"Aku tidak perduli. Kau pasti menggodanya agar dia mau datang begitu saja menghapirimu." Tuduh yunho. Rasa kesal dan amarahnya menjadi satu sekarang dan ia mulai menuduh hal yang tidak-tidak pada jaejoong karena hal sepele.
"Aku tidak mengenalnya. Jangan menuduhku yang tidak-tidak, Jung Yunho."
"Terserah padamu! Aku tidak perduli." Yunho pergi meninggalkan jaejoong yang masih terpaku dan shock mendapati perubahan sikap suaminya yang mood swing itu. "Yunnie.. Kau dimana jangan tinggalkan aku." Bahkan sebelum jaejoong berkata seperti itu, sosok yunho sudah menghilang di kerumunan orang yang berjalan disepanjang jalanan Elysee.
Sorry, but i love you
Jinjja. Saranghae!
Jaejoong menatap kerumunan orang yang berlalu lalangg dijalanan Elysee, matanya tak pernah lepas dari jalan tersebut. Sudah hampir dua jam dan sekarang sudah pukul 11.05 P.M, suhu udara sudah mulai begitu dingin. Walaupun tidak terlalu dingin sekali namun jika melihat pakaian yang dipakainya rasanya udara langsung menusuk kedalam kulitnya dan lagi rasa lelahnya yang menjalar. Wajar saja seharian ini ia berjalan berkeliling dengan yunho, menggunakan bus umum, taksi dan berjalan kaki. "Apa yang harus ku lakukan?" Tanyanya ntah pada siapa.
Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada dinding disalah satu toko. Tangannya saling mengusap satu sama lain. Menghilangkan dingin yang mulai menjalar sedikit demi sedikit. "Awas aku akan membunuhnya begitu tahu cara sampai kembali ke hottel." Katanya berapi-api. "Otthoke?" Rasanya seperti ingin menangis karena semua ini. Pertama karena ia lupa jika dompetnya hanya terisi beberapa koin dan beberapa kartu kredit miliknya dan yunho. Kedua dia bahkan tidak tahu bagaimana cara kembali ke hottel. Biasanya akan selalu ada yunho disampingnya jadi ia tidak pernah memperhatikan jalan disekitarnya. Ketiga tubuhnya sangat lelah, kakinya terasa nyeri karena berjalan menyelusuri jalanan elysee berharap ia akan menemukan sosok yunho disana tapi tetap saja itu hanya sebuah harapan dan belum tentu terjadi. Jaejoong mentap lurus kedepan hingga ia dapat melihat monumen Arch de Triomphe yang ada diujung sana walaupun tidak terlalu jelas.
(/^.^)/
Yunho duduk diam didalam kamar hotelnya. Tumpukkan paperbag yang berisi wine dan beberapa belanjaan jaejoong ada disamping pintu dan masih banyyak lagi yang akan menyusul setelah itu. Ia hanya duduk tanpa melakukan apapun. Otaknya seperti benang kusut yang saling melilit satu sama lain. Baru kali ini ia marah tanpa sebab yang pasti, mungkin cemburu namun rasanya hal itu tidak logis atau karena terlalu lelah, itu juga bukan alasan yang bagus. "ARRgghhhh...!" Tangannya mengacak tataan rambutnya. "Apa yang kulakukan? Kenapa boojae belum kembali? Dia tidak mungkin tersesat. Dia pintar dan lagi dia wanita yang kuat tapi kenapa mash belum kembali?" Rasa khawatir sudah menghantuinya sejak kakinya melangkah masuk kedalam kamar hotelnya dan jaejoong, namun rasa egoisnya terlanjur membuatnya tidak ingin bergerak dari posisinya. "Itu salahnya karena membuatku marah." Ia berargumen sendiri "Tapi itu juga salahku. Kenapa aku marah sekali hanya karena melihatnya bersama pria itu. Bahkan ia tidak mengenalnya tapi kenapa seperti ini?"
Drrrttt... Drrrttt...
Getaran smartphonenya membuatnya terkejut dan berhenti berargumen dengan dirinya sendiri tentap apa yang ada dihatinya dan dipikirannya. Sampai matanya menatap layar smartphonenya dan membuat namja tampan pemimpin sebuah perusahaan itu bangkit dari duduknya, meraih jaket hitamnya, dan berlari kelaur dari dalam kamar hotelnya. Melupakan smartphonenya yang terus bergetar.
"SIAL!" makinya ntah pada siapa dan melupakan smartphonenya yang terus bergetar.
Eomma is calling...
(/^.^)/
Monumen Arch de Triomphe, sangat indah jika diliat dari dekat. Angin kembali berhembus menerpa kulitnya yang hanya tertutup kemeja yang sudah dipakainya sejak pagi. Ntah bagaimana kakinya melangkah begitu saja hingga sampai ke monumen bersejarah ini.
"Sayang harus melihatnya sendiri. Apa aku perlu ke kantor polisi dan mengatakan jika diriku tersesat lalu menceritakan cerita super hari ini jika suamiku sendiri meninggalkanku hanya karena keju dan wine. Astaga, itu sangat memalukan." Bantin jaejoong sambil menatap iri orang-orang yang ada disekitarnya.
"Seharusnya aku tidak menikah dengannya tapi sudah terlambat untuk mundur." Jaejoong mengusap kedua tangannya bergantian lalu berjalan meninggalkan Arch de Triomphe dengan dingin dan rasa bimbang bersamanya.
(/^.^)/
Elysee masih tetap padat dan semakin malam semakin ramai yang mengunjunginya. Namja bermata musang itu bahkan sudah tidak perduli dengan penampilannya sejak kakinya menginjakkan ke sepanjang jalanan Elysee dari setengah jam yang lalu. Dia sudah berputar-putar menyelusuri semua tempat yang telah dikunjunginya tadi berharap dapat menemukan jaejoong yang sedang menunggunya namun hanya kekosongan yang ditemuinya. "Kau dimana?" Kedua mata musangnya terus memperhatikan sekelilingnya, kakinya terus melangkah, dan hatinya terus berdoa. Rasanya sangat menakutkan bahkan hanya untuk membayangkan sesuatu terjadi pada jaejoong. "Maafkan aku."
"Bukan kah paris itu sangat indah? Namun kenapa rasanya sangat menyakitkan?"
"Kau dimana boo?"
"Apa aku akan berakhir seperti ini? Kemana jung bodoh itu? Kenapa dia tidak mencariku?"
"Kemana lagi aku harus mencarimu?"
"Aku membencimu."
"Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Kau manusia yang paling bodoh."
"Aku berjanji."
"GREEPPP..."
Tubuhnya mematung begitu ada tubuh lain yang nubruknya dari belakang dan memeluknya dengan sangat erat. "Hikkkssss... hikssss... Kau kemana saja? Aku kedinginan disini. Kaki ku lecet karenamu. Aku membencimu jung yunho pabo..."
Yunho melepaskan pelukan jaejoong dan menghadap kan tubuhnya dengan tubuh jaejoong. "Mianhae..." Hanya kata-kata sederhana itu yang mampu diucapkannya. Bukan dirinya yang menemukan jaejoong namun jaejoong yang menemukannya.
"Aku mau pulang."
Yunho menarik jaejoong kembali kedalam pelukannya. "Kita akan pulang dan aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Ia mengusap-ngusap punggung jaejoong. Tubuh jaejoong terasa begitu dingin.
Jaejoong mengalungkan kedua tangannya pada leher yunho, menyadarkan kepalanya yang berdenyut itu pada dada bidang yunho, menyesap aroma yang ada disana yang membuatnya merasa lebih nyaman. Hingga ia terlelap.
oooooOOOO...
Ini sudah hari ketiganya yoochun melihat ahra yang selalu datang ke kantornya dengan alasan untuk berkerjasama dengan perusahaan jung. Pemandangan yang memuakkan bagi yoochun, ia sampai tidak bernafsu untuk datang ke kantor karena hal yang tidak penting. "Hahhhhh... Dia sangat menganggu." Yoochun keluar dari dalam ruangan dengan wajah ditekuk. Rapat direksi hari ini akan sangat memuakkan baginya.
Yoochun masuk kedalam ruangan rapat dengan beberapa file yang ada ditangannya berserta buku catatan kecil dan ballpoin didalamnya, ia duduk disamping Mr. Jung. Ketua dari setiap deraksi sudah ada ditempatnya. Ini merupakan rapat direksi saja untuk membahas kinerja setiap bagian yang ada di kantor.
Hampir setengah jam lebih ia menyamankan dirinya dan juga pikirannya untuk membahas kinerja direksi tapi tetap saja pikirannya ntah melayang kemana. Padahal tidak ada beban berat yang harus dipanggulnya tapi rasanya sangat melelahkan. Sekarang hanya tingga Mr. Jung dan dirinya yang ada didalam ruangan itu.
"Perusahaan Go ingin berkerjasama dengan perusahaan kita. Bagaimana menurutmu yoochun?" Tanya Mr. Jung.
Yoochun memasang senyum terbaiknya saat ini. Rasanya seperti mendapatkan durian runtuh sekarang. Tidak percuma selama ini dia begitu dekat dengan kelurga jung. "Perusahaan Go tidak akan memberikan keuntungan yang berlebih bagi perusahaan kita. Bagaimana yang kita tahu jika perusahaan itu tidak memiliki masa depan yang baik." Yoochun menimbang lagi apa yang sebaiknya harus ia katakan saat ini. Jangan sampai membuatnya terkesan menolak perusahaan GO secara mentah-mentah.
"Appa juga berpikir seperti itu. Tapi mungkin eomma yang akan menentang ini semua bagaimanaapun eomma pasti tahu jika itu perusahaan milik Kelurga GO ahra. Walaupun masih merupakan masa lalu tapi appa tidak ingin mencari masalah yang baru." Mr. Jung menekankan kata-kata GO didalam kalimatnya.
Yoochun mengangguk setuju atas keputusan Mr. Jung. Bagimanapun kelurga jung tidak menyukai ahra hingga saat ini. "Walaupun tanpa melihat masa lalu tetapi tetap saja perusahan GO tidak memiliki kecukupan yang baik untuk perusahaan kita. Menurut saya perusahaan Choi lebih baik. Walaupun perusahaan itu masih baru berdiri, namun mereka dapat mempertahankan perusahannya pada masa-masa sulit seperti saat ini. Bukankah, itu merupakan sebuah kelebihan tersendiri dan lagi perusahaan milik tuan Kim Hyunjoong sendiri juga akan bergabung dengan kita secepatnya."
"Haah..! Appa lupa akan hal yang satu itu. Sebaiknya appa akan mengadakan makan malam dengan besan appa."
Yoochun sendiri ingin tertawa melihat raut wajah appanya ini. Ya, karena selalu bersama yunho pada akhirnya yoochun menjadi anggota kelurga baru di kelurga jung. Itu merupakan salah satu hal yang terbaik dalam hidupnya. "Appa. Sebaiknya appa mencari assisten yang baru agar bisa mengatur jadwal appa. Jangan seperti ini. Eomma tidak akan pernah bisa menjadi assisten yang baik dalam perkerjaan."
"Akan appa pikirkan."
"Baiklah, kalau begitu yoochun kembali keruangan appa."
"Ya." Ucap Mr. Jung dengan senyumnya. Yoochun memang berbeda. Ia namja yang sopan dan ramah namun berbahaya. Keterbalikan dengan yunho. Orang-orang yang berniat jahat padanya pada akhirnya akan pergi dengan sendiri dari sisinya. Even that hurt, kau pasti akan menemukan beberapa orang yang salah sebelum menemukan orang yang benar dan kau pasti akan menemukan orang yang pada akhirnya meninggalkanmu atau orang yang akan selalu setia disisimu. Tapi semua pasti memiliki rasa sakit yang berbeda.
oooOOOO...
Ntahlah, ini suasana terburuk yang pernah terjadi diantara keduanya sejak kejadian yunho pergi meninggalkan jaejoong.. Yeoja itu lebih memilih untuk diam sementara yunho bingung harus melakukan hal seperti apa untuk membuat semuanya menjadi lebih baik.
Oke, ia mengaku salah karena menginggalkan jaejoong dan masih banyak hal yang tidak baik telah dilakukannya. Sadar atau tidak jika hal-hal tersebut dapat saja menjadi bumerang yang kapan saja bisa langsung menusuknya.
"Kita harus bicara. Aku tidak bisa kembali ke korea dengan keadaan seperti ini." Yunho langsung mengeluarkan segala unek-uneknya. Cukup hanya beberapa jam dia seperti begitu diacuhkan. Ia tidak suka hal itu. Rasanya menyakitkan secara perlahan menusuk dan membuat kehabisan napas sedikit demi sedikit.
Jaejoong menatap yunho sekilas lalu kembali lagi menyibukkan dirinya menyusun semua barang mereka kedalam koper sarta tumpukkan barang yang baru sadar jika itu semua milik jaejoong yang dibelinya selama mereka di paris, sepertinya akan ada biaya tambahan untuk bagasi dan yang lain-lain. "Apa yang perlu dibicarakan?"
"Soal..." Yunho mengantukkan kata-katanya. Namja tampan itu bahkan malu untuk memulainya. Tidak mungkin ia mengatakan 'Kenapa kau mendiamkan ku?' 'Apa salahku?' 'Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Aku tidak suka diacuhkan.' Kau gila jung yunho." Yunho membatin.
Jaejoong tidak ambil pusing dengan itu semua. Ia ingin membalas perlakuan namja sipit itu kali ini. Itupun jika ia mampu. "Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan. Bisakah yunnie membantuku mempacking semua ini?"
"Baiklah." Yunho beranjak dari tempat duduknya, lalu mulai mengambil barang belanjaan keduanya dan mulai menyusunnya kedalam papperbag atau masuk kedalam koper biru super besar yang pernah mereka beli. "Maafkan soal kemarin. Aku tidak sadar sudah meninggalkanmu,boo."
"Hmm.."
"Kau tidak marahkan padaku?" Yunho melirik jaejoong sekilas. Yeoja yang berstatus sebagai istrinya itu masih menyibukkan dirinya dengan barang-barang didepannya. "Boojae... Boojae.. Kau mendengarkan ku?"
"Hmm.. Aku tahu."
"Jadi kau tidak marah lagi?"
"Hmmm..."
Yunho menghela napas panjang mendengar ucapan jaejoong. "Bisakah mengucapkan kata-kata yang lain selain Hmmm?"
"Ani."
"Wea?"
"Aku sedang malas berbicara. Masih ada rasa kesal dan kecewa bersamaku."
Yunho berdiri dari posisinya, mendekati jaejoong, duduk dibelakang yeoja itu, dan lalu memeluknya. Melingkarkan kedua lengannya pada leher jenjang jaejoong, menyenderkan kepalanya pada kepala jaejoong. "Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku berjanji."
Jaejoong menghentikan kegiatannya. Jantungnya berdetak puluhan kali lebih cepat. Ayolah, ini bukan pertama kali yunho memeluknya bahkan mereka sering melakukan hubungan 18 tahun keatas namun kenapa jantungnya terus berdetak seperti ini. 'Tuhan tolong selamatkan hambamu ini.' Batinnya. "Lalu?" Tanya jaejoong.
"Bisa kita akhiri masa dingin beberapa jam ini?" Tanya yunho memelas.
"Kalau tidak bisa bagaimana?"
"Boojae...!" Mohon yunho.
"Katakan alasan kenapa aku harus memaafkanmu? Kau membuatku kedinginan, kakiku lecet, kau juga membuatku ketakutan." Bohong jaejoong. Yeoja itu bahkan tidak ketakutan dirinya hanya bingung cara kembali ke hotel tidak lebih dari itu. Kakinya yang lecet memang karena dirinya tidak terbiasa berjalan jauh, dan soal kedinginan semua orang merasakan dingin. Kali ini rasanya jaejoong ingin tertawa, suami lucu sekali. Manusia aneh yang tidak bisa diabaikan.
Rasanya otak yunho membeku seketika karena ini semua. "Ehmm..." Yunho mengantungkan kata-katany untuk kedua kalinya. "Maafkan, aku soal meninggalkan itu. Aku tidak bermaksud karena hanya terlalu kesal, aku jadi pergi bergitu saja. Soal kaki yang lecet, aku kan sudah mengobatinya." Yunho mengeratkan dekapannya, rasanya akan selalu seperti ini. Nyaman! "Mulai detik ini aku akan menjadi selimut untukmu. Agar kau selalu hangat."
"Aku tidak pernah bercanda. Aku selalu serius dengan apa yang ku katakan. Kau percaya padaku kan, boo?"
"Ya, bodohnya aku yang akan percaya padamu." Jaejoong mngusap lengan yunho yang melingkar dilehe putih jenjangnya."
"Jadi kita berbaikan?"
"Ya. Tuan jung yang tampan."
"Terima Kasih, boojae."
#ALL NEW
Hai semua ^^ Gomawoyo~~~
maaf, lama update lagi sibuk bgt ma real life
Doakan sidang ta lancar ya :D
jd bisa rajin update
