HUNHANBOM
Genre : Drama, Family, Sad, Romance
Rate : T
Pairing : HunHan, HaoZi, ChanBaek, KaiSoo, Kyumin, HanChul, dsb.
Warning : Genderswitch, yang gak suka gak usah dibaca dan boleh pergi. Bom gak maksa. Banyak typo yang gak suka maafkeun. ≧ω≦
NB : Jan marah ya...
.
.
.
.
*Fact 1*
Waktu terus berputar, hari terus berganti. Ini sudah hari ke 5 sejak kejadian waktu itu, kejadian yang membuat seorang wanita terpaksa melamun hanya karena seorang pria yang mengatakan bahwa dia mencintai wanita tersebut. Wanita itu melamun bukan karena bingung ingin membalas cinta pria itu lalu menjalin hubungan dengannya, faktanya pria dan wanita tersebut adalah sepasang suami istri. Ya, mereka telah menikah, namun karena ada suatu hal yang tak mengenakan membuat mereka harus berpisah.
Sebenarnya itu adalah ucapan cinta pertama kali yang dia dapat dari pria itu. Pria itu tak pernah mengatakan cinta padanya, tapi dia juga tak membenci wanita itu. Apa mungkin pria itu hanya membual saja? hei.. mereka berdua pisah rumah, tapi tak ada dari mereka yang ingin menggungat cerai satu sama lain. Apakah masing-masing dari mereka masih mencintai satu sama lain?. Entahlahh...
Kembali ke wanita tadi, wanita itu melamun dengan pandangan kosong. Tapi jika kalian melihat dengan baik, ada tatapan terluka dari iris coklatnya. Semua orang yang melihat wanita itu merasa khawatir, bagaimana jika dia kerasukan? hei.. itu tak lucu sama sekali.
Wanita itu sekarang berada di restorannya, sedang duduk termenung menatap bunga yang telah layu. Itu bunga dua minggu yang lalu ia beli. Ia sangat menyukai bunga mawar, karena baginya mawar adalah bunga yang dapat mengerti perasaannya. Warna merahnya yang terlihat seperti darah itu membuatnya senang, bau harumnya membuatnya tenang dan kecantikannya membuat mata coklat nya tak dapat berpaling. Wanita itu kini hanya menatap kosong mawarnya yang layu. Tak ada hasrat dikedua bola matanya. Tapi orang yang melihat wanita itu tahu bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang mungkin saja tentang pria itu.
"nenek.. apa baik jika kita membiarkan ibu begitu? Aku sedih melihat ibu seperti itu." Haowen berpaling menatap sang nenek yang duduk disamping dirinya dan Ziyu. Disamping Ziyu kakek mereka berdiri bersedekap menatap anak angkatnya yang hanya diam melamun.
Sungmin, sang nenek menatap cucunya lalu kembali menatap Luhan yang diam melamun.
"ya, nenek mengerti. Nenek juga sedih melihat ibumu seperti itu. sebenarnya apa yang terjadi? Apa hal yang membuat ibumu seperti itu?."
Sungmin menatap cucu sulungnya yang juga menatapnya datar. Dasar Oh Sehun second.
"aku tak terlalu mengerti, tapi ibu mulai seperti itu setelah ayah menelponnya."
"Menelpon? Apa yang anak itu katakan?."
Kyuhyun yang sedari awal mendengar percakapan sang istri dengan cucu merekapun ikut duduk didepan mereka untuk mendengar kelanjutan cerita Haowen.
"eum.. ayah hanya menanyakan keberadaanku dan berniat menyerahkanku pada ibu. Itu saja"
" lalu apa yang dikatakan ibumu?"
"ibu bilang takkan mengambilku dan tetap membiarkanku bersama ayah agar kami dapat menjaga satu sama lain. tapi ibu memperbolehkanku kesini kapanpun aku mau"
"jika itu jawabannya, berarti masalah mereka telah selesai. Lalu apa yang membuatnya melamun hingga seperti itu?"
Tiba-tiba Haowen teringat ucapan terakhir Ayahnya, tapi ia ragu apakah ia harus menceritakan hal itu juga pada mereka.
"Ayah..." terlihat raut ragu pada wajah anak itu. Ia tak tahu harus mengatakannya atau tidak. Tapi apakah kediamannya akan menyelesaikan masalah Ayah dan Ibunya?
"Ayah mengatakan, kalau ia... mencintai ibu"
"..."
Oke, sekarang dihadapan Haowen terpampang wajah sang nenek dengan mata yang membola. Telihat bundar dan seperti akan mengeluarkan bola matanya. Sedangkan si Kakek stay cool namun terlihat seringai menyeramkan di wajahnya. Sungguh, Kakek dan Neneknya itu sangatlah unik.
"baiklah, aku mulai mengerti sekarang. Ibumu melamunkan ucapan ayahmu itu." Haowen bergidik saat Kakeknya berbicara sambil menatapnya dengan seringai menyeramkannya.
"ya, dia pasti terkejut. Pasalanya Sehun tak pernah mengatakan hal itu pada ibu kalian. Hahh... Kyu~"
Sungmin menyentuh bahu suaminya lembut lalu meremasnya pelan, irisnya menatap iris hitam milik suaminya itu. Kyuhyun pun merespon dan menatap Sungmin.
"hm!?"
"Haruskah kita ceritakan semuanya pada Luhan?"
"Menurutku, kita memang harus menceritakan semuanya pada Luhan. Kau tak ingin melihatnya seperti itu bukan? Aku tahu Luhan dan anak-anak akan lebih aman jika bersama kita. Tapi aku juga ingin anakku bahagia, aku tak mau melihatnya menyiksa dirinya seperti ini. Aku tak peduli jika ia marah ataupun mengamuk padaku, aku hanya ingin dia berhenti menyiksa dirinya dan Luhan seperti ini."
"hm.. baiklah jika itu yang terbaik untuk kita semua. Lakukanlah.." Sungmin beralih menatap kedua cucunya yang juga menatapnya. Lalu tersenyum dan berujar
"Anak-anak bisa kalian keluar? nenek dan kakek ingin berbicara dengan ibu kalian."
"eum.. baiklah. Ayo Ziyu"
Haowen yang mengerti keadaan pun langsung menarik Ziyu yang hanya diam dan mangut-mangut mengikuti kemanapun sang Kakak maumbawanya. Ia berdoa dalam hati semoga masalah ayah dan ibunya bisa selesai dan mereka bisa bersama kembali.
Setelah Haowen dan Ziyu keluar, Sungmin berjalan mendekati Luhan dan duduk disebelah wanita itu. Kyuhyun pun melakukan hal yang sama, namun ia duduk dihadapan kedua wanita cantik itu.
"hh... baiklah. Luhan.." tak ada respon, Luhan tak merespon panggilan Sungmin. Sungmin mengangkat sebelah alisnya menatap Kyuhyun.
Ia pun mencoba memanggilnya kembali kali ini dengan mengelus lembut surai coklat Luhan.
"luhan.. Luhan!"
"ah.. ya ibu? ada apa? eh, dimana anak-anak?" Hei, Luhan. Begitu dalamnyakah kau melamun hingga perbincangan orangtuamu dan anakmu tak kau dengarkan sama sekali.
"Luhan, ada yang ingin ibu ceritakan."
"ah.. tentu. Ada apa ibu? kenapa Ibu dan Ayah terlihat begitu tegang?"
"Lu, dengarkan Ayah baik-baik. Maafkan kami harus mengatakan hal ini sekarang. Kami mengatakan ini pun atas keinginan kami, jadi kami harap kau bisa menerimanya."
"eum... baiklah. Ada apa?"
"ini tentang Oh Sehun, suamimu"
"sehun?"
"Ada Apa dengannya?"
.
.
.
.
.
"Kandungan anda baik-baik saja, tapi saya sarankan anda jangan terlalu stres. Tak perlu memikirkan masalah dengan terlalu berat, karna hal itu juga akan dirasakan oleh janin. Tadi hanyalah semacam kontraksi atau peringatan dari janin untuk tidak terlalu stres. Dan untuk Ayahnya, saya harap anda lebih sering memperhatikan suasana hati istri anda. Dan saya sarankan anda lebih meluangkan waktu untuk istri anda, karena diumur kandungan 8-9 bulan calon ibu lebih mudah merasa lelah. Jadi anda harus setia ada menenani. "
"baiklah, saya mengerti. Terimakasih banyak dok. "
"ya, sering-sering mampir ya. Semoga ibu dan anak kembar kalian sehat selalu. "
"terimakasih"
Ya, disinilah mereka pasangan suami istri yang kalian tunggu-tunggu. Chanyeol dan Baekhyun yang sedang hamil. Sesaat keluar dari pintu ruang poli kandungan tersebut, Chanyeol masih setia menggandeng dan memapah istri mungilnya. Dan entah mengapa, sejak tadi istrinya itu terus-terusan mengeluarkan wajah masam yang terlihat sangat manis diwajahnya kecil. Dan pemandangan itu sangat mengganggu suaminya.
"Baek.. Berhentilah memasang wajah masam seperti itu. Apakah kau tak merasa malu? Orang-orang melihatmu! "
"Kenapa? Apakah kau malu jalan denganku yang bermuka jeruk nipis, hah!? "
"bu-bukan begitu maksudku baek... Oh, Baek.. Bukankah kau mendengar apa yang dikatakan dokter itu tadi? Kau tak boleh setres.. Jangan membebani pikiranmu dengan hal-hal yang tak terlalu penting. Kau harus banyak istirahat. Aku tak mau kau seperti tadi lagi.. "
"hal-hal tak penting? Apakah hal yang kau anggap tak penting itu termasuk pembicaraanku dengan Luhan tadi? Semudah itu kau menganggap semua itu hal tak penting Chan..? Hal yang aku katakan itu juga menyangkut masa depan anak-anakku. Aku tak mau anak-anakku bersedih hanya karena ayah mereka mencintai orang lain dihadapan mereka. Cukup hanya aku, jangan biarkan anak-anakku juga terluka."
"hahh ... Ikut aku sebentar. "
Chanyeol menarik Baekhyun kearah taman Rumah Sakit yang terdapat bangku berwarna putih disetiap sudut Rumah Sakit elite itu. Didudukannya Baekhyun di salah satu bangku tersebut dan ia memilih berlutut dihadapan Baekhyun dengan kedua lututnya.
"Baek.. Kenapa kau berpikir sampai kesana?"
"karena pada kenyataannya akan seperti itu. Jika Luhan tak kembali pada Sehun kau pasti akan mengejarnya dan menikahinya kembali. Lalu menjadikannya Permaisuri sedangkan aku akan menjadi selir yang siap dibuang kapanpun kau bosan. "
"Apakah kau pernah melihat seorang Raja yang begitu mencintai Selirnya walaupun dia memiliki Permaisuri disampingnya? "
"Apa maksudmu? Jangan berkata omong kosong hanya untuk menghiburku, Oh Chanyeol. Karena aku tak menyukainya. "
"hahh... Aku berharap aku tak omong kosong Baek. Aku berharap yang aku katakan ini juga benar. Jadi aku harap kau mendengarkan aku. "
Chanyeol meletakkan kedua telapak tangannya diatas tangan Baekhyun yang terletak diatas pahanya. Ia sedikit meremas tangan mungil itu untuk memberinya kekuatan. Sekilas mata bulatnya menatap kearah paha Baekhyun yang ditutupi stocking warna kulit itu. Benar kata Luhan, luka itu pasti akan berbekas dan begitu terlihat walau dilapisi stocking. Apa yang Baekhyun rasakan selama ini, dan itu semua karenanya?.
"Aku.. Aku memang menyukai Luhan. Aku akui, dia begitu indah dan cantik bagiku. Saking indahnya aku tak dapat meraihnya. Dan jika aku boleh jujur aku masih memiliki rasa itu padanya. Tapi.. Tak sebanyak dulu. Rasa yang aku rasakan mulai berangsur menghilang setelah adikku sendiri mengatakan jika ia juga menyukai Luhan. Aku sebagai seorang kakak yang juga mencintai orang yang sama merasa tak adil dan tak ingin mengalah untuk pertama kalinya. Tapi setelah aku mencoba untuk mempertahankan perasaanku, ternyata orang yang aku sukai menyukai adikku. Seketika aku merasa iri pada adikku. Bagaimana bisa ia mendapatkan semua cinta orangtuaku bahkan juga cinta dari orang yang di cintai. Pada saat itu muncul pikiran apakah tak ada orang yang bisa mencintaku dengan tulus? Apa yang harus aku lakukan disaat semua orang yang aku sayangi tak menginginkanku. Rasanya aku ingin mati saja. Tapi rasa itu perlahan-lahan menghilang karena kehadiramu Baek. Walau selama pernikahan kita aku tak pernah menganggapmu, menatapmu, menyentuhmu. Aku punya alasan untuk itu."
"katakan!?.. Apa alasanmu? "
"aku... Aku tak ingin... Menyakitimu. A-aku tahu kau menyukaiku atau mungkin kau mencintaiku.. Tapi jika aku yang saat itu tak memiliki perasaan padamu tapi bersikap baik padamu, aku berpikir aku hanya akan memberimu harapan dan mempermainkanmu saja.. Aku tak mau begitu, walau aku menyukai orang lain tapi aku bukan seorang pria yang suka mempermainkan hati wanita. "
"..."
"T-tapi sekarang aku tak memiliki alasan lagi untuk tidak memperlakukanmu dengan baik. Aku ingin menebus segala hal yang telah aku lakukan padamu. Aku... Ingin kau bahagia, bersamaku, dan anak kita. Maaf.. Sungguh aku hanya dapat berkata maaf walau kata maaf tak bisa kau terima.. Tapi aku ingin kau tahu sekarang Baek.. Aku mencintaimu, dan ini bukan bualan. Aku benar-benar jatuh cinta padamu"
"...tidak.. Aku tak mau. "
"A-apa maksudmu?"
"Aku... Tidak.. Aku tak mau"
Tiba-tiba Baekhyun berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Cahnyeol. Chanyeol yang tak siap terdorong oleh Baekhyun justru terjengkang kebelakang. Tanpa melihat kebelakang Baekhyun tetap berjalan cepat meninggalkan Chanyeol. Dengan tergesa-gesa Chanyeol berlari mengejar Baekhyun. Astaga.. Baru saja ia periksa kandungan, dan diperingati jangan merasa setres. Dan sekarang lagi-lagi kau membuatnya menangis Chan. Bagus... Dia terbebani oleh perkataanmu. Ini buruk.
"Baek... Tunggu!"
.
.
.
.
.
Flashback
Disebuah rumah mewah atau yang sering kita sebut Mansion, terlihat seorang wanita sedang berjemur dipinggir kolam. Walau ia sebut itu berjemur tapi jika kalian lihat wanita tersebut bebaring diatas kursi pantainya yang dia letakkan didaerah pelataran rumahnya. Yah.. Istilanya atapnya menutupi matahari yang berniat memanaskan kulitnya hari ini. Dia mommy kita, Lee Sungmin atau yang kita sebut Oh Sungmin sekarang. Istri dari Oh Kyuhyun. Dengan kulit seputih dan smulus pantat bayinya itu tetap membuatnya terlihat baby face walaupun umur hampir kepala empat.
Tiba-tiba seorang anak umur 17 tahun muncul dari dalam rumah mewah tersebut dan duduk tepat disamping wanita tersebut. Bukan itu bukan suami mesumnya, itu anaknya yang mirip dengan suaminya. Lihat saja bagaimana datarnya muka mereka berdua. Udah datar untung mulus dan licin, udah seperti lantai rumah dah tuh wajah.
"ibu.. "
"oh.. Sehunnie? Ada apa? "
"apakah aku boleh mengatakan sesuatu? "
"ada apa sayang? Apakah ada yang kau butuhkan? Atau_"
"tidak... Tidak ada yang aku butuhkan ibu.. Aku hanya ingin menceritakan sesuatu pada ibu. "
"hmm? Curhat nih? Tumben.. Ayo.. Ada apa sayang? "
"Ibu... Aku.. Aku.. "
"Ada apa sayang? Katakan saja jangan takut. Biarkan ibu tahu masalahmu agar ibu dapat membantumu. "
"Hahh... Baiklah.. Ibu.. Aku... Aku menyukai nuna.. "
"ohh.. Astaga anakku ternyata sedang jatuh cinta. Ohh astagah.. Ibu tak menyangka sehun ibu bisa suka sama orang, gadis lagi. Jadi.. Siapa nuna yang kau maksud? "
"nuna... Luhan Nuna"
"Apa!? "
"Chanyeol?! "
TBC
