Disclaimer : Aku memiliki Vocaloid jika aku menginstalnya~ *plak* Vocaloid punya YAMAHA…
Rated : T +. *hah?*
Genre : Romance, family, humor, drama.
Warning : Abal, typo(s), GaJe, drabble, 10 shoots, all normal POV, Rinto & Lenka saudara tiri, dan teman-temannya.
Main pair : RintoxLenka.
Author's Territorial
Kaito : Ok, akhirnya last wordnya berhasil aku update.
Koyuki : Kami mengucapkan terima kasih untuk kalian yang, review, fav, follows, atau pun para silent reader~ :)
Hoshiro Futago : Enjoy the last chapter~ minna-chama~
10 of 10
Tenth Word : Together.
Jarum jam menunjukkan angka 8. Bulan tengah bersinar ditemani oleh bintang-bintang di langit malam. Di sebuah kamar, tepatnya kamar Lenka. Terlihat gadis itu tengah duduk di kasurnya. Wajahnya bersemu merah, mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Dia dan saudara tirinya… ehem berciuman…
Entahlah. Lenka bukannya tidak suka… tapi dia merasa sangat malu. Tapi, di sisi lain dia merasa senang karena orang yang merebut first kissnya adalah Rinto. Yang membuat Lenka tak habis pikir, kenapa Rinto menciumnya? Apakah karena Rinto menyukainya. Jika benar begitu… Lenka merasa sangat senang.
'Knock… knock… knock…'
"Siapa?"
"I-ini a-aku… bo-boleh a-aku ma-masuk?"
Wajah Lenka kembali memerah. Suara itu… Rinto. Apa yang harus diperbuatnya, dia begitu bingung.
"A-ah, Ri-Rinto-kun… Ma-masuk sa-saja…" ujarnya dengan tergagap.
Perlahan, pintu itu terbuka. Rinto masuk ke dalam ruangan itu, kemudian menutup pintu itu. Tanpa sepengetahuan Lenka, dia mengunci pintu kamar itu.
Keheningan terjadi di antara mereka. Baik Rinto maupun Lenka tidak ada yang berani membuka suaranya. Mereka masih merasa malu mengingat kejadian tadi. Rinto sendiri meruntuki kebodohannya dalam hati.
"A-anoo… Rinto-kun… sebenarnya ada apa?"
Entah apa yang merasuki Rinto. Pemuda itu langsung menghempaskan tubuh mungil Lenka. Membuat gadis itu terbaring dalam posisi terlentang di atas kasurnya. Lenka terkejut, namun belum sempat melakukan apapun, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Rinto. Matanya membulat, namun hanya sesaat, sebelum kedua kelopak mata itu menyembunyikan manic azurenya. Ya, entah karena apa, Lenka menikmati ciuman Rinto.
Setelah 10 detik, Rinto menjauhkan wajahnya dari wajah Lenka yang memerah. Ditatapnya sepasang azure nan indah. Seolah menyerotnya ke dalamnya.
"Maaf… tapi… selama ini… aku… mencintaimu…"
Mata Lenka kembali membulat. Apa dia salah dengar? Tentu tidak. Saat ini pemuda itu benar-benar serius. Matanya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sedang bercanda.
"Apa… yang kau rasakan… saat bersamaku?" kembali, pertanyaan yang pernah diucapkannya itu terulang.
Bukannya menjawab, Lenka justru langsung menempelkan bibirnya dengan milik Rinto. Pemuda berambut pirang itu terkejut, namun hanya sesaat. Dia menjilat bibir bawah Lenka, meminta jalan masuk yang dengan mudahnya diberikan oleh Lenka. Lidahnya mulai menyusuri tiap inci mulut Lenka, merasakan rasa manis mulut Lenka.
Setelah 1 menit, mereka saling menjauhkan wajah mereka.
"Kurasa… Rinto-kun sudah tahu jawabanku…" ucap Lenka sambil tersenyum.
Rinto tersenyum, "Arigatou…"
"Um, Rinto-kun, bisa menyingkir dari tubuhku?" pinta Lenka saat menyadari posisinya yang Rinto.
Rinto tersenyum jahil, yang membuat Lenka merasa merinding. Perlahan Rinto mendekatkan bibirnya ke telinga Lenka. Dengan nada rendah yang terkesan seksi, Rinto membisikkan rangkaian kata.
"Hei, kalau posisi kita seperti ini… sayang kalau tidak dilanjutkan…"
Wajah Lenka langsung memerah. Tentu saja dia tahu apa yang dimaksud Rinto. Namun, belum sempat bicara apa-apa, Rinto sudah menjilat leher jenjangnya.
"Ah~ Ri-Rinto-ku… ah…"
"Wow, aku tak tahu kau dapat mendesah seperti itu~"
"Jang~ AH! Mengo… dahku… ahn~ KYA! Jangan di~ AH…"
"Kau tahu… rasamu begitu memabukkan~"
"Ri-Rinto-kun… a-aku ma-Kyahn~"
…
…
…
Sementara itu, dua orang berambut pirang sedang menempelkan telinga mereka pada pintu kamar Lenka. Leon menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Lily hanya terkekeh kecil.
"Sebaiknya kita tinggalkan mereka, Leon~"
"Hmm…" Leon mendekatkan bibirnya pada telinga Lily, "Anak kita sudah melakukannya, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang…"
"Le-Leon! Ah…"
Oke, stop sebelum ganti rated…
~Tenth Word, END~
Author's Territorial
Kaito : Feedback!
Haccha May-chan :
Koyuki : Kyaa! Mereka kissu!
Kaito : Entahlah? Aku sendiri nggak tahu?
Hoshiro Futago : Ini updatenya! Makasih atas reviewnya, May-chama!
Megami Hime :
Kaito : Anoo, jangan panggil aku pake –senpai 'ya? Cukup Kaito, Kaito-kun/-san.
Koyuki : Ini bukan incest, soalnya mereka saudara tiri… *baca kelanjutannya* *dark aura* Kaito-kun~
Kaito : A-ada apa?
Koyuki : Kamu udah berani selingkuh 'ya? *dark smile*
Kaito : (Waduh! Mati aku! Terpaksa!) Enggaklah! Kan' aku udah punya Koyuki, Kouri, dan Kouru! Nggak mungkinlah aku selingkuh!
Koyuki : Kyaaa! Aku malu!
Kaito : -.-
Shiyoko Miki-chan :
Kaito : Menyesal itu memang selalu di belakang. *plak*
Kouri : Namaku, Kouri! Bukan Kaori!
Kouru : Aku, Kouru! Bukan Kaoru!
Kouri : Umur kami 13, beda satu tahun ama papa, mama!
Kouru : Biarin! Berarti Kouri itu cuma punya Kouru! Iya 'kan Kouri~
Kouri : Iya~
Kaito : Ini updatenya~
Kaito : Akhirnya 10 WFOS kelar juga~ *ngelap keringet*
Koyuki : Terakhir, kami segenap OC dari author mengucapkan terima kasih pada…
Hoshiro Futago : Yang sudah mereview, fav, follow, silent reader, dan kalian yang membuka fic ini!
K Family : ARIGATOU GOZAIMASU!
Mind to R&R?
P.S. Ada yang meminta sequelnya 'gak? Kalo nggak 'ya… nggak~
