[Aku kalah Kageyama, gomene]

Tubuh Kageyama tersentak, kelopak matanya terbuka. Ia mendongak, memandang kelas yang sudah sepi. Ah, dia pasti tertidur lagi. Akhir-akhir ini jam tidurnya sangat buruk, pemuda itu kadang takut hanya untuk memejamkan mata. Bayangan kematian Hinata masih sering menghantui mimpinya.

Ia mengusap kasar wajah kuyunya dan bangkit, terpaan sinar matahari senja memasuki kaca jendela, tanda sekarang sudah jauh dari jam pulang sekolah.

Derap langkah terdengar dan pintu kelas digeser. Kageyama yang baru saja menyampirkan tasnya menoleh, ia mengernyit melihat Ryouta di daun pintu.

"Syukurlah kau belum pulang senpai."

"Ada apa?"

Ryouta mengatur napas sejenak. "Pelatih Ukai meminta kita semua berkumpul, para senpai juga."

Pemuda raven mengangguk lalu berjalan melewati Ryouta keluar kelas, "ayo pergi." Ucapnya datar. Ryouta mengangguk dan mengekor di belakang senpainya itu.

Pelatih Ukai menghembuskan asap rokok, matanya memandang kearah tiga pemain kelas tiga yang tersisa didepannya.

"Seperti yang kalian tahu, sebentar lagi pertandingan musim semi. Aku tidak memaksa kalian untuk ikut serta, tapi jujur. Tenaga kalian masih dibutuhkan disini."

Yamaguchi mengangkat tangan, ia tersenyum tipis dan melirik sekilas kearah Tsukishima disampingnya, "aku dan Tsukki tidak keberatan ikut bertanding lagi."

"Aku senang mendengarnya, lalu," sang pelatih mengalihkan pandangannya kearah Kageyama, sedangkan yang dipandang justru menundukkan kepala. Pelatih Ukai menghela napas, "aku sudah bilang aku tidak memaksa. Jika kau memang tidak mau bertanding, silahkan saja."

Kageyama mendongak, "aku masih ingin bermain voli. Hanya saja," jeda sejenak, "aku tidak yakin bisa maksimal mengingat ini pertama kalinya kita bermain tanpa Hinata. Ukai–san juga pasti sudah mengerti. Penyerang utama Karasuno tetaplah Hinata. Tiba-tiba merubah formasi membuatku sedikit bingung."

"Kau terlalu mengagungkan Hinata ou–sama, kita masih punya Ryouta sebagai pengganti ace, bukan?" timpal Tsukishima geram, "berhentilah bergantung pada orang yang sudah mati."

Kageyama mengatupkan bibir, sedangkan tangannya terkepal kuat. Tsukishima benar, ia merasa menjadi seorang pengecut. Hanya saja, tetap saja sepi rasanya dilapangan tanpa kehadiran sang partner.

"Sudahlah Tsukishima." Pelatih Ukai membuang napas, "ini memang sulit, tanpa Hinata kita pasti akan terdesak. Setter yang paling mengerti hal itu. Tapi jangan jadikan bencana sebagai alasan untuk menyerah. Kita hanya perlu berjuang sekuat tenaga. Posisi Hinata, aku ingin Ryouta yang menggantikannya."

Ryouta melebarkan mata, "tapi aku seorang wing spiker."

"Tubuhmu tinggi, aku ingin kau di baris depan sebagai starter. Berlatihlah block oleh Tsukishima. Kita punya banyak spiker bagus lainnya, namun kita kekurangan seorang blocker. Aku harap kau mengerti."

Pemuda pirang menghela napas kemudian mengangguk, "baik pelatih."

"Kageyama, jika kau memang tidak ingin bermain sebagai starter, aku akan meminta Akira sebagai setter, sedangkan kau sebagai di bangku cadangan sebagai pinch serve."

"Baiklah." Kageyama menarik napas, "aku akan bermain sebagai setter."

Seketika semua anggota tim voli putera tersenyum. Kageyama memang sedang terpuruk, namun ia tidak membiarkan dirinya terus-terusan rapuh. Ia hanya perlu waktu untuk bangkit kembali.

"Ah benar juga." Takeda sensei bersuara membuat seluruh atensi teralih kearahnya, "aku tadi berbincang dengan Ono–sensei penasihat sekaligus coach tim voli wanita. Untuk menghemat uang klub, acara rutin golden week kita akan bergabung bersama mereka."

"Eehhh!" pekik seluruh anggota seketika.

"Tim voli pria akhir-akhir ini perlu banyak biaya menyiapkan transportasi untuk latih tanding. Jadi menurutku ide Ono sensei tidak terlalu buruk." Takeda sensei menatap semua anggota tim dengan wajah bersalah, "apa kalian keberatan? Tenang saja, kita hanya akan berada di satu gedung penginapan. Lapangan kalian akan dipisah jadi kalian tidak perlu terganggu saat latihan."

Ryouta mengepalkan tangan, "berada di radius 100 meter bersama Hina–chan! Sugoi desu!" pekiknya hiperbolis. "Kami tidak keberatan sensei." teriaknya dibalas anggukan keras anggota lain.

"Berada di radius 100 meter bersama Kageyama senpai." Gumam Rin dengan mata berbinar-binar.

Sedangkan Hinata disampingnya gemetaran, wajahnya memucat begitu mendengar pemberitahuan dari Ono sensei tentang golden week yang akan dilaksanakan bergabung dengan tim pria. Ia menelan ludah kasar.

Bayangan Kageyama dan Tsukishima menghantui kepala.

"Satu seminggu bersama dua orang paling mengerikan," gumamnya setengah bergidik.

Yuzuriha Kaori bertepuk tangan, membuat seluruh atensi teralih kearahnya, "ini kesempatan kita. Seperti yang kita tahu, tim pria Karasuno menjadi salah satu tim paling di takuti di perfektur bahkan di Jepang. Jadi, ini bukan waktunya untuk takut dan minder, kita harus belajar banyak dari mereka." Tutur sang kapten bersemangat.

"Baik!" balas semua anggota tak kalah antusias, kecuali Hinata tentunya.

"Persiapkan barang-barang kalian, golden week hanya tersisa satu minggu lagi. Mengerti?!"

"Baik Kapten!"

Hinata menggembungkan pipi, ia melihat kesal kearah beberapa helai pakaian diatas ranjangnya. Natsume membuka pintu kamar Hinata, bermaksud memanggil karena makan malam sudah siap.

"Ada apa Shoyou?"

Gadis itu menoleh, ia menatap jengkel malaikat pelindungnya itu. "Malaikat–san, tidak bisakah kau membelikanku sehelai saja pakaian normal. Kenapa semua pakaian yang kau belikan hanya gaun dan dress saja? Aku jadi tidak punya pakaian yang bisa kubawa ke camp pelatihan."

"Karena tentu saja menurutku kau cocok dengan semua itu," sahut Natsume membuat wajah sang gadis semakin cemberut, "kalau kau tidak punya pakaian lagi, pergi saja berbelanja."

Natsume meraih dompet di sakunya dan memberikan beberapa lembar uang pada Hinata. Baru saja Hinata membuka mulut bermaksud minta ditemani, Natsume sudah lebih dulu menyela, "maaf aku tidak bisa menemanimu. Aku harus ke surga, ada sesuatu yang harus ku urus."

"Malaikat–san menyebalkan!" pekiknya kesal.

Kageyama berjalan menuruni tangga menuju stasiun kereta, pemuda itu melirik jam tangannya sekilas kemudian beralih kearah jalur rel yang masih kosong.

"Belum datang, ya."

Iris blueberry nya menangkap sosok gadis bersurai senja tengah berdiri sambil menyantap bakpao daging. Kening Kageyama berkerut, merasa familier dengan surai jingga dan tubuh pendek itu.

Pemuda itu berjalan mendekat, tepat saat ia hendak menyentuh bahu sang gadis senja, gadis itu lebih dulu menoleh kearahnya. Manik madu melebar begitu bertemu tatap dengan iris sebiru lautan. Gadis itu terkejut lalu tersedak bakpao daging yang baru ia telan.

"Kageyama, uhuk!"

Kageyama meringis, ia buru-buru meraih botol air mineral yang sempat ia beli di vending machine dan memberikannya pada Hinata. "Makan itu hati-hati boke!"

Hinata mengabaikan omelan sang mantan partner dan langsung menegak air minum botolan tersebut, ia menghela napas lega dan mengusap dadanya yang sempat sesak.

"Kau mengejutkanku bakayarou!"

Kageyama menatap gadis didepannya dari bawah hingga atas. Baru pertama kali ini pemuda itu melihat sosok gadis mungil itu dengan balutan pakaian lain selain seragam sekolah. Jujur, gadis didepannya ini cantik—tidak, bahkan sangat cantik. Wajah cantik dirias tipis dengan surai senjanya yang dibiarkan terurai menambah lagi pesona seorang Natsume Hina.

"—kun?"

"Kageyama?"

"Kageyama–san!"

Tubuh Kageyama tersentak, ia mendongak, memandang Hinata yang tengah menatapnya bingung, "kenapa kau melamun begitu?" tanya sang gadis.

Kageyama membuang wajah dan mengerucutkan bibir. "Tidak ada," balasnya ketus, "kau sendiri sedang apa disini boke?"

"Berbelanja. Aku ingin membeli beberapa celana olahraga dan sepatu." Hinata melirik Kageyama yang nampak rapi dengan kemejanya, "kau sendiri mau kemana?"

Kageyama menerawang. "Aku juga mau berbelanja, aku juga ingin membeli celana olahraga baru untuk golden week."

Mata sewarna madu itu seketika berbinar, "Sungguh, kalau begitu ayo pergi bersama Kageyama!"

"Asal kau tidak menghambatku, tidak masalah."

Hinata menggembungkan pipi, "kau berbicara seolah aku seperti anak kecil yang mudah tersesat."

"Kau memang mirip anak kecil yang mudah tersesat." Timpal Kageyama dengan wajah tripleknya membuat Hinata naik pitam seketika.

"Apa kau bilang?!"

Bersambung..