Cast : All Member BTS

Genre : Romance, Fantasy, Drama

Rated : T

Pair : Hopekook :3

Slight : Yoonmin (Yoongi seme) and Jinv (V uke)

Warning :

Yaoi! No plagiat! Nih ff susah buatnya karena sebutan-sebutan yang ada!

Siapa yang niru berarti siap-siap aja minta ditabok!

Love And Peace :3

Happy Reading

.

.

.

(Flashback on)

JIN P.O.V

Aku melihat ayahku sendiri tersenyum tipis.

Seorang pendeta sedang mengucapkan hal yang lazim di setiap pernikahan membuat aku sedikit gugup.

Sekali lagi aku melihat ayahku yang sedang duduk di barisan paling depan tempat pernikahan ini. Dia tersenyum mantap seakan-akan mengatakan 'Jangan gugup!' sambil menaikkan jari jempolnya di atas dada.

Dan entah mengapa itu malah membuat aku semakin gugup.

Aku hanya bisa melihat Taehyung yang lebih pendek dariku tersenyum manis. Melihat wajah pendeta dengan senyuman yang tidak kunjung lepas dari semalam. Membuat aku juga sedikit tersenyum kecil.

Jalani saja…

Jangan gugup…

Tidak ada yang mengerikan dari pernikahan…

Aku terus mengulang perkataan itu berkali-kali hingga akhirnya sampai dimana saat aku menggenggam kedua tangannya. Memasukkan sebuah cincin emas yang berkilau di salah satu jari rampingnya itu. Begitu juga dengan dirinya yang memasangkan cincin di jariku.

"Sekarang kau boleh mencium mempelai wanita."

Kata pendeta itu yang membuat aku langsung memegang pinggang ramping Taehyung dan tersenyum kecil. Setidaknya, ini yang aku tunggu dari sebuah pernikahan…

Aku langsung mengecup bibirnya, membuat para keluarga kerajaan pada berdiri dan bertepuk tangan. Mataku yang awalnya tertutup, memaksa untuk membuka secara perlahan dalam ciuman ini. Yang pertama kali kulihat adalah wajah Taehyung yang begitu dekat denganku. Taehyung yang tersenyum dalam ciuman ini.

Sebelum akhirnya aku melihat ayahku yang tepuk tangannya paling heboh di antara kebanyakan orang. Mungkin dia bahagia, bahwa anak satu-satunya ini sudah menjadi seorang raja di negeri Numelle.

Baru saja aku ingin melepaskan ciuman ini, mataku langsung melebar sepuluh kali lipat.

Aku melihat sendiri, sebuah anak panah menembus tubuh ayahku yang tidak memakai pelindung apapun. Membuat semua orang dalam gereja berteriak ketakutan, tapi beberapa dari mereka tampak tenang.

Aku langsung menggenggam tangan Taehyung kuat dan melihat ke arah masuknya gereja. Yang kulihat adalah menteri api, tanah, dan tumbuhan. Berdiri dengan gagahnya dan ratusan prajurit yang mengepung gereja tua ini.

"Kau tau kudeta?" tanya menteri api yang berdiri paling depan. "Perebutan kekuasaan dengan cara membunuh." Katanya sambil menggerakkan tangannya di udara.

Seperti sebuah…

Kode?!

Tubuhku langsung bergerak cepat membalikkan badan, membuat tubuh Taehyung terpelanting ke samping dan terjatuh cukup keras. Yang kulihat adalah seorang pendeta memegang panahan sambil tersenyum tipis.

Panahan yang sudah tidak ada anak panahnya lagi…

Membuat tubuhku terasa kaku, saat menyadari anak panah menusuk tepat di jantungku. Tanpa basa-basi, aku langsung terjatuh ke belakang dan menatap langit-langit gereja dengan pandangan mengabur.

"Tidak… tidak… tidak… HYUNGG!" teriak Taehyung yang sangat kudengar jelas. Perlahan aku melihat Taehyung mengelus wajahku sambil menahan tangis.

"PERI TUMBUHAN! SIAPAPUN TOLONG! SEMBUHKAN JIN HYUNG!" Taehyung berteriak mati-matian, sedangkan sekurjur tubuhku terasa bergetar hebat.

Tidak akan ada yang menolong…

Setauku menteri tumbuhan juga berkhianat. Sudah jelas dia akan menyuruh seluruh peri tumbuhan di dunia ini untuk tidak membantu ku sama sekali.

"Ta—tae…" gumamku kecil, berusaha memegang tangan Taehyung yang sudah bergetar hebat. Mulutku yang awalnya ingin mengeluarkan kata-kata, malah mengeluarkan darah tanpa henti.

Rasa sakit yang awalnya menyerang, mulai terasa menghilang seiring waktu. Begitu juga dengan kesadaranku yang semakin menipis. Membuat aku langsung menggenggam tangan Taehyung kuat dan tersenyum tipis.

"Selagi hyung memegang tanganmu, hyung akan selalu melindungimu dalam bahaya apapun." Ucapku yang anehnya tidak tergagap sedikitpun. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, berusaha membuat dia tidak menangis.

Dengan pelan tanganku menghapus jejak air mata di pipinya.

"Janjilah kepadaku satu hal…" ucapku sambil mengelus rambutnya perlahan.

"Kalahkan mereka dengan kekuatanmu."

.

.

.

Kepalaku terasa berputar…

Bisa kurasakan cahaya masuk di kedua bola mataku, membuat aku merasa bahwa aku sedang berada di surga sekarang.

Tapi anehnya, aku mendengar peri berteriak ketakutan.

Tidak mungkin di surga ada penyiksaan?

Berarti ini…

Di NERAKA?!

Aku langsung membuka kedua mataku cepat. Dan langsung mengkerutkan dahi bingung, yang kulihat bukanlah api neraka atau apapun itu. Melainkan langit-langit gereja, tempat dimana aku mati.

Tanganku memegang dada secara perlahan, tapi aku tidak merasa ada anak panah yang menancap. Atau bahkan merasakan sakit…

Jadi, sekarang aku berada dimana?!

Kupaksa tubuh ini untuk duduk dan mencoba sadar sepenuhnya. Benda pertama yang kulihat adalah anak panah yang sudah patah dan berlumuran darah di sampingku. Membuat aku memikirkan satu hal…

Satu-satunya cara melepaskan anak panah yang menancap adalah menusuknya hingga tembus ke badan. Dan mematahkan ujung panahan dengan kuat lalu menarik anak panah itu kembali keluar. Tapi seingatku, anak panah itu menancap tepat di jantung.

Tidak mungkin aku bisa bertahan hidup, karena jika anak panah itu sengaja di tembuskan hingga tembus ke punggung… yang ada jantungku tertusuk lebih parah. Dan aku akan mati lebih cepat.

Kalau begitu, apa ada peri tumbuhan yang membantu menyembuhkan ku?

Tapi, setelah itu aku melihat sesuatu yang sangat asing.

Asap gelap menyelimuti gereja. Teriakan peri di sana-sini masih terdengar jelas. Dan sebuah hawa panas yang begitu mencekam.

Aku melihat ke kiri dan langsung tertegun. Sebuah punggung yang begitu kukenal, tapi tidak dengan sayapnya. Sayap hitam panjang yang terbakar asap hitam, atau jika kulihat lebih jauh lagi… itu api hitam?

Dan tangan kanannya yang memegang pedang panjang berwarna hitam. Sedangkan tangan kirinya memegang kepala peri yang sudah terputus dari badannya, membuat darah peri menetes secara perlahan dari kepala tersebut.

"Ta—tae?" gumamku kecil yang membuat peri itu berhenti sesaat. Atau bisa kubilang iblis? Pernah kubaca di salah satu buku pengetahuan umum bagi para peri waktu di sekolah.

Seorang peri yang melakukan sihir terlarang akan menjadi iblis yang bentuknya pada waktu itu hanya digambar dengan tidak jelas. Mengingat belum ada seorang peri pun yang berniat merubah dirinya menjadi iblis.

Jika peri berubah menjadi iblis, kekuatannya akan menguat sepuluh kali lipat. Ingatannya akan menghilang dan hanya menyisakan rasa amarah yang mendalam. Satu-satunya cara untuk mengalahkan iblis adalah... membuat sang iblis mengeluarkan air mata murni atau menyegelnya dengan sihir tertentu.

Iblis tersebut membalikkan badannya dengan perlahan. Membuat sekujur tubuhku terasa kaku.

Matanya yang berubah menjadi merah darah menatapku tajam. Seringaian muncul di wajahnya, seringai yang tidak pernah kulihat selama ini. Mukanya yang terkena cipratan darah dan setengah dari bajunya ternodai warna merah, menambah kesan mengerikan bagi iblis yang sangat kukenali ini.

"Ah~~ masih ada orang yang hidup…" kata iblis itu sambil tertawa kuat.

Aku langsung merinding hebat, tubuhku bergetar kuat…

Jika kuingat sekali lagi…

Sihir terlarang yang tidak boleh dilakukan oleh peri…

Yaitu, menghidupkan orang yang sudah mati…

.

.

.

3 minggu…

Melawan istri sendiri yang sangat dicintai…

Bukankah itu membuat kerusakan mental?

Tubuhku hancur, di luar dan di dalam. Air hujan yang terus turun membuat seluruh tubuhku semakin terasa sakit. Pandanganku kosong menatap tanah yang sudah menjadi genangan darah.

"Kau berhasil menyegelnya…" gumam salah satu menteri yang paling kubenci. Menteri api…

Tapi anehnya, aku tidak berusaha membunuhnya saat itu. Padahal dialah yang membuat kudeta ini terjadi. Yang membuat kehancuran ini terjadi…

Yang membuat…

Taehyung menjadi seperti ini.

Ada lebih dari 5 juta peri mati karena perang yang mengubah sejarah selama-lamanya. Tidak ada yang sempat menuliskan sejarah kelam ini ke dalam sebuah buku, karena seluruh peri disibukkan untuk mempulihkan keadaan.

Aku pergi ke hutan dalam bersama peri air lainnya yang tersisa, dan membangun sebuah kerajaan khusus peri air. Begitu juga menteri lainnya yang memilih membuat kerajaan sendiri, tidak dengan menteri api yang hanya menetap dan memperbaiki kerajaan lama.

Waktu terus berjalan…

Keadaan mulai membaik dari hari ke hari…

Tapi tidak dengan diriku, semakin jatuh ke dalam dunia penuh kegelapan. Merasakan penyesalan mendalam yang begitu berat.

Jika dipikirkan sekali lagi…

Bukan salah menteri api yang melaksanakan kudeta.

Tapi salahku yang mati begitu saja. Membuat Taehyung menjadi seperti itu…

Itu salahku…

Berkali-kali aku mencoba bangkit, tapi yang ada aku semakin terpuruk. Selalu mengingat sosok Taehyung kemana-mana. Bahkan aku menjadi benci dengan malam hari. Waktu dimana seluruh bintang terlihat jelas, maka saat itu…

Aku merasa Taehyung datang memelukku dan tersenyum senang. Berteriak heboh dan berkata "Hyung! Bintangnya indah!"

Tapi saat aku tersenyum tipis dan ingin mengelus rambutnya, Taehyung menghilang. Membuat aku seakan ditampar kenyataan.

Masih bisa kuingat Taehyung yang dalam sosok iblis berteriak kesakitan waktu seluruh tubuhnya tertutupi segel. Dan secara perlahan tubuh itu masuk ke dalam tanah, menuju inti planet Numelle yang paling dalam.

Masih kuingat secara jelas…

Wajah Taehyung yang tersenyum manis berubah menjadi seringaian mengerikan.

Tawa Taehyung yang terdengar indah berubah menjadi menyeramkan.

Aku yang selalu senang melihatnya berubah menjadi rasa takut saat melihatnya.

Anehnya, aku selalu berdoa…

Tuhan… kumohon, buat aku bisa bertemu dengannya sekali saja.

"YANG MULIA!" teriak Sehun, penasihatku sekaligus orang yang paling kupercayai di dunia ini. Dia datang dengan muka panik dan membuka pintu kamarku dengan tidak sopan.

Ingin sekali aku memarahi dirinya atau menyuruhnya untuk keluar. Kalau saja dia tidak mengucapkan sebuah kalimat…

Kalimat dimana, membuat aku percaya…

Bahwa Tuhan benar-benar ada…

Dan Tuhan itu… mendengarkan doaku.

"Raja api… telah dibunuh oleh iblis…"

(Flashback off)

.

.

.

JUNGKOOK P.O.V

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu sejak pertempuran terakhir?" tanya iblis itu dengan senyuman mengerikan yang tidak pernah lepas dari wajahnya.

"Maksudmu, pertempuran dimana kau menerima kekalahan?" jawab Jin hyung sambil tertawa meremehkan.

"Cih! Aku tidak kalah… buktinya aku tidak mati bukan?" balas iblis itu dan mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi.

Sedangkan Jin hyung tetap diam, wajahnya menunduk dalam. Sebelum akhirnya bisa kulihat setetes air mata keluar dari matanya.

"Taehyung…" gumamnya pelan yang membuat aku langsung menganga lebar.

"Taehyung?!" tanya Yoongi hyung secara tiba-tiba. Tapi hanya bisa dijawab dengan diam oleh Jin hyung.

Seingatku…

Taehyung adalah istrinya yang mati waktu menyelamatkannya dari serangan iblis bukan?!

"Aku… merindukan mu…" Jin hyung berkata dengan nada pelan. Tapi aku bisa merasakan ketulusan yang begitu dalam dari ucapan itu.

"AKU JUGA MERINDUKAN BERKELAHI DENGANMU!" balas iblis tersebut lalu berlari cepat menuju ke arah Jin hyung.

Jin hyung hanya diam saja dan menatap lurus ke wajah sang iblis, atau bisa ku panggil Taehyung sekarang. Jin hyung hanya menggeser satu langkah ke kiri waktu pedang panjang itu hampir menusuk perutnya.

Tapi setelah itu Taehyung menghilang dengan cepat, dan muncul di belakang punggung Jin hyung lalu menendang tubuh Jin hyung kuat. Membuat tubuh tegap itu langsung terlempar dan menabrak dinding dengan kuat. Bahkan hingga dinding tersebut hancur.

Aku baru teringat, Taehyung adalah peri yang memiliki kekuatan yang begitu kuat. Hingga diangkat menjadi raja di saat umurnya begitu muda. Dan dia berubah menjadi iblis, yang berarti kekuatannya menambah sepuluh kali lipat.

Jika begini…

"JIN HYUNG KAU AKAN MATI!" teriakku kuat yang membuat Jin hyung bangkit dari jatuhnya. Dia melihatku dan tersenyum meremehkan.

"Aku sudah terlatih melawan istriku sendiri dan juga aku tidak akan membuang nyawa yang istriku berikan." Jawabnya cepat lalu berlari ke arah Taehyung.

CRANGG!

Suara pedang beradu dengan kuat. Tapi, sang iblis lebih lincah dari yang kupikirkan. Taehyung dengan mudah menghilang dan muncul dimana saja, membuat Jin hyung bergerak dengan begitu cepat.

"Tidak mengeluarkan pengendalian air menjijikkan mu itu, huh? Seokjin?!" tanya Taehyung sambil tertawa mengerikan.

"Air tidak berguna… lagian, bukannya lebih menyenangkan kita berkelahi dengan pedang?" balas Jin hyung lalu menusuk pedang itu ke perut Taehyung.

Anehnya, Taehyung tidak berteriak kesakitan atau mengeluarkan darah. Dia hanya tertawa kuat lalu menghilang dengan cepat. Dan muncul kembali di atas ruangan sambil tertawa heboh.

"Kau tau aku tidak akan mati jika hanya ditusuk bukan?!" tanyanya lalu meluncur ke bawah menuju Jin hyung dengan cepat.

CRANGG!

Suara pedang kembali terdengar, Jin hyung berhasil menghindar kali ini. Dan kembali berperang dengan napas terputus-putus.

"Tentu saja aku tau… makanya, aku mempunyai cara untuk membuatmu kalah." Balas Jin hyung dengan nada meremehkan. Membuat Taehyung merasa kesal dan meluncurkan bola api yang sangat besar ke arah Jin hyung.

"MENYEGELKU LAGI HUH?" teriak Taehyung dengan kuat. Sedangkan Jin hyung menghindari bola api yang sekarang membuat dinding di belakang Jin hyung bolong.

Aku langsung meneguk ludah kasar, betapa panasnya bola api yang dibuat oleh Taehyung? Sehingga bisa membuat dinding menjadi bolong?!

"Tidak…" jawab Jin hyung tenang. "Aku hanya akan, melakukan sesuatu yang menarik…" gumamnya dan tertawa kecil.

Taehyung berlari menuju Jin hyung dengan pedang yang siap menusuk Jin hyung…

Begitu juga dengan Jin hyung yang berlari menuju Taehyung.

Tapi, bukan suara pedang beradu yang kudengar.

Melainkan suara pedang milik Jin hyung yang terjatuh menyentuh lantai.

JLEBB!

Dan suara tusukan yang begitu dalam di perut Jin hyung…

Membuat aku berteriak kuat begitu juga dengan Jimin hyung.

"JIN HYUNG!" Yoongi hyung berdiri dengan cepat, begitu juga Hoseok hyung yang sudah berlari menuju arah Jin hyung. Tapi tiba-tiba tubuh mereka terhenti, menandakan Jin hyung lagi-lagi melakukan pengendalian darah.

"Kalian diam, aku yang akan menyelesaikan ini." Katanya dengan suara tegas, bahkan wajah Jin hyung tidak menampakkan rasa sakit sedikitpun. Walau sudah ada setetes darah keluar dari mulutnya.

Yoongi hyung dan Hoseok hyung terlempar ke belakang. Setelah itu kami semua hanya bisa terdiam melihat hal yang dilakukan Jin hyung.

Tangan Jin hyung mengelus pipi Taehyung pelan, anehnya Taehyung hanya terdiam dengan mata kosong. Seakan usapan lembut itu membuat pikirannya pergi entah kemana. Perlahan tapi pasti, Jin hyung memperdekat jarak mereka. Membuat pedang hitam semakin menusuk tubuh Jin hyung, hingga tembus ke punggungnya.

CUP~

Sebuah kecupan ringan mendarat di dahi Taehyung. Tangan Jin hyung mulai memegang tangan Taehyung yang menggenggam pedang hitam begitu kuat. Perlahan tapi pasti, Jin hyung menarik pedang itu keluar. Menyebabkan darah merah menodai lantai dengan cepat.

Setelah itu tubuh Jin hyung gontai, sebelum mendarat ke lantai... Taehyung langsung menangkap tubuh itu cepat, membuat Jin hyung sekarang terbaring di paha Taehyung. Bisa kulihat Jin hyung tersenyum tipis. Tangannya menggenggam tangan Taehyung kuat.

"Masih ingat? Selagi aku memegang tanganmu… aku akan melindungimu dari bahaya apapun." Gumam Jin hyung pelan. Anehnya dia tidak tergagap sedikitpun, Jin hyung berbicara dengan sangat lancar.

"H—hy… ung?" Taehyung melihat wajah Jin hyung dengan tatapan kosong. Tidak ada lagi seringai mengerikan di wajahnya.

"He—hey… kau mengingatny—a?" kata Jin hyung sambil berusaha tersenyum. Tangannya yang bergetar hebat mengelus pipi Taehyung secara perlahan.

"Ji—jin… hyung?" tanya Taehyung sekali lagi, kali ini matanya menatap Jin hyung dengan tatapan bingung. Entah apa yang terjadi, tapi Taehyung memegang tangan Jin hyung yang sedang mengelus pipinya.

"Iya… Taehyung?" balas Jin hyung lembut. Sangat lembut… darah yang terus menyucur keluar dari mulutnya seperti bukan apa-apa. Bahkan sekarang wajah Jin hyung tetap tenang dan menatap wajah Taehyung lembut.

"Hyung? Hyung…" nada Taehyung mulai berubah. Pandangannya mulai tidak kosong lagi, bahkan berubah menjadi sedikit panik. "JIN HYUNG!" teriak Taehyung secara tiba-tiba. Membuat kami berempat sedikit terkejut.

"Tidak… tidak… tidak… hyung! Hyung!" Taehyung mulai panik. Dia memegang luka Jin hyung dengan tangan bergetar, berusaha menghentikan pendarahan. Tapi jujur saja, itu sia-sia…

"PERI TUMBUHAN! TUMBUHAN!" teriak Taehyung dengan kuat. Membuat aku langsung berdiri dan berjalan cepat menuju Jin hyung.

Baru saja jarakku dengan Jin hyung sudah dekat, tiba-tiba tubuhku tidak bisa digerakkan. Membuat aku merasa muak dengan pengendalian darah milik Jin hyung. Tentu saja, sedetik kemudian tubuhku langsung terlempar ke belakang.

"Hey… aku baik-baik saja… sungguh." Balas Jin hyung dengan mulut yang terus mengeluarkan darah.

"Sun—gguh?" tanya Taehyung pelan. Tanpa disangka nadanya sedikit bergetar, membuat mata Taehyung sedikit berair.

Secara perlahan, setetes air mata meluncur begitu saja di pipi Taehyung. Disusul oleh kaki Taehyung yang berubah menjadi cahaya sangat terang.

Jin hyung berhasil…

Membuat Taehyung mengeluarkan air mata murni…

"Sungguh… aku tidak pernah berbohong bukan?" tanya Jin hyung dengan lemah. Membuat Taehyung langsung menangis dan memegang tangan Jin hyung kuat.

Cahaya yang awalnya menutupi kaki Taehyung perlahan merambat ke betis Taehyung. Membuat kedua kaki Taehyung menghilang. Sayap hitam kelam milik Taehyung mulai berubah menjadi warna putih, seperti cahaya yang begitu terang.

"Kau seperti bintang…" gumam Jin hyung pelan dan mengelus rambut Taehyung perlahan. Sedangkan Taehyung masih saja menangis kuat, memeluk tubuh Jin hyung erat dan meminta maaf berkali-kali.

"Hey… hey…" sahut Jin hyung sambil menghapus air mata Taehyung. "Aku mencintaimu…" lanjutnya pelan, sebelum akhirnya cahaya Taehyung membuat seluruh tubuhnya hampir menghilang.

"Nado…" balas Taehyung pelan dan tersenyum kecil. Sangat manis…

Setelah itu Taehyung menghilang secara perlahan, menyisakan bulu putih yang berasal dari sayapnya. Bulu tersebut menyentuh tangan Jin hyung yang tergeletak di lantai dengan genangan darah yang semakin banyak.

"Aku… sudah melindungimu… Tae…" gumam Jin hyung pelan. Setetes air mata lolos dari mata kiri Jin hyung. "Aku bisa pergi dengan tenang." Lanjutnya sambil melihat kami berempat dan tersenyum tipis.

Sebelum akhirnya kedua matanya tertutup secara perlahan.

Jin hyung pergi…

Dengan begitu tenang…

Membuat kami berempat hanya bisa terdiam, sebelum akhirnya suara labirin roboh mulai terdengar. Asap-asap hitam juga menghilang tanpa jejak. Dan beberapa monster yang mengejar kami hingga ke ruangan singgasana raja mulai menghilang begitu saja.

"Jika iblis mati… maka seluruh hal yang ia perbuat di dunia ini juga akan menghilang…" gumam Yoongi hyung pelan. Membuat aku terdiam.

Semua hal yang iblis perbuat…

Akan menghilang?

Aku langsung melihat ke arah Hoseok hyung yang sebagian dari tubuhnya bercahaya.

"Hyung?" tanyaku pelan, tapi dia hanya melihatku dan tersenyum tipis.

"Sudah kubilang… bagusnya kau melupakan aku saja…" jawabnya pelan dan dia mulai menjatuhkan dirinya pelan lalu berbaring di lantai.

Jika semua hal yang iblis perbuat menghilang…

Maka, nyawa Hoseok hyung…

Akan menghilang?

"HYUNG!" teriakku kuat lalu duduk di samping Hoseok hyung dan memegang wajahnya kuat.

Perlahan sayap Hoseok hyung berubah, menjadi sayap peri api pada umumnya. Tapi rusak parah, sayapnya bengkok dan bahkan sayap sebelah kirinya hancur total. Wajah Hoseok hyung menjadi babak belur, darah mengalir deras di kepalanya dan ada banyak lebam di wajahnya.

Kaki kanan Hoseok hyung menjadi bengkok, seperti patah dan terus mengeluarkan darah. Begitu juga dengan tangan kiri Hoseok hyung yang bahkan dagingnya sudah robek, membuat aku bisa melihat tulang putihnya sedikit.

Ini keadaan dimana Hoseok hyung setelah jatuh dari ketinggian. Hoseok hyung kembali seperti semula secara perlahan.

"Hyung… tahan sedikit! Aku akan menyembuhkanmu!" kataku cepat lalu mengeluarkan sihir penumbuh tanaman dan mengikat tanaman rambat itu ke kaki kanan Hoseok hyung, berusaha memperbaiki patah tulangnya.

"Ma—af…"

"JANGAN! JANGAN UCAPKAN SATU KATA SIALAN ITU HYUNG!" teriakku kuat, dengan cepat aku menyembuhkan seluruh luka di tubuh Hoseok hyung. Begitu pula dengan tangan kirinya yang sudah hancur parah.

Tapi yang ada Hoseok hyung malah batuk darah, membuat aku membuka bajunya cepat dan langsung terdiam. Seluruh badannya dipenuhi lebam biru, kurasa beberapa dari tulang rusuknya patah dan aku takut… kalau tulang rusuknya ada yang menusuk organ dalam tubuh Hoseok hyung.

"Jangahhn… menja—di… iblis… jika ingin membuatku hidup kembali…" pesan Hoseok hyung yang membuatku semakin panik.

"KAU TIDAK AKAN MATI! PERCAYALAH! TIDAK AKAN!" teriakku cepat lalu mulai mengeluarkan segala macam bentuk sihir untuk menyembuhkan luka Hoseok hyung.

Aku bahkan meminta bantuan Jimin hyung dalam meracik obat dengan tumbuhan yang aku tumbuhkan dan membutuhkan kecepatannya dalam melakukan hal itu. Untung saja kami masih ada persediaan air putih yang selalu dibawa Jimin hyung, sangat membantu dalam menyembuhkan luka dalam yang dialami Hoseok hyung.

Sambil menunggu Jimin hyung selesai meracik obatnya, aku menyembuhkan luka luar di tubuh Hoseok hyung dengan cepat. Sambil melihat wajah Hoseok hyung yang masih tersenyum tipis. Pandanganku mulai mengabur dan bisa kurasakan aku ingin menangis.

"Nyawa iblis ini akan menghilang Jungkook… aku akan mati…" ucapnya perlahan. Membuat aku semakin ingin berteriak kuat dan menangis. Tapi tidak, tubuhku terus saja melakukan berbagai macam teknik penyembuhan.

Jimin hyung yang sudah selesai meracik obat, langsung menuangkan cairan obat itu ke dalam mulut Hoseok hyung secara paksa. Membuat Hoseok hyung sedikit terbatuk, tapi setelah itu dia tersenyum tipis.

"Obatmu pahit…" gumamnya perlahan lalu menyentuh pipiku lembut. "Berhentilah…" lanjutnya yang membuat aku menggeleng kecil.

Tidak akan…

Aku tidak akan berhenti menyembuhkan Hoseok hyung…

Tidak akan pernah…

"Hey…" Hoseok hyung mengelus pipiku yang sudah basah. Dia tersenyum menenangkan…

Dari dulu… senyuman Hoseok hyung selalu membuat hatiku tenang.

Tapi, kenapa kali ini senyuman itu membuat aku ingin menangis?!

"Aku mencintaimu…" kata terakhirnya, sebelum mata kirinya berubah menjadi warna normal. Tidak ada lagi warna merah darah yang mengerikan, hanya warna biru yang begitu indah.

"Hyung… aku juga mencintaimu… makanya jangan mati… kumohon…" ucapku dengan nada tertahan. Tidak ingin menangis kuat dan terus menyembuhkan luka Hoseok hyung.

Aku mencoba sekuat tenaga, tapi luka Hoseok hyung terlalu banyak. Tidak mungkin bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat.

Andaikan… ada peri tumbuhan lain… mungkin aku bisa menyelamatkan Hoseok hyung…

Andaikan saja…

Tapi cuma aku yang ada di sini…

Aku melihat wajah Hoseok hyung yang memandangku sambil tetap tersenyum. "Hyung tidak akan mati…" gumamnya pelan. Tapi kedua matanya mulai tertutup secara perlahan…

Bohong…

Bohong…

Kenapa hyung selalu berbohong?!

"Hyung… kumohon… Hoseok hyung…" aku mulai panik, tubuhku sudah tidak terkendali. Tanganku langsung menampar pelan pipi Hoseok hyung berkali-kali. Tapi Hoseok hyung tidak kunjung membuka matanya.

"Hyung… jangan berbohong… kumohon… kali ini saja… jangan berbohong…" ucapku berkali-kali. Aku seperti orang gila saat ini, pikiranku sudah tidak jernih. Aku terus mengeluarkan mantra sihir penyembuhan.

"Hentikan Jungkook… Hoseok suda—"

"BELUM!" teriakku kuat memotong perkataan Yoongi hyung. Membuat Yoongi hyung hanya terdiam dan melihatku dengan tatapan kasihan. "Dia belum mati… belum…" lanjutku dengan pikiran kosong. Mulutku terus saja bergerak mengucapkan mantra hanya untuk menyembuhkan Hoseok hyung.

"Dia… be—lum… hiks…" aku mulai menangis kuat, seluruh tubuhku bergetar hebat. Berkali-kali aku menampar wajah Hoseok hyung, tapi kenapa tidak ada tanggapan?

"Hyung… kumohon… kumohon…" ucapku secara terus-menerus. Mulut ini sudah tidak mengeluarkan mantra penyembuhan, kedua tanganku sudah tidak menampar pipi Hoseok hyung.

Aku hanya memeluknya, dengan sangat erat…

Mulutku terus berteriak kuat, air mata jatuh tanpa henti hingga membasahi seluruh pipiku.

"Ja—ngan… jangan…" gumamku berkali-kali dan mencium dahi Hoseok hyung lama. Lama sekali…

"Bangunlah… kumohon… bangun…"

"Kumohon…"

"Bangunlah…"

"Jangan berbohong… hyung…"

"Kumohon…"

"HYUNGG!"

.

.

.

Aku tersenyum tipis, sambil menikmati semilir angin yang membelai wajahku.

"Sehun, menggantikan Jin hyung… dia menjadi raja yang baik di kerajaan Coral…" ucapku secara perlahan. Sebuah tangkai bunga matahari sengaja aku tumbuhkan di sampingku dan mencabut bunga itu cepat.

"Namjoon hyung… menjadi raja Vatra yang baik… dan masa pelantikanku menjadi raja itu besok hari..." ceritaku pelan dan tersenyum tipis.

"Hyung tau? Aku sebenarnya suka kalau hyung berbohong…" lanjutku lalu meletakkan bunga matahari di atas gundukan tanah dan memandang lama sebuah gambar Hoseok hyung yang masih setengah iblis.

"Dasar bodoh… meninggalkan aku sendirian di dunia ini…" kesalku sambil menghentakkan kaki kuat.

"Kau adalah pacar terburuk yang pernah ada!" lanjutku sambil mengkerucutkan bibir.

Aku membalikkan tubuhku cepat, ingin berjalan jauh dari makam peri yang hanya bisa membuatku ingin menangis kuat.

Saat aku berjalan pelan, tubuhku seakan terasa dikunci. Seperti ada seseorang yang memelukku dari belakang.

"Hyung… selalu mencintaimu…"

Suara bisikan mulai terdengar, aku langsung menghadap ke belakang dan melihat bayangan Hoseok hyung tersenyum cerah.

Halusinansi…

Untuk kesekian kalinya aku berhalusinansi…

Tapi entah mengapa halusinansi ini tampak begitu nyata. Tangan Hoseok hyung yang tampak transparan mengelus pipiku lembut.

"Hyung… mencintaimu…" Katanya pelan dan tersenyum cerah.

"Aku juga mencintaimu hyung…" gumamku pelan. Air mata turun setetes demi setetes, "Tapi mengapa kau pergi terlalu cepat?" tanyaku entah dengan siapa. Mungkin halusinasi ku bisa menjawab kali ini…

Tapi, sama seperti yang biasanya...

Halusinasi ku kali ini hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

"Hyung tidak akan kembali… bahagialah…"

Katanya pelan, sebelum menghilang dengan cepat. Seperti debu yang diterbangkan oleh udara. Halusinasi kali ini… membuat aku langsung terduduk di atas tanah.

Menangis kuat untuk kesekian kalinya.

Sebelum akhirnya aku menghapus dengan kasar air mataku. Buat apa aku menangis?

Jika aku menangis… Hoseok hyung tidak akan hidup kembali…

Ini menyebalkan… Hoseok hyung menyebalkan…

Entah mengapa aku hanya tersenyum tipis, membaringkan tubuhku di sebelah makam Hoseok hyung dan tertawa kecil melihat langit.

"Taehyung benar… bintang benar-benar indah…" gumamku kecil sambil melihat ke arah kiri. Dimana makam Hoseok hyung ada di sampingku.

"Kenapa aku bisa mencintaimu hyung…" tanyaku pelan dan tentu saja hanya kesunyian yang menjawab. Tiba-tiba aku tersenyum tipis, air mata mulai keluar dari kedua mataku.

"Bodoh…" lirihku pelan lalu menutup mata dengan tangan kiriku. Entah kenapa aku terus tertawa, tapi air mataku terus keluar.

"Aku akan berusaha…" ucapku pada diri sendiri.

"Aku akan bahagia… aku berjanji hyung…" kataku pelan.

"Untung saja aku bukan pembohong seperti hyung… dasar bodoh…"

Aku memandangi langit yang bertaburan bintang malam ini, entah kenapa melihat langit seperti ini aku merasa tenang.

"Hey hyung…"

"Aku selalu…"

"Mencintaimu."

.

.

.

'The Rain Of Darkness' by Park In Jung

END

Love and Peace :3

(pembahasan di chap selanjutnya)

BHDsign