya membahas penempatan posisi yang baik, tidak lebih dan beberapa atraksi nanti yang akan kami lakukan.
"Nuunaa!"
Aku yang memang dari tadi melamun menatap Sehun yang berlari kecil kearah kami. Ck, tebar pesona?
Ia mengambil tempat disamping ku sambil melap keringat dilehernya.
"Nuuna, bagaimana kalau malam ini menginap dirumah ku? Aku sudah minta izin dengan eomma. Ne"
Aku tertawa kecil mengambil alih handuk, dan melap rambut Sehun yang dari tadi mengganggu pemandangan ku dan juga anggota cheers.
"Aku harus menemani Hanli"
"Kalau begitu, aku yang tidur disana" Ucapnya manja memeluk pinggangku.
"Hmm, boleh. Tapi, bagaimana dengan orangtua mu? Mereka disini tapi kau malah menginap dirumah ku"
Memang semenjak Kyuhyun dan Kibum ke Seoul, Sehun tinggal bersama mereka. Aku mengelus surainya yang sedikit berantakan, rambutnya masih merah sama seperti mama.
"Aku tidak bisa tidur" Gumamnya lirih. Aku tertawa kecil melepaskan tangannya dari pinggang ku.
"Dasar bocah" aku menyentil keningnya pelan, memilih mengambil tas olahraga ku diruang club. Sehun terus mengikuti ku. Sudah biasa.
"Hey Lu" Kris berjalan menghampiriku. Sehun sudah lebih dulu mengambil posisi disebelah ku. Tidak lupa tatapan tajam. Pada dasarnya bocah ya tetap bocah.
"Aku kerumah ya. Kangen dengan Hanli-"
"HANLI! JALANG MANA LAGI GE!"
Kami menatap horror Tao yang memasang wajah sangar dari ujung koridor yang gelap dengan langkah pincang.
"Nuuna! Aku takut!" Sehun memeluk lengan kiri ku.
"Luhan! Selamatkan aku!"
T
B
C
Oke - Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah! - ehm
Dikit? Emang!
Semoga reader ga ketiduran T_T
Aaaaaa! Surprised banget! Owner Hunhan Indonesia ngebaca ff aku *sniff*
Makasih banget Ohrere1208 yang ngakunya sebagai rentenir ff ! Udah support aku segitu dalemnyaa ... *bighug!
Dan buat reader semua yang udah review, fav, follow, yang sering nanya di bm atau di line ttg ff ini *berasa kaya ini ff terkenal aja -_-*
Makasih udah semangatin aku, udah nunggu aku buat lanjutin ff abal ini hiks ... terharu ...
Jongmal gomawo!
Thx for review di chapter
Luhannieka : zoldyk : nana : Chanlu : Odult Maniac : RZHH 261220 II : Juna Oh : sukhyu : she3nn0 : samiyatuara09 : nisaramaidah28 : hatsune ryuu : .39 : Ega EXOkpopers : Sanshaini Hikari : Jodoh Chanyeol : farfaridah16 : overdyosoo : Meilisa oh : lisnana1 : KiranMelodi : Re-Panda68 : ruixi1 : rikha-chan : mellamolla : kyle : jdcchan : Tough Biscuit : Rly. : niaasw3ty : oasana : viiyoung : 1004baekie : hunniewifey : khalidasalsa : levy95 : dyodomyeon : Kyuusaa : Hanni753 : .58 : xiaoci : whitechrysan : sehunsdeer : karwurmonica : aliellee90 : sugarvanilla93 : Guest : Gebetanku1220 : BabyBaeksoo : 3678fans - EXO : Arin99 : Millaa Park : riz : xo luhaen 24 : BekiCoy0411 : Name saffff : sandrimayy88 : Grey378 : Irina Hwang : Fanbaekyeolhan : No Name : chkkd : ununjang89 : Guest : ayuamel30 : Aura626 : Misslah : Nayoon Kim : Kimeunyeol : BabyByunie : bulubilu : LieZoppii : crfla
*maaf jika salah penulisan*
Dan yang udah Follow dan Fav semua yang yang ketulis sorry!
Makasih banyak!
Review Juseyoo ...
Plagiarism?! Go to the hell!
