Seungkwan terbangun dari tidur karena suara ibunya yang memanggil dari luar kamar. Dengan malas dan dengan kesadaran yang belum terkumpul seluruhnya, Seungkwan keluar dari kamarnya dan menghampiri ibunya.

"Ada apa, bu?" Dengan suara serak khas orang bangun tidur, Seungkwan bertanya.

"Ada yang mencarimu di ruang tamu." Jawab ibunya.

"Siapa?" Tanya Seungkwan lagi.

"Dia bilang dia temanmu. Astaga, Kwan, ibu tidak menyangka kau punya teman setampan itu."

Seungkwan yang hendak pergi ke ruang tamu langsung menghentikan langkahnya ketika ibunya berkata demikian.

Teman? Tampan? Siapa?

"Bu, aku tidak punya teman laki-laki." Kata Seungkwan.

"Eh? Tapi dia bilang dia temanmu. Dia bilang kalian janji bertemu sore ini dan dia menunggumu selama satu setengah jam tapi kau tidak datang, jadi dia kemari untuk menjemput."

Seungkwan semakin bingung. Ia merasa tidak punya janji dengan siapa-siapa. Akhirnya dengan banyak pertanyaan di kepalanya, Seungkwan pergi ke ruang tamu untuk menemui seseorang yang mengaku temannya itu.

"Boo Seungkwan."

Mata Seungkwan langsung membola ketika melihat siapa 'teman' yang dimaksud ibunya.

Itu Hansol.

Hansol menatap Seungkwan dengan tatapan tajam, membuat Seungkwan menelan ludahnya pelan. Rasa kantuknya tadi tiba-tiba hilang entah kemana.

Hansol yang semula duduk langsung bangun dari sofa yang ia duduki dan menghampiri Seungkwan.

"Sesuai dengan pesan yang aku kirim padamu, kalau kau tak datang, aku akan membawamu dengan tanganku sendiri." Kata Hansol.

"Ma-maaf, Hansol." Kata Seungkwan. "A-aku ketiduran."

Hansol menatap Seungkwan dengan mata menyipit, kemudian kembali bicara,

"Kuberi waktu 15 menit untuk bersiap." Kata Hansol kemudian.

"Hah?" Respon Seungkwan yang belum mencerna perkataan Hansol tadi.

"15 menit dari sekarang, Boo Seungkwan."

Setelah Hansol bicara begitu Seungkwan langsung kembali ke kamarnya untuk bersiap.

~oOo~

Sekarang Seungkwan tengah berada di dalam mobil mewah Hansol, duduk bersebelahan. Ia sama sekali tidak tahu akan dibawa kemana oleh Hansol karena pemuda itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Seungkwan yang satu itu.

Sepanjang perjalanan Seungkwan terus menerus melirik kearah Hansol yang duduk tenang sambil menatap layar ponselnya, entah apa yang anak itu lakukan.

Setelah sadar kalau ia tidak akan mendapat jawaban atas pertanyaannya─akan dibawa kemana ia sekarang─akhirnya Seungkwan mengalihkan matanya keluar kaca mobil Hansol, mengamati mobil dan motor yang lalu lalang di jalan kota Seoul.

20 menit kemudian mobil Hansol memasuki sebuah gedung rumah sakit mewah di pusat kota. Seungkwan tahu rumah sakit ini. Hansol pernah membawanya kesini untuk menemaninya check up dan kebetulan kakak sepupu Hansol juga bekerja disini sebagai dokter.

"Ayo turun." Kata Hansol sebelum membuka pintu mobil dan keluar.

Seungkwan menurut dan keluar dari mobil Hansol tepat setelah Hansol keluar. Kemudian gadis itu mengekor Hansol yang berjalan lebih dulu memasuki lobi rumah sakit.

Hansol berjalan kearah lift dan menekan tombol naik disana sementara Seungkwan hanya diam berdiri di sampingnya. Ini kedua kalinya ia menemani Hansol ke rumah sakit ini.

"Mungkin Hansol ingin check up." Batin Seungkwan.

Ting

Pintu lift tersebut pun terbuka dan beberapa orang yang ada disana pun keluar hingga lift kosong. Kebetulan saat itu hanya ada Hansol dan Seungkwan yang hendak naik lift yang mana berarti di lift tersebut sekarang hanya ada mereka berdua. Tolong digaris bawahi, HANYA BERDUA.

Suasana di lift benar-benar hening karena keduanya─Hansol dan Seungkwan─sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hening dan...canggung. Entahlah, Seungkwan tidak pernah berada disituasi canggung begini. Rasanya aneh.

Beruntung tak lama setelahnya pintu lift terbuka. Hansol keluar lebih dulu diikuti Seungkwan di belakangnya. Hansol berjalan dengan langkah pelan menuju sebuah ruangan yang Seungkwan yakin adalah ruangan milik kakak sepupu Hansol yang bekerja disini karena di samping pintu terdapat papan nama bertuliskan 'Dokter Choi Minki'.

Tok..tok..

Hansol mengetuk pelan pintu tersebut.

"Masuk." Terdengar suara seorang wanita dari dalam dan setelahnya Hansol baru membuka pintu tersebut dan masuk dengan Seungkwan yang mengikuti di belakang.

"Oh, kau datang. Bukan jadwalmu seharusnya kemarin sore? Kenapa baru datang?"

Seungkwan tahu wanita yang bicara itu. Dia kakak sepupu Hansol, Choi Minki.

"Kemarin aku tidak bisa datang." Balas Hansol.

"Harusnya kau menghubungiku biar aku bisa membuatkan jadwal yang baru. Yah tapi bukan Hansol namanya jika tidak seenaknya, bukan?"

Hansol merengut kesal karena disindir tapi kemudian menghampiri kakak sepupunya itu.

"Jangan menyindirku terus, aku kesini untuk check up, noona, bukan untuk berdebat." Kata Hansol.

Minki tersenyum kemudian bangkit dari kursinya lalu berjalan melewati Hansol menuju tempat periksa miliknya.

"Oh? Halo. Kau datang bersama Hansol lagi ternyata. Kau pasti dipaksa, kan?" Kata Minki ketika sadar bahwa disana ada Seungkwan juga.

Seungkwan hanya tersenyum canggung, bingung harus menjawab apa.

"Aku jadi penasaran ada hubungan apa kau dengan Hansol. Anak itu tidak pernah dekat dengan seorang gadis makanya aku terkejut ketika dia datang kesini bersamamu. Kau…benar-benar bukan kekasih Hansol?" Tanya Minki.

Seungkwan menggeleng, "Bu-bukan, aku bukan kekasihnya." Jawab Seungkwan.

"Iya aku juga kasihan sebenarnya kalau kau jadi kekasih Hansol karena anak itu dari sudut manapun menyebalkan. Mana ada gadis yang mau dengannya."

"Noona, apa noona akan terus membicarakanku? Kalau iya, aku akan pergi sekarang." Hansol tiba-tiba bicara.

Minki menoleh kearah Hansol dan mendelik kearahnya,

"Berisik." Balas Minki.

Hansol memutar bola matanya malas kemudian mengekori Minki yang berjalan ke tempat periksa, sementara Seungkwan melangkahkan kakinya ke salah satu kursi di depan meja milik Minki dan duduk disana, menunggu.

Seungkwan mengedarkan pandangannya melihat-lihat ruangan milik kakak sepupu Hansol tersebut. Ruangan tersebut sangat luas, mungkin karena digabung dengan ruang periksa. Di samping meja kerja Minki terdapat rak buku tiga tingkat dan terisi penuh dengan buku-buku kedokteran yang pasti tebal luar biasa. Di sebelah rak buku terdapat rak kecil dua tingkat untuk diletakkan hiasan serta foto. Seungkwan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri rak tersebut. Ia mengamati foto yang dipajang disana.

Di rak pertama ada dua foto. Foto pertama di sebelah kiri adalah foto Minki yang tampak cantik dengan toga yang Seungkwan yakin itu adalah foto kelulusan Minki. Foto kedua di sebelah kanan adalah foto keluarga Minki karena disana ada Seungcheol beserta dua pasangan lain yang Seungkwan yakin adalah orangtua Minki dan juga Seungcheol.

Lalu di rak kedua juga terdapat dua foto. Foto pertama di sebelah kiri adalah foto Minki dan Seungcheol. Tampaknya foto tersebut adalah foto lama karena di foto tersebut Minki masih memakai seragam sekolah, dan Seungcheol masih anak-anak, mungkin usianya sekitar 12 atau 13 tahun. Dan di foto kedua di sebelah kanan adalah foto empat orang anak. Dua anak perempuan, yang satu mungkin berusia 12 tahun dan yang satu lagi mungkin berusia 8 atau 9 tahun. Lalu dua balita laki-laki.

Seungkwan memperhatikan foto tersebut dan mencoba menebak siapa anak perempuan yang ada disana. Seungkwan tahu salah satu dari anak perempuan itu pasti Minki, dan salah satu dari balita disana pasti Seungcheol. Tapi sisanya Seungkwan sama sekali tidak tahu. Seungkwan masih sibuk memperhatikan foto tersebut sampai ia tidak sadar kalau Hansol sudah selesai memeriksakan kakinya.

"Seungkwan, apa yang kau lakukan?" suara Hansol membuat Seungkwan langsung menegakkan tubuhnya karena terkejut. Ia menoleh dan mendapati Hansol sudah selesai memeriksa kakinya.

Minki yang berdiri di samping Hansol hanya menyunggingkan senyum tipis, membuat Seungkwan malu karena ketahuan melihat barang pribadi orang lain.

"Ma-maaf kalau aku melihat foto-foto ini tanpa izin." Kata Seungkwan sambil menunduk.

Minki terkekeh pelan kemudian berjalan menghampiri Seungkwan lalu memegang kedua pundak gadis itu, membuat Seungkwan mengangkat kepalanya lagi.

"Tidak apa-apa." Kata Minki. "Itu hanya koleksi fotoku, tidak ada yang istimewa."

Seungkwan mengangguk pelan.

"Omong-omong foto apa yang kau perhatikan?" tanya Minki.

"O-oh, i-itu..." Seungkwan bingung harus menjawab jujur atau tidak. Matanya tampak melirik foto yang sejak tadi menyita perhatiannya, tapi ia tidak berani menjawab karena bagaimana pun juga itu adalah privasi.

Karena Seungkwan tak juga menjawab pertanyaannya, akhirnya Minki mengikuti arah mata Seungkwan yang tampak melirik salah satu foto yang ada di rak miliknya. Mengetahui foto mana yang menjadi perhatian Seungkwan, Minki langsung menyunggingkan senyum sedih.

Itu foto lamanya. Mungkin sudah sekitar 15 tahun lalu. Minki mengambil foto tersebut dan menunjukkannya pada Seungkwan, membuat gadis itu terkejut.

"Ini foto yang kau perhatikan?" tanya Minki, membuat Seungkwan mau tak mau mengangguk.

Minki tersenyum, tapi sorot matanya redup. Sementara Hansol yang berdiri tak jauh dari Minki dan Seungkwan hanya memperhatikan keduanya tanpa mau tahu apa yang akan dibicarakan Minki pada Seungkwan.

Minki melirik Hansol sekilas.

"Aku tidak tahu apakah aku boleh menceritakan ini padamu atau tidak." Kata Minki.

Seungkwan mengernyitkan dahinya bingung. Apa cerita dibalik foto ini sangat sedih? Atau ada rahasia lain dibalik foto tersebut?

"Tapi kurasa bukan aku yang berhak menceritakannya." Kata Minki lagi. "Anggap saja foto ini adalah foto keluarga Choi."

Seungkwan menganggukkan kepalanya. Kemudian Minki meletakkan foto tersebut kembali ke tempatnya semula, dan setelahnya ia duduk di kursinya.

"Ah, soal Hansol," tiba-tiba Minki kembali bicara, membuat perhatian Hansol langsung teralih kearah Minki.

"Haruskah aku mengatakan hasil pemeriksaanmu pada Seungkwan?" tanya Minki pada Hansol.

Hansol menggeleng, "Ini hanya antara aku dan noona." Jawab Hansol.

Minki tersenyum tapi kemudian menganggukkan kepalanya, membuat Seungkwan bingung. Kenapa ia tidak boleh tahu hasil pemeriksaan kaki Hansol? Seungkwan kan juga penasaran. Ia penasaran, apakah kaki Hansol sudah sembuh atau belum, karena bagaimana pun juga ia ingin cepat-cepat lepas dari belenggu Hansol dan ingin cepat-cepat lepas dari predikat 'pesuruh Hansol'.

"Ayo pergi, Seungkwan." Kata Hansol seraya berjalan menuju pintu keluar.

"Hansol-ah, hati-hati." Pesan Minki sambil menahan tawanya, sementara Hansol melayangkan delikan tajam pada kakak sepupunya itu sebelum keluar dari ruang kerjanya.

~oOo~

Setelah dari rumah sakit, Seungkwan kira ia akan dibawa kembali pulang oleh Hansol, tapi nyatanya tidak. Pemuda itu membawanya pergi lagi entah kemana. Seungkwan ingin bertanya tapi ia urungkan karena nanti akan berakhir seperti tadi─sama sekali tidak dijawab oleh Hansol─jadi Seungkwan memilih diam saja.

Mobil Hansol berhenti di sungai Han. Seungkwan tidak tahu apa yang Hansol ingin lakukan disini tapi mau tak mau Seungkwan ikut turun dari mobil ketika Hansol turun. Setelah keduanya turun dari mobil, supir Hansol membawa mobil tersebut pergi, mungkin untuk parkir.

"Hei, Hansol," panggil Seungkwan.

"Apa?" balas Hansol.

"Kenapa kau membawaku kesini?"

"Tidak boleh?"

Seungkwan menggaruk tengkuknya, "Tidak apa sih. Hanya saja...ah sudahlah."

"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Hari ini sedang cerah." Kata Hansol. "Kalau kau tidak mau menemaniku, kau duduk saja biar aku jalan-jalan sendiri."

"Bu-bukan begitu maksudku." Kata Seungkwan. "Ya sudah aku temani."

Begitulah, akhirnya Seungkwan menemani Hansol yang ingin jalan-jalan di sekitar sungai Han. Seungkwan akui memang sore ini langit sedang cerah. Bahkan warna langit hari ini sangat cantik dengan warna oranye dan violet tua. Sungai Han sore ini juga cukup ramai dengan beberapa pasangan dan keluarga yang juga tengah menikmati sore disini.

"Hei, Seungkwan," panggil Hansol.

"Ya?"

"Kenapa jalan di belakangku sih? Kau jadi seperti anak anjing yang mengekori majikannya kau tahu."

Seungkwan mengerutkan dahinya kesal karena disamakan dengan anak anjing.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Seungkwan.

"Jalan di sampingku." Balas Hasol.

Seungkwan menurut dan berjalan di samping Hansol sesuai yang Hansol suruh.

"Seungkwan," panggil Hansol lagi.

"Apa lagi?" balas Seungkwan.

"Soal ceritaku pagi tadi," kata Hansol. "Jangan katakan pada siapapun."

Seungkwan terdiam sebentar kemudian membalas ucapan Hansol,

"Iya."

Seungkwan baru kembali ke rumah pukul 8 malam. Ibu dan ayahnya yang baru selesai makan malam langsung menyuruh Seungkwan untuk makan sebelum kembali ke kamarnya. Sekarang di ruang makan hanya ada Seungkwan dan ibunya yang menemaninya makan karena ayahnya pergi ke ruang tengah untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.

"Seungkwan-ah,"

"Kenapa, bu?" tanya Seungkwan yang baru saja selesai menyantap makan malamnya.

"Kenapa kau tidak pernah cerita pada ibu kau punya teman yang tampan? Ibu tadi terkejut sekali tiba-tiba ada pemuda tampan mencarimu, tadinya ibu kira dia kekasihmu, tapi dia mengenalkan diri sebagai temanmu."

Seungkwan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus menanggapinya bagaimana karena sebenarnya, ia dan Hansol tidak bisa dianggap sebagai teman dilihat dari bagaimana awal mula mereka terlibat satu sama lain. Dan lagi sampai sekarang Hansol tak pernah menganggap Seungkwan lebih dari pesuruhnya saja, begitu juga Seungkwan yang tak pernah menganggap Hansol lebih dari pengganggu hidup tenangnya.

"Kenapa tidak menjawab? Apa ibu salah bicara?" tanya ibunya karena Seungkwan tiba-tiba terdiam.

"A-ah tidak bu, ibu tidak salah bicara." Balas Seungkwan. "Hm...soal Hansol, di-dia memang hanya temanku, bu."

Ibunya menganggukkan kepala mengerti. Setelahnya Seungkwan bangkit dari kursi yang ia duduki untuk mencuci peralatan makan yang tadi ia gunakan sekaligus untuk menghindari pertanyaan lain yang mungkin akan ditanyakan oleh ibunya.

Setelah selesai makan malam, Seungkwan langsung pergi ke kamarnya untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya sekarang dengan piyama tidurnya.

~oOo~

Besok paginya Seungkwan datang ke sekolah seperti biasa. Tapi ketika ia datang ada sesuatu yang menurutnya aneh, yaitu tatapan beberapa gadis yang menatapnya tajam sepanjang ia berjalan di koridor menuju kelasnya. Dan lagi keadaan di kelasnya tak jauh berbeda. Sebagian besar gadis yang ada di kelasnya menatap Seungkwan dengan tatapan tajam, bahkan beberapa dari mereka tampak berbisik seperti membicarakan Seungkwan.

Tidak nyaman? Tentu saja. Ini pertama kalinya Seungkwan merasa risih di kelasnya sendiri. Mana lagi Jihoon belum datang, membuatnya harus menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil memikirkan apa yang terjadi disini.

Mereka semua masih menatap tak suka kepada Seungkwan bahkan sampai jam istirahat. Jihoon sendiri sebenarnya menyadari ada yang tidak beres karena tak biasanya para gadis-gadis di sekolahnya memperhatikan Seungkwan. Jihoon sudah tanya pada Seungkwan, tapi Seungkwan sendiri tidak tahu apa-apa.

"Aku benar-benar risih, Ji." Kata Seungkwan.

"Aku tahu, aku juga risih melihat gadis-gadis itu berbisik kearahmu. Maksudku, ayolah kalaupun kau melakukan sesuatu, bicara saja terang-terangan." Balas Jihoon.

Seungkwan bangkit dari kursinya lalu mengekori Jihoon yang berjalan lebih dulu menuju kantin. Ia masih tidak tahu kenapa para gadis di sekolahnya membicarakannya. Tadinya Seungkwan tidak mau pergi ke kantin, ia tidak bisa makan dengan baik kalau masih banyak mata yang memperhatikannya, tapi Jihoon bilang tidak perlu dipikirkan.

Jihoon dan Seungkwan mengambil duduk dekat pintu masuk kantin. Mereka makan makanan mereka masing-masing sambil sesekali mengobrol. Tapi obrolan itu harus berhenti ketika Seungkwan tak sengaja mendengar sekumpulan gadis-gadis yang duduk di belakang mejanya membicarakannya. Mungkin mereka ingin membicarakan Seungkwan secara diam-diam, tapi nyatanya suara mereka terlalu keras hingga Seungkwan bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.

"Kau lihat kan berita di mading sekolah? Aku tidak menyaka gadis itu tidak punya malu untuk tetap datang ke sekolah."

"Aku nyaris melabraknya kalau aku tidak ingat dia murid kesayangan guru-guru."

"Pantas saja sudah beberapa waktu ini aku melihat Hansol berjalan sedikit pincang. Tadinya aku berusaha tidak peduli karena kau tahu Hansol suka berkelahi, kupikir mungkin saja kakinya terluka karena berkelahi, tapi nyatanya gadis itu yang melukai Hansol kita. Astaga."

"Lalu setelah dia menutupi semua itu, dia masih bisa datang ke sekolah tanpa rasa bersalah. Oh ya ampun aku rasa dia sudah tidak punya malu."

"Ya, Hansol kita terluka karena gadis itu. Menyebalkan."

Seungkwan meletakkan sumpit di genggamannya. Jadi alasan gadis-gadis itu membicarakannya di belakang adalah karena Hansol? Jadi mereka sudah tahu kalau kaki Hansol terkilir karena Seungkwan?

"Mati aku." Batin Seungkwan.

Setelah tahu alasan kenapa gadis-gadis di sekolahnya tampak amat sangat membencinya, kepala Seungkwan langsung terisi oleh hal-hal buruk yang bisa saja ia dapatkan setelah ini. Dan jujur saja, Seungkwan takut.

Masalahnya adalah fans-fans Hansol itu tidak hanya satu atau dua orang. Mereka menyebar secara merata dari siswi tingkat satu hingga tingkat tiga. Terlebih lagi diantara mereka ada Jung Eunwoo. Gadis yang terobsesi dengan seorang Choi Hansol. Diantara mereka semua, hanya Eunwoo yang Seungkwan takuti. Pasalnya Eunwoo mampu melakukan apa saja bahkan hal yang tidak terpikirkan sekali pun bisa saja gadis itu lakukan.

"Berhentilah uring-uringan, Boo Seungkwan." Kata Jihoon.

Sekarang sudah waktunya pulang. Kelas mereka sudah kosong dan menyisakan mereka berdua di kelas. Jihoon tengah memasukkan buku-buku serta peralatan tulisnya ke dalam tas, sementara Seungkwan sibuk menggigiti kuku jarinya sendiri karena kelewat cemas. Ia tidak mau beranjak satu senti pun dari kursinya karena takut untuk pulang sendirian. Ia takut kalau nanti ia sendirian, ia akan diserang tiba-tiba seperti tempo hari ia dibawa oleh Eunwoo ke gudang belakang sekolah.

"Cepat atau lambat hal itu memang pasti akan ketahuan mau kau tutupi serapat apapun." Kata Jihoon lagi. "Tapi jujur, aku juga sebenarnya penasaran siapa yang menyebarkan berita itu. Dan juga penyebar berita itu menambahkan kata-kata yang sebenarnya tidak seharusnya membuat kau terpojok."

Seungkwan menoleh kearah Jihoon dan menatap sabahatnya itu, "Lalu aku harus bagaimana, Ji?"

"Hadapi saja." Jawab Jihoon, tidak membantu saja sekali.

Seungkwan menghela nafas panjang, kemudian ia pun segera membereskan buku-buku serta peralatan tulisnya ke dalam tas. Berada disini terlalu lama pun bisa berpotensi membuatnya dibully .

Jihoon tidak bisa pulang bersama Seungkwan hari ini karena gadis itu harus pergi ke toko kue, mengambil pesanan ibunya. Akhirnya Seungkwan pun pasrah untuk pulang sendirian.

Walaupun Jihoon sudah bilang untuk tidak terlalu khawatir, tapi Seungkwan tetap saja Seungkwan yang mudah ketakutan, apalagi sekarang ia tengah sendirian. Sambil terus memasang mode waspada, Seungkwan berjalan menuju pintu gerbang sekolah setelah Jihoon pulang lebih dulu. Sedikit lagi ia sampai, tiba-tiba ada yang menarik ranselnya dari belakang, membuat Seungkwan tersentak.

"Lihat siapa ini." Seungkwan kenal suara ini. Suara orang yang sudah membully nya tempo hari, Jung Eunwoo.

Seungkwan tidak berani menoleh, tapi gadis itu memaksanya dengan membalikkan tubuh Seungkwan paksa hingga menghadapnya. Seungkwan bisa lihat seringaian jahat di wajah cantik Eunwoo, membuat Seungkwan seketika menegang.

"Halo, Boo Seungkwan. Rindu padaku, hm?" Kata Eunwoo dengan nada tenang, tapi di telinga Seungkwan justru terdengar mengancam.

"A-ada apa?" Tanya Seungkwan.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bermain sebentar denganmu. Ayo ikut aku." Kata Eunwoo.

Tapi Seungkwan tidak beranjak. Ia takut jujur saja. Kata bermain dalam kamus seorang Jung Eunwoo sama dengan menyiksa dan Seungkwan tidak mau kejadian tempo hari menimpanya. Sebenarnya ia bisa saja lari, mengingat jaraknya dan gerbang sekolah hanya terpaut 5 meter, tapi kaki Seungkwan membatu di tempat, tak bisa bergerak. Ia terlalu takut untuk bergerak.

Eunwoo yang sadar kalau Seungkwan tak bergerak, menoleh kearahnya lagi, lalu ia melirik teman-temannya.

"Bawa dia." Kata Eunwoo.

Kemudian teman-teman Eunwoo langsung menarik tangan Seungkwan agar ikut dengan mereka. Seungkwan mencoba berontak, tapi mereka terlalu banyak sementara ia sendirian.

~oOo~

Lagi-lagi Eunwoo dan teman-temannya membawa Seungkwan ke gudang belakang sekolah. Entah apa lagi yang direncanakan Eunwoo, tapi sejak tadi tubuh Seungkwan sudah mengeluarkan keringat karena ketakutan.

Mereka mendudukkan Seungkwan di sebuah kursi lalu Eunwoo berdiri di hadapan Seungkwan, menatapnya sambil menyunggingkan senyum miring yang membuat Seungkwan bergiding ngeri.

"Sudah lihat berita di mading?" tanya Eunwoo.

Seungkwan menganggukkan kepalanya. Ya, tadi setelah makan siang di kantin, Seungkwan pergi melihat mading sekolah bersama Jihoon dan di sana terpasang dua buah kertas berisikan tentang keadaan Hansol yang kakinya terkilir karena Seungkwan. Tapi yang membuat Seungkwan tak habis pikir adalah, tulisan itu menuliskan kalau Seungkwan sengaja membuat Hansol terkilir karena ketidaksukaannya pada Hansol, padahal nyatanya itu tidak disengaja.

"Kau tahu siapa yang menulis?" tanya Eunwoo lagi.

Kali ini Seungkwan menggeleng. Tidak ada nama penulisnya disana dan Seungkwan sendiri juga penasaran.

"Aku yang menulisnya." Kata Eunwoo, membuat mata Seungkwan membola karena terkejut.

Eunwoo? Jung Eunwoo yang menulis berita bohong itu? Tapi bagaimana Eunwoo bisa tahu kalau Hansol terkilir karena Seungkwan? Apa Hansol yang mengatakannya? Atau teman-teman Hansol keceplosan bicara?

"Kau pasti penasaran kenapa aku bisa tahu, kan?" Seungkwan mengangguk.

[FLASHBACK]

Eunwoo tengah duduk sendiri di ruang tunggu rumah sakit sambil memainkan ponselnya. Padahal ia sudah ada janji dengan teman-temannya untuk pergi ke mall, tapi ibunya memaksanya menemani untuk check up ke rumah sakit. Karena tidak mau uang sakunya dipotong, akhirnya Eunwoo menurut saja.

Ketika ia tengah mengalihkan matanya dari ponsel, ia tak sengaja melihat Hansol tengah berjalan menuju lift rumah sakit. Eunwoo hampir saja menghampiri pemuda itu kalau ia tak melihat ada seseorang yang seharusnya tak bersama dengan Hansol. Boo Seungkwan.

Dilandasi rasa penasaran kenapa gadis itu bisa bersama Hansol, akhirnya Eunwoo memutuskan mengikuti keduanya. Dengan memberi jarak, Eunwoo berjalan pelan di belakang mereka, berusaha mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Kenapa kau melarang dokter Choi memberitahu hasil check up-mu?" tanya Seungkwan.

"Memangnya kau siapa? Kau kan hanya aku suruh menemani saja." Balas Hansol.

"Tapi aku ingin tahu apakah kau sudah sembuh atau tidak. Aku kan juga sudah tidak mau jadi pesuruhmu lagi, Choi Hansol." Kata Seungkwan.

"Jangan banyak bicara, nona Boo. Yang membuat kakiku terkilir seperti ini kan kau, jadi terima saja konsekuensinya."

Setelahnya mereka berdua naik ke lift yang terbuka, sementara Eunwoo ia sibuk mencerna semua yang ia dengar dari percakapan keduanya.

"Jadi kaki Hansol terkilir karena Boo Seungkwan? Astaga situasi macam apa ini? Kukira Hansol habis berkelahi, ternyata kaki Hansolku terkilir karena gadis itu." Gumam Eunwoo. "Tak apa, ini bisa jadi hot news di sekolah."

Kemudian Eunwoo kembali ke tempatnya duduk. Lalu ia pun mulai mengirim pesan pada teman-temannya tentang apa yang baru saja ia dengar. Dan boom! Respon yang ia dapat benar-benar sesuai ekspetasi.

"Aku penasaran, bagaimana reaksi gadis-gadis lain di sekolah kalau tahu berita ini." Gumam Eunwoo. "Pasti menyenangkan."

[FLASHBACK END]

"Kau tahu, Boo Seungkwan, ternyata reaksi mereka ketika melihat berita itu sesuai dengan ekspetasiku." Kata Eunwoo.

Seungkwan tak habis pikir. Ia sama sekali tidak mengira kalau Eunwoo akan melihat ia dan Hansol di rumah sakit kemarin. Dan luar biasanya, baik Seungkwan atau pun Hansol sama sekali tidak sadar kalau Eunwoo mengekori mereka.

"Kau tahu? Aku senang akhirnya tidak hanya aku yang membencimu." Kata Eunwoo. "Tapi hampir seluruh gadis di sekolah ini membencimu. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja, bukan? Mungkin setelah ini tidak hanya aku yang bermain denganmu, Boo Seungkwan, tapi hampir seluruh gadis di sekolah ini kurasa akan dengan senang hati bermain denganmu."

"Boo Seungkwan, kau tidak keberatan kan jika aku bermain-main denganmu lagi?" sambung Eunwoo seraya melirik teman-temannya.

Seungkwan pasrah. Eunwoo tidak mungkin membawanya kesini tanpa alasan, apalagi hanya untuk bicara panjang lebar seperti tadi. Seungkwan tahu kalau akhirnya ia pasti akan mendapat bully lagi. Karena ia tidak bisa melawan, Seungkwan pun pasrah saja dengan apa yang akan Eunwoo dan teman-temannya lakukan.

"Apa yang kalian lakukan?!" Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu gudang.

Seungkwan langsung membuka matanya yang ia tutup ketika mendengar suara tersebut. Bahkan Eunwoo dan teman-temannya langsung menghentikan gerakan mereka. Eunwoo menoleh kearah pintu, Seungkwan pun memiringkan tubuhnya agar bisa melihat dan disana, Seungkwan bisa melihat jelas sosok Lee Minhyuk tengah berjalan masuk ke gudang menghampiri Eunwoo.

"Apa yang kau lakukan, Jung Eunwoo?" tanya Minhyuk dengan tatapan tajamnya.

"A-apa yang sunbae lakukan disini? Bu-bukankah harusnya sunbae sudah pulang?" tanya Eunwoo.

"Kenapa memangnya kalau aku belum pulang? Kau takut ketahuan sedang membully Seungkwan, begitu?"

Eunwoo tidak membalas. Kemudian Minhyuk menarik tangan Seungkwan agar berdiri dari kursi lalu menyuruh gadis itu berdiri di belakang tubuhnya.

"Berhenti melakukan hal-hal gila, Jung Eunwoo." Kata Minhyuk.

Setelahnya Minhyuk membawa Seungkwan keluar dari gudang, meninggalkan Eunwoo dan teman-temannya yang memandang kepergian keduanya. Tangan Eunwoo terkepal erat, raut wajahnya berubah seketika.

"Eunwoo-ya, bagaimana ini?" tanya salah satu temannya.

Eunwoo menyunggingkan seringaian, "Tenang saja, aku akan pastikan gadis itu tahu kalau dia sudah cari masalah dengan orang yang salah."

-TBC-

Author's Note(s) :

1. Maaf sudah membuat kalian menunggu lama atas chapter ini. Aku harap kalian gak bosen nunggunya ya. Aku bukannya gak ada ide, tapi akunya kena penyakit males. Selesai uas serius deh pengennya tiduran aja di kasur udah kayak gak pernah pulang berjuta-juta abad hehe

2. Konflik muncul~~~aku suka ini. Dan Minhyuk kembali jadi Seungkwan's hero. Emang gitu sih biasanya second male lead suka jadi hero buat female lead kayak di drama-drama aja wkwk. Lalu dimana kah Choi Hansol? Coming soon di chapter depan.

3. Ayo tebak, reaksi Hansol waktu liat berita itu apa? Tebakan kalian bisa aja aku masukin ke cerita kalo menarik :)) (padahal mah niatnya minta bantuan wkwk)

4. Aku mau kasih spoiler buat chapter depan : Hansol akan jadi heronya Seungkwan.

5. Doakan aku semoga inspirasi turun melimpah ruah ke kepala biar chapter depan cepet di update hehe:)

6. Eh iya, aku kan lagi ngerjain work baru. Castnya Meanie. Kira-kira kalo aku posting kalian pada baca gak sih? Pengen aku posting tapi masih takut-takut. Selain udah ada dua work yang aku kerjain, aku takutnya gak ada yang baca wkwk. Minta pendapat kalian ya:)

Oke seperti biasa aja tolong tinggalkan sebuah review pembangkit semangat untuk saya selaku author yang banyak kekurangan ini. Doakan semoga inspirasi datang dengan lancar seperti arus katulampa kalo musim ujan:)

Aku sayang kalian semua readers-nim~~thankseu