Chapter 10
Summary : Sebelum meninggal, Kushina dan Minato meninggalkan pesan bahwa Naruto harus menjemput istrinya di Quebec City. Sementara Naruto tidak ingat pernah menikah. Apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba kehidupannya berubah.
Disclaimer : Karakter milik Om Masashi. Cerita sepenuhnya milik Author. Arigatou.
Warning : Au, Ooc, Marriage Life. NaruSaku.
oOo
'Jauh sebelum hari ini aku pernah berpikir bahwa aku adalah pihak yang paling mencintai, paling berkorban, dan paling terluka. Aku tidak menyadari bahwa pihak yang memiliki cinta paling besar selalu menjadi yang paling lemah dan rentan.
Di antara aku dan Naruto, kurasa pria itulah yang lebih banyak mencintaiku daripada aku mencintainya, aku masih baik-baik saja meskipun kita bertengkar atau sampai kehilangan bayiku. Sementara Naruto kehilangan segalanya, kehilangan semua kenangan indah yang kita miliki, kehilangan kesempatan untuk mencintai orang yang paling ia cintai. Kehilangan ingatannya tentangku adalah tingkat paling tinggi dari mencintaiku, menurutku, melupakanku sama saja seperti hidup dalam kematian. Itulah yang dilakukan tubuhnya ketika hatinya terlalu candu padaku. Aku tidak tahu apa ketakutan terbesar dalam hidup Naruto yang berkaitan denganku. Hilang ingatan adalah cara bagi tubuh Naruto agar tetap hidup. Tubuhnya yang egois menginginkan Naruto tetap sehat meskipun tak benar-benar hidup.'
"Kau harus membiarkan Naruto pulih untuk beberapa waktu. Setelah tubuhnya pulih, tak akan sulit bagimu untuk mengatakan semuanya."
Sakura menatap cangkir cappuchino di depannya, memain-mainkan bibir cangkir dengan jarinya. "Aku tidak bisa. Bagaimana aku pergi dari Naruto?"
"Perasaan bukan sesuatu yang mudah berubah, Sakura. Kau harus percaya bahwa Naruto mungkin bisa melupakanmu di pikirannya, tapi dia tidak akan bisa melupakanmu di hatinya."
"Kau benar, Tenmari."
"Kita sudah berteman sejak kau tinggal di Kanada. Aku adalah sahabatmu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Aku tidak pernah berharap kau menjadi pasienku seperti ini."
Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat psikiater muda di hadapannya.
oOo
Naruto semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura. Tak peduli dengan hujan yang terus mengguyur seluruh tubuhnya. Payung yang dipegang Sakura jatuh begitu saja. Entah Naruto merasakan sesuatu yang menusuk di hatinya.
"Apa kau mengingat sesuatu? Hm?" Sakura membelai rambut Naruto yang basah, perlahan turun mengelus punggung Naruto dengan tangannya. Hujan masih setia turun sementara keduanya enggan melepaskan diri.
"Cherry?" bisik Naruto.
"Ya?"
"Cherry?"
"Ada apa?"
Naruto menyembunyikan wajahnya di pundak Sakura. Mencari kehangatan dari dinginnya air hujan. Ia tidak paham kenapa dadanya sesesak ini padahal udara di sekelilingnya baik-baik saja. Tubuhnya masih sehat hingga hari ini ia tak pernah merasa mengeluh karena sakit. Tapi kenapa dadanya terasa berat? Ragu-ragu ia berkata, "Aku tidak bisa mengingat apa-apa."
Awalnya Sakura hanya diam. Bukan ingatan Naruto yang membuat suaminya seperti ini. Apa pun itu, ia tidak bisa membohongi dirinya lagi bahwa Sakura sudah sangat merindukan Naruto, merindukan suaranya yang lembut setiap kali menyebut namanya, merindukan pelukannya yang hangat, dan merindukan tatapan safirnya yang indah. Sakura merindukan semua tentang Naruto. Ia tidak sanggup lagi jika harus terus seperti ini.
"Aku menunggumu, Naruto. Aku menunggumu setiap hari, dan aku hampir mati karena merindukanmu." Sakura mulai menangis. Ia tidak peduli lagi apakah Naruto sudah mengingat semuanya atau belum. Ia hanya ingin menangis sekali ini saja. Ia ingin menangis di dalam pelukan Naruto. "Aku sangat ketakutan, aku sendirian, dan aku kesepian sepanjang waktu. Aku ... aku sangat merindukanmu."
Seorang diri Sakura menghabiskan waktu yang bagaikan neraka di Kanada selama ini. Rindu baginya adalah hal yang rumit, yang tidak akan impas sebelum dibayar oleh pertemuan. Setiap sore menjelang dan senja bertandang di dekat jendela rumahnya, Sakura akan berdiri termenung. Mengenang kebersamaannya dengan Naruto setiap senja, setiap pagi, setiap siang, dan malam yang dingin, yang biasanya selalu ditemani pelukan hangat suaminya.
Namun begitulah hakikat sebuah penantian, yang bahkan mampu menghentikan laju waktu. Seakan dua tahun adalah ratusan tahun yang sunyi untuknya, yang menenggelamkan Sakura pada jurang tak berdasar. Menyeretnya ke tengah dunia yang kosong. Membawanya pada labirin tak berujung, ia terus tersesat sendirian, rasanya tak ada satu hari pun terlewat tanpa menyiksanya.
Hujan menyapu air matanya yang merebak. Sakura melepasakan pelukannya dari Naruto. Menatap langsung dua iris safir kesukaannya.
"Ayo kita pulang. Aku tidak ingin kau sakit, Sayang."
oOo
Sakura mengerjap merasakan cahaya yang cukup silau mengenai wajahnya. Ia membuka mata perlahan dan melihat gorden jendela yang bergerak-gerak terkena udara air conditioner di dalam kamar. Suasana yang tenang dan sunyi. Ia bangun dengan hanya mengenakan sebuah kemeja berwarna putih yang kebesaran. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ah ya ia berada di kamar utama rumah ini. Tepatnya kamar milik Naruto. Bicara soal Naruto, di mana suaminya itu? Di sebelah Sakura hanya tersisa bantal yang kosong dan jejak orang tertidur di atas sprei yang berantakan.
Begitulah bagaimana kejadian saat hujan kemarin membawa Sakura kembali ke habitatnya, yaitu kamar utama mansion Uzumaki. Kamar yang pada awalnya memang milik Sakura, meskipun beberapa waktu lalu ia sempat terusir dari sini. Sakura hanya senang bisa kembali lagi ke kamar ini. Terlebih mulai hari ini dan mungkin seterusnya, akan ada wajah Naruto setiap kali ia memulai tidur atau bangun di pagi hari. Rasanya sangat mendebarkan.
"Aku di sini, Cherry. Aku tidak akan pergi apa pun yang terjadi, dan aku tidak akan mengizinkanmu pergi meninggalkanku lagi."
Kalimat Naruto semalam terus berputar-putar dalam kepalanya. Ah tiba-tiba saja ia merasa sangat merindukan Naruto. Ia ingin memeluk Naruto lagi seperti semalam. Memang terdengar memalukan untuk dipikirkan. Tapi sungguh ia sudah sangat lama mendambakan suaminya, pelukannya, sentu‒tidak! Bodoh! Apa yang sudah Sakura pikirkan di pagi buta! Wajah Sakura memerah dengan sendirinya, apalagi jika mengingat apa yang sudah terjadi malam tadi. Ia tersenyum-senyum sendiri dalam lamunannya.
Sakura menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dari kejauhan. Naruto keluar dari kamar mandi dengan jubah handuk dan sandal berbulu milik Sakura. Wanita itu tak kuasa menahan geli di perutnya, pelan ia mentertawakan gaya suaminya.
Naruto sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin ketika sepasang tangan menyusup di antara kedua lengannya. Naruto dapat melihat bayangan Sakura yang memeluknya dari belakang.
"Ada apa?" Naruto menghentikan kegiatannya mengeringkan rambut. Tangannya berpindah pada sepasang tangan lain yang melingkar di perutnya.
"Tidak apa-apa."
"Kita baru saja bertemu beberapa menit yang lalu, jangan bilang kau sudah merindukanku?"
Sakura mempererat pelukannya. Ini sungguh bukan mimpi kan? Naruto benar-benar ada di depannya. "Aku hanya ... sangat ... merindukanmu." Naruto tersenyum senang. Perasaan aneh apa ini? Setelah kemarin, setelah semalam, bahkan pagi ini tak henti-hentinya ia merasakan sesuatu seperti menggeitiki perutnya. Wajahnya tidak ingin berhenti tersenyum.
"Cepatlah mandi dan berpakaian. Kita akan sarapan bersama."
Sakura masih enggan menggeser posisinya. Naruto yang terkunci hanya membiarkan saja Sakura terus menempel seperti lem di tubuhnya.
"Ayolah, Cherry. Setelah sarapan aku ingin mengajakmu berkencan," ungkap Naruto.
Sakura melepaskan pelukannya. "Ke-kencan?"
"Kau mau pergi ke mana? Kau mau melihat apa? Pelangi? Hujan? Laut? Gunung?"
Sakura menggeleng. "Memangnya tidak kerja? Biasanya kau pulang larut sebelum ini."
"Aku cuti." Naruto tersenyum lebar.
oOo
Naruto memasang wajah yang ditekuk. Ia terus merengut semenjak kedatangannya di tempat ini. Sakura hanya menunjukkan senyuman lebar. Bagaimana tidak, ketika Naruto mengajak Sakura untuk pergi kencan, istrinya justru membawa Naruto ke atas penthouse tepatnya di puncak gedung kantor Uzumaki tempat di mana Naruto biasa menghabiskan waktu untuk bekerja.
"Kau sebut ini kencan?" Naruto memutar bola mata.
Sakura menarik tangan Naruto menuju tepian penthouse, di bawah kakinya terdapat sebuah kolam renang yang pembatasnya terbuat dari kaca dan langsung terhubung dengan bagian luar gedung, memperlihatkan jarak tempat itu yang berada kurang lebih lima puluh lantai dari permukaan tanah. Naruto dan Sakura berdiri berdampingan di bagian kiri kolam renang, kedua tangannya bersandar pada pembatas gedung. Sakura memejamkan matanya, berusaha merasakan angin yang cukup kencang di atas gedung.
"Penthouse ini adalah hadiah dari ibumu untuk hari jadi pernikahan kita yang kedua sekaligus hadiah atas kehamilanku dua tahun yang lalu."
Naruto mencelos mendengar penjelasan Sakura yang singkat namun dalam. Ia tidak menyangka bahwa bagian puncak gedung yang biasanya ia abaikan ini memiliki arti bagi Sakura, dan seharusnya juga dirinya. Ah amnesia sialan ini yang sudah merenggut semuanya dari Naruto.
"Sakura-chan." Naruto menarik pundak Sakura mendekat padanya. Satu tangannya terangkat menyisihkan beberapa anak rambut Sakura yang menutupi keningnya. Ia tersenyum miris. Udara bergerak menggoyang-goyangkan rambut mereka sementara Naruto memegangi kedua pipi Sakura agar tetap hangat dalam genggamannya. Maafkan aku untuk meninggalkanmu sendiri dengan kenangan-kenangan itu, Sakura-chan.
"Aku ingin mencintaimu lagi," ungkap Naruto setengah berbisik. Suaranya nyaris hilang karena ditelan oleh angin yang berisik. Akan terasa aneh jika Sakura tidak terkejut dengan kalimat Naruto. Pasalnya Naruto belum mengingat tentang mereka. Apa yang mendasari Naruto mengatakan hal itu? "Karena jauh di dalam hatiku meyakini bahwa aku pernah mencintaimu, Sakura-chan. Percayalah perasaan bukan hal yang mudah berubah." Naruto melanjutkan kalimatnya seolah menjawab setiap detail pertanyaan demi pertanyaan yang Sakura lemparkan melalui matanya.
Perlahan Naruto mengikis jarak wajahnya dengan Sakura. Tubuh Sakura menegang begitu menyadari Naruto hendak menciumnya. Ia memejamkan mata bersiap menyambut suaminya.
"Tuan, ad̶ups!"
Shikamaru langsung membalik tubuhnya berjalan kembali ke arah pintu keluar menuju lift. Naruto yang terkejut langsung mendorong Sakura, sementara Sakura menutup wajahnya yang berubah merah seperti kepiting rebus. Situasi macam apa ini?
"S-Shikamaru!" Naruto berteriak. Bergerak mengejar Shikamaru yang hendak melarikan diri.
"Ma-maaf, aku tidak ingat Tuan sedang bersama Nyonya Sakura. La-lanjutkanlah kegiatan kalian, ji-jika sudah selesai aku akan menunggu di ruanganmu!" Shikamaru mengutuk mulutnya yang mendadak gagap.
"Tunggu!" Naruto menatap tajam sekretarisnya yang tidak sopan itu. Sialan! Ia malu sekali. "Katakan saja ada apa, lagipula kau sudah terlanjur 'mengganggu'ku." Naruto memberi penekanan pada kata 'mengganggu' dalam kalimatnya. Tidak berselang lama Sakura menghampiri mereka dengan canggung.
"Yamanaka-san sedang menunggu di ruangan Anda." Shikamaru mulai melaporkan. "Katanya penting dan mendesak," sambungnya sebelum Naruto sempat menjeda.
"Aku ikut."
Naruto menoleh melihat Sakura dengan tatapan penuh tanya. Sakura hanya mengangkat bahu. Ia yakin Naruto tahu bahwa Ino adalah teman dekatnya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke ruangan Naruto yang hanya berjarak satu lantai dari penthouse. Sakura mengekori Naruto dan Shikamaru menuju ruangan tempat Ino menunggu. Pintu dibuka dan terlihatlah dua orang yang semula tengah duduk di sofa langsung berdiri begitu melihat Naruto. Sakura sempat melihat ekspresi tegang dari wajah Ino, sementara Sai yang menemaninya memasang wajah seperti biasa, tidak bisa ditebak.
"Fore‒Haruno-san?"
Sebuah pemandangan yang langka melihat Sakura bersama dengan Naruto. Bahkan hal yang tidak pernah dilihatnya sejak sebelum semua insiden itu terjadi. Ino yang bekerja sebagai tangan kanan Kushina tak pernah sekali pun melihat Sakura dan Naruto bersama-sama pergi ke kantor mengingat profesi keduanya memang berbeda. Apalagi Naruto yang dulu tampaknya sangat alergi dengan segala hal yang berbau perusahaan. Kau berhutang cerita padaku Forehead! Ino memasang senyuman sinis.
"Apa kabar?" Sakura menyapa terlebih dahulu.
"Jadi?" Naruto menyela. Ia berharap urusan penting dan mendesak ini sepadan dengan 'gangguan' yang ia dapatkan hari ini.
Ino dan Sai membungkuk sebelum kembali duduk di sofa. Naruto, Shikamaru, dan Sakura mengikuti mereka. Ino menyerahkan sebuah tablet pada Naruto.
"Tim intel kami tanpa sengaja menemukan arus komunikasi yang mencurigakan dari beberapa kantor induk Uzumaki Group. Kemudian aku meminta seorang pegawaiku untuk menyelidiki arus komunikasi itu, setelah berhasil kami retas, rupanya berisi informasi yang cukup penting, Anda bisa lihat di sana,"
Naruto melihat dengan seksama apa yang ditunjukkan oleh Ino. Direktur Namesoft itu memang kebetulan memegang bidang teknologi di perusahaannya sehingga untuk urusan retas-meretas mereka memang ahlinya. Terutama semua sistem yang ada di perusahaan induk maupun anak Uzumaki Group terhubung satu sama lain. Naruto tidak pernah meminta secara khusus untuk Ino melaporkan hal-hal yang diduga mencurigakan. Tapi sejauh ini Yamanaka Ino selalu berdiri di pihak Naruto seburuk apa pun reputasinya di luar sana.
"Harga saham di empat perusahaan mendadak anjlok dan investor mereka menarik diri. Satu dua proyek bisa dipastikan gagal total dan rugi. Pada awalnya aku menganggap ini normal, sebelum kutemukan lalu lintas komunikasi rahasia yang dilakukan oleh beberapa direktur. Apa kau mengenal Uchiha Madara? Ya, Pak Tua pemilik Uchiha Corporation, dia terkenal ambisius dan agresif dalam berbisnis. Dulu pernah terjadi salah satu orang kita membelot padanya dan nyaris meruntuhkan satu kantor cabang yang kita miliki. Aku tidak tahu apa yang direncanakan Madara, yang jelas dia sedang mengincar beberapa perusahaan induk kita dengan cara yang halus."
Naruto telihat berpikir cukup keras. Sejujurnya ia masihlah awam dalam dunia bisnis. Untuk masalah seserius ini ia bahkan kehilangan solusi dalam pikirannya.
"Apa kau punya rencana? Sepertinya kita harus menghubungi Paman Kakashi. Shika!"
Mendadak suasana di dalam ruangan berubah tegang. Sakura hanya memperhatikan tanpa berniat komentar. Namun melihat bagaimana kalang kabutnya Naruto sedikit membuatnya khawatir.
"Anda memanggil saya?" Kakashi masuk lalu membungkuk setelah sampai di hadapan Naruto.
Kakshi adalah salah satu anggota perusahaan Uzumaki yang terkenal dengan kecerdasan dan loyalitasnya terhadap perusahaan. Ia sudah bekerja cukup lama di Uzumaki Group dan mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan.
"Ini Urgent," jawab Kakashi tak lama setelah Ino menjelaskan seluruh permasalahan mereka.
"Tak kurang dari sebulan lagi akan diadakan rapat dewan, jika empat perusahaan itu jatuh maka bisa dipastikan Naruto akan turun dari jabatannya sebagai Presiden Direktur di perusahaan ini. Saham yang dimiliki Naruto tidak cukup menopang posisinya saat ini."
Tiba-tiba ruangan berubah hening setelah Kakashi mengataknnya. Naruto sibuk dengan pikirannya sementara yang lain menunggu keputusan Naruto. Perlukah mereka mengerahkan bagian intel untuk membuat pencegahan, tapi hal itu tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Mereka membutuhkan solusi yang praktis karena sudah tidak tersisa lagi waktu.
"Err, sebelumnya bolehkah aku sedikit memberikan saran?" Sakura memulai suara. Sontak semua kepala di ruangan itu menoleh padanya.
"Sakura-chan, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Masalah ini tidak sesederhana yang kau pikirkan." Naruto menyela.
Sakura hanya tersenyum, ia lalu melirik Hatake Kakashi yang sejak tadi berpura-pura tidak mengenalnya.
"Kenapa kita tidak akses saja pusat server Uzumaki Group lalu memblokir lalu lintas komunikasi mereka untuk sementara waktu sambil memantau harga saham dan membujuk para investor?"
Semua orang hanya diam tanpa berani menanggapi. Ide sakura terdengar mudah namun juga setengah gila. Dia bilang server utama? Sampai saat ini akses ke server utama Uzumaki dipegang oleh ayah Naruto. Hari ini Naruto belum memperoleh informasi mengenai kapan akses itu akan jatuh ke tangannya mengingat beberapa persyaratan yang diberikan ayahnya pada beberapa wasiat setelah kematiannya.
"Kakashi-san, dapatkah kau sambungkan aku ke Wilbert?" pinta Sakura. Kakashi melirik takut-takut pada Naruto sebelum kemudian ia menyambungkan video call dari tabletnya.
"Apa kalian saling mengenal sebelum ini?" Naruto berceletuk. Ia memicingkan matanya pada Kakashi, berani-beraninya pria tua itu membohonginya selama ini berpura-pura tidak mengenal Sakura.
"Ah hai Mrs. Sakura. Apa kabar? Lama tidak bertemu. Benarkah kau sedang berlibur di Jepang dengan suamimu? Ada yang bisa aku bantu untukmu?" Sapa seseorang dari seberang video call dengan menggunakan bahasa perancis yang fasih.
"Hai Will, aku baik-baik saja. Bisakah kau kirimkan kode akses untukku membuka sistem di sini? Sepertinya aku kesulitan karena servernya tidak bisa dibuka di luar Kanada." Sakura menjawab dengan bahasa yang sama.
"Oh tentu saja, tunggu sebentar," Will melakukan entah apa beberapa detik sebelum muncul kembali di layar tablet. "Silakan sebutkan sandinya,"
"Sapphire Blue."
Suara cocok.
"Kemudian dekatkan kedua matamu ke kamera."
Identitas cocok, wellcome Mrs. Sakura.
Siang itu pun menjadi siang yang mencengangkan bagi orang-orang di dalam ruangan itu. Bagaimana seorang Sakura bisa dengan mudahnya membuka sistem paling rahasia di perusahaan Uzumaki. Ia bahkan memiliki akses zero untuk seluruh menu di sistemnya. Barulah setelah itu diketahui, setidaknya 54% saham Uzumaki ada di tangan Sakura. Pemilik sebenarnya perusahaan raksasa Uzumaki Group. 40% nya adalah saham di luar Jepang yang berkembang dengan pesat dan cepat.
"Aku hanya diberikan sebuah perusahaan untuk kukelola di luar negeri. Tapi sekarang sudah lebih dari dua puluh cabang di berbagai kota besar di seluruh dunia. Perkembangannya sangat, sangat pesat dari yang kubayangkan hanya dalam waktu tiga tahun." Ia menjelaskan. Oleh karena itu sebagian besar saham memang ditunjang oleh perusahaan milik Sakura di luar negeri. Dengan status Naruto sebagai suami Sakura sama sekali tidak akan mengusik posisi Naruto di Uzumaki Group. Naruto tentu saja sangat terkejut, hal apa lagi yang tidak ia ketahui tentang Sakura? Saat itu dalam diriya muncul sebuah keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang Sakura.
oOo
"Ibu tidak setuju." Kushina melemparkan selembar surat undangan di atas meja ruang tamu, tepat di depan wajah Naruto yang tengah duduk bersama kedua orangtuanya.
Hari itu malam yang cukup sunyi. Para pelayanan sudah kembali ke kediaman mereka sementara para penjaga hanya berdiri di depan pintu tanpa menimbulkan suara yang tidak perlu. Kushina melipat tangan di depan dada dengan kaki yang dilipat anggun khas gaya seorang bos ketika memarahi anak buahnya.
"Tapi, Bu?"
"Tidak ada Hinata di pesta atau tidak ada pesta sama sekali!"
Naruto menghela napas panjang tanda tidak suka dengan sikap semena-mena ibunya. Padahal ia hanya ingin mengundang Hinata ke pesta peresmian kantor baru lusa ini. Salahnya apa? Hinata juga gadis yang baik, yah walaupun risih dengan beberapa wartawan yang sering membuntutinya tapi perilaku Hinata sejauh ini tidak bisa dikatakan buruk untuk ibunya benci.
"Cukup ingat satu hal ini Naruto, aku tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengan gadis Hyuuga itu!"
Naruto melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada ayahnya. Minato hanya mengangkat bahu seraya tersenyum. Hari itu Naruto tidak tahu bahwa terdapat alasan mengapa ibunya melarang keras hubungan Naruto dengan Hinata.
oOo
"Apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Uzumaki?" Sambung suara dari seberang sana.
"Ya, ini saya sendiri?"
"Ah, Uzumaki-san, ini saya Lee manager Hyuuga-hime. Saat ini Hyuuga-hime sedang kritis di rumah sakit, malam tadi dia berusaha bunuh diri di rumahnya."
oOo
To Be Continued
