A/N

Chapter ini di bagi menjadi dua bagian. Pertama saat hari kedua festival sekolah dan yang kedua adalah saat persiapan dan pengumuman ujian.

Jadi diharapkan para reader membaca chapter ini sampai akhir.


.

.

Lovers 2 : Cupid

.

.

Epilog Part 2

Disclaimer: Vocaloid © Crypton Future Media

~Lovers 2 : Cupid ~ © Crayon Melody

Rated: T

Warning: Typo, abal, gaje, alur kencang, nggak nyambung, dll

.

.

Please Enjoy Reading

.

.


Hari Kedua Festival Sekolah


Berbeda dengan hari pertama festival sekolah kemarin, kali ini pengunjung yang datang lebih banyak. Termasuk kelas Lenka, yang sejak pagi sudah dipenuhi oleh banyak pengunjung meski kebanyakan yang datang adalah perempuan. Dan Lenka tahu penyebabnya, siapalagi kalau bukan mereka. Gadis pecinta pisang itu langsung menoleh ke arah Rinto, Mikuo, dan Nero yang terlihat kewalahan menghadapi pengunjung a.k.a fansgirl mereka. Berhubung kemarin mereka bertiga sibuk dengan stand ekskul basket, jadi hari ini mereka diminta untuk kerja rodi (?) demi kelas mereka.

"Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan," ucap Ring yang berdiri di samping Lenka.

"Kenapa Ring-chan?" tanya Lenka heran.

"Habisnya para pengunjung minta dilayani oleh salah satu dari mereka. Jadi lebih baik aku membantu Lenka-chan menyiapkan makanan saja," terang Ring sambil mendesah panjang.

Lenka hanya tersenyum tipis. Sebenarnya Lenka senang karena Ring berniat membantunya. Tapi di dapur juga sudah banyak orang yang bernasib sama seperti Ring. Bahkan sekarang Lenka diusir dari dapur oleh teman sekelasnya, katanya karena kemarin Lenka sudah bekerja keras seharian. Memang benar kemarin Lenka sudah membantu memasak lalu menggantikan Yuuto memakai kostum boneka panda dan setelah itu ia masih membantu beres-beres. Lenka senang karena temannya mengapresiasi kerja kerasnya, tapi gara-gara itu ia jadi bingung harus melakukan apa sekarang.

Lenka tidak mungkin meninggalkan pacarnya seperti kemarin, apalagi setelah melihat Rinto yang sekarang sedang berusaha dengan keras untuk melayani para pengunjung. Walaupun ia tahu, sebenarnya Rinto tidak menyukainya untuk melakukan hal seperti itu tapi ia tetap melakukannya dengan sempurna. Berbeda dengan Rinto, Mikuo terlihat sangat menikmatinya. Ia jadi ingat waktu kecil, Mikuo suka berpura-pura menjadi butler dan Lenka yang menjadi tuan putrinya. Sepertinya sahabatnya itu memang punya bakat terpendam menjadi butler. Dan terakhir Nero, temannya itu juga sepertinya berbakat. Ia terlihat tenang saat menangani kegaduhan kecil yang dibuat oleh para fansgirl mereka. Kenapa Lenka merasa bahwa mereka bertiga selain berbakat bermain basket, mereka juga punya bakat menjadi host.

"Ah ada Sayu-chan!" seru Ring tiba-tiba di sampingnya.

Lenka menoleh dan melihat Ring yang sudah berlari ke arah dua perempuan yang baru saja datang ke kelas mereka. Lenka mengenal kedua perempuan itu, Kaiko dan Sayu. Ring mengantar mereka ke meja kosong yang berada di dekat Lenka. Tapi langkah Sayu terhenti begitu ia melihat kostum panda yang tergeletak rapi di pojokan ruangan.

"Panda itu..."

Deg. Ah benar juga kemarin Lenka juga bertemu Sayu dan IO saat di perpustakaan saat dirinya memakai kostum panda itu. Sesuai permintaan dari Sayu, Lenka tidak memberitahu soal IO kepada siapapun. Lagipula dari awal, Lenka juga bukan tipe orang yang suka membeberkan privasi orang lain.

"Kenapa dengan panda itu, Sayu-chan?" tanya Kaiko bingung.

Ring juga memasang wajah bingung. Tapi setelah beberapa saat terdiam, Sayu menggeleng sambil tersenyum. "Bukan apa-apa," jawabnya.

Lenka langsung bernapas lega.

"Kaiko-chan, aku senang kau datang berkunjung!" seru Mikuo sambil menghampiri pacarnya itu. Diikuti oleh Nero di belakangnya.

"Iya, aku sempatkan datang kemari sebelum ke audiotorium. Mikuo-kun juga nanti jangan lupa datang menonton pementasan drama kami ya," pinta Kaiko.

"Tentu saja, Ojou-san. Permintaan Putri adalah perintah bagi hamba," ucap Mikuo sambil membungkuk sedikit dengan satu tangan yang menyilang di dada dengan elegan.

"Nero-nii, senang sekali bertemu denganmu kembali!" seru Sayu gantian.

Nero mengangguk. "Sudah lama sekali ya, apa kabarmu?"

"Aku baik-baik saja. Aku senang Nero-nii dan Ring-nee sudah berbaikan. Oh ya selamat juga buat kalian, dari dulu aku sudah tahu kok kalau kalian berjodoh," terang Sayu seraya tersenyum lembut.

"Yah mau bagaimana lagi, aku hanya memenuhi permintaan Teto," jawab Nero cuek.

Ring langsung mendengus kesal. "Aku juga sama. Ini demi Teto-chan, kalau tidak aku tidak mau pacaran dengan cowok menyebalkan ini."

Sayu yang melihat mereka berdua hanya bisa sweatdrop. Begitupun dengan yang lain. Dasar pasangan tsundere, batin mereka kompak.

"Hei kalian, tolong jangan ngerumpi disana. Cepat bantu aku!" teriak Rinto.

Mikuo tertawa kecil dan Nero menghela napas panjang. Meskipun begitu mereka tetap kembali bekerja.

Setelah itu Ring mencatat pesanan Kaiko dan Sayu. Dan tak lama kemudian pesanan mereka datang.

"Hmm kuenya enak, aku suka!" seru Kaiko dengan wajah sumringah.

Sayu mengangguk setuju.

"Arigatou, kami senang kalau kalian menyukainya," sahut Ring seraya tersenyum.

Sayu menurunkan sendoknya. Lalu ia menoleh ke arah Mikuo, Nero, dan Rinto yang terlihat kewalahan melayani para pengunjung. "Ngomong-ngomong, apa kalian tidak apa-apa melihat pacar kalian seperti itu?" tanya Sayu.

Baik Kaiko, Ring, dan Lenka langsung menoleh ke arah yang diperhatikan oleh Sayu. Terlihat Mikuo, Nero, dan juga Rinto yang masih sibuk melayani para pengunjung perempuan satu persatu. Lalu mereka menghela napas secara kompak.

"Aku lebih kasihan ke mereka," komentar Lenka.

Ring mengangguk. "Tapi di sisi lain, aku juga senang melihat mereka yang menderita terutama Nero hehehe."

"Aku setuju dengan mereka berdua," sahut Kaiko seraya tertawa kecil.

Sayu yang melihatnya hanya bisa speechless.

"RINTO-SENPAI! LENKA-SENPAI! KAMI DATANG BERKUNJUNG!"

Lenka langsung menoleh begitu ada seseorang yang meneriakkan namanya dan juga pacarnya. Dan ia mendapati sosok berambut magenta dan pink yang sudah berdiri di depan kelas mereka. Terlihat Rinto yang langsung menghampiri mereka dan sosok berambut magenta yang melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak.

"Senpai, apa yang kau pakai?" tanya Gakuko di sela tawanya.

"Apa kau tidak bisa menebak. Dilihat dari manapun ini adalah baju khas cina," jawab Rinto.

"Aku tahu, hanya saja hahaha senpai sangat cocok sekali memakainya hahaha," ucap Gakuko yang masih menertawai Rinto.

"Kenapa pujianmu itu terdengar seperti ejekan di telingaku," sungut Rinto.

"Kalau begitu telinga senpai masih berfungsi dengan baik," balas Gakuko.

"Tapi Gakuko, kemarin kau juga sangat cocok sekali memakai baju maid. Kenapa sekarang kau tidak memakainya?" balas Rinto.

"Aku sudah memintanya juga, senpai. Tapi Gakuko menolak dengan keras. Tapi untung saja kemarin aku sudah memfoto momen-momen saat Gakuko menjadi baju maid," ujar Luki seraya tersenyum.

"Luki, aku sudah bilang untuk menghapus foto itu kan?!" seru Gakuko kesal pada pacarnya itu.

"Hee aku juga ingin melihat Kamui-san memakai baju maid," ucap Lenka tiba-tiba yang sekarang sudah berdiri di samping Rinto.

"Oke, nanti aku berikan satu cetak untuk kalian berdua," ujar Luki.

"Luki, jangan macam-macam. Awas saja kalau kau sampai memberikan foto memalukan itu pada mereka!" ancam Gakuko.

"Memangnya kau mau apa?" tantang Luki balik.

"Aku... aku akan ngambek," ucap Gakuko dengan wajah cemberut.

"Heee aku ingin lihat wajah Gakuko yang ngambek. Tapi baiklah, aku tidak akan memberikannya," ucap Luki pada akhirnya. "Lagipula aku juga tidak ingin memberikan foto Gakuko yang manis pada orang lain," tambahnya.

"Dari awal juga kau memang tidak berniat memberikannya," ujar Rinto sambil mengehela napas.

Lenka mengangguk setuju. Sedangkan Luki hanya tertawa kecil mendengarnya tanpa berniat membantahnya.

"Hmph kalau begitu kami akan pergi dari sini!" seru Gakuko.

"Eh? Kalian tidak makan?" tanya Rinto heran.

"Dari awal kami memang berniat untuk mampir saja," ujar Gakuko.

"Lagipula disini juga kelihatannya sudah penuh orang," ucap Luki seraya mengedarkan matanya ke sekeliling. Dan matanya bertemu dengan kedua teman sekelasnya, Sayu dan Kaiko. Luki tersenyum kecil yang lalu dibalas lambaian kecil dari mereka berdua.

"Ayo Luki!" ajak Gakuko sambil menggandeng tangan Luki

Luki mengangguk.

"Sampai jumpa Rinto-senpai! Lenka-senpai!" ucap Gakuko sebelum akhirnya mereka berdua menghilang keluar kelas.

Setelah kepergian Gakuko dan Luki, Rinto kembali bekerja. Dan Lenka kembali ke tempat Ring, Sayu, dan Kaiko.

"Aku tak tahu kalau Kagami-senpai akrab dengan mereka berdua," ucap Kaiko langsung.

Lenka tahu siapa yang dimaksud oleh Kaiko. Siapa lagi kalau bukan Luki dan Gakuko.

"Itu karena Rinto akrab dengan Kamui-san. Dan akhir-akhir ini kami juga sering berpapasan dengan mereka," jelas Lenka.

"Souka, baiklah kalau begitu sudah waktunya kami pergi," ucap Kaiko seraya beranjak dari tempat duduknya.

"Aku mengerti kalau Kaiko-chan harus bersiap untuk pementasan nanti, tapi Sayu kalau kau tidak ada kerjaan, kau boleh disini menemaniku," terang Ring.

Sayu tersenyum lalu berkata, "Aku juga ingin mengobrol lebih lama dengan Ring-nee, tapi aku harus kembali kelas."

"Baiklah kalau begitu, nanti aku dan Nero akan coba mampir ke kelas Sayu-chan," ujar Ring.

"Kalau begitu akan kutunggu," sahut Sayu senang. Setelah itu mereka berpamitan dan pergi keluar kelas.

Tepat setelah mereka pergi. Kelas kami memutuskan untuk menutup cafe karena persediaan makanan mereka sudah habis. Memang lebih cepat dari yang dijadwalkan, tapi berkat Mikuo, Rinto, dan Nero mereka sudah cukup mendapatkan banyak keuntungan. Selain itu setelah ini akan ada pementasan drama, pentas musik, event game, dan yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan dari Namine Ritsu, idol sekolah mereka.

Setelah semua pengujung telah pergi dan hanya menyisakan beberapa anak kelas mereka. Baik Mikuo, Nero, dan Rinto langsung duduk terlemas.

"Aaaahh aku capek," ucap Mikuo sambil menidurkan kepalanya di atas meja.

"Kerja bagus, minna," ujar Ring sambil memberikan minuman dingin kepada mereka bertiga.

"Untung saja ketua kelas kita pengertian," ucap Rinto sambil bernapas lega.

"Setidaknya dia tidak seperti manajer klub kita yang memaksa kita bekerja lembur seperti kemarin," sahut Nero.

"Ah Lenka mana?" tanya Rinto begitu menyadari Lenka yang sudah menghilang.

"Lenka-chan pergi membantu membawa beberapa barang ke gudang," jawab Ring. Sekarang ini beberapa temannya sudah mulai membereskan dan merapikan kelas mereka. Semakin cepat mereka beres-beres, semakin cepat mereka bisa bebas menikmati sisa festival hari ini.

"Rinto, kau tidak mengejar Lenka lagi seperti kemarin?" goda Mikuo.

"Bukannya kemarin kau yang bilang sendiri, Lenka tidak akan tersesat di sekolah sendiri," ujar Rinto sedikit kesal begitu mengingat siaran kemarin.

Mikuo hanya tertawa mendengarnya. Padahal kemarin dia sudah mendapat jitakan dari Lenka untuk kedua kalinya setelah mempermalukannya. Tapi sepertinya cowok tersebut masih belum kapok juga.

"Aku mau ganti baju dulu," ucap Nero sambil bangkit berdiri dari kursinya lalu berjalan pergi.

"Kalau begitu aku juga." Kali ini gantian Rinto yang berdiri.

"Eeh tunggu aku!" seru Mikuo. Ia segera menghabiskan minumannya lalu berlari menyusul kedua temannya itu.

Ring yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Lalu ia mulai membereskan gelas minuman mereka tadi. Ia masih harus mengajak Nero untuk pergi ke kelas Sayu, tapi bagaimana ia mengatakannya.

.

.

.

Sekarang ini Lenka, Rinto, dan juga Mikuo sedang berjalan bersama menuju ke audiotorium untuk menonton pementasan drama dari klub drama. Berdasarkan cerita Mikuo yang diberitahu oleh pacarnya yang merupakan anggota klub tersebut. Mereka akan melakukan drama tentang putri salju dan Kaiko lah yang mendapatkan peran utama menjadi putri salju. Yah memang Kaiko secara penampilan sangat cocok sekali dengan peran tersebut. Apalagi mengingat kesukaannya dengan es krim.

"Mikuo, kau baik-baik saja? Bukannya di cerita putri salju ada adegan pangeran yang mencium putri salju," ujar Lenka.

"Ah iya, tapi kata Kaiko, mereka membuatnya seperti mereka berciuman tapi sebenarnya mereka tidak melakukannya," terang Mikuo.

"Sepertinya merepotkan," komentar Rinto.

Akhirnya mereka tiba juga di auditorium, terlihat beberapa tempat duduk sudah dipenuhi oleh banyak orang. Dan yang paling menonjol adalah cowok berambut biru tua yang sedang mengecek kamera yang biasanya dibuat untuk membuat film dengan semangat. Terlihat sekali kalau cowok itu sangat antusias untuk melihat penampilan adiknya tercinta.

"Sepertinya Kaito-senpai masih sama seperti biasanya," ujar Rinto begitu melihat mantan kapten tim basket putra sebelum akhirnya digantikan olehnya.

Mikuo hanya tertawa melihatnya lalu berkata, "Nanti aku akan minta file-nya."

Setelah itu Mikuo mengajak Lenka dan Rinto ke belakang panggung.

"Memangnya kita dibolehkan kemari?" tanya Lenka khawatir sambil melihat banyak orang yang berlalu lalang menyiapkan pementasan yang sebentar lagi akan dimulai.

"Daijobou, aku kenal dengan ketuanya," ujar Mikuo tenang.

"Eh memangnya dia sudah berangkat sekolah?" tanya Rinto sedikit terkejut.

Lenka menatap kedua cowok tersebut bingung. Siapa yang dimaksud mereka. Lenka akui dirinya memang tidak terlalu banyak mengenal orang. Berbeda sekali dengan mereka berdua yang memiliki banyak teman. Itulah salah satu keuntungan menjadi murid populer.

"Panjang umur, itu dia. Lily!" seru Mikuo sambil melambaikan tangannya berusaha menarik perhatian orang yang bernama Lily tersebut.

Tampak gadis berambut pirang kuning yang digerai panjang mencapai pinggangnya menoleh ke arah mereka. Seulas senyum manis merekah di wajah cantiknya lalu gadis segera berjalan menghampiri mereka. Lenka mengenal gadis itu, dia adalah bendahara OSIS sekolah mereka. Tapi Lenka tak pernah tahu kalau ia juga adalah ketua dari klub drama.

"Ah Kuochan, Rinny, senang bisa melihat kalian lagi!" sapanya seraya tersenyum senang.

"Berhenti memanggilku dengan panggilan yang menjijikkan itu," omel Rinto.

"Rinny masih saja pemarah, nanti kau cepat tua lho," goda Lily.

Lalu sepasang mata Lily menemukan sosok Lenka yang berada di samping Rinto.

"Jangan-jangan kau pacarnya Rinto ya!" seru Lily lalu setelah itu ia langsung memeluk Lenka. "Kyaaa kawaii, siapa namamu gadis manis?"

Lenka hanya bengong begitu ia dipeluk tica-tiba oleh Lily. Rinto yang melihatnya langsung menjauhkan Lily dari Lenka.

"Jangan memeluk Lenka sembarangan," omel Rinto.

"Ah namanya Lenka. Nama yang manis. Kalau begitu salam kenal, Lenkachi," ujar Lily seraya tersenyum manis. "Kau bisa memanggilku Lily. Mari kita berteman," sambungnya lalu ia menggandeng tangan lenka dan membawanya pergi.

"Oi Rinto, pacarmu dibawa kabur tuh," ujar Mikuo sambil tersenyum geli.

Rinto hanya menghela napas lalu ia dan Mikuo pun mengikuti kedua gadis itu di belakang.

"Sepertinya banyak pemain yang berasal dari kelas satu," ucap Mikuo sambil memperhatikan sekeliling.

"Karena tahun ini banyak anak kelas satu yang berbakat dan menarik," ujar Lily seraya tersenyum.

"Akhir-akhir ini banyak drama yang terjadi di kalangan anak kelas satu," ucap Rinto.

"Kalian juga pernah terlibat kan," sahut Lily masih tersenyum.

Benar. Rinto pernah terlibat dengan Gakuko tentang berita pertunangan mereka yang menghebohkan. Belum lagi berita tentang Gakuko yang menjadi orang ketiga di antara hubungan Kaiko dan Luki. Lalu Mikuo yang tiba-tiba jadian dengan anak kelas satu, Kaiko. Belum lagi berita tentang kehebohan yang dibuat oleh IO, mulai dari dengan SeeU, Sayu, dan yang terakhir dengan OSIS terutama insiden di kantin beberapa waktu yang lalu. Dan masih banyak lagi yang mungkin hanya diketahui oleh kalangan anak kelas satu.

Rinto dan Mikuo yang mengingat semua itu langsung menghela napas panjang. Sedangkan Lenka hanya speechless begitu memikirkannya.

"Mikuo-kun, kau sudah datang rupanya!" seru seseorang. Tampak Kaiko yang berlari ke arah mereka.

"Ah ada Lily-senpai juga rupanya," ucap Kaiko begitu menyadari keberadaan Lily.

"Aku menemani mereka disini," jelas Lily.

"Kaiko-chan, aku sangat menantikan penampilanmu nanti!" seru Mikuo semangat.

"Tentu saja, kau harus menantikan. Terutama saat Ikochan memakai gaun putri salju. Aku jamin kau pasti menyukainya," ucap Lily seraya menatap Mikuo.

"Itu karena gaun yang Lily-senpai design sangat bagus sekali," sahut Kaiko. "Oh ya ngomong-ngomong Suzune-senpai dan Akita-senpai tidak datang?"

"Ah mereka bilang akan datang ke kelasmu," jawab Mikuo.

"Oh benar juga, mereka sudah janji pada Sayu-chan," ujar Kaiko begitu mengingat obrolan mereka saat datang berkunjung ke kelas Mikuo tadi.

"Aku dengar Nekun baru saja mendapatkan pacar, jadi itu benar?" tanya Lily penasaran.

Sebagai jawaban, Rinto mengangguk.

"Syukurlah kalau begitu, aku pikir dia akan kesepian setelah adiknya berpacaran dengan kaichou," terang Lily.

"Kami masih shock waktu mendengar pernyataan cinta Oliver. Terutama Nero," jelas Mikuo.

Sebenarnya Rinto dan Lenka tidak terlalu kaget dengan perkembangan itu mengingat mereka pernah melihat Oliver dan Defoko jalan berdua. Hanya saja mereka tidak menyangka bahwa seorang Oliver, ketua OSIS yang terkenal dingin bak pangeran es itu akan menyatakan cintanya di depan seluruh murid. Entah apa yang sudah dilakukan oleh apra anggotanya sampai bisa membuat ketua mereka melakukannya.

Lily tersenyum mendengarnya. Di saat ia ingin menceritakan kisah cinta mereka yang manis kepada yang lain. Tiba-tiba saja ada seorang yang berlari ke arah Lily dengan wajah panik.

"Lily-chan gawat!" seru murid itu sambil terengah-engah.

Wajah Lily langsung berubah cemas. "Ada apa?" tanyanya langsung.

"Murid yang memainkan peran pangeran tiba-tiba saja perutnya sakit. Dan sejak tadi, ia masih belum keluar dari toilet," jelas murid itu cepat.

Lagi-lagi sakit perut. Kemarin teman sekelasnya Yuuto juga sakit perut sampai Lenka harus menggantikannya. Dan sekarang ini. Apa sakit perut memang penyakin yang sering muncul saat festival sekolah.

Tidak hanya wajah Lily. Kaiko dan bahkan Lenka, Rinto, dan Mikuo yang bukan merupakan orang luar juga berubah panik.

"Lily-senpai, kita harus cepat mencari penggantinya," saran Kaiko.

Tampak wajah Lily berubah serius. "Aku bisa saja melakukannya, tapi masalahnya ini terlalu mendadak. Tidak mudah mencari orang yang hapal naskahnya. Seandainya adapun, orang itu harus tinggi untuk menyesuaikan kostumnya. Tapi dari anak kelas dua pun tidak ada yang tingginya hampir sama dengannya."

Semua disana langsung berwajah pucat. Sebentar lagi acara mereka dimulai. Mereka tidak bisa membatalkan pementasan ini begitu saja, mengingat sudah banyak penonton yang berdatangan.

"Tunggu senpai, aku tahu siapa orang yang cocok menggantikannya!" seru Kaiko tiba-tiba.

Semuanya langsung menoleh ke arah Kaiko, menunggunya melanjutkan perkataannya.

"Mikuo-kun, jadilah pangeranku!" seru Kaiko sambil menghadap pacarnya sambil memegang kedua tangan Mikuo.

"HEEEEEEEEEEEEE!" Mikuo langsung kaget mendengar permintaan pacarnya yang tidak diduga-duga itu. "KENAPA AKU?" tanyanya tidak percaya.

"Cuma Mikuo-kun yang bisa melakukannya. Mikuo-kun sering membantuku latihan untuk drama ini dan Mikuo-kun juga tinggi," jelas Mikuo.

"Tapi aku tidak bisa akting," sahut Mikuo.

"Aku mohon, Mikuo-kun," pinta Kaiko dengan wajah memelas.

Bukannya Mikuo tidak ingin menuruti permintaannya dari pacar manisnya ini. Tapi serius dia benar-benar payah dalam berakting. Bahkan dulu Lenka pernah mengkritiknya habis-habisan saat mereka melakukan pementasan drama saat mereka kecil. Memang dia membantu Kaiko berlatih, tapi itu hanya sebatas ia membaca dialognya saja. Dan itu bukan berarti ia hapal seluruh dialognya. Di saat Mikuo ingin beradu argumen. Pundaknya dipegang oleh Lily.

"Hatsune Mikuo, kau akan membantu kami kan," ujarnya seraya memasang senyum yang menurut Mikuo sangat menyeramkan. Lily yang memanggilnya namanya dengan nama lengkap bukan nama panggilan seperti biasanya benar-benar menyeramkan. Mikuo sudah tidak bisa kabur lagi.

.

.

.

"Apa Mikuo akan baik-baik saja ya?" tanya Lenka khawatir. Sekarang ini mereka sudah duduk di bangku penonton.

"Tenang saja, harusnya ia senang karena bisa berpasangan dengan Shion-san," ujar Rinto yang duduk di sampingnya.

"Masalahnya dari dulu, Mikuo itu payah sekali dalam berakting," terang Lenka. "Bagaimana kalau dia nanti malah mengacaukan dramanya," lanjutnya dengan wajah semakin cemas.

"Kalau itu terjadi berarti dia benar-benar sangat payah," sahut Rinto.

"Rinto!" seru Rinto. Kenapa pacarnya itu tidak serius sih, padahal Lenka disini benar-benar cemas sekali

"Gomen Lenka, tapi aku percaya pada Mikuo. Dia pasti bisa mengatasinya, kalaupun dia nanti kesulitan. Aku yakin Shion-san dan yang lain akan membantunya," jelas Rinto.

"Ah kau benar, Rinto. Semoga dramanya berjalan dengan lancar," ujar Lenka seraya tersenyum.

Rinto mengangguk sambil balas tersenyum. Setelah itu lampu di audiotorium mulai meredup dan hanya lampu di panggung yang menyala terang. Tirai pun perlahan mulai terbuka menandakan pementasan dramanya akan segera dimulai.

Sesuai dengan judulnya, drama ini mengangkat dongeng putri salju dan tujuh kurcaci. Awal cerita masih berkisar seorang Ratu yang rupanya diperankan oleh SeeU yang terlihat sangat cocok sekali menjadi peran antagonis yang merasa iri pada kecantikan dari Putri Salju yang diperankan oleh Kaiko. Untung saja dalam kisah ini, peran pangeran hanya muncul di pertengahan sampai akhir cerita.

Sepanjang ini, penampilan mereka berjalan lancar. Lenka harus akui perkataan Lily bahwa anak kelas satu memang berbakat. Terutama Kaiko yang benar-benar sangat mendalami karakternya. Bahkan Lenka sampai larut dalam alur ceritanya.

Sampai akhirnya tiba giliran Mikuo. Begitu Mikuo muncul di panggung dengan memakai pakaian ala pangeran. Sontak saja membuat semua penonton menjerit kaget terutama para perempuan. Mereka mungkin tidak menyangka akan kemunculan Mikuo, mengingat Mikuo bahkan bukan merupakan anggota ekskul drama.

"Aku berani bertaruh setelah ini banyak cewek yang minta foto dengan Mikuo," ujar Rinto.

Tapi Lenka mengabaikan perkataan Rinto barusan. Ia mulai harap-harap cemas menunggu akting dari sahabatnya itu. Dan rupanya hasilnya tidak terlalu buruk juga, meski Mikuo kadang mengucapkan dialog yang menurut Lenka sedikit berbeda dari dialog sebenarnya tapi pemain lainnya segera mengikutinya dan membantu Mikuo. Meski begitu Lenka masih belum bisa bernapas lega, ia masih menatap was was ke arah panggung.

"Aku penasaran dengan adegan ending-nya," ucap Rinto tiba-tiba. Lenka menoleh ke arah pacarnya itu.

"Maksudnya adegan ciuman itu?" tanya Lenka.

Rinto mengangguk. "Aku penasaran apa Mikuo punya nyali mencium Shion-san di depan semua orang ini," ujarnya.

"Menurutku, kalau itu Mikuo. Ia pasti melakukannya," sahut Lenka.

"Aku juga percaya ia akan melakukannya. Hanya saja..." ucap Rinto menggantung.

"Hanya saja..." ulang Lenka.

"Kita lihat saja nanti," ucap Rinto pada akhirnya.

Lenka tidak mengerti maksud Rinto, tapi ia kembali memusatkan perhatiannya ke drama yang masih berlangsung. Dan akhirnya tiba adegan puncaknya dimana pangeran akan membangunkan Putri Salju dengan ciuman.

Lenka akui, akting Mikuo tidak sepayah saat mereka masih kecil. Aktingnya terlihat natural, mungkin kah karena lawan mainnya adalah Kaiko. Iya, pasti begitu. Tapi Lenka tidak mau memujinya, karena pasti Mikuo akan besar kepala dan membanggakan diri. Dan Lenka tidak akan suka itu.

Kedua pipi Lenka mulai merona begitu melihat wajah Mikuo yang mendekat ke arah wajah Kaiko yang tertidur. Lenka suka cerita romance dan sering melihat adegan ciuman di film. Tapi baru kali ini, dirinya melihat adegan ciuman yang dilakukan oleh temannya sendiri. Dan itu benar-benar memalukan sendiri. Lenka yang menontonnya sudah semalu ini apalagi jika ia sendiri yang melakukannya.

"Lenka!" bisik Rinto tepat di samping telinga Lenka.

Lenka otomatis menoleh ke samping dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirnya. Tunggu dulu, perasaan ini. Jangan-jangan Rinto-

Benar. Rinto sedang menciumnya. Sontak saja tubuh Lenka tidak bisa digerakkan seolah terkena sihir paralyzed. Setelah beberapa detik, Rinto melepaskan ciumannya meskipun begitu wajahnya masih dekat sekali dengan wajah Lenka.

"Dengan begini, wajah blushing Lenka karena ciuman barusan," ucap Rinto seraya tersenyum puas.

"Hah? Ri-Rinto, bagaimana jika ada yang lihat?" tanya Lenka panik.

"Tenang saja, semua perhatian orang tertuju ke panggung," jawab Rinto santai masih dengan senyuman manisnya.

Dan tiba-tiba saja terdengar tepukan tangan yang riuh menandakan berakhirnya drama. Lenka langsung menoleh ke depan dan mendapati Mikuo yang sudah menggandeng tangan Kaiko. Benar saja, ceritanya sudah selesai dan Lenka juga tidak sempat melihat adegan ciuman mereka gara-gara Rinto.

"MIKUO, APA YANG KAU LAKUKAN PADA ADIK MANISKU HEH?!" teriak seseorang.

"Sudah kuduga akan jadi seperti ini," ucap Rinto sambil menghela napas.

Lenka bingung dan langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati kakak kelas mereka, Kaito yang sudah mencak-mencak dari bangku penonton. Bahkan beberapa temannya berusaha menenangkan Kaito yang terus marah-marah.

Dilihatnya Kaiko yang menghela napas panjang melihat tingkah dari kakaknya sedangkan Mikuo hanya tertawa kecil meskipun begitu wajahnya sedikit pucat. Jadi ini yang dimaksud oleh Rinto. Memang Lenka pernah dengar dari Mikuo kalau Kaito adalah kakak yang sangat overprotektif sekali pada adiknya. Bahkan Mikuo dibuat kerepotan olehnya saat mendekati Kaiko dulu.

"Lenka, ayo kita pergi dari sini!" ajak Rinto sambil menggandeng tangan Lenka.

"Eh, kita tidak menghampiri Mikuo dan Shion-san?" tanya Lenka.

"Tidak ada gunanya kita disini, lebih baik kita menikmati festival sekolah sebagai ganti hari kemarin," ujar Rinto.

Oh ya kemarin mereka tidak sempat jalan-jalan berdua karena berbagai insiden. Memang kemarin Lenka sudah melihat-lihat keliling saat memakai kostum panda. Tapi ia belum melakukannya bersama dengan Rinto, lagipula Lenka masih merasa bersalah soal kejadian kemarin pada Rinto. Oleh karena itu, Lenka balas menggengam erat tangan Rinto, membiarkan Rinto menuntunnya pergi.

.

.

.

"Dasar penakut," ejek Nero begitu mereka keluar dari rumah hantu yang merupakan acara dari kelas Sayu, 1-A.

"A-aku tidak takut, tadi aku hanya kaget saja tahu!" ujar Ring tidak terima.

"Tapi kau terus bersembunyi di belakangku," ucap Nero.

"Ka-karena seorang cowok harus memimpin di depan," balas Ring.

"Omonganmu makin ngaco. Kalau takut, bilang saja," ujar Nero.

"Sudah kubilang, aku tidak takut!" seru Ring.

"Ring-nee Nero-nii!" panggil Sayu yang sedari tadi menjadi penonton pertengkaran mereka. Ring dan Nero langsung menoleh ke arah Sayu. Setelah akhirnya mendapatkan perhatian dari kedua kakak kelasnya itu, ia langsung membungkuk. "Terima kasih sudah mau mampir."

"Sama-sama, lagipula kami juga senang datang kemari," ujar Ring seraya tersenyum senang.

"Meski kau ketakutan tadi," sindir Nero.

Sayu tertawa kecil lalu ia tersenyum sambil berkata, "Aku merasa lega karena sepertinya kalian tidak berubah sama sekali. Kalian masih Ring-nee dan Nero-nii yang kukenal dulu."

Nero mengangguk. "Ring memang masih seorang penakut," ujarnya.

"Dan Nero juga masih menyebalkan. Eh sepertinya sekarang ia jauh lebih menyebalkan dibandingkan dulu," terang Ring.

Sayu tersenyum melihatnya. Setelah itu Ring dan Nero berpamitan pada Sayu dan mulai berjalan-jalan ke tempat lainnya. Dan tempat yang mereka tuju adalah lapangan sekolah mereka yang sudah dipenuhi oleh banyak stand makanan dan minuman yang berjejer-jejer. Melihat makanan, mata Ring langsung berbinar senang. Ia langsung mengajak Nero untuk membeli macam-macam makanan.

Tidak butuh waktu lama, kedua tangan mereka sudah dipenuhi makanan mulai dari takoyaki, ikayaki, yakitori, dan yakisoba.

"Hmm jajanan festival memang yang terbaik," ujar Ring sambil memakan yakitori miliknya.

Nero juga terlihat menikmati ikayaki miliknya.

Tiba-tiba saja Ring menghentikan makannya dan langkahnya juga ikut terhenti. Nero yang menyadarinya juga menghentikan langkahnya dan menatap bingung ke arah Ring.

"Kenapa Ring?

"Tiba-tiba saja aku ingat kalau dulu kita sering datang ke festival bertiga," ujar Ring dengan wajah sedih.

Nero ikut terdiam. Memang benar, mereka selalu datang ke festival bertiga. Bahkan ketika Nero tidak ingin datang pun. Ring dan Teto pasti akan terus memaksanya dan menyeretnya untuk datang. Tapi sekarang hanya mereka berdua yang bisa menikmati semua ini.

"Aku yakin jika Teto disini, ia pasti akan mengatakan kalau kau terlalu banyak makan, Ring," ucap Nero.

"Ah benar juga, tapi aku selalu tidak mendengarkan ucapannya itu," ujar Ring seraya tersenyum tipis.

"Yah, dan selanjutnya yang terjadi adalah kau pasti sakit perut. Benar-benar bodoh," sahut Nero.

Wajah Ring langsung berubah cemberut. "Maaf saja kalau aku tukang makan dan bodoh," sungut Ring sambil memakan yakitori-nya dengan wajah kesal.

"Ring, ada saos yang menempel di mulutmu," ujar Nero.

"Eh benarkah? Tunggu sebentar, bagaimana aku meng-" ucap Ring bingung karena kedua tangannya sudah penuh dengan makanan.

"Kau diam sebentar!" seru Nero tiba-tiba.

Ring langsung menoleh ke arah Nero dan tiba-tiba saja wajah Nero sudah mendekat ke arahnya. Nero menjilat saos di sudut bibir Ring. Sontak saja perlakuan Nero tersebut membuat wajah Ring memerah. Ia langsung mundur beberapa langkah dari Nero.

"Apa yang kau lakukan heh?!" seru Ring dengan wajah tomatnya.

"Aku hanya membantumu menghapus saosnya," ujar Nero.

"Ta-tapi kau tidak harus menjilatnya juga kan?!" seru Ring lagi masih dengan wajah tomatnya.

"Apa kau tidak lihat? Tanganku juga penuh semua," ujar Nero sambil menunjukkan kedua tangannya yang juga penuh makanan sama seperti Ring. "Harusnya kau berterima kasih padaku," lanjutnya yang setelah itu kembali memakan ikayaki miliknya dengan wajah tenang seolah tidak terjadi apapun.

Ring yang melihatnya merasa kesal. "Nero, kau mau mencoba yakitori-ku. Rasanya enak sekali lho," ucapnya.

"Hah?" Nero langsung menoleh bingung. Dengan cepat, Ring langsung mengarahkan yakitori miliknya ke mulut Nero.

"Apa yang kau lakukan, Ring?" tanya Nero sambil menjauhkan wajahnya dari serangan yakitori.

"Sekarang ada saos di mulutmu," ucap Ring.

"Apa?"

Mengabaikan wajah bingung Nero, Ring langsung mendekatkan wajahnya ke arah Nero. Dan sama seperti yang dilakukan Nero lagi. Ia juga menjilat saos dari mulut Nero.

"Tung-tunggu apa yang kau lakukan?!" seru Nero kaget dengan wajah yang mulai memerah.

"Dengan begini kita impas,"" ucap Ring sambil melunjurkan lidah. Setelah itu Ring kembali berjalan, meninggalkan Nero yang masih terlihat shock di belakang.

Ring tersenyum geli begitu mengingat ekspresi blushing Nero barusan. Lalu ia menoleh ke belakang. "Ayo Nero, dasar lamban!" teriak Ring kepada Nero yang masih mematung di belakang.

Tampak Nero menghela napas panjang, lalu ia pun segera menyusul Ring. "Akan kubalas kau nanti," bisiknya pada Ring.

.

.

.

Setelah pementasan drama berakhir, para pemain segera turun dari panggung setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada para penonton.

"Akhirnya selesai juga," ucap Mikuo lega begitu mereka sudah berada di belakang panggung.

"Minna, kerja bagus," ucap Lily kepada semua para pemain. "Terutama kau Kuochan, terima kasih sudah bersedia tampil. Kalau kau tertarik bergabung dengan ekskul drama, aku akan menyambutmu dengan senang hati," lanjutnya seraya tersenyum.

"Tidak, terima kasih. Aku sudah sibuk dengan klub basket dan sepak bola," tolak Mikuo.

"Ini dia bintang kita hari ini!" seru seseorang.

Tiba-tiba saja muncul gadis berambut pink yang ditutupi oleh tudung berbentuk telinga kucing di samping Lily.

"Irochan. Seperti biasa kau selalu membuatku kaget!" sahut Lily terkejut dengan kemunculan Iroha yang mendadak.

"Lily-chan, sepertinya kau terlalu memaksakan diri," ucap Iroha seraya menoleh ke arah Lily dengan seulas senyum.

"Mungkin itu hanya perasaanmu, aku baik-baik saja kok," balas Lily seraya tersenyum. "Jadi, kenapa kau datang kemari? Pastinya bukan untuk bicara denganku kan?" tanyanya.

Iroha hanya tersenyum mendengarnya lalu berkata, "Kita bisa berbicang sepuasnya lain hari." Setelah itu wajahnya berpaling ke arah Mikuo dan Kaiko yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan mereka.

"Tentu saja untuk melakukan tugasku sebagai ketua ekskul jurnalistik," ujar Iroha seraya tersenyum manis. "Jadi, Hatsune Mikuo dan Shion Kaiko. Pasangan populer yang membuat iri banyak orang. Melakukan ciuman panas saat pementasan drama. Hmm sepertinya ini akan menjadi berita yang menarik."

"Heh?"

Iroha mengabaikan wajah kaget Mikuo dan Kaiko dan kembali melanjutkan perkataannya. "Akan lebih bagus kalau aku mendapatkan foto kalian. Jadi apa kalian mau bekerja sama denganku?" tanya Iroha seraya tersenyum.

"Tolong jangan buat berita yang aneh-aneh!" seru Mikuo.

"Padahal kau sendiri juga sering memasang foto di mading sekolah seperti foto Kagamine Rinto dan Kagami Lenka. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau yang melakukannya," ujar Iroha.

"Jadi foto-foto di mading itu kerjaanmu Kuochan, aku tak pernah tahu kalau kau ternyata seorang stalker," sahut Lily tak percaya.

"Aaghhh!" seru Kaiko tiba-tiba mengerang kesakitan. Terlihat Kaiko memegangi perutnya sambil berjongkok.

"Kaiko-chan, kau kenapa?" tanya Mikuo panik.

"Pe-perutku sakit," erang Kaiko lirih. Wajahya terlihat sangat kesakitan.

"Kalau begitu Kuochan, kau bawa Ikochan pergi," ucap Lily tiba-tiba.

"Ah iya, ayo Kaiko-chan. Aku akan mengantarmu," ujar Mikuo sambil membantu Kaiko berjalan pergi.

Setelah mereka berdua pergi meninggalkan Lily dan Iroha.

"Hahaha anggotamu benar-benar hebat. Aku tahu tadi itu cuma akting saja," ujar Iroha di sela tawanya.

"Jangan pernah meremehkan anggotaku," balas Lily.

Iroha berhenti tertawa lalu menatap Lily dengan seulas senyum manis. "Sekarang aku jadi tidak bahan berita, bagaimana kalau aku mewawancarai Lily-chan saja," usul Iroha.

"Kalau sebagai ketua klub drama, aku akan melakukannya dengan senang hati. Tapi jika sebagai anggota OSIS, aku harus menolaknya," ucap Lily jelas.

"Haah sepertinya anggota OSIS benar-benar akan tutup mulut. Apa itu perintah dari ketua kalian atau orang lain?" tanya Iroha.

"No comment," jawab Lily singkat.

"Sikap tidak kooperatif itulah yang membuatku membenci OSIS," ujar Iroha sambil menghela napas.

"Jadi kau terang-terangan menentang OSIS?" tanya Lily masih dengan wajah tenang.

"Aku benci OSIS, tapi aku tidak menentangnya. Lagipula aku tidak punya kekuasaan seperti IO sampai berani melakukannya," terang Iroha. "Tapi meski aku benci OSIS, aku tidak membenci kalian kok. Aku menyukai Lily-chan," tambahnya sambil tersenyum manis.

"Aku juga menyukai Irochan, meskipun aku benci mengatakannya. Tapi kita berdua untuk beberapa hal sangat mirip," jelas Lily seraya tersenyum. Karena kita selalu memakai topeng untuk berbohong, lanjutnya dalam hati.

.

.

.

Yukari sekarang ini sedang berjalan berkeliling bersama dengan seorang pemuda berambut merah. Sekarang mereka berdua sedang melakukan tugas sebagai anggota OSIS yang baik untuk berpatroli selama festival berlangsung. Meski dibilang festival, mereka malah menikmati jajanan yang dijual di tiap stand.

"Ritsu, kau tidak mulai bersiap-siap untuk penampilanmu nanti?" tanya Yukari sambil menikmati Yakisoba yang barusan ia beli.

Ritsu yang sekarang berpenampilan versi cowok menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Masih ada waktu, nanti juga Piko-senpai pasti meneleponku," ujar cowok itu yang setelah itu memakan dango yang barusan ia beli juga.

"Benar juga, tapi aku kasihan pada Piko-senpai. Sepertinya di antara kita semua, dia yang paling sibuk," komentar Yukari.

"Bukannya dari dulu ia selalu sibuk. Meskipun dibanding dengan dia, aku jauh lebih sibuk," sahut Ritsu.

"Sebenarnya aku pernah tak sengaja dengar dari para sensei, awalnya Piko-senpai lah yang direkomendasikan untuk menjadi ketua OSIS. Tapi katanya ia menolak, ia bersedia menjadi anggota OSIS asalkan jangan di posisi ketua," cerita Yukari.

"Tunggu dulu, bukannya pemilihan ketua OSIS dilakukan dengan pemungutan suara ya," ucap Ritsu.

"Memang benar, tapi kalau dipikir-pikir lagi ya. Dilihat dari karakternya, Piko-senpai lebih mumpuni daripada Oliver-senpai. Bukan berarti aku meragukan kepemimpinan Oliver-senpai. Tapi secara kemampuan berkomunikasi dan akademik, Piko-senpai lebih unggul," jelas Yukari.

Ritsu mangut-mangut. "Kalau tidak salah Piko-senpai rangking dua paralel di angkatan kelas dua kan?"

"Yap, meski sebenarnya nilainya beda tipis dengan Kagami-senpai," ujar Yukari.

Setelah itu Yukari memakan suapan terakhir dari Yakisoba-nya. "Dibanding dengan Oliver-senpai, aku jauh lebih tidak bisa menebak jalan pikiran Piko-senpai," lanjutnya sambil menghela napas panjang.

Drrr... drrr...

Ponsel Ritsu yang berada di sakunya bergetar, sontak saja ia langsung mengeceknya dan mengangkat panggilan yang masuk. Setelah itu ia memposisikan ponselnya di samping telinganya.

Tanpa perlu ditanya, Yukari bisa menebak siapa yang menelepon.

"Halo."

"Iya, aku bersama dengan Yukari," ujar Ritsu sambil menatap sekilas ke arah Yukari.

"Baiklah kami akan segera kesana." Setelah itu Ritsu memutuskan panggilannya.

"Piko-senpai menyuruh kita menemuinya," ucap Ritsu setelah menyimpan ponselnya kembali di sakunya.

"Kalau begitu ayo kita pergi. Jangan sampai kita membuat Piko-senpai menunggu lama," ujar Yukari.

Ritsu mengangguk setuju.

"Ritsu, soal yang aku ceritakan tadi-"

"Tenang saja, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun," potong Ritsu cepat.

"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Yukari lega.

.

.

.

"Kalian darimana saja?" tanya Luki begitu akhirnya melihat Yukari dan Ritsu datang.

"Gomen, tadi kami terlalu asyik menikmati makanan kami," jawab Yukari seraya tersenyum kecil.

Piko menghela napas. "Ritsu, cepat kau bersiap-siap!" serunya sambil menoleh ke arah Ritsu.

"Baiklah." Setelah mengatakan itu, Ritsu bergegas menuju ke ruang ganti.

"Lho Oliver-senpai dan Tei-senpai mana?" tanya Yukari begitu tidak mendapati sosok dua kakak kelasnya itu.

"Tei sedang berpatroli bersama anggota komitenya sedangkan Oliver sedang mengecek laporan di ruang OSIS," jawab Piko.

"Bersama dengan Defoko-chan?" tanya Yukari lagi.

"Apa aku perlu menjawab pertanyaan itu?" tanya Piko balik.

"Sepertinya tidak perlu," ucap Yukari pada akhirnya. Sebenarnya tanpa perlu bertanya, Yukari sendiri juga sudah tahu jawabannya. Tentu saja ketua OSIS mereka itu bersama dengan pacarnya.

"Padahal laporannya tidak harus diselesaikan hari ini kan," gumam Yukari. Meski begitu, Piko yang berada di sampingnya dapat mendengarnya.

"Memang, tapi mau bagaimana lagi. Oliver tidak terlalu suka keramaian," terang Piko.

Sudah kuduga Piko-senpai lebih cocok jadi ketuanya, pikir Yukari. Karena ketua mereka yang sekarang dikenal sebagai orang yang dingin. Meski sekarang kadar esnya sudah menurun berkat Defoko. Tapi kakak kelasnya itu masih tidak menyukai bergaul dengan orang banyak. Karena itu pekerjaan yang berhubungan dengan hubungan sosial selalu diserahkan kepada anggota lain terutama Piko, yang merupakan wakilnya. Meskipun begitu Yukari juga tidak menyalahkannya, karena memang sudah menjadi tugas mereka untuk membantu pekerjaan ketua mereka. Lagipula dirinya juga tahu bahwa Oliver benar-benar serius mengerjakan tugasnya sebagai Ketua OSIS.

Beberapa saat kemudian, Ritsu sudah siap dengan penampilan idol-nya.

"Ritsu, kau benar-benar cocok memakai itu," puji Luki seraya tersenyum geli.

"Aku tak sedikitpun merasa senang mendengarnya," ucap Ritsu kesal.

"Luki Yukari, kalian juga bersiap-siap," ujar Piko seraya menatap Luki dan Yukari bergantian.

Luki dan Yukari akan menjadi MC untuk acara ini. Setelah mengangguk, mereka pun segera bersiap-siap dan setelah itu naik ke atas panggung untuk membuka acaranya. Konser tunggal Ritsu berjalan dengan lancar. Para penonton juga terlihat sangat menikmatinya dan bersenang-senang. Setelah membawakan lima lagu, Ritsu mengakhiri penampilannya. Dan Luki bersama Yukari juga menutup acara tersebut yang menandakan berakhirnya festival hari ini. Sebenarnya masih ada event terakhir yaitu api unggun tapi acara itu dikhususkan untuk murid dari sekolah mereka. Jadi setelah ini, diharapkan semua pengunjung pulang dan semua murid mulai beres-beres. Dan anggota OSIS juga masih harus menyiapkan satu acara terakhir mereka nanti.

.

.

.

Di tempat lain.

Tiap Tei berjalan selalu ada saja orang yang menatapnya dengan tatapan takut. Entah itu karena shinai yang digenggamnya atau karena wajahnya yang terlihat kesal atau mungkin keduanya. Tapi Tei tidak peduli yang pasti ia merasa kesal hari ini. Itu karena banyak sekali orang yang membuat onar di festival sekolah mereka. Tei paling benci dengan kerusuhan, dia adalah pencinta kedamaian. Oleh karena itu ia akan menghukum siapapun yang berani membuat onar di sekolahnya ini. Entah itu dari murid sekolahnya sendiri atau orang luar.

Tei menghentikan langkahnya. Lalu menatap keluar jendela. Seharusnya sekarang konser Ritsu sudah selesai dan semua pengunjung akan pulang. Kalau begitu ia harus bergegas menuju ke ruang broadcasting yang saat festival ini merangkap juga sebagai ruang call center. Tei tanpa membuang waktu lagi langsung berjalan cepat ke ruangan yang dituju dan tanpa menunggu lama ia langsung membuka pintu ruang broadcasting. Disana terdapat seorang cowok berambut hitam dengan headphone yang terpasang di telinganya sudah duduk di sana.

"Ah Sukone-senpai, apa sudah waktunya untuk melakukan siaran hari ini?" tanya pemuda tersebut sambil melepaskan headphone-nya.

Tei mengangguk cepat. "Apa kau yang bertugas hari ini?" tanyanya balik.

Kali ini gantian cowok tersebut yang mengangguk. "Senpai datang sendirian hari ini?"

"Yang lain sedang sibuk," jawab Tei lalu mengambil tempat duduk di samping cowok itu. "Terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini," tambahnya.

"Aku senang bisa membantu," ujar cowok itu. "Selain itu aku bisa kabur dari kelas," tambahnya dengan suara amat pelan.

"Apa?"

"Bukan apa-apa," jawab cowok itu cepat.

"Karena aku sendirian, kau bisa bantu aku melakukan siarannya kan?" tanya Tei.

"Dengan senang hati, senpai."

.

.

.

"Mikuo-kun, sepertinya kita menjadi pusat perhatian," ucap Kaiko dengan suara pelan.

"Sepertinya begitu," balas Mikuo dengan suara pelan pula.

Semua orang kini menatap ke arah mereka sejak mereka berhasil kabur dari Iroha. Tidak mengherankan juga jika mereka sekarang menjadi pusat perhatian pasalnya sekarang mereka masih memakai kostum drama mereka.

"Wow ada putri salju dan pangeran disini!"

Baik Kaiko dan Mikuo langsung berbalik badan dan mendapati Nero dan Ring yang tengah menatap mereka.

"Mikuo, kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Nero heran.

"Ceritanya panjang," ucap Mikuo. Meskipun begitu, Mikuo tetap menceritakan kejadian sebenarnya.

"Gomenasai, kami tidak bisa menonton penampilan kalian," sesal Ring.

"Tidak apa-apa, kalian juga pergi bertemu Sayu-chan kan," ucap Kaiko seraya tersenyum.

"Aah tapi aku benar-benar ingin melihatmu yang berakting. Pasti payah sekali," ucap Nero seraya tersenyum mengejek.

"Untuk seorang amatir, Mikuo-kun sudah melakukannya yang terbaik," bela Kaiko.

"Kaiko-chan, maaf kalau aku seorang amatir," ucap Mikuo sambil menghela napas.

Kaiko tersenyum manis lalu mengusap-usap kepala Mikuo. "Mikuo-kun sudah bekerja keras hari ini. Arigatou."

"Kaiko-chaaaaann," ucap Mikuo seraya tersenyum senang.

Nero yang melihatnya adegan tersebut hanya bisa menghela napas sedangkan Ring hanya tersenyum tipis.

Lalu tiba-tiba terdengar suara dari speaker sekolah.

Selamat sore semuanya. –Tei-

Disini Sukone Tei dan –Tei-

Kagene Rei. Akan melakukan siaran hari ini. –Rei-

Tidak terasa sudah tiba waktunya festival sekolah ini berakhir. –Tei-

Benar, dua hari waktu yang sangat cepat. Tapi itu adalah waktu yang sangat menyenangkan. Senpai setuju kan? –Rei-

Yah, meski banyak kendala yang terjadi, tapi sebagai anggota OSIS aku bisa mengatakan bahwa festival kali ini berjalan lancar dan sukses. –Tei-

Tentu saja ini semua berkat kerja keras semua orang yang sudah berkontribusi untuk menyukseskan festival ini. –Tei-

Kami juga berterima kasih kepada OSIS yang tentunya juga sudah bekerja sangat keras. –Rei-

Tapi masih ada satu acara lagi yang tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh semua murid disini. Dan itu adalah acara api unggun yang akan diadakan nanti malam. –Rei-

Karena itu diharapkan semua murid untuk tidak pulang terlebih dahulu dan datang ke acara nanti. –Tei-

Benar sekali, terutama untuk kalian yang ingin melakukan legenda api unggun pada saat malam festival sekolah kita ini. –Rei-

Aku tidak percaya dengan omong kosong itu. –Tei-

Senpai, tolong jangan patahkan harapan orang-orang yang mempercayai legenda tersebut. –Rei-

Ah maaf. –Tei-

Hahaha pokoknya kalian tidak boleh melewatkan acara nanti! –Rei-

Kau terdengar memaksa. –Tei-

Benarkah, maaf kalau begitu. Tapi kalian akan menyesal jika tidak datang. –Rei-

Sekarang kau terdengar seperti mengancam. –Tei-

Aargh maksudku bukan seperti itu. –Rei-

Terdengar helaan napas.

Baiklah kalau begitu, sepertinya cukup sekian dari kami. –Tei-

Sudah selesai? Padahal aku masih ingin bicara banyak. –Rei-

Kenapa kau jadi cerewet sekali! –Tei-

Tut.

Siaran pun berakhir. Lagi-lagi dengan cara yang absurd. Apa mereka tidak bisa melakukan siaran dengan normal.

"Anu... legenda apa yang dimaksud?" tanya Kaiko memecah keheningan.

"Kaiko-chan tidak tahu?" tanya Mikuo heran.

"Dia masih kelas satu, tidak heran kalau dia tidak tahu soal itu," jelas Nero.

Raut wajah Kaiko semakin dibuat bingung. Ditatapnya wajah kakak-kakak kelasnya itu, menanti penjelasan dari mereka.

.

.

.

Di saat semua murid sedang bersih-bersih dan merapikan kelas mereka. Anggota OSIS dibantu oleh komite kedisiplinan sedang sibuk menyiapkan acara api unggun untuk malam nanti. Menyisakan tiga orang yang masih berada di ruang OSIS. Oliver yang sibuk membaca beberapa berkas laporan. Piko yang sedang sibuk mengotak-atik laptopnya. Dan terakhir Lily yang sedang menikmati teh hangatnya. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk memulai percakapan. Hanya terdengar suara kertas yang dibalik, suara ketikan, dan suara slurupan.

Sampai terdengar suara pintu yang terbuka. Dan masuklah Ritsu bersama dengan Tei ke dalam ruangan.

"Kenapa suasananya sepi sekali?" tanya Ritsu heran.

Akhirnya Lily meletakkan cangkir minumnya ke tatakan piring. Lalu menatap Ritsu dan Tei yang sudah bergabung dengan mereka.

"Kalian tahu sendiri kan betapa workaholic-nya mereka berdua, dari tadi aku hanya dianggap angin lalu oleh mereka," ujar Lily seraya menunjukkan ekspresi sedihnya.

"Jadi bagaimana persiapannya?" tanya Oliver mengabaikan perkataan Lily.

"Tentu saja semuanya sudah beres, banyak murid yang membantu. Jadi pekerjaan selesai lebih cepat," jelas Tei.

Oliver mengangguk puas.

"Yukachi dan Luchan kemana?" tanya Lily begitu tidak mendapati kedua adik kelasnya itu.

"Mereka kembali ke kelas mereka," jawab Ritsu.

"Kau juga tidak ikut kembali ke kelas?" tanya Piko.

"Senpai kan tahu sendiri aku tidak bisa kembali dengan penampilan seperti ini," ujar Ritsu.

"Lalu kenapa kau tidak ganti dengan seragam perempuan. Sekali-kali kau harus berkumpul dengan teman sekelasmu terutama saat festival seperti ini," terang Tei.

"Hahaha terima kasih atas sarannya. Tapi tidak, aku lebih suka disini daripada di kelas," ucap Ritsu.

"Jangan-jangan kau tidak punya teman selain anggota OSIS?" tanya Tei. "Kasihan sekali," tambahnya.

"Enak saja, bukan seperti itu. Baiklah, aku akan kembali ke kelas." Setelah mengatakan itu Ritsu mengambil seragam perempuannya dari tasnya lalu berjalan menuju toilet yang berada di ruang OSIS. Tidak butuh waktu lama, Ritsu keluar dari toilet dengan seragam perempuannya dan wig merah panjangnya.

"Sudah kuduga Ritchan paling cocok dengan baju perempuan!" seru Lily dengan mata berbinar-binar.

Wajah Ritsu memerah karena malu. "Sudah ah aku mau pergi!" seru Ritsu sambil berlari keluar ruangan. Menyisakan anggota OSIS kelas dua.

Setelah kepergian Ritsu, Tei langsung menoleh ke arah ketiga temannya itu.

"Ngomong-ngomong gadis itu berulah lagi," ucap Tei memulai percakapan.

"Maksudmu Irochan? Memangnya apa yang ia lakukan?" tanya Lily tertarik.

Tei menghela napas panjang. Dia jadi teringat seharian ini dirinya berserta anggota komite kedisiplinan lainnya dipermainkan oleh Iroha. Mulai dari memberi laporan palsu, mengambil foto tiba-tiba, membuat kerusuhan kecil, dan masih banyak lagi. Tentu saja Tei memberi perlawanan tapi gadis itu selalu bisa kabur dengan mudah. "Intinya aku dan anggota komite dibuat kelelahan menghadapinya."

"Kau tidak perlu menanggapinya. Dia hanya sedang bosan dan mencari perhatian orang," ujar Oliver datar.

"Yap, sama seperti kucing," sahut Lily seraya tersenyum.

"Aku benci kucing," ucap Tei kesal.

"Aww padahal kucing manis. Kau juga setuju kan, Pichan?" tanya Lily seraya menoleh ke arah Piko.

"Pertama, panggil aku Piko. Kedua, aku tidak suka kucing," jelas Piko.

"Heee padahal kukira kau itu tipe pecinta kucing," komentar Lily.

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud," balas Piko.

Lily hanya mengedikkan bahu lalu kembali meminum tehnya.

Beberapa saat kemudian. Oliver menoleh ke arah jam dinding lalu berkata ke yang lain, "Sebaiknya kita segera pergi!"

Anggota yang lain ikut menoleh ke arah jam dinding lalu mengangguk.

"Kalau begitu aku akan mengumpulkan semua murid di lapangan," ucap Tei yang pertama kali bangkit dari kursinya.

"Aku juga akan membantu," sahut Piko seraya ikut menyusul Tei yang sudah terlebih dahulu ke luar ruangan.

Sekarang hanya tersisa Lily dan Oliver di sana.

"Kaichou, jangan lupa kau harus mengajak Fokochi," ucap Lily menggoda.

"Itu bukan urusanmu," ucap Oliver seraya berjalan keluar ruangan.

Lily hanya tersenyum melihat punggung Oliver. Setelah sosok Oliver menghilang dari balik pintu. Senyuman Lily memudar. Lalu tubuhnya langsung terduduk lemas di kursi.

"Ah sial, aku lupa membawa obatku," ucapnya pelan dengan wajah yang pucat. "Aku benar-benar ceroboh," lanjutnya seraya tersenyum lemah.

.

.

.

Di tengah lapangan sudah terdapat api unggun berukuran besar yang menyala dengan terang di malam ini. Dan semua murid dan tak lupa juga beberapa guru mulai memadati lapangan dan berkumpul di sekitar api unggun.

Legenda api unggun saat malam terakhir dari festival sekolah adalah sebuah mitos yang mengatakan bahwa jika pasangan yang berdansa pada malam itu maka kisah cintanya akan diberkati dan tidak terpisahkan. Mitos itu sudah ada dari dulu dan diceritakan turun temurun di sekolah ini. Oleh karena itu banyak orang yang mempercayainya dan tidak sedikit juga yang menyatakan cintanya pada malam itu. Berharap akan ada keajaiban yang menghampiri mereka. Dan untuk yang sudah memiliki pasangan, banyak yang melakukan dansa pertama.

"Benar-benar romantis sekali," ucap Yukari yang melihat semua itu dari atap sekolah.

"Hanya orang bodoh yang mempercayai mitos seperti itu," ujar Tei.

Sekarang ini Yukari, Tei, dan Ritsu sedang berada di atap sekolah seraya mengawasi jalannya acara dari atas sana.

"Ritsu, kenapa kau tidak ikut berdansa? Aku yakin banyak yang mengajakmu kan," goda Tei.

"Mana mungkin aku berdansa dengan seorang laki-laki!" sewot Ritsu.

"Aku mengerti kalau Luki dan Oliver-senpai tidak berada disini. Tapi kemana perginya Piko-senpai dan Lily-senpai?" tanya Yukari penasaran.

"Entahlah mungkin mereka ada urusan," jawab Tei asal.

"Jangan-jangan ada yang mengajak mereka!" seru Yukari kaget.

"Haaa apa mungkin selama ini diam-diam mereka punya pacar," ucap Ritsu tak percaya.

"Berhentilan mengatakan yang tidak-tidak!" seru seseorang.

Sontak mereka segera menoleh dan mendapati cowok berambut silver dan gadis berambut pirang panjang berjalan masuk ke atap sekolah sambil membawa kardus.

"Apa yang kalian bawa itu sesuatu yang aku pikirkan?" tanya Yukari.

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi kami membawa banyak kembang api," ujar Piko sambil meletakkan kardus yang berisi banyak kembang api di depan mereka semua.

"Hari ini kita buat festival kembang api yang meriah!" seru Lily seraya meletakkan kardusnya pula.

Semuanya mengangguk semangat lalu mereka pun segera menyiapkan kembang apinya untuk diluncurkan. Setelah itu mereka tinggal menunggu timing yang tepat untuk meluncurkannya.

"Aku senang akhirnya kali ini bisa datang ke festival sekolah," ucap Lily tiba-tiba.

"Ah benar juga, festival tahun lalu kau tidak datang," ujar Tei.

Wajah Yukari dan Ritsu sedikit terkejut. Tapi Lily hanya tersenyum menenangkan kedua juniornya itu.

"Aku harap tahun depan aku bisa menikmati kesenangan ini lagi," ujar Lily seraya tersenyum.

"Tapi tahun depan kita sudah tidak menjadi anggota OSIS lagi," ucap Piko. "Tentu saja ini hanya berlaku untuk kami yang kelas dua," tambahnya.

"Aku berjanji akan membuat festival tahun depan lebih menyenangkan dari ini. Jadi senpai harus datang!" seru Yukari.

"Ganbatte, Yukari," sahut Ritsu.

"Tentu saja kau akan membantuku, Ritsu!" seru Yukari pada cowok berambut merah itu.

"Aku tak pernah mengatakan akan lanjut di OSIS," ucap Ritsu. Memang benar tidak ada aturan yang mengwajibkan anggota OSIS kelas satu untuk melanjutkan menjadi anggota kembali di tahun kedua mereka di sekolah.

"Jadi kau akan meninggalkanku, kau tega Ritsu!" seru Yukari dengan wajah cemberut.

Ketiga kakak kelas mereka hanya tersenyum melihatnya pertengkaran kedua adik kelasnya itu.

"Baiklah, sepertinya sudah saatnya kita menyalakan kembang apinya," ucap Piko mengakhiri pertengkaran Yukari dan Ritsu. "Semuanya tolong lakukan sesuai rencana," tambahnya.

"Siap!"

"Oke!"

"Roger!"

"Yap!"

Bersama-sama mereka menyalakan kembang api satu persatu. Dan kembang api pun mulai berluncuran ke arah langit lalu meledak menjadi cahaya warna-warni yang indah dan menghiasi langit malam. Semua perhatian murid yang berada di lapangan langsung tertuju ke arah langit. Mungkin mereka tidak menyangka dengan pertujukan kembang api yang terjadi secara tiba-tiba ini.

Mereka sudah menyiapkan banyak kembang api dengan berbagai macam model. Sehingga variasi yang dihasilkan menjadi sangat indah dan menarik untuk ditonton. Hingga akhirnya tiba untuk menyalakan kembang api yang terakhir. Tentu saja kembang api yang terakhir ini adalah yang paling besar dan spesial yang cocok menjadi penutup untuk acara ini. Mereka sepakat untuk memberi kesempatan untuk menyalakan kembang api tersebut pada Lily. Dan akhirnya kembang api terakhir itu pun diluncurkan.

DOR

"Waaah sugoi!" teriak Yukari kagum.

Tidak hanya Yukari, anggota yang lain juga menatap kembang api yang meledak di langit itu dengan tatapan kagum. Tepat dengan hilangnya kembang itu dan langit mulai kembali menghitam. Tiba-tiba saja tubuh Lily langsung ambruk.

BRUGH

"Lily!"

"Lily-senpai!"

.

.

.


A/N

Akhirnya tiba juga di penghujung dari cerita ini. Author mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca fanfic ini. Dan author juga ingin memberikan semangat kepada anggota RP Athena Academy (Ring, Defoko, Rin, Yukari, dkk) yang besok akan menghadapi UN maupun ujian lainnya. Ganbatte minna-san, semoga kalian memperoleh hasil yang terbaik. Amin.

Dan sama seperti kalian, para karakter disini juga akan menghadapi ujian yang setelah ini akan diceritakan oleh author di bawah A/N ini. Bagaimana para karakter menghadapi ujian mereka dan apakah IO berhasil mendapatkan peringkat pertama sesuai syarat yang dibuat oleh Ayahnya?

Ah satu lagi, author mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya, karena author memutuskan untuk tidak menceritakan adegan jadiannya NeroRing, OliFoko, dan IOS. Ada beberapa alasan, pertama author sudah malas membuat dialognya dan yang kedua karena chapter ini saja sudah mencapai 12k+. Karena itu author hanya memberikan sedikit alurnya dan biarkan para reader yang berimajinasi #plak.

NeroRingSetelah Rinto, Lenka, dan Mikuo pulang. Nero dan Ring pun pergi ziarah ke makam Teto. Di sana mereka berdua meletakkan bunga matahari, bunga favorit mereka bertiga karena menyimpan kenangan masa kecil mereka. Lalu mereka mengatakan perasaan mereka di depan nisan Teto dan mengucapkan terima kasih pada Teto karena ia selalu mendengarkan mereka dan bersabar menghadapi sifat keras kepala mereka. Mereka berjanji mereka akan selalu bahagia seperti doa Teto, karena mereka juga ingin Teto bahagia di alam sana. Dan mereka mengikat janji mereka dengan berciuman di depan nisan Teto. Setelah dari makam Teto, mereka pergi ke rumah Teto untuk silahturahmi dengan keluarga Teto. Di sana mereka juga bertemu dengan adik Teto, Ted, untuk pertama kalinya. Karena Ted lahir setelah Teto meninggal dan mereka juga sudah pindah dari sana. Setelah itu mereka pulang naik kereta. Dan karena kelelahan dan mengantuk, mereka berdua tertidur sambil menyandarkan kepala ke satu sama lain. Selesai.

.

OliFokoSetelah rumor tentang Oliver mulai dilupakan karena semua murid semakin sibuk dengan persiapan festival. Luki membuat rencana dengan anggota OSIS lainnya untuk menyatukan OliFoko. Tentu saja Piko tidak mau terlibat, karena masih ada urusan lain yang harus ia kerjakan dan ia juga memarahi anggota yang lain karena membuat rencana bodoh di saat sibuk seperti ini dan menyuruh mereka kembali fokus bekerja. Hingga akhirnya rencana mereka dimulai, Luki yang merupakan sekretaris OSIS membuat beberapa pengumuman penting perihal festival sekolah nanti. Mereka membujuk Oliver untuk melakukannya dan bersama-sama mereka menuju ke ruangan broadcasting. Sebenarnya Oliver sudah curiga kenapa mereka ikut semua. Dan Luki pun memberikan naskah yang ia buat kepada ketua mereka dan menyuruhnya langsung membacanya dengan alasan jam istirahat yang pendek. Oliver pun menurutinya dan membacanya dengan datar sampai tiba-tiba di pertengahan. Ia tanpa sengaja mengucapkan kata suka kepada Defoko. Tentu saja Oliver kaget dan menuntut penjelasan pada Luki. Tapi Luki bersama anggota OSIS lain semakin gencar menggoda Oliver untuk mengakui perasaannya pada Defoko sampai melupakan bahwa percakapan mereka didengar oleh semua murid. Setelah didesak terus-terusan bahkan Piko ikut membantu, akhirnya Oliver mengakuinya. Dan setelah itu Defoko datang ke ruang broadcasting bersama dengan Gakuko dan Neru untuk menjawab pernyataan Oliver tersebut. Mereka jadian dengan disaksikan oleh seluruh anggota OSIS plus Gakuko dan Neru. Mereka semua menggoda Ketuanya untuk mencium Defoko, tapi Oliver malah marah pada anggota OSIS lainnya yang sudah mengerjainya. Mereka langsung kabur keluar ruangan. Dan di saat Defoko ingin ikut keluar ruangan juga, Oliver menahannya lalu menciumnya tiba-tiba. Selesai.

.

IOSSayu yang menemukan IO di bandara langsung berlari memeluknya dengan erat dan memintanya untuk jangan pergi. Sayu mengungkapkan perasaannya pada IO bahwa ia masih menyukai IO dan ia ingin IO berada di sampingnya dan tidak meninggalkannya lagi. IO dengan wajah sedih meminta maaf pada Sayu dan mengatakan itu tidak mungkin karena IO hanya akan selalu menyakiti Sayu saja. Tapi Sayu marah dan mengatakan bahwa kenangan mereka saat masih bersama membuatnya bahagia dan justru ia akan merasa sakit ketika IO sudah tidak bersamanya lagi. Asisten Ayahnya menyuruh IO bergegas pergi karena pesawat mereka akan berangkat. IO mengatakan bahwa dia memang masih menyukai Sayu tapi semuanya sudah terlambat. Mereka sudah tidak bisa bersama lagi. Lalu ia berjalan pergi bersama dengan asisten Ayahnya. Sayu yang melihat itu semakin menangis. Karena tidak tahan melihat punggung IO yang menjauh, Sayu berbalik lalu berniat pergi dari tempat itu untuk menghampiri Kaiko dan Mikuo yang sudah menatapnya dengan cemas. Tapi tiba-tiba saja ada orang yang memeluk Sayu dari belakang dan orang itu adalah IO. Ia mengatakan jangan pergi pada Sayu dan menarik kembali semua perkataannya tadi. Meskipun ia sudah menyakitinya, IO masih ingin bersama dengan Sayu. Karena ia masih mencintai gadis itu juga. IO ingin menjadi orang yang melindunginya dan membuatnya selalu tersenyum bahagia. Sayu tidak percaya lalu ia membalikkan badan untuk melihat wajah IO. Ia ingin menanyakan tentang kebenaran ucapan IO barusan, tapi mulutnya langsung dibungkam oleh IO dengan menciumnya. IO meminta waktu untuk bicara pada Ayahnya dan meminta Sayu untuk menunggunya. Sayu mengangguk sambil membalas pelukan IO. Selesai.

Nah itu dia inti alur dari adegan jadiannya untuk tiap pair. Itu kalau dibuat percakapannya pasti panjang makanya saya malas buatnya #plak.

Dan berikut adalah cerita tentang persiapan ujian mereka yang akan menutup fanfic ini selama-lamanya. Selamat membaca dan sampai jumpa di lain kesempatan.

.

.


Persiapan dan Pengumuman Ujian


Setelah festival sekolah berakhir, tibalah waktunya bagi semua murid untuk menghadapi tantangan terbesar mereka sebagai seorang pelajar yaitu ujian semester. Wajah-wajah bahagia para murid yang bersenang-senang kemarin saat persiapan dan berlangsungnya festival berubah menjadi wajah-wajah suram. Memang tidak semuanya tapi sudah cukup membuat aura sekolah berubah menjadi tegang dan serius.

Kegiatan semua klub dihentikan selama satu minggu sebelum ujian dan selama ujian berlangsung agar para murid dapat fokus belajar. Perpustakaan yang biasanya tidak terlalu ramai tiba-tiba saja berubah menjadi tempat favorit para murid. Kelompok-kelompok belajar mulai terbentuk di tiap kelas. Salah satunya adalah kelompok belajar dari kelas 2-A, Lenka, Rinto, Mikuo, Nero, dan Ring. Mereka sekarang sedang berkumpul di ruang belajar rumah Rinto.

"Mikuo, kenapa kau tidak bisa menjawab soal semudah ini!" seru Lenka kesal.

"Lenka, tolong jangan samakan otakku dengan otakmu," ucap Mikuo meringis.

"Aku tidak menerima alasan, kau harus memperbaikinya sampai jawabannya benar!" ucap Lenka sekali lagi.

Mikuo langsung menuruti perkataan Lenka yang sekarang berubah ke dalam monster mode tiap berurusan dengan belajar. Dirinya segera mengerjakan soal matematika yang dimaksud. Sebenarnya nilai Mikuo tidak terlalu buruk, hanya saja perhitungan bukanlah keahliannya. Jadi bisa dibilang nilai matematikanya selalu pas-pasan.

"Ring, sepertinya kau tambah bodoh dibanding dulu," ucap Nero sambil melihat hasil pekerjaan Ring.

"Aku tidak bodoh. Kalian saja yang terlalu pintar," protes Ring.

"Ring-chan juga jangan beralasan. Karena kau sudah tahu kekuranganmu, jadi kau harus belajar lebih giat lagi!" seru Lenka pada Ring. "Cepat kerjakan semua soal-soal ini!"

"Ba-baik!" seru Ring dengan suara sedikit bergetar.

Rinto yang sedari tadi hanya menjadi penonton hanya bisa menghela napas. Kalau suasananya seperti ini, ia juga jadi tidak bisa fokus belajar. Tapi di sisi lain Rinto juga senang melihat sisi Lenka yang seperti ini. Karena itu ia hanya diam saja melihat Lenka yang terus memarahi Mikuo dan Ring. Lagipula ini juga demi kebaikan mereka sendiri.

"Kalian yang semangat ya," ucap Rinto seraya tersenyum puas.

"Sepertinya kau menikmatinya," ujar Nero sweatdrop.

"Rinto, lakukan sesuatu pada pacarmu ini!" jerit Mikuo.

.

.

.

"Ritsu, aku tidak percaya kau seburuk ini," ucap Tei sambil melihat lembar hasil ulangan Ritsu. Saat ini mereka sedang berada di ruang OSIS.

"Itu karena aku sering tidak masuk sekolah, jadi aku tertinggal banyak materi pelajaran," ujar Ritsu membela diri.

"Ternyata memang sulit menjadi idol ya," sahut Tei. "Baiklah kalau begitu aku akan mengajarimu," lanjut Tei dengan aura berapi-api.

Akan tetapi Ritsu hanya menatap Tei tidak yakin. Seakan mengerti tatapan yang dilontarkan oleh Ritsu, Tei balas menatapnya tajam.

"Meski begini, aku tetap kakak kelasmu!" seru Tei yang seolah mengerti arti dari tatapan tersebut.

Ritsu hanya menghela napas panjang. "Aku masih tidak yakin," gumamnya.

"Apa kau bilang?!" tanya Tei kesal.

"Eh tidak, kalau begitu mohon bantuannya senpai!" ucap Ritsu cepat. Dia tidak bisa melawan Tei, dia masih sayang dengan nyawanya.

Selain itu kemana perginya yang lain, batin Ritsu yang tidak mendapati anggota OSIS lainnya selain mereka. Padahal ia berharap yang akan membantunya adalah salah satu dari mereka. Asalkan jangan kakak kelasnya satu ini.

.

.

.

"Aku benci belajar. Benar-benar sangat benci," ucap Gakuko.

"Kau sudah mengatakan itu 24 kali sejak tadi pagi," sahut Luki.

"Kau tidak perlu sampai menghitungnya," ucap Gakuko kesal. "Arrggh aku tidak mau belajar lagi, tapi kalau nilaiku sampai jelek. Orang tuaku pasti akan marah besar, dan aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku lagi," jerit Gakuko frustasi. Apa dirinya akan dilarang untuk keluar rumah, game-game miliknya akan disita, atau uang sakunya akan dikurangi. Memikirkan apa yang akan dilakukan oleh orang tuanya sudah membuat Gakuko putus asa.

"Kalau begitu jangan sampai kau mendapatkan nilai jelek," ujar Luki enteng.

Gakuko langsung menatap kesal ke arah pacarnya. "Kau sih enak, bisa dengan mudah mendapat nilai bagus," ujar Gakuko masih kesal. "Luki, ayo kita bertukar otak!" serunya.

"Sebegitu putus asanya kau sampai mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu," ujar Luki sweatdrop.

"Habisnya aku sudah tidak punya waktu lagi," sahut Gakuko frustasi.

"Itu karena kau sering menghabiskan waktumu untuk bermain game," ucap Luki.

Gakuko hanya manyun mendengarnya, tapi ia tidak membantah perkataan pacarnya itu. Luki yang melihatnya langsung mendesah panjang.

"Baiklah, aku akan membantumu belajar," ujar Luki pada akhirnya.

"Benarkah?" Gakuko seperti melihat secercah harapan.

Luki mengangguk. "Tapi ada syaratnya," ucapnya.

Gakuko langsung mendecih kesal. "Kenapa kau begitu perhitungan dengan pacarmu sendiri," ujarnya tidak percaya.

"Jadi bagaimana kau mau tidak? Aku sih tidak memaksa, terserah kau saja," ujar Luki seraya tersenyum.

Gakuko tahu Luki sedang mempermainkannya. Tapi kali ini ia benar-benar butuh bantuan Luki. "Cepat katakan apa syaratnya?" tanyanya pada akhirnya.

Senyum Luki semakin lebar. "Kita lakukan sesi belajarnya di apartemenku," jawabnya santai.

"Kenapa harus di apartemenmu. Mak-maksudku di-disana-" Disana hanya akan ada mereka berdua saja kan, tapi Gakuko tidak sanggup mengatakan itu. Wajahnya sudah memerah lebih dulu.

"Tentu saja karena aku punya banyak buku yang bisa membantumu belajar. Selain itu disana suasananya tenang jadi kau bisa fokus belajar," jelas Luki. "Memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Arrrghhh aku tidak memikirkan apapun. Lupakan saja!" seru Gakuko masih dengan wajah tomatnya.

"Hahaha tapi kalau kau belajar dengan giat mungkin aku akan memberimu hadiah," ujar Luki seraya menyeringai.

"AKU TIDAK BUTUH!"

.

.

.

"Yuzuki-san, terima kasih atas bantuannya," ucap salah seorang guru.

"Sama-sama sensei. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Yukari yang setelah itu langsung membungkuk hormat sebelum berjalan keluar ruang guru.

Setelah menutup pintu ruang guru. Gadis berambut ungu itu langsung menghela napas panjang. Meski festival sekolah sudah berakhir, tapi gadis itu masih saja sibuk. Selain dirinya masih sering membantu para guru, Yukari juga masih harus membantu teman-temannya belajar. Memang sulit menjadi seseorang yang bisa diandalkan.

Yukari mulai berjalan lemah kembali ke kelas. Sejak pagi tubuhnya terasa panas, dan Yukari tahu apa penyebabnya. Dia terkena demam, meskipun begitu ia tetap memaksakan diri berangkat sekolah. Lagipula ia pikir ini hanya demam ringan, tapi siapa sangka sekarang rasanya suhu tubuhnya semakin panas. Mungkin saja demamnya naik, apa ia sudah terlalu memaksakan diri.

Yukari sudah tidak tahu lagi, yang ia tahu hanyalah tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas dan kesadarannya mulai menghilang. Sepertinya aku akan pingsan, batin Yukari sebelum memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, sepasang mata Yukari kembali terbuka. Hal yang pertama ia lihat adalah warna putih. Apa sekarang aku berada di klinik, pikir Yukari begitu merasakan benda empuk di bawah tubuhnya. Yukari langsung berusaha duduk dan tiba-tiba saja sesuatu yang dingin jatuh dari wajahnya. Kompres, batinnya begitu melihat benda tersebut.

"Kau sudah bangun rupanya," ucap seseorang sambil membuka tirai ranjang yang ditempati oleh Yukari.

Yukari mengenali orang itu. Dia adalah Kagene Rei, dia sering membantu anggota OSIS seperti saat festival kemarin. Tiba-tiba saja ada orang lain yang juga ikut menghampiri ranjangnya. Yukari juga mengenali orang itu. Dia adalah Yowane Haku, seorang guru kesehatan yang bertugas di sekolah mereka ini.

"Yuzuki-san, dengan demammu yang tinggi seperti ini. Seharusnya kau tidak memaksakan diri berangkat sekolah," ujar guru itu dengan wajah khawatir.

"Aku juga tidak tahu kalau bakal pingsan seperti ini, sensei," ucap Yukari lemah.

"Untung saja, anak ini dengan sigap membawamu kemari," ujar Yowane-sensei seraya mengelus-elus puncak kepala Rei.

Yukari menangkap semburat merah yang muncul di kedua pipi cowok itu, meskipun hanya sekilas.

"Aku tidak sengaja melihatnya pingsan di dekat ruang guru tadi," jelasnya. "Dan berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil," protesnya.

"Ah maaf, kebiasaan," ucal Yowane-sensei seraya tersenyum kecil. Ia pun akhirnya menurunkan tangannya kembali.

"Terima kasih," ucap Yukari berterima kasih.

"Sama-sama. Sekarang minumlah obat ini," ujar Rei sambil memberikan obat penurun demam dan segelas air putih.

Yukari langsung menerimanya.

"Sebaiknya setelah ini kau langsung pulang saja. Aku akan mengatakannya pada sensei kalau kau sedang sakit untuk memberimu ijin," terang Yowane-sensei.

Yukari langsung menggeleng cepat lalu berkata, "Tidak, aku tak bisa pulang!"

"Kenapa?" tanya Yowane-sensei heran.

"Bukan apa-apa, hanya alasan pribadi saja," ucap Yukari sambil menundukkan kepalanya.

Yowane-sensei terdiam tapi tidak bertanya lebih lanjut. Sebagai gantinya ia langsung berjalan ke arah pintu UKS. "Kalau begitu aku akan mengatakan pada wali kelasmu kalau kau sedang istirahat disini. Jadi beristirahatlah, aku akan kembali nanti," ujar Yowane-sensei seraya tersenyum. "Rei, jaga dia baik-baik!" Setelah mengatakan itu, sensei langsung keluar UKS.

Begitu Yowane-sensei sudah keluar, Rei kembali menatap Yukari yang sudah meminum obatnya. "Apa kau ada masalah di rumah?" tanyanya.

"Aku tidak bisa menyebut ini masalah, hanya saja aku merasa lebih nyaman berada di sekolah. Tapi kau tak perlu khawatir, kalau aku istirahat sebentar. Demamku pasti turun," ujar Yukari seraya tersenyum menyakinkan.

"Kau jangan memaksakan diri, sebentar lagi ujian dimulai," ucap Rei mengingatkan.

"Aku tahu," sahut Yukari seraya mengangguk mengerti. "Oh ya ngomong-ngomong, Rei. Apa kau menyukai Yowane-sensei?" tanya Yukari langsung.

"Eh, kenapa kau berpikiran begitu?" tanya Rei dengan wajah terkejut yang bagi Yukari sangat mencurigakan sekali.

"Aku merasa hubungan kalian terlihat sangat dekat," ujar Yukari berkomentar.

"Itu karena aku adalah anggota komite kesehatan," jawab Rei tegas. " Sekarang kau cepatlah istirahat. Jangan sampai penyakitmu tambah parah," lanjutnya seraya memaksa Yukari untuk berbaring lalu menyelimutinya sampai ujung kepala.

"Hei kalau begini aku tidak bisa bernapas!" protes Yukari sambil menurunkan selimutnya. Tapi begitu penglihatannya kembali, Rei sudah duduk di salah satu kursi, membelakanginya.

Sepertinya cowok itu tidak berniat angkat bicara. Baiklah kalau begitu, Yukari tidak bisa memaksanya. Lagipula ia juga sudah mulai mengantuk, mungkin karena efek setelah meminum obat tadi. Lambat laun kesadaran Yukari mulai menghilang. Tapi tepat di saat kesadarannya benar-benar menghilang, ia merasakan ada sesuatu yang dingin yang menempel di dahinya. Yukari ingin mengeceknya, tapi matanya sudah terasa berat untuk dibuka dan tanpa bisa dicegah lagi ia sudah tertidur pulas.

.

.

.

"Adikku tersayang, kalau kau kesulitan belajar, Onii-chan akan dengan senang hati membantumu."

"Aku baik-baik saja, jadi sebaiknya Kaito-nii pergi keluar dari kamarku!" seru Kaiko sambil mendorong Kaito keluar dari kamarnya.

"Heee kalau begitu aku akan menemanimu belajar supaya kau tidak kesepian," rengek Kaito.

"Tidak perlu. Sebaiknya kakak belajar untuk ujian kakak sendiri!" seru Kaiko lagi. Dengan sekuat tenaga, ia berhasil mendorong kakakny itu keluar dari kamarnya. Lalu dengan cepat ia menutup dan mengunci pintunya. Terdengar gedoran pintu dari balik pintu. Sepertinya kakaknya itu masih belum menyerah juga.

"Onii-chan kalau kau berisik, aku jadi tidak bisa belajar!" seru Kaiko keras.

Akhirnya suara gedoran itu berhenti dan suasana pun kembali hening. Kaiko menghela napas lega. Bukannya ia tidak menghargai niat baik kakaknya, tapi daripada mengkhawatirkannya. Lebih baik kakaknya itu fokus ke belajarnya sendiri lagipula kakaknya itu sudah kelas tiga. Meskipun begitu tidak bisa dipungkiri bahwa Kaiko merasa sedikit bersalah. Sepertinya ia sedikit berlebihan tadi. Ia harus minta maaf pada kakaknya itu. Baiklah kalau begitu, nanti malam ia akan memasakkan menu favorit kakaknya dan tentu saja tak lupa dengan es krim.

.

.

.

"Selain pendek, ternyata kau juga baka," ucap cowok berambut hijau sambil memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot. "Bagaimana bisa kau naik kelas dengan nilai seperti ini?!" seru cowok itu tidak percaya yang diketahui bernama Megpoid Gumiya.

Di tangannya sekarang terdapat beberapa kertas hasil ulangan milik seseorang bernama Megami Gumi.

"Mungkin karena aku beruntung," jawab Gumi seraya tertawa kecil.

Gumiya itu langsung menggebrak meja. "Ini bukan hal yang pantas ditertawakan!"

"A-aku tahu," ujar Gumi langsung menunduk ketakukan.

"Kalau bukan karena permintaan ibumu, aku pasti sudah tidak mau mengajari murid bodoh sepertimu," ujar Gumiya sambil menghela napas panjang. Wajahnya terlihat sangat depresi.

"Apa aku seburuk itu?" tanya Gumi itu sambil menggarung belakang kepalanya.

"Apa kau tak bisa menilainya sendiri dari kertas ulanganmu ini heh?!" seru Gumiya sambil menunjukkan kertas ulangan tadi dengan nilai 34 di depan wajah Gumi.

Gumi langsung memberengut kesal dan merebut kertas tersebut. "Nilaiku memang buruk, tapi aku sudah berusaha keras," protesnya.

"Aku tidak melihat dimana letak usaha kerasmu. Setidaknya lakukan lah dengan serius sama seperti kau bermain basket," ujar Gumiya itu.

"Basket dan belajar adalah dua hal yang berbeda," balas Gumi itu.

"Aku tidak menerima alasanmu. Pokoknya mulai detik ini kau dilarang menyentuh bola basket sampai ujian berakhir!" titah Gumiya.

"APA?! AKU MENOLAK?!" protes Gumi keras.

"Aku tidak peduli, ini demi kebaikanmu sendiri. Mulai hari ini tiap pulang sekolah, aku akan mengajarimu secara privat," ujar Gumiya.

"Ahh aku tidak senang mendengarnya," ucap Gumi lemas tak bernyawa. Seolah-olah ia baru saja diseret ke dalam neraka.

.

.

.

Sayu sekarang belajar sendirian di perpustakaan. Dia memilih tempat duduk di pojok ruangan yang selalu menjadi tempat duduk favoritnya. Meski di depannya sudah terdapat buku yang terbuka dan tangannya sudah memegang pensil. Tapi gadis itu sejak tadi belum menggerakkan tangannya. Bukan karena ia tidak bisa menjawab soal-soal di hadapannya. Hanya saja pikirannya sedang tidak fokus untuk memecahkan soal-soal tersebut.

Pikirannya dipenuhi oleh IO. Jika IO sampai tidak mendapatkan rangking satu paralel, orang tuanya akan mengirim IO untuk bersekolah di luar negeri. Meski IO mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, tapi bagaimana bisa Sayu merasa tidak khawatir. Biar bagaimanapun mendapatkan rangking satu paralel bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika itu berarti IO harus mengalahkan Megurine Luki yang selalu menjadi rangking satu saat ujian masuk maupun ujian terakhir mereka. Bahkan Sayu yang merupakan teman sekelas Luki, harus mengakui kepintaran Luki. Cowok itu selalu terlihat tidak serius saat pelajaran berlangsung, meskipun begitu cowok itu selalu berhasil mendapatkan nilai tinggi di tiap ulangannya. Bisa dibilang Luki adalah seseorang yang bisa disebut jenius. Jadi bagaimana IO akan mengalahkan Luki.

Semoga saja akan terjadi keajaiban, doa Sayu dalam hati.

.

.

.

Di sebuah rumah sakit dan di salah satu kamar pasien VIP. Tampak gadis berambut pirang panjang sedang membaca sebuah buku di atas ranjangnya. Tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka dan masuklah seseorang menghampiri gadis tersebut.

"Apa kau belajar untuk ujian nanti? Tidakkah kau terlalu memaksakan diri," ucap orang itu sambil duduk di kursi samping ranjang gadis tersebut.

Gadis itu hanya tersenyum tipis. "Biar bagaimana pun aku masih murid di sana. Jadi aku harus menghadiri ujiannya," jelasnya.

"Aku sudah menduga kalau kau akan berkata begitu. Jadi aku membawakanmu buku catatan materi pelajaran selama kau tidak masuk sekolah," ujar orang itu sambil menyerahkan tas kecil yang sedari tadi dibawanya.

Gadis itu menerimanya dengan senang hati. "Gomen, aku selalu merepotkanmu," ucapnya seraya tersenyum tipis. "Kau memang ketua kelas yang bisa diandalkan. Arigatou, Miyakun."

"Cepatlah baikan dan kembali ke sekolah, Lily."

.

.

.

Hari demi hari pun berlalu dan tibalah waktunya ujian dimulai. Semua murid mengerahkan seluruh hasil jerih payahnya untuk mengerjakan soal ujian. Ujian yang berlangsung selama satu minggu itu pun akhirnya selesai. Semua murid langsung bernapa lega karena berhasil melalui neraka yang bernama ujian. Wajah mereka kembali cerah dan suasana di sekolah pun kembali hidup.

Dan beberapa hari kemudian, hasil ujian pun ditempel di papan pengumuman yang tersebar di tiap koridor kelas. Semua murid langsung melihat kertas yang bertuliskan peringkat dan hasil nilai di tiap pelajaran.

"Seperti biasanya Lenka mendapatkan peringkat pertama. Omedetou Lenka," ucap Rinto memberi selamat pada pacarnya itu.

Tapi Lenka masih terus menatap kertas pengumuman tersebut. Lagi-lagi Utatane Piko mendapatkan peringkat kedua yang berarti satu peringkat di bawah Lenka. Dan lagi-lagi nilai matematikanya sama seperti ujian terakhir mereka. Salah, bukan hanya ujian terakhir mereka tapi sejak ujian pertama mereka saat kelas satu. Mungkin tidak banyak yang mengingatnya tapi karena nama cowok itu selalu berada di bawah nama Lenka. Mau tidak mau Lenka selalu mengingat hasil nilai cowok itu juga. Dan ia tahu ini bukan hanya kebetulan saja.

"Apa ia sedang main-main," ucap Lenka seraya mengernyitkan wajahnya.

"Kenapa Lenka?" tanya Rinto cemas.

Akhirnya Lenka menoleh menatap wajah Rinto. "Bukan apa-apa. Ayo kita pergi dari sini. Disini mulai sesak," ujar Lenka seraya tersenyum tipis.

Rinto mengangguk. Di saat mereka akan pergi dari sana. Mereka bertemu dengan Piko dan Oliver.

"Kagami-san, selamat atas peringkat pertamamu. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk ujian selanjutnya," ujar Piko mengucapkan selamat.

Lenka terdiam untuk beberapa saat membuat Rinto menoleh ke arah Lenka dengan wajah bingung. Lalu ia berkata, "Terima kasih. Aku harap berikutnya kau benar-benar serius," ucap Lenka dengan wajah yang serius sambil mengeratkan genggamannya pada Rinto. "Ayo kita pergi," bisiknya pada Rinto sambil menarik tangan Rinto.

Rinto yang masih dengan wajah bingungnya membiarkan tangannya ditarik oleh Lenka. Sekali melihatpun, Rinto juga tahu ada yang aneh dengan pacarnya itu. Dan sepertinya itu ada hubungannya dengan hasil ujian tadi.

"Ada apa dengan pacarnya Kagamine-san?" tanya Oliver begitu melihat Lenka yang menarik Rinto pergi.

"Tidak usah dipikirkan," ucap Piko sambil berjalan menuju ke papan pengumuman.

Tapi bukan hasil peringkat anak kelas dua yang ia lihat melainkan hasil peringkat anak kelas satu. Lagipula ia juga sudah tahu hasil peringkatnya begitupun dengan nilainya.

"Percuma aku mengkhawatirkannya," gumamnya sambil bernapas lega.

.

.

.

Sama halnya dengan papan pengumuman di koridor kelas dua. Papan pengumuman koridor kelas satu juga dipadati oleh banyak murid. Tapi mungkin ini lebih ramai dibanding anak kelas dua. Pasalnya mereka dikejutkan hasil peringkat yang sama sekali tidak diduga-duga oleh siapapun.

"Akhirnya ada yang berhasil mengalahku juga," ucap Luki seraya menatap hasil peringkat kelas mereka.

Kali ini nama Luki tidak berada di puncak seperti biasanya. Melainkan sekarang ia berada di peringkat dua. Dan yang menjadi peringkat pertama menggantikan Luki adalah seseorang yang mungkin tidak pernah diprediksi akan meraih hasil nilai yang terbilang hampir sempurna ini.

IO. Dia berhasil meraih nilai sempurna di mata pelajaran matemarika, IPA, dan Bahasa Inggris. Selain ketiga mata pelajaran itu, nilai di mata pelajaran lainnya juga mendekati sempurna.

"Entah kenapa aku senang melihat rangkingmu yang turun," ucap Gakuko senang. Selain itu ia juga senang karena nilainya juga berada di zona aman yang artinya ia tidak akan kena omel oleh kedua orang tuanya.

"Aku juga senang melihatnya," sahut Luki seraya tersenyum. "Dengan begini akhirnya ada orang yang bisa aku kalahkan."

Gakuko langsung menatap aneh ke arah pacarnya. "Aku memang tidak akan pernah mengerti cara kerja otak orang pintar. Tapi aku tahu sesuatu yang bisa membuatmu senang," ujar Gakuko bersemangat.

"Apa?"

"Ayo kita pergi beli kue yang enak!" seru Gakuko.

"Itu sih memang keinginanmu," ucap Luki.

"Ayo tak perlu sungkan-sungkan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah membantuku belajar," ujar Gakuko sambil menyeret tangan Luki menjauh dari sana.

.

.

.

Sayu langsung berlari mencari IO. Satu-satunya tempat yang mungkin IO datangi adalah tidak lain dan tidak bukan gedung tua bekas sekolah mereka. Meskipun dibilang tua dan sudah tidak terpakai lagi. Tapi bangunan itu masih bagus. Mungkin karena gedungnya yang terpencil dan jauh dari gedung utama. Makanya gedung yang berukuran kecil itu sudah tidak dipakai lagi dan dijadikan tempat penyimpaman alias gudang.

Sayu yang jarang berlari selain saat pelajaran olahraga, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai bangunan tersebut. Dinaikinya anak tangga satu persatu dengan langkah cepat lalu segera menuju ke salah satu ruangan dan dibukanya pintu tersebut dengan lebar.

"IO!"

Tampak seorang cowok yang tengah duduk di sebuah kursi langsung menoleh ke arah pintu.

"Sayu!" panggil IO balik.

Sayu langsung berjalan cepat menghampiri cowok tersebut sampai ia tiba tepat di depannya.

"Hasil ujian itu. Bagaimana bisa?" tanya Sayu bingung. Ia masih tidak percaya bahwa cowok di hadapannya ini benar-benar berhasil meraih peringkat pertama.

"Apa kau terkejut?" tanya IO.

"Tentu saja. Siapapun pasti akan terkejut, aku tidak menyangka kalau IO benar-benar pintar. Kau bahkan bisa mengalahkan Megurine-san," ujar Sayu masih dengan wajah tidak percaya.

"Aku kan sudah bilang semua akan baik-baik saja," ucap IO seraya tersenyum. Awalnya ia juga tidak percaya diri bisa mengalahkan Luki, oleh karena itu selama ia ditahan di rumah. Ia berusaha mati-matian untuk belajar tiap harinya. Dan untung saja, otaknya masih berfungsi dengan baik. Dan kerja keras memang tidak pernah berkhianat. Ia berhasil mendapatkan peringkat pertama paralel kelas satu.

Tampak sepasang mata Sayu mulai berkaca-kaca. Lalu ia langsung menghambur ke pelukan IO. "Pasti IO sudah bekerja keras, karena itu omedetou. Aku senang dengan begini IO tidak perlu pergi," ujar Sayu di sela isakan tangisnya.

"Sepertinya aku selalu membuatmu menangis," ucap IO sambil mengusap-usap kepala Sayu.

"Karena itu IO harus bertanggung jawab," sahut Sayu pelan.

"Baiklah, mulai sekarang aku akan selalu disisi Sayu dan memastikan Sayu tidak akan menangis lagi," ujar IO lembut.

Sayu mengangguk pelan dalam pelukan IO.

.

.

.

Iroha terus tersenyum melihat hasil pengumuman yang dipajang. Tapi bukan hasil ujiannya yang membuatnya senang, malahan peringkatnya menurun. Meskipun begitu gadis itu tidak peduli. Ia lebih tertarik dengan posisi peraih peringkat atas dari kelas satu dan juga kelas dua. Lebih tepatnya ia tertarik dengan posisi pertama dan kedua dari kedua angkatan tersebut. Dimana ada yang masih sama dan ada yang berubah. Untuk kelas satu, Iroha memang sudah tahu kalau IO memang sudah berbakat sejak kecil. Cowok itu sudah memenangi banyak lomba. Entah itu dari bidang akademik, olahraga, bahkan musik. Hanya saja bakatnya itu meredup saat ia masuk ke sekolah menengah. Tapi syukurlah kalau sekarang ia bisa menemukan cahayanya kembali. Dengan begitu sekarang Luki akan memiliki saingan baru. Iroha tahu kalau cowok itu pasti akan senang sekali.

Lalu untuk kelas dua, untuk sekarang ini Lenka memang masih menempati posisi pertama. Iroha masih belum menemukan alasan kenapa Piko mengalah pada Lenka. Yah gadis itu tahu kalau cowok itu sengaja membuatnya berada di posisi kedua dari nilai ujian matematikanya yang selalu sama sejak mereka masuk ke sekolah ini. Apa itu hanya kebetulan, Iroha rasa itu bukan hanya kebetulan semata. Lagipula jarak total nilai Lenka dan Piko tak pernah lebih dari lima poin. Iroha tidak tahu bagaimana cowok itu melakukannya, tapi ia tahu Lenka bukan orang bodoh. Gadis itu pasti sudah menyadari hal ini juga. Lagipula tadi Iroha tidak sengaja melihat Lenka berbincang dengan Piko, memintanya untuk serius.

Tapi percuma saja ia melakukannya, karena sejak awal cowok itu tidak pernah serius. Kalau ia memang serius, ia bisa dengan mudah menjadi Ketua OSIS saat ini. Nyatanya cowok itu juga sengaja mengalah pada Oliver saat pemilihan Ketua OSIS. Gadis itu tahu kalau cowok itu memanipulasi murid-murid agar tidak memilihnya tapi memilih Oliver supaya cowok itu memperoleh suara yang lebih banyak darinya. Kenapa Iroha sampai tahu itu, tentu saja karena dialah yang membantu cowok itu melakukannya dengan posisinya sebagai ketua jurnalistik. Meski begitu cowok itu hanya mengatakan kalau dia tidak berminat menjadi ketua tapi posisi wakil ketualah yang ia incar. Iroha tidak tahu alasannya tapi ia tetap mengikuti kemauan cowok itu dengan membuat berita yang menguntungkan pihak Oliver. Kalau dipikir-pikir lagi kenapa ia dulu mau saja membantu cowok itu. Ah benar juga karena Iroha juga tidak ingin Piko lah yang menjadi Ketua OSIS.

Iroha pun berjalan menjauh dari kerumunan murid dengan langkah ringan. Ia sudah tidak sabar mencari informasi lagi. Sekolah ini benar-benar dipenuhi oleh banyak karakter yang menarik. Dan dia sudah tidak sabar drama apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Haruskah kali ini Iroha ikut naik ke atas panggung. Tapi gadis itu langsung menggeleng cepat sambil tersenyum. Untuk sekarang ini aku akan menjadi penonton saja, batinnya.

.

.

The End

.

.

Please Review