Hai, mmm… udah setahun dan baru update-_-maaf yaaaa. Ini dia aku update chap terakhir. Maaf kalau hancur. Terimakasihh untuk yang selama ini menunggu fict ini, favers, followers, reviewers, siders… BIG THANKS untuk kalian semua;*;*;*
Hana Kumiko : Iya ini sudah dilanjut, terimakasih;)
Jeremy Liaz Toner : Entah ya… terimakasih udah review;)
Mantika Mochi : Udah dilanjut niih, terimakasih udah review;)
Ehysha Cherryblossom : Engga kok ga ketinggalan, aku mogok soalnya untuk fict ini hehe:' iya chap kemarin flashback, terimakasih udah review;)
uzumaki hachiko : hehe iya ada beberapa yang aku ubah, terimakasih udah review;)
sami haruchi 2 : ini berantakkan ya? Hhh gabisa cepetcepet:' terimakasih udah review;)
Setsuna f seiei : hmm… Terimakasihh;)
.
Ampun kalau ada kesalahan namaa^*nunjukatas*
.
Warning : Typo(s) bertebaran, AU, OOC, DLDR!
Naruto © Masashi Kishimoto
This Fict © Sevi Suryani
.
.
Masih banyak kekurangan dalam fict ini, jadi mohon bantuannya, ya^^v
Happy reading;;)
.
.
.
#Chapter 10 : Action and Finish it!
.
.
.
Sasuke menyeringai. Kontainer itu dijaga dari belakang oleh satu mobil sedan serupa dengan mobil yang ditumpangi Danzou, mereka mengambil jalur kiri dan jalanan ini hanya ada dua jalur. Di dalam mobil itu ada tiga orang berkepala botak, Kizashi dan Sakura, Ini terlalu mudah untuknya. Ia mensejajarkan mobil yang dikendarainya dengan mobil penjaga kontainer, digenggamnya senjata yang sudah disiapkannya.
Sasuke membuka kaca mobilnya, lalu dengan cepat ia menembakkan peluru ke mobil di sampingnya.
DOR!
Ia menembak satu orang botak yang duduk di samping kemudi. Setelahnya, secepatnya ia melongokkan badannya dan melompat ke mobil sampingnya. Sontak saja salah orang botak yang ada di dalam mobil melongokkan badannya ke luar jendela dan menyerang Sasuke yang kini berada di atap mobil. Satu orang botak itu baru saja mau mengarahkan pistolnya tapi sudah ditendang lebih dulu oleh Sasuke. Karena tidak siap menerima serangan itu jadi pria botak jatuh dan bergelinding ke jalanan. Tinggal satu orang botak lagi yang kini masih mengemudi. Kizashi menggelindingkan sendiri badannya keluar mobil. Sasuke menggeram.
"Sakura!"
Sakura menoleh. "Sasuke…" dengan cepat, ia melongokkan badannya keluar jendela dan Sasuke membantunya keluar.
Sasuke berbalik dan terkejut begitu melihat orang yang sedang mengemudi sedang menodongkan pistol ke arahnya. Tapi dengan cepat ia menendang pistol dari tangan si Botak itu dan menjedotkan kepala botak ke atap mobil. Sebelum jauh dari Kontainer, Sasuke menarik Sakura melompat ke atas kontainer dan merangkak menuju kemudi. Ia membuka pintu kemudi, lalu menonjok si Supir dan menariknya keluar hingga si Supir jatuh ke jalan. Setelahnya ia menyuruh Sakura untuk masuk ke tempat duduk samping kemudi yang kosong dan segera melajukan kontainer itu untuk menyamakan dengan mobil Danzou.
Danzou menyadari hal itu, tapi ia kurang cepat. Jadi saat si Tua bangka itu membuka jendela mobil, Sasuke sudah segera menembakkan peluru ke arahnya dan peluru lainnya ke dua orang botak di bangku belakang. Entah beruntung atau apa, Danzou menunduk dan membiarkan peluru itu menyangsang di kepala Naruto yang sedang mengemudi di sebelahnya. Sontak saja mobil itu tak tentu arah. Sasuke menghentikan laju truk kontainer yang sedang dikemudinya, menyaksikan mobil Danzou yang akan menabrak pohon di pinggir jurang.
Ini akan segera selesai.
Namun, brengsek!
Danzou berhasil keluar dengan menggelindingkan tubuhnya keluar mobil sebelum mobil itu menabrak pohon. Asap keluar dari mobil yang baru saja menabrak pohon itu tepat saat Danzou melarikan diri.
DUAR! Mobil itu meledak.
"Sial." Gumam Sakura.
Sasuke membuka dashboard truk, dan menemukan ada sebuah ponsel di sana. Ia terlihat mengetik beberapa angka. Matanya teralih ke Sakura. "Sakura, telpon Kakashi. Ini nomornya. Suruh ia datang ke sini dan bebaskan orang-orang di kontainer itu." Pintah Sasuke pada Sakura. Namun gadis itu menggeleng.
"Tidak. Aku akan bersamamu mengejar Danzou." Kini Sasuke yang menggeleng.
"Kau selamatkan mereka. Itu lebih penting."
Mata Sakura berkaca-kaca. "Tidak, Sasuke… bagaimana kau menghadapinya sendiri? Walaupun dia sudah tua tapi otak piciknya masih berjalan dengan baik. Bagaimana kalau-" ucapannya terpotong kala merasakan tangan Sasuke mengusap pipinya.
"Aku akan mengalahkannya." Setelah itu, Sasuke segera keluar dari truk. Melihat itu, Sakura ikut keluar.
"Sasu-"
"Hanya selamatkan mereka, Sakura!" Ucap Sasuke tegas.
Sakura menunduk. "Aku hanya memastikan pelurumu penuh."
Sasuke menghela nafas lalu berjalan menghampiri Sakura. Ia tersenyum dan mengecup bibir Sakura. "Terimakasih." Kemudian berbalik dan berlari. Danzou pasti belum jauh, Tua bangka seperti dia tidak terlalu cepat larinya.
Sakura mengusap wajahnya lalu masuk ke dalam truk. Ia mengambil ponsel yang ada di atas dashboard dan menekan tombol hijau.
"Halo?"
"Halo, Kakashi-san. Ini Sakura, aku dan Sasuke berhasil menghentikan kontainernya. Datanglah cepat."
"Baiklah, di mana posisimu?"
"Kupikir kepolisian mempunyai alat pelacak." Setelahnya Sakura mematikan sambungan telepon sepihak. Kemudian ia mengambil kunci dari dalam dashboard. "Ini pasti kuncinya." Gumamnya. Ia keluar dari truk lalu berjalan ke kontainer. Ada banyak kunci yang ia pegang. Tak mau membuang waktu, ia mencari dengan cepat.
Klik!
Matanya berkaca-kaca melihat apa yang ada di dalam kontainer itu. Orang-orang dari anak bayi, muda, dewasa, tua semua berdesakkan. Di antaranya banyak yang tidak sadarkan diri. Sakura memejamkan matanya sebentar untuk menahan diri supaya tidak meneteskan air mata.
"Aku datang untuk membebaskan kalian. Ayo, kalian butuh udara."
Seketika orang-orang yang masih sadar di sana keluar dari kontainer yang pengap. Seorang ibu-ibu menghampirinya dan memegang kedua pipinya.
"Ah, terimakasih, Nak. Kami sangat ketakutan." Sakura membalasnya dengan senyuman.
"Sakura?" Ia menolehkan kepalanya saat mendengar suara yang sangat familiar. Matanya terbelalak, segera saja ia berlari dan memeluk orang yang menanggilnya.
"Bibi Kurenai!" Kurenai tersenyum.
"Terimakasih, Sakura. Kau menyelamatkan kami." Katanya.
Sakura melepaskan pelukkan mereka dan mengangguk. "Aku tidak akan diam saja."
"Sakura-nee!" Kimy memeluk kaki Sakura.
Sakura berjongkok dan memeluk Kimy. "Ahh.. Nee-chan rindu Kimy."
Kimy melompat girang. "Kimy juga rindu Nee-chan! Di dalam sana panas Kimy tidak mau ke sana lagi." Sakura hanya tertawa mendengar perkataan Kimy. Lalu ia bangkit sambil menggendong Kimy.
"Sakura, Ayahmu bagaimana?" Sakura tersentak. Ayahnya melompat dari mobil. Itu berarti bisa jadi Ayahnya masih berada di sekitar sini. Seingatnya tadi Ayahnya membawa senjata. Ini gawat. Tapi tidak mungkin Ayahnya menyerang orang-orang ini. Pasti…
"Sasuke!" Kurenai mengerutkan alisnya.
"Siapa, Sakura?" Dengan cepat Sakura menyerahkan Kimy pada Ibunya.
"Bibi, aku harus pergi. Aku sudah menelpon polisi dan sebentar lagi mereka akan tiba di sini untuk memberi bantuan. Maaf, aku harus pergi." Ia mencium pipi Kurenai dan Kimy.
"Apa? Sakura kau mau pergi ke mana?" Tanya Kurenai setengah khawatir.
"Ada hal yang harus aku lakukan, Bibi. Nyawa temanku terancam." Kini Kurenai khawatir sekali.
"Sakura, itu berarti kau juga bisa terancam." Katanya.
Sakura tersenyum. "Nyawaku sudah terancam semenjak aku menyusul kalian." Lalu dengan cepat ia berlari ke kemudi, mencari-cari sesuatu di kolong kursi.
Yap! Ada sebuah pistol di sana. Lalu ia berlari ke arah Sasuke lari tadi.
.
.
.
.
Sasuke melihat Danzou yang tidak jauh di depannya, ia mempercepat larinya. Sepertinya si Tua bangka itu tidak menyadari kehadirannya, jadi ketika dia tepat di belakang Danzou, Sasuke langsung menerjang Pria tua itu.
"Sialan!" Umpat Danzou.
Sasuke menyerang Danzou tanpa ampun, Danzou yang tidak siap dengan serangan itu pun susah membalasnya. Kanan, kiri, depan tak luput dari sasaran tinju Sasuke. Danzou tak mau mengalah, ia menendang punggung Sasuke dengan lututnya. Sasuke lengah, punggungnya terasa sakit. Danzou memanfaatkan hal itu untuk membalik keadaan, kini Sasuke berada di bawahnya.
Mereka masih adu jotos dengan keadaan yang berbalik-balik, hingga tanpa sadar kini mereka sudah bergelinding ke bawah jurang.
Danzou jatuh terlebih dahulu, dan kini ia sudah kabur. Sedangkan Sasuke yang baru sampai dasar jurang mengerang sambil mengumpat. Dahinya terbeset ranting. Tidak, bukan hanya dahinya namun seluruh tubuhnya terbeset. Belum lagi pipinya yang memar, sial. Mungkin hidungnya juga patah. Tapi sekarang bukan waktunya untuk memikirkan luka. Danzou sudah jauh di depannya.
Ia bangkit, lalu mengejar Danzou yang sudah lumayan jauh. Oh, Danzou pincang. Sasuke menyeringai, ia menyiapkan pistolnya. Saat sudah dekat, ia menarik pelatuknya. Dan…
Brengsek!
Danzou mengetahui keberadaannya, pistolnya ditendang dan kini ia berada di bawah kukungan Danzou. Pria tua itu memukulnya tanpa ampun, lutut Danzou menekan perutnya. Brengsek. Sakit sekali.
.
.
.
Sakura terus berlari, ia hanha mengikuti jalan dan arah Sasuke berlari tadi. Saat di jalan, ia mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya. Di jalan ada tetesan darah. Mungkin ini darah antara Danzou dan Sasuke. Bisa jadi mereka berkelahi di sini, jadi Sakura mengedarkan matanya. Ia mendapati sebuah pistol di pinggir jurang.
"Sasuke…" Gadis itu menggumam. Apa mereka berdua jatuh ke dalam jurang?
Tanpa pikir panjang, Sakura menggelindingkan tubuhnya ke dalam jurang. Ia tidak memedulikan akan luka-luka yang akan didapat, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah Sasuke.
Goresan demi goresan didapatnya saat menggelinding. Hingga kini ia sudah berada di dasar jurang. Jurang ini tidak cukup dalam, tapi tetap saja akan sulit keluar jika tanpa bantuan. Ia berdiri. Sial. Kepalanya pusing sekali. Ia melangkahkan kakinya, tidak perduli kalau ia akan tersesat.
Di langkah yang ke enampuluh, ia bisa mendengar suara orang sedang memukul sesuatu. Gadis Haruno itu mencari sumber suara dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Sasuke sedang ditonjok oleh si Tua bangka sialan Danzou. Maka dengan marah, ia mendekati keduanya dengan sangat hati-hati dan tanpa suara. Kemudian mengacungkan pistol.
DOR!
Danzou tersentak. Sial, peluru menyangsang di lengan kanannya. Ia baru akan melihat siapa pelakunya, tapi kepalanya sudah ditendang duluan.
"Tua bangka brengsek!" teriak si Pelaku. Sasuke menyeringai. Sakura menoleh dan membantu Sasuke berdiri. Sasuke memegang perutnya. "Sasuke?"
"Hn. Tidak apa."
"Kubunuh kalian!" Kedua sejoli itu tersentak. Oh. Sakura lupa, ia membuang pistolnya begitu saja setelah menembak. Sasuke baru saja akan menghampiri Danzou. "Hentikan langkahmu, Uchiha."
Sasuke menghentikan langkahnya. Bukan apa, tapi Danzou mengarahkan pistolnya ke Sakura. "Sedikit saja kau melukainya, kubawa kau ke akhirat."
Danzou menyeringai mendengar ancaman Sasuke. "Heh. Romantis sekali." Si Tua bangka mendengus. "Tapi itu sama sekali tidak masalah jika kau membawaku ke akhirat."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Karena kalian yang akan kubawa ke akhirat terlebih dahulu." Sasuke terbelalak. Segera saja ia memeluk tubuh Sakura.
DOR! DOR!
"Brengsek!" Danzou mengumpat.
Apa ini? Sasuke tidak merasakan peluru di tubunya.
"Kau mencoba menyakiti Anakku, maka kukirim kau ke Neraka." Suara ini, mungkinkah…?
"Ayah?" Sasuke mengendurkan pelukkannya untuk melihat wajah Sakura.
Wanita itu berkaca-kaca. Sasuke membalikkan badannya untuk melihat orang yang dipanggil 'Ayah' oleh Sakura. Well, Kizashi berdiri di sana sambil tersenyum. Segera saja Sakura berlari ke pelukkan Ayahnya, Sasuke mendekati Kizashi.
"Terima kasih, Ayah!" Kizashi mengelus-elus punggung Puterinya. Tanpa mereka sadari, Danzou menggerakkan tangannya untuk meraih pistolnya yang jatuh. Kizashi dam Sakura tidak menyadarinya, tapi Sasuke cukup peka untuk ini. Ia yakin Danzou masih bernafas, karena dua peluru yang ditembakkan Kizashi hanya mengenai punggung Danzou.
Jadi ia merebut pistol yang sedang dipegang Kizashi, lalu menembak ke kepala Danzou.
DOR!
DOR!
Sial. Danzou juga sudah menembak satu peluru sebelum Sasuke menembak. Alhasil, bahu kirinya tertembak. Namun seketika Danzou berhenti bernafas. Sasuke menghela nafas.
"Sasuke…" Sakura memeluk Sasuke, dan dibalas oleh Pria itu. Kizashi tersenyum ketika Sasuke menatapnya sambil tersenyum tipis.
Well, ini sudah berakhir.
.
-::-
3rd years later.
-::-
.
Sakura membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Sontak satu-satunya orang yang ada di dalam ruangan menatapnya.
"Kau bisa membuat aku mengeluarkan lima ribu dollar hanya untuk pintu." Sasuke kembali menatap berkas di tangannya. Lalu ia mengambil pulpen dan menandatangani berkas-berkas.
"Itu tidak akan membuatmu bangkrut." Kata Sakura ketus. Kemudian ia berdiri di belakang kursi Sasuke dan memeluk Pria itu dari belakang. "Sasu… bisakah kau tinggalkan dulu kertas-kertas sialan itu dan kita bermain…?"
Sasuke menghela nafas mendengar nada manja dalam pertanyaan Sakura. "Kertas sialan ini yang menghidupimu, Nona Uchiha."
Well, sedikit kujelaskan. Sasuke dan Sakura sudah menikah satu tahun lalu. Dan sesuai janji Sasuke pada Ayahnya, ia bekerja memimpin perusahaan milik keluarganya, Uchiha. Dan alasan mengapa Sakura bersikap seperti ini adalah-
"Ya, ya, ya. Aku tahu itu. Tapi kau sudah mengabaikanku selama dua minggu, kau pikir aku akan senang dengan hal itu?" Tanya Sakura lagi. Yeah, begitulah. Tahun ini Sasuke sedang sibuk-sibuknya di kantor dan sudah dua minggu ini ia terus-terusan lembur. Bahkan untuk pulang ke rumah saja tidak. Tapi setidaknya ia sering menelpon istrinya, jadi tidak sepenuhnya ia mengabaikan istri merah mudanya itu.
"Aku sering menelponmu, aku tidak sepenuhnya mengabaikanmu." Sakura melepaskan pelukkannya.
"Jadi kau sadar kalau kau mengabaikanku?" Sasuke menghela nafasnya lagi. Ia sungguh lelah. Diletakkannya kertas-kertas dan pulpen itu, lalu memutar kursinya menghadap Sakura.
"Apa sebenarnya maumu, Sakura?" tanya Sasuke akhirnya. Sakura menyeringai.
Ia duduk mengangkang di pangkuan Sasuke dan melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Ayahku terus-terusan mendesakku dengan bertanya tentang cucu. Sedangkan bagaimana bisa aku memberinya cucu kalau kita jarang sekali membuatnya. Bahkan kita sama sekali belum melakukannya satu setengah bulan ini."
Sasuke mengerti. Yah, mereka memang jarang melakukan seks. Setelah kejadian tiga tahun lalu, ia terus belajar untuk memahami dunia bisnis. Bukan berarti ia melupakan Sakura, ia menyeimbangi pembelajarannya dengan Sakura. Sampai mereka menikah setahun yang lalu, ia tetap menyeimbanginya. Kini ia sudah ahli dalam urusan pekerjaan. Namun, dua minggu belakangan pekerjaannya sangat menumpuk hingga membuatnya tidak bisa pulang ke rumah yang ia tempati bersama Sakura. Sasuke tahu, Sakura kesepian dan sedikit stress karena Ayahnya yang menanyakan mengenai cucu terus menerus. Sebenarnya Sasuke juga stress dan ditanyai hal yang sama, tapi ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Nanti malam aku pulang." Kata Sasuke setelah berpikir. Sakura menyeringai.
"Aku tidak bisa menunggu lagi, Sasuke. Melihat wajah seriusmu tadi sudah begitu menggodaku." Kemudian dengan cepat Sakura mencium bibir Sasuke. Awalnya Sakura mengira suaminya akan menolak, tapi Sasuke justru malah membalas dan memperdalam ciumannya. Ia memeras rambut Sasuke dan menekan bagian bawahnya ke Sasuke. Wow. Sasuke sudah menegang.
Sasuke melepaskan ciuman mereka. "Kita pindah." Kemudian Sasuke bangkit berdiri dan berjalan ke arah sofa masih dengan Sakura yang mengangkanginya. Saat sudah di sofa, dengan cepat Sasuke menidurkan Sakura dan menindihnya.
Mereka kembali berciuman, Sakura menjambak-jambak pelan rambut Sasuke. Sedangkan Sasuke kini mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjang Sakura lalu ke belahan dadanya yang terlihat dari dress perpotongan rendah in. Ia meninggalkan mark di belahan itu. Sedangkan Sakura terus mengerang.
Sasuke yang ingin segera menyelesaikannya membuka dress Sakura, menarik turun bagian atas dress tersebut. Apa-apaan ini. Sakura tidak memakai bra?
"Tidak ada bra?" Tanya Sasuke.
"Jangan tanya sekarang, Sasu…." Rengek Sakura. Kemudian Sasuke mulai bermain pada payudara istrinya, tangannya tidak tinggal diam. Ia menurunkan tangannya ke vagina istrinya, menurunkan sedikit celana dalam yang dikenakan istrinya dan mulai bermain di sana.
Hingga Sakura mengejang. "Ahhh.. Sasu…"
Setelah Sakura mendesah, pintu ruangan terbuka.
"Tuan Uchiha, rapat dimulai setengah jam la-" ucapan orang yang telah membuka pintu itu terpotong kala melihat sang Atasan bersama istrinya.
"Kenapa tidak ketuk dulu?!" Tanya Sasuke dengan nada sediki tinggi.
Sang sekretaris kelabakan. "Ma-maaf, Tu-tuan. Tadi Saya sudah mengetuknya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Sekali lagi maaf. Kalau begitu Saya permisi."
Blam!
Pintu tertutup. Sasuke merapikan kembali pakaiannya dan pakakan istrinya. Sial. Padahal punyanya sudah menegang di bawah sana.
"Hn. Aku ada rapat." Lalu Sasuke berjalan ke meja kerjanya, mengambil handphone. "Nanti malam aku pulang sebelum makan malam." Kemudian ia mendekat ke Sakura dan mengecup kening istringa itu sekilas.
Blam!
Sakura ditinggal sendirian di ruangan ini dalam kadaan yang menyedihkan.
"SASUKEEEEEEE!"
Santai, Sakura. Nanti malam akan jadi panjang. Tenang saja.
.
-::-
END.
-::-
.
PS : *angkat tangan* bagian akhir bukan aku yang nulis, hehe.
.
Jakarta,
LBA
