Chapter 9 : Up & Down

.

"Are you a fucking popstar or something?"

Jongin sempat mengira kalau Taemin lah yang menanyakan hal tersebut padanya. Namun, begitu ia melihat Minho sedang menatap sekeliling mereka dengan wajah 'berhenti-memperhatikan-kami-you-psycho' dan kemudian duduk di samping Taemin. Jongin sadar kalau situasi ini lebih mengerikan daripada yang dirinya kira.

"Apakah seburuk itu?" tanya Jongin membuat Taemin menahan sepotong rainbow cake di depan mulutnya.

"Um, maaf? Apa kau sedang bertanya padaku?" -Jongin memutar mata karena, sungguh, Taemin being such a crazy diva bukanlah jawaban yang diinginkannya sekarang- "bukannya, aku sudah jutaan kali memberitahumu kalau semua ini adalah ide yang buruk. Kau berperan menjadi 'kekasih baru plus gay' seorang Oh Sehun," Taemin mengibaskan tangan di hadapannya. Lalu berkata dengan wajah penuh pengertian seolah dia adalah ibunya, "It's not worth it for you, boo."

Jongin melirik sebentar ke arah Minho. Pria itu sedang menyedot Capucchino mix-nya dengan wajah masam. Jongin merasa sedikit bersalah pada Minho karena telah melibatkan pria anti-sosial semacam dirinya ke dalam situasi seperti ini. "Stop being such an asshole. Asal kau tahu, ya, aku dan Sehun memang memiliki suatu hubungan. Ini bukan hanya suatu sandiwara atau apapun yang kau pikirkan," bisik Jongin sambil mencodongkan tubuhnya pada Taemin. "So, shut the hell up, bro. Kau bukan ibuku yang bisa menentukan mana yang baik dan buruk untukku,"

Taemin tergelak keras membuat beberapa pengunjung Starbucks yang awalnya sudah memperhatikan, menjadi semakin intens menantikan apa yang terjadi selanjutnya. Beberapa di antara mereka bahkan sudah menyiapkan aplikasi kamera di ponsel mereka. "Hubungan apa yang kau miliki dengan Sehun? Apa bajingan itu sudah meresmikan hubungan kalian sebagai sepasang kekasih?" dilihat dari raut wajah Jongin yang berubah gusar, Taemin menebak kalau mereka belum membicarakan mengenai status hubungan sama sekali. "Oops, apa aku menyinggung fakta yang selama ini kau tutupi? Oh, Kim Jongin yang malang. Bukan hanya dipermainkan oleh pria straight, tapi juga oleh bos-nya sendiri,"

Wajah Jongin merona merah akibat rasa malu yang meledak-ledak di dalam dirinya. Ia tidak pernah menyangka kalau Lee Taemin, sahabat karibnya yang entah sejak kapan sudah bersama-sama dengan dirinya, adalah orang yang ternyata mempermalukan dirinya di dalam kondisi seperti ini. Padahal, sudah membayangkan satu skenario mengerikan kalau sampai dirinya berpapasan dengan Cara. "Fuck you," gumam Jongin lalu bangkit berdiri.

Taemin tidak mencegahnya ketika ia melenggang pergi keluar dari kafe. Pria itu bahkan tidak melihatnya sama sekali begitu ia berjalan melewati kaca yang memisahkan mereka berdua. Rasanya, Jongin ingin menangis. Sudah cukup dengan segala beban berupa makian dan tatapan mencibir yang diterimanya sekarang. Ia tidak ingin menambahkannya lagi dengan pertengkaran bodoh semacam ini.

Selama perjalanan menuju kantor, Jongin terus menundukkan kepala serta menghindari kontak mata dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Begitu ia sampai di lobby kantor, ia langsung bergegas masuk ke dalam lift dan berdiri di pojokan setelah menekan tombol. Ia menghela nafas panjang sambil bersandar sejenak. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi tekanan semacam ini. Tumbuh dengan identitas sebagai laki-laki gay membuat Jongin terbiasa dengan cibiran, makian dan tindikan diskriminasi yang diberikan padanya. Selama bertahun-tahun, menghadapi beberapa orang yang tidak bisa menerima statusnya, ia belajar untuk mengabaikan tindakan serta tanggapan pedas orang-orang itu.

Ia selalu mencoba tersenyum, membalas makian atau cibiran itu dengan komentar sassy atau menghiraukannya sama sekali. Namun, dibalik semua itu, hatinya tetap tergores. Meninggalkan satu luka yang membuatnya terkadang menangis tanpa sebab di dalam tidurnya.

He can learn to ignore the pain. But, he can't learn to not feel it.

Hal yang paling dia benci setelah "skandalnya" dengan Sehun menjadi headline utama setiap program infotaiment atau tabloid gosip adalah rumor yang terus beredar di sekitar divisinya. Tidak ada hari tanpa gosip miring yang menyebar dari satu orang ke orang lainnya tentang Kim Jongin dan Oh Sehun. Entah sejak kapan, nama Kim Jongin yang hanya dikenal oleh beberapa karyawan menjadi trending topic. Sebagai pria gay jalang yang selama ini mengincar bosnya sendiri.

Jongin ingin tertawa lalu menangis setiap mendengar gosip kalau selama ini dirinya menggoda Sehun hanya untuk menaikkan gajinya dan menikmati kekayaan pria itu.

Seperti biasanya, beberapa karyawan yang awalnya tidak masalah dengan orientasi seksualnya kembali mengamatinya dengan tatapan tajam, merendahkan atau mencibir. Jongin segera mempercepat langkah menuju ruangannya. Ia benar-benar tidak mau berurusan dengan mereka semua sekarang. Satu hal yang paling diinginkannya sekarang hanylah pulang dan mengurung diri di dalam kamarnya. Ditemani dengan guling serta selimutnya yang hangat. Dan, oh, mungkin seloyang pizza dan Netflix akan membuat semuanya menjadi semakin sempurna.

Baru saja, Jongin duduk di kursinya dan berniat untuk mengecek laporan keungan yang dikerjakan oleh salah satu intern perusahaan. Sehun tiba-tiba saja keluar dari ruangannya dengan wajah murung. Jika, pria itu adalah salah satu tokoh kartun. Mungkin, ada awan gelap serta petir yang berada tepat di atasnya.

"Aku ingin mati saja. Ibuku benar-benar gila. Dia bilang ke media kalau aku akan menikahi Cara dan hubungan kita ini cuma sandiwara saja. Katanya, aku sedang cari sensasi. What the fuck, man?!" gerutu Sehun sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Bibirnya mengerucut ke depan membuatnya terlihat seperti bocah kecil yang sedang merajuk.

Jongin sempat berpikir untuk mengusirnya. Namun, sebelum ia sempat melakukannya. Sehun sudah membuka mulut terlebih dahulu. "Hei, kau tahu aku tidak pernah terbiasa dengan hal seperti ini. Bukannya, aku punya masa lalu yang mengerikan atau apa. Aku hanya.. tidak pernah menjalani hubungan yang serius," celoteh Sehun. Entah dirinya salah lihat atau wajah pria itu memang bersemu merah.

Jongin menekan bibirnya berusaha menahan senyuman yang daritadi mendesaknya. Ia sengaja berdeham keras, menyembunyikan warna merah yang mulai menyulut pipinya. "Hubungan yang serius? Memangnya kita ini-" Jongin tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Namun, di dalam hatinya pria itu berharap kalau Sehun tidak akan memberikannya jawaban yang mengecewakan.

Sehun segera memasang wajah malas seraya memutar mata. "Kita jelas adalah sepasang kekasih. Kau tahu, aku tidak pernah tahan dengan hubungan monogami. Tapi, untuk pertama kalinya, aku tidak melibatkan siapapun ke dalam hubungan ini-" Sehun mengangkat dagu Jongin dengan satu jarinya. "-karena kau hanyalah punyaku," lalu, dia mencium bibir Jongin secara kilat.

Sementara itu, Jongin hanya bisa terbelalak dengan pikiran kosong. Sebagian dari dirinya masih meragukan apa yang baru saja terjadi. Apa ini benar-benar nyata? Tidak mungkin mimpi atau ilusi terasa senyata ini. Selain itu, ia juga masih bisa merasakan bibir Sehun pada miliknya. "Ini nyata, kan?" tanya Jongin dengan ekspresi wajah yang terlihat bodoh.

Sehun kembali memasang wajah malas. Ia menggunakan nada Duh saat ia menjawab, "Tentu saja, ini nyata. Dasar idiot! Back to work, you fool ."

Kali ini, giliran Jongin yang mengerucutkan bibirnya jengkel. Pria itu mengangkat satu jari tengahnya pada Sehun sebagai senjata utamanya. Seperti dugaannya, Sehun langsung memberengut tampak frustasi. "FYI, aku ini pacar baru sekaligus bos yang tidak segan-segan menghukummu," tukas Sehun dengan nada serius.

Jongin menarik seringai di bibirnya membuat salah satu alis Sehun terangkat naik. "Oh, yeah, spank me, bos! I fucking need it," desah Jongin sambil mengayunkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan mata terpejam. "Ohhh, ahh, yess bos. I need more," pria itu sampai menggebrak meja sebagai backsound.

Sehun bergidik ngeri, memasang wajah geli bercampur.. horny. Ia menggelengkan kepalanya berusaha menidurkan kembali ereksinya yang bangun di bawah sana. Namun, thanks to Jongin, yang terus-menerus mendesah layaknya pornstar profesional. Pikiran serta ereksinya semakin menjadi-jadi membayangkan dan menginginkan Jongin dalam berbagai posisi yang akan membawa mereka menuju orgasme.

"OMG, jangan bilang kalau kau jadi turn on. For fuck's sake, Sehun! Desahanku terdengar seperti sapi yang akan disembelih dan kau malah ereksi mendengar desahan palsu super payahku itu?"

"Hei, ini semua salahmu! Kenapa juga kau harus mendesah seperti itu?" Sehun tidak tahu mengapa pipinya kembali terasa memanas. Ini seperti benar-benar bukan dirinya.

"You have the effect in me, you know. Aku tidak pernah bertingkah seperti remaja perempuan yang sedang kasmaran sebelumnya. Kau.." Sehun menjeda kalimatnya dan terdiam menatapnya sejenak. Jongin dapat melihat segalanya di dalam mata Sehun. Dan itu sudah cukup baginya untuk memastikan kalau kata-kata pria itu bukanlah sebuah omong kosong belaka. "..berbeda dari yang lainnya. Aku tidak percaya yang namanya soulmate atau apapun itu. Kedengarannya konyol dan aku terlalu manly untuk memercayainya."

"Intinya?"

Sehun kembali memberikannya tatapan itu. Tatapan yang menjadikan Jongin sebagai satu-satunya objek yang pantas dilihatnya. Seolah, tidak ada lagi orang lain yang dapat menggantikan seorang Kim Jongin dimatanya. Jongin menahan nafas menantikan jawaban Sehun yang seharusnya super romantis dan mampu membuat tubuhnya terasa lemas. "Intinya, aku lapar dan.. horny,"

Namun, bukan Oh Sehun namanya, kalau tidak bisa menghancurkan moment seromantis ini.

"Fuck you, bitch!"

Sehun mengabaikan makian dari Jongin. Pria itu melirik ke arah kalender yang menempel pada tembok dan nyaris menjerit di depan muka Jongin, "Hari ini, ada promo bigmeal di McDonald!"

"Fuck yeah! Ayo kita ke McDonald!"

Dan bukan Kim Jongin namanya, kalau tidak tergoda dengan makanan junk food yang akan membuatnya mati muda karena obesitas.

.

.

Karena "popularitas" mereka yang menyaangi SNSD, Sehun dan Jongin memutuskan untuk membawa pulang pesanan mereka dan memakannya di penthouse Sehun yang membuat Jongin mematung di tempat dan hanya mengeluarkan suara 'oohh' dan 'woww'.

"Dasar kampungan," gumam Sehun sambil berlalu pergi. Ia meninggalkan Jongin yang katanya membutuhkan waktu sendiri dengan jacuzzi miliknya.

Sehun menyantap pesanan burger ukuran large-nya yang memiliki tiga lapisan keju yang menggoda. Sehun membuka mulutnya lebar lalu mendesak burger itu masuk ke dalam mulutnya. Lelehan keju bercampur daging ham yang memenuhi mulutnya terasa sangat nikmat dibandingkan seks. Jika, food-gasm itu benarlah nyata. Mungkin, ia tengah mengalaminya sekarang.

Mata Sehun tertunduk mengagumi burger ditangannya. Namun, begitu ia mengangkat kepala dan mendapati Jongin sudah shirtless dan hanya mengenakan boxer hitam ketat yang menyetak jelas kedua bokongnya. Sehun segera menjatuhkan burger di tangannya.

What the fuck?! Sejak kapan dirinya jadi terangsang begini saat melihat tubuh seorang pria?

Sadar akan mata Sehun yang terpaku pada dirinya, Jongin berbalik menghadap pria itu sambil merengkan otot tangannya. Ia merentangkan kedua tangannya ke atas menunjukkan lekuk tubuh serta garis abs-nya sempurna. Kali ini, Sehun tidak bisa menyalahkan penisnya yang kembali ereksi. Pria itu hanya terdiam membisu dengan satu tangan yang mnghilang dari balik meja. "Hei, aku pinjam jacuzzi-mu, ya?" tanya Jongin meminta izin. Sehun langsung menganggukkan kepalanya. Terlalu bersemangat.

Jongin tersenyum samar padanya sebelum melompat ke dalam kolam air panas itu. Airnya yang meluap-luap menimbulkan gelombang serta busah yang membias menunjukkan kalau jacuzzi itu berfungsi dengan sangat baik. Jongin duduk membelakangi Sehun menghadap ke arah kaca satu arah yang menampilkan kesibukkan lalu lintas Kota Seoul dari atas sana. Sehun mengamati postur belakang punggung Jongin tidak kalah seksi dengan postur depan pria itu. Sehun menelan ludah dengan perasaan lapar. Ia bangkit berdiri menghampiri Jongin, meninggalkan burger-nya yang tergeletak di atas piring. Ia tidak lagi peduli dengan lelehan keju serta daging ham yang terasa seperti surga di lidahnya. Rasa laparnya sudah berpindah sekarang.

Sehun melonggarkan dasinya dan kemudian melepasnya. Disusul dengan setelan jas serta celana bahannya. Menyisakan boxer Calvin Klein yang terlihat seksi pada dirinya. Sehun bisa dibilang adalah tipe pria yang sangat menjaga bentuk tubuhnya. Ia selalu menyempatkan dirinya untuk work out sesibuk apapun dirinya. Ia sengaja membeli peralatan fitnes sendiri dan menempatkannya di satu ruangan khusus hanya untuk menciptakan tempat gym-nya sendiri.

Makanya, tidak aneh kalau tubuh Sehun terlihat jauh lebih kekar daripada Jongin. Otot biceps pada lengannya terlihat jelas saat ia melakukan pemanasan. Garis abs serta v-line di bawah perutnya adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Tanpa ada yang mengundang, ia melompat masuk ke dalam jacuzi dan duduk tidak jauh dari Jongin. Jongin yang merasakan pegerakan air di sekitarnya, membuka mata dan menoleh ke arah Sehun. Lidahnya terasa kelu ketika melihat Sehun menyeringai padanya.

"Kau mau duduk di pangkuanku?" tawar pria itu.

Jongin meringis sebal karena tawaran bodohnya. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan. Aku yakin kau akan ketakutan saat kau melihat penisku,"

Seringai di bibir Sehun semakin mengembang. Tampaknya pria itu memang terlalu kekanak-kanakan untuk menganggap serius situasi ini. "Memangnya sebesar apa penismu? Punyaku nyaris 9 inci,"

Lalu, bajingan itu tergelak. Entah sedang menertawai apa, Jongin sendiri pun tidak tahu. Karena baginya, tidak ada yang patut untuk ditertawakan sekarang. "Ini bukan soal ukuran penisku. Tapi, ini soal kesiapanmu. Aku tahu kau itu straight, Sehun. Aku yakin gambaran kau sedang menyentuh penisku saja sudah membuatmu keringat dingin. Benar, kan?"

Jongin menunggu jawaban Sehun. Namun, beberapa menit berlalu dan pria itu hanya terdiam menatapnya dengan tatapan menyesal. Jongin menghela nafas lantas melanjutkan, "Jika, kau benar-benar ingin bersamaku. Kau harus belajar untuk menghadapi rasa tidak nyamanmu itu. Karena aku tidak mau berhubungan intim denganmu jika kau tidak menaruh perhatian pada penisku atau malah berusaha menghiraukannya. Barang itu ada di sana dan kau tidak bisa menganggapnya tidak ada. Karena, well, FYI aku ini laki-laki sama sepertimu,"

Penjelasan Jongin terdengar sangat masuk akal. Sehun segera menganggukkan kepalanya menunjukkan kalau pria itu seratus persen mengerti akan apa yang tadi Jongin terangkan padanya. "Aku akan mencoba untuk terbiasa dengan penis orang lain selain punyaku. Tapi, umm, aku tidak mau menjadi orang yang menerima ketika kita berhubungan seks. Bukan karena aku tidak mau atau apa, hanya saja semua ini masih baru untukku dan untuk merasakan penis di dalam-"

Sehun memasang wajah penuh teror membuat Jongin memutar mata. "Aku mengerti, Sehun. Lagipula, aku lebih suka menjadi bottom karena, sungguh, aku adalah tipe orang yang malas bergerak di atas ranjang," balas Jongin.

Sehun dapat menebak dari ekspresi wajahnya yang setengah mengantuk kalau pria itu memang tipe orang yang malas bergerak. Dalam semua hal, mungkin. "But, this isn't meant that I'm the girl in our relationship just because I like your dick in me, okay? I'm still a man and same as you,"

Sehun kembali mengangukkan kepalanya.

"I can kick your ass and beat you up. If you ever call and treat me like a fucking girl,"

Sehun meringis ngeri. Wajah datar serta tatapan dingin Jongin menunjukkan kalau ucapannya itu bukanlah ancaman kosong. Kali ini, Sehun mengangguk lebih cepat daripada sebelumnya.

.

.

Rin's note :

sorry for late updateee & i hope you enjoy this chapter.. cause i really like writing this chapter

I love how myself potraying Jongin as a strong bottom.. karena bottom menye-menye itu eww banget. Dan tau nggak sih, sebenarnya bot & top dalam gay or lesbian relationship itu katanya lebih berlaku dalam urusan ranjang. Jadi, biasa aja nih top nya itu skinny, keliatannya lemah dan bot nya all muscle, kekar gimana gitu.. tapi biasanya juga, mereka itu versatille (bener nggak tuh) jadi saling tukeran posisi..

And enough about it deh yaa.. karena aku bukan pakarnya dan aku juga bukan gay person lol

Smutt-nya next chapter atau pas udah deket mau end. Cause i dont want to rush things. Lagipula, aku masih mau nyiksa Sehun yang berada dalam transisi dari straight ke gay.

Soo, yeah, what do you think of this chapter? Let me hear your thoughts guys

p.s follow and ask me on my askfm (ferineee)