CHAPTER 10
With Love and Enemy
"Jaejoong hari ini kau lembur ya" ujar manager restoran di tempat aku bekerja
"Aku tidak bisa, hari ini aku ada janji"
"Kau harus bisa, kita tidak punya pegawai lagi" sahutnya memaksa
"Baiklah"
Aku mengelus badan yang usianya sudah empat bulan di dalam perutku, sejauh ini perkembangannya sangat baik walaupun harus maraton mengikutiku bekerja dari hari ke hari, aku sebenarnya merasa kasihan dengan janin didalam perutku tapi ini terpaksa kulakukan demi menabung untuk biaya persalinan rumah sakit.
Malam ini tamu di restoran sungguh banyak, aku sangat kerepotan menangani banyak meja sedangkan pegawai yang bekerja hanya tiga orang, setiap sepuluh menit sekali aku mengelap keringatku sebelum masuk ke ruang dapur untuk membawa pesanan ke beberapa meja, kadang setelahnya aku langsung mampir ke toilet untuk muntah.
Kakiku tidak berhenti mondar-mandir ke dapur lalu ke meja pesanan orang-orang, begitu terus selama beberapa jam, sementara itu dari luar restoran aku melihat seseorang yang kukenal melambaikan tangannya kearahku, aku tersenyum membalas lambaian tangannya sebentar sebelum aku mengerjakan tugas lain didapur.
Satu jam kemudian aku segera keluar dan menemui orang yang tadi melambaikan tangannya padaku.
"Maaf menunggu lama, aku terpaksa harus kerja lembur"
"Tidak apa-apa, ayo kutraktir kau minum" katanya seraya mengalungkan lengannya ke leherku
OoO
"Ahh segar sekali"
Junsu menenggak soju putih dari gelasnya dengan satu tenggakan, aku hanya bisa tersenyum melihat mukanya mulai memerah akibat efek minuman keras tersebut. Aku sendiri hanya bisa memesan teh hangat karena kondisi tubuhku saat ini.
"Jae kau keren sekali bisa bekerja dalam kondisi badanmu seperti itu" kata junsu melihat perutku yang sedikit buncit, untung saja orang restoran tidak ada yang memperhatikan bentuk tubuhku yang sedikit berubah, kalau tidak, mungkin mereka sudah memecatku.
"Iya ini karena terpaksa, aku membutuhkan banyak uang"
"Kapan kau akan berhenti kerja?"
"Bulan depan, aku masih ingin bekerja tapi orangtuaku melarang, lagipula perutku sudah mulai membesar, aku tidak akan bisa menyembunyikannya lagi."
"Wah beberapa bulan lagi aku akan dipanggil paman, aku penasaran bagaimana rupa anakmu nanti, pasti tampan seperti Appanya"
"Hmm" Aku tersenyum mendengar kata Appa dari mulutnya. Junsu sudah mengetahui cerita yang kusampaikan perihal ayah dari anak di dalam perutku.
"Hahaha aku salah bicara ya, maaf ya" katanya lagi berusaha meralat perkataannya sebelumnya.
"Tidak apa-apa, eh ngomong-ngomong makhluk itu bagaimana kabarnya, apa ia sudah punya pacar baru?
"Haa kau ternyata penasaran juga rupanya"
"Sedikit"
"Aku jarang melihatnya dikantor, menurut gosip yang beredar dia sekarang sedang berhubungan dengan seorang artis terkenal, tapi Yoochunnie tidak mengetahui hal itu"
"Mungkin sebentar lagi beritanya akan muncul di tivi"
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak masalah bagiku, sekarang pikiranku hanya ingin membesarkan anak ini, tidak ingin memikirkan hal lain"
"Baguslah, aku senang kau tidak down dengan semua masalah ini"
"Iya, aku tidak boleh terlalu sedih dengan cerita masa laluku, makhluk itu tidak pantas untuk dipikirkan"
Junsu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi
"Bersulang untuk Kim Jaejoong yang mandiri!"
"Cheers" aku menabrakan gelasku dengannya lalu kami menenggak minuman kami masing-masing.
"Jae ini" katanya kemudian mengeluarkan amplop cokelat dari sakunya
"Apa ini?"
Lembaran uang yang masih wangi terlihat dari dalam amplop itu ketika aku membukanya
"Tidak banyak. Itu hasil bonus tahun baru dariku, Yoochun juga memberi sedikit bagiannya, ia merasa ia masih ada ikatan dengan anakmu" ujarnya, perhatian mereka membuat diriku terharu sekaligus merasa miris, bahkan orang yang tidak punya hubungan darah langsung dengan anak ini masih sangat memperdulikannya.
"Terimakasih kalian baik sekali padaku"
"Jika kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku ok!"
"Aku tidak bisa membalas kebaikan kalian berdua"
"Besarkan saja anakmu dengan sehat, itu sudah cukup, lagipula kami ini pamannya"
"Iya, terimakasih banyak"
"Oya ngomong-ngomong bagaimana kabar Soesangnim-mu?, apa ia sudah bercerai dengan istrinya?"
"Belum, aku memintanya tidak meninggalkannya"
"Kenapa?, padahal ia kan mengincar dirimu juga, jika ia sudah bercerai kau bisa langsung menikah dengannya"
"Istrinya sedang hamil"
"Apa?"
.
Ingatanku kembali ke waktu beberapa bulan lalu setelah yunho menolak anak ini mentah-mentah. Senghyun kembali ke Korea tiga hari kemudian, ia sedikit muram ketika bertemu denganku, setelah ia bercerita barulah aku tahu alasannya berwajah muram
"Istriku ternyata sedang hamil, ia mengatakannya dalam perjalanan kami keluar negeri" katanya pelan, ia pasti tidak akan menyangka menemukan kondisi seperti ini disaat sedang ingin berpisah dengan istrinya
"Oh selamat kalau begitu" kataku mencoba menghiburnya tapi ia sama sekali tidak terlihat terhibur.
"Aku tetap akan bercerai dengannya dan memulai hidup baru denganmu" ujarnya lagi
"Kau tidak bisa begitu, bagaimana kau bisa meninggalkan buah hatimu, apa kau makhluk yang kejam?"
"Jae aku bahkan tidak yakin dengan anak itu"
"Kau tetap tidak bisa meninggalkan istrimu yang sedang hamil, kau tidak bisa setega itu pada mereka, kau harus bertanggung jawab"
"Aku ingin sekali bertanggung jawab tapi aku ragu"
"Apa yang kau ragukan? Jika istrimu hamil dan berkata ia anakmu kau harus mempercayainya, kalau perlu lakukan tes untuk lebih meyakinkan dirimu"
"Walaupun bagitu akan sulit untuk bisa mencintai istriku kembali"
"Kalau begitu bertahanlah demi anakmu, cintai istrimu karena ia yang akan melahirkannya, buat hubungan rumah tangga kalian kembali seperti semula"
"Tapi aku menginginkan dirimu"
"Aku tidak bisa menerima pria yang meninggalkan istrinya yang sedang hamil...karena aku sendiri juga sedang hamil"
"Apa?..apa itu anak yunho?" tanyanya dengan muka kaget
"Iya dan ia tidak ingin bertanggung jawab karena ia tidak mempercayai ini darah dagingnya, sekarang kau tahu kenapa aku melarangmu meninggalkan istrimu kan? Karena aku tahu bagaimana rasanya hidup ditelantarkan ketika mengandung seperti itu dan aku tidak bisa membiarkan orang lain menderita demi diriku"
"Jae kita harus bicara pada yunho, kita harus membuatnya percaya bahwa ini anaknya"
"Tidak perlu aku sudah memutuskan untuk merawatnya sendirian"
"Tapi itu anak yunho, keponakanku"
"Ia tidak akan menjadi anak yunho atau keponakanmu, ia hanya akan menjadi anakku"
"Maafkan aku, ini semua kesalahanku"
"Bukan salah siapa-siapa, mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama, aku memang harus menjadi single parent, dan kau harus menjadi seorang ayah...kita harus menerima semua takdir itu"
"Tapi apa kita akan menjalani takdir itu dengan baik?"
"Seunghyun-shi jika kau melihat anakmu lahir kau pasti akan mencintainya, percayalah padaku, kau akan menjadi ayah yang luar biasa"
"Terimakasih atas motivasinya, kau juga akan menjadi orangtua yang luar biasa bagi keponakanku"
"Iya, aku akan berusaha"
OoO
Junsu menggoyang-goyangkan gelas kosong ditangannya, ia menepuk punggungku dengan setengah mabuk
"Menyedihkan sekali, kau jadi kehilangan kesempatan memberi ayah untuk anakmu"
"Aku akan bertahan sendirian Junsu, masih ada orangtuaku"
"Bersulang lagi untukmu"
"Ah sudahlah kau dari tadi bersulang terus, ayo kita pulang"
"Aaah jae ayo minum lagi"
Aku mengangkat lengannya lalu menariknya ke bahuku. Ketika kami keluar tenda disana sudah ada mobil soesangnim menunggu
"Soesangnim?"
"Biar kuantar kalian pulang, junsu kelihatan mabuk"
"Kau antar saja jaejong pulang, aku akan menelepon bosku" ujar junsu
"Baiklah kalau begitu, ayo masuk jae"
"Iya, junsu sampai bertemu lagi!" kataku sambil melambaikan tangan pada junsu yang sedang duduk di pinggir jalan
"Hati-hati di jalan!" katanya
OoO
Sepanjang perjalanan seperti biasa Soesangnim akan menanyakan tentang pekerjaanku hari ini lalu ia akan cerita kondisi di kantornya, di tengah perjalanan ia tiba-tiba mengumumkan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Jae besok kami akan pindah ke Canada" ia melambatkan speed mobilnya sambil sesekali tersenyum kearahku, melihat raut wajahnya yang kelihatan sedih aku merasa harus bersikap lebih tegar darinya
"Secepat itu kah?"
"Iya. Jika disini keadaannya cukup sulit dan kami selalu bertengkar tapi jika kami tinggal disana kami akan mencoba untuk mengenal satu sama lain lagi dari awal dengan lingkungan yang baru"
"Baiklah" balasku dengan mencoba tersenyum, sebenarnya aku sangat sedih mendengarnya, selain Junsu ia adalah sahabat terbaikku, selama ini soesangnim selalu mengantarkanku pulang dari restoran semalam apapun, ia juga yang menemaniku check ke dokter, setengah waktu luangnya akan diberikan padaku lalu setengahnya lagi untuk istrinya, kadang ia berkata bahwa ia sedang mempunyai dua istri.
"Nanti aku tidak bisa menjemputmu lagi atau mengantarmu ke dokter"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa ditinggalkan sendiri, jagalah keluargamu baik-baik"
"Aku akan banyak meneleponmu"
"Kau tidak boleh begitu, istrimu akan merasa kau selingkuh darinya"
"Aku sudah menceritakan hubungan kita dan ia bisa mengerti, ia merasa lebih kasihan padamu dibandingkan pada pernikahan kami"
"Ia sangat pengertian sekali"
"Iya, akhir-akhir ini sifatnya mulai berubah dan ia berjanji akan lebih baik jika anak ini sudah lahir, kurasa aku harus mengapresiasi niat baiknya"
"Tentu saja, setiap orang pasti mempunyai kesalahan dan orang yang bisa memaafkan dan menjadikannya lebih baik adalah orang yang sangat luar biasa, aku senang kau menjadi orang yang seperti itu"
"Aku harap kau dan Yunho juga bisa saling memaafkan dan menerima satu sama lain kembali"
"Itu….aku tidak tahu" aku mencoba menelan ludah, dulu impian itu ada dibenakku tapi kini mimpi tersebut sama sekali tidak pernah terlintas lagi dipikiranku.
"Datanglah besok ke bandara, aku ingin melihat wajahmu untuk yang terakhir kali"
"Em baiklah"
OoO
Apron segera kusingkap tatkala jam tepat menunjukkan pukul 2 siang, hari ini aku kerja lembur setengah hari karena harus pergi ke bandara untuk menemui soesangnim dan istrinya.
"Aku pergi dulu ya" kataku pada manajer dan petugas di kasir
"Ini hadiah dari kami, tadi siang kau belum makan apa-apa"
Manajer restoran memberikan satu buah roti besar untukku, memang dari tadi pagi aku belum makan apa-apa karena perutku selalu memuntahkannya lagi, manajer yang melihatku kesakitan di toilet memberiku banyak kelonggaran kerja lalu ia memberiku hadiah pada saat pulang, sebuah roti Italia yang besar
"Terima kasih" jawabku lalu setengah berlari keluar restoran mencari taksi.
Ketika kulihat telepon genggamku ternyata sudah banyak pesan dari soesangnim, ia menanyakan dimana posisiku karena ia sendiri sudah berada dibandara dengan istrinya.
"Ke bandara Incheon, tolong cepatlah!" kataku pada supir taksi yang membukakan pintu otomatisnya padaku.
"Baiklah"
Mobil lalu melaju dengan kecepatan yang luar biasa, meliuk-liuk di jalanan ibukota, hanya butuh waktu setengah jam sampai kami tiba di bandara, dengan segera ongkos kulayangkan pada supir tua itu lalu lari masuk kedalam.
Dengan nafas yang masih tersenggal-senggal dan roti besar ditanganku aku berlari menaiki eskalator menuju gerbang keberangkatan, tidak jauh setelah aku sampai diatas aku melihat sosok soesangnim dan wanita muda yang cantik, ia melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum balik tapi sekilas senyumku memudar saat melihat pria yang berdiri disampingnya melihatku dengan kaget.
"Soesangnim, baguslah kalian belum berangkat" kataku dengan perasaan tak menentu mengingat pria disamping mereka
Sepertinya seunghyun merencanakan sesuatu yang tidak kami ketahui, aku dapat melihat kegelisahan juga terpancar dari wajah mantan pacarku yang berdiri di samping mereka. Setidaknya yang membuatku lebih tenang adalah karena aku mengenakan baju yang longgar jadi ia tidak terpancing dengan perutku.
"Iya kami menunggumu" ujar soesangnim
"Ini kenalkan istriku, ia dari dulu ingin berkenalan denganmu" katanya lagi memperkenalkan istrinya yang cantik. Wanita itu tersenyum dan menjabat tanganku
"Aku istri dari senghyun-shi, Sandara"
"Aku jaejoong senang berkenalan denganmu"
"Ayo kita foto bertiga!" ia menarikku kesebelah istrinya lalu memberikan kameranya pada pria jangkung yang dari tadi mematung melihatku dengan tatapan tidak mengenakkan.
"Yunho kau fotokan kami ya!".
"Baik" ia memasang kameranya lalu memberi aba-aba pada kami, lalu lampu flash menyala dan mengabadikan wajahku, soesangnim dan istrinya yang berada ditengah kami.
Lalu kemudian seunghyun memanggilkan seorang petugas bandara di dekat kami, ia menyuruhnya untuk memotret kami berempat, mau tidak mau pria itu disudutkan untuk berfoto bersama kami, entah bagaimana soesangnim mengaturnya sehingga Yunho berdiri disampingku. Dengan canggung aku mencoba tersenyum, begitu juga dengan yunho saat lampu flash menyala
"Pesawat dengan nomor penerbangan X250 tujuan vancouver akan segera tinggal landas, bagi para penumpang yng masih di luar pintu gerbang silahkan bersiap untuk memasuki pesawat" teriak suara peringatan dari pengeras suara.
"Sepertinya kami harus segera berangkat" kata soesangnim pada kami, matanya dan mataku sama-sama memerah
"Jaga keluargamu baik-baik" kataku mencoba menahan kesedihanku
"Iya, kau juga, jaga kesehatanmu" ia memelukku dan mencoba membisikiku sesuatu
"Aku membuat yunho kemari agar kalian bisa pulang bersama, aku sudah bicara banyak dengannya, tapi aku tidak yakin jika ia mendengarkan omonganku, ia sangat keras kepala, tapi yang penting aku sudah berusaha"
"Iya"
Ia melepaskanku lalu memeluk yunho dan membisikinya sesuatu juga sebelum melepaskan pelukannya.
"Baiklah kurasa kami akan pergi sekarang…jae kami pergi ya" ia berkata padaku dan aku langsung mengangguk dengan cepat
"Yunho jangah lupa antar dia pulang ya" kata soesangnim kemudian pada pria jangkung disebelahnya yang hanya membalasnya dengan sedikit anggukan.
Mereka berdua lalu pergi masuk ke gerbang keberangkatan di depan mereka, seunghyun sesekali melambaikan tangannya padaku, bahkan setelah pemeriksaan pun ia masih melambaikan tangannya diudara, melihat itu aku menjadi sedih sekali apalagi setelah itu ia menghilang dan aku tidak bisa melihat wajahnya lagi.
"Selamat tinggal my first love…Sahabatku" bisikku dalam hati sambil menahan airmata yang siap jatuh
"Apa sudah selesai menonton opera sabunnya?!" sahut seseorang di sebelahku, nadanya terdengar sinis dan menyindir.
"Aku akan pulang" aku mencoba melangkah pergi darinya tapi kemudian ia berkata
"Wah! ia kelihatan masih peduli sekali padamu...aku heran kalian masih bisa bermesraan di depan kami"
"Jangan berbicara yang tidak-tidak, kami hanya berteman"
"Apa kau tidak punya rasa malu datang kesini?"
"Apa?"
"Kau datang pada mereka dengan tenang seperti itu, apa kau sama sekali tidak memandang perasaan istrinya?"
"Aku hanya datang untuk mengucapkan perpisahan pada mereka, lagipula seunghyun bilang istrinya tidak keberatan dengan pertemanan kami"
"Yang benar saja, kalian semua bisa menjadi pemain drama yang hebat" katanya mencibir
"Yah! Apa kau sudah cukup berbicara! Lebih baik aku pulang daripada mendengarkan ocehanmu"
"Kau memang Bitch bermuka tebal"
"A..ap...pa?!" aku mengatur nafasku lalu tanganku terkepal sendiri, dengan segenap kesabaranku aku mencoba membalasnya dengan bermuka besi sambil menaikkan daguku sedikit
"Ya begitulah, tapi ternyata kau juga menyukai pelacur sepertiku" kataku sambil tersenyum sinis padanya walau hati ini sudah sangat kesakitan mendengarnya.
Ia balas mencibirku, tanpa segan ia berkata
"Sebelum bertemu denganmu aku ini makhluk jahat yang selalu menyiksa perasaan orang lain…Kini setelah apa yang kaulakukan padaku aku berubah dua kali lebih jahat dari sebelumnya"
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Kau yang mengubahku, ini semua akibat perbuatanmu"
Aku tersenyum mencibir mendengarnya "Lalu?"
"Sampai bertemu di neraka" katanya dengan dingin lalu ia pergi meninggalkanku.
Aku hanya mematung mendengarnya, tidak bisa membalas atau melayangkan kepalan tangan yang sudah membulat ini karena aku teringat akan janinnya, hadiah perpisahan darinya yang membuatku bisa meluluhkan semua emosiku menjadi rasa sakit yang luar biasa di relung hatiku yang masih berdetak.
OoO
Bis berhenti beberapa blok dari rumahku, aku keluar dengan sempoyongan dari dalam bis lalu duduk di taman terdekat untuk mengistirahatkan perutku yang melilit, ah aku ternyata baru ingat aku belum makan dari tadi, kukeluarkan roti pemberian pemilik cafe dari bungkusannya, dengan perlahan aku memakannya…rasanya hambar bercampur sedikit asin karena campuran air mata yang mulai menetes ke permukaan rotinya
Ah seharusnya perutku membaik dengan memakan roti ini bukan bertambah sakit…
Aku terus mencoba menghilangkan ingatan yang menyakitkan tadi sore dari pikiranku tapi ternyata sulit sekali untuk melupakannya. Dengan perasaan masih terluka aku terus memaksakan memakan roti itu sampai habis
Ayahmu benar-benar keterlaluan…
Kataku sambil mengelus perut yang tak kunjung berhenti menyakitiku, kubuka telepon genggam yang dari tadi tenggelam di tasku, setelah dibuka tenyata ada kiriman satu foto dan pesan dibawahnya, foto wajah kami berempat sedang tersenyum menghadap kamera, soesangnim dan istrinya terlihat tampak serasi begitu juga denganku dan yunho yang memaksakan senyum kami untuk mengembang, kami seperti dua couple yang sedang berbahagia.
Hi jae, ini pesanku yang terakhir sebelum pesawat take off, apa Yunho mengantarkanmu pulang? Kuharap kalian sudah berbaikan sekarang, kau hanya boleh membalasnya jika ada kabar gembira ok, c u…
Buliran airmata kini jatuh ke layar telepon genggamku, dengan tangan yang bergetar aku membalas pesannya, mungkin pesan ini tidak akan sampai ke tangannya karena ia sudah berada di luar negeri tapi aku tak peduli, aku hanya ingin menyenangkan dirinya dan janin ini. Lalu aku mengetik
Iya, ia mengantarkanku selamat sampai rumah
OoO
