#10

BY: JaeGG

Pagi sekali terdengar gemercik shower. Hell… Taehyung sudah mandi pagi buta seperti ini. Bahkan matahari saja masih malas menampakkan wujudnya. Jungkook mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari posisinya. Terkejut dengan tampilan jam digital dalam ponselnya, ini masih pukul 03.30 am.

Yang ia dapati selanjutnya adalah notifikasi dan pesan 0. Tumben sekali tak ada satupun pesan sekalipun itu dari eommanya. Kenapa eomma tidak menanyakan keberadaanku?

Pintu kamar mandi terbuka,memperlihatkan Taehyung yang shirtless membuat Jungkook salah tingkah. Hyung sialan, aku jadi bingung harus bersikap bagaimana.

Tipe-tipe tsundere tentu saja selalu merasa terganggu dengan segala hal. Dalam dirinya rasa senang mengguncah namun keegoisan lagi-lagi berhasil mendobrak pintu pertahanan terlebih dahulu.

"Kookie, kenapa kau bangun?"

"Salah sendiri keluar hanya menggunakan celana pendek." Nada ketus mengundang reaksi heran dari Taehyung. Pikir saja, tadi itu Taehyung bertanya baik-baik tapi kenapa Jungkook menjawab dengan emosi.

"Maksudku kenapa kau sudah bangun?" Baiklah, Jungkook gagal paham, oh Tuhan… Mungkin karena gugup melihat tubuh Taehyung yang setengah telanjang membuat pikirannya tak menentu, ia main menyambar saja seperti api. Jungkook pikir Taehyung bertanya kenapa ia bangun, Taehyung kan sedang tak memakai baju, jadi jangan harap Jungkook boleh melihatnya. Ok, itu hanya bayangan yang membayang-bayangi pikiran Jungkook. Pada kenyataannya, Jungkook sudah pernah melihat Taehyung lebih dari ini, jika diperjelas tepatnya mereka berdua sudah melihat tubuh masing-masing tanpa sehelai benang yang melilit tubuh mereka dan ajaibanya Jungkook lupa akan hal itu.

Taehyung duduk di samping Jungkook, tersenyum lembut. Air menetes dari pucuk kepalanya, betapa sexynya Taehyung sekarang. Jungkook tak ingat ia punya riwayat penyakit asma tapi sekarang ini rasanya memang sangat pengap.

"Eomma tidak menghubungiku, hyung." Jungkook mencoba menetralkan rasa gugupnya.

"Aku sudah memberi tau eomma kau menginap di sini."

"Kapan?"

"Saat kau teritidur." Jungkook merasa tak perlu mengucapkan apa-apa lagi.

Badan Taehyung sesekali bergetar.

"Kenapa hyung mandi? Ini masih pagi sekali."

"Hawanya panas sekali, apa kau tidak merasakannya?"

Jungkook diam kembali.

Kediaman Jungkook diartikan sebagai hal buruk bagi Taehyung. Mungkin saja masalah dengan si Kim Namjoon itu masih berkelebat.

Taehyung menghela nafas, ia merasa kesal juga pada Jungkook, kalau saja anak itu tidak egois, tidak mudah terpengaruh, dan tidak ada pikiran negatif tentang dirinya, masalah ini tak akan pernah terjadi. Tapi jika melihat sisi baiknya dari pikiran negatif Jungkook tentang Taehyung, tak bisa dipungkiri bahwa Taehyung begitu senang, itu tandanya Jungkook yang selama ini hanya diam ternyata dengan diamnya ia menyimpan kecemburuan.

"Ingin bolos? Hm?" Jungkook menatap Taehyung terkejut.

Ajakan Taehyung tak lebih karena ia ingin membuat Jungkook melupakan sejenak masalah yang ada.

"T-tapi eomma-"

"Serahkan padaku." Taehyung tersenyum lagi.

"Mari kita kembali tidur." Taehyung menarik tubuh Jungkook dan membawanya kedalam pelukan.

Sial kuadrat, Taehyung masih bertelanjang dada dan Jungkook benar-benar memegang abs nya, seolah hanya terpusat pada tubuh sexy Taehyung hingga Taehyung mendapat kesempatan untuk bertindak lebih. Ia mempererat dekapan itu membuat Jungkook satu kali lebih dekat. Matanya tersenyum melihat kekasihnya itu menatap perutnya yang sedang ia pegang entah sadar atau tidak. Taehyung menyisir helaian rambut Jungkook dengan hidung sampai pada titik menggairahkan, cuaca panas dipagi hari yang Taehyung anggap sangat buruk ternyata dapat jauh lebih nikmat jika ditambah dengan hawa nafsu, semakin panas saja ketika ia merasakan sensasi nikmatnya kulit dingin dari daun telinga kelinci. Menjilat hingga menggigitnya gemas. Sedangkan Jungkook?

Ia diam tak terganggu, manik matanya belum bisa lepas dari perut Taehyung. Entah kenapa namun seketika ia baru ingat jika beberapa waktu lalu dirinya pernah berhubungan dengan Taehyung.

"Aaaaaa" reflek Jungkook berteriak keras, kepalanya terbenam dalam lekukan leher Taehyung. Jelas saja ia terkejut.

"Kenapa? Apa kau ingat sesuatu?"

Jungkook menarik kepalanya dari perpotongan leher Taehyung dan selanjutnya ia menyesali tindakannya karena saat ia menatap wajah Taehyung yang ia lihat adalah seringaian iblis.

"Hyung pernah memperkosaku!"

Plak

***JRoB***10***

Bagus! Ini kali kedua Taehyung mendapat tamparan keras. Anak itu tidak main-main jika sudah terganggu.

Dan hari ini, rencananya untuk bersenang-senang dengan Jungkook gagal total.

Dengan tiba-tiba Jungkook meminta pergi sekolah. Apapun itu, Taehyung tau ia tak akan pernah bisa menolak, terserah apapun yang kekasihnya mau, harus dan akan selalu ia turuti.

Namun tetap pendirian seorang Taehyung tak akan terbang tanpa arah, dia harus menikmati tubuh Jungkook *lagi, ya.. Entah kapan namun pasti.

Genggaman tangan mereka begitu pas, melihat keakraban mereka berdua yang dibilang tiba-tiba tentu semua orang membidik fokuskan pada genggaman itu, sejak kapan?

Beruntung bagi anggota jurnalis sekolah yang mendapat bahan goSHITan untuk ditempel di mading sekolah.

"Hati-hati Jungkook, hubungi aku jika terjadi sesuatu, ok. Tapi ku pastikan semuanya akan baik-baik saja, ne?" Taehyung mencubit pipi Jungkook sebelum pergi menjauhi kelas Jungkook.

Jungkook hanya menatap nyalang kepergian Taehyung. Selama ini dia selalu kesal dengan adanya Taehyung disisi nya ketika dia berada dalam lingkungan sekolah tapi sekarang rasanya berbeda, seperti anjing yang kehilangan tuannya, tak tau harus berbuat apa, menggonggong dalam hati meminta pertolongan.

Terpojok karena pandangan tajam orang-orang. Mungkin bukan lagi rahasia jika dirinya terlibat cinta terlarang. Definisi cinta terlarang menurut sekolahnya yaitu cinta sesama anggota organisasi. Sh*t. Definisi macam apa itu.

Ternyata benar kata Taehyung, peraturan itu tak main-main, padahal setiap orang memiliki hak termasuk cinta, tapi segalanya pupus jika sudah berurusan dengan peraturan organisasi. Terlebih di sini Jungkook hanya murid biasa yang mencoba populer dengan sikap malu-malunya dan acuh tak acuh.

"Jungkook!"

Jaehyun datang dari ambang pintu kelas, menatap Jungkook serius. Tidak menyadari bahwa teman-teman sekelas mereka memandang jengkel karena suara keras Jaehyun yang tiba-tiba mengagetkan beberapa orang.

"Ikut aku!" Layaknya karung Jaehyun menyeret paksa Jungkook.

Ketakutan ku kini menjadi nyata. Aku hanya akan menjadi sampah. Sebagai bahan bullyan yang empuk sangatlah pas untuk posisi ku sekarang.

Jungkook pasrah saja menerima kelakuan Jaehyun, apapun yang terjadi ia harus berusaha kuat. Ini sudah menjadi konsekuensi baginya.

Langkahnya terhenti di depan perpustakan.

Masih ada waktu sekitar 7 menit sebelum pelajaran pertama dimulai dan Jaehyun bersumpah akan merobek mulut Jungkook jika namja dihadapannya tidak mengaku apa yang telah terjadi.

"Ok langsung saja, sejak kapan?"

Seakan tak ada lagi pilihan kalimat lain yang lebih baik.

"Sejak kapan, Jungkook? Dan jika kau berkata baru kemarin atau minggu kemarin, sudah kupastikan kau berbohong. Jadi? Sejak kapan?"

"Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu?"

"Karena kau bersikap aneh setiap kali kau terlibat suatu hal yang berkaitan dengan Taehyung sunbae."

Apakah ini waktu yang pas untuk membuka semuanya? Sudah tak ada lagi harapan menjadi populer, tapi jika populer dalam list 'sebagai bahan gosip' sepertinya ia sudah memenuhi kriteria.

Menimbang suatu hal yang sangat ia benci.

Pada akhirnya segala kebohongan akan menjadi kebenaran yang menyakitkan.

"Sejak dulu, sebelum kau mengenal aku, sebelum aku menjadi anggota organisasi, sebelum semua orang menatapku rendah dan intinya sebelum aku masuk neraka ini."

Jungkook berteriak keras, sekilas Jaehyun menatap sekitar ia tak mau jika ada orang yang mengagapnya sedang mencari ribut, beruntung tak ada satupun orang di sini terkecuali hewan manis berkumis yang gemar tidur sedang menatap Jungkook karena suaranya yang menggelegar.

"Hey, pelankan suaramu! Kau membangunkan kucing yang sedang tertidur."

Persetan!

"Terserah." Jungkook berlalu.

***JRoB***10***

3 mata pelajaran telah terlewati, masih ada beberapa pelajaran lagi yang harus ia lalui dengan moodnya yang hancur.

Ia merasa seperti tak hidup, tak ada gairah sama sekali. Orang lain maupun teman-temannya seperti sedang meperolok-olok meski nyatanya mereka tak melakukan apapun yang Jungkook pikirkan.

Situasi yang membuatnya tak nyaman.

Jaehyun teman sebangkunya bahkan tak megeluarkan sepatah katapun.

Di jam istirahat ia menggeret paksa kakinya yang terasa berat untuk pergi ke toilet, namun sebelumnya ia akan memeriksa lokernya terlebih dahulu, sejak tadi ia khawatir dengan keadaan lokernya, apakah akan sama jadinya seperti film-film picisan, menjadi bahan bullyan karena memacari senior tampan berarti sama akibatnya dengan perlakuan terhadap loker yang ia punya, akankah ada bangkai tikus? Atau surat-surat mematikan? Sekeras apapun Jungkook

Menghilangkan pikiran negatif itu tapi tetap saja hal yang ingin ia lupakan adalah hal yang akan selalu diingatnya.

Penuh kehati-hatian ia membuka loker.

Menatap langit-langit dan menghembuskan nafas sebelum pintu lokernya terbuka lebar menanti si pemilik melihat sesuatu yang telah dibuat seseorang spesial untuk Jeon Jungkook.

Benar, ia mendapati surat mematikan. Matanya mencari setiap sudut loker jika saja ada bangkai tikus dan sebagainya,syukurlah ia hanya mendapat kiriman surat.

Haruskah ia membacanya? Dengan kasar Jungkook membuka lipatan surat itu.

HEI KAU!

NAMJA TAK TAU DIRI KARENA MEMACARI SENIOR POPULER DI SEKOLAH INI, KAU EGOIS SEKALI YA SAMPAI TAK MAU BERBAGI DENGAN SIAPAPUN. TAEHYUNG ITU MILIK SEMUA, INGIN MENANG SENDIRI, HUH? MAU KUBUNUH KAU?

HEI! KU TAU SEKARANG KAU PASTI SEDANG MENAHAN AIR MATAMU KAN? CENGENG! JIKA DENGAN CARA INI SAJA KAU BISA MENANGIS KU UCAPKAN SELAMAT KARENA KAU SUDAH MEMBUAT BANYAK HATI MENANGIS^^

:DAN 1 LAGI, JIKA KAU SAMPAI TAK MEMBERIKU PAJAK JADIAN, AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU.

XD Kookiekookie dengan surat ini aku hanya ingin bilang janganlaah kau bersedih, ok tidak? Kau tak perlu memikirkan hal yang orang lain katakan, mereka tidak membencimu hanya saja mereka terlalu shock mendapat berita skandal yang benar adanya :p jangan dipikirkan, mereka tidak memandangmu rendah atau semacamnya, setiap orang punya pilihan, kan? Ku pastikan tak akan ada yang membencimu terlebih aku sudah memiliki data siapa saja mereka yang mengaku sebagai fujoshi? Dan kau tau? Jawabannya lumayan juga, jadi kau tak perlu cemas.

Cukup saja cataatan ini, aku menulisnya karena ku tau sebelum aku berbicara kau pasti akan berteriak terlebih dahulu. Dan omong-omong kau harus bertanggung jawab, kucing yang tadi pagi terbangun olehmu dia sekarang meminta pertanggung jawabanku ;p

Byeeee~ sampai ketemu di kelas.

Ps:belikan aku sepatu p*ma yang baru itu ya, awas kau! Traktir itu adalah hal yang wjib dilakukan.

Bibirnya menarik simpul kecil, tanpa sadar Jungkook tersenyum. Air matanya jatuh, bukan air mata menyedihkan yang ia rasakan, ia biarkan air mata keharuan itu mengalir lembut pada kedua pipinya. Ia tau pasti siapa pengirim surat mematikan ini, siapa lagi orang yang memarahinya karena membuat kucing terbangun?

Detak jantung yang sebelumnya berdegup kencang tak menentu hingga hampir membuat kakinya lemas membaca kalimat-kalimat awal.

Dan ternyata Tuhan memberikan kejutan yang benar-benar membuatnya terkejut karena ia bersumpah, ia belum siap menerima terror, cacian atau segala bentuk pembullyan.

Selagi ia menatap penuh arti kertas di genggamannya, ponsel didalam saku seragam bergetar.

"Terimakasih, Jae…" Jungkook berujar sebelum ia kembali memasukkan surat berharga itu ke dalam lokernya yang akan ia kunci.

Bersandar pada dinginnya material loker seraya mengecheck pesan yang baru saja ia dapat.

From : Namjoon hyung

Ke ruanganku sekarang.

Melihat senyuman Hoseok mengingatkan ia pada hari pertama saat kakinya yang enggan masuk ke sekolah ini terseret ombak yang begitu kuat.

Meski ia sudah di bodoh-bodohi oleh Hoseok, entah kenapa tak ada rasa benci sedikitpun. Padahal seharusnya ia memaki sunbaenya itu, tak peduli ia adalah kakak kelasnya.

Di ruangan ini, ruangan penuh ketegangan. Ia belum siap menerima hukuman.

Taehyung yang duduk disebelahnya berhadapan dengan Namjoon setidaknya dapat membuat nya tenang.

"Sebelum aku mengeluarkan salah 1 diantara kalian dari organisasi. Pastinya kalian tau betul apa yang akan aku lakukan terlebih dahulu." Suaranya begitu dalam.

"Katakan apa hukumannya?" Taehyung berbicara tanpa ketakutan sedikitpun.

Namjoon menjetikkan jarinya.

"Aku tak akan menghukum kalian berdua, lebih jelasnya kalian harus memutuskan sendiri siapa salah satu diantara kalian yang ingin menjalani hukuman sebelum aku memutuskan apa huku-"

"Aku. Aku yang akan menerima hukuman itu."

Hoseok yang hanya diam memperhatikan mereka bertiga bernegoisasi hanya senyum dalam hati atas tindakan ketua nya itu. Ia tau, bukan tanpa alasan Namjoon meminta salah 1 dari mereka berdua yang akan menerima hukuman, karena mereka pasti akan merasa sulit memutuskannya. Sedikit bermain-main tak masalah, bukan.

"Tidak! Aku saja, hyung."

"Apa-apaan kau ini?! Jangan membantah perkataan seniormu!" Taehyung meneriaki Jungkook.

"Senior? Huh? Mungkin maksudmu pacar, Tae." Hoseok menggoda.

"Aku serius, beritau aku apa hukumannya? Ayolah Namjoon, kau tega membiarkan hoobaemu bekerja sendirian?"

***JRoB***10***

Hari-hari berikutnya terasa monoton, dari sejak lahir Jungkook tidak dikaruniai antusiasme terhadap sesuatu pengeculian untuk ambisiusnya yang ingin menggeser Taehyung di hari-hari yang lalu.

Dan hari ini adalah hari pertama ia menyaksikan Taehyung bersama gunting rumput super besar di bawah terik matahari.

Dari jendela kelasnya yang berada di atas, ia memperhatikan Taehyung sambil memaki guru di hadapannya, kapan pelajaran ini akan berakhir?

Seakan tau keinginan terpendam Jungkook, Jaehyun berbisik. "Kenapa tak coba berbohong saja? Bilang kau ingin ke toilet."

Butuh waktu 3 detik mencerna saran cemerlang dari Jaehyun atau mungkin Jungkook yang terlalu bodoh memikirkan caranya bagaimana.

"Kau benar."

***JRoB***10***

Akhirnya Jungkook berhasil terbebas dari kurungan penjara pelajar.

Sekarang ia merasakan sendiri panasnya matahari siang bolong ini. Ia berlari menghampiri Taehyung yang tidak menyadari kehadirannya.

Taehyung terlihat kelelahan, keringat bercucur deras.

Jungkook tersenyum senang karena ia bisa menemui Taehyung. Dari bawah sini Jungkook melihat ke arah jendela kelasnya, terlihat Jaehyun mengacungkan jempolnya sambil mengucap sesuatu yang tidak dapat ia dengar, namun kemudian entah apa yang terjadi di dalam sana karena tiba-tiba saja Jungkook melihat benda berwarna hitam melesat terkena kepala Jaehyun, dapat ia tebak apa yang telah terjadi, pasti gurunya memarahi Jaehyun karena kedapatan tidak memperhatikan materi yang ia sampaikan.

Jungkook kembali melihat Taehyung yang masih setia membelakanginya, 3 langkah lebih dekat dengan sosok Taehyung yang kepanasan.

"Mau ku dinginkan?" Taehyung terperanjat dari aktivitasnya, terkejut karena baru saja ada seseorang yang menempelkan kaleng berisi minuman soda yang sangat dingin pada pipinya yang tersengat cahaya matahari. Betapa senangnya ketika ia melihat kelinci kesayangannya tersenyum lebar.

***JRoB***10***

Kini mereka duduk pada hamparan tanah di bawah pohon yang rindang. Tepat berada di belakang sekolah yang jauh dari keramaian, angin sepai-sepoi terasa lumayan menambah asupan hawa dingin.

"Sudah berani bolos ya, hm?"

Ucap Taehyung setelah meneguk minuman kaleng dengan buasnya, rasa panas pada tenggorokannya terbayar sudah. Terlebih minuman yang ia minum adalah pemberian dari Jungkook.

"Bagaimana rasanya? Lelah? Sudah kubilang aku saja yang menerima hukuman."

Taehyung terkekeh.

"Dimana-mana seme lah yang lebih kuat, uke sepertimu bisa apa?" Sindiran dari Taehyung benar-benar tajam.

"Tapi bagus, kau sudah menjalankan tugasmu sebagai seorang uke, membawa air minum untuk kekasihnya yang sedang berkerja keras kelelahan di bawah sinar matahari, dan omong-omong aku terlihat menawan, kan?"

Jungkook memperhatikan Taehyung yang sedang menjilat bibirnya sensual, keringat membanjiri seragam putihnya hingga membuat beberapa bagian basah menampakkan kulit putih Taehyung.

"Tadi sepertinya aku mendengar seseorang berucap 'mau kudinginkan?'"

Taehyung memancing lagi.

Jungkook segera mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke kanan-kiri dan ke bawah-atas di depan wajah Taehyung memfungsikan tangannnya sendiri sebagai kipas angin.

Taehyung memutar bola mata, bukan itu yang Taehyung terserah Jungkook sajalah.

Paha Jungkook dijadikan bantal tidur, dengan posisi seperti ini mereka berdua bisa melihat wajah masing-masing dengan sangat lekat.

Taehyung sudah tak tahan, ia mengangkat kembali tubuhnya lalu mengurangi setiap centi jarak antara mereka beddua, dilihat dari gelagatnya Taehyung berniat mencium bibir Jungkook tapi selang beberapa detik Jungkook tak merasakan bibir lembut itu membentur bibirnya.

Keduanya saling menatap lekat, jauh lebih dalam memasuki dunia mereka sendiri, berciuman di sekolah? Di tempat terbuka? Bukan hal buruk namun terlalu mengambil risiko.

Enyah sudah pikiran jernih nan polos Jungkook. Tanpa sadar ia memajukan wajahnya mendekat, dan lebih dekat lagi, hingga bibir mereka berdua bersatu.

Tidak ada halangan, tidak ada rasa malu.

Taehyung tersenyum tipis dalam ciuman hangat itu.

Ya Tuhan rasanya seperti gadis yang baru saja direbut ciuman pertamanya, Taehyung jelas-jelas seorang top tapi beginilah rasanya ketika Jungkook menciumnya tanpa paksaan.

Jadi rasanya seperti ini? Batinnya bergumam.

Taehyung menggigit pelan bibir bawah Jungkook hingga ia dapat mendengar jelas rintihan Jungkook yang kesakitan. Namun apa peduli Taehyung? Tidak ada sama sekali.

Taehyung terus memperdalam ciuman manis bercampur keringat darinya, menekan leher Jungkook memaksanya terus masuk.

Hingga Jungkook tersesat dan tak tau kemana ia akan pergi, tersesat dalam dosanya sendiri, terjebak oleh nafsunya sendiri. Bisa Taehyung rasakan bibir atasnya diresap begitu dalam, hangat rasanya. Tangan Jungkook naik ke atas mengalungkannya pada leher Taehyung, perlahan-lahan 1 tangannya kembali naik memegang surai rambut Taehyung, lembut seperti ciuman ini.

Bosan merasakan sensasi bibir Jungkook, Taehyung menurunkan ciumannya pada ceruk leher Jungkook, bahkan tak segan memberi kissmark. Desahan singkat terdengar berirama, ini bukan pertama kalinya Taehyung mendengar Jungkook mendesah setelah kejadian pemerkosaan beberapa waktu lalu, tapi rasanya berbeda, ini bukan pemaksaan.

Jungkook terus menarik rambut Taehyung tanpa disadari.

"H-hyung.."

Memanggil nama Taehyung saja ia harus bersusah payah menahan desahannya agar tidak keluar.

Jungkook menggeliat. Entah dorongan darimana Jungkook memajukan kepalanya menyatukan bibirnya pada kulit leher Taehyung, awalnya hanya bersentuhan namun tindakan selanjutnya adalah mengecap, mengecup dan menyesapnya.

Lenguhan tertahan naun berhasil keluar dari bibir Taehyung. Sial! Dalam hatinya Taehyung mengumpat, bisa-bisanya ia mendesah. Taehyung hanya ingin Jungkook mendesah karenanya dan untuknya. Bukan dirinya yang mendesah. Jika Jungkook mendengar, ,turun sudah posisinya sebagai seme. Tapi sepertinya Jungkook tak menyadari akan hal itu, dan terlihat tak memperdulikan hal itu.

"Bisa aku teruskan?"

Taehyung berbicara seakan menggoda, bisikan tepat pada telinga Jungkook mengalun bergairah, Jungkook menghentikan aktivitasnya sejenak. Taehyung melihat wajah berantakan Jungkook. Bibirnya basah dan sedikit membengkak, secepat itukah efek ciuman mereka?

Dengan mata terpejam Jungkook mengangguk pelan.

"J-jangan disini."

"Apanya?"

"Melakukannya."

Taehyung tersenyum jahil, raut wajahnya masih menampakkan kesayuan, sorotannya… Taehyung tau betul sorotan itu, sorotan penuh nafsu yang tertahan.

"Kenapa?"

"Ini sekolah hyung." Nada tinggi Jungkook kembali lagi bahkan beserta wajahnya yang kembali sangar.

"Tapi aku harus meneruskan hukumanku, Kookie, rumput itu masih terlalu panjang untuk aku bisa bersantai-santai."

Seketika kedua mata Jungkook melebar.

Dia dibodohi Taehyung. Sialan sialan sialan, kembalikan harga diriku yang sudah Tae-hyung injak tadi!

Taehyung bangkit dari tanah penuh kesaksian diantara mereka berdua, tersenyum jahil didominasi oleh seringaian. Maksud Taehyung sejujurnya karena dia juga tak ingin melakukan itu di sekolah, tapi dengan kata-katanya yang ambigu membuat ia mendapatkan jawaban yang lebih ambigu dari Jungkook.

Jungkook menatap kepergian Taehyung. "Brengsek kau, KIM TAEHYUNG." Teriakan keras mengundang tawa Taehyung.

Ia berbalik melihat ekspresi kekesalan penuh amarah itu, sesekali Jungkook harus diberi pelajaran.

***JRoB***10***

Entahlah jam istirahat kali ini Yoongi hanya ingin diam di perpustakaan, bukan untuk membaca melainkan berdiam diri. Namun tertidur bukan pilihan yang baik, setelah ini pelajaran dengan guru killer tak boleh ia lewati.

Tadi Hoseok mengajaknya makan di kantin, traktiran yang lumayan sebenernya sangat disarankan untuk diterima tapi tawaran menggiurkan itu tak menang melawan opsi lainnya.

Duduk di pojok sambil menopang dagu, matanya sesekali terpejam untuk menikmati kesunyian. Sebelum suara bisikan yang sangat menganggu membuat ia menoleh kebelakang. Tak ada siapapun.

Kembali ia pejamkan mata.

"Hai... Min Yoongi~" lagi-lagi bisikan itu terdengar, kini begitu jelas bersuara tepat di dekat telinga nya. Matanya sedikit menyiratkan rasa takut.

Seolah tak memperdulikan, ia kembali menikmati waktu sendirinya.

"DOAR!"

"Hwaa..."

Yoongi hampir saja terjembab dari duduknya karena tepukan beserta suara keras yang sangat ia kenali.

"Hey ,reaksimu berlebihan." Jimin terkikik kemudian menarik kursi di sebelahnya.

Yoongi mengusap dada, kagetnya bukan main-main.

"Dasar gila."

"Bisikanku tadi sangat menggoda, kan?"

Hening.

Ya. Hening.

TBC

Hayoo siapa yang ngarep ada scene NAENA nya? :v maafkan aku yang belum bisa masukin content itu, karena aku ngerasa takut kalo nanti gak dapet feelnya (feel naena kek gimana ya ampun-_-) ya takut aja, nanti jatohnya hambar, gak hot, gak bikin panas bakakak, ini aja bikin scene ciuman harus bener-bener aku hayatin biar kerasa #plak.

JADI? puas gak sama ch ini? XD maafkan atas segala kekuranganku eaaapzzzz….

Eh btw, yang mau ngobrol2 add yu line aku id:shinakuvik.

Review nya dong qaqah biar aku semangat nulis mheheheh. #AlayModeON.

Aku sangat menghargai review2 kalian so.. aku berkesempatan buat reply review2 di ch 9 semoga ga ada yg kelewat ;v

Vkook: hmm seseru apanih? Hihi makasih ya semoga ch ini juga seru. / : haha di genrenya aku cantumin 'romance, compilcated' jadi pastinya ribet gini hhe/ soniadebora99: aku ga bisa bikin scene panas qaqah huhu/ cuteevil300799: siap dikirim! Hehe makasih ya udah nyempetin baca ff absurd ini./ jeontaehyung7: hihi terimakasih ;)/ amandayupi: karena aku gamau bikin ff yang terlalu banyak ch, nanti takutnya malah garing makasih ya udh baca ff absurd ini hihi/ hanilma06: syudah / kimrin: yaaa! Aku ga jadi hiatus xD/ chuacu: penasaran sama aku ga? Kkkk~ *abaikan :v/ vminkook trash: akupun kapan ya? / bangtaninmylove: hihi maaf mengecewakan ya. Lagi bertapa dulu sebelum adegan naena nya keluar XD/ emma: sudah dipastikan happy ending. Rekamannya kirimin ke km aja, mau? XD/ vkooknokookv:Jimin suka kamu:v/ nuruladi07: AYOOO aku lelang nih, berani bayar berapa? hihi:v/ TyaWuryWK: sedih ya gak ada manja2an huhu / LittleOoh: sudah dilanjut hihi/ Dwimin chan: aku takutnya V dan Kuki berpisah / chyper3001: hehe gak jadi ko. Makasih yoo:)/JAEGG

TERIMAKASIH SEMUANYA :* *seketika gue jadi pedagang video ciuman Tae sama Kuki gara2 ch sebelumnya :v