Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto
Akatsuki in Humor
Humor, Parody, Friendship
Rate : K+/T/M
Main cast : Akatsuki and friends
Place : Peta Shinobi di Naruto Ultimate ninja 5
Warning! : OOC, typo(s), No EYD, suka-suka authornya, hanya untuk hiburan guys..
Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
.
Chapter 10 Akatsuki Masuk TV
.
.
Seorang bapak-bapak tua menyusuri jalan di Konoha. Ia terlihat bingung mencari tujuannya. Berjalan mengendarai mobil tapi tak kunjung bertemu dengan apa yang ia cari. Karena lela, pria itu berhenti di sebuah kedai manisan yang berada di antara jalan Forest Dead dan Training Road.
"Silakan pesanannya, Tuan," sapa pelayan.
"Baiklah, terima kasih," sahut pria tersebut.
"Jika Anda memerlukan sesuatu, silakan panggil kami, Tuan," pelayan toko itu menawarkan diri.
Bapak tua itu adalah Hashirama, ia meneguk teh dan memakan beberapa manisan di kedai itu hingga dirasa cukup untuk menganjal perutnya yang lapar. Setelahnya, ia pun membayar ke kasir.
"Mbak, saya ini nyari rumah Akatsuki. Kok gak ketemu-ketemu, ya?" Hashirama membuka percakapannya.
"Akatsuki itu apa ya, Pak?" tanya kasir yang bingung.
"Akatsuki itu yang suka pake baju warna item terus ada gambar awannya, tapi awannya berwarna merah," jawab Hashirama.
Kasir itu pun seperti mengingat-ingat.
"Oh, Tobi kali ya, Pak?" tanya sang kasir.
"Tobi maksudnya gimana ya, Mbak?" Hashirama menjadi bingung.
"Iya, Tobi suka pake baju warna item bercorak awan merah. Itu kali, Pak," sahut sang kasir.
Karena merasa mendapat petunjuk, Hashirama pun bertanya. "Di mana rumahnya Tobi itu, Mbak?" tanya Hashirama lagi.
Kasir itu akhirnya menunjukkan jalannya kepada Hashirama.
.
.
.
15 menit kemudian...
Suara bel berbunyi. Tobi si anak baik membukakan pintu.
"Whaaaaa! Apaan, nih? Kok, pake topeng?!" Hashirama kaget melihat Tobi.
Tobi pun kaget. "Si-siapa Anda, Pak Tua?" tanya Tobi yang heran.
Hashirama mencoba menetralkan diri."Saya produser dari Love TV, ingin bertemu dengan leader Akatsuki," jawab Hashirama sambil menghela napasnya.
Tanpa banyak kata, Tobi berlari meninggalkan Hashirama di depan pintu. Ia pun menaiki anak tangga untuk mencari Pain.
"Hosh, hosh!" Tobi kelelahan.
"Kenape lo, Tob? Aabis lari sore tah? Perasaan tadi gue liat lo lagi ama si Zetsu, nyuapin dia makan," ucap Hidan.
"Senpai-senpai, di mana Senpai Pain?" tanya Tobi.
"Yee! Mana gue tau, emang gue emaknya?! Nanya ke gue lagi!" jawab Hidan.
Tobi menjadi kesal. "Hiihh, Senpai Hidan. Ngeselin!" Tobi memukul manja Hidan. Ia lalu segera mencari Pain ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Pain...
"Astaga! Maaf, Senpai. Tobi gak liat." Tobi menutup matanya setelah ia membuka pintu kamar Pain.
Pain pun kaget. "Aduh! Lo kalo masuk kamar, ngetok dulu. Bikin gue nyesek aja!" tegas Pain.
"Senpai itu apaan, ya? Kok kaya sosis?" tanya Tobi dengan polosnya.
"Lo juga punya, jadi gak usah nanya!" jawab Pain sambil memakai jubah Akatsukinya.
"Hmmmm?" Tobi berpikir.
"Ada apaan lo ke sini, Tob?" tanya Pain.
Tobi berhenti berpikir. "Itu, Senpai. Ada orang nyariin. Katanya dari lobak tipi," ucap Tobi kaku.
"Love TV kali, Tobi." Pain membenarkan ucapan Tobi yang salah.
"Iya kali senpai." Tobi menggaruk keningnya.
Akhirnya, keduanya menemui Hashirama, sang produser Love TV yang sudah menunggu lama sampai ubanan. Pain pun mengumpulkan semua anggota Akatsuki untuk diskusi. Mereka berbicara panjang kali lebar. Dan karena desakan Kakuzu, mereka mengiyakan tawaran sang produser TV.
"Hadehh, ada-ada aja gue mah," ucap Itachi sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Kita coba aja gak papa lah. Kalo cocok lanjut, gak cocok ya udah," sahut Kisame.
"Bayarannya gede, woy! Sayang kalo tawarin ini kita lewatin!" Kakuzu bersemangat.
"Lo mah duit mulu yang ada di otak lo. Gak mikirin gue apa, gue disuruh jadi bintang tamu tetap acara Male TV," sahut Deidara.
"Ya udah kita coba aja dulu ya, besok pagi kita ke studio." Pain mencoba menengahi.
Akhirnya mereka menyetujui dan mempersiapkan diri untuk esok hari.
.
.
.
Esok harinya pukul 9 pagi…
Semua anggota Akatsuki sudah bersiap diri. Karena mereka tidak mempunyai kendaraan, mereka meminta tolong Tobi untuk memindahkan mereka.
Kamui!
Selang beberapa detik kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.
"Ini bener alamatnya?" Sasori bertanya.
"Iya, kayaknya ini alamatnya," sahut Nagato.
Mereka pun masuk ke ruangan. Di sana sang produser telah menunggu dan membagikan kertas yang berisi perjanjian, percobaan kontrak mereka selama satu bulan ke depan.
Akhirnya mereka memasuki ruangan syuting mereka masing-masing.
"Kamera … roll on … action!"
"Ohayou, Adik-adik. Selamat datang di acara Tobi-nii. Hari ini Tobi akan mengajak kalian untuk membuat Origami. Di samping Tobi sudah ada Konan-nee," ucap Tobi memulai percakapannya.
"Ohayou," sapa Konan ke kamera sambil melambaikan tangan.
Tobi berakting jago sekali. Ia memang anak autis yang cocok dengan pekerjaannya saat ini. Yaitu menjadi host acara tv anak-anak.
Tobi kemudian melanjutkan perkataannya. "Baiklah, saatnya kita memasuki acara selanjutnya. Yaitu dongeng bersama Sasori-nii," Tobi melanjutkan perkataannya.
Sasori lalu memulai aksinya, ia berkisah dengan boneka-boneka buatannya.
Tak dibutuhkan waktu lama, hanya seminggu saja, acara yang dibawakan Tobi, Konan dan Sasori sudah menduduki rating pertama acara TV anak-anak.
Lain dengan Pain dan Nagato, mereka menjadi penyanyi metal di acara Metal go to Hell yang diadakan setiap malam jumat. Di belakang layar mereka pun berbincang.
"Duh, Pain, bisa-bisa abis suara gue nih jerit-jerit terus," curhat Nagato.
"Iya, sama aja gue, Nag. Kayanya pita suara gue mau kabur dari tenggorokan nih!" sahut Pain.
Merek berdua mengeluhkan pekerjaannya setelah seminggu bekerja sebagai penyanyi metal. Sedangkan Itachi dan Hidan menjadi foto model majalah wanita dewasa.
"Iya, di buka bajunya. Tampilkan gairah lelaki kalian!" perintah juru kamera.
Hidan pun berbisik kepada Itachi. "Chi, kita ini emang bukan kaya laki-laki, tah? Kok dia ngomongin kita kaya gitu?" tanya Hidan.
"Dah biarin aja lah, Dan. Turutin aja mau dia tuh. Asal jangan suruh buka kolor aja. Kan malu gue," jawab Itachi kalem.
Hidan pun mengangguk.
.
.
.
Di studio lain...
Tampak Zetsu menjadi host pecinta alam. Ia mengajarkan para pemirsa tv mengenal berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar mereka. Sedangkan Kisame, ia selalu syuting di luar ruangan karena menjadi host Mancing Mania.
Sementara itu, Kakuzu sedang asik menghitung duit hasil kerja keras teman-temannya.
"Woww, nambah lagi nih pemasukan. Satu, dua, tiga ... empat puluh juta. Lama-lama bisa kaya Akatsuki." Kakuzu terus menghitung uangnya dengan bersemangat.
Lain dengan nasib Deidara. Deidara tampak sibuk menanda-tangani fotonya yang dijual bebas oleh pihak studio.
Berbagai macam posenya tanpa kuncir rambut pun telah terpampang di mana-mana. Deidara sungguh menarik perhatian kaum adam. Ya, sekarang ia tengah menjadi bintang tamu tetap sebuah acara lelaki dewasa.
Sib, nasib. Nasib gue jelek amat, ya? Tampil di acara beginian. Deidara berucap dalam hati sambil tetap mengumbar senyumannya yang manis ke arah penonton.
Terlihat di kursi para penonton, Guy dan Kakashi yang selalu hadir di saat Deidara syuting.
"Oh, Deidara, kau sungguh cantik, Sayang." Guy terpesona kala melihat Deidara bertutur kata lembut.
Kakashi pun hanya bisa melihat Deidara dari kursi penonton sambil berkata dalam hati, Diakah yang selama ini aku cari? tanya Kakashi pada dirinya sendiri.
Mereka terus melakukan hal itu sampai satu bulan lamanya.
.
.
.
Di akhir bulan mereka mengadakan rapat penting…
Pain dan Nagato sudah tidak dapat bicara karena suaranya habis akibat dari menjadi penyanyi metal. Tobi, Konan dan Sasori pun keletihan karena syuting tiap hari tanpa libur. Itachi dan Hidan juga masuk angin. Keduanya meriang karena harus berpose telanjang dada di ruangan ber-AC dingin. Sedang Kisame mengalami mabuk laut yang membuat dirinya selalu muntah-muntah.
Deidara juga sama, terlihat sangat letih karena meladeni para fansnya setiap hari. Namun, berbeda dengan Kakuzu. Ia tetap asik menghitung uang hasil kerja keras teman-temannya.
"Oiii, kalo kamu orang berhenti sayang lah. Kita udah sebulan jalan nih," ucap Kakuzu di tengah-tengah rapat.
"Lo enak, Bahlul! Tinggal ngitung duitnya aja. Kita orang yang kerja!" sahut Hidan sambil mengerik Itachi yang masuk angin.
"Tuh, lihat Pain sama Nagato udah gak bisa ngomong," timpal Itachi yang bergantian mengerik tubuh belakang Hidan.
Kakuzu pun hanya bisa diam mendengarkan.
"Iya, Zu. Gue capek. Saban hari megangin boneka terus. Pegel nih tangan. Abis ini gue nyari tukang urutlah," ucap Sasori sambil memijit tangannya yang pegal.
Konan hanya menghela napas, karena kehabisan banyak cakra saat membuat origami. Tobi pun terlihat diam saja untuk menghemat suaranya, begitu pun dengan Zetsu. Kisame sendiri terlihat bolak-balik ke kamar mandi karena mualnya.
"Lo gimana, Dei?" tanya Kakuzu.
"Gue juga berhenti, Zu. Capek gue!" jawab Deidara.
"Kenapa, bukannya kerjaan lo enak?" tanya Kakuzu lagi.
"Enak apanya? Namanya kerja mah, gak ada yang enak. Nih lihat!" Deidara kemudian menunjukkan surat-surat dari fansnya.
Surat-surat itu memenuhi meja dan menggunung tinggi sekali, sehingga Deidara harus berdiri saat berbicara dengan kakuzu.
"Lo mau gantiin gue ngebales nih surat satu persatu?!" tanya Deidara yang kesal sambil bertolak pinggang.
"Terus, jadi gimana?" tanya Kakuzu lagi.
"Kita berhenti, Kakuzu!" jawab mereka serempak.
Akhirnya Kakuzu pun menuruti permintaan teman-temannya.
"Ya satu lawan sepuluh. Dari pada gue mati konyol, mending gue turutin ajalah kemauan mereka," ucap Kakuzu yang pasrah.
.
.
.
Bersambung…
