Panas. Juga terang.

Tapi saat ini malam tengah meraja. Masih dengan sinar rembulan berwarna keperakan tipis dan jutaan kerlip bintang musim panas. Terang itu bukan berasal dari matahari memang, karena dari kobaran api yang memakan habis benteng – benteng gagah itulah sang terang berasal.

Gema teriakan, bunyi besi pedang yang beradu, dan kulit yang tersobek saling sahut diantara api. Cahaya terangnya memperjelas bagaimana darah dan gelimpangan tubuh yang koyak itu tersebar. Kebanyakan berjubah biru, dengan hwarang Silla yang mengenakan pakaian sewarna darah, turut berperan dalam pencabutan nyawa garda terdepan kerajaan Goguryeo itu.

"Semua sudah dibantai habis, Yang Mulia!"

Dia sedang menyarungkan kembali pedang perak ke punggungnya, saat seorang hwarang menunduk dan melapor. Pedang yang telah tercoreng kentalnya darah itu bergabung bersama sisa – sisa anak panah yang belum sempat dilepaskan, bersamaan dengan jawab tegasnya mengalun. "Bawa separuh pasukan dan periksa daerah ini hingga batas sungai di utara. Pastikan tidak ada yang lolos."

"Siap, Paduka!"

Mata tajamnya yang tersenyembunyi dibalik topeng Buddha keperakan, menyorot punggung bawahannya yang semakin menjauh. Sebelum menarik kekang kudanya agar hewan gagah itu kembali berjalan. Semakin mendekat pada bangunan yang mulai hangus oleh api.

Sang pangeran kembali menarik pedang dipunggungnya, pedang lain yang masih bersih dari jejak darah, hingga memperlihatkan seberapa tajam kilau perak yang dimiliki saat warna kemerahan dari api di depan terpantul. Sosok gagah itu mengeratkan ikatan kain hitam yang membungkus kepalanya, membiarkan sisa simpulnya dimainkan oleh angin saat dia mulai memacu kuda cepat.

Menerobos tangkas pintu benteng yang membentuk lubang api.

"Segera periksa bagian dalam! Bunuh semua yang tersisa!"


Senbonzakura

―Aku hanya ingin sebebas ribuan sakura yang terbang bersama angin.

.

KyuMin/Romance/Drama/Colossal Fiction/YAOI/Rated T+


Antara kedamaian yang semu, kejayaan kerajaan yang menaungi, serta cinta yang tumbuh tanpa tahu asalnya. Mana yang akan kau pilih? Cho Kyuhyun, Sang Pangeran Goguryeo, Lee Sungmin, Putra Silla yang agung, bersama cinta mereka yang merekah dalam rengkuhan peperangan.


.

.

.

Matahari bahkan belum menyingsing di ufuk timur. Langit masih dengan warna hitam keunguannya, dengan bintang dan purnama yang turut serta menampakan diri. Tetapi di pondok mungil itu, cahaya lilin sudah mulai dinyalakan. Memperlihatkan bayang gelap sang penghuni yang telah terjaga dari tidur sejenaknya.

Cho Kyuhyun melemaskan otot lehernya yang kaku setelah nyaris tiga jam tidur dengan kepala merebah di meja. Pangeran Goguryeo itu meneguk singkat air putih yang tergeletak di samping meja, sebelum mendapati sesosok tubuh yang tadi dirawatnya telah duduk menyandar di dinding. Dengan pandang mata lurus yang tertuju pada purnama terang diatas sana.

"Kau sudah bisa bangun?" Kyuhyun memulai.

"Hanya duduk."

Jawaban singkat itu mengundang kekeh geli dari si pemilik pondok. "Harusnya aku tidak perlu bertanya. Kau pasti sudah kabur jika bisa berdiri, ne, Sungmin hyung?"

Lee Sungmin tersenyum sinis ―walau masih terlihat lemah, memutuskan jika diam adalah yang terbaik dari pada meladeni Jendral perang Goguryeo itu. Sang putra Silla itu terbatuk singkat, sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada purnama yang sejak tadi diamati.

"Tapi baguslah. Lebih baik kau minum ini, sekarang." Kyuhyun kembali berujar. Menuangkan semangkuk kecil cairan merah yang semalam dibuatnya, dan menyerahkan pada Sungmin. "Bisa?"

Yang ditanya mengangkat tangannya. Sebisa mungkin berusaha menjangkau mangkuk putih yang masih disodorkan Kyuhyun itu dengan tangan yang bergetar lemah.

"Kau belum pulih." Putus Kyuhyun saat melihat gesture itu. Dia beringsut maju sekarang, mendekatkan diri pada si pemuda bermata hazel dan menariknya ke dada. Tanpa mengacuhkan pandangan protes Sungmin, langsung meminumkan semangkuk penuh ramuan padanya. "Racun itu bisa berefek mematikan syaraf, hyung. Jadi meskipun kau telah meminum penawarnya, tubuhmu masih akan terasa lemas hingga beberapa saat."

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Sungmin akhirnya membuka mulut. Masih dengan suara halus yang lirih. Mata hazelnya menatap lurus obsidian hitam Kyuhyun, dengan kilau yang kekeuh menyorot curiga.

Kyuhyun menjawab itu dengan kerjapan bingung, awalnya. Sebelum kini mengukir senyum kecut di bibir. "Kau berpikir aku akan menyerahkanmu?"

"Itu yang akan ku lakukan jika menjadi kau."

"Tapi kenapa aku harus melakukan itu?"

Sungmin yang tertawa lemah kini. Memejamkan mata dalam sandarannya di dada Pangeran Goguryeo. "Aku adalah pion vital Silla, kau bisa menang mudah jika menyerahkanku sekarang."

"Kenapa kau terdengar ingin sekali tertangkap oleh Goguryeo?" Kyuhyun mengangkat tangannya kini. Dengan hati – hati mengistirahatkan jemarinya pada helain sehitam arang milik Sungmin, dan mulai mengusapnya lembut saat tidak merasakan gerakan protes dari sang pemilik. "Sefrustasi itukah Kuroi Tenshin ini?"

"Aku tidak mau hidup di bawah belas kasihanmu, wahai Putra Goguryeo."

Sungmin dapat merasakan bahwa tangan besar yang sejak tadi memainkan rambutnya membeku, sebelum akhirnya usapan hangat di kepala itu tidak lagi bisa dia rasakan. Putra Silla itu sejenak merasakan satu cubitan imajiner di dada saat rasa nyaman itu hilang. Dia baru berniat membuka mata untuk melihat bagaimana raut sang lawan bicara saat kehangatan yang lain kembali merasukinya.

Satu rengkuhan, juga satu bisikan lirih yang terdengar begitu dekat dengan telinganya.

"Kalau begitu kau tidak akan kulepaskan Sungmin hyung. Akan ku buat kau agar selalu hidup dibawah belas kasihanku. Jangan lupakan itu, Putra Silla Yang Agung."

.

.

.

Gerbang sederhana di bagian utara istana megah Goguryeo itu hanya dijaga oleh dua hwarang dengan obor di kanan kirinya. Sejatinya, pintu kecil itu adalah jalan tercepat menuju hutan tempat latihan perang yang biasanya digunakan para hwarang. Bukan sesuatu yang perlu dijaga oleh pasukan bersenjata lengkap sebenarnya, tetapi Jendral Kim Jungmo memutuskan jika semua akses keluar masuk istana harus tetap dalam pengawasan selama sang penyusup yang semalam lenyap masih belum ditemukan.

Dua hwarang yang dibicarakan tadi masih saling bercakap guna membunuh sepi, saat tiba – tiba seorang dari mereka melihat sekelebat gerakan dari jalan setapak. Perlahan mendekat, hingga membuat keduanya reflex menodongkan pedang. Bersiap menghadapi apapun yang akan hadir didepan mereka.

"Ini aku."

―Itu adalah suara yang familiar bagi seluruh pasukan Goguryeo. Pimpinan perang tertinggi dan sang pewaris tahta kerajaan. Putra Mahkota mereka.

"Ya-yang Mulia Putra Mahkota!"

Keduanya langsung menarik balik pedangnya. Diikuti bungkukan hormat pada sosok Cho Kyuhyun yang masih terduduk angkuh diatas kuda hitam yang gagah. Kali ini bersama seseorang.

"Ada perlu apa paduka datang kemari tengah malam?"

Salah satunya memberanikan diri bertanya, sementara satu yang lain mengamati keadaan. Sadar bahwa tingkah aneh junjungannya ini terlalu mencurigakan untuk dilewatkan. "Terlebih ―mohon ma'afkan kelancangan hamba, siapa dia?"

Kyuhyun manarik napas sekali. "Dia kawan yang datang dari negeri seberang. Dia sedang terluka, dan aku akan mengantarkannya ke pelabuhan untuk mengejar kapal yang berangkat pagi ini."

Dua hwarang itu bertukar pandang tak yakin.

"Kalian mencurigaiku?"

"Mak-maksud kami bukan―"

"Mencurigai sosok yang memperjuangkan kemenangan Goguryeo atas Silla?"

Kalimatnya semakin menekan. Walau hal itu diucapkan dengan nada setenang angin. Tentu, karena Cho Kyuhyun mempunyai rantai khusus yang mengikat leher seluruh pasukan dalam kuasanya.

"Mohon ma'afkan kami Yang Mulia, tetapi atas kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu, semua askes keluar masuk istana diperketat. Kami harus tetap―"

BRUGH

"Lihat?" Kyuhyun memotong kalimat panjang salah seorang dari mereka kini. Melirik pada tubuh yang tadi berada di pelukan telah jatuh dengan bunyi debam lembut dari kudanya. "Kalian masih tidak percaya bahwa dia adalah kawanku yang tengah sakit?"

"Mohon ma'afkan kelancangan kami Putra Mahkota!"

Yang disebut gelarnya bergerak turun sekarang. Dengan sigap mengangkat tubuh lemah yang terbalut kain hitam itu dan menaikannya ke kudanya. Kyuhyun menyusul dengan sigap setelahnya. Kembali membawanya dalam pelukan agar dia tidak terjatuh seperti beberapa saat lalu.

"Kalau Jendral Kim bertanya, laporkan saja seperti yang kukatakan tadi."

"Siap paduka!"

Mereka melaju cepat setelahnya. Tidak terlihat bahwa Cho Kyuhyun itu kesulitan mengendalikan laju tunggangannya dengan beban satu orang di depan. Hewan hitam gagah itu masih berlari menerobos rimbun pepohonan yang gelap. Dengan berkas – berkas fajar yang mulai muncul di langit negeri biru itu, dan semilir angin musim panas yang mengawali hari.

"Kau pengkhianat."

Sebaris kalimat dari orang dipelukannya membuat Kyuhyun melambatkan laju kudanya. Terkekeh pelan, sebelum balas menjawab tak acuh. "Kau juga melakukan ini saat aku terluka dulu."

Lee Sungmin mengernyit. Menoleh pada sosok Pangeran Goguryeo dibelakangnya.

"Jadi berhentilah bersikap seperti Pangeran yang tak pernah melakukan pengkhianatan Sungmin hyung."

"Aku tidak."

"Oh.. lucu sekali." Balas Kyuhyun lagi. "Lihat siapa yang berbicara dengan penuh belas kasih tentang 'tidak akan membunuh musuh diluar medan perang' dulu."

"Kau benar – benar kalah jika berhasil membawaku keluar dari Goguryeo."

"Menurutmu begitu? Tapi sayangnya aku tidak akan mati mudah, sekali pun Kuroi Tenshin lawannya. Lagi pula, lihatlah siapa yang kau bicarakan. Ini Goguryeo."

Sungmin diam lama mendengar itu. Hingga membuat Kyuhyun mengira bahwa sosok yang kini menyandar penuh di dadanya itu telah terlelap. "Kau.. tahu 'kan kalau aku berhasil menyelinap masuk ke perpustakaan istanamu?"

Ganti Kyuhyun yang terdiam sekarang. Membiarkan Sungmin melanjutkan apapun yang ingin diutarakannya.

"Menurutmu, apa yang kudapat disana?" dia melanjutkan kalimatnya. Dengan mata yang mulai terpejam, hanya menikmati bagaimana sandaran di punggungnya ini begitu terasa nyaman ―pun aman. "Lembah subur Sungai Han yang berhasil dikuasai Silla.. kelaparan.. pemberontakan internal…"

Kyuhyun tertawa mendengar ini. Tawa yang pahit, pun tidak sampai ke mata.

"Kalian hancur dari dalam, Cho Kyuhyun."

Vonis itu membawa keduanya sampai ke perbatasan hutan Goguryeo. Sebuah sungai lebar yang membelah daratan Korea, membuat batas antara dua Negara adidaya dengan kekuatan tempur mengerikan.

"Kau bukan Tuhan, Lee Sungmin." itu adalah tanggapan sang pangeran negeri biru. Setelah hening yang dilewatkannya untuk turun dari kuda dan membawa Sang Putra Silla di punggung. "Sekali pun kau sudah melihat betapa berantakannya Negara kami saat ini, prediksimu terlalu dini."

Dia melangkah maju sekarang, menyebrangi sungai berair bening itu dengan langkah – langkah tegap. Seolah tak gentar oleh apapun yang sudah diujarkan Lee Sungmin. Membawa keduanya berenang, juga menentang arus air yang seolah tak ikhlas untuk disebrangi.

"Lalu? Menurutmu aku salah? Benarkan pendapatku kalau begitu." Tanggap yang lain setelah hening. Lengannya mencengkeram erat pundak kokoh Kyuhyun, berhati – hati agar tubuh lemahnya tidak hilang terbawa derasnya air saat ini.

"Negara tidak hanya tentang kekuatan tempur dan seberapa luas wilayahmu, Putra Silla. Tekad dan pengabdian, juga sesuatu yang bisa membuatnya bertahan."

Sungmin tertawa kini, berusaha menguatkan kakinya untuk memijak tanah di daratan seberang saat Kyuhyun telah menurunkannya. "Kau memiliki rakyat yang luar biasa kalau begitu."

"Tentu saja. Selama kami tidak menyerah, tidak ada apa yang akan terjadi nantinya. Lagi pula, tekad Goguryeo adalah tulang punggung Negara ini, selama 'dia' masih hidup, Goguryeo tidak akan pernah berhenti melangkah."

"Bagus." Tanggapnya. "Kau akan menjadi Raja yang hebat, Cho Kyuhyun."

"Senang mendengarnya. Pujian dari Kuroi Tenshin sungguh membuatku tersanjung." Kyuhyun terkekeh, sembari mulai menarik pedang dari punggung. "Dan siapapun kau, keluarlah."

Hening menyambut mereka. Hingga bunyi berisik semak yang terinjak mulai terdengar di detik berikutnya. Dari balik pohon yang menjulang di arah timur, sosok itu keluar. Sosok yang membuat senyum tipis kembali terbentuk di wajah Kuroi Tenshin.

"Kau datang," sambutnya.

"Sudah menjadi tugas hamba, Pangeran."

"Siapa?"

"Orangku, Kyuhyun."

Kyuhyun menoleh. "Seorang dayang… hyung?"

Sungmin diam. Hanya memberi syarat bagi Hyorin untuk mendekat. Dayang itu bergerak patuh sekarang, segera mengambil alih pangeranya untuk meyendar penuh di pundaknya. "Anda tidak apa – apa?"

Anggukan yang menjadi jawaban, "Hm, tapi dari pada 'dayang', kau bisa menyebutnya sebagai salah satu pion favoritku."

Sang Putra Goguryeo mengagkat sebelah alisnya. "Pion."

Sungmin terkekeh, membiarkan tubuhnya beristirahat dengan dua tangan Hyorin yang menyangga. "Ya. Pion."

"Aku tidak mengerti―"

"Dari pada itu, Cho Kyuhyun, sebagai hadiah atas tekadmu yang luar biasa tadi, akan ku beri tahu kau satu hal." Pangeran berpakaian serba hitam itu mulai menggerakan tangannya. Membuat satu anggukan dari sang dayang yang mulai melangkah perlahan menuju seekor kuda gagah dibalik semak.

"Dipertengahan musim panas. Saat semuanya bermula." Sungmin berujar. Kini berhasil mendudukan diri diatas pelana kuda putihnya yang biasa. Kembali terlihat gagah, juga penuh ancaman. "―semuanya akan berakhir saat itu juga."

"Terimakasih untuk malam ini, Putra Goguryeo."

―dan dengan satu hentakan pelan, kuda putihnya mulai melangkah. Diikuti oleh Hyorin yang melaju dengan kuda yang lain dibelakang. Membelah rimbun dedaunan di perbatasan Silla, dengan langit ungu pertanda fajar yang mulai merekah. Sosok malaikat kegelapan itu terus melaju kedepan. Tanpa menoleh, tanpa mengindahkan sosok Cho Kyuhyun yang berdiri mematung dibelakang.

"Apakah Anda benar baik – baik saja, Pangeran?"

Seriangai tipis yang menjadi jawaban. Jendral perang Silla itu melepas kekang kudanya kini. Dua tangannya sibuk melilit kain hitam yang sejak tadi melingkar dileher untuk menutup separuh wajahnya. Dengan lincah, tanpa sedikit pun kehilangan keseimbangan akan kudanya yang masih melaju kencang.

"Aku dipanggil Kuroi Tenshin bukan tanpa alasan. Salah, jika pangeran Goguryeo itu mengira tubuhku tidak akan pulih sebelum dua malam."

Hyorin mengerjap, tanpa berniat bertanya lebih jauh hanya memacu kudanya agar tidak kehilangan pandang dari kuda putih pangerannya yang berlari kencang. Yang penting pangeran baik – baik saja, batinnya menyeru.

Tentu, karena bagi Hyorin, apapun pilihan Pangerannya, dia akan selalu ada dijalan yang sama dengan sosok itu. Menjadi tameng baginya, menjamin tidak akan ada tangan yang bisa mengganggu sang pangeran disetiap langkah. Apapun, asal pangerannya hidup dan bahagia.

"Heh.. Persiapkan dirimu Hyorin-ah. Kita akan kembali berlumur darah," Sungmin bergumam. Cukup jelas diantara sayupan angin fajar yang menampar lembut. "dan setelahnya, bendera Silla akan segera menaungi seluruh ranah Korea."

.

.

.

"Sedikit lagi, bertahanlah sebentar. Karena setelah ini, ribuan serpihan sakura itu akan membawamu pergi. Membiarkanmu terbang bersama menaiki angin, mengarungi lautan kebebasan yang selama ini kau impikan…"

To be continued…