AITAKATTA
(Aku Ingin Bertemu)
Disclaimer : Belong to Kishimotto Sensei
.
.
Warning !
AU , Typos, BadFic, BadEyd, and many nore
DON'T LIKE DONT READ !
.
.
Happy Reading
"Dia ... aku melihat matanya sama denganku. Dia ... "
Sang guru melanjutkan kembali pekerjaannya. Ia mengeluarkan beberapa buku dari lemari disampingnya dan mulai mengikuti proses mengajar.
"Baiklah anak-anak, sekarang pelajaran Matematika buka halaman 32 ... "
Sarada yang sedari tadi memperhatikan anak bersurai merah itu , ia benar-benar tak mencerna kalimat-kalimat dari gurunya. Matanya menyipit saat melihat dia, sesekali ia mengalihkan pandangannya khawatir kalau Mitsuo melihat.
'Untuk alasan tertentu , entah kenapa aku merasakan hubungan yang kuat dengan orang itu'
ChouChou yang berada disamping Sarada lebih tepatnya teman sebangkunya menyadari kalau sahabatnya itu sedang asyik memperhatikan Mitsuo.
"Ada apa Sara-chan? Apa Mitsuo benar-benar memukau mu?" Anak menyimpulkan bahwa Sarada menyukainya.
"T-tentu saja tidak" jawab Sarada jujur.
Orang yang sedari tadi dibicarakan menoleh kearah Sarada yang kebetulan dia juga sedang menatap. Sontak anak perempuan berkacamata itu terhentak kaget, wajahnya memerah menahan rasa malu, sedangkan Mitsuo hanya berdecih.
"Tch"
-BRAK- Shino memukul meja , dirasa pembelajarannya terasa diacuhkan oleh beberapa siswa.
"Kau coba jelaskan kembali apa yang baru saya terangkan" Tunjuk Shino pada salah satu siswanya yang memakai kacamata merah.
Siapa lagi kalau bukan Sarada, ia kaget sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit menurun.
"A-ano sensei .. aku harus menjelaskan bagian mana?" tanyanya.
"ppfft .. " ChouChou nahan tawa.
Sarada mendelik tajam , sebagai teman sebangku bukannya membantu dia malah tertawa. Lucu melihat tingkah sahabatnya sendiri , sudah menyukai laki-laki yang baru saja tiba lima menit yang lalu.
Perempuan itu menyobek sebagian kertas dibelakang bukunya kemudian menuliskan sesuatu disana. Sarada mengepalkan kertas itu lalu dilempar kebelakang tepatnya ke arah Mitsuo.
Konsentrasinya buyar seketika saat gulungan kertas itu mendarat tepat dihapannya. Ia menoleh keasal sumber dari mana datangnya kertas ini. Sarada memberi tatapan seolah mengisyaratkan 'Itu dariku, bacalah !'. Tanpa membalas tatapannya ia membuka surat itu.
Temui aku dibelakang sekolah istirahat nanti
.
.
"Ada apa?" tanyanya sinis. Mitsuo memasukan tangannya kedalam saku celana , ia menghampiri Sarada yang ternyata sudah ada duluan dibelakang sekolah.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu" Sarada pun demikian, ia rasa teman barunya ini akan menjadi orang menyebalkan setelah Boruto. Ada rasa canggung disana.
"Apa ini penting?"
"Saat melihatmu , aku jadi teringat seseorang tapi entah itu siapa. Apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" Sarada mulai langsung pada intinya karena ia sudah gelisah sejak tadi dan hampir gila memikiran teman barunya itu.
"Aku benar-benar tidak mengenalmu ! Hanya itu yang kau ingin bicarakan? Buang-buang waktu saja" dengan kesal ia membalikan badanya untuk meninggalkan Sarada sendirian.
"Tunggu !" cegah Sarada. "Kau .. pasti sedang mengalami masalah dengan keluargamu , apa aku benar?"
Satu pertanyaan Sarada membuat laki-laki itu tertohok. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan". Ia mengubah raut wajahnya menjadi sedikit serius.
"Mungkin ini memang kedengaran bodoh, tapi entah mengapa aku merasakan ada hubungan yang kuat denganmu. Tapi aku tidak tahu apa itu, apa kau juga merasakan hal yang sama?"
"Kau sudah gila ya" Mitsuo pun benar-benar pergi setelah berkata demikian. Sarada hanya bengong, apa dia telah berbuat salah?
.
.
Jangan coba-coba berani menyentuh wanita itu atau anakmu dalam bahaya !
Cepat ! lepaskan wanita itu. Nyawa anakmu ada ditanganku !
PECUNDANG !
PECUNDANG !
PECUNDANG !
Sederet kalimat yang bermakna ancaman membuat kepala Sasori hampir pecah. Ia menjambak rambut merahnya frustasi, tangannya kembali membaca pesan singkat itu. Siapa gerangan yang berani mengancam dirinya? Juugo , Suigetsu atau Orochimaru seingatnya ia tak punya salah apa-apa pada mereka yang bersangkutan dengan wanita yang disebut-sebut si peneror. Kecuali Sakura yang sekarang ada bersamanya, mustahil orang itu Sasuke karena dia sedang amnesia. Dia sudah benar-benar melupakan Sakura.
Matanya membulat seketika saat otaknya kembali mengingatkan dia, ya seingatnya Sasori pernah punya masalah dengan orang itu. Ia menggelengkan kepalanya kasar, tidak mungkin orang itu masih mendekam dipenjara, fikirnya. Hatinya gundah gulana, hidupnya tidak tenang karena sang anak benar-benar dalam bahaya.
"Mitsuo ! tak akan kubiarkan orang itu menyentuh anakku" Sasori berlari dan keluar dari rumah Sakura. Ia mengeluarkan motor sport hitamnya dari teras rumah , menghidupkan mesin motor tersebut dan langsung melaju dengan kecepatan penuh.
.
.
Sesudah mengantar Sarada kesekolah, Sakura tidak langsung pulang kerumahnya. Mengingat hari ini tanggal libur bekerja, ia pergi ke minimaret guna membeli kebutuhan pokoknya yang sudah menipis. Ia mengambil beberapa kotak sereal, susu, roti dan lain-lain.
Tidak seperti biasanya antrian hari ini mendadak penuh, Sakura harus rela mengantri. Tiba-tiba seseorang ada yang menepuk bahu Sakura dari belakang.
-PUK-
Sakura terhenyak kaget, perlahan ia menoleh kebelakang untuk melihat siapa orang itu.
Senyum Sakura merekah menghiasi wajah cantiknya , tidak dengan orang yang menepuk bahu Sakura, ekspresinya sangat sulit diartikan.
"Kak Hana !" Seru Sakura senang. "Kenapa kakak ada disi –"
-PLAKK- Hana menampar pipi Sakura, tubuhnya mendadak menegang saat menerima pukulan menyakitkan itu dari sang kakak. Tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang.
Kedua orang tersebut sukses menjadi pusat perhatian di minimarket, semua mata tertuju pada mereka. Pagi-pagi sudah disuguhi adegan menegangkan disana.
"Benar-benar tak punya malu !" bentak Hana.
Sakura merunduk tak mengerti apa yang dibicarakan kakakknya ini, ia tahu pasti ada kaitannya dengan Sasuke tapi apa itu, Kenapa Hana begitu marah pada dirinya.
"Kakak ada apa? jika aku punya salah kumohon maafkan aku" Sakura masih dengan posisinya merunduk.
"Kesalahanmu sudah tak dapat dihitung Sakura, jadi benar kata ayah kau memang tak pantas untuk Sasuke. Dijauhkan dari Tokyo dan pindah ke Konoha kau malah menghianati adikku? Apa itu masih pantas menyandang marga Uchiha , HAH ?!"
Sakura diam tanpa kata, rasanya sangat sulit untuk mencerna kata-kata Hana.
"Maksud kakak?" tanyanya.
"Kau masih belum sadar apa yang kau lakukan. Bertahun-tahun Sasuke menanti istrinya, tetapi ketika dia pulang malah disuguhi pemandangan yang membuat dunianya terjungkir balik seketika, mendapati sang istri telah menghianatinya". Hana menghela nafasnya sejenak kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Sasuke hampir gila karenamu Sakura".
Wajah Sakura mendongkak seketika ketika mengetahui kalau sang suami tahu segalanya. "T-tapi bukankah Sasuke sudah meninggal dunia akibat kecelakaan itu?" ucap Sakura , ya benar hanya itu kabar yang diketahui Sakura mengenai Sasuke.
"Tch alasan yang tak masuk akal ! apa yang kutemui kemarin adalah arwahnya Sasuke, Apa orang yang mengajaku bicara kemarin itu adalah hantunya Sasuke, HAH !? Sudahlah Sakura kau tidak perlu beralasan lagi, detik ini juga kau harus meninggalkan Sasuke"
Rasanya sulit otak cerdas Sakura untuk mencerna kata-kata Hana barusan, Sakura gemetar tak percaya. Keranjang berisi belanjaannya terjatuh kelantai dengan bebas, Sakura tak mampu menahannya lagi.
"J-jadi Sasuke-kun …"
Hana memutar tubuhnya kasar guna meninggalkan ruangan itu yang sudah sesak berasal dari perempuan berhelaian merah muda itu. Sakura berlari mendahului kakakknya dan merentangkan kedua tangannya , menahan Hana pergi dari sana.
"Dimana Sasuke? Aku harus bertemu dengannya sekarang"
"Jangan harap untuk menemui adikku lagi"
"Tapi ini semua salah paham , aku sudah dijebak oleh seseorang. Sungguh aku tak bermaksud untuk menghianati Sasuke … " Sakura memejamkan matanya karena Hana akan kembali melayangkan tamparannya.
-GREP- seseorang menahan tangan Hana dengan cengkramannya yang kuat. Dialah suaminya sendiri.
"Anata?" Hana kaget dengan kedatangan Itachi secara tiba-tiba.
"Cukup sudah Hana, jangan membuat keributan disini"
"T-tapi dia-"
"Pulanglah" ajak Itachi.
Sakura masih dengan posisinya, matanya masih tertutup kenapa rasa sakit dipipinya itu tidak menghampirinya. Perlahan Sakura membuka kelopak matanya, hatinya sedikit lega. Setidaknya kakak ipar yang satu ini tidak sama dengan kak Hana. Semoga dia membela dirinya juga.
"Itachi-nii kau percaya padaku kan? Kumohon"
Itachi menatap Sakura nanar, rasa benci bercampur dengan tidak percaya semuanya menjadi satu. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian menggandeng Hana keluar dari minimarket itu.
"Nii-san tunggu .." Sakura mengejar mereka berdua. Nihil ia ditahan oleh Yamato , menjauhkan jarak antara mereka. Kedua pasang suami istri itu memasuki mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan konstan.
.
.
.
Sasori lari tergopoh-gopoh menuju rumah Karin, ia tahu hari ini istrinya itu sedang libur bekerja.
-BRAKKK-
"Mitsuooo-kun …. "
Merasa kaget dengan kedatangan Sasori sacara medadak , Karin menghentikan kegiatan bersih-bersih rumahnya.
"Kau ini kenapa sih?" bentaknya.
Sasori menuju kamar sang anak tanpa menghiraukan kata-kata Karin.
"Hey kau cari siapa?" Karin berkacak pinggang.
"Dimana anaku?" lelaki itu mondar-mandir mencari keberadaan anaknya yang tak muncul-muncul.
"Dicari sampai kemanapun kau tak akan menemukannya" Mata hazel itu berkilat , memandang Karin marah.
"DIMANA !" teriaknya.
"Kau tidak usah membentakku , baka. Tentu saja dia belum pulang sekolah" balasnya lagi dengan kembali membentak suaminya itu.
"Aku akan membawa dia bersamaku" Sasori duduk disofa , ia mencoba mengembalikan nafasnya setelah lelah menuju rumah Karin.
"Memangnya kenapa?" Tanya wanita berkacamata itu sedikit kesal.
"Dia dalam bahaya, aku mendapat pesan terror dari seseorang dan dia mengancam anakku tapi aku tak ingin melepaskan Sakura ..."
Tanpa diduga seorang lelaki bermarga uchiha duduk diantara mereka berdua, pembicaraan Sasori terhenti.
"Eh ada tamu, maaf dengan siapa?" Tanya Sasuke sambil menjulurkan tangannya , dengan rasa takut dan ragu Sasori menjabat tangan Sasuke.
"S-saya teman kerjanya Karin" lanjutnya disusul anggukan dari Sasuke dan tatapan membunuh dari Karin. Jujur dalam hati pria itu ada rasa curiga pada Sasuke, tapi mana mungkin lelaki itu tidak mengenalnya sama sekali.
"Lagi-lagi kau berkata bodoh Sasori, siapa orang tolol yang ingin menterormu. Lagipula Mitsuo baik-baik saja bersama kami, benarkan Sasuke" Karin menyenggol pinggul Sasuke , ia tersenyum tipis.
Tidak, dia tetap masih ketakutan keselamatan anaknya itu. Kini ia beralih untuk melindungi anaknya saja dibanding cintanya.
"Karin aku akan menjemput Mitsuo pulang, sepertinya dia sudah menunggu" Saat Sasuke hendak berdiri spontan Sasori menahannya. Mencegahnya supaya tidak memperlakukan Mitsuo sebagai anaknya.
"Tidak biar aku saja yang menjemputnya"
"Eh kenapa? Aku kan ayahnya" tutur Sasuke. Skak mat Sasori ! Apalagi yang akan dikatakannya. Sandiwara Sasuke sukses membuat Sasori bungkam seribu bahasa. Otaknya kembali berputar memaksa dirinya kalau yang menterornya selama ini adalah Sasuke.
"Kalau begitu aku juga akan menjemput Sarada" Ia membalikan kata-kata Sasuke. Percuma, Sasuke tak mengenal siapa nama anak itu, kenyataannya Sasuke tak mengetahui kalau dirinya telah mempunyai buah cinta bersama Sakura. Jadi tak ada respon sesuatu dari Sasuke.
Sasuke berlari duluan meninggalkan rumah itu, ia mengeluarkan mobil kerja milik Karin guna menjemput Mitsuo. Hatinya berkecimpuk antara kesal, senang dan marah. Rasa senangnya karena Sasori sudah merasa ketakutan dengan terror yang terus-menerus dikirim olehnya.
Namun pria bertampang bayi itu tetap keras kepala mempertahankan Sakura, ia harus segera mengambil langkah cepat.
.
.
.
Anak-anak siswa Konoha mulai berhamburan keluar , sebagian dari mereka ada yang pulang sendiri ada juga yang dijemput. Salah satunya Sarada , dia berdiri sendirian digerbang menunggu jemputan ibunya yang tak kunjung datang. Ia ingat pesan dari sang ibu 'Mumpung ini hari libur , ibu akan menjemputmu. Jangan pulang sendiri tunggulah sampai ibu datang'
'huuh' Sarada mengepuh bosan, mengingat kata-kata ibunya yang cerewet itu. Dengan terpaksa ia berdiri digerbang sekolah, kakinya yang sudah kesemutan karena sudah hampir 20 menit menunggu.
Tiba-tiba ada mobil sedan berwarna perak berhenti tepat dihadapan Sarada. Keluarlah sipengemudi itu, Sarada menatap lelaki bertubuh tinggi itu dari bawah hingga atas. Kepalanya mendongkak menatap lelaki tampan itu.
'sial aku tak jelas melihatnya karena terkena sinar matahari' sarada menutupi sebagian wajahnya dengan tangan.
Anak gadis itu berdecak kagum melihat dia. Lelaki yang disebut Sasuke, berjalan melewati Sarada. Dia menatap punggung lelaki itu yang berjalan semakin menjauh, memasuki sekolah lebih dalam lagi. Matanya masih tak lepas menatap sampai ia menghampiri seseorang yang dikenalnya.
"Apa? d-dia ayahnya Mitsuo?" Sarada kaget setengah mati, ayahnya kok keren tapi anaknya menyebalkan. Tidak seandainya dia adalah ayahnya , Sarada terus memperhatikan mereka berdua.
Tidak ada kedekatan sama sekali, terlihat dari jarak mereka yang menjauh. Mitsuo yang duluan berjalan dan lelaki itu mengikutinya dari belakang.
"Ku kira kau pulang sendiri" Ucap Sarada saat mereka berjalan melewatinya.
Sasuke berhenti ketika ada anak perempuan yang bicara pada Mitsuo. Ah anak menyebalkan ini sudah punya teman rupanya, fikir Sasuke.
Ia berjongkok guna menyelaraskan antara Sarada dan Sasuke. "Kau temannya Mitsuo ya" Ucap Sasuke sambil menatap mata onyx yang serupa dengan dirinya.
"Ah i-iya paman. Aku kira paman bukan ayahnya Mitsuo" Sarada mengusap tengkuknya pelan sambil sesekali tersenyum. 'Paman ini .. aku mendadak merasa nyaman dengannya walau baru bertemu'
"Kau sangat cantik" Sasuke mengusap puncak kepala Sarada gemas. Ada getaran aneh didalam hati Sasuke, entah kenapa saat menatap anak perempuan ini menjadi teringat pada Sakura.
"Cepatlah" Teriak Mitsuo tak sabaran , ia sudah didalam mobil.
"Ya ..." sahut Sasuke setengah teriak . "Kami pulang duluan ya". Sarada mengangguk.
Kembali pada dirinya, Sarada mencoba bersandar pada tembok penyangga pagar sekolah. Rasanya bosan ingin segera sampai dirumah lalu tidur siang. Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang bicara, semakin lama semakin mendekat.
"Sara-chan? Sedang apa kau disini?" Tanya seorang anak bermuka pucat dan mempunyai rambut kuning.
"Aku menunggu ibuku menjemput tapi sampai sekarang dia belum datang juga, huft" Sarada cemberut bosan karena ia tak suka menunggu lama.
"Sepertinya hari ini kita tidak akan jalan kaki lagi" kedua matanya melengkung kebawah, Inojin tersenyum manis sekali.
"Kau dijemput juga ? " Sarada senang, Inojin mengangguk.
"Kalau begitu aku temani sampai ibumu datang"
"Hemm"
Baru saja Inojin akan menemani Sarada, orang tua Sarada sudah tiba disana. Dia memakai motor sport hitam , kemudian berhenti tepat didepan kedua anak tersebut.
"Ibumu keren Sarada" Ucap Inojin mengagumi sosok orang itu. Tapi Sarada tau kalau ibunya tak bisa mengendarai motor. Orang itu tak lain adalah Sasori, ia membuka helm nya. "Cepatlah naik Sarada" ajak Sasori yang masih duduk diatas motor. Namun Sarada berusaha menolak ajakan Sasori secara baik-baik.
"T-tidak ayah, aku akan dijemput ibu. Jika aku pergi denganmu bagaimana jika ibuku datang kesini?"
Sasori menggeleng cepat , nampak ekspresi kekhawatiran tercetak jelas diwajah imutnya yang masih mengkhawatirkan sang anak. Diketahui sesaat sebelumnya ia mendapatkan pesan terror lagi melalui ponselnya. Sudah ia simpulkan bahwa orang yang selama ini menerornya adalah Sasuke, dia menggunakan anaknya sebagai sandera. Maka dari itu dia berniat melakukan hal yang sama pada Sarada.
"Cepatlah ikut saja" ajak Sasori paksa, karena jarak antara dirinya dengan mobil Sasuke sudah jauh. Sasori berniat untuk mengejarnya. "Kau mau ikut atau tidak?"
Sarada takut ibunya datang menjemput kesana lalu ia mendapat omelan gratis dari sang ibu karena tak mengikuti pesannya.
"Jangan khawatir Sara-chan jika ibumu kesini akan aku kasih tahu kalau kau sudah pulang bersama ayahmu" ide bagus Inojin.
"Aku jadi merepotkanmu Inojin, terimak–" Akhirnya mau tidak mau Sarada pergi bersama Sasori. Ia mencengkram erat pinggang milik ayahnya, jujur baru kali ini Sarada memeluk ayahnya seperti ini.
Sasori kembali mengenakan helmnya dan melaju dengan kecepatan diatas 30km per jam, Sarada semakin mengeratkan pegangannya.
.
Hendak Inojin akan duduk disebuah bangku, ada mobil sedan berwarna perak serupa dengan mobil Sasuke tadi berhenti dipinggiran jalan, tepatnya didepan Inojin. Sakura keluar dengan raut muka yang masih kacau akibat pertengkaran dengan sang kakak ipar. Ia mengedarkan seluruh pandangannya kesetiap penjuru namun nihil sang anak tak nampak juga.
Inojin yang sedari tadi tengah memperhatikan ibunda temannya itu , menghampiri dia yang tengah kebingungan mencari keberadaan Sarada.
"Maaf bibi , mencari Sarada ya" Tanya-nya langsung.
"Iya Inojin, apa kau melihatnya?" balas Sakura.
"Baru saja dia pergi dengan ayahnya" –DEG , Sasori lagi Sasori lagi, lelaki itu masih saja ikut campur dengan urusan keluarganya. Sakura sudah tak bisa menahan emosinya lagi, dia menyumpah serapahi lelaki itu yang sudah membohongi dirinya atas memalsukan keadaab yang Sasuke telah meninggal dunia. Dan sekarang dia membawa Sarada, Sakura benar-benar ingin menghajar lelaki itu. Maunya apa sih?
"Kemana mereka pergi?" Tanya-nya panik campur kesal.
"Kesana, sepertinya belum jauh" tunjuk Inojin kearah utara. Tanpa mengindahkan jawaban dari bocah kuning itu Sakura langsung ambil langkah cepat guna mengejar mereka sebelum kehilangan jejak. Sakura menekan persneling mengubah gigi mobil dan memutar kemudi mobil dari arah yang berlawanan menuju utara. Sakura mengendarai mobil larut dalam kekesalan, tanpa memperhatikan sekitarnya hingga ia tak sengaja menyenggol pagar rumah, tembok dan ferbodden yang berdiri indah dipinggir jalan.
.
.
Sebuah tempat yang tenang dan damai di Konohagakure, angin berhembus pelan tak tercium aroma polusi disekitar sana, jalanan tidak seramai dikota tempat tinggalnya tadi. Sasuke membawa Mitsuo kesebuah distrik lama yang sepi banyak rumah kosong nyaris tak ada orang, tempatnya yang jauh dari kota bahkan jauh tempat tinggalnya. Bocah berhelai merah awut-awutan itu menatap heran melihat pemandangan asing dibalik kaca jendela mobil.
"Bukan kesini arah rumahku" desis Mitsuo, ia sedang duduk jok Sasuke.
"Aku akan mengajakmu berkeliling sebentar" balas Sasuke sambil menyeringai. Ia berniat membawa anak ini ketempat asing dan sebentar lagi akan mengakhiri sandiwaranya.
Sasuke menghentikan mobilnya, kemudian ia keluar dari mobil sedan itu sendirian. Sementara Mitsuo duduk didalamnya sendirian. "Tunggu sebentar ayah akan membeli minuman dulu ya" terang Sasuke yang sudah jelas itu semua bohong, disana tidak ada toko atau pedagang.
Diambilah ponsel itu yang dijadikan alat untuk menteror Sasori. Sasuke mendekatkan kameranya tepat dijendela kaca mobil dari luar.
-Jepret-
Sasuke memotret anak itu yang sedang duduk bête didalam mobil, diam-diam Sasuke mengunci anak itu dari luar.
'Gomen Mitsuo , jangan khawatir aku tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada ayahmu yang kurang ajar' Inner Sasuke saat mengunci mobil. Tindakan yang dilakukannya hanya semata untuk menggertak Sasori supaya ia merasakan apa yang dia rasakan selama ini.
Hasil jepretannya barusan ia kirim ke nomor ponsel Sasori.
Kau masih berani menyentuh istriku? Dalam waktu 10 menit anakmu akan segera meninggalkan dunia ini. –Sent ..
To Be Continue
A/N : Fyuuhh *nyeka keringet* chapter 10 akhirnya update juga. kayaknya aku akan segeran namatin fic ini. maaf kalo makin sini makin gaje tadinya aku mau disc aja soalnya Fic ini rasanya makin sini makin gak nyambung aku gak pede nerusinnya. T.T , tapi berhubung sahabatku yang selalu memberi semangat buat nerusin Fic ini akhirnya aku mau lanjut. hehe *EdisiCurhat*
Maaf kalo lama update -ojigi .. makasih buat yang review moga-moga ada yg review lagi hehe.
Big Thanks To
Algheesa H, Ricky Bagja, Sakura 431, AAALovers, jey sakura, lightflower22, Queenshila, caesarpuspita, princess948, suket alang alang, gilang ramadhan 129357, ayuniejung, Guest dan silent reader.
Arigatou Minna
