I'm Not Mama Boy
Title : I'm Not Mama Boy (Chapt8)
Writer : MrsDoubleV
Rated : M
Genre : Family, Drama, Friendship
Cast : DaeBaekTae (Hyun Family) and
others (Lihat sendiri di dlm FF)
Semua Cast disini milik Tuhan, kedua
orang tua dan diri mereka masing-
masing. Bernaung di bawah
entertainment mereka. Dipakai hanya
untuk mengisi Cast di FF ini.
Warning : GS for all Uke(s), OOC,
Typo(s), bahasa non baku, rated
dapat berubah sewaktu-waktu.
Ide dan alur cerita berasal dari ide
saya sendiri. No plagiat plagiat!
Really Hate Plagiator! Don't like?
Don't read! Jangan lupa meninggalkan
jejak sehabis membaca. Let's enjoy
my FanFict~
.
.
MrsDoubleV
.
.
.
Jungkook hanya bisa menatap nanar jalan raya yang lenggang dihadapannya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam membuat suasana jalanan kota Seoul yang ramai terlihat jadi semakin sepi karena minimnya aktifitas di malam hari. Dengan hanya berbalut piyama rumah sakit dan sandal jepit, Jungkook memutuskan untuk pergi dari rumah sakit. Ia sudah sangat kecewa akan sikap oppanya -Jin- yang menurutnya sudah sangat sangat berlebihan dan kelewatan. Dibawah halte tua dengan lampu remang-remang yang terletak cukup jauh dari rumah sakitlah kini ia sendiri.
FLASHBACK ON
"Kau jahat, oppa! Aku membencimu!" Dengan mata yang penuh dengan air mata Jungkook mengatakan kemarahan dirinya.
"Kook dengarkan oppa dulu! K-kau salah paham, Kook!" Ujar Jin mencoba membela diri. Namun Jungkook seakan tak peduli dengan apa yang akan dibicarakan oleh Jin lagi. Ia sudah mendengar semuanya. Semuanya apa yang dikatakan oleh Jin tadi pada Taehyung.
"Kook, dengarkan oppa dulu! Oppa bisa menjelaskannya padamu kala-"
"Oppa ingin menjelaskan apa lagi padaku? Aku tidak tuli dan aku sudah mendengar semuanya, oppa. Semuanya!" Balas Jungkook yang sarat akan emosi. Dengan satu sentakan, Jungkook langsung melepaskan selang infus yang tertancam di tangan kirinya dan segera beranjak turun dari ranjang rumah sakit yang ditempatinya.
"Apa yang kau lakukan, Kook?" Jin membelalakan matanya saat melihat aksi Jungkook yang dengan berani melepas selang infus dan beranjak turun dari ranjangnya.
"Lepaskan! Jangan halang-halangi aku lagi!" Bentak Jungkook dan mendorong tubuh Jin agar menjauh dari tubuhnya. Membuat punggung Jin membentur dinding membuat Jin meringis. Ia pun melenggang pergi dari ruang rawatnya sendiri.
"Jungkook-ah! Kajima! Jungkook-ah!" Teriak Jin dan mencoba mengejar Jungkook meski dengan punggung yang terasa sangat sakit.
FLASHBACK OFF
"Aku tidak tahu kenapa kau bisa sekejam ini, oppa..." lirih Jungkook yang tak jua berhenti menangis.
"Akhhh kepalaku.." Jungkook segera memegangi kepalanya yang masih terperban karena rasa sakit tiba-tiba menderanya.
"Akhhh appo..." lirih Jungkook lagi dan setelahnya semua menjadi gelap. Jungkook tak sadarkan diri.
...
Pagi kembali menjelang. Yoongi sudah terlihat rapi dengan baju seragam sekolahnya. Sesekali ia tersenyum saat menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dengan rambut panjangnya yang kini digerai dan dipermanis dengan sebuah jepit kecil disisi kiri rambutnya, membuat Yoongi tampak jadi semakin imut. Penampilan seperti ini sedikit berbeda dengan penampilannya yang biasa terlihat lebih tomboy dan sedikit urakan. Tapi penampilannya kini menjadi terlihat lebih rapi dan juga menjadi lebih feminim.
"Pagi, ahjumma..." sapa Yoongi ramah saat ia baru saja turun dari lantai atas, tempat kamarnya berada.
"Pagi juga, Yoongi-ah. Aigoo hari ini kau terlihat semakin cantik saja." Ujar Baekhyun yang terlihat sibuk menata sarapan diatas meja makan.
"Ahjumma bisa saja... Apa ada yang bisa aku bantu, ahjumma?" Tanya Yoongi setelah meletakkan tasnya pada salah satu kursi di ruang makan.
"Aniya. Semua sudah selesai. Duduklah. Sebentar lagi ahjushi dan Taetae pasti akan segera turun." Balas Baekhyun yang kini sudah mendudukan dirinya dikursi yang selalu ia tempati.
"Pagi ahjushi.." sapa Yoongi saat melihat Daehyun yang baru saja tiba di ruang makan lengkap dengan setelan jas kantornya.
"Pagi juga, Yoongi." Balas Daehyun dan segera mendudukan dirinya dikursi paling ujung, tempat kepala keluarga Jung.
"Taetae belum turun juga?" Tanya Daehyun pada Baekhyun istrinya yang mulai menyendokan nasi ke atas piring sang suami.
"Belum. Mungkin sebentar la-"
"Pagi appa, eomma.." sapa Taehyung yang baru saja datang dan ikut bergabung dimeja makan. Ia segera mendudukan dirinya pada kursi di samping kiri sang appa, berhadapan dengan Baekhyun.
"Kau kesiangan lagi, Tae.." ujar Baekhyun yang tak mendapat balas dari Taehyung.
Suasana sarapan pagi itu berlangsung khidmat karena tak ada pembicaraan apapun diantara semuanya. Mereka lebih fokus pada menu makanan dihadapan mereka. Taehyung juga nampak sibuk dengan pikirannya karena ia lebih banyak terlihat melamun dibandingkan menyantap menu makan paginya.
"Tae? Wae? Apa masakan eomma tak enak?" Tanya Baekhyun saat melihat Taehyung yang hanya menatap makanan dihadapannya tanpa selera.
"Aniya. Aku sudah kenyang eomma.." balas Taehyung dan menyudahi makannya padahal Baekhyun yakin jika anaknya itu baru makan beberapa suap saja.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Baekhyun lagi membuat Daehyun ikut menghentikan makannya dan menatap ke arah Taehyung, begitupula dengan Yoongi yang menatap Taehyung dengan pandangan bingung.
"Aniya. Nan gwenchana, eomma.." elak Taehyung membuat Baekhyun menatapnya penuh selidik. Ia merasa sedang terjadi sesuatu pada putranya itu.
Ting Tong
Tiba-tiba terdengar bunyi bell dirumah keluarga Jung pagi itu membuat sarapan pagi mereka jadi sedikit terganggu lagi.
"Biar Taetae yang membukakan pintu, eomma." Cegat Taehyung saat Baekhyun baru saja hendak beranjak untuk membukakan pintu bagi tamu yang datang.
CKLEK
"Dimana Jungkook?" Tanya orang itu langsung membuat Taehyung sedikit terhentak.
"Ne?"
"Dimana Jungkook?" Tanya orang itu yang ternyata adalah Jin. Taehyung hanya menatap bingung ke arah Jin yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan menanyakan Jungkook.
"Maksud sunbae apa?"
"Apa Jungkook didalam? Cepat katakan dimana Jungkook!" Jin berniat masuk namun Taehyung mencegatnya.
"Sunbae tenang dulu. Apa yang sebenarnya terjadi? Jungkook itu-"
"Jungkook ada di dalam, kan? Aku ingin bertemu dengan-"
"Ada keributan apa ini?" Tanya Daehyun sang kepala keluarga yang sedikit terganggu dengan keributan yang dibuat oleh anak dan tamunya.
"Aku datang ingin bertemu dengan Jungkook."
"Kau siapa?" Tanya Baekhyun dengan nada kesalnya. Ia kesal dengan sikap namja dihadapannya ini yang seenaknya mencari keributan dipagi hari didepan rumahnya.
"Aku Jin, kakak Jungkook. Jadi dimana Jungkook?"
"Sopan sekali sikapmu ini, hah!" Bentak Baekhyun. Seumur hidupnya, baru kali ini ia berhadapan dengan orang yang tak sopan.
"Aku tak ingin mencari keributan disini. Aku hanya ingin bertemu Jungkook dan membawanya pulang. Jadi dimana Jungkook?"
"Dasar anak kurang ajar! Kau tidak pernah diajari sopan santunkah oleh orang tuamu? Begitukah caramu berbicara pada orang tua, hah?" Baekhyun melototkan matanya karena sangat kesal pada namja dihadapannya itu yang sudah berbicara sangat tak sopan padanya.
"Sunbae, Jungkook tak ada disini. Bukankah ia ada dirumah sakit? Lalu kenapa sun-"
"Jika dia ada di rumah sakit, aku tak mungkin mencarinya kesini."
"Mwo? Jadi Jungkook pergi? Bagaimana bisa?" Taehyung membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Setelah mendengar kabar Jungkook yang pergi dari rumah sakit sejak semalam, membuat Taehyung sangat panik dan segera mengambil kunci mobilnya dan melesat mencari Jungkook. Ia sama sekali tak mendengar protesan dari Baekhyun karena pergi tiba-tiba dan berniat membolos. Taehyung hanya kepikiran Jungkook saat ini. Ia begitu khawatir dengan keadaan Jungkook yang masih belum terlalu membaik.
"Kookie kau dimana?" Lirih Taehyung yang kini sudah mulai berkeliling mencari Jungkook dengan mobilnya.
...
Setelah kepergian Taehyung, Baekhyun, Daehyun dan Yoongi kembali ke dalam rumah. Umpatan-umpatan pun masih terdengar dari bibir Baekhyun yang merasa kesal akibat ketidaksopanan Jin dan juga sikap Taehyung yang langsung pergi begitu saja. Dan berulang kali pula Daehyun mencoba menenangkan sang istri dengan sabar.
"Hmm ahjushi, ahjumma, sepertinya aku harus berangkat sekarang." Pamit Yoongi dan segera mengambil tasnya tanpa berniat melanjutkan kembali sarapannya karena sudah diburu waktu.
"Eoh tunggulah ahjushi yang akan mengantar-"
"Aniyo, ahjushi. Aku naik taksi saja. Aku tidak mau merepotkan ahjushi. Baiklah aku pergi. Annyeong.." pamit Yoongi lalu berjalan keluar dari kediaman Jung.
Baru beberapa menit Yoongi berjalan di sekitar kompleks perumahan, ia sudah merasa letih dan tak kunjung melihat taksi. Ia merutuki kebodohannya yang menolak tawaran dari Jung ahjushi untuk mengantarkannya ke sekolah.
"Ahh harusnya aku terima saja tawaran ahjushi tadi.." keluh Yoongi dan mengusap peluh di pelipisnya.
Tin Tin
"Butuh tumpangan, nona?" Ujar seseorang dari belakang Yoongi. Tubuh Yoongi menegang seketika. Ia menghentikan langkahnya namun tak berniat menolehkan kepalanya ke arah belakang. Ia takut jika orang dibelakangnya ini adalah orang jahat.
"Yoongi-ah?" Panggil orang itu lagi dan membuat tubuh Yoongi semakin membeku.
-Bagaimana orang itu tahu namaku?- batin Yoongi.
Puk
"Saekki-ya!" Teriak Yoongi karena terkejut membuat orang yang menepuk bahunya jadi ikutan terkejut.
"Kau baik-baik saja?"
"N-Namjoon?" Yoongi mengerjapkan matanya saat ia baru menyadari jika sosok yang tadi memanggilnya adalah Namjoon.
"Ne ini aku. Gwenchana? Mian jika aku menakutimu." Ujar Namjoon merasa sedikit bersalah. Padahal ia sama sekali tak bermaksud menakuti ataupun mengejutkan Yoongi.
"Gwenchana.. Maaf aku sudah berlebihan." Yoongi sedikit merutuki kebodohannya.
"Jadi? Butuh tumpangan?" Tawar Namjoon dan menyerahkan sebuah helm pada Yoongi.
"Apa tak merepotkan?" Tanya Yoongi dan memandangi helm yang disodorkan oleh Namjoon.
"Sama sekali tidak. Lagipula kita kan satu sekolah. Apa yang merepotkan?" Balas Namjoon lengkap dengan senyumnya membuat dimplenya terlihat.
"Gomawo.." balas Yoongi dan mengambil helm berwarna hitam itu.
...
Drrtttt Drrttt
Ponsel hitam itu bergetar di atas dashbor mobil menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Namja yang sedang mengemudi itupun hanya melirik ke arah ponselnya yang hanya menampilkan sederetan angka tanpa nama membuatnya mengerutkan kening. Namja itu, Jin segera memperlambat sedikit laju mobilnya dan menerima panggilan itu dengan earphonenya.
"Yeoboseyo?"
-Hallo boss! Kau masih mengingatku?- ujar suara diujung telepon itu membuat Jin menggertakan giginya.
"Kali ini apa yang kalian mau, hah? Sudah berkali-kali aku bilang, aku tak akan membayar pekerjaan tak becus kalian waktu itu! Apa kalian tak mengerti juga?" Geram Jin.
-Calm down, boss.. Kali ini bukan itu yang kami mau. Uang? Hahaha nampaknya ini malah yang lebih berharga daripada uangmu itu hahahaha-
"Apa maksudmu, hah?"
-Kami sudah tak membutuhkan uangmu itu! Lagipula adik kesayanganmu ini terlihat jauhhh lebih memiliki harga dibandingkan uangmu itu. Sungguh tubuh adikmu ini sangat, sangat menggiurkan kami.-
"Keparat! Jangan berani sentuh dia atau kau akan tahu akibatnya nanti!"
-Hahahaha kau boleh saja mengancam kami atau menghajar kami habis-habisan. Terserahmu! Tapi setelah menjadikan adikmu ini santapan nafsu kami hahahahaha-
"Keparat! Bangsat kalian semua! Jauhkan tangan kalian dari adikku!" Geram Jin. Wajahnya sudah sangat memerah karena amarah. Bahkan ia sudah menginjakkan pedal gasnya membuat mobilnya melaju cepat dijalan raya.
-Hahahahhaa calm down boss.. Kami tidak akan menyakiti adikmu yang sangat manis itu. Setidaknya jika ia bisa memuaskan kami semua hahahahha tuttt... tuttt... tuttt...-
Sambungan telepon pun terputus secara sepihak. Jin hanya bisa mengumpat karena kesal. Ia langsung menancap gas dan melajukan mobilnya ke tempat dimana Jungkook berada saat ini untuk menolongnya, sebelum namja-namja itu berbuat macam-macam pada adik kesayangannya itu.
...
Yeoja berpiyama rumah sakit itu terlihat bergerak. Nampaknya yeoja itu baru tersadar dari pingsannya semalam. Matamya mulai mengerjap-ngerjap dan tubuhnya mulai bergerak.
"Eungghh... Aku dimana?" Lirihnya tepat saat ketika ia membuka matanya. Yang terlihat disepanjang penglihatannya hanyalah sebuah ruangan gelap yang sangat kotor dan juga bau.
"Uhh kenapa ini? Ada apa ini?" Jungkook sangat terkejut saat mendapati kedua tangan beserta kakinya saling terikat kuat dengan seutas tali.
"Tolonggggg.." teriak Jungkook kuat-kuat berharap ada orang lain yang bisa menolongnya.
"Wahh nampaknya kau sudah sadar ya.." ujar salah seorang namja berbadan kekar dengan kaca mata hitam yang bertengger pada hidung mancungnya berjalan mendekati Jungkook yang mulai mencoba melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.
"Siapa kalian?" Tanya Jungkook pada ketiga namja berbadan besar itu. Karena penerangan yang terbatas, ia jadi tak bisa melihat dengan jelas wajah ketiga namja itu.
"Jangan galak-galak, manis.. Kami tak akan menyakitimu kok. Jadi tenanglah.." ujar namja lainnya dan mencoba memegang dagu Jungkook membuat Jungkook langsung menghindar saat menyadarinya.
"Woww aku suka dengan yeoja sok jual mahal seperti ini hahahaha" balas namja bertopi hitam yang berdiri di belakang namja berkacamata hitam.
"Sudah jangan bermain-main lagi! Lebih baik langsung saja! Aku sudah tak sabar untuk mencicipinya! Wahh pasti sangat nikmat dan memuaskan!" Ujar namja berkacamata itu dan langsung berjalan mendekati Jungkook dan memposisikan diri berhadapan langsung dengan Jungkook.
"Kau cukup diam maka kami tak akan menyakitimu. Lagipula aku tak mau membuat banyak memar pada tubuh mulusmu ini." Ujar namja itu dengan seringaian yang menyeramkan pada wajahnya. Sementara kedua namja lainnya hanya bisa tersenyum menatap Jungkook lapar.
"Jangan sentuh aku!" Teriak Jungkook dikala namja berkacamata itu mencoba untuk menyentuh wajahnya.
"Wow wow wow wow kau semakin manis jika seperti ini.."
"Lepaskan! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kalian!"
"Hahahaha kau lucu sekali hahahaha nanti kau juga pasti akan menikmati sentuhan kami.."
"Aku tak sudi disentuh oleh kalian! Sekarang, lepaskan aku!"
"Banyak bicara! Diam, dan jangan banyak protes!" Karena geram namja itu pun segera menyumpal mulut Jungkook dengan sebuah saputangan membuat Jungkook tak dapat berkata-kata dan meredam semua teriakannya.
"Hmphhhh hmphhhh"
"Hahahah itulah akibatnya jika kau banyak bicara! Ahhh kau sungguh manis..." namja itu mulai membelai wajah Jungkook membuat air mata Jungkook menetes.
"Kau menangis? Tenanglah, aku tak akan berbuat kasar. Tapi sebelumnya, aku harus menyingkirkan ini dulu!" Namja itu mulai melepas satu persatu kancing piyama yang dikenakan Jungkook membuat Jungkook mengguncangkan tubuhnya, mencoba untuk memberontak.
"Tenanglah, manis... Jangan banyak berge-"
BRAKKKK
"-rak atau kau.."
"Jauhkan tanganmu dari Jungkook, keparat!" Teriak Jin dari balik pintu yang baru saja dibukanya secara kasar. Seketika ketiga namja berbadan besar itu pun langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Wahh nampaknya ada yang mencoba mengganggu kesenangan kami disini. Dan eoh nampaknya wajahnya tak asing.." ujar salah seorangnya saat menyadari jika Jin tidak datang sendiri. Ada Taehyung disana yang menatap nanar ke arah Jungkook.
"Kookie-ya!" Teriak Taehyung lalu berlari melesat ke arah Jungkook.
"Yak! Kau ber-"
"Urusan kalian denganku, sialan!" Bentak Jin membuat ketiga namja itu geram.
"Beraninya kau!"
Bughhh
Bughhhh
Bughhhhh
Taehyung mencoba melepaskan tali yang mengikat pada kedua tangan dan kaki Jungkook. Kain yang menyumpal mulutnya pun sudah ia lepas membuat tangisan Jungkook terdengar. Ia juga dapat mendengar isak ketakutan Jungkook yang memanggil-manggil namanya.
"Sttt tenanglah.. Kau akan baik-baik saja..." Taehyung memeluk tubuh Jungkook dengan sangat erat. Kelegaan seketika muncul kala ia mendapati Jungkook baik-baik saja meski ia hampir saja jatuh ketangan tiga namja berbadan besar yang menyekapnya.
"A-aku takut.." lirih Jungkook disela isak tangisnya.
"Ada aku disini. Kau akan baik-baik saja... Tenanglah, Kook.." ujad Taehyung lagi mencoba menenangkan Jungkook yang nampak gemetar dan sangat ketakutan.
Bughh
Bughhh
"Tae cepat bawa Jungkook dari sini!" Teriak Jin membuat Taehyung tersentak. Ia dapat melihat Jin sedang bersusah payah melawan ketiga namja berbadan besar itu. Bahkan wajah Jin sudah terlihat memar dan berdarah.
"Cepat bawa dia pergi!" Teriak Jin lagi saat menyadari jika Taehyung masih diam pada posisinya.
Bughhh
Bughhhh
Taehyung pun segera membapah tubuh Jungkook untuk segera pergi dari sana. Ia harus cepat membawa Jungkook pergi meski ia juga ingin membantu Jin yang kewalahan harus melawan tiga namja sekaligus.
Bughh
Dughhh
"Akhhhh..."
"Oppaaaaa..."
...
Jungkook hanya bisa menangis didalam pelukan Taehyung. Dan berulang kali Taehyung mencoba menenangkan kekasihnya. Pintu putih itu masih tertutup rapat. Lampu yang ada di atas pintu itu juga masih menyala menandakan jika kegiatan operasi didalam masih berlangsung.
"Oppa..." isak Jungkook membuat Taehyung semakin mengeratkan pelukannya.
Segera setelah polisi datang dan menangkap ketiga penjahat itu, Taehyung langsung segera membawa tubuh Jin yang terkulai lemah dilantai karena banyaknya luka tonjokan yang didapatnya ke rumah sakit. Jungkook pun hanya bisa menangisi kondisi mengenaskan sang kakak. Meski ia sempat marah dan kecewa pada Jin, namun ia juga tak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Walau bagaimanapun, Jin tetaplah kakaknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Tak lama lampu diatas pintu ruangan operasi itu pun mati menandakan jika operasi telah selesai. Menyadarinya, Taehyung langsung bangkit dari posisi duduknya diikuti Jungkook yang masih berurai air mata.
"Dok bagaimana keadaannya?" Tanya Taehyung pada sang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Keadaan pasien sempat kritis karena adanya pendarahan pada kepalanya dan ada juga beberapa tulang rusuk pasien yang retak. Namun beruntung keadaannya sekarang sudah berangsur membaik dan pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat." Jelas dokter itu membuat Jungkook bisa merasa sedikit lega.
"Baik, terima kasih, dok." Balas Taehyung dan dokter itu pun berlalu, diikuti beberapa perawat yang mulai memindahkan Jin ke ruang rawat.
Dengan beragam bujukan, akhirnya Taehyung pun bisa membawa Jungkook kembali keruang rawatnya. Walau bagaiamana pun, kondisi Jungkook juga masih belum membaik benar. Beruntung Taehyung membawa Jin ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit Jungkook dirawat.
Penampilan Jungkook pun sudah terlihat lebih baik sekarang. Piyamanya yang kotor sudah diganti dengan piyama yang baru. Beberapa luka lecet yang sempat didapatnya juga sudah diobati. Perban dikepalanya juga sudah diganti membuat Jungkook nampak lebih baik.
"Tae, aku ingin keruangan oppa.." rengek Jungkook saat Taehyung menyelimuti tubuh mungilnya.
"Aniya.. Kau dengar tadi dokter bilang apa? Kau masih harus banyak istirahat. Dan jangan berani pergi seperti kemarin. Kau ingin dirawat disini terus memangnya, hmm?" Ujar Taehyung mencoba memberi pengertian.
"Tapi.. siapa yang akan menjaga oppa? Aku kan.."
"Jika kau khawatir, nanti aku yang akan menjaganya. Cha sekarang kau tidurlah."
"Tapi Tae.."
"Tidurlah.. Nanti aku akan membujuk dokter untuk memperbolehkanmu ke ruangan Jin sunbae. Tapi kau harus istirahat dulu sekarang. Arrachi?"
"Jinjja? Yakso?"
"Hmm yakso. Jadi tidurlah.. Jaljja.."
...
Seorang yeoja cantik terlihat sedang sibuk berada didalam dapurnya. Ia sedang mencoba membuat beberapa makanan untuk ia bawa ke rumah sakit. Setelah mendapat kabar dari Taehyung jika ia sedang berada di rumah sakit, Baekhyun pun langsung berinisiatif membuat makanan untuk anaknya sekaligus ingin melihat keadaan Jungkook.
"Cha semua sudah siap." Ujar Baekhyun bangga saat melihat beberapa kotak bekal yang sudah disiapkannya.
Setelahnya, Baekhyun langsung meraih tas kecilnya, kotak bekal buatannya dan bergegas pergi ke rumah sakit dengan menggunakan taksi. Baekhyun memang tak bisa mengendarai mobil sendiri karena itu ia lebih memilih pergi menggunakan taksi yang sudah dipesannya daripada harus meminta Taehyung untuk menjemputnya dirumah.
Baekhyun berjalan disepanjang lorong yang sepi. Hanya beberapa perawat saja yang terlihat keluar-masuk ke dalam ruang rawat dengan membawakan beragam obat. Sesekali Baekhyun bertanya kepada perawat itu letak dimana ruang rawat Jungkook yang ia tuju. Dan disinilah dia kini didepan sebuah pintu kayu, pintu ruangan Jungkook dirawat.
Baekhyun mengerutkan keningnya saat tak mendapati Taehyung didalam ruangan Jungkook. Ia hanya melihat Jungkook yang terbaring diatas ranjangnya tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
"Aigoo.. Dimana Taetae? Kenapa Jungkook ditinggal sendiri seperti ini?" Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Eunghhh.."
"Eoh? Apa ahjumma mengganggu tidurmu?" Tanya Baekhyun saat menyadari Jungkook yang baru saja membuka matanya.
"A-aniyo ahjumma.." balas Jungkook dan mencoba untuk bangkit keposisi duduk.
"Pelan-pelan saja.." Baekhyun membantu Jungkook untuk duduk.
"Kamsahamnida, ahjumma..."
"Ne. Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah lebih baik, ahjumma. Kamsahamnida.."
"Cepat sembuh ya.. Oh ya ahjumma membawa buah potong. Kau mau?"
"A-ani.."
"Tak usah sungkan. Makanlah.." Baekhyun menyodorkan satu kotak bekal yang berisi buah-buah potong.
"Kamsahamnida, ahjumma..."
Dilain ruangan, Taehyung nampak sedang duduk disebuah kursi disamping ranjang yang ditempati oleh seorang namja yang masih memejamkan matanya. Tubuhnya juga dipenuhi oleh banyak perban. Selang infus tertancap ditangan kirinya. Selang oksigen pun tak lepas dari hidungnya sebagai alat pembantu pernafasan.
"Kook..." lirih Jin membuat Taehyung langsung menatap Jin.
"Sunbae sudah sadar? Sebentar aku akan memanggil dokter du-"
"Andwae! Dimana Jungkook?" Tanya Jin lemah.
"Jungkook ada diruang rawatnya, sunbae. Sunbae ingin bertemu dengannya? Nanti aku akan mengajaknya ke-"
"Tidak. Hmm Tae..."
"Ne, sunbae?"
"Jangan panggil aku sunbae. Panggil aku hyung mulai dari sekarang."
"Ne? H-hyung?"
"Hmm. Mianhae.."
"Ne?"
"Mianhae.. Mian jika selama ini aku sudah jahat padamu."
"A-aniyo.. Aku mengerti kenapa sun- ahh maksudku h-hyung berbuat seperti itu. Justru aku yang harus minta maaf dan sadar diri. Aku tahu mungkin aku memang bukan namja yang pantas untuk Jungkook. Dan mungkin h-hyung juga memandang sebelah mata aku karena aku adalah seorang Mama Boy. Tapi aku akan berusaha untuk bisa menjadi namja yang baik, yang bisa menjaga Jungkook dan membahagiakan Jungkook sehingga aku bisa menjadi pantas untuknya. Jadi sunbae.. ah hmm hyung... apakah aku sudah boleh dekat dengan Jungkook dan menjadikannya kekasihku?" Ujar Taehyung panjang lebar membuat Jin membelalakan matanya.
"Jadi kau pikir hanya karena kau menolongku dan membawaku ke rumah sakit aku bisa begitu saja membebaskanmu mendekati adikku?"
"A-ahh ani bukan begitu h-hyung..."
"Kemari!" Perintah Jin membuat Taehyung membeku ditempatnya.
"Kemari, ku bilang!" Taehyung pun berjalan mendekat dengan ragu.
"Jaga Jungkook untukku dan buat dia bahagia. Jika aku melihat Jungkook menangis, maka aku tak segan untuk menghajarmu. Paham?"
"E-eoh? Jadi apakah hyung mengijinkan-"
"Menurutmu?"
"Ahh hyung gomawo! Gomawo!" Taehyun langsung memeluk tubuh Jin karena sangkin senangnya. Ia lega karena bagaimana pun Jin sudah memberikan ijinnya.
"Yak! Yak! Lepaskan! Kau mau membunuhku, eoh?"
"Ahh mianhae hyung.. Sekali lagi gomawo hyung!" Teriak Taehyung dan ia tak sabar ingin mengatakan hal ini pada Jungkook segera.
Dengan wajah berseri-seri, Taehyung pun kembali ke ruangan Jungkook, tentunya setelah Jin menyuruhnya kembali untuk menjaga Jungkook. Jin menolak untuk ditemani Taehyung. Ia lebih memilih sendiri dan jika ada keperluan memanggil perawat rumah sakit. Ia berdalih jika Jungkook lebih membutuhkan Taehyung daripada dirinya.
"Kookie-ah.." panggil Taehyung saat melihat Jungkook yang sedang duduk bersantai dan asik menonton televisi.
"Taetae? Bagaimana keadaan Jin oppa? Ia baik-baik saja kan? Apa ia sudah sadar? Lalu apa boleh aku ke-"
"Sttt tenanglah. Jin hyung sudah baik-baik saja. Ia juga sudah sadar."
"Jinjja? Ahh syukurlah.. aku senang mendengarnya."
"Oh ya kau perlu tahu satu hal. Jin hyung..."
"Hmm? Ada apa?"
"Jin hyung sudah memberikan ijinnya pada kita!" Ujar Taehyung senang.
"Ma-maksudnya?"
"Jin hyung memberikan ijin menjadikanmu kekasihku, Kook!"
"Be-benarkah? Jadi.. Oppa tak marah lagi jika kita berpacaran?"
"Ne! Jin hyung sudah tidak mempermasalahkannya lagi jika kita berpacaran!" Balas Taehyung dengan wajah berseri-seri.
"Mwo? Pacaran? Kalian?" Tanya Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Eo-eomma? Kenapa eomma bisa ada disini?" Taehyung nampak terkejut saat mendapati Baekhyun, eommanya ada didalam ruang rawat Jungkook.
"Jawab pertanyaan eomma. Jadi, apa kalian pacaran?" Tanya Baekhyun dengan pandangan menyelidik. Seketika tubuh Taehyung langsung menegang. Ia bingung harus menjawab apa. Jungkook pun hanya bisa diam tak mengerti keadaan diantara ibu dan anak itu.
"I-itu eomma..."
"Eomma belum mengijinkanmu pacaran, Tae. Ingat. Sebelum lulus, kau belum boleh pacaran." Ujar Baekhyun membuat Taehyung diam. Ia tak bisa membantah apapun yang diucapkan eommanya. Segala perintah Baekhyun adalah mutlak untuknya.
"Hahhh... Ne, eomma..." balas Taehyung pasrah.
.
.
TBC
.
.
Well chap depan fix chap ending. Semua konflik selesai dengan damai kan? Dan ending cerita ini pasti akan happy kok. Kita liat aja dichap depan gimana usaha Taetae untuk mendapatkan ijin pacaran dari mama Baek hahaha secara Jin kan udah terang-terangan kasih ijin.
Well nantikan chap depan aja deh. Gak mau banyak cuap". Karena biar bagaimana pun aku sadar diri aku mmg banyak salah dan banyak kekurangan. Aku jg manusia biasa yang punya banyak salah. Dan aku sangat sangat tau jika memang cerita ini semakin tidak menarik dan gaje. Dan aku tau aku memang orang yang gak bisa fast update kayak ff aku yg dulu" well aku jg manusia. Masih punya kegiatan lain dan menunggu ide dan inspirasi lain. Kalo aku main asal nulis dan mirip" dg ff lain aku dikira menjiplak. Aku juga jadi serba salah kan.
Hahh yauda deh kembali lagi kepada kalian. Kalo kalian suka ff ini, aku mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk waktu dan kesediaan kalian untuk meluangkan waktu membaca. Kalo kalian gak suka, aku juga gak memaksakan ff ini untuk disukai. Aku serahkan ke selera kalian masing-masing.
Akhir kata, see you at next chap. Ending! Ingin tanya"? Askfm/Viee30 :)
