Brak!
Semua mata tertuju pada sang pembuka pintu "Hinata—" gumam pelan Naruto saat dirinya melihat Hinata sudah sadar, lalu diikuti Sasuke di belakangnya. Hinatanya sudah membuka matanya, tatapan itu, suara yang begitu lembut saat memanggil namanya, Naruto akan mendengarkanya kembali? Terimakasih Kami-sama! Senyum merekah di wajah tan itu.
Ino dan Sakura melepas pelukannya, Neji menatap datar Naruto
"Kau siapa?" ucap Hinata yang membuat semua orang di dalam sana kaget bukan main.
.
.
.
INSECURE
Warning!
OOC, TYPO(S), CERITA PASARAN (jadi maklumkan bila ada kesamaan alur cerita), bila mencari perkataan yang sempurnya silahkan kilik BACK, DLDR!
.
.
.
Pembaca yang bijak pasti berfikir duhulu sebelum berpendapat.
.
.
.
Semua orang yang berada di ruangan berbau kental obat itu kaget dengan ucapan yang keluar dari bibir tipis Hinata
"Ka Neji apa dia temanmu?" tanya Hinata yang benar benar tidak tahu siapa Naruto
"A-ah dia—" ucapan Neji terpotong oleh Naruto
"—Maaf aku salah masuk kamar ternyata hehe, saya permisi dulu. maaf menganggu" Naruto tertawa garing, mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan pergi menutup pintu kamar inap Hinata.
Krek!
Naruto bersender di pintu tersebut matanya menatap lantai dengan pandangan kosong
"Naruto—" Sasuke tidak percaya ini, Hinata melupakan Naruto? apa dia Amnesia?
"Teme—" Naruto memberi jeda "Tolong siapkan tiket ke Roma, sepertinya aku mulai menjelajah lagi" Naruto tersenyum tulus pada Sasuke yang mematung di tempat.
Namun bagi Sasuke adalah Senyum yang amat menyakitkan.
"Tapi—"
"Tolong teme, sebelum aku berubah pikiran" Naruto tersenyum kembali lalu pergi meninggalkan tempat itu lalu diikuti Sasuke di belakang.
.
"Hi-hinata?" Sakura menatap tidak percaya Hinata,
"Kenapa?" jawab Hinata sambil tersenyum tanpa dosa
"Aku akan memanggil dokter" ujur Neji
"Cepatlah kak Neji!" suruh Ino 'ada yang tidak beres!' batin Ino
Ino dan Sakura manatap Hinata yang sedang menatap mereka bingung.
.
"Amnesia?" ucap Ino
"Iya, pasien Hinata mengalami Amnesia Disosiatif akibatnya menghilangnya memori tertentu yang terjadi akibat peristiwa traumatis" jelas Tsunade
"Astaga—" ucap Neji
Setelah mengetahui kondisi Hinata lebih lanjut Sakura dan Ino duduk di taman Rumah Sakit.
"Sakura Kita harus memberitahu Naruto yang sebenarnya" ucap Ino menatap Sakura yang sedang menundukan kepalanya
Sakura terdiam sebelum menjawabnya "Tidak Ino, lebih baik seperti ini saja—"
"Apa maksudmu?" Ino menatap Sakura bingung
"Dengan begini Hinata tidak perlu mengetahui kenyataan yang menyakitkan—kenyataan bahwa Naruto hanya mempermainkannya. Aku tidak ingin Hinata kembali down Ino—lebih baik Naruto segera pergi dari kehidupan Hinata—selamanya" Sakura menatap Ino serius
"Sakura—" Ino yang mendapatkan tatapan itu—Tatapan serius, mau tidak mau juga membenarkan solusi dari Sakura, tapi apakah ini akan baik baik saja? Bagaimana kalau ingatannya kembali nanti apa yang akan terjadi?
Lagipula sebenci itukah Sakura dengan Naruto?. Menurut Ino, Naruto sudah mulai berubah dan menjadi lebih bertanggung jawab contohnya dirinya selalu menemani Hinata di Rumah sakit sepanjang hari padahal Ino tahu jadwal pemuda pirang itu padat dan paling penting adalah Ino melihat ketulusan di mata Naruto yang sekarang ini. "Aku akan membicarakan ini pada Neji" lanjut Sakura, Ino hanya menunduk terdiam tidak bisa melakukan apapun lagi.
.
"Naruto kau yakin keputusan ini?" ujur Sasuke saat mereka berada di ruangan Studio untuk beristirahat
"Ya aku yakin, tugasku sudah selesai Teme, Hinata sudah sadar sekarang dan lagi pula aku sudah berjanji pada Neji" Naruto menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit si artikan namun wajahnya tersenyum kearah Sasuke mengsyaratkan 'aku baik baik saja'
"Aku harus mengambil langkah ini. Walaupun sangat sakit rasanya saat orang yang kau cintai melupakan mu rasanya sangat menyesakan disini—" Naruto mencengram dadanya "—bagaikan di dunia ini kau adalah orang yang amat tidak berguna hanya sampah. Mungkin dia terlalu membenciku hingga muak untuk hanya mengingatku tapi mungkin ini adalah balasan untuku—"Naruto tertawa kecut "Sangat berat bagiku meninggalkan Hinata, aku masih ingin melihat senyumnya, candanya, cerianya dan ingin memeluknya,tapi… aku sadar siapa aku—aku hanyalah pria brengsek yang tidak pantas berada di dekatnya, aku tidak ingin membuat Hidupnya berantakan lagi—" Naruto menutup matanya lalu menghelai nafas pelan "Kalau dia bisa bahagia tanpa aku di sisinya aku rela melakukannya—" Air mata laknat itu kembali turun dari kelopak safir milik Naruto, segera Naruto hapus dengan kasar "Sialan" umpatnya karena air matanya terus mengalir
"Baiklah, aku akan menyiapkannya, kau ingin secepatnya?" Sasuke berdiri membelakangi Naruto, mungkin dia perlu waktu sendiri
"Iya" Naruto menatap langit ruangan saat Sasuke keluar dari ruangannya."Secepatnya—"
.
.
"Naruto—" panggil Neji
Naruto ternyata yang sudah menunggu di loby rumah sakit menyambut kehadiran Neji dengan senyuman yang sulit di artikan—terlalu menyimpan banyak luka "Minumlah dulu Neji" Naruto melempar kopi kaleng kearah Neji lalu duduk di sebelah Naruto yang sedang meminum Kopinya
Hening terjadi di antara keduanya beberapa menit.
"Naruto—" panggil Neji yang memecahkan keheningan
"Aku sudah tahu apa yang kau ingin bicarakan. Tenang saja aku akan menetapinya jadi kau tidak perlu khawatir, secepatnya aku akan pergi dari kehidupannya" Naruto menatap kaleng Kopi yang di gengamnya dengan tatapan kosong
"…" Neji hanya terdiam mendengarkannya, karena Naruto sudah tahu apa yang ingin di bicarakannya dengan memanggilnya kesini. Ini semua demi kebaikan Hinata jadi sebagai keluarganya dia harus mengambil yang terbaik untuk sepupu tersayangnya itu.
"Mungkin aku tidak akan kembali lagi— aku harap Hinata akan bahagaia"
"Pasti." Jawab Neji To the point lalu menatap ke depan memandang para pasien yang sedang berlalu lalang melewati mereka. Naruto menatap Neji sebentar lalu bangkit dari duduknya
"Aku harus pulang—" Narutopun pergi meninggalkan Neji yang masih sama posisinya
"Semoga ini yang terbaik untuk Hinata—" gumam Neji
.
.
.
.
Tiga hari berlalu
"Neji" panggil Naruto saat Neji sampai di Taman Rumah Sakit
"Hm" Neji duduk di sebelah Naruto
Pemuda ini tiba tiba mengabarinya untuk ketemuan di sini, mau tidak mau dirinya harus menghampiri Naruto. Karena semenjak kejadian tiga hari lalu Naruto sama sekali tidak datang ke RS, Pemuda itu menepati janjinya tidak bertemu dengan Hinata lagi.
"Aku akan pergi—"
"…" Neji terdiam menunggu pemuda itu melanjutkan ucapannya,
"Aku akan menepati janjiku waktu itu. Aku tidak akan bertemu dengannya ataupun berada di sekitarnya, lagipula sekarang Hinata sudah sembuh—aku bisa pergi dengan tenang, tapi –" Naruto menatap Neji "Biarkan aku bertemu dengan Hinata untuk terakhir kalinya, kumohon—"
"Baiklah" jawab langsung Neji
Naruto menatap tidak percaya Neji, dia menyetujuinya?Naruto pikir dirinya tidak diperbolehkan. Ingin sekali Naruto jingkrak disini sekarang juga tapi tidak mungkin ia lakukan.
Neji berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan Naruto "Terimakasih Neji" ucap pelan Naruto yang masih terdengar oleh Neji. Neji akan memberinya kesempatan, toh ini yang terakhir kalinya mereka akan bertemu bukan?
.
.
clek!
Hinata menoleh kearah pintu "Kak Ne—ji?" bukan kak Neji yang di dapat namun pemuda yang beberapa hari lalu datang kekamarnya
"Ha-hai" Sapa Naruto gugup
"Halo! paman yang kemarin ya?" entah kenapa hati Hinata merasa kan perasaan yang sangat aneh pada paman di hadapannya
"Ya, ini untukmu" Naruto memberikan buket bunga yang cantik pada Hinata
"Terimakasih paman em—"
"Naruto, Uzumaki Naruto" ada perasaan sesak saat dirinya memperkenalkan diri kembali pada gadis yang dicintainya ini
"Ah Paman Naruto, terimakasih bunganya sangat cantik" Hinata menghirup bunga itu 'Sepertinya nama itu tidak asing buat ku, tapi siapa ya?' batin Hinata bertanya tanya
"Syukurlah kau menyukainya, bagaimana kondisimu?" tanya Naruto
"Baik, aku ingin cepat cepat pulang, aku tidak ingin lama lama di sini paman, tapi kak Neji selalu melarangku" Naruto terkekeh melihat sikap Hinata yang merengek
'Hinata tidak berubah' Naruto tersenyum
"Ahiya—apa paman teman Kak Neji?"tanya Hinata yang penasaran dengan sosok di depannya ini
"Aa-ah begitu lah" Naruto mengaruk rambutnya yang tidak gatal
"Mana ada jawaban yang seperti itu? Paman aneh" Naruto semakin cangung dengan suasana ini.
"Hehe, maaf maaf" Naruto tertawa kikuk lalu Hinata juga tertawa karena sikap Naruto yang menurutnya terlalu kaku dengannya memang dia seorang presiden apa? Mau bicara aja grogi.
Setelahnya mereka mengobrol bersama, bercanda tawa bersama dan Hinata sampai tertawa terpingkal pingkal karena lelucon Naruto
Rasanya Hinata sangat rindu dengan suasana ini, rindu sekali. Seperti sudah kenal lama, begitu menyenangkan.
Hinata POV
Hatiku sangat hangat bersama Paman Naruto, seperti kami sudah kenal dekat. Jantungku juga berdegup lebih kencang dari sebelumnya apa aku jatuh cinta padanya? Yang benar saja kami baru saja bertemu masa langsung jatuh cinta itu konyol.
Tapi hati Hinata sangat merindukan momen ini rasanya benar benar tidak asing seperti déjà vu.
"Sepertinya aku harus pergi Hinata" ucapnya yang mulai berdiri dari bangkunya setelah melihat jam di tangannya "Jaga dirimu baik baik, semoga kau bahagia selalu Hinata" aku kaget saat Paman Naruto mengelus rambutku lembut.
Rasa ini— Rasa yang amat sangat aku rindukan, usapan paman Naruto begitu hangat seperti usapan Kaa-san, aku ingin waktu berhenti di sini sekarang juga.
Naruto mengakhiri usapannya, membuat Hati Hinata tidak rela. Kenapa dengan dirinya ini? ada apa dengan dirinya terutama jantungnya yang sangat sesak.
"Sayonara Hinata" ucap Naruto lalu mulai pergi keluar
Tes!
Tes!
Hinata POV end
Rasanya dia tidak ingin mendengar ucapan itu kelur dari mulut sang pemuda pirang itu "Jangan pergi—" ucap Spontan Hinata. Membuat Naruto yang berjalan membelakanginya berhenti, membelakan matanya tidak percaya dengan pendengarannya 'Maaf Hinata' ucap lirihnya dalam hati lalu kembali berjalan "Kumohon—"lanjut Hinata namun Naruto pura pura tidak mendengarnya.
Clek!
Tes!
Tes!
"Ke-kenapa aku menangis? ke-kenapa air mata ini tidak berhenti mengalir?—" Hinata menangis sesegukan, dirinya bingung dengan tubuhnya yang hilang kendali. Ada perasaan tidak rela saat pemuda itu pergi
"Hinata!" Neji langsung menghampiri Hinata dan memeluknya "Kau kenapa?!"
"Ka-kak Neji—" Hinata menangis Histeris di pelukan Neji "Air mata ini tidak bisa berhenti mengalir—aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan—rasanya sangat menyesakan!Hiks—"Hinata mencengram jantungnya di dalam pelukan Neji, Neji hanya mengelus kepala Hinata berusaha menenangkannya.
"Semua akan baik baik saja sekarang Hinata" ucap Neji dengan raut sedih
.
.
.
.
.
.
Dua tahun kemudian
Semua berjalan dengan normal di kehidupan Hinata sesembuhnya dari koma, Hinata lulus dengan ujian susulan—karena koma dan mulai memilih kuliah tapi tidak tahu akan kemana ah— jangan lupa dirinya tidak sendiri lagi karena sekarang Hinata tinggal bersama kak Neji! Tentu Hianta sangat bahagia.
Tapi…..
Entah kenapa semenjak bertemu dengan Naruto, Hinata selalu memikirkannya sampai sekarang bahkan sampai terbawa mimpi, rasanya menjadi hampa setiap mengingat pria itu, ingin bertemu dengan paman Naruto lagi, tapi saat tanya ke kak Neji pasti dia menjawabnya tidak tahu, Hinata hanya menghelai nafas pasrah. Dirinya rindu sosok paman Naruto di sisinya. Astaga sepertinya dirinya sudah menyukai Paman Naruto! lagipula cinta itu tidak memandang umur kan? Jadi tidak masalah Hinata mencintai Paman Naruto.
Hinata memegang jantungnya yang terasa sesak setiap mengingat paman Naruto. Seperti ada memori yang hilang tapi dirinya tidak bisa mengingat apa itu, dan setiap mengingat apa itu kepalanya seperti ingin pecah, dan dirinya tidak memberitahu siapapun karena takut membuat orang yang di sayanginya khawatir lagi karenanya.
.
Ting tong!
"Kak Neji!" ucap Sakura dan Ino saat dirinya sampai di rumah baru Hinata dan Neji tempati
"Kalian? Mencari Hinata?" jawab Neji malas dengan dua mahluk ini
Mereka hanya mengangguk semangat "Dia ada di kamarnya dan sepertinya tidak bisa di ganggu" jawab Neji jutek
"Kalau begitu kita akan menunggu Hinata! ayo Sakura" mereka menyerobot masuk, Neji hanya menghelai nafas dengan sikap tidak sopan mereka, kalau bukan teman Hinata dirinya sudah mengusir tendang mereka dari sini.
"Wah rumah ini selalu menganggumkan walaupun sudah beberapa kali kita kesini ya Sakura" Ino terkagum kagum melihat interior rumah Neji
"Kau jangan Norak deh Ino!" Sakura duduk di sofa di susul oleh Ino yang menekuk bibirnya
"Ya ya Nona Uchiha~" goda Ino dan Sakura hanya menekuk bibirnya "Sakura—" panggil Ino pada Sakura yang memakan Pokynya
"Hm?"
"Bagaimana kalau Hinata sembuh dari amnesianya ya?"
Sakura langsung menghentikan kegiatan lalu menatap Ino "Kenapa kau tiba tiba bertanya seperti itu?"
"Aku terus kepikiran, bagaimana kondisi Hinata saat mengetahui semuanya. Kau tahukan Sesempurna apapun kau menyembunyikan bangkai pasti akan tercium baunya—"
"Entahlah Ino, aku juga tidak tahu bagimana—" Sakura menunduk teringat kembali cerita suaminya tentang 'semua' cerita Naruto sebenarnya. Entah rahasia pemuda safir itu, pengorbanannya, kefrustasiannya, dan pastinya perasaan tulus mencintai Hinata hingga akhirnya memilih pergi meninggalkan Jepang. Semuanya Sakura sudah mengatahuinya. Sakura menjadi merasa bersalah pada Naruto selama ini karena sempat membencinya.
"Ra—Sakura!" panggil Ino membuyarkan lamunan Sakura
"E-eh apa kau bilang?"
"Dasar kau ini!" Sakura hanya tertawa kikuk "Bagaimana kabar Naruto ya? Apa dia baik baik saja?" lanjut Ino kembali sambil memakan pokynya tidak Nafsu "Andai saja Hinata sembuh dan mengingat semuanya kembali, mengetahi kebenaran Naruto yang mempermainkannya lalu pengorbanan pemuda itu deminya apa reaksinya—"
Prang!
Ino dan Sakura langsung menoleh ke sumber suara, mata mereka terbelalak melihat Hinata sudah berada di belakang mereka. Sejak kapan dia ada disana?!
"Hi-hinata" ucap kaget Ino, Sakura masih Kaget
"Apa maksud kalian? Aku Amnesia? Dan kalian sudah mengenal Naruto sebelumnya? lalu apa maksudnya dengan mempermainkanku dan pengorbanannya?—" Sakura dan Ino hanya terdiam bingung apa yang harus dikatakan "JAWAB AKU INO! SAKURA!"
"Ada apa ini!" ucap Neji saat mendengar ada keributan di bawah
"Kak Neji jawab pertanyaanku! Apakah aku selama ini mengalami Amnesia? Dan apa sebenarnya hubungan Naruto dengan ku?!" Hinata membentak Neji. Hinata sudah marah.
Hancur sudah rahasianya yang di simpan secara sempurna itu.
"Tenang, kau duduk dulu aku akan menceritakannya—"
Hinata menurut dan duduk menjauh dari Sakura dan Ino dirinya sudah benar benar butuh penjelasan sekarang! Niatnya ingin mengagetkan sahabatnya tapi mala mendengar sesuatu yang membuatnya merasa menjadi orang paling bodoh di dunia "Jadi sebenarnya—"
.
.
"Jadi benar— aku Amnesia dan Naruto—" Hinata menangis kembali mendengar semua cerita dari kakaknya.
Dari penyekapan yang membuatnya koma, Naruto yang hanya mempermainkannya, lalu penyesalan pemuda itu, pengorbanannya dan tentang kebenaran perasaan Naruto yang sesungguhnya padanya hingga dirinya lebih memilih untuk meninggalkan Hinata—menjauh dari kehidupan Hinata selamnya agar dirinya bahagia? Hinata tersenyum kecut mendengarnya, bahagia? Tapi faktanya dia merasakan kekosongan di hatinya! Karena kehilangan sosok yang ternyata ia cintai selama ini, yang bahkan dilupakannya!
Mereka kejam! Kenapa tidak memberitahu ku hal yang sebenarnya?!
"Kenapa kalian tidak memberitahuku yang sebenarnya! Kalian tidak tahu betapa sakitnya diriku ini saat berusaha mengingat memori yang ingin ku ingat tapi tidak bisa! KALIAN TIDAK MERASAKANNYA! HAL ITU SANGAT MENYAKITKAN! Terutama di sini" Hinata mencengkram jantungnya "Rasanya sangat menyesakan—"
Sakura merasa bersalah sekarang, dirinya benar benar menyesal telah melakukan hal kejam itu pada Hinata karena ide egoistnya berdampak seperti ini "Maafkan aku Hinata ini semua karena aku—" Sakura menangis menyesali perbuatannya, sedangkan Ino menunduk terdiam, Menyesal.
"Tidak. Ini salah ku—seandainya waktu itu aku tidak mengancam Naruto hal ini mungkin tidak akan terjadi" Neji juga merasa bersalah pada Hinata. Ternyata keputusan menjauhkan Hinata dari Naruto bukanlah hal yang terbaik. Neji tidak tahu akan berdampak seperti ini, keegoistnya membuat Hinata yang ternyata tersiksa bersamanya.
Hinata merasa kepalanya sakit—sangat sakit, Rasanya ingin pecah "Arghh—"
Bruk!
.
.
"Karena telah melukaiku, memukul ku dan menendangku. Kau tahu tubuhku ini sangat berharga dan kau seenaknya melukainya!"
"aku sudah umur 27 tahun"
"aku bukan Om Kuning! Aku punya nama. Uzumaki Naruto!"
"sudahlah! Bahkan kita pernah bermalam bersama~"
"Hi-hinata—"
"aku NORMAL! Kau ingin coba hm?"
"cerewet!"
"HINATA!"
Bayangan Naruto tersenyum dengan ceria memamerkan giginya.
"Tapi aku tidak peduli, selama aku bisa bersamamu aku sangat senang dan rasa lelahku juga hilang ketika melihatmu—Hinata kumohon bangunlah"
"Sayonara Hinata."
Bayangan Naruto yang tersenyum kearahnya mulai memudar semakin lama semakin hilang dari pandangan Hinata, Hinata terus mengejarnya namun Naruto terasa sangat jauh dan semakin jauh "NARUTO!—"
"NARUTO!"
Hinata langsung memaksa kedua matanya terbuka, sekarang dirinya ingat semuanya! Ya semuanya! Ingatannya kembali
"Hinata!" ucapan Sakura dan Ino membuat Neji dan Sasuke bangkit dari duduknya dan menghampiri Hinata
"Sasuke! Naruto ada dimana!" Hinata langsung bengkit kearah pemuda onyx itu, hampir membuat infusnya tercabut dengan sendirinya namun langsung di cegat oleh Neji
"Kau ingat Naruto?" Sasuke mala menanyakan itu daripada menjawab pertanyaan Hinata
"Aku sudah ingat semuanya—jadi kumohon antarkan aku bertemu dengan Naruto-kun!—" Hinata memohon pada Sasuke sambil menangis,
Sasuke bingung harus berbuat apa. Dirinya juga tidak tahu dimana persisi posisi Naruto, walaupun Sasuke yang menyiapkan keberangkatannya kemarin ke Roma tapi Naruto tidak memberitahu dimana detilnya dia 'tinggal'. Terakhir Sasuke tahu dia berada di Paris tapi itu 1 tahun yang lalu. Sasuke tahu betul siapa Naruto, dia adalah seorang suka Nomaden. Dan 2 tahun ini Naruto sangat susah di hubungi sekalinya bisa itupun hanya sekedar menanyakan sisa kontrak terakhir dengan Shimura Crop. Apa yang harus dia lakukan sekarang? disisi lain dirinya juga tidak tega melihat sahabatnya terakhir kali terlihat sangat putus asa!
"Maaf Hinata aku tidak tahu—"
.
.
.
.
.
Kota Vatikan, Roma.
"Terima kasih telah hadir, silahkan menikmati tour kalian di galeri saya" ucap Naruto dalam bahasa Yunani kepada pengunjung yang datang ke galerinya.
Ya Naruto sudah tinggal di Roma selama dua tahun dan mencoba lembaran baru disini. Kota kelahirannya dan Ayahnya.
"Naruto—"
"Ayah! Ibu!" Naruto menghampiri orangtuanya
"Jangan gugup" goda Minato
"Tidaklah, hal ini sudah biasa untukku lagian ini bukan pertama kalinya aku menggelar galeriku yah… ohiya dan aku senang kalian datang ke sini" Naruto tersenyum pada orangtuanya
Dengan stelan kemeja putih yang lengannya di lipat sedikit dipadu rompi Drak Brown membuat Naruto semakin gagah di tambah dengan rambutnya yang di tata klimis ke belakang menambah kesan kharismanya.
"Tentu saja, ibu tidak akan melewatkan acara anakku" Kushina menepuk anaknya keras
"Ibu! Banyak orang tahu" rengek Naruto karena perlakuannya tidak berubah padanya
"Ups maaf, abis ibu sangat gemas pada anak Ibu yang ganteng ini tapi belom memiliki kekasih—"
"—Se-sepertinya aku harus kesana, ada tamu penting datang jadi bye Ibu! Ayah!" Naruto segera pergi dari posisi Ayah dan Ibunya. Naruto sudah tahu kemana pembicaraan ibunya berlanjut. Menikah. Sungguh Naruto bosan mendengarnya cukup di rumah saja Ibunya membicarakan hal itu tapi tidak di luar.
"Naruto!" panggil Kushina yang geram karena seenaknya meninggalkan ibunya yang sedang berbicara padanya.
"Sudahlah kusina, ini acaranya. Lebih baik kita melihat lihat yuk" ajak Minato yang menuntun Istrinya berkeliling kembali
.
"Huft akhirnya aku bebas dari omelan Ibu, makasih Ayah love you full lah" ucap Naruto dengan bahasa jepang agar tidak dipahami dengan para pengunjung. Licik sekali kau Naruto
Jujur saja sampai saat ini Naruto belum menikah karena masih belum bisa melupakan Hinata, gadis polos yang menyebalkan itu terus melekat diingatannya dengan apik tidak ingin lepas. Padahal Naruto sudah mencari wanita lain dan banyak wanita wanita yang menginginkannya namun tetap saja tidak ada yang bisa mengantikan posisi Hinata di hatinya.
Tak apa dirinya tersiksa asalkan Hinata bahagia di sana, Naruto mungkin sudah merelakannya. Toh dirinya sangat tidak pantas untuk gadis itu. Naruto tersenyum kecut.
"Sadar Naruto! Tolong lupakan Hinata Lupakan! kau harus menjauhinya, jangan buat dia tersiksa lagi" Naruto mengelengkan kepalanya
"NARUTO!"
Sekarang dirinya semakin gila, masa dia mendengar Hinata memanggilnya? "Sepertinya aku harus meditasi selesai ini aku terlalu banyak bekerja—"
"NARUTO!" Suara Hinata kembali terdengar
"Astaga, aku bisa gila! Kenapa suaranya semakin jelas dan nyata seperti dia berada di sini—"
Naruto berfikir sejenak, nyata? Berada di sini? Mana mungkin? Bagaimana dia tahu kalau aku berada di sini? Padahal Naruto merahasiakan alamatnya kepada oranglain kecuali orang tertentu.
"NARUTO UZUMAKI!" suara itu lagi semakin nyata
Spontan Naruto membelalakan matanya melihat Hinata menuju kearahnya di kerumunan banyak orang, ini nyata! Hinata ada disini! Dirinya tidak ber halusinasi! Senyum merekah di wajah Naruto namun kembali pudar kembali.
"Tidak! Aku tidak boleh bertemu dengannya!" Naruto melihat ke kanan dan kiri lalu lari menghindari Hinata
.
.
.
.
.
TBC
Amnesia Disosiatif adalah amnesia pisikologis yang terjadi akibat hilangnya memori tertentu yang terjadi akibat peristiwa traumatis, -sumber bah google
Thanks for RnR ^o^
Minna, Dota minta doanya untuk my sister karena kemarin ulang tahun semoga dilancarkan urusan pekerjaannya Aamiin. Semoga kebaikan kalian terbalaskan dengan mendoakannya. Biarpun hal sepele tapi mendoakan orang yang baik pasti akan berambas ke dirinya sendiri baik pula *jadi sok ceramah* *bodo amatan gua mah* vhaha
pokokknya mah Terimakasih buat Lovely Reader muahh *digeplak panci*
sigh
150116.
