Rabu, 18 April
07.34 am
Tokyo International Hospital
[Normal POV]
Suasana rumah sakit begitu lenggang pagi ini. Tidak ada seorang dokter maupun perawat yang berlalu lalang di koridor-koridornya, tanda belum ada aktifitas yang begitu berarti di jam-jam seperti ini. Namun ada yang berbeda dengan bagian Holistic Center di lantai tiga. Seorang wanita cantik berambut pirang panjang rupanya telah datang. Wanita bertubuh seksi dan mengenakan jas dokter itu duduk santai di kursinya, melepas lelah sembari menata berkas-berkas di mejanya. Setelah itu dia mengambil ponsel pintarnya, berniat menghubungi seseorang. Dia pun berdiri dari duduknya, menghadap jendela besar yang menghadap ke arah taman rumah sakit yang tersuguh di balik jendela bening itu, seraya menunggu telepon itu tersambung dengan si penerima. Wanita itu mendengus ketika suara kuapan panjanglah yang menyambut indera pendengarannya setelah telpon itu diangkat.
"Moshi moshi, Shion. Bangunlah." Perintahnya kepada si penerima dengan nada tegas.
"Aduh, Tsunade-basan, ini masih pagi tahu! Kau benar-benar mengganggu waktu tidurku!"
Tsunade—nama wanita itu, kembali mendengus ketika mendengar omelan Shion, sepertinya sudah terbiasa menghadapi omelan-omelan Shion sepeti itu. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah karena sudah membangunkan orang lain, dia pun melanjutkan kata-katanya.
"Bangunlah, bocah. Kau sendiri yang seminggu yang lalu ingin melaporkan sesuatu padaku. Jadi karena sekarang aku sudah pulang dari Swiss, katakan padaku apa yang ingin kau laporkan."
"Ah iya! Aku baru ingat!" Suara Shion seketika penuh semangat, sudah tidak lagi terdengar mengantuk seperti tadi. "Kau tahu, seminggu yang lalu adalah waktunya klubku menjaring anggota baru. Dan saat itu, aku bertemu dengan dua orang yang sangat aneh." Cerita Shion dengan semangat membara, seolah sudah tidak sabar menyampaikan berita itu pada Tsunade.
"Aku sedang tidak ingin mendengar curhatanmu, jadi cepat laporkan apa yang seharusnya kau laporkan!" Ujar Tsunade tidak sabar. Dia bukan Mamah Dedeh, jadi dia tidak mau dicurhatin.#plak
"Sabar dong, ba-san! Pagi-pagi jangan marah-marah, kalau tidak keriput dan ubanmu akan semakin bertambah."
Ctak!
Sebuah perempatan siku muncul secara ajaib di kepala Tsunade. Berbicara dengan bocah menyebalkan ini sukses membuatnya darah tinggi dalam sekejap. Seandainya Shion ada di depannya sekarang, sudah dia lumat anak itu sampai jadi perkedel.
"Jadi begini, ba-san. Aku bertemu dengan dua anak laki-laki kelas X, yang satu rambutnya jabrik kuning, yang satu hitam tapi modelnya seperti buntut bebek. Pokoknya mereka aneh deh, apalagi yang rambutnya kuning. Tapi bukan itu yang membuat mereka aneh, tapi aura mereka."
Tsunade yang awalnya sudah ingin mengamuk, langsung terdiam saat mendengar kalimat terakhir Shion, wajahnya langsung tampak serius. Tsunade memang sudah sejak dulu tahu bahwa Shion memiliki kemampuan khusus dapat melihat warna aura seseorang. Karena itu, Tsunade dan Shion membangun semacam kerja sama khusus di antara mereka. Tsunade yang mengajari Shion cara mengartikan warna aura yang dilihatnya. Namun baru kali ini Shion bertanya ada yang aneh pada aura seseorang.
"Ada apa dengan aura mereka? Apakah warna aura mereka berwarna merah kekuningan seperti Shikamaru dan Sarutobi-sensei?" Tanya Tsunade serius.
"Tidak, Tsunade-basan. Warna aura mereka kuning kehijauan, sama sepertimu."
Deg!
Jantung Tsunade rasanya akan keluar dari rongganya saat mendengar jawaban Shion. Kuning kehijauan? Mungkinkah…
"Karena aura mereka mirip denganmu, aku merasa perlu melaporkannya padamu. Lagipula kau belum pernah memberitahuku apa arti warna aura itu, ba-san. Sekalian saja aku memberitahumu dan menanyakan apa artinya padamu. Ba-san, kau mendengarku? Ba-san?"
Tidak ia dengarkan lagi ocehan Shion selanjutnya. Otaknya kini dipenuhi berbagai macam kemungkinan. Jika mendengar ciri-ciri yang tadi Shion sebutkan, Tsunade sudah bisa menebak kira-kira siapa pemilik aura itu. Tapi Tsunade tidak boleh gegabah, dia harus memastikan sendiri kebenaran dugaannya ini.
"Shion, dengarkan aku." Tsunade menekankan kalimatnya, membuat Shion terdiam seketika. "Bawa mereka berdua ke hadapanku sepulang sekolah. Kau mengerti?" Perintah Tsunade tegas dan lugas. Dan tanpa mendengar jawaban Shion lebih lanjut wanita itu langsung menutup telponnya. Dia tersenyum lebar, akhirnya saat yang ditunggunya datang juga. Dia harus memikirkan rencana selanjutnya untuk menyambut mereka.
.
.
.
.
Sakura's Lover
present
Naruto: The New Born
(Chapter !0)
Rate T
Desclaimer Naruto Masashi Kishimoto
saya kan cuma pinjem charas Kishi-sama ^^
This Story is MINE
AU for present, and Canon for past memory
Gendre: Friendship, Drama, Humor
Warning: OOC, Gaje, Berantakan, EYD, TYPOs, NEWBIE
Dont Like? Dont Read! ^^
Enjoy!
03.14 pm
Kurama Senior High School
[Naruto's POV]
Aku memandang cermin di depanku dengan senyum lebar, hingga terlihat seluruh gigi-gigiku yang tersusun rapi dan bersinar cerah bagai senyum pepsodent. Kuperiksa rambutku, sekarang rambut pirangku yang seksi sudah klimis dan mengkilap berkat pomade mahal yang kubeli kemarin. Kuperhatikan wajahku, dan waaaahhh.. wajahku sudah bersinar cerah dan merona, noda tersamarkan #plak. Duuh Naruto, anak siapa sih kamu? Kok cakep banget? Pujiku pada diriku sendiri yang sekarang ini sudah lebih ganteng dan keren dari artis papan reklame, bukan papan atas lagi. Memikirkannya saja membuat senyumku semakin lebar.
"Hei Naruto, kenapa kau senyum-senyum sendiri sambil lihat kaca? Kesambet ya?"
Senyumku luntur ketika mendengar sebuah suara menyebalkan dari sampingku. Saat menoleh, aku dapat melihat Kiba, Aki, Shino, Iruka dan Suigetsu menatapku dengan wajah berkerut dan mulut ternganga. Aku membalas ekspresi bodoh mereka dengan senyum ganteng. Setampan itukah aku sampai membuat mereka terkesima? Ternyata jadi ganteng itu bisa bikin dosa. Buktinya kegantenganku bisa membuat laki-laki gila seperti mereka langsung takjub dan terkagum-kagum.
"Kenapa? Terpukau dengan kegantenganku ya? Kalian jangan jatuh cinta padaku-ttebayo. Aku ini normal, tidak seperti kalian." Ujarku sombong sambil menaiklah dua alisku sekaligus, yang justru membuat mereka semakin ternganga. Tuh kan, keseksian dan ketampananku memang tidak tertahankan.
"Hn, dasar gila." Aku dapat mendengar cibiran sinis Sasuke yang baru saja datang dari arah kelasnya, dan berada di depan lokernya untuk berganti sepatu. Aku mendelik tajam padanya dan dia justru memandang rendah padaku dengan sangat menyebalkan. Sialan, kurang ajar sekali si pantat ayam ini!
"Huh, bilang saja kau iri pada kegantenganku, Teme. Iya kan teman-teman?" Aku melirik ke arah teman-temanku yang lain. Anehnya, mereka justru menatapku prihatin seolah-olah aku baru saja tercebur ke selokan. Sedetik kemudian, Suigetsu, Kiba, dan Aki menghampiriku, sementara Shino dan Iruka mengotak-atik ponsel mereka sebentar, lalu berlagak sedang menelpon seseorang.
"Moshi moshi, RSJ Tokyo? Ada pasien gila baru yang minta dirawat inap, bisa minta ambulance?" Shino dan Iruka berbicara berbarengan, membuatku melotot besar-besar. Hei, apa yang mereka maksud itu aku? Sialan! Siapa juga yang sakit jiwa!
Sementara itu, ketiga temanku yang lain tanpa kuduga langsung memiting tubuhku. Membuatku kaget dan terbelalak lebar-lebar.
"Keluarlah, jin ifrit sialan! Jangan rasuki Naruto! Tanpa kau rasuki pun dia sudah nista!" Teriak Suigetsu keras-keras sambil memiting leherku dan membuatku tercekik kehabisan nafas. Aku melotot garang padanya sambil meronta-ronta, namun tertahan oleh Aki dan Kiba yang memegangi tanganku.
"Lep-Lephashkaahn akhhu skhialanhn!" Rontaku kehabisan nafas. Tapi kurasa Suigetsu telah tuli, karena sekarang dia malah membaca mantra absurd sesat sambil memitingku. Dia baru melepaskanku dua menit kamudian saat wajahku sudah jadi hijau dan mau berubah jadi hulk gara-gara kehabisan nafas.
"Kalian mau membunuhku ya?!" Bentakku kasar setelah Suigetsu melepaskan leherku. Aku mengelus-elus kulit leherku yang pasti sudah membiru habis dicekik si gigi taring psikopat ini. Aku tidak henti-hentinya mendelik kesal pada lima makhluk absurd yang sayangnya merupakan sahabatku itu. Tapi mereka semua malah memasang wajah tidak berdosa, tidak sadar bahwa mereka hampir membuat nyawa orang melayang.
"Seharusnya kau bersyukur aku masih mau berbaik hati mengeluarkan jin jahat yang merasukimu itu, Naruto." Suigetsu menyeringai laknat.
"Siapa juga yang kerasukan, baka?!" Cecarku tidak terima. Padahal tadi adalah saat-saat terganteng dalam hidupku, tapi mereka malah merusaknya dan menyebutkan aku ini kesurupan jin? Teman macam apa mereka ini?
"Habisnya kau bertingkah aneh. Ngaca di depan loker sepatu, narsis pula." Iruka mulai berargumen.
"Tidak kesurupan pun kau sudah gila, apalagi kalau kesurupan." Tambah Shino dengan sangat menyebalkan.
"Coba bayangkan, tadi hantu itu mengaku-aku wajahmu ganteng! Itu benar-benar penistaan!" Ujar Kiba serius, disetujui oleh anggukan berulang-ulang dari Aki yang berwajah ngeri.
"Hn, muka seperti tatakan gelas saja dibilang ganteng." Cibir Sasuke sinis dan tajam.
Ctak, ctak, ctak.
Sepuluh perempatan siku bermunculan seketika di seluruh kepalaku. Lubang hidungku kembang kempis dan wajahnya merah menahan amarah. Kalau aku naga, sudah kusembur mereka semua pakai api sampai jadi kambing guling! Kurang ajar benar bocah-bocah ingusan menyebalkan ini! Aku si mantan hokage ketujuh yang terganteng, terkece, terbaik, terkeren dan termacho ini dibilang kesurupan jin ifrit dan disamakan dengan tatakan gelas? Kalau aku masih seorang ninja Konoha, sudah kurasengan mereka satu-satu sampai mental ke kutub utara!
"Awas kalian ya, kukamekameha satu-satu!" Seruku sembari berlari mengejar mereka yang ternyata sudah mengantisipasi kemarahanku dengan berlari duluan, bahkan Sasuke pun sudah menghilang entah ke mana. Akhirnya kami pun berkejar-kejaran seperti anak TK cacingan dan menjadi tontonan nista seisi KHS.
.
.
.
.
"Sialan, gara-gara mereka, rambutku yang sudah kutata rapi dan kece jadi berantakan lagi." Keluhku sembari mengamati rambutku yang sebelumnya klimis kini kembali menjadi jabrik. Padahal butuh waktu 10 menit untuk membuatnya rapi, tapi teman-teman bodohku malah merusaknya dalam sekejap. "Awas saja besok, aku akan menjitak mereka satu-satu! Dasar para bocah ingusan!"
"Berhentilah mengeluh Naruto. Kau lebih berisik dari kelima orang tadi dijadikan satu." Seru Sasuke dingin. Aku mendelik kesal padanya. Dasar Teme sialan, enak saja dia bicara. Dia tidak tahu saja betapa susahnya aku menata rambutku.
Aku dan Sasuke sedang dalam perjalanan pulang setelah berpisah dengan kelima temanku yang sinting di halte bus dekat sekolah. Dan sepanjang perjalanan aku tidak berhenti merutuki kelakuan biadab mereka yang sudah menyiksa rambut cantikku yang sekarang sudah berubah menjadi berantakan seperti baru terkena angin topan.
"Kalau kau mau menghilangkan rambut jabrikmu, buat saja kepalamu botak seperti Saitama." Cibir Sasuke dengan nada mengejek yang amat sangat menyebalkan, membuatku melotot garang padanya.
"Kenapa tidak kau duluan saja yang membotaki kepalamu? Kau lebih aneh karena jabrikmu hanya di belakang kepala, seperti ekor ayam." Aku balas mengejeknya sambil tertawa nista sampai keluar air mata. Dasar Uchiha tidak sadar diri.
"Berisik. Lagi pula percuma kau buat rambutmu bermodel klimis dan rapi seperti itu, Hinata tidak akan tertarik padamu hanya kau berganti gaya rambut."
Aku terkejut, menatap Sasuke yang sekarang sedang menyeringai dengan sangat menjengkelkan. Heee? Kenapa dia tahu kalau aku merubah sedikit penampilanku menjadi lebih kece, keren dan ganteng seperti ini untuk Hinata? Dari mana dia tahu? Apa dia bisa membaca pikiran orang? Atau jangan-jangan dia titisan Ki Joko Pinter? #plak
"Da-dari mana kau tahu, Teme? Kau pasti menstalk pikiranku kan? Iya kan?" Kataku kelabakan. Cukup Sakura saja yang distalk, otakku jangan.
"Hn, kepala bodohmu itu mudah sekali terbaca. Aku bukan sehari-dua hari mengenalmu, Baka." Katanya sembari berdecak. Aku sekarang sibuk ber'ohh' ria dengan mata dan mulut sama-sama melebar. Cukup Naruto, lama-lama kau jadi mirip gurita.
"Kau janjian terus dengannya sepulang sekolah setiap hari di taman dekat sini, kan? Kau yakin tidak dibunuh Nene karena itu?" Tanya Sasuke.
Aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaannya. "Ya, begitulah.. Sejak aku menemukannya ditindas oleh teman-temannya 2 hari yang lalu, setiap hari aku jadi menemaninya, lalu mengantarnya ke tempat Kurenai-sensei, tempat dia les piano. Aku berjanji akan menemaninya terus sampai hari dia mengikuti lomba dan tidak ada lagi anak-anak yang mengganggunya-ttebayo." Jawabku penuh tekad.
"Kau sendiri, ada perkembangan tidak? Aku kan sudah memberi tahumu soal info mengenai Sakura, Teme. Jadi apa rencanamu selanjutnya?" Tanyaku penuh semangat pada Sasuke.
Ya, kemarin aku membantu Sasuke mencari informasi mengenai Sakura dari ayahku. Lebih tepatnya aku menanyai ayahku mengenai Sakura dan melaporkan jawabnannya kepada Sasuke lewat telepon. Aku melakukannya diam-diam, agar ibuku tidak menganggapku kelainan karena menelpon laki-laki tengah malam buta. Bisa-bisa aku dirajam nantinya.
Tidak sulit membuat ayahku bercerita soal Sakura, aku tinggal memijat pundaknya saja sambil mengajaknya ngobrol, maka percakapan pun akan mengalir sederas air macur. Dari ayahku, aku tahu soal Sakura yang ternyata berasal dari Hiroshima dan langsung menjadi dokter setelah mendapat gelar spesialisnya di RS Pusat Tokyo. Ayahku berkenalan dengannya dalam sebuah rapat beberapa kali karena Sakura merupakan tangan kanan seorang petinggi rumah sakit Tokyo, dan mereka menjadi akrab. Sakura juga beberapa kali menghadiri pesta-pesta perusahaan penting karena diundang teman-temannya yang juga pemilik beberapa perusahaan, yang tentu saja dihadari oleh orang tuaku juga. Meski cukup akrab dengan Sakura, ayahku tidak tahu menahu soal orang tuanya, sepertinya gadis pink itu tidak pernah menceritakannya. Segala informasi itu kemudian kusampaikan pada Sasuke kemarin, dan aku cukup penasaran apa yang kira-kira telah direncanakan si pantat ayam untuk memuluskan ambisinya.
Sasuke menatapku sejenak lalu ia menghela nafas."Aku tidak tahu, Dobe." Jawabnya dengan nada kosong.
"Huh?" Aku melongo, menatapnya kaget. "Yang benar saja! Aku sudah capek-capek mencarikanmu informasi tentangnya, tapi kau bahkan belum melakukan apapun!" Sungutku kesal sampai mencipratkan hujan lokal kepadanya. Aku buru-buru menutup mulutku saat melihat dia mendelik padaku, mungkin dia terganggu dengan cipratan basahku.
"Bisa tidak kau bicara tanpa menimbulkan banjir seperti itu? Menjijikan tahu!" Ketusnya sambil mengelap wajahnya menggunakan lengan atas seragamnya. Kedua matanya masih melotot ke arahku, persis seperti ikan koi mau pup. Aku hanya bisa nyengir kuda membalas tatapan membunuhnya. Ya maaf deh Sasuke, wajahmu mirip tatakan liur sih, jadi liurku spontan saja mendarat di sana.. hehehe #plak
"Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat, Naruto. Aku akan mencari kelemahan hubungan mereka, dan akan kucoba merusaknya menggunakan hal itu. Karena aku menduga ada yang janggal antara Itachi dan Sakura." Jelas Sasuke serius, membuatku mengerutkan dahi.
"Janggal? Apa maksudmu, Teme?" Tanyaku penasaran. Kalau Sasuke sudah berkata seperti ini, berarti hal ini benar-benar serius. Dugaan Sasuke bukanlah hanya sekedar hipotesis remeh, dia pasti telah menghimpun beberapa bukti akan hal itu.
Tin! Tin!
Terdengar suara klakson mobil sebelum aku ingin menanyakan lebih lanjut maksud perkataan Sasuke, membuatku dan Sasuke menoleh secara bersamaan ke asal suara. Telihat sebuah mobil sport hitam mahal yang berhenti sejajar dengan kami. Kurasa mobil itu sudah gila, apa dia tidak lihat dua anak kece macam kami ini sudah berjalan di trotoar sesuai aturan? Kenapa pula dia masih membunyikan klakson yang memekakkan telinga itu? Aku hampir menyemprot si pengendara mobil ini saat dia membuka kaca mobil, yang akhirnya tidak jadi ketika melihat Shionlah yang ternyata ada di balik kemudi.
"Hei kalian!" Sapa lelaki pirang itu ceria dengan senyuman, yang justru ingin membuatku menguleknya pakai coet. #dikira anak orang cabe? -,-
Aku berpandangan dengan Sasuke, yang sepertinya berpikiran sama denganku. Bukan karena kami ini punya telepati, kami tidak semesra itu-ttebayo. Lagipula rugi punya telepati tersambung dengan Sasuke, karena jika aku sedang susah, dia malah akan bersyukur, bukan malah menolongku. Kami berpikiran yang sama karena kami memiliki pendapat yang sama tentang Shion, bahwa dia merupakan makhluk paling merepotkan se-Jepang Raya,. Kami percaya kami akan mendapat kesialan jika berurusan dengannya—terbukti dalam hal Club Lost Soul minggu lalu. Sebenarnya kami pun berusaha pulang secepatnya dari sekolah untuk menghindari si bocah pirang ini dan klub mistisnya yang merepotkan. Tapi ternyata kami memang sial sampai-sampai masih saja bertemu dengannya di perjalanan. Kalau sudah begini, langkah terbaik yang perlu ditempuh adalah... KABUURR!
"Hei, berhenti kalian!"
Tidak kuhiraukan teriakan melengking Shion di belakang kami. Aku berusaha berlari secepatnya demi menghindar dari Shion, begitu pula dengan Sasuke. Tanpa dia pun hidup kami sudah susah, dan kami juga tidak berencana menambah lagi penderitaan kami dengan berurusan dengannya.
Sedikit lagi kami akan mencapai ke taman, tempat biasa aku bertemu dengan Hinata. Aku melirik Sasuke, dan sepertinya dia mengerti bahwa dia pun akan pergi ke taman itu, untuk bersembunyi dari Shion. Tapi ketika kami akan berbelok masuk ke taman, dua orang berbadan besar dan bersetelan jas hitam rapi keluar dari taman dan menatap kami. Aku tidak menghiraukan mereka, masih berlari saking takutnya ditemukan oleh Shion. Tapi tanpa kuduga, salah satu pria itu justru malah mencengkram tanganku, membuatku kaget setengah mati. Saat kulirik ke arah Sasuke untuk minta bantuan, tapi aku malah semakin kaget karena satu pria lainnya juga melakukan hal yang sama pada Sasuke!
"Hei, apa-apaan ini? Lepaskan kami!" Teriakku penuh kekesalan, tapi pria itu malah semakin kuat mencengkram kedua tanganku, membuatku semakin panik. Sasuke terlihat berusaha melepaskan cengkraman pria yang satu lagi dengan cara menendang tulang keringnya, namun lelaki itu lebih sigap dengan menghindarinya dan menginjak sepatu Sasuke.
Ckkiiiitttt!
Aku menoleh, dan ternganga ketika melihat mobil berisi setan pirang bernama Shion berhenti di depan taman. Shion dengan wajah cerianya yang terlihat lebih menyebalkan dari wajah asli Voldemort, menganggukan kepalanya ke arah kedua pria yang mencengkram tangan kami. Dan tanpa berkata apapun, dua pria itu menyeretku dan Sasuke ke mobil Shion. Aku meronta sejadi-jadinya, tapi usahaku tidak ada hasilnya melawan tenaga gajah cengkraman orang itu. Dan setelah itu, aku dan Sasuke langsung dilempar memasuki kursi penumpang mobil, yang langsung dikunci oleh Shion, dan mobil pun langsung melaju kencang.
"Apa yang kau lakukan, sialan? Turunkan kami!" Jeritku sambil menggebuk-gebuk jok mobil yang diduduki Shion.
"Berisik sekali kau, Naruto. Tenanglah." Ujar dia tanpa merasa bersalah, membuatku mendelik kesal padanya.
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG SAAT KAU MENCULIK KAMI SEPERTI INI?"
"Na-Naruto-nisan..."
Aku melotot lebar-lebar ketika mendengar suara bervibra halus dan lembut bin merdu dari jok di sebelah Shion. Mataku membulat besar-besar ketika melihat Hinata duduk di sebelah Shion dengan dahi berkerut gusar.
"Hinata-chan? Kenapa kau ada di sini?!" Tanyaku panik padanya. Aku kembali menoleh ke arah Shion dengan pandangan keji. "Kau bahkan menculik Hinata! Turunkan kami!" Teriakku sembari menarik kerah seragam Shion dari samping, membuatnya agak panik.
"Lepaskan aku bodoh! Aku sedang menyetir!" Sekarang Shion yang berteriak, sembari masih menyetir.
"Naruto-niii, hentikaaann!" Hinata memegang lenganku, membuatku melonggarkan cengkramanku pada Shion. Aku mengerutkan dahi melihatnya. Kenapa Hinata menghentikanku? Jelas-jelas Shion sudah menculiknya, tapi dia malah membelanya.
"Shion-nii hanya ingin mengantarku pulang, Ni-san." Jelas Hinata kemudian, yang justru membuatku melotot besar-besar.
"Hee? Kau mengenal dia?" Tanyaku sambil menunjuk Shion yang merengut.
"Iya, Naruto-nii. Shion adalah teman akrab Nene-neesan." Jawab Hinata ceria, yang malah membuatku semakin terperangah.
"Heeee? Benarkah?" Tanyaku skeptis.
"Ya, tadi Shion-nii bilang dia ingin ke Rumah Sakit Tokyo, jadi sekalian saja mengantarkanku pulang. Rumahku kan dekat dengan RS." Jelas Hinata lagi.
"Hn, lalu, kenapa kau malah membawa-bawa kami?" Tanya Sasuke sinis, yang kusetujui dengan anggukan. Sama seperti Sasuke, aku juga kesal sekali karena tiba-tiba diculik seperti ini. Setidaknya kalau mau menculik, gunakan cara yang lebih berkelas dong. #plak
"Seseorang ingin bertemu kalian berdua." Jawab Shion singkat, masih merengut. Sepertinya dia masih marah karena tadi aku mencekiknya.
"Ingin bertemu kami?" Tanyaku bingung, yang dijawab anggukan dari Shion. "Siapa yang ingin bertemu dengan kami?"
"Nanti kalian juga tahu setelah sampai di RS Tokyo."
"Kenapa dia ingin bertemu dengan kami?" Kali ini Sasuke yang bertanya dengan serius.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku menceritakan padanya bahwa kalian menaiki warna aura yang berbeda dari orang kebanyakan, yang aku tidak tahu apa artinya. Dan dia menyuruhku membawa kalian kepadanya. Dia seorang dokter hebat juga seorang ahli holistik, jadi aku yakin dia punya kepentingan khusus dengan kalian berkaitan dengan warna aura kalian itu." Jelas Shion panjang lebar sambil sesekali melirik kami lewat kaca spion tengah.
"Heee, jadi kau tidak bohong soal bisa melihat aura orang lain itu?" Shion memang pernah bilang bahwa dia bisa melihat aura orang lain, tapi kupikir saat itu hanya siasatnya untuk membuatku dan Sasuke masuk ke dalam klub Lost Soul.
"Tentu saja benar, Baka! Buat apa aku berbohong!" Katanya sewot, membuatku hanya mengangguk-angguk seperti ayam.
"Lalu kenapa kau tidak saja tadi dengan jelas kalau kau ingin membawa kami menemui orang itu? Kau malah menculik kami seperti tadi! Kulaporkan polisi tahu rasa!" Kataku kesal.
"BAGAIMANA AKU MAU MENJELASKAN, TADI KAN KALIAN LANGSUNG KABUR SEPERTI ITU! Aku bahkan sampai harus meminta bodyguard menangkap kalian seperti tadi! Dasar kalian merepotkan!" Semprot Shion kesal padaku, yang hanya kubalas dengan cengiranku. Salahku dan Sasuke memang yang sudah buruk sangka duluan saat melihat Shion. Habisnya tampangnya seperti shinigami sih.. eheheh
Selanjutnya Shion mengajak Hinata berbicara, sementara aku dan Sasuke hanya terdiam. Aku memikirkan dengan serius siapa kira-kira yang ingin bertemu dengan kami, dan apa tujuannya. Yang bisa kami lakukan hanyalah menunggu untuk sampai ke RS Tokyo dan berharap tidak ada kejadian buruk yang akan menimpa kami.
.
.
.
Aku dan Sasuke berjalan mengekori Shion menuju ke lantai 3 RS Tokyo. Hinata tidak ikut ke rumah sakit marena Shion menurunkannya di depan rumahnya yang sangat besar dan jaraknya ternyata hanya 500 meter dari sini. Rumah sakit ini terlalu besar sehingga bisa membuatku tersesat. Kadang-kadang Shion menengok ke arah kami, memastikan kami tidak akan kabur, baik kabur pulang ke rumah atau kabur ke ruangan Sakura di RS ini. Tapi masalahnya aku tidak tahu ruangan Sakura, yang tahu hanya Sasuke, tapi si pantat ayam itu terlihat cuek saja, tidak berniat pergi ke ruangan kecengannya itu.
"Sakura tidak ada jadwal praktek hari ini." Kata Sasuke tiba-tiba, menjawab pertanyaanku sebelum aku sempat bersuara. Aku mengangguk sembari berdecak kagum. Aku belum bertanya padanya saja sudah dia jawab. Ternyata memang benar, Sasuke pasti titisan Ki Joko ampun, sepertinya lama-lama aku jadi semakin ngawur.
"Ini dia ruangannya."
Aku dan Sasuke menoleh ke arah Shion yang berdiri di depan sebuah ruangan besar berpintu geser kaca buram. Aku melirik plang di atas pintunya. HOLISTIC CENTER.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Shion menggeser pintu ruangan itu, dan kami pun masuk ke dalamnya. Aku mengamati sekeliling ruangan yang ternyata sangat luas dan bergaya modern dengan dominasi warna krem dan putih ini. Banyak sofa-sofa yang terlihat empuk dan rak-rak kaca besar yang berisi buku dan juga empat buah ranjang pasien di sisi kiri ruangan. Ada juga tiga buah pintu lain yang sepertinya merupakan akses menuju ruangan lainnya. Sementara di sisi kanan, terdapat meja kerja panjang yang membelakangi jendela besar transparan dan tertutup. Di depan jendela itu, berdiri seorang dokter berjas putih lengkap berambut pirang panjang yang membelakangi kami, menghadap ke jendela.
"Aku sudah membawa mereka, ba-san." Ujar Shion ceria sembari melemparkan dirinya ke salah satu sofa besar empuk seenaknya. Ternyata selain menyebalkan, dia juga tidak sopan.
Tidak ada respon dari wanita berambut pirang panjang itu, membuatku dan Sasuke terdiam tegang. Jadi inikah orang yang ingin bertemu dengan kami? Siapa wanita itu? Tapi kenapa aku rasanya sedikit familiar dengan suasana tegang ini? Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku merasakannya.
Dan pertanyaanku langsung terjawab, ketika wanita itu berbalik ke arah kami. Aku membelalakan mataku ketika melihat sosok itu, sosok yang sekarang ini tengah tersenyum cerah dengan bibir berpoles lipstik merah dan mata bernetra coklat madunya. Rasanya aku ingin berteriak bahagia ketika mendengar suaranya yang tegas dan penuh tekanan.
"Lama tak bertemu, Namikaze Naruto dan Uchiha Sasuke."
"TSUNADE-BAAASAAAAAAANNN!" Tanpa peduli bahwa ini di rumah sakit, aku langsung berlari kencang ke arah Tsunade, yang masih berdiri tegak di tempatnya. Akhirnya, aku menemukan satu shinobi lagi! Aku sungguh-sungguh bahagia dan ingin memeluk-
"Ekhhh?!" aku dapat merasakan sebuah tangan menarik kerah belakang seragamku, membuatku tercekik. Aku dapat melihat wajah serius Sasuke ketika aku berbalik ke belakang. Dia memandang dingin ke arah Tsunade-baasan, kecurigaan tergambar jelas di wajahnya.
"Jadi, Anda mengenal kami, Nyonya?" Tanya Sasuke hati-hati. Ups, aku lupa. Wanita ini kan merupakan reinkarnasian dari Tsunade Senju dari masa lalu. Dia pasti tidaklah mengingatku dan Sasuke. Tapi, kenapa dia tadi menyebutkan nama kami seolah-olah dia telah mengenal kami sebelumnya? Aku menjadi menyadari posisi kami di sini, dan memilih diam sambil mengamati wajah Tsunade yang masih tersenyum.
"Shion, benarkah mereka benar-benar memiliki warna aura kuning kehijauan?" tanyanya pada Shion yang masih leyeh-leyeh di sofa.
"Ya, sama sepertimu ba-san!" Jawab Shion enteng. "Aku kan sudah membawa mereka ke sini, jadi tolong jelaskan kepadaku, apa arti warna aura itu, ba-san. Kau tidak pernah memberitahukan padaku apa arti warna aura kuning kehijauan milikmu itu." Lanjut Shion, kali ini terlihat serius pada Tsunade.
Tsunade tidak langsung menjawab. Dia berjalan ke arah kursinya dengan perlahan namun tegas, membuat suasana di antara kami hening. Dia pun duduk di kursi kebesarannya itu sembari mengaitkan jari-jarinya, menumpu kedua lengannya pada kedua sikunya di atas meja, mengingatkanku pada Tsunade Senju yang dulu menjabat sebagai hokage kelima ketika sedang berusaha memutuskan masalah serius.
"Shion, aku pernah bilang padamu, ada warna-warna aura yang dapat menunjukan seseorang memiliki kelebihan khusus, seperti warna aura ungu kebiruan yang menunjukan seseorang adalah indigo. Warna aura kami bertiga, kuning kehijauan itu, juga menandakan bahwa kami memiliki kelebihan khusus." Kata Tsunade, namun kedua matanya menatap ke arahku dan Sasuke."Bukan begitu, eh Tuan Uchiha dan Namikaze?"
Aku menegang ketika mendengar pertanyaannya itu. Kalau warna aura kami sama dengan milik wanita ini, bukankah itu berarti…
"Ya, kami memiliki kemampuan khusus, Shion." Wanita itu tersenyum lebar hingga matanya tertutup. "Kemampuan mengingat masa lalu kami dengan sempurna."
"Hah?" Shion mengerutkan dahi.
Aku ternganga.
Sasuke melotot.
Tsunade masih tersenyum lebar.
"APPPPAAAAAAA?"
Dan teriakankulah yang pertama kami terdengar setelah keheningan mengisi beberapa detik. Jadi, Tsunade juga bisa mengingat masa lalu seperti aku dan Sasuke? Benarkah? Atau aku sekarang bermimpi bertemu shinobi yang memiliki nasib yang sama denganku? Ribuan pertanyaan rasanya ingin kulontarkan pada Tsunade, tapi semua suaraku rasanya tertelan oleh rasa kebahagiaan yang menyebar dan meliputi seluruh tubuhku.
"Kau tidak pernah berubah Naruto, masih saja berisik seperti dulu." Tsunade geleng-geleng kepala ke arahku, menyadarkanku dari euforiaku sendiri.
"Jadi kau benar-benar Tsunade Senju?" Tanya Sasuke skeptis, yang dijawab dengusan Tsunade.
"Kau bocah Uchiha ternyata tidak mudah percaya. Tapi aku dulu memang Tsunade Senju, sebelum menikah dengan suamiku."
"EHH? KAU MENIKAH?" tanyaku dengan suara keras, tidak menyangka. Yang kutahu nenek Tsunade merupakan perawan tua yang tidak tertarik dengan pria. Ternyata terlahir kembali membuatnya menjadi normal, bahkan mau menikah.
BRAAK!
Aku berjengit ketika Tsunade menggebrak keras meja di depannya dan melayangkan pandangan membunuh padaku. Huh, kenapa dia tiba-tiba menggebrak meja sih? Mengagetkanku saja!
"Jangan berteriak-teriak di sini, bocah! Kau tidak sadar apa kalau ini di rumah sakit? Sekali lagi berteriak, kulempar kau dari jendela!" ancamnya dengan wajah menyeramkan, membuatku menciut seketika dan mengangguk pasrah. Sebaiknya aku menutup mulutku rapat-rapat jika masih mau menghirup oksigen di dunia ini.
"Hei, hei, aku masih tidak mengerti, jadi benarkah apa yang kau katakan itu, Tsunade-basan? Jadi kau dan dua anak aneh ini bisa mengingat masa lalu di kehidupan kalian sebelumnya, begitu?" Tanya Shion, membuatku kembali menyadari kehadiran cowok pirang itu. Ups, aku lupa kalau dia masih ada di ruangan ini! Gawat, berarti dia tahu soal rahasia kami dong?
"Ya, begitulah Shion. Sekarang kau tahu kan apa arti warna aura kami?"
"Yah.. keren juga sih menurutku. Jadi kalian bertiga punya masa lalu yang sama, begitu?" Tanya Shion mulai kepo.
"Kau bisa menanyakan itu nanti. Sekarang, bukankah seharusnya kau pulang? Kudengar kakakmu pulang dari London malam ini?" Tsunade mengalihkan pembicaraan, membauat Shion terbelalak dan bangkit dari duduknya.
"Ahh, aku lupa! Kalau begitu, aku pulang dulu ya, ba-san! Dan kalian, aku akan bertanya macam-macam pada kalian besok! Bersiaplah! Jaa!" Shion menunjuk ke arahku dan Sasuke sebelum berlari keluar ruangan. Kami bisa mendengar langkah kakinya yang menjauh dengan cepat.
"Apa tidak apa-apa memberitahukan hal itu padanya, Tsunade?" Sasuke buka suara setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan.
"Tidak masalah, walau menyebalkan, dia tipe orang yang bisa dipercaya. Sekarang, duduklah, banyak yang harus kudiskusikan dengan kalian."
Aku dan Sasuke langsung menuruti perintah Tsunade, mendudukan diri kami di sofa putih yang paling dekat dengan mejanya.
"Aku benar-benar tidak menyangka, baa-san, aku bisa bertemu denganmu! Apalagi kau juga memiliki ingatan masa lalu seperti kami!" ujarku penuh semangat. Tentu saja aku senang, selama ini aku dan Sasuke menyimpan rahasia ini berdua tanpa bisa melakukan apa-apa. Tsunade yang memiliki nasib yang sama denganku dan Sasuke membuatku merasa tidak lagi sendirian di dunia modern ini. Kami bisa saling berbagi pikiran dan berdiskusi mengenai masalah kami. Kami juga bisa mendiskusikan masalah teman-teman shinobi kami yang lain dengannya.
"Ya, aku juga tidak menyangka. Aku memang sudah tahu soal kalian, orang tua kalian cukup akrab denganku, asal kalian tahu, sebagai pemegang saham besar di beberapa perusahaan. Tapi aku tidak menyangka jika kalian memiliki ingatan masa lalu sepertiku."
"Ehh? Benarkah? Kau kenal dengan orang tua kami? Lalu kenapa kami tidak pernah bertemu denganmu—ttebayo?" tanyaku kesal.
"Bagaimana aku bisa bertemu dengan kalian, kalian saja tidak pernah muncul di acara pesta-pesta besar perusahaan yang mengundang orang tua kalian. Padahal banyak reinkarnasian kenalan kita di sana." Kata Tsunade tenang.
"Jadi, kau bilang tadi kau sudah menikah? Dengan siapa?" tanyaku penasaran tingkat dewa.
"Dengan Dan Katou. Aku bahkan memiliki dua anak sekarang, Shinpei dan Airin."
"Wah, benarkah? Jadi kau menikah dengan pacarmu itu? Hebat!" aku berdecak kagum. Tsunade dulu pernah bercerita sekilas mengenai mantan pacarnya yang meninggal dalam perang Shinobi ketiga, pacarnya yang pernah dia beri kalungnya yang paling berharga, yang akhirnya diberikan padaku.
Tsunade tersenyum, namun matanya memandang jauh ke masa lalu. Mungkin dia sedang mengingat-ingat tentang Konoha. "Ya, kau tahu, di kehidupan yang sekarang ini, banyak hal yang berubah, dan nasib para shinobi di masa lalu berbalik 180 derajat di kehidupan ini. Contohnya seperti kalian, yang di masa lalu sebatang kara, sekarang memiliki keluarga yang bahagia." Jelas Tsunade, yang membuatku dan Sasuke diam, mendengarkannya dengan khidmat. "Ada pula yang sebelumnya tidak berhubungan darah, sekarang terlahir dalam satu keluarga. Contohnya Shion, dia adik dari Ino Yamanaka dan Deidara yang dulu merupakan anggota Akatsuki. Tapi yang menyedihkan, contohnya Nagato Pein—kalian kenal kan dengan ketua Akatsuki itu? Sekarang dia menderita kanker tulang stadium dua. Juga Sakura yang sekarang hidup sebatang kara."
Aku dan Sasuke terbelalak lebar-lebar ketika mendengar kalimat terakhir Tsunade. Sakura sebatang kara katanya?
"Apa maksudmu? Apa keluarganya telah meninggal?" Tanya Sasuke dengan nada penuh kekosongan. Aku bisa mendengar keprihatinan dan kekhawatiran melebur jadi satu dalam suaranya, mewakili pertanyaanku.
"Ya, keluarganya mengalami kecelakaan mobil ketika usianya dua tahun, dan hanya dia yang selamat kala itu. Aku bertemu dengannya ketika dia kelas satu SMA, sejak saat itu aku memberinya beasiswa lewat sekolahnya, untuk meringankan hidupnya. Tapi dia memang masih sama berbakatnya seperti dulu dalam bidang medis, jadi aku tidak heran ketika dia menjadi dokter spesialis tulang terbaik di usianya yang masih muda." Tsunade tersenyum di akhir kalimatnya, sementara aku dan Sasuke terdiam, merenungi nasib Sakura. "Bukankah kehidupan kalian bertiga berbalik? Dulu kalian tidak memiliki orang tua dan dia punya, tapi sekarang dialah yang sebatang kara, sementara kalian punya orang tua. Takdir seseorang bisa berputar sedemikian drastis ya?"
Aku tidak pernah menyangka kalau Sakura hidup sebatang kara. Ayahku bilang Sakura tidak pernah menceritakan soal keluarganya. Aku sedih memikirkan Sakura yang hidup tanpa didampingi keluarganya, seperti kami dulu. Kami tahu betapa menyedihkannya hidup sendirian, dan aku yakin Sakura pasti menjalani kehidupan yang berat selama ini. Memikirkannya membuatku begitu prihatin padanya.
"Sekarang, waktunya dia bahagia, dan tugasmulah untuk melakukannya, Uchiha." Ujar Tsunade tegas, seraya menatap dalam-dalam ke arah Sasuke yang masih bungkam. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.
"Pasti akan kulakukan tanpa kau suruh, meski harus merebutnya dari tangan Itachi." Ujar Sasuke akhirnya dengan nada sombong, membuatku menyeringai, namun Tsunade mengernyit bingung.
"Itachi? Memangnya ada apa dengan kakakmu?" Tanya Tsunade.
"Mereka kan akan bertunangan, baa-san… yah, walau si Teme ini berniat membatalkannya sih." Jawabku mewakili Sasuke. Kasihan kalau Sasuke yang jawab, nanti dia baper lagi.
"Benarkah? Memangnya sejak kapan mereka dekat?" Tanya Tsunade tidak percaya.
"Lho, mereka katanya sudah berpacaran sejak 3 bulan yang lalu kan? Masa kau tidak tahu sih, baa-san?" tanyaku bingung.
"Tidak, mereka tidak pernah dekat. Aku menjaminnya, aku amat sangat dekat dengan
Sakura, hal sepenting itu tidak mungkin luput dariku."
"Jadi, Sakura berbohong?" Tanya Sasuke to the point dengan nada serius.
"Entahlah, kenapa tidak kau pastikan sendiri saja? Itachi kan kakakmu."
Sasuke terdiam, aura suram menguar pekat dari tubuhnya, membuatku bergidik ngeri. Dilihat dari roman-romannya, sepertinya dia sedang marah besar. Aku yakin dia sedang memikirkan cara mencincang Itachi dan membuangnya di rawa-rawa. Entahlah, aku tidak mau memikirkannya lebih jauh. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan deh.
"Engg, ngomong-ngomong baa-san, siapa lagi shinobi yang kau kenal di masa ini?" tanyaku, mengabaikan Sasuke dengan aura nistanya.
"Banyak sekali. Hampir semua orang penting di Konoha yang bereinkarnasi di masa ini kukenal." Jawab Tsunade bangga.
"Huaa! Benarkah? Lalu, apa kau tahu di mana Pertapa Genit—Jiraiya?" tanyaku antusias.
"Dia sedang berada di Afrika, dia menjadi penjelajah alam, kau tahu. Sudah tiga tahun ini aku tidak bertemu dengannya. Dan kau tahu, Orochimaru pun ada di Jepang, dia jadi peneliti genetika. Kudengar dia ingin menciptakan cloning manusia modern. Obsesinya tidak berubah sejak dulu."
Aku tersenyum maklum. Kalau Orochimaru sih tidak aneh. Di masa lalu pun dia sudah pernah mengkloning dirinya sendiri dan menjadikannya anaknya. Si manusia ular itu memang gila.
"Kau sendiri, tidak ingin bertanya tentang Hinata, Naruto?"
Glek!
Aku menelan ludah kasar ketika mendengar pertanyaan Tsunade. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya?
"Ng, itu… aku sudah bertemu dengannya kok… ehehehe." Kataku sembari tersenyum paksa.
"Kau sepertinya kecewa saat tahu dia berumur jauh lebih muda darimu, eh?"
Aku melotot kesal saat Tsunade bertanya dengan nada mengejek. Huh, mentang-mentang sekarang dia sudah menikah dengan pria impiannya, dia jadi berani mengejek nasib sialku, eh?
"Kau harus bersabar, Naruto. Jangan jadi phedophile di usia muda, ne? Hahahahahah!" Tsunade tertawa puas setelah melontarkan lelucon-tidak-lucunya-yang-menyebalkan itu. Dasar nenek-nenek menyebalkan!
"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan membantu kalian soal itu. Sekarang berhentilah meratapi nasib kalian yang malang soal percintaan itu, dan pulanglah." Ujar Tsunade sambil menyenderkan tubuhnya, membuatku langsung berbinar-binar, bahkan Sasuke yang galau pun langsung kembali normal.
"Ya, kalian tidak perlu cemas. Sudah seharusnya begitu, bukan? Ambil kartu namaku di meja itu, hubungi aku jika kalian menemui masalah di kemudian hari. Oh ya, kalian bisa tidak perlu takut menceritakan rahasia kalian pada Shion. Dia adalah muridku yang bisa dipercaya. Rahasia kalian akan aman padanya." Kata Tsunade lagi, membuatku manggut-manggut.
"Baiklah kala begitu, kami pulang dulu, ba-san. Kami akan mampir lagi kapan-kapan!" pamitku pada Tsunade yang dijawab anggukan dari wanita itu. Kami pun keluar dari ruangannya untuk pulang.
"Fyuuuh, aku merasa lega sekali Sasuke, setelah bertemu dengan Tsunade, apalagi dengan nasibnya yang ternyata serupa dengan kita. Tidakkah kau senang, Sasuke?" tanyaku dalam perjalan di lift pada Sasuke yang masih terdiam.
"Hn, kau benar, Dobe. Entah kenapa takdir senang sekali mempermainkan kehidupan kita."
"Haha, aku setuju dengan itu!" aku terkekeh geli, lalu berjalan keluar dari lift yang telah tiba di lantai dasar RS Tokyo. "Kuharap kehidupan kita lebih mudah selanjutnya Sasuke, termasuk soal tujuan kita itu!" kataku penuh semangat.
"Hn."
Aku tersenyum ketika kami telah keluar dari rumah sakit Tokyo. Aku memiliki firasat kehidupan kami selanjutnya akan terasa lebih baik setelah ini. Aku tidak akan pernah ragu menggantungkan harapanku, karena jika aku berusaha keras, aku pasti bisa mencapai tujuanku, baik soal teman-teman shinobi kami, maupun soal Hinata. Aku jadi menebak-nebak, apa lagi yang akan kami hadapi di masa yang akan datang setelah ini? Apapun itu, semoga kami dimudahkan dalam menghadapinya, meski hal itu adalah hal terpahit sekalipun.
Ya, semoga saja.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
A/N:
Hai-hai minna-san yang kece-kece! Ketemu lagi sama author yang makin kece ini! (#plak #dihajar massa #kabur!) haha, gak kerasa ya sekarang udah tahun 2016 aja, dan Naruto: New Born pun udah masuk Chapter 10.. Yeahhhh! \(^o^)/
Chapter ini merupakan chapter penting yang akan membawa alur konflik menuju klimaks nantinya. Di sini muncul deh Tsunade! :D bagaimana soal chapter ini? Aneh? Gaje? Silahkan tulis pendapat kalian di kolom review ya! :D segala saran, kritik dan flame akan diterima asal membuat author menjadi lebih baik lagi ke depannya! ^^ heheh
Kenapa author bilang begitu? Soalnya author merasa gaya menulis author semakin memburuk nih.. author ga tau kenapa.. pasti minna-san juga merasa deh sejak beberapa chapter sebelumnya.. :D efek mau UN kai ya? Wkwkwk #alesan karena itu semoga minna-san mau memberikan saran kepada author.. :3 author mengucapkan terima kasih juga yang sebesar-bsarnya atas dukungan para readers sekalian! I love youuu so much! :* #awas ada yang baper.. wkwkwk #plak
So, author bales review dulu yaaa.. :D
Haruno Aiko : haha, gimana ya endingnya? *smirk liat gimana nanti deh.. :p dan soal itachi dan ino… ditunggu aja deh yaa. :D makasih ya untuk review dan sarannya! :D
Byakugan no Hime : hahah, thanks ya untuk semangatnya! *hug huaaa, keren.. guru-guruku juga banyak yang nikahnya beda jauh umurnya kok.. cinta ga pandang umur kan? :D
herovillagermc : haha, iya.. chap 9 emang lama bangt updatenya.. :') thanks ya udah nungguin.. :D iya, di chapt 10 akhirnya ada yang muncul tuh! :D semoga suka chapt nya ya! :D
NaYu Namikaze Uzumaki : hehe makasih reviewnya kakak! :D haha iya nih, chapt 9 itu emang lama banget publishnya, kesibukan di RL emang ga bisa dikesampingkan.. T_T wah, aku pikir scene NH di chap kemarin lumayan banyak tuh.. aahahaha thanks sarannya.. :3 iya nih, mau UN, tugas numpuk banyak banget, bikin stress gara-gara ga ada waktu buat main dan santai2… haha #plak #ketauan author pemales.. :P pengennya sih ngelanjutin ke UI atau Unpad, tapi ga tau juga sih gimana nanti, usaha dulu aja.. ahahahah hm.. ternyata kakak juga suka SN ya.. wkwkwk kasian dong nanti hinata sama siapa? Wkwkw okay, thanks ya kak buat semangatnya! :D
Minato301 : haha seneng deh kalo terhibur. Kasihan naruto nya jadi horror pas tau neji jadi prempuan.. XD hahaha
Antoni Yamada : ini udah diupdate yaa.. semoga sukaa! :D makasih juga udah nungguin.. eheheheh ^^
.5 : ini udah diupdatenya! :D
alshammasi : ahahah Alhamdulillah kalo suka sama fict gaje ini! XD makasih yaa! Thanks untuk reviewnya! :D
nah, segitu dulu ya dari author. Author mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian yang udah baca, follow, favorite, dan review fict ini. Author mau mengucapkan juga Selamat Tahun Baru 2016 ya! Smoga tahun ini menjadi lebih baik dan lebih berkah dari tahun sebelumnya. Aaamiiinn!
Selamat ketemu di chap depan ya! :D
