*Part 10*

Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki seseorang berjalan menghampiriku dan berhenti tepat dihadapanku.

"apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau seperti ini? Ada apa dengan semua air mata ini?" ucapnya padaku.

Seketika kuhentikan tangisanku, namun wajahku masih tertunduk. Aku berusaha mencerna suara siapa baru saja berbicara padaku.

"Suara ini... aku mengenalnya, sangat khas ditelingaku. Apa ini mimpi?" ucapku dalam hati.

Namun aku tidak berani membuka mataku, aku masih tertunduk dengan semua air mata yang membasahi wajahku. Aku takut ini hanya mimpi, aku takut dengan kenyataan yang akan kuhadapi jika ini hanyalah halusinasiku.

Tiba-tiba pipiku terasa dingin, ada seseorang yang menyentuhnya. Namun aku masih belum juga berani membuka mataku. Aku tetap memejamkannya, untuk merasakan tangan ini, berusaha mengingat siapa pemiliknya.

"bukankah ini Kyungsoo? Bukankah hanya dia yang akan memegang pipiku seperti ini?" ucapku dalam hati.

Perlahan dia mengangkat kepalaku dan berkata,

"tidakkah kau ingin melihatku? Apa kau akan terus menutup mata seperti ini?"

Sekarang aku benar-benar sangat yakin kalau ini bukan lagi mimpi. Kusembunyikan kedua kelopak mataku untuk memastikan bahwa aku benar-benar tidak sedang berhalusinasi. Kulihat bayangannya tepat dihadapan mataku. Lalu kusentuhkan dua ujung telapak tanganku diwajahnya.

"Kyungsoo ya... apa ini benar-benar engkau? Apa ini benar-benar dirimu? Apa aku tidak sedang bermimpi?" ucapku seakan tidak percaya.

Dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya lalu tersenyum padaku. Senyuman ini, aku sangat merindukannya. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti ini. Aku sangat merindukannya, aku ingin memeluknya, tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar merasa sangat malu dengan semua yang telah aku lakukan padanya.

"uhm... ini aku, aku begitu merindukanmu, kenapa kau begitu lama? Aku sudah menunggumu" ucapnya padaku.

"maafkan aku... sungguh maafkan aku... aku benar-benar wanita yang sangat bodoh. Jika saja aku bisa lebih pintar untuk menilai sesuatu, jika saja aku bisa lebih mempercayaimu, jika saja aku tidak terhanyut dalam pikiran bodohku, jika saja aku bisa menjadi seorang istri yang benar-benar baik untukmu, tentu ini semua takkan pernah terjadi". Tangisku semakin menjadi.

Tiba-tiba dia memelukku lalu berkata, "gwaenchana... selama kau telah kembali kesisiku, aku benar-benar bersyukur. Aku merasa semuanya telah selesai dan kembali seperti sedia kala".

"maafkan aku.. sungguh maafkan aku" hanya kalimat itu yang terus terucap dari bibirku.

"ya! Kenapa kau terus menangis seperti ini? Apa kau tidak suka bahwa aku sudah sadar sekarang? Bukankah setiap hari kau selalu memintaku untuk bangun dan membuka mata?".

"aniya... aku bersyukur dan sangat bahagia melihatmu telah bangun seperti sekarang... hanya saja... maafkan aku." kembali kutundukkan kepalaku dihadapannya dengan air mata yang masih setia membasuh wajahku.

"sudahlah... berhenti menangis, kau terlihat jelek dengan semua air mata itu. Senyumlah... aku merindukan senyumanmu. Selama aku koma, hanya senyuman tulusmu untukku yang ingin aku lihat saat aku sadar, jadi tersenyumlah, jangan menangis seperti ini". Ucapnya padaku lalu kembali menghapus air mataku dan dia memelukku lagi.

Ku paksakan bibirku untuk menuruti permintaannya, namun aku rasa aku gagal, aku tidak bisa benar-benar tersenyum tulus untuknya, mungkin karna rasa bersalahku yang begitu besar padanya.

"apa kau benar-benar sudah sembuh?" tanyaku tiba-tiba.

"uhm... seperti yang kau lihat. Sudah lebih dari setahun aku terbaring ditempat ini, jadi kesehatanku benar-benar sudah pulih, itu yang Dokter katakan padaku".

"apa kau tidak ingin marah padaku?"

"marah? Untuk apa?"

"bukankah kau seperti ini karnaku? Bukankah aku begitu menyakitimu? Tidakkah kau seharusnya membenciku?"

Kyungsoo tersenyum mendengar perkataanku, lalu kedua tangannya kembali menyentuh pipiku.

"bukankah aku sudah pernah berkata, bahwa aku begitu mencintaimu, bagaimana mungkin aku bisa membencimu? Seseorang yang sangat aku cinta sejauh umurku".

"tapi..."

"sssstttt..." dia menutup bibirku dengan ujung jarinya.

"sudahlah... kita tidak perlu membahasnya lagi, kau sudah kembali, dan aku sangat bahagia" ucapnya yang membuatku semakin merasa bersalah dengan semua yang telah aku perbuat padanya.

"kapan kau sadar?" tanyaku.

"dua hari yang lalu".

"mwo? Sudah selama itu? kenapa tidak ada satupun yang memberitahuku?" ucapku sedikit kesal.

"aku melarang mereka".

"wae?"

"karna aku ingin tau apakah kau masih akan kembali kesisiku".

"lalu bagaimana jika aku tidak kembali? Apa kau akan memutuskan untuk meninggalkanku?" dia menggelengkan kepalanya.

"lalu?" tanyaku kembali.

"aku akan mencarimu, dan memintamu untuk kembali kesisiku".

"apakah kau benar-benar begitu mencintaiku? Bahkan dengan semua yang telah aku perbuat padamu?"

"uhm..." dia menganggukkan kepalanya.

Air mataku kembali mengalir membasahi pipiku.

"wae? Kenapa kau menangis lagi?" ucapnya kembali menghapus air mataku.

"bukankah aku benar-benar menjadi wanita yang sangat bodoh? Bagaimana aku bisa mengabaikan seseorang sepertimu, aku benar-benar menyesal" ucapku.

Dia kembali tersenyum,

"aku tidak merasa kau mengabaikanku, bukankah selama aku berada disini kau terus berada disisiku? Bahkan disaat kau tak mencintaiku dan sangat membenciku".

"bagaimana kau tahu?" tanyaku sedikit heran.

"aku merasakan kehadiranmu dan aku mendengar suaramu"

"ini tidak mungkin, bagaimana itu bisa terjadi?"

"bukankah sudah jelas? Bukankah hal ini sering terjadi dalam sebuah film?"

Sejenak aku terdiam "lalu, apa kau mendengar semua yang aku ucapkan padamu selama ini? Apa kau mendengar semuanya?"

"uhm... aku mendengarnya"

"maafkah aku"

"wae?"

"semua ucapanku yang tidak seharusnya aku katakan padamu, semua penghinaanku padamu, semua..."

Dia tiba-tiba mencium bibirku dan membuatku berhenti berbicara. Sesaat kemudian dia melepasnya lalu berkata, "aku tidak peduli, aku sudah melupakan semuanya".

"tapi aku melihatmu meneteskan air mata saat itu, maafkan aku, jeongmal mianhae..."

"ya... kenapa kau tetap seperti ini? Berhentilah menangis. Naega shirheo... aku tidak menyukainya". Dia kembali menghapus air mataku untuk kesekian kalinya.

"nan... jeongmal saranghaeyo... aku tidak pernah membencimu sedikitpun terhadap kesalahan apapun yang kau lakukan. Aku akan tetap mencintaimu seperti ini bahkan sampai aku menutup mataku kelak", lanjutnya.

Dia kembali memelukku kemudian mencium bibirku sedikit lebih lama.

"bagaimana mungin ada seseorang seperti itu, apa yang kau suka dariku? Mengapa kau bisa seperti ini? Aku bahkan tidak begitu cantik, aku tidak begitu pintar, dan keluargaku, sangat jauh jika dibanding denganmu" ucapku setelah dia melepaskan ciumannya.

Dia tersenyum mendengar perkataanku tanpa menjawab pertanyaanku.

"kenapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin menceritakannya? Apa kau tidak ingin mengatakan kebenarannya padaku?"

"aniya... bukan seperti itu, hanya saja... ah... sudahlah... aku tidak ingin menceritakannya sekarang".

"apa kau akan tetap membuatku terlihat bodoh seperti ini?" ucapku.

"aniya... hanya saja..."

"wae?" ucapku memutuskan perkataannya yang belum selesai ia ucapkan.

"tidakkah kau malu? Lihatlah mereka, mereka semua memperhatikan kita sedari tadi".

"mwo?" seketika pandanganku tertuju pada setiap sudut ruangan yang mengelilingiku.

"ini memalukan" gerutuku sangat pelan."apa kau menyadarinya sejak tadi?" tanyaku padanya.

"uhm..."

"bahkan saat kita berciuman?"

"uhm..."

"ah... kenapa kau tidak meberitahuku dan mengatakannya dari tadi? dimana aku akan menyembunyikan wajahku?" ucapku kemudian menundukkan kepala.

Kyungsoo tertawa kecil mendengarnya lalu membalikkan badannya membelakangiku, "naiklah" ucapnya.

"mwo? Shirheo.."

"aku katakan, naiklah... aku akan menggendongmu sampai mobil".

"shirheo... apa kau akan membuatku semakin malu dihadapan mereka?"

"akan lebih memalukan lagi jika aku membiarkanmu berjalan tanpa menggunakan alas kaki seperti itu".

Seketika pikiranku tersadar dan melihat kedua ujung kakiku,

"ah... bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Dimana aku membuangnya tadi?" ucapku pelan dan semakin merasa malu.

"apa kau begitu merindukanku sampai kau lupa jika kau tidak mengenakan sepatu?" ucapnya mencandaiku.

"mwoya, kau bahkan masih bisa bercanda disaat seperti ini?"

"sudahlah, ayo naik. Jika tidak akan semakin banyak orang yang memperhatikan kita".

Aku pun menuruti perkataannya dan naik kepunggunnya, dia mulai menggendongku.

"apa kau benar-benar sudah sembuh? Apa tidak apa-apa kau menggendongku seperti ini?" ucapku dalam gendongannya.

"uhm... tapi... mengapa kau tidak terasa berat sama sekali? Apa kau jarang makan akhir-akhir ini?"

"bagaimana mungkin aku bisa makan ketika semuanya menjadi kacau seperti ini?"

"aigoo ya... ratuku sudah berhenti menjadi seorang Omnivora?"

"ya! Kenapa kau tetap memanggilku seperti itu?"

Dia tertawa kecil mendengar ucapanku.

"karna kau tetap terlihat lucu ketika marah" ucapnya.

"aish... Taukah kau bagaimana aku hidup selama setahun terakhir? Ditambah dengan semua yang terjadi sekarang. Taukah kau bagaimana usahaku untuk mencari paman Kim? Untuk menemukan semua keberan tentangmu? Aku benar-benar kehilangan nafsu makanku".

"maafkan aku... aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya. Hanya saja aku tidak ingin melihatmu lebih terluka dengan mengetahui semuanya".

"arra... tapi bukankah aku tetap terluka? Apalagi sampai membuatmu seperti ini".

"sudahlah... kita tidak usah membahasnya lagi" ucapnya padaku.

"uhm..." belasku sambil menganggukkan kepala.

Kuletakkan daguku dipundaknya sehingga membuat wajah kami bersandingan.

"Kyungsoo ya..." ucapku lagi.

"uhm..."

"nan bogoshipo.."

"benarkah? Apa kau bisa membuktikannya?"

"dengan apa?"

"memberikan apapun yang kau miliki padaku".

"maksudmu? apa ada sesuatu yang aku miliki namun tidak kau miliki?"

"aku merindukan kehangatanmu".

Aku terdiam memikirkan perkataannya, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia maksudkan.

"apa kau bisa memperjelas kalimatmu?"

"apa kau tidak mengerti?"

"uhm..." jawabku sambil menganggukkan kepala.

"sudahlah lupakan saja" balasnya padaku.

"wae? Kenapa kau tidak mau menjelaskannya?"

"karna ini bukan sesuatu yang penting, jadi lupakan saja".

"begitukah? Arraseo"

Ku anggukkan kepalaku, lalu kami kembali berjalan, dan beberapa saat kemudian tiba ditempat parkir mobil.

Kami sudah berada didalam perjalanan menuju rumah kami. Dia terus menggenggam tanganku, tanpa mau melepaskannya bahkan saat dia sedang menyetir. Sesekali dia melihat kearahku dan tersenyum.

"kenapa kau terus melihatku seperti ini? Fokus saja kedepan" ucapku padanya.

"itu karna aku begitu merindukanmu. Apa kamu tau? Bagaimana kerasnya usahaku untuk bisa bangun, memelukmu, memandangmu, dan menggenggam tanganmu seperti ini?" tuturnya padaku.

"lalu kenapa tidak kamu lakukan itudari dulu? Kenapa baru sekarang? Kau sadar ketika aku tidak disampingmu".

"entahlah apa yang terjadi, kekuatanku seakan tiba-tiba kembali sejak kau menangis disampingku sebelum kau pergi menemui paman Kim".

"benarkah?"

"uhm... rasanya aku ingin bangun saat itu juga, memelukmu dan menghapus air matamu, tapi Tuhan berkata lain. Namun aku bersyukur, akhirnya Tuhan mau membuatku kembali normal seperti sekarang".

Aku tersenyum mendengar perkataannya, dia benar-benar begitu mencintaiku, dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang.

"Kyungsoo-ya.."

"uhm...?"

"aku lapar..."

Dia tersenyum padaku, "apa benar kata orang, setelah menangis seorang wanita akan merasa lapar?" ucapnya.

Aku terdiam "bukankah itu tidak hanya berlaku pada seorang wanita? Tapi untuk semua orang termasuk seorang pria?"

"pria jarang menangis".

"tapi aku sering melihatmu meneteskan air mata"

Dia menggenggam tanganku lebih erat, "itu karna aku begitu mencintaimu" ucapnya lagi dan itu membuatku sangat tenang ketika mendengarnya.

"apa yang ingin kau makan?" tanyanya padaku.

"spageti buatanmu, sudah sangat lama aku tidak memakannya, aku merindukan rasanya".

"arraseo, kita akan pergi ke super market untuk membeli beberapa bahan makanan terlebih dahulu".

Kuanggukkan kepalaku untuk mengiyakan ucapannya.

TBC