I am a bad girl
Ooc, Gs, Typo, tidak sesuai EYD dll.
Ranted : T
Chapter : 10/11
It's HunHan World.
I Love You
.
"Luhan… I promise to love you in every single time. Would you do me the extraordinary honor of marrying me?"
Luhan terkejut dengan apa yang baru saja diuangkapkan oleh Sehun. Apakah dia tidak salah mendengar? Sehun melamarnya?
Oh tuhan… Apa yang harus aku katakan? Haruskan aku menerimanya? Ataukah sebaliknya? Apakah aku pantas untuknya? Aku hanya seorang wanita kotor yang sama sekali tak bisa disandingkan dengan pria mapan dan sempurna seperti Sehun. apa yang harus aku katakan. Oh tuhan…
"Sehun… aku..." Luhan menghela nafas panjang. "Aku tak pantas untukmu." Lanjutnya. Walau tak kentara tapi Sehun bisa melihat kalau bibir Luhan bergetar saat dia mengatakanya.
Sehun bangkit dan meraih kedua tangan Luhan. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Tanya Sehun.
"Aku… kau tau, aku mantan seorang penari striptease, aku pernah masuk penjara, aku pecandu alkohol, aku…" Luhan menghembuskan nafas panjang dan menundukan wajahnya. "…aku tak pantas menjadi pendampingmu." Lanjutnya dengan suara bergetar. Sehun tau kalau Luhan sedang menahan tangisannya. Dengan cepat dia membawa Luhan kedalam pelukannya.
"aku tidak melihatmu sepeti itu Lu, aku mencintai dirimu apa adanya, dan asalkan kau tau aku menerima bagaimanapun keadaanmu." Sehun menarik dagu Luhan pelan agar menatapnya.
"Aku tak perduli dengan semua yang baru saja kau katakan. Kau tau kenapa? Karna aku terlalu mencintaumu Lu, aku sangat dan sangat mencintaimu." Lanjut Sehun kembali memeluk Luhan.
Dan tangisan Luhanpun pecah, dia menangis di dada Sehun. Bukan tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan, seumur hidupnya dia tidak pernah mendengar seseorang mengungkapkan perasaannya seperti yang dilakukan Sehun padanya. Ya, tidak pernah, hanya Sehun. dan hanya Sehun.
"Sekarang kau tak punya alasan untuk menolaknya. So…"
"I do." Jawab Luhan singkat dan kembali memeluk Sehun. Sang pria tersenyum dan membalas pelukan Luhan.
Sehun melepaskan pelukannya dan menatap Luhan. "Kau mau aku memasangkannya?" Tanya Sehun. Luhan mengyerka air matanya dan mengangguk sambil terkekeh pelan. Bukankah itu yang bisa pria lakukan?
Sehunpun memasangkan cincin itu di jadi manis Luhan sebelah kiri. Dia menatap Luhan dan menyentuh pipinya dan dengan perlahan membawa wajah Luhan mendekat kearahnya dan mengecup keningnya.
Merekapun keluar dari London eye itu. Udara dingin kembali menyapa mereka. Tiba – tiba tangan Sehun menggenggam tangan Luhan dan memasukannya pada mantel yang digunakannya.
"Lebih baik?" tanya Sehun. Luhan menatapnya kemudian mengangguk. Sehun membawa Luhan ke salah satu café yang ada disana. Mereka beruda memesan coklat hangat.
"Wah… kalian sudah bertunangan?" tanya salah satu penjaga café saat dia melihat cincin yang melingkar di jari manis Luhan.
"Sebenarnya kami akan segera menikah." Bisik Sehun dengan nada bercanda pada sang penjaga café. Tapi ucapan Sehun itu tidak terdengar seperti lelucon atau apapun yang lucu di telinga Luhan.
Dia merasa apa yang dikatakan Sehun itu sungguh – sungguh. "wah… kau beruntung sekali nyonya, karna mendapatkan pria tampan seperti dia. Bukan hanya tampan dia juga model terkenal." Ucap wanita itu sambil menatap kearah Luhan yang sekarang sedang menatap Sehun.
"Benar, seharusnya aku bersukur ada seseorang yang mencintaiku terlebih lagi dia sangat sempurna." Ucap Luhan membuat pandangannya bertemu dengan Sehun.
"Seharusnya aku yang mengatakannya, aku yang seharusnya bersyukur bisa mendapatkanmu, aku yakin banyak sekali pria di luar sana yang siap merebutmu kapan saja." Ucap Sehun sambil tersenyum dengan tulus.
"Ohhh… kalian ini romantis sekali. Ah… ini pesanan kalian." Ucapnya sambil menyerahkan dua cup berisi coklat panas.
Sehun membungkuk walau sebenarnya itu tidak perlu jika mereka ada di London. Sehun memberikan satu cup pada Luhan. Saat tangannya menerima cup dari Sehun, rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ayo… ini sudah malam, sebaiknya kita pulang." Ajak Sehun sambil menyodorkan tangan kanannya pada Luhan.
Luhan segera menyelipkan tangannya di tangan kanan Sehun. Mereka terus bergandengan tangan sepanjang jalan membuat orang – orang yang tau tentang kisah cinta mereka yang rumit mulai berbisik – bisik pelan sambil menatap kearah mereka. Tentu saja itu membuat Luhan tak nyaman. Dia melepaskan tangannya dari gandengan Sehun dan menyelipkan sedikit rambutnya di belakang telinga dan berjalan menunduk. Entah kenapa Luhan tiba – tiba saja gugup, jujur saja di perhatikan dan di bicarakan oleh orang lain bukan hal yang baru baginya, tapi dia merasa kalau ini berbeda. Mungkin karna tatapan dan pembicaraan mereka berbeda saat dia masih berkerja di bar.
Ngomong – ngomong soal bar…
"Bagaimana keadaan bar sekarang?" Gumam Luhan pelan, dia tak sengaja mengutaran apa yang ada dipikirkannya. Dan dia berharap semoga Sehun tak mendengarnya.
"Kau ingin kita pergi kesana?" Oh… mungkin ini bukan hari keberuntungannya, karna ternyata Sehun mendengar apa yang baru saja dikatakan Luhan.
"T-tidak… bukan begitu." Luhan menghela nafas panjang. "Kau tau apa yang baru saja aku pikirkan?" Tanya Luhan.
"Biar kutebak. Kau baru saja memikirkan semua orang yang membicarakan kita dan membuatmu melepaskan gandengan tanganku. Dan tiba – tiba saja kau teringat saat kau bekerja di bar. Bagaimana jawabanku?"
Terkejut. Sudah pasti. Sehun menebaknya dengan sangat tepat.
"Kau memang sudah mengenalku dengan baik." Ujar Luhan kemudian menghembuskan nafasnya.
"Kau mau kita pergi kesana?" Tanya Sehun. Luhan menatapnya kemudian menggeleng pelan.
"Tidak… mungkin tidak sekarang. Aku masih tidak tau apa yang harus aku katakan pada boss saat kita bertemu nanti, dia pasti mencariku kemana – mana." Ucapnya kemudian kembali menghela nafas.
"Katakan saja jika kau ingin mengunjunginya, aku tidak akan keberatan sama sekali." Ucap Sehun meyakinkan Luhan.
"Tapi bukankah tempat itu…"
"Aku tau, tapi kau sudah hampir menghabiskan banyak waktumu disana bukan? Aku mengerti jika kau tiba – tiba saja rindu dengan suasananya. Sudah kukatakan aku tak akan melarangmu jika hanya ingin mengunjungi bar itu." Jelas Sehun. Dia kembali meraih tangan Luhan dan menggenggamnya.
Luhan menatapnya lama. Dia baru sadar kalau hanya ada sebagian kecil pria yang memiliki hati dan pikirkan seperti Sehun di dunia ini. Tak salah kalau sekarang banyak sekali fans yang menyukainya.
"Ohh… look it's Sehun." Teriak seorang wanita membuat Luhan mengalihkan pandangannya. Dan tak lama kemudian dia menatap dua orang wanita yang dia yakin sekali itu orang London dengan caranya bepakaian dan kulit putihnya. Mereka berdua menghampiri Luhan dan Sehun yang berdiri dipinggir jalan.
"Hallo." Sapa dua gadis muda itu. Luhan yakin kalau dua gadis itu memiliki usia dibawah dirinya.
"Hallo." Sapa Sehun dengan ramah.
"Should I call you oppa? Because we know that you are from korea." Tanya seorang gadis yang memiliki rambut pirang strowberry.
"Tidak usah, kau bisa memanggilku Sehun." Jawabnya masih dengan suara yang ramah. Luhan yang ada disampingnya hanya bisa memperhatikan mereka dalam diam.
"Kalai begitu bolehkan kami menanyakan sesuatu?" Tanya gadis yang satunya. Sehun mengangguk. "Apakah dia benar – benar pacarmu?"
Tiba – tiba saja jantung Luhan berpacu semakin kencang saat mendengar pertanyaan itu, haruskan dia menghadapi hal seperti ini untuk yang kedua kalinya. Kumohon tuhan, semoga ini yang terakhir kalinya.
"Maksudku… maaf… apakah dia seorang…" Lanjutnya.
"Apakah dia terlihat seperti apa yang diberitakan?" Sela Sehun masih menggunakan nada ramah. Kedua wanita itu menatap Luhan yang sekarang tertunduk dan tangannya masih digenggam oleh Sehun.
"Aku rasa tidak. Entahlah… tapi temanku mengatakan kalau dia memang bekerja disana." Cetus gadis dengan wambut berwarna coklat terang itu.
"Apakah itu salah?" Tanya Sehun dengan senyuman lebar. Kedua wanita itu saling menatap kemudian mengangguk tak yakin. "Kalau begitu dimana letak kesalahannya?" tanya Sehun.
"Kau bisa mendapatkan wanita yang lebih dari dia." Jawab gadis pirang itu.
"Mungkin mataku yang salah, maaf… tapi hanya dia yang sempurna di mataku. Mungkin rasa cinta yang aku miliki untuknya jauh sangat besar, jadi menurutku apa pekerjaanya sekarang atau bagaimanapun dia, aku akan tetap mencintainya." Jelas Sehun.
Kedua wanita itu tercengang mendengar penuturan Sehun. Bagaimana seorang pria bisa menerima seorang wanita yang dianggap mereka hanyalah sampah? Bagaimana cara Sehun menerima semua kekurangan yang ada didalam diri Luhan. Jujur saja semua hal itu membuat kedua gadis itu tersentuh.
"Aku tidak pernah bertemu dengan pria yang mengatakan hal itu sebelumnya. Oh… kau benar – benar seorang idola yang sangat sempurna." Puji salah satu dari mereka.
"Aku tidak sempurna, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar." Jawab Sehun kembali memamerkan senyumannya.
"Oh… kami mengganggu kencan kalian bukan? Maaf… kalau begitu kami pergi dulu." Ucap gadis berambut pirang itu kemudian entah mungkin Luhan salah liat atau apa dia merasa kedua gadis itu tersenyum padanya.
"Kau lihat, mereka saja bisa menerimamu sebagai kekasihku, bagaimana kau tidak bisa menerima dirimu sendiri sebagai kekasihku." Bisik Sehun kemudian kembali membawa Luhan berjalan menuju mobilnya. Mereka sudah berada didalam mobil.
"Karna mereka bukan aku. Mereka bukan seorang penari…"
"Lu… Aku mencintaimu." Sela Sehun membuat Luhan bungkam. Entah kenapa setiap kali Sehun mengatakannya membuat jantung Luhan tak terkontrol, membuat jantungnya terus saja berpacu dengan cepat.
"Bagaimana perasaanmu saat aku mengatakannya?" Tanya Sehun. "Kau merasakan kalau jantungmu berpacu dengan cepat? Bukan begitu?" Lanjutnya. Tapi Luhan tak menjawab dia hanya menatap Sehun dalam diam.
"See… hatimu saja sudah bisa menerimanya, bisakah kau benar – benar menerimaku? Dan menyingkirkan rasa ragu itu? Kumohon… untuk kali ini saja, biarkan aku memohon padamu." Kemudian lama tak ada jawaban dari Luhan sampai akhirnya sebuah bisikan pelan keluar dari mulutnya.
"Aku akan mencobanya."
~I am a bad girl~
Luhan dan Sehun sudah kembali kerumah, waktu memang sudah menunjukan pukul 10 malam waktu setempat. Luhan terlihat sangat kelelahan dan Sehun yakin sekali kalau Luhan pasti tidak akan bisa menaiki tangga seperti selama ini dia lakukan.
"Kau mau kita menaiki lift?" Tanya Sehun. Tangan Luhan yang digenggamnya seketika itu juga menegang.
"Aku akan selalu ada disampingmu Lu, kau tidak perlu takut lagi…" Lanjut Sehun sambil menarik bahu Luhan agar menatapnya. "…Aku akan memelukmu. Bukan apa – apa hanya saja aku tidak tega jika kau harus menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai lantai 15…" Luhan telihat akan menyela tapi Sehun dengan cepat melanjutkan ucapannya. "… aku tau kau pasti akan menyangkal, tapi Lu… jujur saja aku sama sekali tidak bisa melihatmu berjalan menuruni dan menaiki tangga seperti itu lagi."
Luhan menghembuskan nafas panjang matanya melirik lift yang ada di sebelah kanannya. "Baiklah." Jawab Luhan pelan tapi tentu saja Sehun masih bisa mendengarnya.
"Tenang aku akan selalu ada disampingmu." Bisik Sehun kemudian merangkul Luhan memasuki lift yang kebetulan terbuka karna ada seseorang yang baru saja keluar.
Luhan mulai terlihat cemas dan tubuhnya bergetar pelan. Sehun dengan cepat membawa Luhan kedalam pelukannya. Tanpa sedikitpun rasa ragu, Luhan membalas pelukan Sehun dan menyembunyikan wajahnya di tubuh Sehun.
Sehun terlihat menghela nafas panjang. Dia menepuk – nepuk punggung Luhan, mencoba menenangkannya. Jujur saja dia masih kenapa Luhan bisa jadi seperti ini.
#Flashback
Saat itu dia masih bagaimana dia mendengar tangisan Luhan yang begitu memilukan di telinganya. Walau dia hanya mendengarnya dari sebuah telphone genggam.
"Sehun... hiskkkk… aku takut…" Ucap Luhan disela – sela tangisannya.
"Lu kau kenapa? Katakan padaku apa yang sedang terjadi padamu?"
"hisskk… aku terjebak didalam lift… hisk… sedangkan semua pengunjung mall sudah… hisk… hisk… Sehunnie… sudah keluar… hiskk… aku mendengar sirine kebakaran… hisk…"
DEG DEG DEG DEG
"Tunggu disana, cobalah untuk menekan tombol darurat… aku akan segera kesana."
Tanpa berpikir lagi Sehun langsung pergi ke mall dimana Luhan berada, Sehun tau karna sebelumnya Luhan mengajaknya untuk pergi ke mall itu tapi karna ayahnya membutuhkan bantuannya dia terpaksa membiarkan Luhan pergi sendiri.
Tak lama kemudian Sehun sampai di tempat kejadian. Dia langsung menerobos kerumunan masa yang terlihat menyesaki mall itu. Dan matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang tengah duduk di tanah dengan oksigen yang di tempelkan ke hidungnya. Luhan. Sehun langsung berlari mendekatinya.
"Lu…" Panggil Sehun membuat Luhan mendongak. Seketika itu juga Luhan melepaskan oksigen itu dan memeluk Sehun.
"Sehun… aku takut… hisk…" Ujar Luhan dengan pelan. Sehun mencoba menenangkan Luhan yang masih terus memeluknya dengan erat.
"Apa orang tuamu mengetahui hal ini?" Tanya Sehun setelah Luhan tenang. Luhan menggeleng pelan. "Aku tidak mau mereka khawatir." Jawbanya dengan suara pelan dan serak dengan mata yang menatap jauh kesana. Suasana kembali hening. Sehun membawa Luhan menjauhi tempat kejadian.
"Aku tidak akan pernah menaiki lift lagi seumur hidupku." Bisik Luhan sambil menundukan wajahnya. "Hey… Lu jangan seperti itu." Ucap Sehun. Luhan menggeleng dengan mata yang sudah berkaca – kaca.
"Aku tidak akan pernah berani menaikinya sendiri lagi…" Ucap Luhan masih terus menggelengkan kepalanya. Tiba – tiba saja tangan Sehun menggenggamnya membuat Luhan menatap Sehun.
"Tenang saja aku akan ada disampingmu, aku akan menjagamu saat kita menaiki lift." Luhan menatap Sehun dengan pandangan yang sulit sekali diartikan. Tapi perlahan Luhan luluh dan akhirnya mengangguk.
Semenjak kejadian itu, Luhan hanya berani menaiki lift hanya jika ada Sehun disampingnya.
#Flashback off
Mereka sudah sampai di lantai 15 dan Sehun segera membawa Luhan keluar dari sana. "Bagaimana?" Tanya Sehun saat Luhan sudah mulai tenang.
"Jujur saja ini jauh lebih buruk di banding menaiki ratusan tangga itu." Jawab Luhan sambil melepaskan pelukannya.
"Tidak, seharusnya kau mengatakan kalau ini lebih baik karna ada aku disampingmu." Goda Sehun sambil berjalan menuju apartemennya.
"Kau ingin aku mengatakannya?" Tanya Luhan.
"Tidak." Jawab Sehun sambil membuka apartemennya. "Aku hanya berharap kau mengatakannya." Lanjut Sehun.
"Kalau begitu apa bedanya?" Tanya Luhan masuk kedalam apartemen.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Ini sudah larut malam sebaiknya kau tidur." Ucap Sehun sambil mendorong Luhan memasuki kamarnya.
"Apa aku tidak seperti yang kau harapkan?" tanya Luhan menghentikan Sehun dan membalikan badannya membuat kedua mata mereka bertemu. "…maksudku, apa aku tidak romantis? Kau tau… maksudku…"
"Aku mengerti, kau memang bukan Luhan yang dulu, ada sebagian kecil dari dirimu yang berubah…" Sehun membungkukan badannya dan menyentuh pundak Luhan. "… tapi itu bukan masalah selama kau memang benar – benar mencintaiku." Lanjut Sehun. Tangan kanannya mulai mengusap pipi Luhan pelan.
"Maafkan aku…." Ucap Luhan sambil menunduk.
"Hey… tak usah meminta maaf seperti itu, kau tau.. kau sama sekali tak bersalah dalam hal ini…" Ucap Sehun mengusak kepala Luhan pelan. "…sekarang sebaiknya kau tidur." Ucap Sehun kembali mendorong Luhan memasuki kamarnya.
Saat Sehun hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar Luhan, sebuah tangan mungil mencegahnya.
"Sehun... Sehunnie…" Panggil Luhan dengan nada kaku, entah kenapa nama itu terasa kelu ketika diucapkan.
"Bisakah kau membiasakan memanggilku seperti itu?" Tanya Sehun. Luhan mengalihkan pandangannya, jujur saja entah kenapa pipinya menjadi merona seperti ini.
"Em… I just wanna say thanks."
"For what?"
"For anything you have given to me and…" Luhan kembali mengalihkan pandangannya dari Sehun tapi sayangnya tangan Sehun menariknya membuat mata mereka kembali bertemu.
"and what?" tanya Sehun. Luhan yang ditatap tajam seperti itu tentu saja menjadi sangat – sangat gugup. Sial. Kenapa harus selalu seperti ini? tanya Luhan pada dirinya sendiri.
"And… I think… I… I… Love you." Ucap Luhan sambil mengecup pipi Sehun sekilas kemudian menjauhkan tubuhnya dari Sehun.
"It's already night like you said, and so… em… good night." Ucap Luhan dengan gugup kemudian menutup pintu tanpa mendengar jawaban dari Sehun yang masih mematung.
Sehun tersenyum, kemudian kembali menegakan tubuhnya. Satu hal yang membuat Sehun bisa tersenyum senang seperti itu, tunggu… bukan karna Luhan yang mengecupnya tapi karna dia baru saja sadar, kalau Luhan kembali terlihat kekanak – kanakan dan sedikit pemalu. Seperti Luhan yang dulu, yah… sedikit. Tapi itu tidak salah bukan?
~I am a bad girl~
Satu minggupun sudah lewat, Sehun kembali disibukan dengan pekerjaanya sebagai model, dan tidak hanya itu sekarang Sehun sudah mulai ditawari untuk bermain film. Tapi entah kenapa Sehun selalu menolak tawaran itu, walau manager sudah membujuknya mati – matian tapi tetap saja Sehun tidak menerima tawaran itu, bahkan Luhanpun turun tangan untuk membujuk Sehun. tapi tetap saja dia tak menerima tawaran itu dan dia selalu menjawab dengan kata yang sama.
"Aku bukan seorang pemain film yang baik."
"Setidaknya beritau aku alasan yang lebih masuk akal Sehun." Ucap Luhan sambil menyiapkan sarapan di meja makan. Sehun menghembuskan nafas panjang, kali ini dia duduk berhadapan dengan Luhan dan menatap wanita itu dalam.
"Kau benar – benar ingin aku menerima tawaran itu?" tanya Sehun.
"Kenapa tidak?" Tanya Luhan sambil mengoles roti untuk Sehun dengan selai, kemudian meletakannya di piring.
"Kau tau jika aku menerima tawaran itu aku akan jarang sekali berada di rumah. Apa kau tau?" Tanya Sehun. Seketika itu juga pergerakan tanga Luhan berhenti. Tapi kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaanya.
"Itu… terserah padamu, jika menurutmu itu yang terbaik aku tak keberatan." Jawab Luhan sambil menghela nafas.
"Dan kau tau apa yang terbaik?" Luhan mendongak menatap Sehun kemudian menaikan bahunya acuh tak acuh. "Yang terbaik adalah dimana kita selalu bersama, itu yang terbaik menurutku." Luhan tersenyum kemudian mengangguk.
Tak lama kemudian acara sarapan selesai, Sehun sudah bersiap untuk pergi ke salah satu tempat untuk melakukan pemotretan. Dia memakai sebuah blazer yang dipadukan dengan sebuah kemeja.
Luhan dengan cepat membenarkan kerah blazer yang digunakan oleh Sehun dan merapihkannya. Luhan juga tidak lupa merapikan rambut Sehun.
"Tidakah kau merasa kalau kau terlihat seperti seorang istri yang sedang menyiapkan suaminya sebelum pergi bekerja?" Pertanyaan Sehun membuat tangan Luhan seketika itu juga membeku.
"Em… kau sudah rapi." Ujar Luhan mengalihkan perhatian. Tapi tiba – tiba saja Sehun menariknya membuat tubuh Luhan membentur dirinya.
"Minggu depan kita kembali ke korea." Ucap Sehun. Luhan semakin membeku dalam pelukan Sehun.
"A-apa?" tanya tergugup. Sehun sedikit meregangkan pelukannya dan menatap Luhan dalam.
"Kau tidak mau?" tanya Sehun.
"Bukan begitu… aku… kau tau…"
"Kau akan baik – baik saja… percayalah." Ucap Sehun sambil mengusap lengan Luhan.
"Aku hanya tidak yakin kalau mereka akan menerimaku, kalau saja mereka tau apa yang aku lakukan disini… aku tidak yakin mereka…"
"Sttt… kau hanya perlu percaya padaku." Sela Sehun sambil mengusap pipi Luhan.
.
.
.
~To Be Continued~
