Fiction

.

.

.

Chapter 10

.

.

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

.

.

.

Uchiha Sasuke

Haruno Sakura

Gaara

Uzumaki Karin

.

.

.

Hurt/comfort, drama, confort

.

.

.

WARNING!!! Typo,cerita mainstream, DLDR!!!!

.

.

.

happy reading

.

.

.

o0o

Ada yang berbeda dari jade itu terlihat redup dan kesakitan, Sakura tidak tau apa yang membuat pemuda itu terluka semuanya terasa kabur tertutup kabut kebisuan. Gaara memang pendiam tapi pemuda itu adalah sosok yang hangat dan lembut, dan kini pemuda yang duduk dihadapannya seperti jiwa lain yang mengisi raga milik pemuda bersurai merah.

Hening menjadi musik pengiring makan malam Sakura, setiap kali gadis itu berbicara hanya ditanggapi konsonan tak bermakna oleh sang pemuda. Membuat Sakura urung mengeluarkan suaranya.

"Gaara, daijobu ka?" Tubuh pemuda itu menegang merasakan sentuhan Sakura pada tangannya.

"Aa, daijoubu." Gaara tersenyum tipis. Hati Sakura tercubit melihat senyum palsu Gaara.

Sudah seminggu Gaara seolah menghindari Sakura, pemuda itu selalu berangkat kerja lebih awal dan pulang terlambat. Ada luka yang disembunyikan dan Sakura tidak bisa menemukan sumber rasa sakit pemuda itu.

"Aku selesai." Gaara meninggalkan Sakura seorang diri di meja makan.

Sakura rersenyum miris menatap punggung Gaara yang menjauh. Biasanya ia akan membantunya merapikan meja makan dan mencuci peralatan makan yang kotor tapi malam ini ia meninggalkannya begitu saja, bukan karna tidak mampu melakukannya hanya saja Sakura terbiasa ditemani Gaara. Jika saja Temari tidak menghadiri pernikahan temannya mungkin Gaara tidak akan menjemputnya dan makan malam bersama.

Gaara bersandar pada pintu menghela nafas lelah, mungkin ini sedikit keterlaluan tapi ia tidak bisa mengabaikan denyutan sakit dihatinya sejak beberapa hari yang lalu. Dia sadar jika Sakura mulai resah dengan sikapnya selama seminggu ini hanya saja ia tidak siap jika bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.

Haruskah ia bertanya pada Sakura tentang foto itu? Dan sudah siapkah ia mendengar jawaban Sakura tentang perasaannya pada pemuda emo yang telah menghianati ketulusan sang gadis. Maka tidak adalah kata yang selalu memenuhi pikirannya, karena sesungguhnya ia tidak sanggup mendengar jawaban kekasihnya.

Merebahkan diri dan menutup mata menjadi pilihannya, hatinya sangat lelah menghadapi kenyataan perasaannya tidak pernah berbalas. Mencoba menyerah pada cintanya tapi entah kenapa ia selalu kembali bertahan didalam lubang kesakitan.

Genggaman tangannya sudah terangkat siap mengetuk pintu dihadapannya tapi perasaan ragu menahannya, Gaara mengunci pintu kamarnya menjadi peringatan tersirat jika pemuda itu tak mengijinkannya masuk. Pintu itu seolah mengatakan jika pemilik kamar itu tak ingin diganggu dan mengusir siapapun yang berusaha melanggar batas wilayah tuannya.

"Gaara, ada apa denganmu? Aku mohon jangan membuatku hawatair." Sakura bermonolog dan memilih meninggalkan kamar Gaara.

Meninggalkan pemuda yang tengah gelisah dalam tidurnya, terlihat ketakutan dengan keringat membenjiri dahinya dan terus berguman memanggil nama sang gadis.

"Sakura."

.

.

o0o

.

.

Aroma harum yang familiar tercium oleh indera penciuman Karin, ia ingat menunggu Sasuke pulang. Sejak kepulangannya dari rumah sakit Karin merasa bila suaminya menjadi lebih perhatian padanya.

"Sasuke." Karin memanggil nama suaminya. Ia merasakan tubuhnya sedikit melayang dan bergerak.

"Hn." Sasuke mengeratkan pegangannya pada lutut Karin dan memperbaiki posisinya agar tidak terjatuh dari gendongannya.

"Aku mencintamu." Karin bersandar pada dada Sasuke dan memeluk leher suaminya.

Hening tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sasuke bahkan konsonan tak bermakna yang sering ucapkanpun tidak. Karin menahan nafas meredam rasa sakit dihatinya. Sasuke memang lebih perhatian padanya tapi pria itu juga tak pernah menolak sentuhan Karin tapi wanita itu tak pernah mendapatkan balasan dari suaminya.

Sasuke merebahkan Karin ditempat tidur mereka, dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keadaan Karin memang sudah membaik sejak wanita itu keluar dari rumah sakit tapi Sasuke sering menemukan sang istri menggigil tanpa sebab yang membuatnya sedikit hawatir sehingga memaksanya untuk selalu pulang cepat tapi hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan membuat dirinya tertahan dikantor hingga larut malam dan Karin menunggunya hingga terlelap di sofa.

Balkon menjadi pilihan Sasuke untuk merokok, tersenyum miris menatap bungkus rokok ditangannya. Ia bukanlah pecandu nikotin tapi kini benda beracun yang digilai banyak pria itu menjadi salah satu pelepas penatnya selain alkohol. Ingatannya kembali pada saat ia bertemu Saara di rumah sakit saat wanita itu menemani istrinya.

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Sara duduk menyilangkan kakinya dibangku yang berada dilorong rumah sakit, menatap tajam Sasuke yang berdiri di seberangnya bersandar pada dinding.

"Aku ingin mengejarnya." Sasuke menatap langit-langit dan tersenyum kecut.Kau benar-benar bajingan!" Sara menggeram kesal, jika saja ini bukan rumah sakit sudah pasti wanita berambut merah itu akan berteriak pada lawan bicaranya."Kau menyakitinya tidak kau sudah menghancurkannya dan sekarang kau ingin mengejarnya. Lalu bagaimana dengan Karin? Sedalam apa kau ingin menyakitinya?" Amarah jelas tergambar dimatanya yang memicing tajam.

"Aku juga terluka." Sasuke menunduk menatap ujung sepatunya, ia bukanlah seorang pengecut yang tak berani menatap lawan bicaranya bahkan ia mampu mengintimidasi siapapun dengan mata tajam dan tatapan dinginnya tapi saat ini ia tidak ingin menunjukan semua emosinya pada orang lain yang tergambar jelas dimatanya.

"Itu semua karena kebrengsekanmu sialan! Kalau saja kau bisa menggunakan otak udangmu itu semua ini tidak akan terjadi!" Sara lepas kendali suaranya menggema disepanjang lorong yang sepi. "Dimana kau letakan otak jenius warisan para leluhurmu itu eh Uchiha? Kau mematahkan banyak hati hanya karna pemikiran bodohmu itu."Untuk pertamakalinya sejak mereka berbicara Sasuke menatap mata istri dari sahabat pirangnya. Mata itu berkaca-kaca ada rasa kecewa dan luka terpancar dari mata indah sang wanita. Pria emo itu mengepalkan tangannya mencoba mengurangi rasa sesak didadanya, begitu banyak orang yang terluka dengan keputusannya dimasa lalu."Kau yang memilihnya berhenti menyakitinya. Karin hanya ingin bahagia dan hidup bersama pria yang dicintainya." Sara meninggalkan Sasuke yang menatap kosong bangku dihadapannya.

Sasuke menghela nafas lelah, enam batang rokok telah ia habiskan dalam waktu setengah jam. Udara dingin yang membelai tubuhnya mulai membuatnya menggigil menyalakan alarm ditubuhnya agar segera masuk dan menghangatkan diri.

Netranya menangkap sang istri yang tengah terlelap, dipandanginya wajah Karin. Wanita itu terlihat lebih kurus dengan kantung mata menghitam, jelas wanita yang menyandang marga Uchiha darinya itu tidak bahagia selama ini. Mereka terlalu sering bertengkar dan dia tidak pernah benar-benar memperhatikan istrinya.

Sasuke menyentuh pipi tirus Karin. "Gomenassai, aku sudah menyakitimu." Sasuke mengecup dahi Karin lembut dan setelahnya ia terlelap.

Sepasang mata rubby itu terbuka tangan kurusnya menyentuh tempat yang menyalurkannya perasaan hangat kehatinya. Ia tersenyum lembut menatap suaminya yang tengah mengarungi alam mimpi. Ia tahu jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta dari suaminya.

.

.

o0o

.

.

Sakura bangun lebih pagi dari biasanya, ia hanya ingin berangkat kekantor bersama Gaara karna gadis itu tahu jika Kekasih merahnya selalu berangkat sangat awal. Ia keluar kamar bersamaan dengan pemuda berambut merah yang tengah menutup pintu kamarnya.

"Ohayou Gaara." Sakura menyapa sang pemuda dan langsung mengamit lengan Gaara.

"Ohayou mo." Gaara meraih tangan Sakura dan melepaskan tangan sang gadis dari lengannya serta berjalan terlebih dahulu meninggalkan sang gadis.

Sakura ingin menangis menerima penolakan dari Gaara, bahkan ketika ia sudah bertunangan dengan Sasuke Gaara tidak pernah menolak kontak fisik yang ia lakukan. Lalu kenapa pemuda itu seolah membangun benteng untuk melindungi dirinya dari sakura.

"Kalian bangun awal sekali?" Temari menatap heran Sakura yang terlihat lesu dan adiknya yang tengah membuat kopi.

"Ada banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan." Gaara menjawab pertanyaan sang kakak.

"Sakura?" Temari menatap gadis yang tengah sibuk menatap peralatan makan yang ada dihadapannya.

"Aku hanya ingin berangkat bersama Gaara." Sakura menjawab dengan semangat membuat Temari terkekeh.

Gerakan tangan Gaara yang tengah mengaduk kopi terhenti mendengar jawaban Sakura. Kenapa gadis itu sangat kejam mengatakan hal-hal yang membuatnya begitu banyak berharap tapi kenyataannya tidak ada kesempatan untuknya.

"Ne Gaara kau harus lebih perhatian pada kekasihmu." Temari menggoda adiknya.

"Hm." Gaara berguman menanggapi kakaknya.

"Kau seperti Sasuke kun sangat suka berguman tak jelas." Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Kenapa? Kau merindukannya?" Ujar Gaara sinis.

Sakura membulatkan matanya tidak menyangka jika pemuda yang tengah menyesap kopi dihadapanya akan berbicara dengan nada sisnis padanya. Gaara hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, ada apa dengan pemuda berambut merah itu Sakura benar-benar tidak mengerti.

"Ten...tentu saja tidak. Ke...kenapa juga aku harus merindukannya." Dengan gugup Sakura menjawab pertanyaan Gaara.

Gaara mendengus mendengar jawaban Sakura, gadis itu gugup karena memang merindukan Sasuke.

"Hanya kau sendiri yang tahu jawabannya. Saki." Gaara memberi penekanan pada nama panggilan Sakura sejak kecil.

Temari tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, ada yang aneh antara adiknya dan Sakura. Gaara terlihat kasar pada Sakura dan seolah ingin memojokan gadis itu.

"Apa maksudmu?" Sakura menatap Gaara marah.

"Apa? Memangnya aku mengatakan apa?" Lagi tatapan datar itu yang Sakura lihat dari sepasang jade yang dulu selalu menatapnya lembut.

"Kau sangat aneh. Kau menghindariku. Ada apa sebenarnya?" Sakura berteriak, ia sudah tidak tahan ia menangis. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku."

"Bagaimana denganmu? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Gaara mengepalkan tangannya, hal yang paling tidak ingin ia lakukan di dunia ini adalah membuat gadis berambut pink dihadapannya menangis. Gaara selalu menjaganya lalu apa yang ia dapatkan dari menjaga senyum sang gadis hanyalah luka dan rasa sakit.

"Gaara. Ada apa? Kenapa kau bersikap seperti itu pada Sakura?" Temari menyentuh bahu adiknya.

Gaara bukanlah orang yang terbuka sejak dulu pemuda itu selalu menyimpan masalahnya sendiri. Ia akan berlari pada pamannya ketika merasa tidak sanggup menyelesaikan masalahnya.

"Aku..." Gaara beranjak dari ruang makan tanpa menyelesaikan ucapannya meninggalkan Sakura yang masih terisak dan mengabaikan pertanyaan kakaknya.

"Sakura tenanglah, mungkin Gaara hanya lelah karena pekerjaannya di kantor." Temari membelai lembut kepala Sakura dan memeluknya membiarkan gadis itu bersandar padanya.

Gaara meremas rambutnya frustasi bagaimana bisa ia kehilangan kontrol seperti itu jika saja tidak ada Temari mungkin mereka sudah bertengkar. Ia melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Rei. Ia tidak bisa ketempat pamannya saat ini mengingat pamannya tinggal bersama kekasihnya lagi pula ia harus menyelesaikan masalahnya sendiri.

.

.

o0o

.

.

Sakura menatap lesu dokumen keuangan yang harus ia periksa, ia sangat sedih mengingat pertengkaran dengan Gaara pagi ini. Ototnya bergerak lebih lambat daripada seharusnya dan sulit berkonsentrasi.

Menatap nanar fotonya bersama pemuda merah yang ada di atas meja kerjanya, dia yakin terjadi sesuatu pada pemuda itu tapia apa? Apa yang membuat Gaara marah padanya? Apa yang membuat pemuda itu terluka? Sakura menjambak rambutnya sendiri melampiaskan rasa kesalnya.

"Sakura kau baik-baik saja?" Shiho menatap heran sahabatnya yang sejak tadi bertingkah aneh dan mengabaikan pekerjaannya.

"Gaara mengabaikanku. Dia marah padaku tapi aku tidak tak tahu apa penyebabnya." Sakura merengek pada Shiho seperti seorang anak dia tidak peduli jika sekarang seluruh rekan kerjanya menatapnya sebal karena terganggu rengekannya.

Shiho memutar bola matanya mendengar jawaban Sakura, gadis itu terlalu berlebihan menanggapi kekasihnya yang sedang marah seperti anak remaja saja.

"Kenapa kau tidak bertanya saja kenapa ia marah padamu." Shiho menjawab malas, jika memang kekasihnya itu marah kenapa ia tidak bertanya alasan pemuda itu marah.

"Aku sudah melakukannya dia tidak mau memberitahuku, dan pagi ini kami bertengkar." Sakura semakin menggembungkan pipinya kesal.

"Pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah hal yang biasa Sakura, kau terlalu berlebihan. Sebaiknya kau kerjakan tugasmu sebelum Kakashi menendang bokongmu." Shiho kembali fokus pada layar komputer yang ada dihadapannya.

Benarkah pertengkaran adalah hal yang biasa dalam sebuah hubungan. Ia tidak pernah bertengkar dengan Sasuke sebelumnya jika ia sedang marah Sasuke hanya diam mendengarkannya dan dengan Gaara ia hanya pernah bertengkar satu kali saat anak-anak mereka saling teriak hingga ia menangis dan setelahnya ia tidak mau bertemu Gaara lalu pemuda itu datang dan meminta maaf setelahnya.

Sakura meraih ponselnya dan mengetikan sesuatu. Ia akan berbicara lagi dengan Gaara dan menanyakan kenapa pemuda itu marah padanya.

Ayo makan siang bersama Gaara.

Pesan itu sudah terkirim sejak lima belas menit yang lalu tapi belum juga mendapat balasan. Sakura menggigit ujung kukunya gemas, sebentar lagi jam makan siang dan Gaara belum mengabarinya.

"Sakura aku akan membeli makan siang, kau ingin kubelikan juga tidak?" Idate sedang merapikan dokumen di atas mejanya.

"Aku.." Sakura ingin dibelikan makanan juga mengingat ia belum makan sejak pagi mengingat ia menangis dan tidak sarapan tapi bagaimana jika Gaara menjemputnya untuk makan siang.

"Ayolah Sakura, kau tahukan kantin sangat ramai saat jam makan siang, aku malas jika harus mengantri nanti."

"Umm, baiklah. Tolong belikan aku ramen." Sakura menyerahkan uang pada idate.

Hingga sore hari Sakura tidak mendapat balasan dari sang kekasih, ia merasa bila Gaara menjauh darinya.

Gaara masih sibuk dengan dokumennya ketika Yashamaru memasuki ruangannya.

"Kau tidak pulang?" Pria dewasa itu meletakan kopi di meja keponakannya.

"Tidak." Gaara tidak mengalihkan pandangannya dari kertas yang ada di mejanya.

"Terjadi sesuatu antara kau dan Sakura." Itu bukanlah pertanyaan tapi pernyataan yang langsung menghentikan gerakan tangan Gaara yang tengah menyusun dokumen.

"Kau tau, hanya Sakura yang bisa membuatmu kacau," Yashamaru menatap keponakannya yang masih menunduk. "Jangan melarikan diri selesaikan masalah kalian."

"Sakura, dia masih mencintai Sasuke. Dia berbohong padaku." Suara Gaara terdengar sangat sendu.

"Kau akan menyerah setelah semua yang kau lakukan?" Pria bersurai pirang itu melipat ke dua tangannya di dada dan tersenyum pada keponakannya.

"Aku butuh waktu untuk berfikir, kupikir menjaga jarak dengannya adalah pilihan terbaik." Gaara merapikan dokumen yang telah ia selesaikan. "Proyek di Kumo Gakure, aku yang akan mengerjakannya."

"Kau yakin?" Yashamaru menatap Gaara, dia tidak yakin dengan keputusan yang diambil keponakannya jika benar Sakura masih mencintai Sasuke maka menjauh dari gadis itu bukanlah pilihan yang baik.

Sakura melirik jam weker diatas nakas, sudah pukul sebelas dan Gaara belum juga pulang. Tidak ada balasan yang ia terima dari pemuda itu untuk semua pesan yang terkirim sejak siang tadi. Gadis bersurai pink itu tahu jika Gaara tengah marah padanya tapi ia tidak tahu apa penyebab kemarahan kekasih merahnya.

Mata sehijau emerald itu sudah tertutup rapat karena lelah ketika deru mesin mobil milik Gaara terhenti dihalaman rumah, pemuda merah itu menatap bingung kamar Sakura yang masih terang meski telah larut. Ada rasa bersalah yang merayapi hatinya karena tak membalas pesan sang kekasih tapi egonya menahannya untuk peduli pada Sakura.

.

.

o0o

.

.

Sakura merasakan tubuhnya lemas, ia terjaga ketika jam dinding menunjuk angka tiga dan melihat mobil Gaara terpakir dihalaman. Ia tak lagi bisa memejamkan matanya hingga pagi hari membuat kantung matanya semakin menggelap. Menghela nafas dan beranjak dari tempat tidur Sakura berjalan ke kamar mandi, ia harus bersiap bekerja meski sebenernya sangat malas malekukan apapun. Yang diinginkannya saat ini adalah berbicara dengan Gaara dan menyelesaikan semua masalah yang sama sekali tak ia mengerti.

Gaara sedang duduk dimeja makan dengan sebuah map ditangannya, Shikamaru sedang menasihati Shikadai yang tidak mau memakan sayuran tanpa berkaca jika dirinyapun tidak suka sayuran sementara Temari sibuk membuat kopi untuk adiknya.

Sakura menarik kursi disebelah Shikadai yang menggerutu karena dipaksa memakan sayuran, meski ia ingin duduk disebelah kekasihnya seperti biasa namun aura dingin yang menguar dari tubuh sang pemuda menyurutkan niatnya. Rasanya akan sangat menyakitkan jika kejadian kemarin terulang lagi, bertengkar dengan Gaara bukanlah hal yang menyenangkan.

"Sakura apa kau baik-baik saja?" Temari menatap wajah Sakura yang terlihat pucat.

"Aku baik-baik saja." Sebuah senyum terpaksa Sakura tampilkan diwajahnya.

Gaara melirik gadis pink yang duduk diseberang kursinya, sebersit rasa hawatir sempat ia rasakan namun kembali diabaikannya mengingat kebohongan gadis itu padanya. Pemuda merah itu beranjak berdiri meninggalkan kopi yg baru saja dibuatkan kakak perempuannya.

"Aku berangkat."

Sakura merasakan hatinya tercubit melihat sikap sang kekasih yang dengan jelas mengabaikannya. Dengan cepat Sakura berlari mengejar Gaara, ia membuka pintu penumpang dan segera duduk nafasnya sedikit tersenggal. Dengan tenang Gaara melajukan mobilnya mengabaikan Sakura.

Hanya deru mesin yg terdengar, Gaara fokus menatap jalanan dan Sakura hanya menundukan kepalanya mersakan denyutan sakit dihatinya. Ia tidak pernah menyangka diabaikan oleh pemuda yang selalu memperhatikan dan menyayanginya akan sangat menyakitkan. Laju mobil terasa melambat dan berhenti di depan gedung tempat Sakura bekerja.

"Kenapa kau mengabaikanku?" Suara Sakura sangat pelan tapi masih dapat didengar Gaara namun pemuda itu bersikap seolah tak mendengar apapun.

"Turunlah, aku ada rapat pagi ini." Tak acuh pemuda itu meminta sang kekasih keluar dari mobilnya.

"Jawab aku Gaara, aku mohon beri tahu apa kesalahanku." Satu isakan lolos dari bibir mungil sewarna buah pulm itu.

Gaara memejamkan matanya, mungkin memang inilah saatnya.

"Kau masih mencintainya bukan?" Pernyataan Gaara membuat Sakura terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Uchiha. Kau masih mencintainya." Gaara menatap Sakura sendu.

Tidak ada jawaban keluar dari mulut sang gadis, terlalu terkejut mendengar pernyataan kekasihnya bagaimana mungkin setelah sejauh ini pemuda merah itu mempertanyakan hal itu.

"Turunlah." Gaara menganggap diamnya sang gadis adalah jawaban jika ia masih mencintai pria di masa lalunya.

"Gaara aku..."

"Turunlah, aku ada rapat pagi ini." Gaara memotong ucapan sang kekasih.

Sakura turun dari mobil Gaara dengan perasaan kacau, ada apa dengan kekasihnya kenapa tiba tiba mengangkat masalah ini. Bukankah ia tahu jika dirinya telah melepaskan mantan kekasihnya dan memilih pemuda itu lalu apa yang membuat ragu pada perasaannya.

Gadis bersurai pink itu tidak menemukan kekasihnya ketika ia pulang kerja, Temari mengatakan jika Gaara mengerjakan proyek di Kumogakure. Sakura tersenyum kecut kekasihnya pergi tanpa mengucapkan apapun bahkan pembicaraan mereka pagi tadi belum selesai dan pemuda itu melarikan diri.

.

.

Tbc

.

.

a/n : maaf atas ketrlambatan update ff ini. bulan juli kemaren q flare dan harus dirujuk ke Bandung. sebenernya dari awal taun q udah mulai drop karna obat obatan buat penyakit q ga di kasih ma RS di Cirebon dengan alasan kosong. keluhan aku makin banyak dan berakhir flare ampe harus pake kursi roda karna nyeri sendi akut. alhamdulillah sekarang q udah baikan n ga harus ke bandung lagi karna obat yg dokter RSHS resepin juga ada disini. q harap chap ini cukup bagus karna q juga kena brain fog jadi lupa alur ff ini dan ga tau kenapa smua draft q di aplikasi ffn ilang T.T

Thanks buat semua yg kemaren udah review, kalian yg bikin q semangat n trus fight penyakit q.

Thanks for reading

RnR please!!!!

With love,

Odapus girl

161118