"Tunggu, jadi kalian saling kenal?"

Haruno Sakura dan Sabaku no Gaara hanya saling melirik dari sudut mata dan mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan si sulung Sabaku yang terperangah kaget saat mengetahui bahwa sahabat dan adik bungsunya ternyata sudah mengenal satu sama lain sebelumnya. Hal ini mengejutkan bagi dirinya karena selama ini, Sabaku no Temari, tidak pernah luput dari hal apapun mengenai adik-adiknya. Bahkan gadis berkuncir empat itu pun tahu siapa cinta pertama Kankurou, yang rahasia tersebut dijaga mati-matian oleh Kankurou agar kakaknya yang satu itu jangan sampai tahu dan berakhir dengan kegagalan. Failed.

Baru saja Temari bersiap untuk melemparkan berbagai pertanyaan tak berujung kepada Sakura dan Gaara, ponsel di saku celananya berdering kencang. Gadis itu merutuk pelan dan merogoh kantung di sisi kanan celananya untuk meraih benda elektronik mini itu. Rutukannya berubah menjadi senyum lebar dan segeralah ia berlari meninggalkan ruang keluarga dengan ponsel di telinga kanannya tanpa melepaskan sedikit pun senyum yang merekah di bibirnya.

Sakura memutar bola matanya. Tipikal Temari saat menerima telepon dari kekasihnya yang luar biasa pemalas namun super jenius, Nara Shikamaru. Wajar bagi gadis berambut merah muda itu apabila ia melihat tingkah chairmate-nya yang luar biasa girang setiap kali Shikamaru meneleponnya. Kemungkinan pemuda berambut nanas itu menelepon pacarnya adalah satu banding seribu. Dengan sifat pemalasnya yang bahkan mengangkat ujung jarinya pun belum tentu mau otomatis membuat Temari girang bukan main saat menerima panggilan berharga itu. Sakura berani menjamin bahwa Temari tidak akan berhenti tersenyum seperti orang gila hingga beberapa jam ke depan.

Lain halnya dengan Gaara yang baru pertama kali melihat kakaknya seperti itu. Ia memang tahu mengenai kakaknya yang sudah punya pacar, namun ia sama sekali tidak tahu kalau gadis yang kesehariannya jauh dari gadis normal pada umumnya dapat bersikap seperti love-sick school girl abad ini.

.

.

.

Bring Me Down © Aika Umezawa

.

.

Standard Disclaimers Applied

.

.

Warning:

Alternate Universe, Out of Characters (perhaps)

.

.

.

Chapter 10

.

Answer

.

.

.

"Waw, si rambut nanas itu ternyata dapat membuat Temari terlihat seperti gadis remaja pada umumnya yang kelewat girang tiap kali menerima telepon dari pacarnya," komentar Kankurou sembari menggelengkan kepalanya.

Sakura terkekeh mendengar komentar Kankurou barusan, beda dengan Gaara yang menatap Kankurou datar. Ia jadi penasaran dengan orang yang mengubah kakaknya menjadi totally girl, tidak setengah-setengah seperti dulu. Mengingat dulu sang kakak gemar sekali menyiksa anak laki-laki yang mencoba menjahilinya, ia mau tahu seberapa kuat orang yang menjadi pacar kakaknya. Mungkin ia akan memiliki kesempatan untuk mengetes orang itu.

"Sama seperti kau yang langsung diam saat Sakura datang, Gaara," goda Kankurou. "Mukamu benar-benar priceless saat Sakura masuk tadi."

Tangan Gaara meraih bantal terdekat dan menyambitkannya pada Kankurou namun dengan mudah dapat dihindari oleh pemuda berambut cokelat itu dengan seringai menyebalkan di wajahnya. Gaara mengumpat pelan dan meraba-raba sofa untuk mencari bantal lain yang dapat ia gunakan untuk membungkam kakak laki-lakinya itu, tetapi sepertinya tidak diperlukan karena seringai Kankurou lenyap oleh bantal merah yang melayang dan menimpuk wajah Kankurou keras. Sepasang teal pucat miliknya mendapati wajah Sakura yang tersenyum puas dengan lemparannya barusan.

"That's how to throw someone with pillow," ucap Sakura masih dengan senyumnya.

Gaara menyeringai dan melihat Kankurou mengusap wajahnya yang sedikit sakit oleh lemparan telak Sakura tadi. Kankurou men-death glare Sakura yang tersenyum senang dan Gaara yang menyeringai puas.

"Tuan muda Kankurou."

Tiga pasang mata yang berbeda warna itu memandang ke arah pintu, mendapati seorang wanita paruh baya dengan seragam formal membungkuk pada ketiganya dan berkata, "Tuan muda, ada telepon untuk Anda dari Sasame-sama."

Kankurou mengangguk dan melemparkan tatapan awas-kalian-nanti sebelum meninggalkan ruang keluarga menuju lantai bawah. Sakura kembali tertawa sembari mengambil bantal yang dilemparnya dan Gaara tadi lalu merapikannya kembali di atas sofa. Lalu ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa, menyandarkan punggungnya pada sofa beludru di belakangnya.

Sakura tidak menyadari sama sekali bahwa ada sepasang teal pucat yang menatapnya sejak Kankurou pergi tadi. Pemilik manik tersebut menyamankan dirinya di sebelah Sakura dengan kedua tangan terlipat.

"Kau sama sekali tidak berubah," Sakura menoleh pada pemuda yang duduk di sampingnya dengan kedua mata tertutup. "Setelah enam tahun, kau masih sama."

Gadis bermata zamrud itu tersenyum mendengar kata-kata Gaara. "Kau juga. Masih sedingin dan cuek seperti dulu," ucap Sakura. "Bagaimana kabarmu?"

"Seperti yang kaulihat," Gaara membuka sebelah matanya dan dengan seringai kecil menghiasi wajahnya, ia melanjutkan, "aku sudah lebih tinggi darimu."

Sakura memutar kedua bola matanya. "Masih menyebalkan seperti dulu," gerutu sang ceri. Ia memutar tubuhnya dan duduk dengan memeluk kedua lututnya. "Oh, ya. Bagaimana dengan Matsuri?"

"Kau yang berada di Jepang, kenapa malah bertanya padaku?" sahut Gaara cuek. Ia mengambil PSP-nya, menyalakannya, dan memilih Silent Hill untuk dimainkan.

Sakura meninju pelan bahu pemuda itu. "Tidak boleh begitu sama pacar sendiri," omelnya.

"Kami sudah putus dua tahun lalu sebelum aku ke Inggris," ucap pemuda itu. Jari-jarinya dengan lihai menekan-nekan tombol PSP saat pemainnya menghadapi straight-jacket di jalan yang rusak.

Sakura mengerjapkan matanya saat mendengar kalimat Gaara barusan. "He? Bagaimana bisa?"

"Dia bilang tidak bisa menungguku. Baginya dua tahun terlalu lama," jawab Gaara.

Sakura menggumamkan 'oh' sembari menganggukkan kepalanya. "Sayang sekali sahabatku yang tampan ini, dicampakkan seorang gadis yang tidak mau menunggunya pulang merantau," ucap Sakura mulai meracau. Tangan sang gadis menepuk-nepuk pucuk kepala Gaara, membuat pemuda berambut merah itu melirik Sakura dari sudut matanya dan menekan tombol untuk menghentikan sejenak permainannya.

"Apa-apaan kalimatmu itu, Ouka..." gumam Gaara.

"Sudah lama sekali sejak kau memanggilku seperti itu, Panda-kun," ujar Sakura, masih menepuk pucuk kepala pemuda itu. Hobi lamanya dulu muncul kembali.

Gaara memutar bola matanya sejenak sebelum kembali pada layar PSP-nya, melanjutkan permainan yang tertunda. "Hanya kau satu-satunya makhluk hidup yang berani memanggilku seperti itu tanpa merasa takut sedikitpun," komentar Gaara.

Sakura tertawa kecil. "Kuanggap itu pujian," canda sang gadis.

.

.

.

Entah sudah keberapakalinya Sasuke mengganti posisi tidurnya dalam kurun waktu satu jam. Jam dinding hitam di atas meja belajarnya menunjukkan pukul dua pagi, namun ia tak kunjung terlelap. Kalau begini terus bisa-bisa kantung matanya akan menebal karena kurang tidur. Ia merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan terentang di atas queen-size bed bersprei midnight blue polos dengan glaucous pada tepinya. Kedua obsidian menatap langit-langit kamarnya yang gelap tanpa penerangan. Ia mencoba memejamkan matanya untuk tidur, namun nihil. Rasa kantuk tidak kunjung menghampirinya walau lelah begitu terasa. Yang muncul adalah tayangan ulang kejadian di depan perpustakaan dengan seorang gadis berambut merah muda yang membuatnya frustrasi sampai sekarang. Belum pernah ia merasa sekalut ini sebelumnya. Bahkan saat Karin meminta putus, ia tenang-tenang saja. Tidak semarah ini.

Marah?

Ya, Uchiha Sasuke merasa marah karena tidak berhasil membuat Sakura tetap berada di sisinya. Marah karena tidak bisa menghentikan gadis itu menjauh dari hidupnya. Marah karena ia sama sekali tidak menyadari perasaan gadis itu terhadapnya.

Sasuke mengacak-acak rambutnya lalu menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Ia benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Tujuh hari ini cukup menyiksanya karena tidak bisa tidur sedikit pun dengan adanya tayangan ulang yang seolah-olah memaksa otaknya untuk terus bekerja tanpa istirahat. Kalaupun bisa, hanya beberapa jam saja dan itu tidak cukup untuk menghadapi kesehariannya secara normal. Sakura memang hebat dalam membuatnya tidak bisa tidur selama dua minggu berturut-turut. Minggu pertama adalah saat gadis itu pergi ke New York tanpa kabar apapun padanya. Minggu kedua... kalian tahu sendiri yang mana.

Pemuda itu menyingkirkan bantal dari wajahnya dan bangkit dari posisi berbaringnya. Jemarinya menyisir rambut raven yang sedikit menghalangi wajahnya ke belakang. Ia menumpukan dahinya pada lutut yang ditekuknya, berusaha mengalihkan pikirannya dari makhluk Tuhan bergender perempuan yang memiliki rambut merah muda dan iris zamrud.

'Ayolah, pikirkan ujian akhir semester tiga hari lagi...' batin Sasuke sambil memejamkan matanya, mengucapkan kalimat tersebut dalam doa berharap pikirannya akan beralih. Walau dunia tahu kalau Uchiha Sasuke tidak perlu memikirkan ujian karena bagaimanapun ia akan mendapatkan nilai bagus dalam ujian dadakan sekalipun, namun hanya itu satu-satunya hal yang terlintas di pikiran Uchiha bungsu untuk dapat menjauhi bayangan sahabat yang tengah menjauhinya itu.

...

...

...

"ARGH!" seru Sasuke frustrasi. Ia mengacak-acak rambutnya sembari meringis kesal. Usahanya sama sekali tidak berhasil.

Ia menuangkan air dari teko di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya ke dalam gelas dan meminumnya habis dalam sekali tegukan. "Fuh.."

Sasuke kembali membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang nyaman. Ia melipat tangannya di atas kepala, kembali menatap langit-langit kamarnya.

"Kenapa aku jadi seperti ini..." Sasuke kembali menutup matanya, berusaha untuk mendapatkan sedikit istirahat untuk melalui hari ini.

.

.

.

"Kurasa Sasuke sedang ada masalah lagi," ucap Mikoto tiba-tiba. Ia menghela napas dan menopang wajahnya dengan kedua tangan. Ia masih ingat benar wajah Sasuke yang terlihat begitu lelah saat turun ke ruang makan untuk sarapan. Untuk pertama kalinya anak itu meminta Mikoto untuk membuatkannya espresso, bukan teh jahe atau susu. Wajar kalau Mikoto cemas, apa lagi yang dimintanya adalah kopi dengan kandungan kafein yang kuat.

Itachi yang tengah mengoleskan selai kacang pada rotinya mengangkat kedua alisnya, tidak mengerti dengan maksud ibunya dan juga tidak terlihat begitu peduli. Ia masih dalam keadaan sedikit mengantuk dan ibunya sudah membawanya ke dalam pembicaraan bertopik berat. Sungguh bukan hal yang menyenangkan untuk memulai hari.

"Bukankah hidupnya memang penuh masalah?" komentar Itachi acuh sambil menaruh kembali botol selai pada sebuah wadah hijau, tidak menyadari tatapan tajam sang ibunda.

"Kau sama sekali tidak membantu," komentar Mikoto sebal.

Itachi hanya tertawa pelan sambil meneguk tehnya. "Tenang saja, dia pasti bisa menyelesaikan apapun itu masalahnya," katanya. Ia menggigit rotinya lalu mengunyah sebentar, sebelum ingatan semalam menyadarkannya. "Oh, sepertinya ini menyangkut Sakura."

"Benarkah?" tanya Mikoto.

Itachi menggigit kembali rotinya dan mengunyahnya pelan. "Apa lagi yang bisa membuat Sasuke seperti itu selain Sakura?"

Sebuah gebrakan pada meja makan mengagetkan Itachi dan membuatnya tersedak teh. Ia mendapati Uchiha Mikoto yang bangkit dari kursinya dengan kedua tangan di atas meja.

"Siap-siap. Kita akan menemui Sakura hari ini," ucap Mikoto mantap.

"Umm, siapa yang Kaa-san maksud dengan 'kita'?" Itachi sudah merasakan firasat buruk yang melandanya sejak sang ibu menggebrak meja dan menyatakan bahwa 'kita' akan menemui gadisnya Sasuke hari ini di sekolah. Ikut campur yang mungkin tidak diperlukan.

"Tentu saja aku dan kau, anakku," jawab Mikoto tersenyum manis. "Kita akan ke Perguruan Konoha hari ini dan menjemput Sakura. Lagi pula, kau tidak ada jam kuliah hari ini."

Itachi mengumpat dalam hati. Terkutuklah jaringan informasi Uchiha Mikoto yang bisa mengetahui jadwal kuliahnya. Pemuda tampan itu menghela napas, tidak bisa melawan kehendak ibunya kalau beliau sudah memutuskan sesuatu. Ia hanya berharap ibunya tidak melakukan sesuatu yang mengacau dan membuat masalah Sasuke semakin parah.

.

.

.

"Crème brûlée-mu kemarin benar-benar awesome, Sakura!" seru Temari riang. "Buatkan lagi!"

Sakura hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya yang entah sudah berapa kali diucapkan Temari tentang makanan penutup yang dibuatnya saat makan malam bersama keluarga Sabaku kemarin. Ia pun merasa senang karena dessert buatannya kemarin menuai pujian dari seluruh keluarga Sabaku, tidak terkecuali Gaara (walau pemuda itu hanya mengangguk pelan dengan potongan ketiga crème brûlée buatan Sakura di piringnya).

Sakura menyeruput fruit punch-nya sembari memasukkan potongan apel dari salad buah yang dibawanya sebagai pencuci mulut saat Inuzuka Kiba datang menghampiri mejanya, Temari, Ino, Naruto, dan Shikamaru di dekat pohon pinus kantin terbuka.

"Hoi, Kiba! Tumben kau kemari!" seru Naruto. Ia menggeser bangkunya untuk memberikan Kiba tempat. Kiba hanya menunjukkan cengirannya dan ber-high five dengan Naruto lalu duduk di sebelahnya.

"Aku mau yang itu lagi, Sakura-chan!" tunjuk Naruto pada potongan buah berwarna hijau dengan biji-biji kecil.

"Ini..." Sakura menusukkan buah tersebut dengan garpunya, "adalah kiwi, Naruto."

Pemuda berambut kuning jabrik itu hanya menunjukkan cengiran khasnya. "Apalah itu namanya," sahut Naruto santai.

Sakura memutar bola matanya dan menyuapkan potongan kiwi tersebut pada Naruto. Kiba mengangkat tangannya untuk memanggil penjual minuman dan memesan lemon squash. Gadis penjual tersebut mengangguk dan segera membuat pesanan Kiba.

"Oh ya, Sakura. Kau ditunggu di ruang tamu."

Sakura yang tengah menghabiskan sebuah potongan stroberi menaikkan sebelah alis merah mudanya sambil terus mengunyah buah berwarna merah itu. Kiba hanya mengangkat bahunya.

"Aku hanya diminta untuk menyampaikan itu," kata Kiba.

Sakura mengulum garpunya sambil berpikir. Ia tidak ingat Sasori akan datang ke sekolahnya. Tidak mungkin juga itu ayahnya karena beliau masih sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri. Untuk apa ia melintasi setengah belahan bumi untuk menemuinya? Sedangkan ibunya tidak ada urusan yang perlu diselesaikan dengan sekolah. Nyonya Haruno hanya akan datang ke sekolah kalau diperlukan. Lalu siapa?

"Sana pergi, Sakura. Biar aku yang membawa kotak bekalmu," tawar Ino.

"Dan biar aku yang menghabiskan salad buahmu, Sakura-chan," tawar Naruto dengan cengiran di wajahnya.

Kiba menggumamkan sesuatu yang berbunyi kau-ini-memanfaatkan-kesempatan-dalam-kesempitan. Shikamaru tidak peduli dengan semuanya dan kembali memanfaatkan waktu luangnya pada jam istirahat untuk tidur. Ino memutar bola matanya saat melihat Shikamaru yang asik tidur daripada ikut obrolan teman-temannya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa orang pemalas ini mendapatkan hati seorang Sabaku no Temari yang terkenal keras kepala.

Sakura mengangguk dan meninggalkan teman-temannya dengan satu lambaian tangan menuju ruang tamu. Sakura berjalan dengan santainya dan sesekali mengangguk dengan senyum di wajahnya setiap kali ada adik kelas maupun teman-temannya yang berada di kelas lain menyapanya. Gadis itu nyaris tertabrak pintu ruang guru yang mendadak terbuka dan menampakkan sosok Hyuuga Hinata dengan map hijau di tangannya.

"Oh, Sakura. Maaf ya," kata Hinata. "Mau ke mana?"

"Hinata!" seru gadis Haruno. Ia memeluk sahabatnya itu sekilas. Sudah berhari-hari ia tidak bertatap langsung dengan Hinata selain karena kesibukannya di perpustakaan dan kesibukannya dalam menjauhi sejauh mungkin kelas Superior. "Aku mau ke ruang tamu."

"Ruang tamu?" ulang Hinata.

Sakura mengangguk.

"Untuk apa?"

Gadis berambut merah muda itu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Tadi Kiba bilang ada seseorang yang mencariku. Mungkin keluargaku. Sampai nanti, Hinata!"

Hinata mengangguk dan melambaikan tangannya pada Sakura yang sudah berjalan menuju ruang tamu. Gadis itu berbalik dan mulai berjalan menuju kelasnya sebelum kepanikan melandanya tiba-tiba.

"Ah, aku lupa bilang kalau di ruang tamu juga ada Sasuke!"

.

.

.

"Sedang apa Nii-san di sini? Kau bukan murid SMA lagi," ucap Sasuke datar.

"For your information, Otouto, aku juga alumni Perguruan Konoha dan sekarang mahasiswa Universitas Konoha yang masih berada dalam satu naungan. Tidak ada hukum yang mengatakan bahwa aku tidak boleh kemari," jawab Itachi santai.

Sasuke memutar bola matanya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Ada urusan apa kau kemari?"

"Yang pasti bukan denganmu," jawab Itachi, kembali membaca majalah olahraga yang disediakan di ruang tamu tersebut.

"Memangnya siapa yang punya urusan denganmu selain aku?"

"Mau tahu saja. Sudah sana kembali ke kelasmu," Itachi menggerakkan tangannya seolah-olah mengusir ayam agar kembali ke kandangnya.

"Tadi 'kan kau yang menyuruhku kemari," gerutu si bungsu.

"Aku hanya memberitahumu kalau aku berada di sekolahmu, bukan menyuruhmu untuk menemuiku di sini," sahut Itachi.

Sebal dengan sikap kakaknya yang entah kenapa lebih menyebalkan dibanding biasanya, Sasuke membalikkan badannya untuk pergi dari ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pada Itachi. Pemuda itu tidak menyadari bahwa sang kakak tengah menyeringai senang dan kembali pada bacaannya.

Sasuke menggeser pintu dan menyadari bahwa ada orang yang tengah melakukan hal yang sama di balik pintu geser ruang tamu. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak terkejut saat melihat Sakura tepat di hadapannya. Gagal. Ternyata Uchiha Sasuke terpaku melihat Haruno Sakura yang berdiri tepat di hadapannya. Ia bahkan tidak menggeser dirinya untuk memberi jalan pada Sakura. Wajah tanpa ekspresinya pun luruh begitu saja saat melihat Sakura.

Di lain pihak, Sakura belum menyadari siapa orang yang berada di hadapannya karena orang itu sekepala lebih tinggi dibanding dirinya, tetapi ia heran kenapa orang itu tidak beranjak dari jalannya. Sakura terpaksa mengangkat kepalanya dan seketika kedua iris zamrudnya melebar saat mendapati Sasuke berada hanya beberapa senti darinya. Ia bahkan bisa mencium aroma musk khas Sasuke yang menguar dari lehernya. Sakura menahan napasnya, ia tidak mau aroma yang tidak ia temukan di sekitarnya seminggu terakhir ini semakin membuatnya merana. Delapan hari sudah sejak kejadian di perpustakaan itu dan delapan hari juga Sakura menghindari Sasuke. Segala usaha yang ia lakukan agar selalu kuat dan perlahan menghapus Sasuke dari hatinya, semua itu buyar dalam sekali tatapan dengan sepasang obsidian tersebut. Perlahan-lahan air mata mulai menggenang dan Sakura mengalihkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan Sasuke. Cepat-cepat ia mengerjapkan matanya, sangat berharap agar air matanya tidak jatuh di hadapan Sasuke.

'Aku yang meminta hal itu. Tidak seharusnya aku menangis,' batinnya. Kalau ia sekali lagi bertatap mata dengan pemuda itu, ia yakin detik berikutnya ia tidak bisa menghentikan air matanya.

Menyadari bahwa keberadaannya membuat Sakura tidak nyaman, Sasuke beranjak pergi. Namun matanya tidak luput menyadari bahwa kedua mata Sakura sedikit berkaca-kaca dan menghindar agar tidak bertatapan dengannya. Sasuke belum pernah melihat Sakura menangis sebelumnya dan ia tidak yakin ia mau melihat hal tersebut. Melihat dirinya yang memucat saat berhadapan dengannya sudah cukup membuat dirinya serasa tertusuk. Ia tidak ingat bahwa bertemu langsung dengan gadis itu setelah permintaannya untuk menjauh akan begini sakit. Sepertinya mereka memang harus menjauh.

Sasuke melangkah meninggalkan ruang tamu, membuat gadis itu tidak dapat menahan setetes air mata yang jatuh disusul tetesan lainnya dengan kata-katanya sebelum pemuda itu semakin menjauh dari ruang tamu.

"Tolong..." bisik Sasuke, "... jangan menangis."

.

.

.

Itachi melihat adegan antara adiknya dan seorang gadis berambut merah muda dengan mata yang sedikit melebar. Ia melihat betapa kakunya sang adik saat bertemu dengan Sakura yang merasakan hal yang sama saat ia mengangkat kepalanya. Tidak satu pun di antara mereka yang bisa membuka mulut hanya untuk mengeluarkan sepatah kata saja. Aura ketidaknyamanan serasa mencekam ruang tamu—atau mungkin hanya Itachi saja yang merasa seperti itu karena guru piket hari ini kebetulan seorang wanita muda sibuk menatap wajah tampan Itachi dari pada menyadari ketegangan antara Sasuke dan Sakura.

Si sulung Uchiha bisa melihat sang adik yang menatap Sakura intens seakan-akan mereka sudah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Iris onyx Itachi berpaling pada Sakura yang terlihat kaget bercampur gugup, seperti baru saja melihat hantu keluar dari lemari bajunya. Kedua matanya melebar dan Itachi berani bertaruh kalau Sakura menahan napasnya saat ini. Kemudian Itachi menyadari bahwa mata emerald itu lebih berkilau dari biasanya. Ternyata sedikit demi sedikit air mata mulai menggenang di pelupuk mata sang gadis. Sakura yang sadar akan hal itu pun mengalihkan wajahnya dari Sasuke dan mengerjapkan kedua matanya dengan cepat untuk menahan air matanya.

Itachi menaruh majalahnya di atas meja dan bangkit dari duduknya untuk memisahkan keduanya. Namun sepertinya ia tidak perlu melakukan hal tersebut karena Sasuke sudah beranjak pergi dan membisikkan sesuatu yang tidak dapat didengar Itachi lalu menjauh dari ruang tamu. Ia mendekati Sakura yang masih berada di depan pintu dengan wajah berurai air mata. Mengejutkan untuknya karena pada umumnya gadis seperti Sakura akan sesenggukan dengan air mata yang menetes dari kedua matanya. Tetapi tidak untuk gadis di hadapannya yang lebih memilih menangis dalam diam. Ia mengatur napasnya agar tidak sampai sesenggukan dan mengusap kedua sudut matanya dengan sebelah tangan yang ternyata sia-sia karena tergantikan oleh air mata baru.

Itachi menepuk kepala Sakura lembut dan berkata, "Tidak apa-apa, Sakura. Kau tidak perlu menahan diri di depanku." Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya pada Sakura.

Sakura menggumamkan terima kasih dan mulai mengusap air matanya. Ia sudah mulai sedikit tenang setelah Itachi datang dan tersenyum tipis. "Aku yang memintanya. Seharusnya aku sadar cepat atau lambat kami pasti berpapasan seperti tadi. Mungkin akan lebih sering karena kami satu sekolah."

"Aku tidah tahu kalau kalian benar-benar saling menghindar. Maaf ya, jadi membuatmu sedih," ucap Itachi.

"Tidak apa, Itachi-nii. Aku akan baik-baik saja," ujar Sakura meyakinkan. "Oh ya, apa kau yang meminta Kiba untuk memanggilku?"

"Siswa dengan tato segitiga di pipinya?"

Sakura mengangguk.

"Aku tidak tahu kalau tato dilegalkan di Perguruan Konoha," gumam Itachi.

Sakura mulai tertawa. "Aku juga tidak mengerti. Tetapi sepertinya Kepala Sekolah membiarkannya karena dia bilang seluruh keluarganya begitu dan memang benar," sahutnya.

Itachi sedikit lega karena Sakura sudah mulai bersikap seperti biasa. Ia harus mencantumkan peringatan dalam kepalanya agar tidak membahas kejadian hari ini lebih lanjut pada Sakura. "Apa hari ini kau ada les atau kegiatan ekskul?" tanya Itachi.

Gadis berambut merah muda di hadapannya sejenak ragu lalu sejurus kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil bertanya kenapa.

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan dan bertemu seseorang. Aku sudah menghubungi Sasori dan selama aku tidak menelantarkanmu di tengah jalan, dia mengizinkannya," kata Itachi. Ia ingat kata-kata Sasori tadi di telepon agar tidak membuat adiknya semakin murung karena ia sudah cukup gila melihat Sakura yang jadi sedikit bicara. Walaupun pada kenyataannya Sakura itu berisik sekali saat ia bicara, namun ia lebih suka begitu dari pada diam saja dan mengurung diri di kamarnya dengan headphones di telinganya, menghindari orang untuk bertanya padanya. "Kalau kau tidak yakin dan merasa aku akan menculikmu, kau bisa bertanya langsung pada Sasori."

Kali ini Sakura terkekeh geli. "Tidak perlu. Aku juga tidak yakin kau akan menculik siswi SMA sepertiku," canda Sakura.

"Aku sih mau-mau saja menculikmu, tapi aku masih sayang nyawa karena kuyakin Sasori akan langsung membunuhku di tempat kalau sampai terjadi apa-apa denganmu," ucap Itachi jenaka. 'Dan Sasuke juga akan mengulitiku hidup-hidup kalau sampai itu terjadi,' tambahnya dalam hati.

"Oke, aku mau. Aku akan bilang pada Sasori-nii kalau aku pulang telat agar orang rumah tidak khawatir," ucap Sakura tersenyum.

"Baiklah, aku akan kembali lagi kemari untuk menjemputmu lalu kita akan bersenang-senang." Sakura mengangguk.

Bel masuk berbunyi dan Sakura izin pada Itachi untuk kembali ke kelas. Itachi membalasnya dengan gumaman dan kembali menepuk kepala sang gadis sebelum Sakura berlari kecil menuju kelasnya di lantai tiga.

Itachi tersenyum sambil menatap sosok Sakura yang menghilang di balik tangga. Ia menyadari betapa besar andil Sakura dalam perubahan sikap adiknya selama ini. Ia juga mengerti mengapa ibunya penasaran dengan Sakura. Sepertinya ia akan bekerja sama dengan ibunya untuk memperbaiki hubungan Sasuke dengan cerinya ini.

.

.

.

Sakura belum pernah merasa sesenang ini bersama orang lain selama beberapa hari terakhir. Gadis itu tidak tahu kalau Itachi mempunyai selera yang tinggi terhadap pakaian wanita. Ia membelikan Sakura sebuah summer dress hijau toska dengan halter neck dan obi hijau tua bermotif kupu-kupu beserta sepatu ala bangsa Romawi kuno warna cokelat emas. Awalnya ia ragu untuk menerimanya, namun karena Itachi terus menekannya dan berkata 'Anggap saja ini hadiah ulang tahunmu beberapa bulan lalu', akhirnya Sakura menerimanya. Senang dengan reaksi Sakura, Itachi kembali menghadiahinya dengan barang-barang lainnya dari topi pantai, tas, dan sebuah jam tangan yang beberapa minggu ini ia inginkan.

"Itu dari Sasori," kata Itachi sambil menunjuk jam tangan perak dengan batu morganite di sekelilingnya yang dibungkus dalam sebuah kotak kaca. Ia membawakan beberapa tas belanja Sakura di bahunya dan berjalan dengan gadis yang beberapa tahun lebih muda di sampingnya.

Sakura mengangkat kepalanya, menatap Itachi tidak mengerti.

Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Sasori khawatir karena kau jadi sedikit pendiam. Dia tahu kau sudah sering melirik jam tersebut saat menemaninya ke sini untuk membeli beberapa barang dan memintaku untuk menitipkan jam tersebut sebagai hadiah untukmu, berharap agar kau kembali ceria seperti biasa."

Sakura mengerjapkan matanya tidak percaya dan kembali menatap kotak jam di tangannya. Perlahan-lahan senyuman mengembang di bibirnya dan ia tertawa kecil. 'Sasori-nii, terima kasih.'

Gadis berambut merah muda itu mengangkat kepalanya lagi untuk menatap Itachi dan berkata, "Terima kasih, Itachi-nii."

Itachi tersenyum tipis. "Hn, sama-sama. Ayo, ada seseorang yang ingin menemuimu."

Sakura mengangguk dan mengikuti Itachi ke tempat yang dituju. Mereka memasuki sebuah kedai teh bernuansa Jepang klasik. Para pelayannya mengenakan kimono dengan rambut yang digulung dengan kanzanshi. Ucapan selamat datang menyambut Itachi dan Sakura saat keduanya masuk ke dalam kedai teh tersebut.

Seorang pelayan wanita yang perkiraan Sakura berumur 25 tahun menghampiri mereka. Sebuah tanda pengenal bertuliskan 'Mari' tersemat pada dada sebelah kiri kimononya.

"Ada yang bisa saya bantu, Itachi-sama?" tanya pelayan tersebut.

"Aku mencari ibuku," jawab Itachi. "Apakah beliau sudah di sini?"

Pelayan bernama Mari itu mengangguk. "Beliau sudah di sini sejak 30 menit lalu. Mari saya antar."

Seolah-olah membaca pikiran Sakura, Itachi berkata, "Ini tempat favorit ibuku. Pemiliknya adalah teman lamanya. Kadang-kadang ayahku juga sering bertemu dengan kliennya di sini."

Kepala Sakura terangguk-angguk mendengar penjelasan Itachi.

"Eh? Jadi orang yang kaubilang ingin menemuiku itu ibumu? Ibu Sasuke juga?" tanya Sakura kaget. "Kenapa tidak bilang?"

Itachi menyeringai kecil. "Kau pasti akan kabur kalau kubilang begitu."

Rasanya Sakura ingin menggali sebuah lubang dan mengubur diri di dalamnya. Bagaimana mungkin ia menemui ibu dari Itachi dan Sasuke yang bahkan tidak ia kenal—dan mungkin beliau juga tidak mengenalnya?

Mereka mendekati sebuah meja dengan empat kursi yang mengelilinginya. Sebuah rangkaian bunga yang berada dalam pot persegi diletakkan di tengah meja. Seorang wanita dengan sebuah topi lebar hitam dengan beberapa bulu angsa hitam menutupi wajahnya. Gaun musim panas warna merah selutut tanpa lengan membungkus sempurna tubuhnya dengan bros mawar hitam menyempurnakan penampilannya. Kulitnya begitu putih, namun tidak meninggalkan kesan pucat. Sakura tidak menyangka akan menemukan orang yang seperti ini. Ia berani bertaruh bahwa wanita tersebut memiliki wajah yang cantik.

"Mikoto-sama, Itachi-sama sudah datang," kata Mari pada wanita tersebut.

Wanita bertopi itu mengangkat wajahnya dan menyunggingkan sebuah senyuman. Uchiha Mikoto menutup The Lost World di tangannya dan meletakkan buku tersebut di atas meja. "Akhirnya kau datang juga, Itachi."

Mikoto melepas topinya, menampakkan wajah cantiknya pada umur yang sudah mencapai empat puluh satu tahun itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia melakukan operasi plastik untuk mempermuda dirinya. Wajahnya terlihat alami dan segar, dengan mata obsidian seperti anggota keluarga lainnya. Sakura hampir saja tidak bisa mengontrol dirinya untuk mengagumi sosok nyonya Uchiha yang ternyata jauh dari perkiraannya.

Itachi mengangguk. "Hn. Kaa-san, ini Sakura."

Sakura buru-buru membungkuk hormat pada nyonya Uchiha dan mengenalkan dirinya. "Konnichiwa, Uchiha-sama. Aku Haruno Sakura," ucapnya sedikit gugup dan agak panik.

Wanita itu memperhatikan Sakura dari kepala sampai ujung kaki, membuat gadis tersebut semakin gugup. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Mikoto yang matanya kini berkilat senang dan sejurus kemudian ia melingkarkan lengannya pada leher Sakura, memeluk gadis itu girang. "Kyaaa! Kau jauh lebih manis daripada fotonya!" pekik Mikoto senang sembari memeluk gadis berambut merah muda di hadapannya, membuat Sakura terbelalak kaget sekaligus bingung.

"Eeeh?"

"Kaa-san!"

.

.

.

Sakura memainkan jari-jarinya gugup dengan kepala sedikit tertunduk saat Mikoto menatapnya. Ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang dilakukannya saat ia merasa gugup. Mikoto tersenyum melihat sikap Sakura yang terlihat ragu-ragu di hadapannya. Wajar saja kalau Sakura bersikap seperti itu. Ia juga merasakan hal yang sama saat Fugaku mengenalkannya pada orang tuanya 25 tahun silam.

Itachi meninggalkan mereka—terpaksa meninggalkan, sebenarnya. Mikoto mengusirnya dan menyuruhnya untuk menunggu di tempat lain selagi dirinya dan Sakura melakukan apa yang sang ibunda maksud dengan "girls' talk". Entah di mana ia berada sekarang namun ia berkata pada Sakura bahwa ia akan menjemput mereka berdua dan mengantar Sakura pulang.

Sepasang onyx Mikoto menelusuri penampilan gadis di hadapannya; tepat seperti apa yang ia lihat di figura foto di kamar Sasuke. Kulit putih, rambut merah muda sepinggang, dan mata hijau cemerlang. 'Sayang sekali kalau Sasuke menyia-nyiakan gadis semanis ini.' Wanita itu kemudian tertawa kecil saat menyadari kedua tangan Sakura yang saling bertautan, terlihat gugup sekali dengan situasinya sekarang.

"Aa, maafkan sikapku barusan, Sakura. Sepertinya aku membuatmu takut," ujar Mikoto dengan senyuman hangatnya.

Sakura mengangkat wajahnya dan menggeleng kecil. "Tidak, Uchiha-sama. Aku hanya sedikit... kaget. Ya, begitulah."

"Jangan memanggilku seperti itu. Kau membuatku terlihat tua dengan suffix –sama itu," sahut Mikoto pura-pura kesal. Namun sejurus kemudian, senyum khasnya kembali mengembang. "Panggil aku Mikoto."

Melihat Mikoto yang tersenyum padanya, perlahan-lahan senyum Sakura pun mengembang. "Ya, Mikoto-san."

Mikoto senang karena akhirnya ia bisa mengurangi ketegangan yang dirasakan Sakura. Nyonya Uchiha itu memberikan buku menu pada Sakura dan meminta gadis itu agar memesan apapun yang ia inginkan. Mikoto mengangkat tangannya untuk memanggil Mari agar mencatat pesanan Sakura. Wanita berambut cokelat itu mengangguk dan bergegas memberikan pesanannya pada koki.

"Aku sudah lama ingin bertemu denganmu, namun baru sekarang keinginanku bisa terkabulkan," ujar Mikoto setelah Mari meninggalkan mereka. "Kau jauh lebih manis dari pada fotonya, Sakura."

"Umm, foto apa, Mikoto-san?" tanya Sakura bingung.

"Memang Sasuke tidak bilang padamu?"

Tidak perlu ditanya, sebenarnya Mikoto tahu kalau anaknya itu tidak mungkin bilang pada gadis ini kalau ia memajang foto dirinya dan Sakura di atas meja belajar di kamarnya. Mikoto juga sadar kalau sepertinya Sasuke sendiri tidak mengerti kenapa ia memajang foto yang ada Sakura di dalamnya.

"Sasuke... tidak bilang apa-apa," jawab Sakura tersenyum tipis.

Rupanya Mikoto cukup jeli melihat perubahan air muka Sakura yang terlihat sedikit sedih. Ia bisa merasakan bahwa Sakura menghindari segala topik tentang Sasuke. Ia pun makin penasaran dengan apa yang terjadi di antara keduanya dan memutuskan untuk bertanya lebih lanjut.

"Apakah anakku itu membuatmu susah, Sakura?" tanya Mikoto lembut.

Sakura menggeleng. "Tidak, dia tidak melakukan apa-apa."

"Bisakah kau menceritakannya padaku?" Sakura mengangkat wajahnya yang sempat sedikit tertunduk untuk menatap Mikoto. "Aku ingin membantumu. Kalaupun tidak ada yang bisa kulakukan, aku akan terus mendukungmu. Aku tidak mungkin menelantarkan orang yang paling dipercaya anakku. Kau bisa percaya padaku, Sakura."

Mikoto menepuk lembut pucuk kepala Sakura, mengelus helaian merah muda yang menjadi mahkota sang gadis. Ia tahu Sakura pasti berat menceritakan hal yang mungkin tidak ingin ia bahas lagi pada orang yang baru dikenalnya, terlebih lagi pada ibu dari subjek utama pembicaraan ini. Namun ia tidak bisa diam saja melihat Sasuke yang terus kehilangan jam istirahatnya karena memikirkan Sakura dan Sakura yang terus menyimpan kesedihannya setiap kali mengingat Sasuke. "Mungkin kau baru mengenalku hari ini. Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat, Sakura," Mikoto tersenyum hangat. "Aku salah satu sekutu terkuatmu, Sakura."

Sakura sempat ragu apakah ia harus menceritakan semuanya pada Mikoto, ibu dari Sasuke. Ia baru mengenal wanita ini dan Sakura selalu percaya dengan kata-kata bahwa jangan pernah mempercayai orang yang baru saja kaukenal. Namun sepertinya Sakura harus membatalkan sementara prinsipnya itu pada seorang Uchiha Mikoto. Wanita ini tulus ingin membantunya, terlihat pada sorot matanya. Untuk Haruno Sakura yang dilatih oleh ayahnya agar selalu menilai kebohongan seseorang dari sorot matanya, tentu Sakura yakin kalau Mikoto memang benar-benar ingin membantu untuk menyelesaikan masalahnya. Ditambah lagi, Mikoto benar-benar sosok seorang ibu yang sangat peduli pada anaknya, tidak meninggalkan sedikitpun detail tentang apa yang terjadi pada anaknya. Biasanya seorang ibu yang mempunyai anak lelaki yang hampir beranjak dewasa akan membiarkannya begitu saja dan berpikir kalau mereka bisa menyelesaikannya sendiri, tetapi tidak dengan Mikoto. Ia tahu batasan yang dimiliki oleh anaknya dalam menyelesaikan masalah, bahkan berusaha untuk membantu mencarikan jalan keluarnya. Ia tidak akan ikut campur kalau tidak diperlukan, dan akan ikut campur kalau diperlukan bahkan sebelum anaknya memintanya (dan hal itu tidak akan terjadi).

"Anda mirip sekali dengan Sasuke," gumam Sakura pelan. Kemudian ia menggeleng lemah. "Tidak, Sasuke mirip sekali dengan Anda."

Sakura mengangkat kepalanya. Ia mulai berbicara lebih keras dari sebelumnya. "Pertama kali mengenalnya, aku sama sekali tidak memperkirakan kalau aku juga akan terpikat oleh kebaikan hatinya. Bertemu dengan orang setampan dia... gadis mana yang tidak akan luluh?"

Sakura teringat pertama kalinya ia bertemu Sasuke saat perjalanan mereka menuju Kyoto. Sasuke yang datang dengan hoodie biru dalam rintik hujan yang mengguyur kota Tokyo sejak pagi tidak menarik perhatiannya karena tudung hoodie miliknya menutupi sebagian wajahnya. Setelah ia menurunkan tudungnya itu, Sakura sampai tidak ingat bagaimana cara bernapas. Tidak seperti apa yang Sakura dengar tentang Sasuke, sikap pemuda itu pada dirinya begitu santai, tidak sedingin apa yang ia kira sebelumnya.

"Dia baik... perhatian... terlalu baik dan perhatian sampai dia tidak sadar bahwa sikapnya itu malah membuatku tertarik padanya. Begitu aku tahu bahwa dia menyukai orang lain, aku bisa apa selain mundur dan menjauh darinya agar memberikan mereka kesempatan?

"Karena itu, aku memilih untuk menjauhinya setelah mengatakan apa yang kurasa selama ini. Setelah menjauhinya pun, aku masih tidak bisa melupakannya. Dia..." Sakura mengusap sudut matanya yang bersiap mengeluarkan air mata, dengan cepat tergantikan oleh air mata lainnya. "... dia begitu susah untuk dilupakan..."

"Sejak itu aku bertanya..." Sakura menyunggingkan senyuman pahit yang membuat hati Mikoto miris. Wanita itu mengusap air mata yang terus mengalir dari sepasang emerald yang kini redup. Ia sama sekali tidak tahu bahwa ada seorang gadis yang menyukai anaknya begitu tulus. "... apakah sebuah kesalahan karena telah mengenal Sasuke dan begitu menyukainya seperti ini?"

.

.

.

Baru kali ini Namikaze Naruto mengalami kesulitan dalam menghadapi serangan beruntun dari Uchiha Sasuke dalam latihan karatenya sepulang sekolah. Berkali-kali ia nyaris terkena tendangan yang bisa meremukkan rusuknya dari pemuda yang menjadi lawan latih tandingnya hari ini. Pemuda berambut kuning jabrik itu menyadari ekspresi Sasuke yang jauh lebih dingin dari biasanya. Dalam situasi apapun, Sasuke tidak pernah menampakkan ekspresi yang menampakkan suasana hatinya. Namun kali ini berbeda. Sasuke melampiaskan semua yang ia rasakan melalui latih tandingnya dengan Naruto hari ini, yang membuat bocah Namikaze itu sedikit-banyak khawatir.

Sebuah sapuan kaki dari Sasuke membuat Naruto kehilangan keseimbangan dan terjatuh keras, beradu dengan lantai kayu gedung olahraga. Namun sebelum Sasuke sempat menjatuhkan serangan lainnya, dengan cepat Naruto bangkit dan memberikan tendangan yang mengenai perut Sasuke, membuatnya terpental ke belakang dan jatuh beberapa meter dari tempat Naruto berdiri. Naruto buru-buru berlari mendekati sahabatnya dan membantunya duduk.

"Kau ini kenapa, sih? Kau menyerangku seolah-olah berniat membunuhku, kautahu?" cecar Naruto saat memberikan sebotol air mineral dingin pada Sasuke yang tengah mengelap wajahnya yang penuh dengan keringat dengan handuk putih.

Sasuke menerima botol tersebut dan langsung menghabiskan isinya hingga tinggal setengah botol. Napasnya yang mulai kembali teratur setelah meneguk air yang membuatnya sedikit merasa segar. Ia tidak menghiraukan pertanyaan Naruto dan hanya menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya dengan handuk putih melingkari lehernya dan botol minum di tangannya. Tendangan Naruto barusan membuat perutnya nyeri. Sedikit-banyak ia bersyukur karena Naruto tidak menendangnya di dada. Kalau seperti itu, bisa dipastikan ia sudah mengalami kesulitan bernapas.

Naruto duduk bersila di sampingnya, ikut menyandarkan tubuhnya pada tembok. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari sang Uchiha, membuat Naruto kesal dibuatnya. Ia lebih memilih Sasuke menyebutnya dobe daripada berdiam diri seperti ini seperti orang bisu. Setidaknya Sasuke masih berbicara walau Naruto tidak terima dibilang dobe oleh pemuda itu.

Tidak tahan dengan keheningan yang serasa mencekam tersebut, Naruto mengerang keras sambil mengacak-acak rambutnya. "ARGH! Kau ini kenapa, sih? Sikap diammu jauh lebih menyeramkan daripada death glare-mu itu, Teme!" seru Naruto.

"Berisik, Dobe," komentar Sasuke, akhirnya.

"Kau kenapa, hah? Bahkan kau sama menyeramkannya seperti Sakura-chan saat aku tidak sengaja mengenainya dengan bola minggu lalu!"

Mendengar nama Sakura disebut, Sasuke langsung membatu. Otot rahangnya terasa kaku dan perpisahannya dengan Sakura di perpustakaan dan kejadian tadi siang di ruang tamu berputar kembali dalam ingatannya. Ia masih ingat jelas wajah hampir menangis Sakura yang berusaha ditutupi oleh gadis itu saat bertemu dengannya. Sasuke berusaha menutupi perubahan sikapnya barusan agar tidak disadari oleh sahabatnya itu, namun sia-sia. Naruto sudah menyadarinya terlebih dahulu.

Sang Namikaze menghela napas dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Jadi yang membuatmu bersikap seperti ini Sakura-chan, ya?"

Sasuke tidak menjawabnya dan lebih memilih diam. Entah kenapa lantai kayu di bawahnya lebih menarik untuk dilihat daripada wajah prihatin Naruto akan keadaannya.

"Aku benci mengatakan ini, tetapi kau memang benar-benar bodoh," kata Naruto.

"Aku tidak sudi dibilang bodoh oleh orang bodoh," sambar Sasuke.

"Ck, dasar menyebalkan. Aku tidak mengerti kenapa Sakura-chan bisa menyukai orang dingin dan brengsek sepertimu," komentar Naruto pedas tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari Sasuke. "Butuh berapa lama untukmu agar menyadarinya, Sasuke?"

"Apa?" tanya Sasuke balik.

"Ck. Maksudku, kalau Sakura-chan hanya sekedar orang terdekatmu, kau tidak perlu merasa semarah ini. Aku heran, kau merasa bahwa kau menyukai Hinata, tetapi kau marah saat Sakura-chan ingin menjauhimu. Sebenarnya siapa yang kausukai, Sasuke?"

Sasuke ingin bertanya kenapa Naruto bisa mengetahui tentang Hinata, namun pemuda berambut pirang itu sudah menjawabnya lebih dulu, "Hanya orang bodoh yang tidak sadar. Kalau kaupikir aku tidak menyadari sikapmu yang berbeda saat bersama Hinata, maka kau perlu membenahi kembali otakmu itu."

"Sudah tidak penting lagi siapa yang kusukai. Dia sudah menjauh..." Sasuke menghela napas yang ditahannya tanpa ia sadari, "... dia sudah menjauh dariku."

Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Sasuke, membuat sang Uchiha mengerang sakit dan menatap pelakunya dengan tajam.

"Kenapa kau memukulku, Dobe!" bentak Sasuke.

"Aku tidak ingat punya sahabat yang menyedihkan seperti kau sekarang, Teme," ucap Naruto tanpa mempedulikan death glare dan bentakan Sasuke barusan. Ada kalanya si bungsu Uchiha itu perlu membenahi otaknya yang terlalu berantakan. "Kau hanya diam saja saat Sakura meminta agar kalian menjauh. Kau tidak menghentikannya."

"Aku sudah berusaha, tetapi dia bersikeras!" balas Sasuke tidak terima.

"Apa? Kau bilang apa padanya? Memangnya kautahu kenapa Sakura-chan menjauhimu?" pancing Naruto.

"Karin, 'kan?"

Jawaban pintar Sasuke barusan membawanya pada rasa sakit yang dua kali lipat jauh lebih parah dibandingkan jitakan Naruto yang pertama.

"Kau ini bodoh, idiot, atau apa, hah? Karin saja tidak cukup membawa keputusan untuk menjauhimu, brengsek!" bentak Naruto tidak sabar.

"Lalu apa!" balas Sasuke sama kerasnya.

Cekcok antara kedua sahabat itu mulai memancing perhatian anggota klub lainnya. Mereka menghentikan latihannya sejenak untuk melihat dua orang yang kini saling mencaci itu. Terutama sikap Sasuke yang hilang kendali. Wajah stoiknya lenyap begitu saja, digantikan oleh rasa kesal dan marah pada pemuda berambut pirang di hadapannya yang sudah memukul kepalanya dua kali. Bisik-bisik mulai terdengar di dojo karate tersebut, yang ternyata mengganggu dua orang calon ketua klub berikutnya itu.

"APA YANG KALIAN LIHAT? CEPAT LANJUTKAN LATIHAN!" teriak Sasuke dan Naruto bersamaan.

Tidak perlu disuruh dua kali, para anggota klub karate kembali dengan kegiatan masing-masing. Mereka cukup mengerti agar tidak mencari masalah dengan dua orang terkuat klub tersebut kalau masih sayang nyawa.

"Sakura bertindak duluan untuk menjauhimu karena dia tidak mau kau yang melakukan itu padanya," ucap Naruto kesal. "Dia tahu kau suka Hinata, makanya dia memutuskan untuk mundur, memberi kalian berdua kesempatan."

"Kenapa—"

"Sakura bilang dia suka padamu, 'kan?" potong Naruto tidak sabar.

Sasuke terlihat ragu untuk menjawabnya. Ia sendiri masih tidak percaya bahwa Sakura mengatakan hal itu padanya. Gadis itu selalu bersikap seperti biasa, tidak ada satu pun petunjuk bahwa gadis itu menyimpan perasaan padanya.

"Memangnya kaupikir apa yang akan kaulakukan kalau kautahu bahwa sahabat perempuanmu sendiri, yang selama ini paling dekat denganmu, paling mengerti dirimu, ternyata menyimpan perasaan padamu? Kau pasti tidak bisa lagi bersikap seperti biasa padanya dan akan menjauhinya. Itulah yang tidak Sakura inginkan. Lagi pula, yang kausukai itu sahabatnya sendiri. Kaupikir bagaimana perasaannya selama ini? Tanpa kautahu, kau seakan membunuhnya pelan-pelan, Sasuke."

Naruto menghela napasnya. Ia tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Sasuke, namun di sisi lain lama-lama ia tidak tahan melihat kedua sahabatnya saling menjauh seperti ini tanpa ada penjelasan yang masuk akal. Kalau terus-terusan begini, akan timbul kesalahpahaman lainnya yang mungkin bisa berakibat jauh lebih buruk dari ini. Sakura memang tidak menceritakan semuanya pada Naruto, namun gadis itu bukan orang yang sulit dibaca terutama kalau kau sudah mengenalnya dari dulu. Tanpa Sakura bercerita pun, Naruto tahu kalau gadis itu sudah cukup menderita dengan semua hal yang dialaminya mengenai Sasuke. Cerulean blue Naruto mendapati sahabatnya yang tengah tertunduk, berusaha meresapi kata-kata yang ia lontarkan beberapa saat lalu. Naruto kembali menghela napasnya dan berkata, "Kau mungkin marah pada Sakura karena dia menjauhimu, tetapi coba kaupikir lagi. Apakah rasa sakitmu itu sebanding dengan apa yang dialami Sakura selama ini?"

.

.

.

Uchiha Sasuke tidak ada minat untuk belajar di dalam perpustakaan seperti yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya pada jam pelajaran kosong ini. Pemuda itu hanya berdiri di pinggir balkon depan perpustakaan, menatap dari kejauhan para siswi kelas XI-5 yang tengah bermain dodge ball. Dari sini, ia bisa menemukan sosok berambut merah muda yang melompat ke samping, menghindari lemparan bola dari teman sekelasnya. Sosok itu memberikan lemparan balasan dari bola yang diberikan teman berkuncir empatnya kepada lawannya yang bersisa lima dari sepuluh orang. Bola itu berhasil mengenai lawannya tanpa sempat ditangkap, menyisakan empat orang. Gadis itu tertawa sambil membenarkan ikatan rambutnya yang berantakan. Sudah lama sekali Sasuke tidak melihat ekspresi riang gadis itu setelah kemarin ia melihat betapa pucatnya gadis itu saat bertemu dengannya.

"Kau mungkin marah pada Sakura karena dia menjauhimu, tetapi coba kaupikir lagi. Apakah rasa sakitmu itu sebanding dengan apa yang dialami Sakura selama ini?"

Kedua iris onyx-nya berusaha mencari jawabannya dengan menatap sosok yang membuat pikirannya tidak tenang setiap kali bayangan sang gadis muncul dalam benaknya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa kesal saat melihat sikap Sakura yang tetap ceria seperti biasa seolah-olah tidak ada satu hal yang mengganggunya, sedangkan dirinya menderita karena sulit tidur tiap malam sejak hari itu.

Sang Uchiha tidak menyadari keberadaan seseorang yang sudah berdiri di sampingnya sejak lima menit yang lalu. Perhatian pemuda itu tersita sepenuhnya pada gadis yang berada di lapangan outdoor Perguruan Konoha. Sepasang lavender menatap wajah Sasuke yang sedikit terhanyut saat melihat sosok itu dengan senyum pahit di bibirnya.

"Memperhatikan Sakura, hm?"

Ucapan pemilik mata lavender itu berhasil menarik perhatian Uchiha Sasuke. Ia tidak terlihat terkejut akan kehadiran Hyuuga Hinata yang berdiri di sampingnya, ikut menatap sosok berambut merah muda sahabatnya itu. Angin yang berhembus pelan melambaikan helaian rambut indigonya, memperlihatkan wajah cantik putri Hyuuga tersebut. Senyum tipis terukir di bibirnya, dengan wajah yang ditopang dengan tangan kanan yang bertumpu pada tepi balkon.

"Sakura hebat, ya," gumam Hinata pelan. "Dia mempunyai kontrol diri yang kuat. Aku iri padanya."

Sasuke memilih untuk tidak mengucapkan apapun dan tetap menatap objek utamanya yang tengah menghindari serangan dari lawan mainnya. Hinata pun tidak terlihat membutuhkan jawaban Sasuke.

"Anggap saja mood-swing dan bad temper nona yang satu itu tidak dihitung. Dengan wajah manis, tingkat kecerdasan yang tinggi, dan sifat yang perhatian pula, laki-laki mana yang tidak mau mempunyai kekasih sepertinya? Aku berani bertaruh sudah banyak orang yang memintanya untuk menjadi pacar mereka," lanjut Hinata.

Diam-diam gadis bermata lavender itu melirik pemuda di sebelahnya melalui sudut matanya. Ia bisa melihat ekspresi Sasuke yang sedikit kaku setelah ia mengucapkan kata-kata barusan.

'Sepertinya ada yang tersulut api.'

"Dan kudengar dari Temari dan Ino kalau sahabat sejak kecilnya sudah kembali ke Jepang. Kalau mereka bersahabat sejak kecil, bukankah itu berarti mereka punya hubungan yang kuat? Jangan-jangan dia kembali untuk menjemput Sakura dan membawanya ke Inggris? Aku bisa kehilangan Sakura kalau begini caranya..."

Bukan hanya tersulut, sepertinya Hinata baru saja menuangkan bensin ke atas ledakan kompor gas. Sayangnya Uchiha Sasuke terlalu menaruh tinggi harga dirinya sehingga ia hanya bisa menggemertakkan giginya dengan tangan kanan yang terkepal keras. Hinata menahan tawa melihat situasinya saat ini, bersama dengan Uchiha Sasuke yang sangat kesal dan terganggu. Kata-katanya ternyata ampuh untuk membuat pemuda tersebut secara tidak langsung menunjukkan emosinya yang sebenarnya.

"Hmph, kau lucu sekali, Sasuke. Seharusnya kau tidak perlu semarah ini kalau kau hanya benar-benar menganggap Sakura sebagai orang terdekatmu. Kau pembohong yang buruk sekali," ucap Hinata.

Sasuke menatap Hinata tajam, satu hal yang tidak pernah ia lakukan terhadap gadis tersebut selama ini. Putri Hyuuga itu tidak mempedulikan death glare Sasuke, malah tersenyum menantang yang membuat sang Uchiha semakin menatapnya tajam.

"Apa? Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini, Sasuke. Aku tidak ingat kalau almighty Sasuke dari klan Uchiha, orang yang menjadi pujaan setiap gadis di Perguruan Konoha—kecuali aku—akan begini tidak pekanya terhadap perasaannya sendiri. Poor you," ucap Hinata, tepatnya ledekan gadis itu terhadap Sasuke.

"Bisakah langsung saja pada pokok permasalahanmu?" tanya Sasuke yang mulai menipis kesabarannya. Ia tidak ingat kalau Hinata bisa segini mengesalkannya kalau gadis itu mau. Gadis yang begitu pendiam dan cenderung menjadi sasaran empuk untuk dijahili sekarang malah menantangnya dan bersikap un-Hinata-ish. Jauh dari kelakuannya sehari-hari. Well, sebenarnya bukan Hinata-lah yang membuatnya kesal, tetapi kata-katanya yang entah bagaimana membuatnya kemarahannya terpancing. Sasuke sama sekali tidak mengerti kenapa ia bisa tersulut semudah ini hanya dengan mendengar beberapa hal mengenai Sakura.

"Butuh berapa lama untukmu agar menyadarinya, Sasuke?" tanya Hinata. Nada bicaranya berubah drastis menjadi serius, beda dengan sebelumnya yang terkesan meledek. Ia menatap Sasuke tepat pada kedua matanya, menunjukkan betapa seriusnya pertanyaan yang diajukannya tersebut.

Bukannya mendapatkan jawaban atas pertanyaannya barusan, Hinata malah mendapati suara tawa Sasuke yang mengisi telinganya. Hinata mengerutkan dahinya, heran dengan perubahan sikap Sasuke yang mendadak tertawa padahal beberapa detik sebelumnya ia masih menunjukkan tatapan kesalnya pada Hinata. Gadis itu baru akan mengajukan protes pada sang pemuda, tetapi lagi-lagi ia dikejutkan oleh sang Uchiha kini. Pemuda itu memang tertawa, namun ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sedang tertawa. Wajahnya... terlihat sedih. Perlahan-lahan suara tawanya mengecil, menyisakan sebuah senyum kecut di bibirnya. Hinata hanya bisa terdiam melihat ini semua.

Sasuke menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya, kebiasaan yang entah kapan didapatnya setiap ia merasa sulit. Ia menghela napas dan berkata, "Kenapa pertanyaanmu bisa sama persis seperti si Dobe kemarin..."

Suaranya terdengar kecil, hampir seperti bisikan sampai-sampai Hinata hampir tidak mendengarnya. Senyumnya terlihat hambar. Bahkan sorot mata yang beberapa saat lalu begitu tajam kini meredup begitu saja. Obsidian itu semakin terlihat gelap, seperti black hole yang akan menelanmu ke dalamnya.

Hinata baru mau menjawabnya namun Sasuke melanjutkan, "Semua orang mengajukan pertanyaan yang sama... Aku tidak mengerti."

Kini Hinata merasa prihatin pada pemuda di hadapannya. Ia tidak pernah melihat Sasuke yang terlihat depresi seperti yang sekarang ditunjukkannya.

"Itu karena kau tidak melihatnya, Sasuke," jawab Hinata. "Kami melihat apa yang tidak kaulihat. Sadar dengan apa yang tidak kausadari."

"Apa maksudnya itu?" tanya Sasuke.

"Bukankah kau sudah mengalaminya barusan?" tanya Hinata balik.

Sasuke memasang wajah datar, sama sekali tidak mengerti ke mana jalan pembicaraan Hinata. Gadis itu menghela napas, ia tidak mengerti kenapa Sasuke bisa begini bodohnya kalau menyangkut Sakura.

"Lalu bagaimana dengan jawabanmu atas pernyataanku waktu itu?" tanya Sasuke.

Hinata menatap Sasuke, mendapati pemuda itu tengah menatapnya serius. Gadis Hyuuga itu tersenyum. "Aku tidak mau menjawabnya."

Tangan kanan Hinata menggenggam lengan kiri atasnya. Dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya, ia berkata, "Kurasa percuma saja aku menjawabnya. Apapun jawabanku, hubungan kita akan berubah. Kalau aku mengiyakannya, kita akan jadi sepasang kekasih. Tapi kalau aku menolaknya, kita akan jadi musuh karena kau tidak akan merasa nyaman berada di sekitar orang yang menolakmu, apalagi kita satu kelas. Jadi lebih baik kau tarik kembali pernyataanmu dan menyatakannya pada orang yang benar. Aku hanya ingin kita tetap menjadi teman seperti ini, tanpa ada ikatan apapun. Baik itu kekasih maupun musuh."

"Tanpa kausadari, kau baru saja menyatakan penolakanmu, nona," ucap Sasuke.

Hinata menggeleng. "Tidak. 'Aku menolakmu', itu baru penolakan. Kubilang agar kau menarik pernyataanmu. Itu berarti kau tidak pernah menyatakan apapun padaku. Aku tidak pernah menolakmu, Sasuke, tapi aku juga tidak pernah menerimamu."

Hinata berbalik dan menepuk bahu Sasuke pelan. "Kuharap kau bisa segera membuka matamu agar bisa melihat apa yang aku dan Naruto lihat."

Gadis itu kembali masuk ke dalam perpustakaan, meninggalkan Sasuke sendirian. Sasuke menghela napas dan menyandarkan punggungnya pada balkon, kembali menatap sang bunga ceri yang sedang melompat riang karena dodge ball yang dimenangkan oleh timnya. Untuk kesekian kalinya napas Sasuke tertahan saat melihat senyum lebar Haruno Sakura yang—Sasuke berani bertaruh—akan membuat lelaki manapun terpana. Ia tidak bisa memalingkan matanya dari pemandangan gadis berambut merah muda dengan iris zamrud yang berkilat ceria itu. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, berusaha menghilangkan spekulasi yang hinggap dalam pikirannya begitu saja setelah melihat senyum Sakura yang terasa breath-taking itu.

"Tidak... tidak mungkin... Aku tidak mungkin..."

... menyukai Sakura...

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

A/N:

24 HALAMAN A4! REKOR TERBARU SAYA! #dibekep

Satu setengah bulan baru di-update -_-

Maaf ya, blame my bloody school. Sama sekali nggak sempet ngetik D:

Oh ya, ouka itu nama lainnya bunga sakura :D Pernah baca fanfic GaaSaku yang Gaara-nya manggil Sakura dengan 'ouka' dan itu bagus ceritanya. Uh, dan maaf lagi kalau deskripsinya jelek. Kok saya ngerasa di sini deskripsinya agak aneh gimanaaa gitu? Apa karena udah lama nggak nulis kali ya -_-"

Dan ini panjang banget, saya sampai mabok sendiri bacanya ._.

HAH SASUKE DENSE BANGET, NYEBELIN *kesel sama karakter yang dibuat sendiri*

Btw, yep. Banyak jawaban kalian yang bener. Gaara itu temen masa kecilnya Sakura. Dia nggak bakal dibuat suka Sakura soalnya kalau dipikir-pikir bakal lama tamatnya dan jadi muter-muter gitu dan inti ceritanya nggak dapet nanti -_- Tapi dia jadi kompor untuk manas-manasin Sasuke biar dia nyadar dikit gitu. YEAH

Untuk yang kangen Karin (?), chapter depan dimunculin gimana nasibnya nanti. kalau saya nggak galau lagi dan dapet ilham, chapter 12 udah tamat. Amiin *maaf ya authornya labil -_-*

Di situ ada Silent Hill, game yang buat saya nggak bisa tidur abis main itu. Terakhir main itu saya ngelempar PSP temen yang untungnya berhasil ditangkap kembali tanpa cacat, itu serem banget straight-jacket nya sumpah -_-

Satu lagi! Saya kaget, super kaget. Nggak nyangka bakal sebanyak itu yang review! DUUUH MAKASIIIIH! Saya terharu :') :* :* :* #plak

Semoga kalian suka chapter kali ini! :D

.

Special Thanks:

merry-chan

Raqu ExsilentreaderXP

Chocolate Lolypop

Ruru

kazushi kudo hatake

maya

RestuChii SoraYama

Kamikaze Ayy

Chie Akane Etsuko ga login

Haza ShiRaifu

Sichi

Si cherry blossom

Nanairo Zoacha males login

Gracia De Mouis Lucheta

Dark Hazel Miki-desu

Rin 'Uchiharuno' Tsubaki-chan

Ramen panas

Fiyui-chan

EnChyDrew Haruna

Sindi 'Kucing Pink

selenavella

Onime no Uchiha Hanabi-hime

Andaaza

kikifulbuster

Viania

Miyako

Lulu si bolu

L Yagami Amane

Akera Raikatuji

Skyzhe Kenzou

.

Mind to review, minna? :3