~Balasan Reviews~
Karasu Uchiha : *jleb*
Aaaakgh... review mu menusuk... ;Q *killed in one hit*
Gomen... nanti Shera perbaikin deh alurnya yang GaJe itu.. T.T
Arisa-chan : Sasuke gak akan berkhianat kok... (mungkin)
Akatsuki selalu licik.. tapi Sakura cz lebih licik lho... xD *plak*
Cecil-chan : Gampang, gampang... Itachi-nya bakal kluar lagi chap depan... tenang, tenang...
Ika-chan : Iiia nih... gara-gara test di sekolah Fic-nya lama-lama GaJe... T.T
Huuu huuu... gomen ya...
Meski alurnya udah mulai Gaje...
Meski yang ngikutin mulai sedikit...
Meski ceritanya makin ngebosenin...
~Enjoy Reading ya~
Chapter 10 : Hyuuga Clan
Suasana begitu menggigil. Terang saja. Sasuke dan Sakura kini berada di Kutub. Tempat dengan suhu minus. Sakura membentuk gelombang sihir melingkari tubuhnya dan Sasuke. Hal ini untuk menjaga suhu mereka agar tak menurun.
"Sasuke, aura di sini begitu kuat." Bisik Sakura. Kabut tebal telah menutupi hampir seluruh pengelihatannya. Tapi tidak untuk Sasuke. Mata Sharingan-nya benar-benar berguna dengan baik saat ini.
"Kita memasuki wilayah kekuasaan mereka. Bersiaplah Sakura, mungkin serangan mendadak akan muncul."
Sakura mengangguk. Mereka masih berjalan perlahan. Sakura memandang sekeliling mereka dengan waspada. Clan Hyuuga pasti sudah menyadari gerak-gerik mereka, hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyerang saja.
.Dheg.
Sasuke merasakan adanya suatu gerakan. Sasuke segera menunduk, menghindari gumpalan sihir putih yang terlempat hampir mengenai mereka. Sasuke menggeram ke arah sumber serangan itu.
"Pantas saja kau bisa menghindar. Ternyata benar, mata itu…" sosok itu mulai terlihat. Seekor kucing putih muncul sambil menggeram. Dibelakangnya diikuti banyak sekawanan kucing lainnya.
"Bocah." Sasuke mendecih ketika mendapati itu hanyalah kucing kecil.
"Apa?!" merasa tak terima, siluman kucing kutub itu pun menyerang mereka. Menghujaninya dengan serangan bola salju. Sasuke bisa dengan mudah melewati serangan itu. Dan Sakura hanya berpegangan erat di leher Sasuke ketika Sasuke meloncat ke sana ke mari.
"Hentikan!" tiba-tiba sebuah suara datang menginterupsi kegiatan mereka. Sang siluman kucing Kutub itu langsung menundukkan kepalanya menyadari siapa pemilik suara itu.
Sakura dan Sasuke menoleh ke arah sosok itu. Seorang gadis berambut biru gelap dengan pakaian kimono panjangnya datang mengahampiri. Mata lavender gadis itu begitu indah. Semakin lama ditatap mata itu seperti menyerap kesadaran pengagumnya.
"Cantik…" bisik Sakura lirih. Sasuke yang menyadari hal itu langsung menggoyangkan tubuhnya tiba-tiba dan membuat Sakura memekik karena hampir terjatuh.
"Hati-hati dengan matanya." Sahut Sasuke yang kini merubah wujud-nya menjadi manusia.
"Reinkarnasi Dewi Surga, Haruno Sakura. Dan pengkhianat dunia siluman Surga, Uchiha Sasuke." Sang gadis indigo ini tersenyum. "Sepertinya ada urusan yang sangat penting hingga kalian memasuki territorial kami."
"Aah…kami… ingin bertemu dengan pemimpin clan Hyuuga." Sahut Sakura sekenanya. Sebisa mungkin ia pun menghindari kontak langsung dengan mata lavender gadis ini.
"Apa yang kalian inginkan dari pemimpin kami?" sang gadis masih berucap dengan nada lembutnya. Senyumnya tak luput dari wajah cantiknya itu.
"Kami…ingin meminta bantuannya untuk melawan bangsa Neraka." Sahut Sakura serius. Sasuke hanya bisa terdiam sambil berjaga-jaga kalau ada serangan mendadak yang muncul.
Sang gadis pun kemudian menyunggingkan senyumannya.
"Aku pemimpin Hyuuga clan, Hyuuga Hinata, menolak permintaan kalian."
Ucapan gadis itu sungguh diluar dugaan. Ternyata ialah pemimpin clan Hyuuga yang hebat itu. Seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Sakura telah menjadi pemimpin. Bahkan Sakura pun belum resmi, ia hanya masih menjadi 'master' bagi peliharaannya.
"Kami mohon. Kami butuh bantuanmu." Sakura mendekati gadis itu. Ia memandang matanya dengan serius. Tak lagi mengindahkan larangan Sasuke untuk berhati-hati.
Hinata—sang Miko clan Hyuuga—memejamkan matanya perlahan. Ia bisa merasakan keseriusan dalam diri Sakura. Hinata menghela nafas panjang.
"Kami bergerak berdasarkan kekuatan Yin dan Yang. Kalau kalian bisa menemukan kristal Yin-Yang itu… akan kupertimbangkan."
Sakura meneguk ludah.
"Lupakan saja, Sakura. Kita hanya membuang waktu di sini." Sasuke menarik paksa tubuh Sakura. Namun tiba-tiba Sakura menahannya.
"Baiklah. Akan kutemukan." Sahut Sakura yakin.
Setelahnya Sakura menyeret paksa lengan Sasuke. Bahkan Sasuke yang mencoba ngedumel berbagai hal atas keputusan sepihak Sakura itupun tak menghentikan langkah Sakura. Ia sudah mantap. Siapapun takkan bisa menahannya ketika ia sudah mengambil sebuah keputusan. Bahkan Sasuke sekalipun. Hinata hanya terdiam memandang sosok mereka yang mulai menjauh.
"Apa ini benar tidak apa-apa, Hinata-hime?" sahut salah seorang pelayannya. Hinata memejamkan mata kemudian berbalik memasuki kembali ke markasnya.
Sementara itu sudah beberapa jam Sasuke berjalan dengan sosok srigala-nya itu, membawa Sakura yang kini sedang mencari-cari kristal Yin-Yang. Sasuke mendengus kesal setiap kali Sakura menanyakan keberadaan kristal itu.
Kristal Yin-Yang itu terpisah satu sama lain. Tak ada yang mengetahui ada dimana dan pada siapa kristal itu berada. Mencari hal yang mendekati kata 'mustahil' itu sungguh bukan pilihan yang tepat saat ini. Tapi kalian pasti tahu apa yang akan diucapkan Sakura untuk membantahnya kan?
'Walau kemungkinannya 0 sekali pun, itu tak akan dibilang 'mustahil' selama kita belum membuktikannya.'
Ya, itulah yang akan diucapkannya. Jadi daripada buang tenaga untuk berdebat dengannya, lebih baik diam dan ikuti saja kan. Itulah yang dilakukan Sasuke saat ini. Meski kakinya telah pegal karena berjalan berpuluh-puluh kilometer, dan sihir pelindung Sakura makin menipis, tapi semangat dalam diri Sakura belum juga surut untuk menemukan kristal itu.
"Sakura…" Sakura menoleh memandang Sasuke. "Aku sangat lelah. Udara dingin mulai memasuki kekkai yang kau buat."
Sakura menyadarinya. Ia hampir kehabisan tenaga karena melakukan sihir perlindungan terus-menerus agar mereka tak kedinginan akan udara kutub yang jauh dibawah rata-rata itu.
"Hmn… Baiklah kita cari tempat berteduh." Sahut Sakura, akhirnya. Sasuke pun meneruskan jalannya. Tapi sayang sekali mereka tak kunjung juga menemukan gua, gubuk, atau semacamnya untuk beristirahat. Langkah Sasuke semakin melambat. Sakura menyadari hal ini akan sangat berbahaya.
Kabut benar-benar menghalangi pandangannya. Ia tak dapat melihat apapun di sekitar mereka. Akhirnya Sakura memejamkan matanya. Ia akan menggunakan tenaga terakhirnya untuk menghilangkan kabut ini. Perlahan sinar menerangi jalan mereka. Membukakan jalan yang menuntun mereka menuju sebuah gua kecil.
"Sasuke…bertahan lah… kau baik-baik saja?" Sakura segera membaringkan tubuh Sasuke yang masih berwujud srigala itu. Perlahan Sasuke merubah sosoknya menjadi manusia.
"Disini dingin sekali, Sakura…" Sasuke memejamkan matanya. Sakura bisa merasakan kulit Sasuke yang mendingin. Ia sedikit panik, Sakura mencoba mengeluarkan sihirnya kembali untuk menghangatkan Sasuke. Tapi percuma, tenaganya telah habis total.
"Sasuke…apa yang harus kulakukan? Hiks…" air mata perlahan membentuk jalurnya sendiri di pipi Sakura. Sasuke membuka matanya. Ia membelai lembut pipi Sakura, menghapus butiran air mata yang mengalir di sana. Pipi Sakura juga terasa dingin di telapak tangan Sasuke. Ia juga kedinginan, tapi masih mencemaskan orang lain? Ya, ini lah kebaikan hati seorang Haruno Sakura, sang reinkarnasi Dewi Surga, dan juga merupakan kekasihnya.
"Sakura, kau juga kedinginan kan…" sahut Sasuke sambil kemudian bangkit dari pelukan Sakura. Sakura masih menatapnya dengan terisak. "Aku akan membuatmu hangat."
Sasuke perlahan menarik kepala Sakura untuk mendekat. Bibirnya mulai mengeksploitasi bibir Sakura. Ciuman dingin itu perlahan menjadi panas seiring Sasuke yang kini memasukkan lidahnya dalam-dalam hingga ke pangkal lidah sakura.
"Engh~Saa…eemmnhh~" desah Sakura di sela ciumannya. Nafasnya terengah ketika Sasuke melepas ciuman itu. Tubuhnya tiba-tiba terasa menghangat. Sasuke tak tinggal diam sampai disana. Ia memeluk tubuh Sakura. Menghirup aroma khas dari ga—wanita—itu yang tersebar di lehernya. Ia membuat banyak tanda kepemilikan di sana.
"Tu…tunggu Sasu…engh~" Sakura menahan kepala Sasuke untuk menjauh. "Ka…kau tak perlu mencemaskan ku… Ha…hangatkan saja dirimu. Kau juga kedinginan kan."
Sasuke menyeringai mendengar ucapan Sakura. Tangannya kini menelusup ke baju Sakura dan meremas salah satu gundukan yang ditemukannya di sana.
"Kalau tubuhmu hangat, aku pun akan merasakan kehangatan itu."
Setelah mengucapkan hal itu. Sasuke membuka seluruh pakaian Sakura. Ia mulai menciumi pucuk dada itu. Berkali-kali Sakura melenguh menyerukan namanya. Kini tubuhnya sedang dijajah. Tapi perlakuan egois Sasuke ini sama sekali tak ingin dihentikannya. Ia menikmati setiap rangsanagn yang diberikan pujaan hatinya itu.
"EEnghhh~AAaaahhhh~!"
Klimaks-nya yang pertama. Dan akan mengawali pekikan-pekikan nikmat selanjutnya. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Saling kecanduan. Tak ada yang bisa memisahkannya. Apapun yang terjadi, benang merah takdir itu telah mengikat keduanya untuk bersama.
"Sasu…hah hah hah…tubuhmu masih dingin." Sahut Sakura sambil mengatur nafasnya. Sasuke melengkup tangan Sakura yang membelai pipinya itu. Ia menciumnya dalam diam penuh perasaan.
"Itu karna tubuhmu belum cukup panas untuk menghangatkanku."
Sasuke memulai kembali aksinya 'bermain' dengan wanita kesayangannya itu. Membelainya penuh rasa sayang. Mereka melakukannya tanpa adanya bawaan nafsu. Hanya perasaan saling memiliki dan menjaga. Inilah cinta mereka. Perasaan bahagia ketika Tuhan mengizinkannya untuk bersatu.
-ooOoo-
Sakura mengerjapkan matanya. Ia dapat melihat sebuah sinar terang mengganggu ketenangannya. Tak ada siapapun di sekelilinya, bahkan Sasuke. Hanya cahaya putih bersih di sepanjang pengelihatannya. Perlahan sebuah bayangan muncul tepat di hadapannya.
"Haruno Sakura, sang reinkarnasi Dewi Surga…" sosok itu berucap. Cahaya masih menyelimuti sebagian dari tubuh itu, hingga Sakura sedikit kesulitan melihatnya.
"Siapa?"
Tak lama, cahaya itu meredup. Menampilkan seorang wanita cantik dengan pakaian kimono putih panjang dan rambut pirangnya yang dikuncir dua kebelakang. Sosoknya begitu dewasa, auranya pun lembut. Sebuah tanda biru di keningnya semakin mempercantik wajahnya.
"Dulu namaku Tsunade, tapi kini aku adalah Dewi Surga." Sahutnya kembali sambil tersenyum. Senyum lembut nan penuturan yang dewasa. Sakura tak dapat menahan perasaannya yang terkagum atas sosok di hadapannya ini.
"Dewi…Surga?"
Sang Dewi Surga hanya tersenyum melihat ekspresi keterkejutan Sakura. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Sakura berdiri. Sakura menerima uluran itu. Sentuhan sang Dewi begitu lembut dirasanya. Sakura terdiam. Suatu saat ia akan menjadi seperti sang Dewi Surga di hadapannya ini. Tapi apakah ia siap untuk itu?
"Apa sesuatu mengganggumu?" ucap lembut sang Dewi ketika mendapati perubahan ekspresi Sakura.
"Tidak… aku hanya…" Sakura menundukkan kepalanya. Melihat hal itu, sang Dewi menuntun dagu Sakura untuk kembali menatapnya. Ia kembali memasang senyum lembut itu.
"Tuhan telah memilihmu. Pemimpin dari seluruh alam semesta ini mempercayakan takdir besar kepadamu." Sahut sang Dewi. Ia meraih tangan kanan Sakura perlahan.
"Itu artinya, hanya kaulah yang bisa menuntun takdir yang tersesat itu kembali ke asalnya. Dan ini… adalah tanda. Bahwa kau yang terspecial dari yang special."
Sebuah lambang surga itu tiba-tiba muncul di lengan kanan Sakura. Sesaat setelah sang Dewi mengusapnya dan mengeluarkan cahaya lembut. Sakura memandang tanda itu. Ia baru sadar, bahwa tanda itu awalnya berada di lengan kanan sang Dewi, kini tanda itu berada di lengan kanannya.
"Seluruh harapan terpusat padamu. Meski harus menelan racun terpahit di dunia sekalipun, mereka rela asal bisa kembali menyentuh kedamaian yang sesungguhnya."
"Dewi… ada yang ingin kutanyakan." Sahut Sakura yang dibalas anggukan lembut sang Dewi. "Apa aku dan Sasuke… bisa terus bersama?"
Sang Dewi terdiam sejenak. Tak lama setelahnya sebuah senyuman muncul di bibir ranumnya. Ia memejamkan mata.
"Semua tergantung pada keputusanmu setelah ini." Sang Dewi mengeluarkan cahaya yang amat sangat terang. "Kristal Yin-Yang… kuserahkan kepadamu."
"Tu…tunggu!"
.Tring.
Belum sempat Sakura melontarkan banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya, sosok itu telah melebur dalam cahaya. Meninggalkannya yang kini terengah bangun kembali ke dunia nyata.
"Hah…hah… apa yang…" Sakura terbangun dengan nafas memburu. Sasuke yang sedang tertidur di sampingnya pun kini bangkit dan menatap Sakura.
"Ada apa? Kau mimpi buruk?" Sasuke membelai lembut rambut merah muda Sakura. Membawanya bersandar pada bahu bidangnya. "Hem? Sejak kapan ada tanda ini di lenganmu?"
Sakura segera memalingkan mukanya melihat lengan kanannya. Dan benar saja, lambang surga itu ada di sana. Itu bukanlah mimpi. Sakura merasakan ada sesuatu di genggamannya, iapun membuka tangannya yang terkepal itu. Betapa terkejudnya ia saat kristal biru telah berada di tangannya. Dan Sakura tahu itu adalah kristal yang sebelumnya ada di kening sang Dewi.
"Sa…Sakura, itu kan… kristal Yin-Yang?! Ta…tapi kapan kau…" Sasuke nampak tak percaya akan apa yang dilihatnya. Sepengetahuannya Sakura sama sekali tak lepas dari pelukannya setelah mereka melakukan hal 'itu'.
"Ini… Kristal Yin-Yang? Kalau begitu kita berhasil!" Sakura memekik girang dan langsung memeluk tubuh Sasuke. Sasuke yang awalnya hampir terjatuh karena mendapat pelukan mandadak itu akhirnya membalas pelukan Sakura.
"Baguslah..." bersamaan dengan ucapan Sasuke itu, tangannya kini bergerak nakal membelai punggung Sakura—yang sebenarnya mereka kini tak memakai apapun.
"Sa…Sasuke!" Sakura memekik kencang mengakibatkan Sasuke kini menutupi telinganya yang berdengung.
"Aku ingin bermain sebentar~" sahut Sasuke manja sambil memeluk erat tubuh Sakura. Sebenarnya Sakura tak ingin menolak permintaan Sasuke yang jarang sekali bersikap seperti ini. Tapi… ini bukan saatnya untuk itu!
"Bersabarlah Sasuke… ketika semuanya selesai, aku akan memberikan apapun yang kau mau."
Sasuke menyeringai mendengar apa yang dikatakan Sakura.
"Seorang pemimpin takkan menarik ucapannya."
Sakurapun hanya bisa mendengus menyesali perkataannya. Merekapun memakai pakaiannya kembali. Sasuke merubah wujudnya dan Sakura kembali memasang kekkai penghangat, mereka bergegas kembali ke markas Hyuuga clan.
-TBC-
menurut Shera,
Authors itu memiliki suatu peran penting di FFn.
Readers juga memiliki peran penting di FFn.
Reviewers juga memiliki peran penting di FFn.
Silence Readers juga memiliki peran penting di FFn.
Flamers juga memiliki peran penting di FFn.
Dan sebagai Author, Shera sungguh memiliki prinsip untuk 'memberikan yg terbaik untuk Readers' Bagi Shera, seorang Author akan dikatakan gagal ketika ia tak bisa memenuhi keinginan Readers-nya atau membuat Readers-nya kecewa.
Karna itu Shera akan berusaha, Ganbatte..!
Ini adalah sekilas tentang perasaan Shera,
Kalau Fic ini membuat Readers kecewa,
Shera harap ini akan jadi Fic terakhir dari Shera yang mengecewakan kalian semua.
Keep Trying My Best!
~Shera~
