Sex and Love
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, etc
Main Cast : HunHan, 'slight' Kaisoo
Genre : Romance, Drama
Warning : BL (Boys Love), Adult (No Children), 18+
Banyak Typo dan Adegan Mesum
Rated : M+
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
Sehun menarik nafasnya lagi, menghembuskannya perlahan. Menyiapkan mentalnya, dan memutuskan akan bertanya kepada Jongin, sekarang juga.
"apakah hyung adalah anak kandung seseorang yang bernama Kim Young Min?"
Deg
Jongin yang sejak tadi tersenyum karena bisa melihat Sehun dan juga Luhan, mendadak berubah ekspresi, dia kaget bukan main.
"Kim… Kim Young Min, dimana kau tahu nama appaku?" Jongin bertanya balik,
"jadi benar itu nama appa hyung?" Sehun mulai bergetar,
"iya, itu nama appaku, tapi… tapi dimana kau mengetahuinya?" Jongin melangkah pelan dan mendekati Sehun, namun Sehun memundurkan langkahnya.
"Youngmin mantan direktur perusahaan kertas Dongwang?"
"ya, dia… tapi… tapi kau belum menjawab pertanyaanku…" Jongin terlihat frustrasi, Sehun bisa mengetahui nama ayahnya, padahal dia sama sekali tidak pernah mengatakannya pada siapapun, kecuali Kyungsoo.
Sehun semakin memundurkan langkahnya, dia menggeleng pelan.
"semua sudah jelas" gumam Sehun, kemudian menyambar pergelangan tangan Luhan.
"Luhan-ah, ayo kita pergi dari sini" seru Sehun, menarik Luhan kesisinya, dan berjalan cepat.
Luhan yang ditarik mendadak itu, terlihat kaget. Terutama oleh perubahan sikap namjanya itu.
"Sehun-ah, kau kenapa? Kenapa kita harus pergi, baru saja kita bertemu dengan…"
"dia adalah… saudara tiriku" kata Sehun, nyaris tidak kentara, dia memelankan suaranya agar Jongin dan Kyungsoo tidak mendengar.
"oh, ya tuhan…" Luhan bergumam, dunia terasa sempit sekali.
Jongin dan Kyungsoo mematung, tidak tahu harus berkata apa, terutama Kyungsoo yang sama sekali tidak tahu permasalahan.
Sehun melirik singkat pada Jongin, kemudian menarik lagi lengan Luhan, ingin segera pergi dari tempat itu. Namja tersebut tidak berkata apa-apa lagi.
"tunggu… tunggu…" Luhan menginterupsi langkah Sehun, dia kemudian merogoh ranselnya, mengambil pulpen dan beberapa lembar uang won.
Luhan menuliskan beberapa angka disalah satu lembaran uang paling atas, menulis cepat, kemudian berjalan dengan sedikit berlari kearah Kyungsoo dan Jongin. Sehun hanya bisa menatap pacarnya tanpa berkata.
Luhan mendekati Kyungsoo,
"Kyungsoo, ini… terimalah. Kalian malam ini harus menginap di hotel, ingat hotel. Bukan penginapan murah dengan fasilitas kipas angin. Aku rasa uang ini cukup untuk beberapa hari kedepan. Disalah satu lembar uang itu ada nomor ponselku, kau bisa menggunakan jasa telefon umum untuk menelfonku, beritahu aku dimana kau menginap. Aku harus pergi, dan Sehun… ah, sepertinya dia sedang pusing… bye…" Luhan berkata dengan tempo cepat, seperti sales penjual obat pil anti kehamilan.
Kyungsoo menerima uang pemberian Luhan dengan ekspresi O_O,
Luhan memegang singkat tangan Kyungsoo, lalu tersenyum pada Jongin, kemudian setelahnya membalikkan badan dan berlari kecil kearah Sehun.
"terima kasih." ucap Kyungsoo, masih dengan ekspresi tidak mengerti.
Luhan dan Sehun berjalan cepat, sesekali Luhan menoleh dan memandang Kyungsoo dan Jongin, pandangan resah. Setelah itu tidak lama kedua namja tersebut menghilang dibelokan jalan
Hening
Jongin masih berdiri mematung, memasang lagi penutup kepala jaket tebalnya.
"sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dengan Sehun?" Jongin bergumam, bertanya pada dirinya sendiri, dia masih aneh dengan Sehun yang mengetahui nama ayah kandungnya.
Kyungsoo mendesah pelan, memandang berlembar-lembar uang pemberian Luhan, menggenggam uang itu, kemudian merapatkan dirinya pada Jongin.
"malam ini kita tidak tidur dipinggir jalan Jongin-ah" kata Kyungsoo, mengingat pesan Luhan untuk menyewa kamar hotel, bukan penginapan murah.
"ya" timpal Jongin singkat, pikirannya mendadak penuh.
Kedua namja itu saling berangkulan, menatap arah belokan tempat dimana Luhan dan Sehun menghilang, mereka mendesah bersamaan.
Dan memutuskan mencari hotel dengan arah yang lain. Tidak lama Kyungsoo dan Jongin berjalan lagi, membelah jalan, serta menahan dinginnya malam, tetap berangkulan.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Sehun dan Luhan tiba disebuah hotel yang berbeda dengan hotel yang pertama mereka tinggali. Mereka memesan kamar nomor 101, lantai 3, dengan fasilitas sangat lengkap. Dan tentu saja satu kamar untuk berdua.
Sehun masuk duluan, dengan tetap memasang wajah datar, namja itu langsung membaringkan dirinya, membelakangi Luhan.
Sedangkan Luhan masuk belakangan, namja itu menyimpan tas ranselnya diatas meja, kemudian duduk ditepi ranjang,
"apa kau yakin dia saudara tirimu?" tanya Luhan, dengan nada pelan.
"ya." jawab Sehun, singkat.
"dan kau menghindarinya?" lanjut Luhan,
Sehun tidak menjawab, hanya deru nafas namja cadel itu saja yang terdengar.
"kenapa kau menghindarinya, dia tidak salah apa-apa" kata Luhan, kali ini meninggikan suaranya,
Sehun tetap tidak menimpali,
"kau seharusnya senang, bisa bertemu lagi dengan saudaramu, Jongin. dia dan Kyungsoo diusir dari desa, apa kau tidak kasihan. Mereka terlunta-lunta. Walau aku selama ini selalu hidup enak, tinggal ditempat yang nyaman, tapi aku bisa merasakan perasaan mereka. Apa kau tidak bisa merasakannya? hah…" Luhan terus menceramahi Sehun.
"…"
"Jongin adalah namja yang baik, Kyungsoo juga. Sangat tidak adil jika kau tiba-tiba membencinya hanya karena Jongin adalah anak dari istri pertama appamu. Kau seharusnya bisa membuka diri. Jongin tidak salah apa-apa, malah dia adalah korban…. Diusir oleh appamu hanya karena lebih memilih mencintai namja miskin, dan sekarang aku sudah tahu… namja itu adalah Kyungsoo. Seharusnya kau iba dengannya…" lanjut Luhan,
Sehun tetap bergeming,
Luhan menoleh menatap punggung Sehun, mendadak dia jadi jengkel sendiri, semua kalimat panjang lebarnya tidak ditimpali, dia seperti berbicara dengan batu nisan.
"aku tahu kau 10 tahun bergelut dengan pedesaan, tapi bisakah pikiranmu lebih modern, jangan berpikiran kolot… kau…" Luhan menghentikan kalimatnya, dia sadar bahwa kalimatnya mungkin akan menyinggung perasaan Sehun
Namja china itu berdeham pelan,
"maaf, aku terlalu emosional…" kata Luhan, lalu terdiam.
Hening,
Sehun yang merasakan keheningan, pasca Luhan terdiam, mendadak membalikkan tubuhnya, mata namja cadel itu menyorotkan sesuatu yang sulit diartikan, dia menggumamkan kalimat 'tidak apa-apa' dengan tidak kentara.
Sehun memang tidak akan pernah marah pada Luhan, dan seandainya saja Luhan membunuhnya sekarang, dia juga akan rela, saking sayang dan cintanya pada pacarnya tersebut.
Hening lagi,
Sehun beranjak dan mendudukkan dirinya disamping Luhan, kemudian memegang tangan namja bermata rusa itu,
"maafkan aku, entahlah… aku hanya belum bisa menerima jika Jongin adalah saudara tiriku, aku berharap itu bukanlah Jongin yang sama." Sehun menjeda kalimatnya,
"kau tahu… aku dibuang dan diserahkan kepada appaku yang sekarang sudah meninggal. dengan dua alasan, karena pertama, kehadiranku tidak dikehendaki, kedua, Youngmin… maksudku appa, sudah memiliki anak yang dibanggakannya… dan itu ternyata adalah Jongin. dia tidak membutuhkan dan menginginkanku… ommaku dicampakkan, dan hanya Jongin dan ibunya saja yang disayang." desah Sehun, menundukkan wajahnya.
Luhan mendesah dan menangkupkan telapak tangannya dipunggung tangan Sehun, mengusapnya pelan.
"kau adalah namja yang baik Sehun-ah, itu mengapa aku bisa jatuh cinta padamu, kau berkali-kali menolongku… padahal aku waktu itu bukan siapa-siapamu. Dan kali ini aku mohon, maafkanlah Jongin, dia tidak tahu apa-apa… appamulah yang seharusnya dipersalahkan atas semua ini." kata Luhan,
Sehun mendongak, menatap mata Luhan, kemudian tersenyum.
"aku akan berusaha… karena kau yang memintanya, dan aku pasti akan menuruti." timpal Sehun, lalu tersenyum.
"terima kasih Sehun-ah, tapi aku yakin bahwa kau bisa menerima semuanya. Bukan karena aku yang meminta, tapi karena kau memang adalah namja yang baik… aku bisa merasakannya disini" ucap Luhan, seraya mengarahkan telapak tangannya kedada bidang Sehun.
Sehun terus mempertahankan senyumannya, dia memegang tangan Luhan yang ada didadanya.
"my Luhannie…" gumam Sehun, sepertinya Luhan berhasil meredakan emosinya yang tadi membuncah.
Wajah Luhan mendadak merah, dia dipanggil dengan panggilan sayang untuk pertama kalinya oleh Sehun. dan untuk menyembunyikan wajah merahnya, dia lalu memeluk Sehun, erat.
Sehun membalas pelukan Luhan tersebut, sesekali mengelus punggung Luhan pelan.
Aroma dan wangi Sehun yang selalu memberikan sensasi tersendiri pada Luhan, kembali menguar, hal itu membuat Luhan sedikit… uh, terangsang.
Dan mendadak pikiran untuk melakukan 'itu' muncul seketika dipikirannya, dia yang akan memintanya.
"Se.. Sehun-ah…"
"hm…"
"maukah kau…"
"apa?"
"maukah kau memperkosaku lagi?" Luhan bertanya vulgar,
Pelukan dua namja itu kemudian terlepas, Sehun yang melepaskannya, dia ingin memperjelas pendengarannya dengan memandang wajah imut Luhan,
"memperkosa?"
"y.. ya.. memperkosaku." Luhan tergagap.
"aku masih belum mengerti, kau… kau ingin aku melakukannya lagi padamu?" Sehun ingin memperjelas maksud ucapan Luhan itu.
"ya, jatahmu karena sudah menjadi namja yang baik"
Sehun tersenyum geli,
"kalau aku memperkosamu lagi, bagaimana jika bisikan-bisikan itu muncul lagi? Atau setelah aku melakukannya, kau akan menyesal lagi."
"itu tidak akan terjadi, karena sekarang ini aku menginginkannya… sangat menginginkannya." jujur Luhan,
"kalau begitu istilah 'pemerkosaan' sudah tidak tepat lagi, bagaimana kalau diganti dengan istilah 'belah duren', itu istilah yang bagus" kata Sehun, tertawa pelan.
"durenku sudah terbelah, kau sendiri yang membelahnya, dua kali" balas Luhan, lalu memegang kancing baju bagian atas Sehun.
Sehun tersenyum lagi, istilah belah duren pernah dibacanya di buku gaul entah milik siapa.
Tanpa ingin lama-lama lagi, Luhan dengan gerakan cepat langsung membuka kancing baju Sehun, hingga membuat namja cadel itu setengah telanjang, hot.
Luhan sejenak tertegun, baru kali ini dia memperjelas body Sehun, dia sangat takjub, tanpa sadar menelan ludahnya kasar.
"kenapa memandangku seperti itu?" tanya Sehun, memegang dagu Luhan,
Wajah Luhan langsung memerah lagi, dia menunduk, malu tingkat dewa.
"apa kau suka melihat tubuhku? Tubuh ini adalah tubuh yang sama menindihmu sebanyak dua kali" Sehun mengingatkan,
Luhan mendongakkan wajahnya,
"dan tubuh itu juga yang meninggalkanku di hutan, tanpa berkata apa-apa… setelah puas" timpal Luhan,
"ohh, apa kau belum memaafkanku?" tanya Sehun, tentu saja hanya bercanda.
"belum, sebelum kita melakukannya lagi" jawab Luhan, juga sama bercandanya.
Kedua namja itu saling tertawa, dan tanpa aba-aba Sehun langsung menyambar kedua bahu Luhan dan menidurkannya diatas ranjang king size.
Sehun menindih Luhan, nafas mereka beradu.
"jadi kau siap untuk melakukannya lagi?" tanya Sehun, memutar-mutar telunjuknya dileher Luhan,
"sangat siap..ahh…" jawab Luhan, disertai desahan,
"kau ingin aku bermain liar atau lembut?"
"terserah kau, aku akan menerimanya"
Luhan meraba dada Sehun pelan, tangannya sedikit bergetar, baru kali ini dia meraba dada seseorang. Aksi paling nekat yang terakhir kali dilakukannya adalah memelorotkan celana Sehun, untuk bisa mendengarkan desahan namja itu. Dan kali ini hal itu akan terjadi lagi.
Sehun bersmirk tidak kentara,
"aku sebenarnya ingin kau… hm… agak nakal" gumam Sehun, nafasnya menyapu wajah Luhan
"nakal?"
"ya, nakal dan agresif"
"akan kucoba, sepertinya itu mudah"
Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan, wajah tampan namja itu selalu bisa memukau Luhan dari jarak yang sangat dekat.
Dan…
Sehun mencium bibir Luhan, dia ingin ciuman tersebut menjadi awal pemanasannya sebelum ke-intinya, dia juga ingin agar Luhan tidak pasif, tapi bisa aktif.
Bibir mereka berpagut dan bertaut, Luhan berinisiatif memegang tengkuk Sehun untuk memperdalam ciuman ganas mereka, dan hal itu membuat Sehun puas dalam hati.
Bunyi kecipak saliva dan deru nafas mewarnai ruangan hotel itu, ruangan yang menjadi saksi bisu bagaimana dahsyatnya dua insan berciuman dan sebentar lagi ruangan itu juga akan menjadi saksi adegan seks yang sudah direncanakan.
"hm… ah.. hmff…" Luhan mendesah dengan bibir masih menempel dibibir Sehun,
"ck.. hmf ..." Sehun juga mengeluarkan suara, namun tidak sekeras Luhan, dia hanya berusaha mengimbangi ciuman namja tersayangnya itu.
Luhan memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Sehun, menelusuri semua bagian didalam sana, mencari saliva untuk kemudian disedot dan ditukar dengan salivanya sendiri. Woow… Luhan benar-benar berusaha menjadi 'nakal'
Beberapa menit berlalu, hanya dihabiskan dengan ciuman panjang yang belum menemukan akhir. Tangan Luhan mulai bergerilya, tangan kanannya masih memegang tengkuk Sehun dan tangan kirinya mencengram punggung lebar namja itu, yang memberikan sensasi tidak terlukiskan.
Setelah puas dan nafas mereka hampir habis, barulah Luhan dan Sehun menghentikan aktifitas ciuman maut mereka, kedua namja itu melepaskan pagutan dan mengambil nafas dalam-dalam.
"kau hebat Luhannie…"
"kau tidak kalah hebat Sehunnie…" mereka saling memuji.
Luhan mengarahkan tangannya dipinggir celana panjang yang dikenakan oleh Sehun, ingin membuka celana itu. Sehun langsung paham, dia beranjak pelan dan telentang disamping Luhan.
Luhan langsung melancarkan aksinya, dia membuka ikat pinggang celana Sehun, menarik lepas celana itu, dan menyisakan celana dalam warna hitam.
Dan tanpa ingin berlama-lama lagi, celana dalam hitam itu langsung diperlorotkan oleh Luhan, dengan tempo yang sangat cepat.
Jreng…
Penis Sehun kini nyata badai didepan wajah Luhan, bersinar seperti uang baru. Ah, entahlah… Luhan selalu melihat sesuatu yang 'wow' pada diri Sehun, all.
Namja China itu tanpa aba-aba langsung memegang penis Sehun yang sejak tadi sudah menegang,
"aku akan memberikan sesuatu yang baru" gumam Luhan, menelan ludahnya cepat.
Luhan mengocok penis Sehun dengan ritme pelan, sedangkan si empunya penis hanya bisa diam dan sesekali mendesah nikmat. Luhan terus saja mengagumi penis Sehun yang sudah dua kali bersarang di holenya itu.
Dan tidak berlama-lama lagi, Luhan langsung memasukkan kepala penis Sehun kedalam mulutnya, penis itu tidak muat sepenuhnya, hanya setengahnya saja, tapi teknik menjilat dan mengisap Luhan tidak bisa diremehkan (walau baru pertama kalinya), jadi walaupun penis itu tidak masuk full, tapi si empunya penis dapat merasakan sensasi nikmat yang tidak terlukiskan.
"aahh… ahh…" Sehun mendesah pelan, desahan cadel yang pernah sangat diincar Luhan untuk didengar.
Luhan menyedot penis namja tampan dan putih dihadapannya itu, seakan ingin mengeluarkan semua air didalamnya,
"srluupp…" bunyi jilatan Luhan sangat kentara.
"ahh…ohh…. Ashh…" languhan Sehun tidak kalah dengan bunyi sedotan yang dihasilkan oleh gesekan mulut Luhan dan penisnya.
"bagaimana Sehunnie, apa aku sudah terlihat nakal?" Luhan menghentikan sejenak aktifitas menyedotnya, dia mendongak dan membuka mulutnya, lalu tersenyum pada Sehun.
"yeah.. ah… kau terlihat berbeda" timpal Sehun, keenakan.
Selanjutnya Luhan tidak 'mengemut' kejantanan Sehun lagi, dia hanya mengocoknya pelan, takut jika sperma namja tersayangnya itu keluar dengan cepat.
"ayo kita lakukan honey… lebih cepat lebih baik" ajak Sehun, mendudukkan dirinya, sambil menatap penisnya yang masih dioral oleh Luhan,
"dengan senang hati pangeran tampanku" balas Luhan, setuju. Malam juga semakin larut.
Sehun berganti membuka baju dan celana Luhan, dia melakukannya dengan cepat, karena penisnya sudah sangat menegang, dan ingin segera menemukan sarangnya.
Dan beberapa detik kemudian, Luhan sudah telanjang bulat, sexy.
"kau bisa menjadi model majalah playgirls" puji Sehun, saat memperhatikan body Luhan.
Luhan tersenyum malu, lalu menidurkan dirinya kembali diatas ranjang.
Sehun sudah siap sedia, mereka berdua akan melakukan gaya klasik, yaitu gaya konvensional, face to face.
Sehun menarik nafasnya pelan, akan membobol Luhan untuk ketiga kalinya. Luhan mengangkat kedua pahanya, namja itu 'mengangkang' dengan elit.
"bersiaplah, aku akan memasukkan punyaku" gumam Sehun pelan, memberikan aba-aba pada Luhan. Penisnya sudah siap didepan hole Luhan, hanya tinggal tusuk saja.
"lakukanlah… aku sudah tidak tahan" timpal Luhan binal, menggigit bibir bawahnya untuk menambah sensasi erotis, dia melenguh sebelum waktunya. 'nakal'.
Sehun memegang penisnya yang tetap ereksi, dan mengarahkannya ke hole Luhan, tanpa kondom dan pelindung lainnya,
Kepala penis Sehun memaksa masuk kedalam hole Luhan, belum terbenam full.
"arghh…" Luhan menjerit tertahan, holenya perih.
Sehun mendorong pantatnya untuk lebih maju, agar penisnya bisa jebol kedalam hole Luhan dan dengan sekali kali hentakan, penis besar itu akhirnya 'tercoblos' dan bersarang didalam lubang Luhan, gol.
"arghh….ahhh…arghhhh…ahh.." Luhan menjerit lagi, dia menyumpal mulutnya dengan pakaiannya sendiri, agar suara jeritan dan desahannya tidak cetar membahana.
"aahh…" Sehun juga mendesah, penisnya kini dijepit oleh hole Luhan dan itu membuat kulit penisnya terangsang maksimal, dia bergetar hebat.
"aahhhh…."
"yeah.. oh… ahhh… ouch…"
Sehun menggenjot penisnya maju mundur, menghantam prostat Luhan sampai kedalam, hal itulah yang diinginkan oleh Luhan sejak tadi, meminta diperkosa lagi, dan kali ini dilakukan suka sama suka. Making Love.
"hmmm… hmfff..." jeritan dan desahan Luhan tertahan oleh sumpalan baju dimulutnya, sebentar lagi rasa perih diholenya akan berganti dengan kenikmatan.
"ouch… ahhh… Sehunniee….ohh…"
"ahhh… Luhannie…ahhh… sempit… ahh"
Sehun mengangkat kaki Luhan dan menaruh kedua kaki seksi itu dikedua bahunya, dan kembali menyodok, menghantam dan menggenjot penisnya maju dan mundur. Sangat hot.
"ahhhh…..ahhh.."
"ahh, percepat… ahh…." Luhan sudah membuka sumpalan dimulutnya, dia mulai merasa nyaman dan nikmat, siap melancarkan desahan dan lenguhan lagi.
"ahhh… oh, so far so good…"
"kimochi…ahhh….ohh…"
Waktu demi waktu berlalu, sudah sejam lebih Luhan dan Sehun berhubungan seks, dimana seks kali ini terasa sangat berbeda, karena dilakukan antara dua namja yang sudah resmi perpacaran dan mengikat kasih.
Luhan mengalungkan tangannya dileher Sehun, menatap wajah namja itu, dan seperti tahu keinginannya, Sehun mencium bibir Luhan, menciumnya lembut tapi penuh penekanan, dibawah sana penis besar Sehun tetap setia maju dan mundur, 'maju-mundur hot'.
"ah… ahh.. apa kau menyukainya?" tanya Sehun, melepaskan ciumannya, sambil mendesah enak,
"aku ahh… menyukainya… ahh" jawab Luhan, dia merem melek, juga keenakan.
"ahh… ahhh…"
"uh… ahhh…."
Tidak lama, penis Sehun mulai berkedut dibawah sana, tanda bahwa cairan kenikmatan akan keluar. Keringat keduanya membanjiri masing-masing tubuh mereka, semakin menambah panasnya adegan seks yang mereka lakukan.
Sehun terus menggenjot jantan, kembali menggoyangkan pinggulnya, menyodok hole Luhan, dan kali ini dengan ritme cepat, cepat dan semakin cepat…
'plook…plokkk…'
"ahhh…ohhh….yeahhh…ahhh…."
"aahhhh…..ahhh…. aku keluar…"
Sehun mengerang dan melolong tertahan, dia bergetar hebat, penisnya berkedut maksimal dan….
'croooottt…. Crooot... crooott… crooott….
Sehun menembakkan spermanya dihole Luhan, cairan putih kental itu meluber dahsyat. Cairan tersebut meleleh keluar dari hole Luhan, membasahi sprei dan sekitarnya.
Sehun mengambil nafas panjang, menghapus keringat didahinya, dia klimaks setelah lebih satu jam memompa penisnya di hole sempit Luhan. Sedangkan Luhan tersenyum didepannya, menatap penis namja dihadapannya.
"pasti hal ini yang diinginkan yeoja itu padamu Sehun-ah" gumam Luhan, sembari menghapus keringat didahinya, posisinya masing telentang. Kalimatnya itu mengacu pada yeoja yang mengaku dihamili oleh Sehun, Moon Ga Young.
"mungkin" tukas Sehun singkat, dia membaringkan dirinya disamping Luhan, dengan nafas terengah-engah.
Luhan meraba dada bidang Sehun, dan menghirup lagi aroma seksi namja itu yang berkeringat. Jalan hidup seseorang kedepannya memang tidak ada yang tahu, pada awalnya Luhan sangat tidak terima saat dijamah oleh Sehun di hutan, namun pada akhirnya dia sendirilah kali ini yang memintanya, meminta untuk 'dipakai' oleh Sehun.
Sehun menolehkan wajahnya, menatap Luhan dan tersenyum.
"tidurlah, ini sudah sangat malam. Terima kasih untuk malam ini" gumam Sehun, lalu mengelus rambut Luhan.
"sama-sama, besok kita akan pindah lagi dan mencari apartemen" timpal Luhan, lalu menarik selimut yang sejak tadi tergeletak acak dan kusut, membentangkan selimut itu untuk menutupi tubuh telanjang seksi mereka berdua.
Kamar hotel dan semua perabotannya menjadi saksi bisu adegan seks yang dilakukan oleh Sehun dan Luhan, mungkin adegan itu bukan pertama kalinya terjadi disana, karena memang biasanya hotel digunakan untuk hal-hal seperti itu.
Dan tidak lama, Sehun dan Luhan memejamkan matanya, mengarungi malam. Tanpa membersihkan diri.
HunHan tidur dengan nyenyak.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Ditempat lainnya, juga disebuah kamar hotel. Dua namja yang berbeda tinggi badan tengah terduduk disisi ranjang. Mereka adalah Kyungsoo dan Jongin, dua namja itu memang beberapa saat yang lalu memesan kamar hotel dengan ukuran medium.
Kyungsoo memandangi Jongin yang ada disampingnya,
"sebenarnya ada apa dengan Sehun?" tanya Kyungsoo pelan.
"aku tidak tahu Kyungsoo-ya, tapi namja itu tahu nama appaku… apa Luhan yang memberitahukannya, dia mungkin mata-mata appaku" timpal Jongin, kembali ke pemikiran awalnya mengenai Luhan yang tiba-tiba tersesat di hutan dulu.
"tidak mungkin… aku rasa Luhan bukanlah mata-mata keluargamu"
"lalu kenapa dia bersama Sehun. dan apakah Sehun tahu bahwa appanya meninggal di desa?"
"aku tidak tahu" hela Kyungsoo.
Hening
Tidak ada yang berujar lagi. Kyungsoo merogoh sakunya dan mengeluarkan sisa uang pemberian Luhan, mata bulatnya fokus pada nomor ponsel yang ditulis Luhan disalah satu uang kertas itu.
"Luhan menginginkan kita bertemu dengannya lagi, dia meninggalkan nomor ponselnya" kata Kyungsoo, lalu mencoba menghafal nomor ponsel itu diluar kepala.
"tapi Sehun tidak ingin bertemu dengan kita" timpal Jongin,
"Sehun memang tidak ingin bertemu dengan kita, tapi Luhan ingin. kita bisa mengorek informasi atas perubahan sikap Sehun pada Luhan"
"…"
"aku merasa bahwa dua namja itu, yaahhh… kau tahulah"
"saling mencintai?"
"mungkin. Aku merasa demikian"
"aku juga merasakan itu"
"seperti yang kita rasakan saat ini, Jongin-ah"
Kyungsoo langsung menggenggam tangan Jongin, lalu tersenyum bentuk love, senyuman yang selalu bisa menenangkan hati Jongin.
"sebaiknya kita tidur Kyungsoo-ya, besok kita akan pikirkan lagi" sahut Jongin, lalu mengusap pelan area ranjang didekatnya.
Kyungsoo mengangguk, kemudian beranjak dan menidurkan dirinya diatas ranjang. Jongin mengikuti dibelakang.
Dua namja itu kini tidur ditempat yang layak, sangat layak malah. Semua berkat bantuan keuangan yang diulurkan oleh Luhan, namja yang hanya sehari dikenal oleh mereka.
"selamat tidur Kyungsoo-ya" gumam Jongin,
"selamat tidur juga, kau tidak memelukku lagi?" Kyungsoo 'memonyong'kan bibir lovenya.
"sepertinya pelukanku tidak berguna lagi. kita sekarang di kamar hotel, bukan lagi di kos sempit dengan banyak suara desahan dan jeritan tetangga" jawab Jongin, lalu tersenyum.
"Jongin-ah… uhh"
"aku akan selalu memelukmu saat tidur Kyungsoo-ya, dimana saja" tutup Jongin, kemudian melingkarkan lengannya dan memeluk tubuh kecil Kyungsoo, membuat namja itu mirip guling yang lucu.
Dan akhirnya mereka berdua juga mengarungi malam dan melesat kealam mimpi, dan berharap hari-hari mereka keesokan harinya akan lebih baik lagi.
Semoga…
.
.
.
.
O…O…O…O…O
"apa kau suka interior ruangan ini?" tanya Luhan pada Sehun. mereka berdua saat ini sudah berada disebuah apartemen yang terletak di distrik Songpa, Luhan sengaja mengambil lokasi yang jauh dari tempat kediamannya, distrik Jongno. Agar bisa bebas bergerak dan menjalankan rencananya. Mereka beberapa jam yang lalu sudah check out dari hotel.
"ya, aku suka" jawab Sehun, memandangi seluruh isi ruangan yang terlihat mewah dan berkelas.
Luhan tersenyum, dia menyewa apartemen itu dengan mengunakan uang miliknya, yang kapan saja bisa ditariknya.
Sehun duduk disebuah kursi, sedangkan Luhan masuk dan melihat dapur pribadi disana, namja itu berjalan dengan sedikit tertatih, karena holenya sakit setelah kejadian 'mengenakkan' tadi malam.
"Luhannie-ah, apa kau sudah siap menjalankan rencanamu?" tanya Sehun,
"tentu saja. asal kau sudah siap… aku hanya menunggu kesiapanmu, tapi misalnya kau belum siap kita akan menundanya." jawab Luhan, muncul dari arah dapur, kemudian duduk dikursi kosong yang ada.
"aku sudah siap." kata Sehun mantap.
Luhan tersenyum, lalu mengambil ponsel pribadinya, mengharapkan ada panggilan atau pesan singkat dari Kyungsoo, namun setelah dicek, tidak ada panggilan apapun.
Sehun memperhatikan Luhan sejak tadi,
"kau menunggu telefon dari Kyungsoo?" tanya Sehun
"ya, tapi dia sama sekali belum menelfon" Luhan melihat jam didinding, sudah pukul 10.00 pagi.
"setahuku Kyungsoo memang tidak punya ponsel" kata Sehun,
"aku tahu, tapi aku sudah berpesan padanya untuk menggunakan telefon umum"
Sehun terdiam,
"Sehun-ah, aku berharap kau bisa menerima kenyataan bahwa Jongin itu saudaramu, walau hanya saudara tiri. Dia tidak salah apa-apa, dia hanyalah korban dari keegoisan appamu" kata Luhan, kembali mengingatkan fakta yang sudah terungkap.
Sehun terus terdiam, berpikir lagi.
"aku akan mencoba, aku hanya perlu sedikit waktu. Dan kau memintaku… pasti aku akan menurutinya"
"tidak Sehun-ah, bukan karena aku yang memintanya… tapi karena kau adalah namja yang baik" Luhan mengulangi kalimatnya kemarin malam.
Sehun berusaha tersenyum. satu fakta sudah terungkap, Jongin adalah saudara tirinya. Dan fakta lainnya juga akan diungkapnya, apakah betul si Youngmin yang membunuh appa angkatnya. Dia akan mencari tahu itu nanti, setelah terlebih dahulu membantu masalah Luhan-nya.
Sehun memindahkan kursinya dan merapatkannya pada Luhan, sehingga mereka face to face.
"Luhan-ah, ceritakan mengenai rencanamu, apa yang harus aku lakukan nanti dirumahmu?" kata Sehun, menampikan wajah serius, sangat siap dengan semuanya.
"baiklah… tapi aku merubah rencanaku" timpal Luhan,
"maksudnya?"
"aku pada awalnya menginginkanmu menyamar sebagai saudara jauh appaku, dan sekarang aku mengubahnya"
"…"
"aku ingin kau menyamar sebagai saudaraku" jelas Luhan.
"saudaramu?"
"ya, aku terinspirasi kisahmu dengan Jongin. kakak dan adik tiri. Aku ingin kau menyamar sebagai saudaraku, beda ibu. Sama seperti kau dan Jongin" lanjut Luhan,
Sehun menghela nafasnya, sedikit melihat cacat pada rencana Luhan ini,
"tapi, apakah pamanmu itu tidak akan curiga. Kau anak tunggal bukan…" kata Sehun,
"aku memang anak tunggal. Maka dari itu aku sangat berharap padamu, aku yakin kau bisa meyakinkan pamanku itu"
"…"
"katakan padanya bahwa kau anak istri appaku yang lain. mirip seperti omma Jongin… aku yakin kau bisa melakukan itu"
"apa kau yakin rencana ini akan berhasil?"
"ya, aku berharap padamu"
"aku akan berusaha"
"terima kasih Sehun-ah, aku tidak seharusnya melibatkanmu dalam lingkaran keluargaku"
"tidak, aku malah senang… kau mempercayaiku sepenuhnya"
Luhan tersenyum lagi, lalu menggenggam tangan Sehun, namja itu membalasnya.
"lalu setelah aku berhasil masuk dan menjadi bagian keluargamu, apa yang harus aku lakukan?" Sehun kembali melontarkan pertanyaan, mengenai misi selanjutnya,
"kau harus mencari bukti kejahatan pamanku itu. Bukti bahwa dia memang merencanakan pembuanganku di hutan, kematian dan pemakaman palsuku… dan tidak kalah penting, mengenai kejahatannya yang mungkin sudah mencelakai omma dan appaku, sehingga kedua orangtuaku itu meninggal dalam kecelakaan mobil. Aku rasa itu bukan kecelakaan biasa, dan pihak kepolisian langsung menutup kasusnya… dan aku yakin, pamanku mempunyai orang dalam dikepolisian… itu semua yang harus kau ungkap" jelas Luhan, panjang kali lebar.
Sehun mengangguk paham, dia sangat mengerti,
"lalu kapan kau akan muncul dirumahmu?" tanya Sehun lagi,
"setelah waktunya tepat. Aku akan muncul dan mengangetkan pamanku itu. Setelah bukti kejahatannya sudah terkumpul dan posisiku sudah kuat… maka dari itu, aku sangat berharap banyak padamu Sehun-ah" kata Luhan, sebenarnya dia juga sangat ingin melibatkan Kyungsoo dan Jongin, supaya Sehun tidak sendirian beraksi, namun untuk saat ini niatnya tersebut harus disimpan dulu.
Sehun mengangguk lagi, dan memegang kedua pipi Luhan,
"aku berjanji, aku berusaha dan berhasil. Kau akan mendapatkan kembali hakmu… dan pamanmu itu akan merasakan pembalasan atas apa yang telah dia lakukan." ucap Sehun, tegas dan mantap. matanya saling bertemu dengan mata Luhan.
"pamanku itu mempunyai seorang anak perempuan yang cantik, jangan tergoda dengannya" kata Luhan, penuh harap. Hampir lupa dengan hal penting itu.
"tidak akan, hanya kau satu-satunya disini." timpal Sehun, seraya memegang dadanya.
"tapi bagaimana kalau dia menggodamu?" seandainya bisa, ingin rasanya Luhan merubah wajah Sehun jadi jelek untuk sementara, sehingga yeoja diluar sana tidak tertarik dengan namjanya.
"aku tidak akan pernah tergoda. Aku hanya akan tergoda oleh satu orang, yaitu kau"
Luhan tersenyum, yakin bahwa Sehun tidak akan 'main api' dibelakang.
Dan setelah itu Luhan mulai menceritakan hal-hal yang harus diketahui oleh Sehun, mengenai data pribadinya, silsilah keluarga pihak ayahnya, sedikit bahasa China (hanya sedikit, karena bahasa itu sangat sulit diperlajari dalam waktu singkat), dan hal-hal lain yang dirasa perlu.
Luhan menjelaskan selama hampir dua jam lamanya, Sehun dengan manis memperhatikan, walau namja itu lebih fokus pada bibir Luhan yang bergerak-gerak seksi, bibir yang sama yang digunakan untuk 'mengoral' kejantanannya tadi malam.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Dan saatnya Sehun benar-benar menjalankan aksinya.
Let's Go…
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Sehun tiba didepan gerbang rumah Luhan, yang terletak didistrik Jongno. Namja itu tentu saja hanya datang sendiri. Luhan hanya memantau diapartemen, dengan ponsel yang siap sebagai penghubungnya dengan Sehun.
Sehun turun dari taksi, dia tampak tampan dengan stelan jas, ponsel baru, dan aksesoris pelengkap lainnya. Dia hanya membawa satu koper kecil pakaian. Semua barang-barang itu dipesan Luhan pagi-pagi sekali, untuk menambah kesan bahwa Sehun adalah namja kaya anak Tuan Xi yang sudah berhasil dan sukses… tampan dan mapan.
Pintu gerbang rumah Luhan terbuka, sepertinya ada seseorang dari dalam rumah yang ingin keluar. Sehun mendekati penjaga gerbang yang seperti satpam toko emas.
"aku ingin bertemu dengan pemilik rumah ini…" kata Sehun, sedikit cadel, namun berwibawa.
Penjaga gerbang yang lebih besar mengernyitkan dahinya, menatap penampilan Sehun dari atas hingga bawah,
"ada perlu apa?" tanya si pengawal,
"panggilkan saja tuanmu… sekarang" seru Sehun,
"tuan besar akan segera pergi, sebaiknya…" kata-kata si pengawal terhenti, karena majikannya memanggilnya,
"siapa?"
"dia ingin menemuai tuan besar"
"ada keperluan apa?"
"aku tidak tahu tuan"
Si majikan memandangi Sehun dari jauh, memfokuskan pada pakaian Sehun yang rapi, mewah dan berkelas.
"suruh dia masuk"
"baiklah tuan besar"
.
.
.
.
Sehun dipersilahkan duduk oleh si majikan. Namja itu duduk dengan gaya elegan, gaya khas eksekutif muda yang tidak akan menikah muda.
Si majikan memandangi Sehun, belum ada kata-kata atau pertanyaan yang terucap. Si majikan itu adalah paman Luhan, alias Hong Seung Sung. yang kini berkuasa di rumah Luhan, dengan panggilan khas 'Tuan Besar' dari para pekerja dan pelayan.
Sehun memandangi Seungsung dengan santai, begitu juga dengan Seungsung.
"ehm… siapa kau? Ada urusan apa ingin menemuiku?" tanya Seungsung, langsung tanpa basa-basi.
Sehun tersenyum, mengeluarkan rokok dari sakunya, namun tidak membakar rokok itu.
"oh, jadi sekarang ajuhsi yang menjadi pemilik rumah ini?" Sehun bertanya balik, masih dengan gaya santai. Padahal dia 'dag dig dug joss' dalam hati.
"tentu saja… maaf, aku tidak ada waktu.. seharusnya sekarang aku pergi, karena ada…"
"aku adalah saudara Luhan"
Deg
Seungsung yang menatap jam tangan dipergelangan tangannya, mendadak mematung, dia memandang Sehun dengan tidak percaya.
"saudara Luhan, hahaha… Jangan bercanda anak muda. Luhan itu anak tunggal" timpal Seungsung, tertawa, namun wajahnya menegang.
Sehun memperbaiki posisi,
"aku tidak bercanda. Aku memang saudara Luhan. Appa Luhan adalah appaku… hanya beda omma" jelas Sehun, mencoba tidak bertele-tele.
"jangan menipuku… aku tahu jika kau…"
"aku tidak menipu" Sehun langsung berdiri. Dia langsung menjelaskan panjang lebar apa yang dikatakan Luhan padanya, menyebut semua nama keluarga, jumlah saudara ayah Luhan, tanggal lahir, dan sebagainya.
"dan aku menyesalkan appaku meninggal, tanpa aku bisa menghadiri pemakamannya" tukas Sehun, setelah selesai bercerita, dia kemudian duduk lagi.
Seungsung berpikir sejenak, masih belum percaya begitu saja.
"tapi aku tidak pernah melihatmu selama ini, kau dimana?" tanya Seungsung.
"tentu saja. aku datang dan berkunjung kesini bisa dihitung dengan jari, mungkin hanya 10 kali dalam setahun terakhir ini. Aku mempunyai perusahaan di Busan, aku sangat sibuk… jadi baru sekarang aku bisa datang"
"dimana omma-mu sekarang?"
"omma sudah lama meninggal"
"kau tinggal dengan siapa di Busan?"
"aku tinggal bersama istriku, dia hamil besar sekarang" Sehun berbohong tingkat stres.
"kau punya perusahaan di Busan?"
"ya, perusahaan besar" padahal Sehun sudah menjelaskan bahwa dia punya perusahaan sejak tadi.
"apakah omma-mu dinikahi oleh appa Luhan?"
"tentu saja, aku adalah anak yang sah"
"kenapa aku bisa tidak tahu jika appa Luhan mempunyai istri lain?"
"itu adalah pertanyaan yang ajuhsi sendiri yang bisa menjawabnya. Setahuku ajuhsi hanyalah saudara omma Luhan, hanya tangan kanan appaku… appa Luhan. Dan aku sedikit kaget bahwa sekarang ajuhsi yang menguasai rumah ini" tukas Sehun,
"aku… aku adalah wali yang sah untuk Luhan sekarang. Kedua orangtuanya sudah meninggal. namja itu beberapa hari yang lalu juga mengikuti jejak kedua orangtuanya. jadi sekarang aku yang akan memegang harta peninggalan keluarganya" Seungsung berkata, sedikit gugup.
Sehun tersenyum dalam hati, sepertinya dia sudah berhasil meyakinkan si tua bangka dihadapannya itu.
"dan oh… kenapa semua pelayan disini diganti, beberapa bulan yang lalu aku masih melihat pelayan yang lama. Dimana Kris dan Tao si penjaga gerbang… Luna dan Amber masih bekerja disini kan? Jongdae kemana?" Sehun mengarahkan pandangannya kesegala arah, sambil terus mengoceh, seakan-akan sudah familiar dengan rumah tersebut.
"hm… ya, aku.. aku sengaja memecat pelayan lama. Aku ingin suasana baru… sejak peristiwa kematian yang menyisakan luka itu, memang banyak yang berubah" kata Seungsung, menampilkan wajah sedih yang tidak alami.
Sehun tersenyum kecil lagi, dan tentu saja senyumannya itu tidak diperhatikan oleh Seungsung.
"ya… aku rindu pada saudaraku Luhan, aku belum sempat mengembalikan syalnya ini." ucap Sehun, seraya mengeluarkan syal kecil. Syal itu sengaja diberikan oleh Luhan untuk semakin meyakinkan bahwa dia dan Sehun adalah saudara. Syal itu memang ikut diransel yang diberikan oleh Jongdae kepada Luhan beberapa jam sebelum Luhan dibuang ke hutan.
Seungsung menatap syal di tangan Sehun, dia sering melihat syal itu digunakan oleh Luhan saat udara sedang sangat dingin. Dan sekarang dia sudah yakin dengan Sehun.
"jadi, kau hanya ingin melihat pemakaman Luhan dan kedua orangtuanya? maksudku… appamu" tanya Seungsung, duduknya tidak nyaman.
"ya, aku juga berencana menginap beberapa hari disini, ajuhsi pasti mengijinkan bukan?"
"ten… tentu saja… ini rumahmu juga" kata Seungsung, tidak bisa menolak.
Hening sejenak,
Tampak Seungsung terus berpikir keras. Kedatangan Sehun yang mendadak dan mengaku sebagai saudara tiri Luhan tentu saja mengagetkannya, dia merasa terancam.
"ajuhsi, maaf.. aku belum memperkenalkan diri, namaku Kim Se Hun" kata Sehun, memakai marga Kim didepan namanya, untuk menghormati ayah angkatnya yang sudah menginggal (Kim Kyung Wook), dan marga itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ayah kandungnya (Kim Young Min), yang sama-sama bermarga Kim juga.
"dan namaku…"
"Hong Seung Sung… aku sudah tahu ajuhsi. Walau kita baru pertama kalinya bertemu, Luhan biasa menceritakan sedikit mengenai ajuhsi" potong Sehun, lalu memain-mainkan batang rokok ditangannya.
Seungsung mendengus tidak kentara, dia kembali memandang jam tangannya. Sehun memperhatikan itu.
"ajuhsi mau pergi kan? Silahkah… aku akan istirahat dikamar Luhan" Sehun berdiri lagi,
"tidak, kau istirahat di kamar tamu saja" timpal Seungsung,
"aku bukan tamu ajuhsi. Biasanya aku tidur dikamar Luhan, dilantai dua"
"oh, baiklah"
Sehun beranjak, berjalan pelan menuju arah tangga yang akan membawanya ke lantai dua. Seungsung memandanginya dari belakang.
Sehun menoleh,
"ajuhsi pergi saja, aku akan baik-baik saja. jika aku butuh sesuatu… aku bisa memanggil pelayan" kata Sehun, kakinya sudah menapaki anak tangga pertama.
"…"
Belum sempat Seungsung menimpali, ponsel si tua itu berdering, dia cepat merogoh sakunya dan mengangkat panggilan itu, dia meninggalkan Sehun sendirian ditangga dan menyepi untuk menerima telefon.
Sehun bernafas lega, Seungsung pergi. dia sedikit lupa yang mana kamar Luhan, dilantai dua ada banyak deretan kamar. Dia mencoba mengingat lagi letak kamar Luhan, sesuai yang digambarkan oleh namja China itu diapartemen tadi.
'lantai dua, belok kanan… jalan sedikit, belok kiri. Kamar paling ujung, yang paling besar. dengan pintu bercat putih, ada boneka rusa kecil tergantung didepan pintu itu…' Sehun membatin dalam hati, menirukan kalimat Luhan.
Sehun tidak ingin terlihat bodoh dan kikuk, dan untung saja semua pelayan dirumah itu diganti, jadi rencananya untuk saat ini berjalan mulus, karena dia mengaku mengetahui semua pelayan lama dan akrab dengan mereka.
Sehun terus berjalan, ingin membiasakan dirinya terlebih dahulu dilantai dua tersebut, sebelum masuk kekamar Luhan. Seungsung belum juga tampak, sepertinya masih sibuk menerima telefon.
"tua bangka itu akan menerima kejutan-kejutan selama aku disini… lihat saja." gumam Sehun, mempunyai banyak rencana untuk 'mengerjai' Seungsung, sambil mencari bukti kejahatan tua bangka tidak tahu diri dan gila harta itu.
Sehun masih terus berjalan dan melihat suasana lantai dua rumah Luhan, namun dia dikejutkan dengan suara teriakan dari arah bawah, salah satu penjaga gerbang disana berlari dan mencari Seungsung.
"maaf tuan besar… tuan Youngmin datang dan mencari tuan besar…" kata si penjaga, memberikan informasi.
"suruh dia masuk dan temui aku di ruang kerja." itu suara Seungsung, berseru dan menjeda sejenak percakapannya ditelefon.
"baik tuan besar."
Deg..
Deg..
Sehun mematung ditempatnya, dia baru saja mendengar sebuah nama diucapkan, nama yang sangat dikenalinya.
'Youngmin? dia… tidak mungkin…' Sehun membatin, tidak percaya.
Ada hubungan apa Seungsung dan Youngmin? atau Sehun hanyalah salah dengar dengan nama itu, atau ada Youngmin yang lain?
Sehun mendadak gundah, resah dan gelisah,
Penyamarannya mungkin akan menemui kesulitan jika benar itu adalah Kim Young Min, ayah kandungnya sendiri.
Trouble
.
.
.
.
.
.
.
Continued
O…O…O…O…O…O…O
Chapter 10 update, sudah panjangkan? TBC tidak ada lagi… hehehe… hm, bagaimana ya, ada reader yang mengataiku author lebay dan belagu, gara-gara aku sering update FF ini dua hari sekali… entahlah, tapi aku hanya Menghargai Review yang masuk dan reader yang masih menantikan FF-ku. Jadi aku update cepat seperti biasa… tapi jika ada yang berpendapat seperti itu aku juga tidak bisa melarang. Baiklah, terima kasih karena sudah menyempatkan dirinya membaca dan me-Review FF ini, bye… semoga aku bisa update cepat lagi (tapi kali ini tidak bisa janji… mian…)
By : Han Kang Woo
