Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rate : M

Genre : Romance, Drama, Friendship, Hurt/Comfort, Humor, School life

Pairing : Ichigo x Hitsugaya

Spoiler Warning : Alternate Universe (AU), OOC-minimalisir, Shounen-ai, Yaoi, maleXmale, Don't like Don't read!

Summary : Kurosaki Ichigo, nama paling TOP di SMA Karakura. Paling terkenal membuat biang onar di sekolahnya. Hitsugaya Toushiro, siswa baru yang masuk di SMA Karakura tersebut. Ichigo merasa tertarik dengan perlawanan Hitsugaya padanya. Ternyata Ichigo pernah bertemu dengan Hitsugaya dua tahun yang lalu. Kedekatan Ichigo dan Hitsugaya membuat Inoue, penggemar Ichigo di sekolah akhirnya turun tangan. Inoue menyuruh kedua temannya, Gin dan Hisagi untuk me-rape Hitsugaya. Ichigo yang mengetahui bahwa Hitsugaya di rape. Akhirnya mendatangi Inoue dan kedua temannya (Hisagi dan Gin) untuk memberi pelajaran.

.

A/N : Banyak kata-kata dan tindakan kasar di chapter 10 ini.

.

Sebagian besar ide cerita diambil dari novel Jingga dan Senja karya Esti Kinasih. ^^

.

Request Ami de Aeterna, enjoy!

.

.


New School

.

Chapter 10


.

.

"Gue nggak nyangka. Tubuh cowok mungil itu enak juga. Benarkan, Gin?" Tanya Hisagi. Gin mengangguk dengan seringaian di bibirnya. Kedua cowok ini sedang nongkrong di pinggir jalan dengan motor mereka. Hisapan rokok keluar dari mulut Hisagi. Sudah hampir satu jam keduanya disitu.

"Bagaimana kalau kita balapan sampai di perempatan di ujung jalan sana, Gin?" tantang Hisagi.

"Taruhannya?" Gin mengangkat kedua alisnya. Hisagi menyeringai. Kalau mereka sedang nggak ada kerjaan. Ya begini nih. Balapan dan taruhan.

"Seperti biasa."

"Baiklah."

Bersamaan dengan itu mesin motor keduanya menggerung. Detik berikutnya kedua motor itu melaju dengan kencang. Jalan yang sepi itu tambah membuat keduanya memacu motor. Raungan-raungan mesin motor membuat keduanya tambah semangat. Hisagi memimpin satu meter di depan. Tapi tidak lama kemudian Gin menyusul. Keduanya setara. Tapi begitu Hisagi menambah gasnya. Motornya akhirnya meninggalkan Gin dibelakang. Tinggal tiga puluh meter sampai di tempat finish. Tiba-tiba dari arah belakang muncul tiga motor yang tidak mereka kenal. Salah satu motor dengan kecepatan tinggi menyusul Hisagi. Hisagi kaget. Itu bukan motor Gin. Begitu pula dengan Gin. Kedua motor mengurungnya di kedua sisi.

Hisagi yang masih belum bisa menelan keterkejutannya di kagetkan lagi dengan sebuah kaki yang menendang badan motornya dari samping. Seketika motornya oleng hebat. Hisagi tidak bisa mengendalikan kemudinya. Hingga motornya menabrak sebuah pohon dipinggir jalan dan dia terlempar dari motornya. Gin tersentak melihat kondisi Hisagi yang terkapar di jalan aspal. Dia tidak menyadari bahwa posisinya juga akan sama dengan Hisagi. Kedua motor yang menggurungnya melambatkan kecepatan. Kemudian dengan tiba-tiba. Kedua pengendara motor itu menendang motornya dari belakang. Motor yang dibawa Gin akhirnya oleng juga. Cowok berambut putih perak itu terlempar dari jok motornya. Punggungnya membentur keras aspal. Sedangkan motornya tetap melaju kencang dengan posisi rebah. Percikan api kecil terlihat dari motornya yang juga membentur aspal.

Ketiga motor itu berhenti. Ditepikan motor mereka. Dan membuka helm yang menutup wajah mereka. Renji, Chad dan Ikakku memandang kedua cowok yang terkapar dijalan. Renji mendekati Hisagi. Sedangkan Ikakku dan Chad mendekati Gin yang terkapar ditengah jalan. Renji melepaskan helm yang dipakai Hisagi. Cowok bertato 69 di pipi itu menatapnya dengan mata setengah terpejam. Darah segar mengalir dari dahinya. Kepalanya terasa pusing karena kejadian yang ditimpanya.

"Ka—u… Aba—ra..i…" ucap Hisagi. Suaranya tercekat. Renji menyeringai.

"Lo kaget? Tapi masih ada surprise lagi untuk lo," Kata Renji dengan nada tajam.

"Dasar lembek. Baru dikasih salam begini saja sudah KO," bentak Ikakku sambil mencengkram kerah baju Gin. Cowok berambut putih perak itu mengerang. Sekujur punggungnya berdenyut sakit karena tadi membentur aspal dengan keras. Renji menoleh dan menatap Ikakku dan Chad yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.

"Jangan dibuat pingsan, Bro! Nanti Ichigo sendiri yang turun tangan," teriak Renji. Hisagi dan Gin yang mendengar nama Ichigo langsung tersentak kaget. Kedua mata Renji mampir di wajah Hisagi. "Kalian berdua sudah melanggar salah satu teritori Ichigo. Dan well…sepertinya kalian akan mendapat konsekuensinya." Desis Renji penuh penekanan. Gin dan Hisagi menelan ludah susah payah. Bisa dipastikan. Setelah ini mereka berdua akan masuk UGD karena amukan Ichigo.

Sebuah mobil BMW warna hitam pekat berhenti di tempat itu. Kaca mobil itu turun. Dan dari dalam mobil muncul wajah Keigo.

"Hei~ cepat masukkan kedua orang itu!" seru Keigo sambil melambaikan tangan. Renji menyeringai. Jongos a.k.a Keigo ini memang sangat berguna.

"Berdiri!" bentak Renji. Mau tidak mau Hisagi berdiri. Kemudian mengikuti instruksi Renji. Begitu pula dengan Gin. Renji membuka pintu mobil itu.

"Eh! Siapa nyuruh masukkin mereka disitu?" jerit Keigo. Dahi Renji mengernyit heran.

"Lha terus masukkin dimana kalau bukan disini?" Tanya Renji.

"Di bagasi, Man! Enak benar mereka berdua. Kirain ini taksi apa?" jawab Keigo enteng. Renji bersiul pelan. Kemudian kekehan geli keluar dari mulutnya.

"Mizuiro, buka bagasi belakang!" Keigo menoleh ke kursi pengemudi. Dan ternyata mobil BMW ini milik Mizuiro. Salah satu sobat karib Keigo. Well…Mizuiro itu anak orang kaya gitu loh. Salah satu komplotan setia Ichigo.

Pintu bagasi belakang terbuka. Renji memasukkan Hisagi. Disusul Gin. Kemudian ditutupnya.

"Di tempat biasakan?" Keigo memastikan tempat tujuannya. Renji mengangguk.

"Disana sudah ada anak-anak yang lain. Nanti kita-kita menyusul." Ujarnya. Keigo mengangguk paham. Mobil itu akhirnya melaju pergi dari situ.

.

.

.

"Ngh…"

Igauan Hitsugaya membuat Ichigo yang berdiri di depan jendela balkon menoleh. Cowok mungil itu membuka matanya pelan-pelan. Suasana kamarnya yang remang-remang membuatnya harus mengerjapkan matanya berkali-kali. Diluar hujan turun dengan deras. Diedarkan pandangannya dan matanya tertumbuk pada satu sosok yang berdiri di dekat jendela. Ichigo menghampiri cowok mungil itu dan duduk disamping tempat tidur.

"Kau sudah bangun, Toushiro?"

Hitsugaya mengangguk pelan. Diam-diam Ichigo menarik napas lega.

"Sudah ya. Gue pergi du…" kalimat Ichigo terpotong. Kedua tangan kecil memeluk lengan kanannya. Ichigo terpana.

"Arigatou…Tapi, jangan tinggalkan aku sendiri, Kurosaki senpai," ucap Hitsugaya. Didonggakkan kepalanya menatap Ichigo. Keduanya saling tatap dalam diam.

"Maaf… gue ada urusan…" ujar Ichigo lirih. Hitsugaya sedikit kaget. Tapi tidak kentara. Dilepaskan kedua tangannya yang memeluk lengan Ichigo. Suara hujan diluar tambah membuat suasana di dalam kamar itu hening. Ichigo menghembuskan napas kuat-kuat. Dirogohnya saku celananya. Kemudian mengulurkan HP-nya di depan cowok mungil itu.

"Ketik nomor telpon lo," kata Ichigo. Hitsugaya tertegun. Tapi segera diterimanya HP itu dan diketiknya nomor teleponnya. Ichigo menerima HP-nya lagi. Dilihatnya beberapa angka yang ditulis Hitsugaya di layar HP. Kemudian ditekan tombol memanggil. Deringan HP Hitsugaya berbunyi nyaring. Cowok mungil itu menoleh dan mengambil HP-nya yang terletak di meja kecil samping tempat tidur. Tidak lama kemudian panggilan masuk itu berhenti.

"Itu nomor HP gue. Kalau ada apa-apa telpon saja disitu," Hitsugaya mengangguk. Pipinya diselimuti semburat merah. Untung suasana agak gelap.

"Toushiro…" panggil Ichigo. Cowok mungil itu menoleh dan menatap Ichigo. "Maaf kalau selama ini gue selalu bertindak kasar sama lo." Ujarnya dengan nada lembut. Hitsugaya terpana. Tidak menyangka dengan apa yang didengarnya. Suara Ichigo membuat jantungnya berdetak cepat.

"Anu…kau tidak apa-apa, Kurosaki senpai?" tanyanya gagap. Jujur. Dia agak kaget mendengar kalimat tadi. Ichigo tersenyum. Memang aneh banget kalau image-nya yang biasa kasar dan selalu melakukan apa yang diinginkannya berubah menjadi lembut seperti ini.

Ichigo merendahkan wajahnya. Ditatapnya lekat-lekat kedua mata emerald Hitsugaya. Seperti tersihir, Hitsugaya juga menatap kedua mata cokelat Ichigo. Jarak wajah yang hanya sepuluh senti itu akhirnya dihilangkan Ichigo. Dikecupnya bibir mungil Hitsugaya lembut. Kemudian didekatkan bibirnya di telinga kiri Hitsugaya.

"Panggil saja, Kurosaki." Bisiknya lembut. Hitsugaya blushing. Dadanya berdegup kencang. Mati-matian Hitsugaya menahan malu. Apa benar ini siswa paling bermasalah yang dikenalnya di sekolah? Batinnya dalam hati.

Ichigo mengangkat tubuhnya. Ditatapnya Hitsugaya dengan senyum lembut. "Sudah ya." Ucapnya. Kemudian dilangkahkan kakinya keluar kamar. Meninggalkan Hitsugaya yang masih tercengang.

.

.

.

Dering SMS membuat Renji kaget. Dirogohnya saku celananya. Dan dibacanya SMS itu.

Gue sedang di perjalanan menuju ke sana.

Satu SMS singkat dari Ichigo membuat Renji menyeringai. Ditolehkan kepalanya ke depan. Menatap komplotan teman-temannya yang sedang asyik menghajar Gin dan Hisagi.

"Bro!" serunya keras. Semuanya menoleh ke Renji yang sedang bersandar di dinding. "Sudah cukup. Ichigo sudah di perjalanan kemari." Ujarnya. Wajah-wajah menyeringai tampak di kerumunan itu. Dilepaskan Gin dan Hisagi yang terduduk lemas di lantai. Kemudian berjalan di posisi masing-masing menunggu sang pemimpin.

.

.

.

"Bagaimana ini Orihime? Ichigo pasti akan datang membalas perlakuan yang kita lakukan pada cowok mungil itu," jerit Chizuru tegang dan panik.

"Walau gue jago karate. Tapi kalau sudah berhadapan dengan Ichigo dan komplotannya. Jujur. Gue angkat tangan, Inoue." Kali ini Tatsuki yang mengajukan pendapatnya. Inoue hanya diam. Tapi dalam hati dia juga panik dan tegang. Baru kali itu dilihatnya tatapan membunuh Ichigo di sekolah tadi. Ditatapnya kedua teman ceweknya itu bergulir. Rasa takut mulai merajali pikirannya. Akhirnya tindakannya mendapat karma.

"Gue juga nggak tahu harus melakukan apa. Tatsuki…Chizuru." kata Inoue dengan suara pelan dan pasrah. Suasana hujan diluar tambah membuat suasana di kamar Inoue digelayuti oleh perasaan takut. Ketiga cewek itu terdiam bungkam.

.

.

.

Ichigo menghentikan motornya di depan bangunan tua yang tidak terpakai. Dilangkahkan kakinya ke dalam rumah yang lumayan besar itu. Kedua temannya yang duduk di teras menoleh dan menatap Ichigo. Sekujur tubuh Ichigo basah kuyup karena hujan.

"Mereka berdua di dalam, Ichigo," kata Ikakku.

"Bajumu basah kuyup. Nanti sakit lho, Ichigo." Sahut yumichika. Cowok yang agak bencong ini entah kenapa bisa jadi salah satu komplotan Ichigo. Ichigo mengangguk. Kemudian melangkahkan kakinya ke pintu besar yang sudah agak bobrok itu. Dibukanya pintu itu. Pandangannya langsung tertuju kedua cowok yang terkulai lemas di lantai. Ikakku dan Yumichika menutup pintu itu. kemudian berdiri di posisi mereka. Semua pandangan tertuju kearah Ichigo.

Ichigo mendekati kedua cowok itu dengan langkah tenang. Dilepaskan jaket hitamnya yang basah. Dan dijatuhkan di lantai. Begitu tinggal dua langkah. Ichigo berhenti. Dijongkokkan tubuhnya agar setara dengan kedua cowok itu. Rahang Ichigo mengatup keras. Emosinya kembali menyulut. Dan dengan tiba-tiba dicengkramnya kerah baju kedua cowok itu. Diangkatnya tubuhnya. Sehingga kedua cowok itu juga terangkat. Kedua tangan Ichigo yang mencengkram kerah keduanya menguat. Suasana disitu semakin mencengkam. Mata-mata disitu menanti tindakan Ichigo selanjutnya.

"Siapa yang menghajar kedua cowok ini tadi?" Ichigo bertanya tanya mengalihkan pandangannya dari Gin dan Hisagi. Serempak tangan-tangan berada diatas. Ichigo menyapu seluruh ruangan itu. Hampir semua komplotannya mengangkat tangan. Hanya satu orang yang tidak. Kedua alisnya terangkat menatap Renji yang bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Kenapa?"

Satu kalimat tanya Ichigo itu sudah membuat Renji menyerigai paham.

"Gue nggak yakin kalau gue yang turun tangan," jawab Renji kalem. Dahi Ichigo mengerut. Renji tersenyum tipis. "Kalau gue yang turun tangan. Pasti bakal gue hajar sampai pingsan. Lo kan minta jangan sampai pingsan." Jelasnya.

Ichigo menatap kedua cowok yang berada di cengkramannya. Wajah keduanya babak belur karena tadi dihajar oleh komplotan Ichigo.

"Lo berdua sudah tahu kan kesalahan kalian. Jadi gue nggak perlu banyak bacot!" desis Ichigo tajam.

BUAAAK!

ZRAAAK!

BRUK! BRAK!

Ichigo melepas tangan kanannya yang mencengkram kerah Gin. dan dengan tiba-tiba ditendangnya perut cowok itu sampai terseret ke belakang dan menyambar meja yang sudah lapuk. Komlotan Ichigo yang melihat itu terkesima. Desahan "WOW" keluar dari mulut mereka.

Tatapan nyalang Ichigo mampir di wajah Hisagi. Satu pukulan keras mendarat di pipi cowok bertato 69 itu. Tidak puas dengan itu. Ichigo mengangkat satu kakinya. Dengan tiba-tiba, lututnya menghantam tulang rusuk cowok itu. Hisagi mengerang. Darah kental keluar dari mulutnya.

Keigo yang duduk disalah satu meja berdecak kagum melihat aksi didepannya. Sementara Mizuiro hanya melihat sekilas. Kemudian kembali sibuk dengan HP di tangannya. Tadi dia sudah puas menghajar kedua cowok itu. Eh~! Jangan salah readers. Jangan melihat Mizuiro dari tubuhnya yang lumayan kecil itu. Kalau dia sedang marah. Keigo saja bergidik takut melihat sobatnya itu.

Hampir setengah jam Ichigo menghajar kedua cowok itu. Kita skip saja soalnya nggak baik untuk ditiru (Alah~! Bilang saja capek ngetik). Wajah Gin dan Hisagi bisa dikatakan tidak berbentuk lagi. Lebam di wajah keduanya membuat komplotan Ichigo yang melihatnya sedikit bergidik. Asli. Bukan palsu, man!

Gin dan Hisagi meringis kesakitan. Sekujur tubuh mereka berdenyut sakit. Ichigo menatap kedua orang itu tajam.

"Peringatan terakhir. Jika kalian berani menyentuh 'Toushiro' lagi," Ichigo menekan nama Hitsugaya di kalimatnya. "Gue nggak akan segan untuk membunuh kalian berdua. Gue trima walau konsekuensinya gue dipenjara." Ujar Ichigo dengan nada getas. Kedua cowok itu menelan ludah paksa. Mereka teringat pada satu info penting. Ichigo itu tidak pernah main-main dengan apa yang dikatakannya.

Ichigo mengedarkan pandangannya. Ditatapnya satu persatu teman-temannya. "Ada yang masih mau menghajar kedua orang brengsek ini?" Tanya Ichigo dengan kedua alis terangkat. Wajah-wajah menyeringai langsung terlihat.

"Asoy~! Tentu saja masih mau doong~!" seru teman-temannya semangat. Sudut bibir Ichigo terangkat. Ditinggalkan kedua cowok yang terbujur di lantai itu. Tak lama kemudian komplotan Ichigo yang masih tangannya masih 'gatal' pengen menghajar sudah menggerubungi Gin dan Hisagi. Ichigo berjalan kearah pintu dengan Renji yang mengekor dibelakangnya.

.

.

.

Hitsugaya menatap beberapa angka nomor yang tertera di layar HP-nya. Itu nomor Ichigo. Cowok mungil itu tidak menyangka bisa mendapat nomor telepon Ichigo. Kaget tapi di dasar hatinya dia senang juga. Apalagi sikap Ichigo yang tiba-tiba berubah lembut. Tambah membuatnya malu kalau mengingat ciuman singkat Ichigo tadi.

Ingin ditelponnya Ichigo. Tapi diurungkannya. Baru beberapa jam Ichigo meninggalkannya. Tapi dia sudah rindu dengan Senpai-nya itu. Aneh, kan? Sepertinya dia sekarang sudah jatuh cinta pada Ichigo. Perasaan yang tidak wajar. Karena beberapa hari yang lalu. Dia sangat membenci cowok berambut orange itu. Tapi apa mau dikata. Jika sang cupid hati sudah menancapkan panah cinta dihatinya.

Hitsugaya akhirnya hampir stress. Dengan was-was ditekannya tombol memanggil. Tapi detik berikutnya ditekannya tombol end. Hati dan telinganya belum siap mendengar suara Ichigo.

.

.

.

"Mau kemana, Ichigo?" tanya Renji. Begitu dilihatnya Ichigo sudah menyalakan motor.

"Rumah Inoue." Jawab Ichigo singkat. Kedua mata Renji terbelalak lebar.

"Lo beneran mau membalas perbuatan ketiga cewek itu?" suara Renji tercekat di leher.

"Jangan halangin gue, Renji. Gue nggak akan segan untuk menghajar elo." Gumam Ichigo.

"Gue nggak akan halangin elo lagi. Tapi gue cuma mau ingatin elo. Mereka cewek, Bro! Gue tahu selama ini lo pantang untuk mukul yang namanya cewek. Tapi setidaknya pikirkan lagi tindakan elo itu." ujar Renji.

"Thanks! Tapi sudah gue pikirin tindakan gue. Gue cuma mau ngasih peringatan terakhir untuk cewek brengsek itu." jawab Ichigo. Renji diam-diam menarik napas lega.

"Gue ikut?" Tanya Renji. Ichigo menganggkat bahunya.

"Terserah."

.

.

.

Dua buah motor berhenti tepat di depan pagar rumah yang sangat besar. Hujan yang deras tadi sekarang sudah rintik-rintik. Ichigo melepas helmnya. Kedua matanya menyapu pekarangan rumah yang sangat besar itu. Didekatinya pagar rumah yang lumayan tinggi itu. Dan detik berikutnya Ichigo memanjat pagar itu dengan ringan. Renji sedikit tercengang. Tapi segera ditelannya keterkejutannya. Kemudian menyusul Ichigo dengan memanjat pagar itu.

Dengan langkah lebar. Ichigo mendekati pintu rumah itu. Ditekannya bel rumah kuat-kuat.

Ketiga cewek itu tersentak kaget mendengar bunyi bel.

"Siapa yang menekan bel?" ucap Chizuru dengan suara pelan.

"Ja—jangan-jangan… Ichigo…" sahut Tatsuki. Ketiga wajah cewek itu langsung tegang.

"Nggak mungkin. Mungkin pengantar pizza yang kita pesan tadi," kata Inoue. Padahal dalam hati dia tidak yakin dengan omongannya. "Lebih baik kubuka pintunya." Inoue berjalan keluar dari kamarnya. Tatsuki dan Chizuru tidak mencegah. Kedua cewek itu mengekor Inoue dibelakang.

Ketiga cewek itu menuruni tangga dengan perasaan was-was. Begitu sampai di depan pintu. Inoue menelan ludah susah payah. Diputarnya kunci pintu dan dibukanya pelan-pelan daun pintu. Ketiga cewek itu terperangah. Ketakutan mereka sedari tadi menjadi kenyataan dan bukan fatamorgana. Ichigo menatap tajam ketiga cewek itu. Diterjangnya pintu itu. Sehingga Inoue termundur beberapa langkah kebelakang saking kagetnya. Satu tangan dengan cepat mencengkram kerah baju Inoue dari depan. Ichigo menarik paksa cewek itu kehadapannya. Tidak ada yang berani berteriak. Aura mencekam yang dikeluarkan Ichigo sanggup membuat ketiga cewek itu bungkam.

"Gue peringatin elo untuk terakhir kalinya, Inoue," Ichigo menatap nyalang cewek dicengkramannya itu. "Sekali lagi lo berulah. Gue nggak akan segan untuk menghajar elo. Prinsip gue pantang untuk mukulin cewek. Tapi sepertinya lo cewek yang harus dihajar baru paham. Jadi, ini yang terakhir. Jangan dekati Toushiro lagi. Jika sampai dia terluka lagi karena perbuatan elo dan kedua teman cewek lo itu," Ichigo menunjuk Tatsuki dan Chizuru dengan dagunya. "Hati-hati saja. Karena gue bakal serius dengan omongan gue tadi." Desis Ichigo getas. "Paham?" bentak Ichigo. Inoue mengangguk pelan.

Ichigo melepas cengkramannya. Kemudian dilangkahkan kakinya menjauh dari rumah itu. Inoue terjatuh lemas di lantai rumahnya. Kedua matanya menatap punggung Ichigo yang menjauh. Satu kesalahan fatal lagi. Jika dia melakukan tindakan gegabah lagi ke cowok yang bernama Hitsugaya Toushiro itu. Bisa dipastikan nyawanya akan melayang di tangan Ichigo.

.

.

.

"Mau diantar kemana?" Tanya sopir taksi ke penumpangnya. Sebuah kertas terjulur dari belakang.

"Tolong diantar ke alamat ini," jawab penumpang itu. Supir taksi itu mengangguk paham.

.

.

.

"Thanks ya, Renji," ucap Ichigo. Renji mengangguk sambil tersenyum.

"Setelah ini lo mau kemana, Bro?"

"Pulang," jawab Ichigo singkat. "Sudah ya. Bye." Motor Ichigo pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

"Nanti kesannya padaku akan buruk," Hitsugaya mendesah untuk kesekian kalinya. "Kan dia bilang tadi kalau ada apa-apa baru ditelpon," Hitsugaya menarik napas panjang. Ditatapnya HP-nya untuk terakhir kalinya kemudian diletakkannya di meja samping tempat tidurnya. Hitsugaya kembali menyamankan tubuhnya di dalam selimut tebal. Kedua mata emeraldnya menerawang. Wajah Ichigo yang tersenyum lembut tadi seta suaranya yang lembut membuat pipinya bersemu merah.

"Kurosaki…" panggilnya lirih.

.

.

.

Ichigo menoleh. Sepertinya ada yang memanggil namanya. Cowok berambut orange itu menggeleng. Mungkin hanya perasaan, gumamnya dalam hati. Dilepaskannya bajunya yang basah kuyup karena hujan deras tadi. Kemudian mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

.

.

.

"Sudah sampai, nona," ujar supir taksi itu. Mobilnya berhenti didepan sebuah apartemen di tengah kota Karakura. Setelah menyerahkan sejumlah uang. Penumpang itu turun dengan menenteng sebuah tas baju yang lumayan besar. Kedua mata violetnya menyapu apartemen itu. Senyum tipis terukir dibibirnya. Dilangkahkan kakinya kedalam apartemen itu.

.

.

.

Ichigo menarik salah satu baju dari lemari pakaiannya. Dipakainya baju itu kemudian berjalan keluar kamar dengan handuk kecil diatas kepalanya.

Ting tong!

Bel apartemen Ichigo berbunyi. Diurungkan niatnya ke dapur. Kemudian melangkah ke pintu. Dibukanya pintu. Detik berikutnya kedua matanya terbelalak lebar. Di depannya berdiri seorang cewek bertubuh kecil.

"Ka—kau… apa yang kau lakukan disini…Rukia?" suara Ichigo tercekat ditenggorokan. Cewek yang bernama Rukia itu tersenyum.

"Lama tidak jumpa…Ichigo." Jawabnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

.

.

.


To be continued…