"Pengecut!" gumam Kyuu memukul dada kirinya. ia mengutuk dirinya sendiri.
Sudah jelas, alasannya meminta sang kepala pembantu memberi tahu sang ibu adalah karena dirinya tidak sanggup membicarakan ini di depan wanita yang telah melahirkannya. Benar-benar pengecut!
Menghirup nafas dalam-dalam, Kyuubi mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menghubungi seseorang. Kyuu harus mengurus pemberitaan di media. Kalau kondisi memungkinkan, dia juga harus segera menghilangkan barang bukti yang ada.
Kyuubi mulai mengambil laptop dan tab dari almari. Ayah satu anak itu harus menghubungi banyak orang dalam waktu bersamaan. Menelfon Hyuuga, memantau berita di internet sekaligus mengirin e-mail untuk Pein dari laptopnya, lalu… melakukan video call ke Itachi untuk melihat keadaan Deidara. Dia benar-benar tidak ingin membicarakan apapun dengan Itachi maupun Dei, dia hanya ingin mengetahui keadaannya.
Tidak ada waktu untuk bersedih.
Tidak ada waktu untuk menangis.
Tidak ada waktu untuk menyesal….
.
.
There's No Regret in My LIfe –
Sequel of "There's No Next Time"
Disclaimer "Naruto": Kishimoto Masashi
This story: KyuuRiu
Pair: SasuNaru (main)
ItaKyuu ('normal' friendship)
,
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort - Romance
Warning: abal dan ga jelas. Mungkin juga akan banyak readers yang ga terima karena main pairing-nya ga numpang nama aja di-chap ini, but for some reason, this is an important scene : )
Typo(s) and mis-typo(s)
.
.
Part 10: It's (Not) Namida no Regret
.
.
Langit semakin gelap, namun hujan belum juga turun…
Plastic berwarna kuning bertuliskan 'KEEP OUT!' dengan goresan garis-garis hitam yang terbentang memanjang seolah menjadi dinding yang mengurung beberapa orang di sudut jalan menurun di bukit Hokage. Kondisi medan yang cukup sulit membuat jalan yang hanya bisa dilalui dua kendaraan dari arah berlawanan itu ditutup untuk sementara waktu.
Sesosok pria berpakaian serba hitam terlihat mondar-mandir bersama beberapa orang berseragam polisi. Kilatan tajam dari matanya yang memantulkan cahaya lampu senter dan lampu mobil yang diparkir tak jauh dari tempatnya tak mampu menyembunyikan pikiran yang masih kacau. Sesekali ia berjongkok mengamati jejak ban yang membekas di jalan, tangannya terlihat gemetar saat mencatat sesuatu di buku kecilnya, juga saat menekan shutter kamera untuk mendokumentasikan sisa-sisa kejadian.
"Uzumaki-kun, kau bisa menyerahkan penyelidikan ini kepada kami. Kau tidak seharusnya ikut dalam penyelidikan ini." ucap salah seorang polisi senior kepada Kyuubi. Beberapa anak buahnya yang berada di dekat mereka sedikit menjauh.
"Aku punya izin resmi untuk bertugas disini. Walau pihak kepolisian melarangku ikut, aku mendapat izin penuh dari keluarga korban untuk menyelidiki kasus ini." gumam Kyuubi tanpa memperhatikan sang polisi. Entah karena suhu yang terlalu dingin atau karena alasan lain, suara Kyuu bergetar. Matanya merahnya sibuk mengamati jejak ban yang terlihat memutar sebelum akhirnya terputus di sisi jalan. Bisa dipastikan Sasuke sempat menginjak pedal rem kuat-kuat, lalu membanting stir ke kanan sebelum akhirnya bagian belakang mobil milik kakak iparnya itu menabrak pembatas jalan dan terjatuh ke jurang.
'Naruto.. tidak sempat merasa ketakutan kan? Obatnya bekerja kan?' tanya Kyuu pada dirinya sendiri. Ia menggigit kuat bibir bawahnya hingga memerah.
"Bukan begitu Uzumaki-kun, maksudku.. kau kan salah satu keluarga dekat korban, jadi kurasa sebaiknya kau –"
"Aku baik-baik saja." Kyuu akhirnya mempertemukan pandangannya dengan sang polisi, "Terima kasih banyak…"
Kyuu berjalan menuju pembatas jalan yang jebol dengan plat nomor yang masih dibiarkan tersangkut di atasnya. Ia berdecih kesal. Kenapa suaranya harus bergetar di saat seperti ini?
Ia memasukkan kedua tangan ke saku, ini benar-benar dingin. Dan entah bagaimana caranya, malam yang dingin ini hampir melelehkan sesuatu dari matanya.
Kakinya gemetar saat berdiri di sisi jalan. Mata Kyuubi tak sanggup melihat ke bawah. Walau api sudah padam sejak beberapa waktu lalu, hawa panas masih terasa di tempat ini.
Apa yang harus Kyuubi lakukan sekarang? Jujur, tidak ada yang bisa dilakukannya sebelum mereka diizinkan untuk turun ke bawah sana. Kyuu ingin turun sendirian tanpa meminta izin dari kepala penyelidik kasus ini, tohh dia memang bukan bagian resmi dari tim. Tapi, mengingat langit yang sudah gelap dan kondisi tanah yang licin, Kyuu mengurungkan niatnya. Turun sendirian sangat beresiko, dan kalau dia sampai terluka, Kaa-saan pasti bertambah sedih. Hanya satu yang dapat dilakukan Kyuubi saat ini, percaya bahwa Sasuke sudah membereskan semua tugasnya sebelum mobilnya terbakar.
Ketukan langkah kaki terdengar mendekat diiringi sebuah suara berat yang sangat Kyuubi kenal, "Pulanglah bersamaku.. Kita serahkan semuanya pada polisi."
Kyuubi menghela nafas panjang. Disibakkannya poni yang sudah menutupi mata, lalu berbalik menghadap pria berambut hitam panjang yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Dengar.." gumam Kyuu mendekatkan dirinya ke Itachi, "Kau sedang berbicara dengan tersangka utama penyebab terjadinya kecelakaan ini. Apa yang bisa kau harapkan dari fakta itu?" lanjut Kyuu berbisik.
Itachi hanya bisa memijit pelipisnya untuk mengurangi pikiran-pikiran rumit yang ada dalam kepalanya. Kalau boleh jujur, dia sangat ingin menghajar pria berambut orange di depannya ini.
Setelah puas melakukan itu, lalu… apa? Apa yang seharusnya dia lakukan? Haruskah marah? Sedih? Atau malah depresi? Tapi Otouto-nya menginginkan ini. Kalau Otouto bahagia, bukankah Itachi, sebagai kakak yang menyayanginya, juga harus bahagia?
"Aku akan tinggal untuk memastikan semua berjalan sesuai rencanaku. Tidak ada yang boleh menemukan apapun kecuali aku." Gumam Kyuu melangkahkan kaki menjauhi pembatas jalan. Matanya menatap nyalang barisan pencari berita yang berusaha mendapatkan informasi. Mereka berjejer tak beraturan di belakang garis pembatas. Ia juga sempat melirik para polisi, musuh terbesarnya saat ini.
"Kalau kau tinggal, aku juga tinggal." Itachi mengikuti sahabatnya itu. Tangan kanannya mengambil sesuatu dari dalam saku, ia berniat menelfon keluarganya..
"Kau juga harus bilang pada orang rumah. Jangan buat mereka khawatir."
"Aku tidak bisa membuat mereka kawatir lebih dari ini…" Kyuubi menuruti orang yang dianggapnya paling menyebalkan itu. Kalau Kyuubi yang dulu, pasti lebih memilih untuk menolak nasehat Itachi. Tapi sekarang…
"Dei.. Iya. Aku masih disini bersama Kyuubi. Hei.. apa kau menangis? Hmm.. –"
Ucapan sulung Uchiha yang terdengar pelan itu menyadarkan Kyuu. Ia langsung memencet nomor yang sudah dihafalnya diluar kepala, lalu memencet icon warna hijau. Setelah beberapa saat menunggu, suara lembut itu terdengar. Suara yang membuat Kyuubi merasa lebih tenang…
"Kyuu.."
"Bagaimana keadaan disana?" tanyanya basa-basi. Ia tahu betul apa yang akan diucapkan Shion. Walau begitu, Kyuubi tetap ingin memastikannya.
"Kaa-san masih menangis.., dia sempat pingsan. Tou-san menemaninya sejak tadi. Iruka-san dan Kakashi-san juga terlihat sangat terpukul."
"Hahaha.. tentu saja. Tidak akan ada bocah bandel yang menjahili mereka lagi.. Pasti begitu kan? Hahaha…"
Shion diam. Hatinya teriris mendengar tawa tanpa hati barusan. Setahunya, Uzumaki Kyuubi tidak pernah begini. Kebahagiaan yang berlebihan adalah tangisan, kesedihan yang berlebihan adalah tawa… Shion tahu apa yang dirasakan suaminya.
"Pulanglah.. aku ingin memelukmu." Bisik Shion. Dia ingin jadi tempat bersandar untuk Kyuu di saat-saat seperti ini.
"Aku harus tinggal. Mungkin, besok pagi baru bisa pulang. Masih mau memelukku?"
Shion bergumam meng-iya-kan. Kalau boleh jujur, dia ingin menyeret Kyuubi pulang. Berada di tempat seperti itu hanya akan membuat suaminya makin terluka.
"Kurama.. bagaimana dia." Ucap Kyuubi memecah keheningan yang sempat terjadi. Nada bicaranya masih terdengar kacau. Emosiya belum stabil.
"Barusan tidur.." Shion menghela nafas panjang, "Kyuu, kau tahu apa yang dia ucapkan sejak tadi?"
"Dia ingin menolong pamannya…" Kyuu mendongakkan kepalanya menatap langit kelam yang belum juga meneteskan hujan. Dia bingung harus merasa senang atau khawatir. Sejujurnya dengan begini, mereka tidak akan bisa mengirim penyelidik turun ke jurang sampai besok pagi. Tapi kalau tidak segera hujan, sesuatu di bawah sana…
"Ayo tolong Naruto. Kita tiup lukanya sama-sama biar cepat sembuh. Kita bawa kipas angin yang besar biar Naruto tidak kepa –nasan…"
"Maaf ya, Shion. Padahal aku janji tidak akan membuatmu menangis…"
Setetes air menelusur pipi Kyuubi saat dia menanggapi gumaman istrinya yang tersengal di bagian akhir. Dia tahu, Shion menangis… begitu juga dengan Kyuu.
"Sudah dulu ya.. Kau juga harus istirahat. Tolong sampaikan pada yang lain kalau malam ini aku tidak pulang. Aku mencintaimu."
Dan Kyuu mengucapkan kalimat-kalimat itu seenaknya tanpa menunggu jawaban Shion. Kalimat pendek-pendek yang tidak berhubungan satu dan yang lainnya itu menjadi bukti betapa Kyuu tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Saat itulah sebuah tangan menutup matanya, lalu menariknya. Entah sejah kapan makhluk itu ada disana, yang jelas, sekarang ini ia memaksa kepala Kyuubi untuk bersandar di pundaknya.
"Keriput. Lepaskan." Ucap Kyuu dengan nafas naik turun. Kalau saja ia dalam kondisi biasa, pasti yang keluar dari bibirnya adalah nada protes.
"Katakan itu lagi kalau tubuhmu sudah bisa mendorongku menjauh." Itachi bergumam ringan. Ia tahu, Kyuu sedang tidak memiliki keinginan untuk bertengkar dengannya. Bukannya memanfaatkan kesempatan, Itachi hanya sedang merasakan hal yang sama dengan Kyuu. Sama-sama merasa sangat kehilangan.
Kyuubi memutuskan untuk diam, sementara Itachi bisa merasakan tangannya menghangat. Bukan hangat yang berasal dari tubuh Kyuu, ataupun tubuhnya, tapi hangat yang mersumber dari air mata yang mengalir dari mata detektif berambut orange.
Sesaat kemudian, setetes air yang terasa dingin turun dari langit, diikuti dengan ratusan tetes lainnya yang seolah ingin menyembunyikan sosok Kyuubi yang lemah dari semua orang. Itachi sadar, ada seseorang yang mengarahkan lensa kamera ke arahnya, namun ia lebih memilih untuk mengabaikannya.
"Kyuu kita berteduh!" seru Itachi menarik Kyuu ke arah gerombolan para polisi yang sudah terlebih dahulu berkumpul di mobil bak terbuka yang terpasang atap tenda di bagian belakang. Mobil yang dibawa para polisi.
"Sial." Umpat Kyuu dengan nada datar saat ia melompat masuk ke mobil. Ia melepas jaket, lalu mengibaskannya beberapa kali untuk mengurangi air disana.
"Uchiha-kun, Uzumaki-kun, sepertinya hari ini kita tidak bisa melanjutkan penyelidikan." Ucap sang polisi senior mendekati mereka.
Itachi dan Kyuubi sempat saling bertatap mata, lalu mengangguk hampir bersamaan.
"Kurasa cuaca sedang tidak mendukung. Apa boleh buat…" balas Itachi mencoba tenang. Ia tersenyum, sebuah senyum penuh paksaan yang langsung disadari sang polisi.
"Kami benar-benar minta maaf, tapi.. kondisi medan yang sulit, juga hujan yang turun lebat dan kabut yang semakin tebal membuat –"
"Tidak apa-apa kok. Kalian pulang saja."
"Kyuu…" sahut Itachi cepat. Tangannya menarik lengan Kyuu, mencoba memberi tahu kalau ucapannya barusan sangat tidak sopan.
"Kurasa memang seharusnya begitu. Kondisi disini juga rawan longsor. Mungkin sebaiknya kita lanjutkan besok pagi." Itachi mencoba memperhalus maksud Kyuu. Ia yakin, polisi satu ini juga berniat mengatakan hal yang sama.
"Kami akan kembali membawa alat bantu yang memadahi. Kami juga akan menambah jumlah anggota tim Search and Rescue, lalu –"
Kyuubi menghela nafas panjang. Tim dari kepolisian pasti akan menyisakan beberapa polisi, juga beberapa orang dari tim Search and Rescue (SAR). Dia tetap tidak bisa bertindak seenaknya…
Meninggalkan Itachi yang sedang berbincang dengan polisi, Kyuu membuka tas slempang berbahan kulit yang dipakainya. Ia coba memastikan bahwa kamera, tab dan dompet yang ada di dalamnya baik-baik saja.
"Begini, bolehkah kami tetap tinggal? Maksudku, mengenai mereka…" Itachi menolehkan kepalanya ke arah beberapa wartawan yang masih tetap tinggal di belakang pembatas kuning,"Beberapa dari mereka sedikit 'gila'. Aku ingin memastikan sendiri bahwa mereka akan tetap berada di belakang garis."
Polisi itu mengangguk mengerti. Ia tahu betul siapa yang dimaksud Uchiha sulung di depannya. Orochimaru.. dia juga sering membuat berita miring mengenai birokrasi pemerintah. Walau begitu, mereka tidak bisa melarang majalahnya terbit untuk beberapa alasan.
"Walaupun menurutku, sebaiknya kalian pulang dan beristirahat.. menenangkan diri, tapi kalau kalian memaksa.. apa boleh buat."
Setelahnya, sebagian besar dari tim penyelidik yang terdiri dari enam orang polisi dan lima orang tim SAR berkurang menjadi dua orang polisi dan dua orang tim SAR untuk berjaga di tempat ini.
Kyuubi menghela nafas lega. Sejauh ini, semuanya berjalan sesuai rencana…
Ahh… untuk beberapa alasan, dia ingin segera menelfon Hyuuga Neji.
Kalau dia pulang nanti, kira-kira apa yang akan dikatakan Tou-sannya ya? Kaa-san… apa yang harus Kyuu lakukan jika bertemu Kaa-san. Kurama… dia pasti akan marah karena papanya tidak berhasil menyembuhkan luka sang paman. Dia akan sangat sedih kalau tahu pamannya tidak akan kembali…
"Kyuu. Ayo…" gumam Itachi memecahkan lamunan rivalnya. Alis Kyuu mengeryit, tidak pahan dengan ucapan sulung Uchiha.
"Kita ke mobil…" Itachi menjelaskan. Kyuu yang melihat isyarat mata Itachi hanya bisa menghela nafas berat tanpa bisa bertanya lebih banyak lagi. Dia tahu, disini ada banyak orang.
Kyuubi menutupi kepalanya dengan jaket, lalu berlari menuju mobil Itachi yang hanya berjarak lima langkah dari tempatnya sekarang. Membanting tubuhnya ke kursi penumpang depan, lalu membanting kuat-kuat pintu mobil, Kyuu mendapat tatapan tajam dari pria yang sibuk membuka sedikit jendela-jendela mobilnya.
"Setelah menghancurkan mobil Dei, kau ingin merusak mobilku?"
Kyuubi berdecih. Firasat yang mengatakan bahwa dia akan diintrogasi oleh sahabatnya ternyata benar.
"Hmm.." Gumam Kyuu menyamankan posisi duduknya. Jujur, ia tidak akan merasa nyaman duduk di kursi depan mobil Itachi, apalagi hanya berduaan begini. Kenapa orang terkaya di Konoha sepertinya tidak ganti mobil? Padahal sudah empat tahun lebih sejak saat terakhir Kyuu melihat mobil ini.
"Tanyakan satu-satu. Aku juga akan jawab satu-satu…"
"Apa kau yakin, semua akan –"
"Tentu!"
"Benar?"
"Ya. Nyawaku taruhan –"
"Jangan sampai kami kehilangan kau juga!" tegas Itachi memotong ucapan ngawur Kyuu. Setelahnya, mereka sama-sama diam…
.
.
Pagi Berikutnya –Bukit Hokage, Konoha
Beberapa awan mendung masih menghalangi sinar terang sang matahari dari ufuk timur, namun garis keperakan pada awan yang tercipta dari sinar matahari yang menembus awan-awan putih mulai terlihat di beberapa awan lainnya.
Suara mobil berhenti, diiringi dengan suara langkah-langkah kaki berbalut sepatu boots mengusik seorang detektif muda yang masih terlelap di kursi penumpang sebuah mobil berwarna gelap.
Percakapan rancu yang berasal dari suara-suara yang asing baginya mulai terdengar jelas. Kalau tidak salah, kemarin malam dia sedang berada di –
'degh!'
Kyuu membelalakkan matanya. Bagaimana bisa dia ketiduran disaat begini?
"Hei Keri –" ia memotong kalimatnya sendiri saat menyadari orang yang semalam duduk di kursi sebelahnya sudah tidak ada. Mengedarkan pandangan keluar melalui kaca, Kyuu menghela nafas lega saat mendapati sosok berambut hitam dikuncir sedang berbincang dengan beberapa orang berseragam kaos lengan panjang.
Benar.. semalam dia sepakat untuk bergantian jaga dengan Itachi untuk memastikan para pencari berita tetap berada di tempatnya, sekaligus mengawasi para penyelidik.
Kyuubi mencoba menenangkan dirinya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sambil memijit pelipisnya. Hari ini dia akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya seumur hidup.
Pria brambut berantakan itu merenggangkan tubuhnya, sedikit merapikan rambut, lalu keluar dari mobil mendekati Itachi.
"Kyuu, mereka akan turun…" ucap Itachi saat ia membalikkan badan dan mendapati sosok Kyuu sudah berada di belakangnya.
"Apa kami boleh ikut?" tanya Kyuu kepada tim SAR yang sudah mempersiapkan diri. Mereka bersiap menelusur sisi jalan ini hingga ke dasar jurang. Bagaimanapun, masih ada kemungkinan Sasuke dan Naruto menyelamatkan diri dan sedang berlindung di suatu tempat.
"Kami sangat menghargai itu, tapi kurasa.. sebaiknya jangan. Kondisi tanahnya sangat licin dan curam, kabut juga masih menghalangi jarak pandang. Akan sangat berbahaya.." sahut salah satu dari mereka,
"Begitu ya? Mungkin, aku juga malah akan merepotkan…" gumam Kyuubi dengan ekspresi yang membuat Itachi berjalan beberapa langkah mendekati Kyuu. Ia harus bersiap jika sesuatu yang tak terduga terjadi.
"Bukan! Bokan begitu, tapi ini memang sangat berbahaya, kami tidak ingin kau terluka –"
"Tolong!"
Diluar dugaan, Kyuu membungkukkan tubuhnya dalam, suaranya sedikit meninggi.
"Kumohon temukan adikku, juga Sasuke. Aku akan menunggu. Jadi.. Kumohon! Bagaimanapun keadaannya, aku ingin mereka pulang!"
Keterkejutan yang dirasakan Itachi tak kalah besarnya dengan para tim search and rescue. Bisa-bisanya Kyuubi melakukan ini untuk menutupi hal yang sebenarnya ingin dia lakukan.
"Kami.. akan berusaha sekeras mungkin!" seru beberapa dari mereka mantab, membuat Kyuu menegakkan badannya, kemudian tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
Tim search and rescue yang akan turun dengan beberapa anggota polisi akhirnya pergi dan memulai pencariannya. Meninggalkan Kyuubi yang masih tersenyum dan Itachi yang masih mematung.
"Pagi yang indah…" gumamnya menunjukkan sorot yang tidak sesuai dengan ucapan dan ukiran bentuk bibirnya, menyadarkan Itachi dari lamunannya.
Itachi mengangkat kakinya cukup tinggi, lalu menghentakkannya tepat di atas kaki Kyuubi.
"Ugghh! Kau –" protes Kyuubi terpotong saat ia menatap obsidian yang seakan ingin membunuhnya.
"Jangan seenaknya menyeringai!" ucap Itachi dengan nada super rendah, hampir tanpa suara. Namun Kyuu tentu bisa membacanya dengan mudah.
Kyuubi hanya bisa berdecih kesal. Itachi adalah satu-satunya orang yang menyadari seringaiannya saat ia membungkukkan badan. Menyembunyikan kebiasaan dari orang yang sudah lama kau kenal ternyata susah juga.
Kyuubi berjalan meninggalkan Itachi menuju pembatas jalan yang jebol, lalu duduk di dekatnya. Ia mengeluarkan pocket camera-nya, juga buku kecil yang sejak kemarin dibawa. Orang-orang yang melihat pasti berpikir kalau Kyuu sedang memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan penyelidikan kecelakaan ini.
Bohong.
Kyuubi tidak melakukan itu. Tangan kirinya memegang ponsel, lalu mengetik pesan yang akan dikirimkan kepada seseorang. Ia sangat berhati-hati dalam memilih kata. Bagaimanapun, sedikit saja bukti yang bisa ditemukan oleh polisi bisa menyeretnya ke dalam kasus ini. Kalaupun itu harus terjadi, dia tidak ingin mengajak orang lain untuk ikut.
Tak lama kemudian, benda di tangan kirinya bergetar. Kening Kyuu mengeryit saat matanya membaca sebuah nama yang sangat ia kenal, tapi bukan pesan dari orang ini yang ditunggu-tunggunya.
.
From: Belle-Shion
Subject: Pulang
Kyuu, pulanglah.
Tou-san ingin bertemu denganmu…
.
Kyuubi menghela nafas berat. Dia tidak bisa kembali sekarang kecuali ada yang menggantikannya di sini. Dan orang yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Konan dan Pein. Kalau saja mereka disini…
"Kyuu kau mau makan apa?" tanya Itachi yang lagi-lagi muncul di belakangnya.
"Kau mau pergi?" balas Kyuu membalikkan badan. Ia sedikit mendongakkan kepala untuk menatap mata rivalnya yang kelihatan sangat mengantuk.
"Pein sedang dalam perjalanan ke sini."
"Bersama Konan?"
Dan anggukan Itachi membuat Kyuubi tersenyum simpul. Ia merasa sedikit lega. Dengan begini, dia bisa pulang dan bertemu dengan putranya. Kalau masalah Tou-san… nanti saja dipikirkannya.
"Kalau mereka menggantikan kita disini, apa bisa?"
Kali ini sulung Uchiha mengeryitkan dahi. Apa yang membuat Kyuu ingin pergi dari sini? Bukannya dia bilang tidak mau pulang? Kenapa pula dia membiarkan Pein dan Konan berada di sini?
"Tch!" Itachi berdecih kesal. Dia baru ingat, Konan dan Pein adalah teman Kyuu juga. Selain itu, kalau tidak salah, Kyuu sudah mendapatkan mereka jauh sebelum Itachi tahu rencana ini.
"Baiklah… Asal aku boleh pulang bersamamu."
.
.
Kediaman Uzumaki
"Brengsek sekali sulungmu. Bagaimana bisa semua jadi begini:? Dia pikir hidup seseorang adalah sebuah permainan?" bentak seorang berperawakan tegak kepada pria bermata azure yang terduduk lesu di hadapannya.
"Dengar, aku bisa menuntut putramu itu!" kali ini ia menatap tajam mata teman lamanya yang mulai berdecih kesal.
"Kalau kau menuntutnya, lalu apa? Deidara, Itachi, Pein, Konan.. semuanya akan ikut terseret. Kita akan sama-sama hancur." Minato menutup kelopak matanya, menutupi sorot azure-nya yang meredup. Saat ini, percuma saja bertengkar, tidak ada satupun masalah yang bisa selesai dengan itu.
"Tch!" Fugaku akhirnya hanya bisa berdecak sebal. Benar yang dikatakan rekan bisnisnya itu. Kalau sampai salah mélangkah, mereka akan kehilangan semuanya.
Keheningan pun tercipta.
Apa yang harus mereka lakukan? Tanpa harus menunggu hasil penyelidikan polisi pun, sebenarnya mereka sudah tahu apa yang terjadi. Walau begitu, mereka harus tetap menunggu…
"Minato…" gumam Fukaku. Mata gelapnya menatap kosong rak berisi buku-buku tebal yang ada di sampingnya. Ruang kerja Minato hampir sama dengan miliknya, penuh dengan buku.
"Mungkin ini balasan untuk kita." Fugaku memijit -tiba saja ia mengingat apa yang diucapkan bungsunya tempo hari. Sesuatu tentang kebahagiaan semu yang mengorbankan perasaan banyak orang.
"Sasuke sepertinya tahu masa lalu Kyuu dan Itachi."
Minato menegakkan badannya, mencoba mencerna ucapan Fugaku.
'Apa Naruto juga tahu?' tanya Minato dalam hati.
"Dan sepertinya.. Deidara juga sudah tahu."
"Kau tidak sedang bercanda kan?" tuntut Minato. Bagaimana bisa Deidara tahu hal ini? Apa Kyuu memberitahunya? Atau malah Itachi yang mengatakan hal itu kepada Deidara?
Dan pertanyaan sederhana Minato mendapat sebuah helaan nafas dari sang kepala keluarga Uchiha sebagai jawaban.
Ini benar-benar sulit dimengerti… Sangat sulit bagi mereka berdua.
"Tou-san…"
Gumam sebuah suara diikuti dengan terbukanya pintu ruang kerja Minato. Kyuubi dan Itachi pun langsung masuk tanpa harus repot-repot meminta izin terlebih dahulu.
"Kau.. kenapa kesini?" selidik Fugaku kepada sulungnya. Ia tahu Itachi bersama Kyuubi di TKP, dan mungkin mereka pulang bersama. Tapi kenapa Itachi ikut masuk, bukannya langsung pulang menemui istrinya?
"Aku lihat mobil Tou-san di luar, jadi kuputuskan untuk mampir." Gumam Itachi santai. Ia mengikuti Kyuubi yang duduk di kursi sofa panjang, berhadapan dengan Minato dan Fugaku yang duduk terpisah.
"Jadi.. bagaimana?" tanya Minato to the point. Ia ingin Kyuubi menjelaskan semuanya, termasuk kecurigaan mereka atas Sasuke yang sepertinya mengetahui masa lalu Itachi dan Kyuu.
"Masih berjalan sesuai rencana-ku. Kalian urusi para wartawan saja."
Penekanan pada kata '-ku' yang barusian diucapkan Kyuu mendapat decihan kesal dari Fugaku. Putra bungsu rivalnya ini memang tidak pernah lagi bersikap sopan kepadanya. Padahal seingatnya, dulu Kyuu adalah anak yang manis. Dia juga pintar dan tahu apa yang harus dilakukan sebagai pewaris keluarga Uzumaki.
'Deghh!'
"Ada hal lain yang ingin kutanyakan kepada kalian, terutama kau.. Itachi."
Jujur, Itachi kaget saat mendapat tatapan tajam Tou-sannya. Seharusnya dia disini hanya sebagai pendengar, juga penyegel amarah orang yang kini duduk di sebelahnya kalau-kalau ayah satu anak itu lepas kendali. Mengingat Kyuu yang sangat tidak menyukai Fugaku, hal itu sangat mungkin, dan Itachi tidak ingin itu terjadi.
Walau begitu, Itachi mencoba untuk tenang. Mengingat apa yang tadi Kyuu katakan padanya, memang hanya ini yang bisa ia lakukan.
.
"Mobil Tou-san disini. Biarkan aku ikut denganmu." Gumam Itachi mengikuti Kyuu yang berjalan masuk ke rumahnya.
"Tidak. Kau pulang saja temui Dei." Balas Kyuu malas-malas.
"Aku tidak mau emosimu meluap dan kelepasan bicara."
"Aku tidak akan ke –"
"Dengar!" bentak Itachi pada akhirnya. Ia mencekal kuat pergelangan tangan Kyuubi. "Aku hanya tidak mau kau bicara aneh-aneh dan membuatnya marah. Asal kau tahu saja, kalau kau kelepasan, dia bisa melakukan hal seperti dulu."
Kyuu menghela nafas berat. Ia tahu betul apa yang dimaksud Itachi.
"Jadilah pendengar yang baik. Jangan katakan apapun jika aku tidak memintamu."
Dan Itachi melepaskan lengan Kyuu sebagai persetujuan atas syarat yang diajukam sang sahabat.
.
'Kalau begini.. mau tidak mau aku harus menjawab pertanyaannya.' Itachi menghela nafas dalam diam. Mungkin nanti Kyuu akan mengamuk karena dia banyak bicara. Tapi kalau Itachi tidak menjawab pertanyaan Tou-sannya, Kyuubi juga yang akan repot.
"Itachi…" Fugaku mengambil jeda yang cukup lama, "Apa Sasuke tahu soal hubungan kalian?"
Menghela nafas ringan, Itachi menjawab dengan tenang. "Sasuke tahu semuanya."
"Bagaimana dengan Deidara?"
"Dia juga tahu." Itachi mengepalkan tangannya erat. Matanya sekilas melirik Kyuubi. Tanpa bertukar kata, mereka sama-sama tahu apa yang akan ditanyakan Fugaku selanjutnya.
"Bagaimana dia tahu?"
Butuh beberapa saat sebelum akhirnya sebuah suara keluar untuk menjawab pertanyaan ini. "Tentu saja a –"
"Aku yang beri tahu dia. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari istriku." Itachi menaikkan suaranya, meleburkan ucapan datar Kyuu yang kini menatapnya kesal.
"Kau gila!?" teriak Fugaku setengah bertanya. Ia menegakkan tubuhnya, membuat siapapun yang melihat mengerti bahwa pria paruh baya itu sedang tidak tenang.
"Aku hanya percaya padanya.."
Gumaman mengambang itu sejujurnya terdengar meragukan. Sangat meragukan. Tentu saja Itachi tidak yakin dengan ucapannya sendiri karena faktanya, Kyuubilah yang memberi tahu Deidara.
"Shion juga tahu…" timpal Kyuu menarik nafas dalam. "Apa kalian takut kalau-kalau mereka membongkar masa lalu hubungan ter –la –rang kami ke public?"
Penekanan pada kata 'terlarang' membuat ucapan Kyuu terdengar sarkastik. Sesaat ruang kerja Minato menjadi sangat sepi, hanya ada suara jarum jam di dinding dan bibir Kyuu yang sesekali berdecak.
"Kyuu. Sebenarnya, apa maumu?" Minato memijit pelipisnya. Ia sadar, marah tidak akan bisa membawa putra bungsunya kembali, begitu juga dengan bersedih. Lalu, apa yang harus dia lakukan?
"Aku ingin Naruto bahagia, dan juga …" senyum simpul terkembang di bibir Kyuu. Senyum tulus yang kini terpantul di obsidian Itachi itu membuat sang sulung Uchiha sesak. Ia tahu, Kyuubi orang yang paling terluka disini.
"Dan..?" ulang Minato. Ia menunggu lanjutan dari kalimat sulungnya yang belum selesai.
Senyum tulus yang sempat terkembang kini berubah menjadi seringaian meremehkan, " –anggap saja aku balas dendam kepada kalian."
Itachi diam-diam mencengkeram kuat pergelangan tangan Kyuubi. Ucapan Kyuubi barusan sangat keterlaluan. Sebentar lagi pasti ada yang akan meledak.
"Kau!" Fugaku berdiri kemudian melangkahkan kakinya mendekati Kyuubi. Tangannya terkepal erat. Itachi yang tahu betul apa yang akan dilakukan Fugaku bangkit dan berdiri membelakangi Kyuubi, memblokir akses mata Tou-sannya yang menjadikan Kyuu sebagai target.
"Apa yang kau lakukan? Minggir, Itachi!" suara berat Fugaku terdengar menggema di ruangan kedap suara itu. Hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi…
"Tou-san mau apa?" Itachi menjawabnya datar. Mati-matian ia mencoba tetap tenang.
"Aku akan memberinya pelajaran! Bocah tidak tahu diri itu –"
"Memberi pelajaran padaku?" potong Kyuu, "Matematika, Fisika, Sejarah.. pelajaran yang mana? Kurasa nilaku-nilaiku sangat bagus."
Kepala keluarga Uchiha yang berdiri penuh amarah itu semakin geram mendengar ucapan sulung Uzumaki. Ditatapnya tajam sang putra yang berdiri tepat di hadapannya, seolah memberi isyarat untuknya agar menyingkir.
"Dengar Itachi. Berandal di belakangmu itu adalah pembunuh adik kesayanganmu, Sasuke! Tidak seharusnya kau melindungi orang sepertinya! Dia seharusnya –"
"Fugaku!" bentak Minato yang sedari tadi diam. Kilatan matanya menunjukkan bahwa ia tidak suka Fugaku bicara begitu kepada putra sulungnya.
"Paman…" tangan langsat Kyuubi mendorong tubuh Itachi ke kanan, menciptakan space yang cukup untuknya bertatapan mata dengan Fugaku.
"Aku tidak hanya membunuh Sasuke, aku juga membunuh Naruto. Aku tidak hanya membuatmu dan bibi Mikoto kehilangan putra kesayangan kalian, aku juga membuat Tou-san dan Kaa-san kehilangan putra kesayangan mereka. Kau benar.. aku yang membunuh kedua orang itu."
"Kyuu.." bisik Itachi sembari meremas pundak rivalnya. Suara Kyuubi mulai bergetar, butuh beberapa saat bagi detektif muda itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Bagi kalian, asal ada tubuh mereka yang bernyawa dan menuruti semua keinginan kalian mungkin sudah cukup. Tapi bagi mereka, hidup seperti itu hanya membuat penderitaan semakin bertambah. Tanyakan pada Itachi.. juga aku. Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa kau miliki?"
Kyuu tidak melanjutkan kalimatnya, seolah meminta Itachi menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak membutuhkan respon itu. Itachi menarik nafas dalam sebelum melepas tangannya dari pundak Kyuu dan mulai berbicara menatap kedua pria paruh baya di hadapannya.
"Aku tidak tahu." Gumam Itachi memancing senyum getir di bibir Kyuubi.
"Mungkin.. sangat menyakitkan sampai-sampai aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak menangis, aku tidak merasa sedih, apa lagi marah. Aku… mati rasa." Kali ini Itachi yang tersenyum getir setelah menyelesaikan ucapannya sendiri.
"Mungkin perasaan kami memang tidak sebesar yang kami kira. Aku menemukan Shion yang mau menerima aku dan masa laluku. Aku mencintainya. Dan Keriput brengsek ini akhirnya menyadari perasaannya untuk Dei."
Semua orang di ruangan itu tahu, suara Kyuubi bergetar hebat.
"Tapi mereka berdua… aku yakin mereka tidak akan bisa melakukan hal yang sama. Sasuke pernah membawa Naruto kabur, Naruto pernah melompat dari lantai dua dan menceburkan dirinya ke kolam hanya karena ingin bertemu Sasuke. Jika kalian terus menghalangi, Sasuke dan Naruto bisa saja menghancurkan kalian hanya agar mereka bisa bersama…"
Semua diam.
Kyuubi sendiri masih bingung dengan maksud perkataannya barusan, tapi ketiga orang lainnya menangkap maknanya dengan sangat jelas.
"Tou-san, jangan terus menyalahkan Kyuu. Aku terlibat dalam kejadian ini. Deidara, Pein, Konan, Shion dan Neji juga terlibat. Kumohon percayalah pada kami. Tidak akan ada yang tahu kalau kasus ini hanya rekayasa jadi –"
"Rekayasa atau bukan, Sasuke dan Naruto tidak akan kembali. Bagaimana bisa kami tenang?" sahut Fugaku. Pria yang biasanya terlihat garang dan bijaksana itu benar-benar tampak kacau. Ia sama sekali tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Aku benci mengatakan ini." gumam Minato. Ia yang cukup lama diam akhirnya kembali angkat bicara. "Kyuu, Tou-san tidak menyangka kau benar-benar melakukan ini. Tou-san pikir kalian –"
" –hanya menggertak?" Kyuu mendengus sekali. "Menggertak kalian tidak akan membuahkan apapun, jadi kuputuskan untuk melakukan ini semua."
Suasana kembali hening sampai akhirnya terdengar teriakan bernada tinggi dari luar, "Papaaaaa! Paaappaaaaaa!"
Kyuubi menarik nafas dalam-dalam. Disibakkannya ke atas poninya yang memanjang, lalu ia mulai berdiri.
"Aku harus mengurus yang lain…" gumamnya beranjak meninggalkan ruangan. Sesosok anak kecil yang menangis dengan suara serak memaksa masuk dan menubruk kaki Kyuubi saat ia membuka pintu. Pria bermata ruby itu tersenyum getir, lalu mencoba menenagkan putranya yang terus menerus memanggil nama sang paman.
Bersama Kurama, Kyuubi meninggalkan ruang kerja Minato. Dalam hati, dia berterima kasih kepada putranya yang tiba-tiba datang. Jujur, Kyuu tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika ia terus-terusan ditekan oleh Fugaku.
"Seharusnya kalian tahu, dia yang paling menderita atas kejadian ini." gumam Itachi pasca Kyuu menghilang di balik pintu yang tertutup.
"Itachi, kenapa kau menyetujui rencana gila Kyuubi?" ucap Minato mencoba tenang, Azure-nya menyelidik onyx Itachi yang terus memandang karpet di bawah kakinya.
"Saat pertama kali Kyuubi kembali ke Konoha, dia membenciku –bukan! Dia marah padaku." Itachi mengangkat wajahnya, menatap kosong kedua pria paruh baya yang duduk di seberang meja. Itachi menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Dia bukannya marah karena dulu aku meninggalkannya. Kyuu marah karena aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan."
Kali ini onyx Itachi bertemu dengan bola mata berwarna senada milik Tou-sannya. Ia mencoba merangkai kata-kata yang berlompatan di dalam otaknya menjadi sebuah kalimat yang mudah dimengerti. Melakukan hal seperti itu pada saat begini, rasanya sangat sulit.
"Mungkin ini terdengar egois, tapi… Aku hanya tidak ingin Otouto membenciku."
Selama lebih dari lima menit mereka bertiga hanyut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya apa yang ingin mereka selesaikan? Apa yang mereka bicarakan? Rasanya pertemuan ini sia-sia saja…
"Akan kucoba urus para wartawan. Apa yang harus kami katakan?"
Ucapan Minato memancing raut kaget di wajah Fugaku, sedangkan Itachi tersenyum simpul. Sedikit banyak dia merasa lega. Persetan dengan ayahnya. Paling tidak kepala keluarga Uzumaki mau bekerja sama.
"Neji yang akan menjelaskannya kepada kalian. Seperti yang kami atur, dialah yang pertama kali mengetahui kejadian ini, dalam posisi sebagai pencari berita tentunya. Dia dan majalahnya menjadi salah satu saksi untuk kejadian ini, jadi Neji lebih leluasa keluar masuk kantor polisi, baik sebagai saksi ataupun sebagai mata-mata kita."
" –tunggu! Maksudmu Neji.. Hyuuga Neji pewaris Byakugan Shoot yg memiliki majalah, stasiun TV? Teman sekolah Sasuke dulu?" potong Fugaku cepat.
"Bukannya tadi sudah kusebut namanya?" gumam Itachi menggunakan pertanyaan lain sebagai jawaban dari pertanyaan Tou-sannya.
"Jadi pantauan udara itu berasal dari mereka.." Minato kembali memijit pelipisnya. Benar juga, putranya tidak akan melakukan ini kalau persiapan mereka belum matang. Faktanya adalah Byakugan Shoot selalu melakukan pantauan udara setiap pagi dan sore demi mendapat informasi actual, terutama pantauan lalu lintas untuk stasiun TV mereka. Neji yang biasanya berkutat di majalah bisa saja memberi alasan-alasan tertentu untuk ikut dalam pantauan sore itu, lalu selanjutnya… semua berjalan sesuai yang diinginkan sulung Uzumaki.
Minato member isyarat mata kepada Fugaku, seolah dia mengatakan bahwa ada yang harus mereka berdua bicarakan. Menghela nafas berat, Fugaku mengangguk setuju.
"Itachi, pulanglah.. Temani Dei dan Kaa-sanmu."
Tanpa memberi banyak respon, Itachi mengangguk dan segera meninggalkan ruangan itu. kalau boleh jujur, dia juga ingin segera pulang dan memeluk istrinya.
"Beri tahu aku kalau kalian sudah siap. Akan kusampaikan kepada Neji.. juga Kyuu." Gumam Itachi sebelum menutup pintu.
Pria berambut pirang cerah kemudian menghela nafas, tubuhnya seolah melemas saat bersandar pada kursi. "Kurasa kita memang harus mengalah kali ini…"
"Kita tidak bisa mengalah." Tegas Fugaku menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Minato yang mendengar itu hanya melirik malas rekan bisnisnya itu.
"Kita memang sudah kalah…" lanjut Fugaku menatap Minato. Bibirnya tersenyum namun matanya seolah terluka. Benarkah yang ada dihadapannya saat ini adalah Uchiha Fugaku? Orang yang terkenal tegas, bahkan arogan itu? Minato hanya bisa menghela nafas menanggapi pertanyaannya sendiri. Lebih dari 20 tahun mengenal Fugaku, belum pernah dia melihat Fugaku yang seperti ini.
" –Bahkan putramu berhasil membuatku kehilangan kendali. Kurasa 'balas dendamnya' berhasil."
"Mungkin… memang Kyuubi yang paling terluka. Dia sangat menyayangi Naruto. Kalau bukan karena Naruto yang menyukai Sasuke, mungkin dia sudah membunuh putramu gara-gara kejadian tenggelam waktu itu…" sahut Minato dengan nada bercanda. Walau begitu, tidak ada yang terkikik, apalagi tertawa…
.
.
"Papaaa.. Mana Naruto? Papaaa!" Kyuubi memeluk putranya, menggendongnya menaiki tangga.
"Paappaaaaa!?" teriak Kurama kesal. Air mata terus meleleh di pipinya, suaranya serak, tenggorokannya mulai terasa sakit. Dari tadi dia terus bertanya namun Papanya seolah acuh tak mempedulikan.
"Iruka-san, kau bisa beristirahat. Biar Kurama bersamaku saja." Ucap Kyuubi kepada Iruka yang berjalan mengikutinya. Pria berkuncir itu memang sedang bersama Kurama saat bocah itu tahu kalau Papanya pulang. Otomatis dia juga yang mengejar Kurama ketika bocah berambut orange itu berlari untuk bertemu dengan sang Papa.
"Tapi Tuan Muda.."
"Aku tidak apa-apa." Balas Kyuubi cepat. Ia langsung masuk ke kamar dan menutup pintunya tanpa menunggu jawaban Iruka.
"Naruto… Papaa Naruto manaa! Papaaaa! Naaaarruuttooo!"
Kyuu mendekap erat putranya yang terus bertanya. Disandarkannya punggung ke pintu saat tubuhnya terasa berat dan kakinya melemas.
"Maafkan Papa.." bisik Kyuu lemah. Tubuhnya bergetar hebat saat tangan Kurama yang sedari tadi menarik-narik bajunya berhenti begitu saja.
"Papa?" tanya Kurama heran saat Papa yang mendekapnya jatuh terduduk. Rasanya sesak, Kurama hampir tidak bisa bernafas. Detak jantung Papanya terdengar begitu keras seperti bunyi ribuan buah apel yang jatuh ke tanah.
"Maafkan.. Papa…" ulang Kyuubi dengan suara tersengal. Saat itulah Kurama mulai merasakan sesuatu yang basah di pundaknya. Rasanya hangat…
"Papa kenapa…" Tanya Kurama polos. Rasa kesal dan tangisannya kini digantikan oleh rasa penasaran dan bingung atas tindakan sang Papa.
Tidak biasanya Papa memeluknya seperti ini. Tidak biasanya suara Papa terdengar parau. Pundaknya yang terasa basah dan hangat… Apa Papamya menangis?
Tidak!
Setahu Kurama, Papanya tidaklah cengeng!
Papa kuat dan keren! Papa tidak cengeng!
Lalu, kenapa Papanya menangis? Apa karena Naruto marah sama Papanya gara-gara Papanya terlambat datang?
"Papa.. apa Naruto marah?"
Kyuubi menggeleng. Hatinya terasa sakit. sangat sakit.
"Apa luka Naruto sembuh?"
Kali ini Kyuubi tidak merespon. Kurama hanya bisa mendengar nafas Papanya yang tersengal.
"Papa, Naruto dimana…" Air mata kembali meleleh mengaliri pipi Kurama saan Kyuu mengeratkan pelukan sebagai jawaban.
"Papa… kapan Naruto pulang?"
Kyuubi menggeleng pelan, "Maafkan Papa…"
"Bohong!" teriak Kurama keras, "Naruto janji mau main game denganku! Papa bohong!"
"Maafkan Papa… Jangan benci Papa ya…" suara yang terdengar putus asa itu membuat Kurama menangis semakin keras. Ia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi, kenapa Naruto tidak pulang?
Apa Naruto takut Kurama marah karena ia pulang terlambat? Kurama tidak akan marah.. Ia janji tidak akan marah asalkan Naruto pulang.
Kenapa Papanya bersikap seolah Naruto tidak akan pernah pulang?
Kenapa Papanya terus minta maaf?
"Papa.. dimana Naruto.. Papa…"
"Maafkan Papa, Kurama…"
.
.
Tbc
.
.
Akhirnya update jugaaaa *sujud syukur*
Setelah Kyuu mati-matian nyelesein TA, langsung pendadaran dan ngurus berkas-berkas yudisium and wisuda yang seabrek dan bikin sakit hati.. akhirnya bisa nulis ff lagi.
Yayyy! Sayonara academic writing.. I'm home fan fiction writing…
*curcol* Kyuu sempat kesulitan ngerangkai kata gegara kemarin-kemarin berkutat dengan Bahasa Inggris.
Dan kayaknya tambah ancur gaya bercerita Kyuu *dilempar KBBI*
Well.. Kyuu seneng karena udah selesai. Untuk Sorry I'm GAY and Sinful Requiem juga sedang dalam proses pengetikan… mohon sabar ya *berasa pengarang tenar, padahal pengetik abal*
Semoga chap ini gak bikin readers-sama muntah-muntah…
Well..saatnya bales review :3
.
maaf udah bikin nunggu lama.. hope you like this chapter ya..
thank you ya udah mau luangkan waktu buat baca.. semoga suka :3
.
Unyu chan
Maaf ya lama bgt… kyuu ngurusin TA kemarin…
Semoga ini ga mengecewakan…
Thank you…
.
Anatha UchihaUzumakie
Thank you so much for the support ya…
Sorry for making you wait so long..
.
Chikara Shone
Maaf ya udah bikin nangis and nunggu lama..
Semoga nanti suka sama endingnya.. moga ga bikin kecewa…
,
ila hunter
ditunggu aja yaa… maaf lama bgt :3
arigto for the support :3
.
Ukkychan
Maaf ya ini lama lagi.. Kyuu sibuk ngurusin TA ngejar buat wisuda bulan ini
Thank you atas supportnya ya… jangan kapok baca fic abal Kyuu :3
.
Anahinanaru
Maaf bikin Ana-san nunggu lama…
Untuk jalan cerita selanjutnya, ditunggu aja ya :3
Untuk Kurama.. itu inspired by keponakan Kyuu sendiri, dia bilang sayang sama Kyuu dll.. mungkin belum ngerti arti sebenarnya, tapi lucu banget pas ngomong.. jadi iseng-iseng Kyuu masukin ke scene Kurama :v
Thank you supportnya ya…
.
Mii,Soshiru
Maaf yam ii-san Kyuu trelat update lagi :v
Semoga chap ini ga bikin kecewa *digaplok duit*
.
.
*kasih tissue ke kimura-san*
Kita tunggu aja sama-sama ya kimura-san. Kyuu juga sedih gini..
Maaf ya udah bikin nunggu lama..
Terima kasih banyak loh kimura-san… *kasih tissue lagi*
.
Chiimao13
Maaf chima-san Kyuu telat lagi update-nya *balikin bunga*
Kyuu bnayak mengecewakan dan membuat kesal..
Tapi kyuu berterima kasih banget chima-san udah mau baca…
.
Misa amane
Maaf ya telat…
Kyuu akan selesaikan fic ini kok…
Arigato..
.
CCloveRuki
Kita sama-sama berdoa ya CC-san..
Maaf banget telat update..
Terima kasih..
.
A-Drei
*kasih tissue*
Kita lihat sama-sama ya nanti…
Maaf udah bikin nunggu lama.. thank you ya btw :3
.
Minae cute
Maaf ya minae-san, Kyuu lama lagi updatenya..
Semoga ga kecewa sama chap ini..
Thank you
.
ChaaChulie247
Maaf udah bikin Nishina-san nunggu lama…
Terima kasih dukungannya :3
.
Vianycka Hime
Kita tunggu ya Hime-san..
Thank you
.
Axa Ganger
Maaf ya lama…
Terima kasih sudah menunggu :3
.
4ever
Maaf ya kalau nyesek..
Kok bisa kepikiran, kyuu sendiri bingung *digampar* :D
Salam kenal nurin-san.. saya Kyuu si pengetik abal :3
.
Himawari Wia
Maaf ya udah bikin sedih..
Kita tunggu sama-sama ya kelanjutannya..
Thank you :3
.
Titan-miauw
Saya juga :D
Terima kasih sudah mau baca..
.
OchiCassiJump
Kita tunggu ya ochi-san..
Maaf sudah bikin nunggu lama.. terima kasih :3
.
Siihat namikaze natsumi
Maaf ya udah bikin nunggu lama…
Makasih udah mau baca karya Kyuu :3
/.
Aicinta
Iya sebentar lagi tamat…
Maaf ya ini lama lagi..
Semoga ai-san suka :3
Terima kasih ya…
.
.
Selesai bales review… :3
Kemungkinan 2 chap kedepan adalah chap terakhir untuk serial ini…
Semoga Kyuu gak galau lagi ya *doain diri sendiri*
Terima kasih untuk supportnya
Feel free untuk nagih-nagih Kyuu via PM or twitter
Ga perlu follow buat mention Kyuu kok.. kalau mau follow and minta follback juga boleh :3
.
Akhir kata
Review Pleaseee :*
