=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====

Chapter 8

Teror Di Sushi Casino (Bagian Terakhir)

=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====

DISCLAIMER:

Bungo Stray Dogs oleh Asagiri Kafka (story) dan Harukawa35 (art)

Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives (sama Miyamura Akira, OC) oleh saya~ SarahMaula157Kila0ooo :)

Rated:

T / PG-13

Genre:

Drama, Supernatural, Hurt/Comfort, Family, Friendship, Humor, dll… (seiring waktu akan bertambah)

Warning:

Typo(s) bertebaran, gajeness, humornya gak kerasa, kata nonbaku yang sengaja dipakai, entah OOC ato gak, apalah ini-itu, dwwl…

A/N:

Saya gak dapet keuntungan apapun selain kesenangan batin (?) /plak


Akira's POV

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi sepertinya orang itu telah mengaktifkan kemampuannya!" jelasku sambil mencoba menutup hidung dengan tangan.

Kami berempat dilanda kebingungan serta rasa panik. Aroma kue-kuean sangat menyengat di ruang ini, akan tetapi aku tidak melihat ada hal yang mencurigakan. Benar-benar aneh! Aku sampai tidak habis pikir apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Apa kalian melihat atau merasakan sesuatu yang mencurigakan?" tanyaku pada mereka yang segera mengawasi sekitar.

"Iie, desu," jawab Kenji-kun yang langsung ditimpali Naomi-chan, "Aku pun juga."

Aku menatap Tanizaki-kun sebagai satu-satunya orang yang belum menjawab—ia masih meneliti ruang ini.

"!" aku melihatnya sedikit tersentak, "Ada…! Di sana!" kami mengikuti arah tunjuk jarinya, "Seorang pemuda yang sedang duduk di bar itu."

Aku mempertajam indra penglihatanku, dan tampak seorang pemuda mengenakan hodie tengah duduk sambil memainkan sebuah gelas.

"Dia kah?" gumamku, yang langsung disahut Tanizaki-kun, "Ee. Aku yakin orang itu."

"Kh…!" aku meyakinkan diri sejenak, lalu dengan cepat segera menuju tempat orang itu.

"Akira-san!"

Sedikit lagi! Aku menstabilkan pergerakanku karena tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan berpindah tempat. Dan, saat jarak di antara kami kurang-lebih dua meter, spontan aku memanggil orang itu dengan teriakan kecil, "Ano! Permisi! Kamu yang di sana pakai hodie!"

'!' sebenarnya, aku berharap mataku salah melihat, namun seringai yang tampak jelas itu tidak bisa dipungkiri ditujukan padaku, 'Apa…?'

Dengan indra pendengaranku yang makin tajam berkat kemampuanku, dapat kudengar pemuda itu bergumam rendah sambil memainkan gelasnya, "Akhirnya datang juga…"

"!" aku terkejut dengan perubahan ruang yang secara tiba-tiba ini. Wallpaper ruang yang berwarna cerah dengan motifnya yang berwarna gelap. Cahaya ruang yang begitu terang dan hangat. Perabot-perabotnya yang manis namun elegan. Semua itu tampak cocok dengan tema ruang yang kupikir adalah kue dan berbagai desert.

Lalu, ada hal lain. Pada salah satu bagian ruang ini terdapat meja makan yang sangat besar dan panjang, yang tentunya ditemani beberapa kursi makan. Modelnya tidak terlalu klasik, namun tetap terlihat elegan. Dan, di arah yang berlawanan terdapat perapian yang cukup besar. Namun, perapian ini tidak menimbulkan bau asap seperti perapian pada umumnya—seolah-olah itu hanya efek ilusi semata.

'Ada apa ini?!' aku segera meneliti ruang ini dan menemukan beberapa orang asing turut menempati ruang ini, "Minna!" aku segera berteriak setelah melihat mereka bertiga yang juga tampak kebingungan.

"Akira-san!" Naomi memanggilku dan mereka tampak ingin menuju ke tempatku, namun pergerakan mereka terhenti saat beberapa dari orang asing itu menghalangi.

"Jangan terburu-buru begitu," aku menoleh pada pemuda itu, "Permainan belum dimulai, jadi kalian santai saja."

Aku yang refleks menyiagakan diri segera mengobservasi orang asing itu. Dia tampak seperti remaja laki-laki pada umumnya—kemungkinan besar sebaya dengan Tanizaki-kun dan Atsushi-kun. Penampilannya sederhana dengan celana jeans dan hodie berlengan panjang. Namun, kupikir hal itu agak terganggu dengan kenorakan dari rambut pirangnya yang 'tak lagi tertutup tudung kepala hodienya itu. Serta, warna-warni gelang yang terlihat jelas karena lengan bajunya digulung. Sepatu kets menambah kesan energiknya.

'Orang yang suka mempermainkan lawan, kah?'

"Tetapi, sebelum memulai permainan, aku ingin berdansa denganmu, Ojou-chan. Aku akan merasa terhormat bila kau menerima ajakanku ini," ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya yang membuatku menyerengitkan kening.

"Apa yang—" gumamanku terputus saat tubuhku yang dalam posisi siaga tiba-tiba bergerak sendiri menuju ke arahnya, "!"

Apa-apaan ini!? Tubuhku bergerak sendiri tanpa bisa kukendalikan! Dan, saat mencapai tempatnya berdiri, aku langsung menerima uluran tangannya begitu saja.

Kenapa ini?! Mengapa tubuhku bergerak sendiri?! Dengan lancangnya dia merengkuh tubuhku dan memulai sebuah tarian tepat di tengah-tengah ruang ini.

Seketika, kami menjadi bahan tontonan seluruh orang di ruang ini.

Dan, dapat kulihat mereka bertiga memandangku dengan kekhawatiran.

"Jadi, ada urusan apa sampai agen dari Buso Tantei-sha ingin menemui kami?" tanyanya sambil fokus menari.

Aku hanya diam, sampai sebuah suara yang menjawabi pemuda ini membuatku kaget.

"Kami hanya ingin mengetahui, apakah kalian pelaku dari perampokan beruntun belakangan ini?" ujar Kenji dengan tenang, seolah-olah ia sedang menanyakan di mana pusat perbelanjaan di Yokohama.

KENJI-KUUUN! Apa yang kau pikirkan?!

"Ooh, begitu, rupanya," dia tampak berpikir sejenak, lalu dengan santai menjawab, "Karena Bos kami belum ada di sini, aku tidak bisa menjawabnya. Gomen ne!"

"Ah, tidak, tidak apa-apa. Kami akan menunggu jawaban dari kalian," balas Kenji dengan kesantaian yang sama.

Kau percaya padanya?! Astaga, Kenji-kun! Sebenarnya, kau ini di pihak siapa, sih?!

Akan tetapi, saat aku melihat reaksi Tanizaki-kun dan Naomi-chan yang memakluminya, aku jadi bingung. Sepertinya… sifat terbuka Kenji-kun itu berlaku pada semua orang tanpa terkecuali, termasuk pada orang yang jelas-jelas adalah musuh, ya? Ya ampun…

"Kau tahu, Ojou-chan? Sejak kecil aku sudah jago menarikan dansa ini. Apa kau mengenalinya?" tanyanya di sela-sela gerakan kami.

"?" aku menatap orang ini dengan heran dan jengah, "Ini Tarian Waltz, bukan?"

"Kau tahu, ya! Tak kusangka orang yang tampak kaku dan tidak tahu-menahu tentang dansa dari Buso Tantei-sha ternyata tahu tentang hal ini!"

Grrh! Cukup sudah pembicaraan 'tak bermutu ini!

"Apa yang kau lakukan pada tubuhku!?" tanyaku geram dengan tatapan tajam.

Pemuda ini terkekeh santai—membuatku makin kesal—lalu menjawab, "Hanya melakukan sebuah pembukaan sebelum permainan dimulai."

"Pembukaan? Permainan macam apa yang kau maksud?"

Dia menatapku dengan senyum simpulnya yang membuatku makin ingin menendangnya jauh-jauh, "Sebuah permainan yang biasa kumainkan bersama musuh!"

"!" aku yang segera menyadari niatannya segera mencoba menarik diri darinya, namun tidak berpengaruh sama sekali, "Lepaskan mereka dari kemampuanmu! Bawa saja aku!" pintaku geram.

"Hm? Watakmu sudah mulai terlihat, ya, Ojou-chan!" dia memutar tubuhku, namun tarian kami terhenti dan tubuhku bersandar padanya, "Aku jadi semakin ingin melihat karaktermu secara detail!" ucapnya di sebelah telingaku.

Aku menggertakkan gigi menahan kesal, "Apa yang sebenarnya kalian inginkan?"

Dia kembali tersenyum simpul, "Just the simple things,"—"?"—"Lihatlah rekan-rekanmu."

"!" dapat kulihat masing-masing dua orang menahan pergerakan mereka bertiga, "Minna! Kh! Lepaskan mereka!" tubuhku mulai sedikit tergerak, namun itu tidaklah cukup—orang ini masih memegang kendali atas tubuhku.

"Inilah akibat jika ingin berurusan dengan kami, asal kau tahu, Ojou-chan," aku meliriknya, "Tidak ada yang pernah mencium pergerakan kami. Namun, seperti kabarnya, Buso Tantei-sha memang selalu bisa diandalkan."

"!" aku termenung mendengar penjelasan singkatnya.

Apa?

Jadi… semua ini gara-gara aku? Karena aku bisa mengetahui pergerakan mereka, Tanizaki-kun, Naomi-chan, serta Kenji-kun menjadi kambing hitamnya? Kalau begitu, bukankah seharusnya aku tidak ikut serta dalam misi ini?

Tidak.

Yang benar, bukankah seharusnya aku tidak usah bergabung ke Tantei-sha?

Ya… benar… seandainya saja aku bukan bagian dari mereka, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi…

Normal POV

Senyum licik yang terpampang di wajah sang pemuda perlahan menghilang, membuat wajahnya tampak datar dan dingin, 'Gadis ini mudah terpengaruh ucapan orang, rupanya,' pikirnya sambil memerhatikan ekspresi Akira.

Sementara Akira sedang terpuruk, pemuda itu memberikan kode pada rekan-rekannya yang menahan pergerakan mereka bertiga.

"Kau harus menyaksikan ini, Ojou-chan. Lihatlah apa yang bisa kami lakukan pada rekan-rekan tercintamu itu," ucapnya tepat di sebelah wajah Akira.

"!" Akira yang awalnya tertunduk segera menegakkan kepala untuk melihat keadaan ketiganya, "Tidak…"

"Lepaskan aku! Jangan coba-coba menyakiti mereka!" Akira coba memberontak, namun sia-sia, "Aargh!"

'Dia bahkan tidak sadar bahwa abilityku tidak mengendalikan sebagian tubuhnya.'

Junichirou, Naomi, serta Kenji dibuat berlutut oleh orang-orang yang menahan pergerakan mereka. Mereka bertiga saling bertukar tatapan sambil meringis kesakitan. Tak lama, salah seorang pria berhenti melangkah di depan ketiganya.

"Mereka lumayan juga," pria yang tampak sudah kepala empat itu menoleh pada si pemuda, "Kerja bagus, Ayatsuno-kun. Dengan begini, kita dapat menambah pemasukan dari penjualan organ tubuh ilegal."

"!"

"Sama-sama, Tuan," si pemuda alias Ayatsuno membalas dengan senyum simpulnya.

"Aah, tapi, mungkin kita bisa mengecualikan untuk kedua gadis ini," pria itu memegang dagu Naomi yang si empu menatap tajam, "Tampang mereka lumayan juga. Sebaiknya, kita apakan gadis-gadis manis yang lugu ini?"

"Naomi!" Junichirou memberontak sekuat tenaga melihat hal itu, namun dirinya dibuat 'tak bisa bergerak lantaran kedua tangannya dikunci dan punggungnya diinjak.

"O ya? Apa dia adalah kekasihmu? Kalau begitu, kisah cinta kalian tidak akan semulus seperti yang ada di novel-novel picisan."

"Cukup!" Junichirou berkata dengan geram, lalu mengangkat kepala semampunya dengan pandangan yang amat tajam dan dingin, "Lepaskan tangan kotormu dari Naomi!"

Pria itu terkekeh, "Jantan sekali," lalu menghempaskan Naomi hingga terbaring di lantai.

Ia beranjak menuju tempat Junichirou, "Kupikir, sebaiknya kita akan memulainya dari kau dulu, Pemuda Pemberani," setelah berjongkok pria itu segera menjambak rambut Junichirou sampai pandangan mereka sejajar.

Sambil menahan rasa sakit Junichirou berteriak memberi kode, "KENJI-KUN!"

"HAAA'I" dengan cepat dan cekatan Kenji bergerak melepaskan pegangan kedua orang yang menahannya, lalu berbalik memegang sebelah tangan mereka. Seolah-olah tidak ada beban apapun, dia berputar bersama kedua orang itu dan melemparkan mereka tepat ke beberapa orang yang bersama si pria dan Junichirou. Hal itu sukses membuat semua orang yang di ruang itu tercengang, kecuali Naomi dan Junichirou.

"Apa yang kalian lakukan?! Cepat hentikan bocah itu!" titah pria itu kelabakan.

"Tidak ada yang dapat kalian lakukan untuk melawan Kenji-kun, Paman Tua Bangka," ujar Junichirou yang berusaha berdiri setelah dilepaskan.

Sementara itu, keadaan kontras Akira yang terkejut dan Ayatsuno yang tertarik teralihkan saat keduanya menyadari bahwa ruang itu mulai diisi dengan salju misterius.

"Diam kau, bocah! Jangan merasa senang hanya dengan sedikit kekacauan yang dibuat temanmu itu!" pria itu menodongkan pistol pada Junichirou, "Hah? Salju?" ia yang menyadari keberadaan salju dalam ruang itu segera berteriak pada anak buahnya, "Apa yang sedang kau perbuat, Ayatsuno?"

"Tuan, ini bukan dari kemampuan khususku," jelas Ayatsuno datar.

"Hah?"

"Benar, karena ini adalah Abilityku."

'Souyeba,' Akira teringat biodata singkat anggota Tantei-sha yang diberikan Haruno, 'Kalau tidak salah, Nouryoku milik Tanizaki-kun bernama "Sasame Yuki". Apa mungkin…'

Dengan aura yang cukup mencekam, Junichirou berujar, "Akan kubuat kau membayar atas apa yang telah kau lakukan pada Naomi!"

"Ha! Pemuda payah sepertimu berani berkata seperti itu tanpa satu pun senjata? Mari kita lihat apa yang bisa kau lakukan!"

DOR! DOR!

Detik berikutnya, pria itu menembak dada Junichirou.

"Tanizaki-kun!"

"Onii-sama!"

"!"

Namun, apa yang terjadi setelah itu membuat semua orang terkejut. Junichirou yang telah ditembak malah memudar dan sirna menjadi serpihan salju, seperti salju yang telah mengisi ruang itu. Naomi dan Kenji yang mengetahui apa yang Junichirou lakukan segera menyiapkan diri.

"!" Akira yang menyadari bahwa salah seorang anak buah pria itu akan menyerang temannya segera berteriak memperingatkan, "NAOMI-CHAN! DI BELAKANGMU!"

"Eh?!" Naomi yang masih dalam posisi berlutut segera menengok ke belakang dan mendapati seorang pria hendak memukulnya dengan pistol berukuran sedang, namun dalam posisi itu dia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengelak.

BUK!

"KENJI-KUN!"

Dengan gesit Kenji segera berlari ke arah Naomi dan membuatnya menerima pukulan itu. Naomi segera mendekati Kenji yang tersungkur di lantai sementara semua orang menonton mereka. Di sisi lain, Akira terpaku melihat semua itu.

"Rekan-rekanmu sudah mencapai batasnya. Apa yang akan kau lakukan, Ojou-chan?" ucap Ayatsuno nyaris seperti berbisik.

"!" Akira tersentak dan merenung, 'Apa? Apa yang bisa kulakukan saat ini? Apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan rekan sekaligus temanku?!'

"Aduh, duh, duh," suara itu membuat Akira sadar dan terkejut, "Ah, jangan khawatirkan aku. Terkadang hal seperti ini terjadi di pedesaanku saat sapi mengamuk. Nah, di saat seperti itu…"

Kenji yang hanya bicara dengan santai sambil beranjak menuju salah satu sisi ruang itu kembali mengejutkan semua orang karena mengangkat meja makan dengan mudahnya. Dan… seperti yang sudah-sudah. Dia menggunakannya untuk menyerang para musuh secara brutal dan riang.

Akira kaget setengah mati.

Ayatsuno terkejut dan terpana.

Pria tadi alias Si Bos panik.

"A-Apa?! Apa yang kalian lakukan?! Cepat hentikan bocah pirang itu!"

"Aku ragu mereka bisa melakukannya."

Tiba-tiba saja Si Bos berteriak kesakitan lantaran tangannya yang menggenggam pistol dipelintir ke belakang. Sambil mencoba merebut pistol itu si pelaku menginjak punggungnya agar lebih mudah dalam melakukan aksinya. Detik berikutnya, pistol telah berpindah tangan dan pria itu tersungkur ke lantai.

"!" Si Bos lalu melihat si pelaku, "K-Kau! Bagaimana bisa—"

Junichirou yang tengah berdiri tegak dengan pistol tadi berada digenggaman menatap pria itu dengan lebih tajam dan dingin, "Kau akan menuai apa yang telah kau tabur. Aku sangat yakin kau tahu pepatah itu. Lihatlah seisi ruang ini."

"!" para pria tegap bersenjata yang tadinya memenuhi ruang itu kini telah bertumbangan dan terkapar di lantai, "M-Mustahil! Para bawahanku!"

"Nah, jadi," pria itu menoleh dengan patah-patah pada Junichirou yang tahu-tahu sudah berjongkok di dekatnya, "Apa yang sebaiknya kulakukan padamu atas perbuatanmu pada Naomi tadi, Paman Tua Bangka?" tanya Junichirou dengan senyum bak psikopatnya.

Si Bos yang hanya bisa bergidik pasrah langsung berteriak histeris menerima "balasan maut" dari Junichirou (yang kini kehilangan kendali).

Di sisi lain, Akira dan Ayatsuno yang sedari tadi hanya menonton dan diam di tempat langsung bergidik ngeri menyaksikan hal tersebut.

Ayatsuno menghela nafas lelah sejenak, "Aku sudah menduga mereka akan kalah. Tapi, kekalahan mereka yang kusaksikan ini benar-benar seperti sebuah lelucon!" dia melepaskan pegangannya pada Akira, namun belum melepaskan sepenuhnya efek Abilitynya, "Sayang sekali sudah selesai. Aku sangat menantikan pertemuan kita yang selanjutnya, Ojou-chan!" dia melangkah pergi sambil membelai sebagian rambut Akira.

"!"

Detik berikutnya mereka berempat dikejutkan dengan perubahan ruang itu yang kembali seperti semula, yaitu ruang pusat perjudian dari Sushi Casino. Para pengunjung yang menyadari keberadaan mereka berbincang keras. Dan, sebagian pula berteriak histeris melihat keberadaan para bawahan pria tadi serta Si Bos sendiri.

'!' Akira coba menggerakkan tubuhnya, 'Efek Ability orang itu sudah tidak ada?'

'Benar juga!' Akira segera menggunakan Abilitynya untuk mempertajam indra penciumannya dan segera melihat ke bagian belakang kasino. Matanya langsung menangkap punggung Ayatsuno hanya untuk beberapa detik. Dia melihat kata "DAPUR" pada pintu ruang yang tadi dimasuki pemuda itu. Namun, niatnya mengejar Ayatsuno langsung sirna begitu dia menyadari bahwa aroma pemuda itu sudah tidak ada lagi.

'Dia pasti kembali memakai kemampuannya.'

Tak lama setelah itu, para polisi datang memasuki kasino dan meringkus pria itu serta para bawahannya.

.

"Huaaaah! Akhirnya kasus ini selesai~!" Naomi dan Akira yang lebih dulu telah menanggalkan kostum penyamaran mereka segera menghela nafas lelah dan lega.

Saat ini mereka tengah berdiri di depan bangunan Sushi Casino sambil melepaskan pakaian penyamaran mereka. Beberapa polisi berterima kasih kepada mereka mewakili para rekannya yang sibuk meringkus kelompok kriminal tadi. Setelah semua itu selesai, mereka berempat terdiam saat mendengar suara perut Kenji dan Akira.

"M-Maaf! Hal memalukan seperti ini…" ujar Akira dengan wajah tertunduk menahan malu.

"Tidak, tidak apa-apa. Itu hal yang wajar dalam mengerjakan sebuah misi," ucap Kenji yang langsung disetujui Tanizaki bersaudara, "Ah! Bagaimana kalau sekarang kita pergi mengembalikan pakaian-pakaian ini dan sekalian makan di sana?" usulnya.

"Woah! Ide bagus! Kedai makanan tradisional biasanya menyediakan kue-kue. Kita bisa mengisi kembali tenaga kita dengan memakan yang manis-manis!" timpal Junichirou.

"Selain itu, kalau tidak salah lihat, mereka juga menyediakan kari dan sapi panggang!" tambah Naomi.

"Benarkah?" tanya Akira bersemangat, yang disahut Kenji, "Benar! Aku pernah makan sekali di sana."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo!"

Tanpa keempatnya sadari, Ayatsuno mengawasi mereka sambil bersedekap di balik bayang-bayang bangunan pada celah gang.

"…"

Tak lama, dia melangkah pergi sambil kembali memakai tudung kepalanya.

.

"Tidak, Bos. Tidak ada masalah. Hanya serangan mendadak kepada agen Tantei-sha dari kelompok kriminal yang tampaknya mengincar transaksi ilegal di sini. Tidak. Sepertinya, mereka sedang menangani kasus lain."

Setelah menutup panggilan, pria bertopi fedora itu menengguk winenya.

"Sayang sekali aku tidak dapat ikut menonton aksi para agen Tantei-sha itu. Yah, kurasa kejadian ini tidak ada gunanya," Chuuya meminum winenya kali ini sampai habis, 'Tapi, tadi aku bisa melihat dia. Sepupu Jinko yang waktu itu ramai diperbincangkan.'

"Gadis itu sepertinya menarik. Sayangnya, aku tidak punya urusan dengan dia."

.

"Bagaimana?"

Kunikida yang berdiri sambil membaca laporan bertanya pada rekannya yang menutup panggilannya dengan menyinggung senyum puas.

"Beres! Polisi datang tepat waktu setelah mereka selesai 'membereskan' para pelaku dari kasus mereka!"

Dazai lalu bersandar pada kursi kerjanya sambil membaca kasus yang ditangani oleh mereka berempat dengan bersenandung.

"Hm, baguslah kalau begitu," ucap Kunikida sambil berlalu entah ke mana.

Dazai yang fokus membaca lalu menegakkan badan dan menaruh kertas itu ke meja kerjanya.

"Walau begitu tetap saja…" ia merenung, 'masih ada sesuatu yang terlewatkan.'

.

"Ittadakimasu~!"

Akira, Kenji, Naomi, dan Junichirou segera melahap makanan mereka yang telah dihidangkan oleh pelayan kedai tersebut.

"Aah~! Dango dan ocha memang paling enak dinikmati pada sore hari!" ucap Naomi, membuat yang lain tersenyum dan mengangguk menyetujui.

Di saat mereka bertiga asyik mengobrol, Akira menyantap karinya dengan perlahan sambil melamun.

'Kasus ini sudah selesai. Tapi, kunci dari keberhasilan kelompok itu belum didapatkan,' dia mengingat Ayatsuno, 'Pemuda itu… bagaimana cara kerja Abilitynya?'

"Akira-san?"

"Eh? K-Kenapa, Naomi-chan?"

"Apa kamu juga ingin dango?"

"Ah, boleh! Kalau begitu, aku pesan dango dan ocha satu porsi."

Akira menghela nafas sejenak, 'Sudahlah! Yang penting, sekarang aku menikmati waktu makanku bersama mereka,' dia melirik ke samping dan tidak sengaja melihat Kenji yang sudah tertidur di meja dengan pesanan sapi panggang jumbonya yang telah ludes bersih tak bersisa, "Eh? Kenji-kun?"

"Jangan khawatirkan dia, Akira-san. Kenji-kun selalu begitu tiap kali memakai Abilitynya," Junichirou turut melihat Kenji sambil meminum ochanya.

"Memangnya, bagaimana cara kerja Ability Kenji-kun?" tanya Akira.

"Seperti yang kamu lihat tadi. Dia bisa mengangkat benda seberat apapun dan tidak merasakan sakit walau diserang separah apapun. Ah, tapi, kalau diserang dengan cara tertentu, dia bisa saja tumbang," jelas Junichirou.

Naomi menimpali, "Tapi, bukan berarti dia tidak terkalahkan, lho!"

"Eh?"

"Kenji-kun hanya bisa menggunakan kemampuan khususnya saat dia merasa lapar."

"He? Kalau begitu, jika dia sudah kenyang?"

"Seperti yang kamu lihat," Naomi dan Junichirou berucap bersamaan, "Dia akan tertidur."

"Ooh. Naruhodo," Akira manggut-manggut, 'Yare yare! Aku harus membuat catatan khusus tentang anggota Tantei-sha!'

Dengan begitu, mereka kembali melahap pesanan mereka sambil mengobrol ria.

Saat kembali menyuap karinya, Akira kembali teringat sesuatu, 'Ah. Hal itu akan kubicarakan dengan salah satu dari mereka bertiga, deh.'

.

Dari ujung gang yang gelap terdengar suara senandung seorang lelaki. Di sisi lain, tampak seorang pria muda dengan rambut hijau dan setelan formal-klasik tengah bersandar pada dinding salah satu bangunan. Perhatiannya masih terpusat pada sebuah boneka beruang di tangannya sampai pria yang tadi bersenandung berhenti di dekatnya.

Ayatsuno menatap rekannya dengan datar, lalu mengeluarkan ponsel lipatnya dan mengutak-atiknya.

"Bagaimana?" tanya pria muda itu.

"Beres. Pria itu dan para bawahannya telah ditangkap polisi. Bagaimana dengan kerja mereka berdua?" balas Ayatsuno.

"Mereka juga telah selesai memilah barang rampokannya. Tinggal kau kembalikan barang-barang yang tidak dibutuhkan ke markas mereka."

"Ooh, baiklah."

"Kau harus cepat mengembalikannya, Akabane. Jika polisi lebih dulu datang ke markas mereka, rencana kita akan gagal. Dan, yang lebih merepotkan adalah membuat strategi baru," jelas pria muda itu sambil menunjuk pemuda itu dengan jari telunjuk sementara tangannya yang lain memeluk boneka tadi, "seperti yang pernah terjadi gara-gara ulahmu."

Ayatsuno alias Akabane mengedutkan sebelah matanya kesal, "Iya, iya, tahu, kok! Dan juga, jangan mengungkit-ungkit yang sudah lewat!"

[Akabane Shinji—Ability: Di Ruang Hangat yang Sunyi]

"Kau masih tidak mengerti, ya? Masa lalu ada untuk dipelajari. Artinya, kesalahan yang dulu sebagai pelajaran untuk sekarang, bukan untuk diulangi," balas pria muda itu dengan tenang.

[Shuji Middlesworth—Ability: Putusnya Ikatan Jiwamu]

"Argh! Sudahlah! Aku pergi dulu!" erang Akabane yang segera beranjak pergi.

"…" Shuji melihat punggung Akabane yang mulai menjauh lalu berujar, "Perhatikan tali sepatumu, Baka Shinji!"

"Diam kau, Shujinomoto!"

Setelah kepergiannya, Shuji mendengus kecil.

'Dia tadi bersenandung, ya…' Shuji lalu memandang bonekanya, "Sepertinya, musuh kali ini lebih menarik."


Ending Theme: Hanabi – by ClariS

Preview

Akira: Ngh… Haaa'i, sebentar! Are? Kunikida-san?

Kunikida: Ah, ohayou. Sebaiknya kalian segera bersiap-siap. Kita akan berangkat kerja lebih cepat hari ini.

Dazai: Nah, Akira-chan. Dalam situasi ini aku harus membuatmu berada di posisi klien.

Akira: Ha'i?!

Dazai: Tokoro de, mumpung kita sedang berada di pusat perbelanjaan, bantu aku mencari wanita cantik untuk bunuh diri gandaku—Ouw! Siapa nona kecil ini?

Atsushi: Akira-san! Gawat! Ada orang lain yang rumahnya terbakar!

Ranpo: Yare, yare. Sepertinya keadaan menjadi semakin parah, ya.

Akira: Are? Ranpo-san!

Selanjutnya, Bungou Stray Dogs: The Lost Relatives Chapter 9,

Tanuki Berdarah (Bagian Pertama)

Akira: Apa yang sebenarnya telah terjadi?!


~ Author ground ~

Author: Heyo, what's up, minna-san~? Moshi-moshi to hisashiburi ne~! :D

Akhirnya, bisa kembali bercuap-cuap bin cek-cok lagi! /tebar bunga/

Gimana kabarnya, nih? Bagi para senior, gimana kabar ujiannya? Sukses? AMIN!

Mm… ceritanya makin melenceng, ya? Iya, hayati tau, kok. /menghela nafas/ Entah kesambet apa, alur ceritanya mengalir begitu saja dan… wala! Jadilah seperti ini!

(Dark Sarah: Lu merasa sedih atau bangga, sih? -_- )

Sebenarnya, rencana alur ceritanya itu gak kayak begini. Tapi, seiring jari dan otak serta hati saya bekerja sama, jadilah alur cerita yang begini. So, please don't give me any question about the idea behind the plot, okay?

(Dark Sarah: -_- Sok keinggrisan lu…

Rasio Sarah: _|| Namanya coba membiasakan…)

Omong-omong, masuknya tokoh baru itu juga bukan bagian dari rencana saya. _|| Rencananya tuh cuma tokoh extrast kayak di BSD season 1 episode 7. Tapi… yah, namanya manusia. Hanya bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan.

(Dark Sarah: Puitis mode on, nih?)

Oh, ya. Ada bayangan tentang para chara baru itu? Kalau ada usulan, langsung aja ketik di kolom review. Insya Allah saya pakai :) Yah, mungkin dengan berbagai penyesuaian.

Tokoro de… tentang movienya BSD.

Kapan ada yang subtitle Indo, ya?

Aaargh! Gereget banget! Tambah lagi pas nonton trailernya yang kedua. Dazai kok malah ke Bar Lupin? Kenapa malah minum obat kapsul? Terus—

Dark Sarah: Sesuka dia lah! Mau dia bunuh diri kek, minum wine segalon kek.

Author: Diem lu!

Rasio Sarah: Sarah! Tenang dulu tenang!

Author: /ambil nafas, buang nafas/ Iye, ni udah.

Oh ya! Soundtrack Dead Apple nambah rasa gereget, ya! Apalagi denger seiyuunya Chuuya, berasa denger Chuuya-san yang asli lagi manggung. /plak Terus, yang Bokura! Hedeeeh! Lagu dari Luck Life lagi-lagi bikin hati saya meleleh! Yah, walau belum tau arti lagunya sih. Tapi, dikit-dikit ngerti lah. Misalnya, di bagian, "Daijoubu… bokura wa ikiru~ Woaah!"

(Rasio Sarah: /ikutan nyanyi/

Dark Sarah: Suara sumbang malah nya— /kena jewer/

Rasio Sarah: Udah, diem! Nikmatin aja lagunya!)

Sebelumnya, saya akan membuat pengumuman kecil. Soundtrack op dan ed akan dirubah dengan alasan penyesuaian. Jadi… ada usul lagu atau grup band J-pop? #berharap

Okay, balasan reviewnya~! :D

~ rara ~

Oalah, gak papa kok. :) Paham, kok, paham. Saya ngerti kok rasanya sibuk ngurus ini itu. Pasalnya, saya juga kayak gitu. T^T Terima kasih! Arigatou gozaimasu karena telah menyukai karyaku! /berojigi/ Ha'i! Ganbarimasu! #semangat Kamu juga, ganbatte di sana, ya! :D :)

Yak! Nanti nyambung lagi :P Sekian dari "Author Ground" yang always gaje ini. :) Selalu saya ucapkan terima kasih atas kesabarannya menunggu saya (baca: karya saya). :D

All: Akhir kata, hontou ni arigatou gozaimasu, terima kasih atas pengertiannya, dan sampai jumpa~! :D O:)

Rasio & Dark Sarah: Mohon kritik, saran, dan responnya dalam bentuk apapun! Silakan juga memberi usulan dan yang lain! RnR? :)

/Tambahan:/

Balasan review di fanfiction saya yang "This Present"! :D :)

~ rara ~

Hehe~ Iya, sasaranku itu bikin cerita yang fluff :) Yoke/Okay! Tungguin ide dan karyaku selanjutnya ya! :D

~ ecresentias ~

Eh? Bener nih? Gak nyangka lho karyaku bisa bikin kamu begitu. Tapi, ini melankolis yang positif, kan? (Jangan melankolis yang negatif ya plis Merasa bersalah karena bikin anak orang galau nih) Hehe~ Sankyu "great job"-nya! :D :)