Disclaimer: Punya Masami Kurumada
Chapter 9
Day 3
Seiya menggosok giginya dengan kalem. Busa putih mengembang seiring dengan cepatnya sikat gigi itu bergerak-gerak. Seiya berkumur-kumur dan menggerakkan air di dalam mulutnya ke sana kemari lalu memuntahkannya di wastafel. Dia melihat wajahnya di cermin.
Seorang remaja beralis tebal dan berwajah pemberani menatapnya balik. Ia tersenyum bangga dan mencuci wajahnya.
Seiya berjalan keluar kamar mandi dan meraih handuk putih di gantungan dan mengelap wajahnya. Setelah benar-benar kering, handuk itu dilempar begitu saja di tempat tidur. Seiya membuka lemari pakaiannya dan melihat-lihat.
"Ini saja." Seiya mengenakan kaos merah kesukaannya dan pergi keluar kamar.
Hari ini dia punya misi penting. Misi yang sangat suci. Sebuah misi rahasia yang hanya ia dan Hyoga tahu. Ia berharap mudah-mudahan Ikki tak tahu dan diam saja di kamarnya.
Mudah-mudahan...
"Hei, Kuda! Ayo cepat!" Hyoga berteriak-teriak dari bawah pohon. Seiya cepat-cepat menghampirinya. "Mana Shun?"
"Belum kelihatan. Sebentar lagi, mungkin."
"Hyoga! Seiya!" yang dipanggil menoleh dan melihat sosok Shun berlari ke arah mereka. Wajahnya cerah ceria.
"Sudah siap, Shun?"
Shun mengangguk tegas dan Seiya tersenyum bangga.
Seiya mulai berlagak, "PEMBELAJARAN CINTA SUCI VERSI PERTAMA!"
Shun menelan ludah.
"TEBALKAN SUARA DAN TEBALKAN OTOT!"
Mata Shun terbelalak sedikit, agak bingung karena terasa janggal. "Eh...?"
"Ada yang aneh...?" tiba-tiba saja figur Seiya dan Hyoga membesar, memandangnya dengan pandangan tajam. Shun merasa dirinya makin ciut mengecil.
"T-t-tidak." Ia cepat-cepat menggeleng.
"Perempuan zaman sekarang itu lebih suka laki-laki yang berotot dan bersuara dalam! Mata mereka selalu bersinar ketika melihat seorang pria yang kekarnya bukan main! Apalagi suara mereka bass! Mereka akan lebih tergila-gila lagi, Shun!" Hyoga menjelaskan.
"Eh...tapi bukannya itu aneh..?"
"Apa? Aneh kenapa?" tanya Hyoga.
"Um...beberapa wanita suka pria yang imut..."
"TAKTIK SUCI NOMOR SATU! KEBOHONGAN PEREMPUAN ITU GAMPANG DIKETAHUI!" teriak Seiya sambil menunjuk Shun. Shun bergidik kaget.
"Pikiran wanita itu bagai benang wol. Berbelit-belit dan susah diketahui, Shun." Ujar Hyoga, menerjemahkan apa yang dikatakan Seiya, "tapi, soal berbohong, wanita tak kan bisa menyembunyikannya dengan baik. Karena apa? Karena mereka makhluk emosi. Walaupun mereka bilang mereka suka pria imut, dalam pikiran mereka yang tidak disadari, mereka suka pria kekar berotot. Itu sifat alamiah."
"Eh...?"
"TAKTIK SUCI NOMOR DUA! TUGAS PRIA DAN WANITA!" Seiya berteriak sambil memukul papan tulis dengan stik.
"Tugas pria dan wanita di dunia ini berbeda. Tadi sudah kujelaskan bahwa wanita adalah makhluk emosi. Pria adalah makhluk pikiran. Jika diibaratkan angka, pikiran pria sembilan dan emosinya satu, sedangkan emosi wanita sembilan dan pikirannya satu. Kenapa begitu, karena wanitalah yang cocok untuk membesarkan anak dan mengontrol rumah tangga.
Di lain pihak, tugas pria adalah memastikan bahwa semua kebutuhan rumah tangga berjalan dengan mulus tanpa hambatan, dan juga melindungi wanita. Pria diciptakan untuk melindungi wanita, Shun dan wanita diciptakan untuk dilindungi dan merawat pria. Tapi camkan di otakmu. Jangan sekali-kali meremehkan wanita hanya karena mereka selalu menangis. Kau akan menyesal nantinya."
Shun mengangguk pelan. Ia teringat Kore.
"Sekarang pertebal suaramu."
"Sekarang?"
"Sekarang!" teriak Hyoga.
Shun menatap Hyoga.
"PEMBELAJARAN CINTA SUCI VERSI KEDUA!" teriak Seiya dengan semangat, "PENDEKATAN SECARA MULTIDIMENSIONAL!"
"...apa maksudnya?" Shun melirik Hyoga, jelas-jelas bingung dengan Seiya.
"Biarkan saja. Mungkin maksudnya adalah pendekatan secara langsung dan tidak langsung."
"Contohnya...?"
Hyoga melihat sana-sini dan ber-aha ketika melihat beberapa wanita di dekat sungai, sedang bersenang-senang.
"Water Nymph!" teriaknya. "Dengar, Shun. Ini pelajaran langsung."
Hyoga mendekati mereka sambil melambaikan tangan. Shun dan Seiya mengintip di balik semak-semak. Terlihat Hyoga duduk di antara Nymph-Nymph itu dan saling bercanda tawa. Mata Shun terbelalak kagum.
Hyoga benar-benar hebat...
Setelah itu, Hyoga berdiri dan pamit. Tak lupa mencium punggung tangan sebagai tanda hormat. Setelah itu, Hyoga pergi.
Mereka berdua cepat-cepat menghampiri Hyoga.
"B-bagaimana kau melakukannya?" tanya Shun.
Hyoga mengedipkan sebelah mata. "Insting, Shun."
Shun bingung.
"Pertama, sapa mereka dengan lembut. Jangan lupa berbasa-basi sedikit. Setelah mereka nyaman denganmu, bertanyalah pada mereka agar kau bisa duduk dekat. Itu tadi pendekatan secara multidimensional, kata Seiya. Secara tidak langsung dan langsung. Intinya, interaksi.
Ada dua interaksi. Langsung dan tidak langsung. Aku menghampiri mereka dan saling bercakap-cakap, itu tidak langsung. Kau lihat aku mencium punggung tangan mereka? Itu interaksi langsung."
"PEMBELAJARAN CINTA SUCI NOMOR TIGA! BERTINGKAH GENTLEMAN!"
"Um...kenapa selalu ada 'suci'nya..?"
"Cinta itu suci, Shun. Hanya pria tak tahu malu yang tidak menghargai cinta."
Melihat Shun terdiam, Hyoga bicara lagi, "Kembali ke topik. Pria yang baik adalah pria yang bertingkah ksatria terhadap wanita, bukan berarti kau membawa pedang dan tameng ke sana-kemari."
"TAKTIK SUCI NOMOR TIGA! BUAT WANITA AMAN!"
"Inilah topik yang berkaitan dengan tadi. Tugas pria dan wanita. Penting sekali membuat wanita merasa aman didekatmu, karena wanita punya segudang keinginan-salah satu yang terpenting adalah merasa aman di dekat pria. Kau tahu pria zaman sekarang seperti apa? Mereka menggunakan kekerasan pada wanita, mereka menyiksa wanita tanpa ampun dan melecehkannya. Mereka beraninya hanya keroyokan, bila disuruh maju satu-persatu, mereka akan mundur, mencari kawan. Mereka pengecut. Mereka bukanlah pria sejati, Shun.
Seorang pria tidak pernah pengecut!"
Shun menelan ludah. Melumat setiap kata yang disampaikan Hyoga ke otaknya. Senangkah Kore jika ia aman bersamanya...?
"TAKTIK SUCI NOMOR EMPAT! BUAT WANITA SENANG!"
"Ada banyak cara untuk membuat wanita senang. Yang pertama, tentu saja memuji mereka, tapi ingat jangan terlalu banyak. Yang kedua, hormatilah mereka, dengan caraku tadi. Itu adat gentleman kepada seorang wanita, kau tahu. Yang lain-lain, kau harus temukan sendiri."
"Begitu rupanya..."
"Sekarang giliranmu!" Hyoga mendorong Shun. "Apa? Aku...aku tidak bisa!"
"Bisa! Kau sudah melihatku tadi!" Hyoga mendorong dengan keras sampai Shun hampir jatuh. Para Nymph itu melihati Shun, yang sekonyong-konyong muncul tanpa pemberitahuan.
"Ya ampun, ada cowok lucu." Salah satu dari mereka tertawa manis.
"Sini, ayo sini. Jangan malu-malu."
Shun merasa wajahnya merah. Ia menarik nafas panjang. Ia harus seperti Hyoga.
Yang pertama, basa-basi dulu!
Shun tertawa dalam hati. Ia sudah melatih suaranya hingga seperti Ikki, yah tidak sampai seperti kakaknya, tapi kedua gurunya mengacungkan jempol ketika ia praktek tadi.
"Hai, gadis-gadis cantik. Boleh aku duduk di dekat kalian?" nyatanya suara Shun jauh dari penampilan femininnya, malah terdengar menakutkan.
Nymph yang ada di sana langsung diam melihat Shun. Ada yang mengangkat alis, ada yang memandang Shun dengan aneh dan ada yang sampai membuka mulutnya.
Shun melihati mereka satu persatu. Ada yang tidak beres...
"Shun? Sudah selesai?" tanya Hyoga sambil keluar dari persembunyian. Ia dan Seiya berteriak kaget melihat Shun.
Wajahnya memar, matanya lebam. Giginya tanggal satu, dan gundukan daging berwarna merah biru dan ungun ada di pipinya.
Seiya dan Hyoga saling berpandangan dan melihat Shun sembari tertawa polos tanpa dosa.
"SEIYAAAAAA! HYOGAAA!"
Mereka berdua lari pontang-panting.
Kore merangkai bunga dengan indahnya. Di Sanctuary ini banyak bunga tumbuh dengan lebatnya. Salah satu bunga yang paling ia suka adalah Honeysukle. Bunga itu amat berkesan baginya. Mata hijaunya memandang bulan yang bersinar pucat di angkasa.
Setelah bosan bermain bunga di Sanctuary, ia mulai berkelana dan tanpa sengaja menemukan sebuah kolam kecil di tengah padang rumput. Sebuah pohon besar dan rindang berdiri di sana, bak penjaga kolam. Di sekitar kolam yang indah itu, banyak sekali jenis bunga yang tumbuh. Kolam ajaib ini tak pernah dihuni oleh orang, atau tak pernah ditemukan oleh manusia. Tak ada yang tahu ada kolam yang indah di sini. Itu membuat Kore lebih nyaman. Setidaknya tak ada yang mengganggunya dan berteriak makan malam dan sejenisnya.
Gadis cantik itu tersenyum puas melihat rangkaian bunganya dan memakainya. Masih dalam masa kanak-kanak, ia selalu berkhayal akan memakai mahkota asli—mahkota berhiaskan permata, intan, jika bisa permata hitam yang langka—kelak jika sudah besar. Lalu ia membayangkan dirinya mengenakan gaun yang indah, berenda-renda dan terbuat dari kain yang mahal dan mewah. Memakai berbagai aksesoris yang elok dan menaiki kereta kuda. Ia selalu memimpikan semua hal konyol itu dan berharap keesokan harinya, semua mimpi itu jadi kenyataan.
Bicara tentang mimpi, kemarin malam ia bermimpi hal yang sama. Tapi anehnya, berbeda. Ia mencoba mengingat-ingat mimpi itu.
Kore melihat dirinya sendiri di mimpi. Ia bagaikan seorang ratu. Kore dalam mimpi begitu tinggi, langsing dan anggun. Wajahnya begitu dewasa dan matanya amat indah daripada mata yang ia miliki. Memakai perhiasan, gaun dan mahkota yang mewah. Tapi anehnya, dari semua mimpi yang dialaminya ia selalu memakai gaun yang cerah dan lembut—tapi ini...
Gaunnya merah marun, dan berenda emas yang tua. Warna-warna gelap. Kore melihat dirinya yang ada di mimpi itu mengenakan banyak perhiasan mewah dan anehnya...
Kore di dalam mimpi itu berwajah dingin. Matanya kosong dan hampa, tak ada cahaya kehidupan di sana. Kore melihat dirinya berjalan dengan elegan, tak sedikitpun suara langkah terdengar, Kore sampai terkagum-kagum. Kore dalam mimpi berhenti dan melihat pemandangan di jendela yang besar dan terbuat dari bahan-bahan mewah yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Kore pun tahu jika semua perabotan di ruangan itu amat mahal dan mewah, terlihat dari semua desain dan ukirannya. Ranjang yang besar, luas sekali, seperti kanopi. Bantalnya, besar dan nampak empuk, diselimuti warna hitam dan berenda di pucuknya. Selimut tebal berwarna merah melindungi seprai abu-abu.
Lilin-lilin menggantung di tembok, memberikan cahaya mistis yang menakutkan. Gorden berwarna merah marun dengan tali emas diikat di tepi jendela. Sekali lihat, Kore tahu jika ini adalah kamar pribadi.
"Melamun tak kan mengubah apapun, Sayang." Kore menjerit kaget, dan langsung menutup mulutnya. Untungnya, Kore di dalam mimpi itu tidak bisa mendengarnya.
Ia melihat seorang pria duduk di ranjang. Ia bersumpah pria itu tak ada tadi!
Kore melihat dirinya yang satu lagi. Postur wanita itu mengeras.
"Aku tak butuh apapun darimu."
Kore nyaris tersedak merasakan kebencian yang kental di nadanya. Siapa pun pria itu, tampaknya bukan pria baik-baik.
Pria itu tertawa. Tawa rendah yang dalam. Kore benci mengakuinya, tapi ia senang mendengar pria itu tertawa. Sayangnya, wajah pria itu buram. Entah disengaja atau tidak, setiap kali ia berusaha melihat, semakin buram wajahnya.
"Apa kau pikir ini bahan tertawaan, Dei?" wanita itu memutar badan melihat si pria.
Senyum tipis menghiasi tepi bibir tipisnya. "Apakah aku tengah bercanda, Seph?"
Kore dewasa mendekati pria itu dan menamparnya. Suara tamparan menggema di ruangan sunyi itu, membuatnya terdengar menyakitkan dari pada yang dirasakan.
"Apa menamparku membuat segalanya berubah?"
Kore dewasa terdiam memandang pria itu, tangannya mengepal erat.
"Apa yang kurasakan padamu tak kan berubah. Camkan itu baik-baik."
Dia menyeringai, tak terpengaruh oleh nada ucapannya yang kasar. Wanita itu diam, menatapnya dengan sengit.
"Pergi. Pergi ke pelukan pelacur-pelacurmu itu."
Kore terkesiap. Pelacur? Separah itukah pria ini...?
Pria itu hanya tersenyum tipis. "Cemburu?"
"Pergi."
Dia terdiam dan menyeringai menghina.
"Tenang saja. Aku akan pergi dari hidupmu."
Kore tersadar ke dunia nyata ketika mendengar suara gemeresak rumput dan menoleh ke asal suara. Matanya terbuka lebar, kaget melihat sesosok figur yang familiar.
"Ai!"
Hades tersenyum simpul. "Ssh...jangan berteriak."
"O...oh, maaf..." Kore tersenyum malu.
"Boleh aku duduk?"
"Silahkan." Kore menepuk rumput di sebelahnya, akan tetapi Hades duduk di bawah pohon, agak jauh dari Kore.
Mereka berdua diam beberapa menit sampai Hades memecah kesunyian malam.
"Aku minta maaf soal kemarin. Tingkahku kekanak-kanakan."
"T-tidak usah minta maaf. Aku...aku juga salah, tiba-tiba saja bertingkah begitu..."
Mereka saling pandang.
"Kurasa kita pihak yang sama-sama bersalah."
Kore tertawa malu sambil memainkan bunganya. Hades diam menatap Kore.
"Kau tertawa?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kata-katamu lucu."
Hening.
"Aku tidak melucu."
Hening lagi.
"Oh, maaf..kukira..."
Hening...
"Ini untukmu." Hades memberi Kore sebuah kotak kecil yang menarik. Gadis itu menerimanya dengan ceria, lalu membukanya dengan tergesa-gesa.
"Cokelat!" ujarnya dengan senang. Ia segera melahap satu lalu menawari Hades. Namun pria itu menolak. "Terima kasih, Ai."
"Kore?"
"Mm?" Kore melihat Hades sambil memakan cokelatnya.
"Ceritakan tentang keluargamu. Aku ingin tahu." Tentu saja Hades ingin tahu.
Kore terdiam. "Keluargaku..? ...kurasa itu hal yang sulit diceritakan..."
"Kenapa?"
Gadis itu menghela nafas dan memasukkan cokelat lagi ke dalam mulutnya. "Tak tahu. Mungkin karena ada hal yang buruk."
Kore merangkak dan duduk di dekat Hades, bersandar di pohon.
"Ibuku adalah seorang dewi. Demeter namanya, lalu ayahku..."
"Ayahmu?" Zeus.
"...aku pernah mendengar ibu bicara soal ayah. Dia seorang manusia bernama Lasion. Aku adalah setengah dewa."
Hades mengangkat alis. Kore tertawa lemah dan mengunyah lagi. "Aneh, ya? Seharusnya seorang dewi bersanding dengan yang sederajat. Tapi ibuku tidak. Menjadi dewi panen, membuat ibu sangat merakyat. Setiap hari ibu bekerja untuk memberi makan manusia-manusia, lalu ibu bertemu dengan ayah. Ayah adalah seorang petani di Etna. Etna sangat indah, kau tahu. Orang-orangnya ramah dan suasananya tenteram.
Lalu ibu dan ayah menikah, dan lahirlah aku. Kami benar-benar bahagia bertiga. Namun setelah beberapa bulan sejak aku lahir, ayah meninggal..."
Hades melihat keraguan Kore dan bertanya, "Ada apa?"
"...entah ini hanya perasaanku atau apa, tapi...semenjak ayah meninggal, ibu jadi berubah."
Zeus... Hades menatap rumput dengan datar.
"Ibu lebih tertutup dan jika aku bicara mengenai pria, ibu pasti menegurku dengan keras. Katanya pria itu tak dapat dipercaya, pria itu pasti akan mencari yang lain setelah ia terpuaskan. Kadang aku bingung pada ibu. Setiap aku bertanya kenapa, ibu pasti akan berkata bahwa aku terlalu muda untuk mengerti. Apa usia tujuh belas tahun tidak cukup tua untuk tahu?"
"Tidak."
"Eh...? Ai...?"
Yang ia lihat bukanlah Ai, tapi seorang laki-laki dengan pandangan mata hampa emosi dan keji, menerawang sesuatu.
"Tidak cukup."
"Ai...?" Kore memegang lengan Hades dengan khawatir. Pria itu kaget dan melihat Kore, matanya sudah kembali seperti dulu lagi. "Kau kenapa? Kau tadi...aneh..."
"Ah? Maaf, Kore." Ujarnya pelan. "Ayahmu tahu jika kau setengah dewa?"
"Tentu saja. Aku menunjukkan gejala pertumbuhan yang lebih cepat dari anak seusiaku. Jadi ayah menduga aku salah satunya. Tapi, siapa pun aku, ayah tetap menyayangiku. Karena aku anak ayah, anak ayah dan ibu."
Hades tersenyum simpul melihat Kore.
"Kore?"
"Ya?"
Hades terdiam sesaat. "Kau mengenal Persephone?"
"Per..siapa?"
"Persephone."
"Perpeshone?"
"Per—lupakan." Hades menggerakkan tangannya. Anak ini benar-benar tak tahu nama itu. Apa takdirnya nanti dengan bocah ini benar adanya? Apakah Fates hanya mempermainkannya saja?
"Kau tahu, nama tadi sangat indah dan elegan, tapi susah menyebutnya."
"Oh, ya?" Hades agak heran. "Bagaimana jika aku memanggilmu itu?"
"Apa? Hei, itu nama seorang dewi, kan? Bagaimana jika dia dengar dan menghukumku? Aku tak mau dipenjara dan disiksa!"
Hades tersenyum. "Bukan nama seorang dewi. Tak ada yang bernama seperti itu."
"Benarkah?"
"Ya. Kau bisa pegang ucapanku. Belum ada seorang dewi yang bernama Persephone." Ya, belum ada. Kau akan menjadi salah satunya.
"Boleh saja."
Senyum kejam mengembang di hati Hades. Selangkah untuk mendapatkannya! Dari bibir Hades keluar sebuah nama dengan licinnya.
"Persephone."
Demeter terbangun dari tidurnya. Wajahnya penuh keringat dan matanya terbelalak lebar. Wanita itu menoleh ke sana-kemari, lalu mengusap keningnya. Di parasnya nampak kekalutan dan kekhawatiran.
"Kore..."
Ia melihat sebuah foto di dinding. Di mana ada dua orang dan seorang anak kecil berpose di depan rumah yang sederhana.
Lasion...
"Kau akan pulang?" tanya Kore, memeluk kotak cokelat di dadanya. Betapa Hades berharap dia adalah kotak cokelat itu.
"Ya. Aku sudah meninggalkan rumahku terlalu lama."
"Tidak bisakah kau bermalam denganku?"
Dia benar-benar berkata hal demikian. "Maaf, Kore."
Kore merengut. Hades tersenyum dan mengelus dahinya. "Sampai besok."
Hades melangkah pergi, tak lupa mengecup punggung tangan si kecil.
"Ai! Besok ceritakan tentang dirimu!" Kore melihat kepala Hades menunduk sedikit dan meliriknya dari balik bahu. Kore tersenyum senang dan segera berjalan masuk ke Sanctuary.
