For You

Last song

Namseok

Namjoon x Hoseok

Yoonmin,Taejin

Enjoy

"Aku... Aku tak bisa. Maafkan aku"

Namjoon mendongak. Mukanya yang tengah penuh dengan air mata manatap tepat ke arah manik Hoseok yang sama kacaunya dengan yang ia miliki.

"Ani... Ku mohon Hoseok. Aku mohon" Namjoon kembali menggenggam tangan Hoseok. Mengecupnya, mendekapnya apapun, apapun yang ia bisa lakukan agar Hoseok tetap ada di sampingnya.

Hoseok hanya bisa mengalihkan pandangannya pada arah yang lain. Pada tembok tembok pembatas taman yang seolah mengejeknya. Tapi itu lebih baik dari pada melihat Namjoon yang seolah tak punya asa lagi di hadapannya.

"Hoseok... Aku mohon."

"Maaf Namjoon."

Cukup sudah, Hoseok tak tahan lagi. Melihat Namjoon yang seperti ini hanya akan melukai hatinya lebih dalam lagi.

Dengan tangan yang bergetar, Hoseok meraih pengaman kursi rodanya. Lalu menggerakkan rodanya dengan paksa. Berusaha meninggalkan Namjoon yang nampak tak bisa berbuat apa apa lagi.

Semuanya kembali putih. Benar benar putih. Seperti semula, seperti saat keduanya tak saling mengenal. Seperti saat mereka tak saling memberi warna pada lembaran kisah keduanya.

Biarlah Hoseok berjalan sendiri layaknya masa lalu yang ia tempuh. Biarlah Namjoon kembali menjadi seseorang yang keras selayaknya masa lalu yang ia sempat jalani.

Jalan mereka mungkin hanya sampai di sini. Sampai Hoseok lelah dengan takdir yang

Seolah mempermainkannya. Sampai Namjoon yang sadar kalau terlalu bodoh untuk mendapatkan pengakuan kembali. Sampai keduanya sama sama menyerah pada apa yang tuhan berikan.

.

.

.

Gaun berwarna putih gading itu melekat pas di tubuh seorang gadis yang kini mulai menampakkan raut dewasanya.

Rambut hitam lebatnya di angkat ke atas. Tertata sederhana dengan sebuah tiara mungil menambah pesona wanita itu.

Ia masih senantiasa menatap ke sebuah cermin yang memantulkan bayangannya. Terasa takjub serta gugup bersamaan.

Ia tak pernah membayangkan hari ini akan datang kepadanya. Semuanya terasa mustahil jika ia lihat kebelakang.

"Imooooo" suara keras melengking mengalihkan perhatiannya.

Seorang gadis cilik berusia lima tahun berlari kecil ke arahnya. Gaun putih bergoyang heboh mana kala anak hyperaktif itu semakin kencang berlari.

"Hui-ah, hati hati." gadis itu, Jimin menangkap keponakannya saat Hui, hendak menubruknya.

"Hehe" sedangkan anak itu hanya tersenyum aneh dengan dua dimple yang Jimin akui lucu.

Lalu senyum anak itu tiba tiba lenyap berubah menjadi rengutan manja saat flowercron yang ia kenakan jatuh menutupi matanya.

Jimin tergelak hebat melihat Hui yang terlihat sangat kesal dengan rangkaian bunga yang di pakaikan ibunya itu.

"Huh, padahal Hui kan sudah bilang kalau Hui tudak mau pakai ini. Tapi Eomma tetap saja memakaikannya."

Jimin membawa anak itu ke sebuah kursi yang memang tersedia untuknya. Membiarkan anak itu duduk di pangkuannya.

"Eomma kan mau Hui cantik"

"Tetap saja Jimin Imo paling cantik."

Jimin kembali tertawa. Lalu mencubit gemas hidung mancung anak itu sambil mendengus geli. "Huh tukang gombal"

"Pasti Yoongi oppa makin cinta" Jimin sedikit terkejut mendengar ucapan Hui.

"Hey dari mana kau mendapatkan kata kata itu eoh? Dan berhenti memanggil pamanmu oppa. Kau harus memanggilnya Samchon mulai sekarang"

"Tidak mau."

"Kalau begitu panggi Imo, Eonni"

"Aaah tidak mau."

"Memang kenapa sih, dia kan sebentar lagi akan menjadi samchon mu kan?"

"Habisnya Yoongi oppakan. Tampan"

"Ya tuhan anak ini, kenapa kau begitu genit sih?" Jimin dengan gemasnya menciumi wajah Hui hingga anak itu tergelak hebat di pangkuannya.

Mereka terlalu asyik berdua hingga tak menyadari kehadiran orang lain di depan pintu.

Hoseok masih memandangi adik serta buah hatinya yang tengah tertawa bahagia.

Ingin rasanya ia juga tertawa bersama mereka berdua. Tapi masih ada yang mengganjal hatinya. Hingga senyum enggan terbit di wajahnya.

"Hoseok Eonni? "

"Eomma?"

Panggilan serentak itu membuat Hoseok tertarik kekenyataan. Ia beralih menuju adik dan putrinya. Lalu duduk di spot kosong di samping Jimin.

Hui yang melihat ibunya, dengan spontan beralih duduk di pangkuan Hoseok.

Hoseok masih enggan bicara. Ia hanya diam sambil memandangi wajah Jimin dari dekat.

Gadis manisnya kini sudah tumbuh dewasa. Sebentar lagi Jimin sudah bukan miliknya lagi. Sudah punya orang lain sebagai sandaran hidupnya. Malam malam nanti Hoseok hanya akan di temani Hui kecilnya, tidak akan ada Jimin lagi di sana.

"Eonni kenapa malah menangis?"Jimin mengusap pelan pipi Hoseok yang ternodai air mata. Walau mata si pengantin perempuan ikut berkaca kaca, tapi Jimin sekuat tenaga menahannya.

"Kau akan pergi Jimin." Hoseok menggenggam tangan Jimin erat. Hui yang melihat kedua wanita itu, mulai terisak.

"Kenapa kau juga ikut menagis uuh? Dan Eonni, aku tidak akan pergi. Aku masih akan tetap ada bersamamu. Walau pada akhirnya akan tetap berbeda, tapi aku janji tidak akan pernah meninggalkan Eonni sendirian"

"Imo tidak akan tidur bersama Hui lagi..." si kecil mulai merengek.

"Hei, kalau Jimin Imo menemani Hui tidur terus, lalu siapa yang tidur bersama Yoongi Samchon?"

"Kita kan bisa tidur sama sama. Ranjang Hui kan besar, cukup kok untuk Eomma, Jimin Imo, Yoongi Samchon dan Hui tidur."

"Ya tuhan..."

Jimin terkikik sendiri, sedangkan Hoseok hanya bisa menghela nafas lelah.

Ia benar benar tak bisa membayangkan Yoongi tidur dengan dua eeemm tiga perempuan sekaligus. Itu mengerikan, apalagi satu diantaranya adalah dirinya sendiri.

"Hui ini ada ada saja."

"Habisnya Hui takut kalau tidur sendiri. Coba saja kalau ada Appa."

Deg

Hati Hoseok tiba tiba berdenyut sakit. Ia kembali merasa kesal, marah dan entah apa lagi yang sebelumnya sempat hilang dari hatinya.

"Huh sudahlah. ayo Hui, lebih baik kita kedepan saja. Siapa tau ada kerabat yang datang."

Hoseok nampak sekali kesalnya. Dan Jimin menyadarinya.

"Eonni. Maafkan saja dia." ucapnya saat Hoseok dan Hui hampir menyentuh bibir pintu.

Hoseok berbalik, dengan wajah yang kental dengan emosi. Bahkan Jimin saja hampir tak mengenalinya.

"Kau tidak mengerti Jimin. Kau tidak pernah di tinggalkan."

"Eonni, lihatlah anakmu bahkan sudah besar. Dan kau masih bersikap kekanakan seperti ini? Tak bisakah kau memberinya maaf?"

"Ini bahkan hari penting. Aku lebih memikirkan hari ini dari pada dia. Jadi cukup sampai di sini bahasan kita."

Dengan suara pintu yang di tutup membuat Jimin kembali lesu. Ia juga kecewa sebenarnya, tapi toh ini pun telah terjadi. Jimin tak bisa berharap apa apa lagi.

.

.

.

Tamu undangan mulai memadati kursi kursi yang tersedia. Jimin dan Yoongi memilih sebuah taman untuk acara pemberkatan mereka berdua. Hal itu tentu di setujui oleh Hoseok, terlebih itu adalah salah satu impian adik kecilnya.

Tamu undangan yang awalnya riuh rendah kini mulai bersikap tenang mana kala seorang pemuda tegap dengan taxido berwarna hitam melangkah tenang ke arah altar yang berada di bawah kelambu transparan yang di hiasi bunga bunga cantik.

Selanjutnya iringan musik kembali bergema ketika si pengantin perempuan mulai terlihat berjalan berdampingan bersama seorang pria berperawakan tegap.

"Kau gugup?" bisik si pria.

"Sangat." jawab si pengantin perempuan sambil meremas tangan si pria.

"Tenanglah Jimin. Yoongi tidak akan lari saat pemberkatan." si pria mulai mencairkan suasana.

"Darwin Oppa..."

Darwin, pria yang suka rela mengantarkan Jimin menuju ke arah Yoongi ini tersenyum mendengar rengutan manja gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini.

Ia dengan senang hati menerima tawaran Jimin untuk jadi walinya di acara pemberkatan, karena akan sedikit aneh jika Hoseok yang melakukannya.

Sejak kejadian 6 tahun lalu Jimin memang sudah menganggap Darwin sebagai kakaknya. Begitu pun sebaliknya

Bahkan saat pernikahannya 3 tahun lalu, Jimin bertindak sebagai pendamping pengantin wanitanya. Darwin sendiri yang meminta.

Mereka adalah keluarga.

"Ku serahkan Jimin padamu Min Yoongi, jaga dia. Untukku, untuk kakaknya, untuk dirinya."

"Selalu ku ingat Hyung"

Dengan begitu, Jimin akan memulai semuanya bersama Yoongi. Senior tampannya.

.

Di sisi lain Hoseok tengah menatap takjub pada sepasang pengantin tersebut.

Kecantikan Jimin begitu terpancar, begitupun ketampanan Yoongi yang tumpah ruah.

Hoseok tersenyum kecil. Pandangannya kemudian beralih pada Hui yang nampak sedang asyik bercengkrama dengan saudaranya yang baru berusia beberapa bulan dalam pangkuan bibinya yang lain.

Helaan nafas kembali tersengar.

Ia jadi rindu.

Semua benci dan marahnya menguap begitu saja, di gantikan rindu yang amat mendalam.

Sudah hampir dua belas bulan dan Hoseok masih sangat kekanakan untuk sekedar mengucap kata rindu.

Sebenarnya dari pada jarak, Hoseok lebih percaya pada cintanya. Tapi yang membuatnya kecewa adalah hari pernikahan Jimin. Harusnya orang itu yang mewakili ayahnya untuk mengantar Jimin menuju ke altar, bukan Darwin.

Bahkan lihat Hui yang seolah terbiasa melewati hari harinya tanpa sang ayah. Seperti memang gadis kecil itu tak memperdulikan ada atau tidaknya si ayah tersebut.

Hoseok kecewa dengan kenyataan itu.

Hoseok sudah berkali kali mendengar rumor yang bahkan sangat melukainya. Tapi rasa percaya itu selalu ada. Maka ia akan tutup kuping rapat rapat.

"Haaaaah" bukan helaan nafas lelah apa lagi jengah, tapi Hoseok lega.

Saat ini Jimin dan Yoongi telah menjadi sepasang suami istri, di tandai dengan kecupan manis si pengantin pria pada wanitanya.

Hui terkikik melihatnya. Dasar anak itu.

"Harusnya Hui tak boleh lihat."

"Aaah imo, Huikan sudah besar."

"Huh, dia lama lama mirip Namjoon Oppa"

"Oh Taehyung, berhenti membicarakannya. Atau aku akan kembali badmood."

"Aah baiklah Eonni."

Taehyung pun terdiam. Semuanya kembali larut dalam suasana khidmat mana kala doa di panjatkan.

Sangking khidmatnya Hoseok tak menyadari jika seseorang yang ada di sampingnya telah berganti.

"Akh" ia berjengit ketia seseorang itu dengan kurang ajarnya melingkarkan tangan ke pinggangnya.

"Namjoon?!"

"Hay sayang"

.

.

.

Hoseok masih saja menatap datar sepasang mata tajam di hadapannya.

Ia tarik kembali, rasa rindunya hanya sebagaimana debu di antara luasnya padang pasir

Sedikit sekali.

"Kau masih marah, aku sudah jauh jauh datang dari LA hanya untuk mu lho."

"Kau terlambat."

"Aah maafkan aku."

"Kapan sih kau bisa datang tepat waktu, bahkan saat anakmu lahir saja kau terlambat. Aah bahkan sejak dia dalam kandungan pun kau terlambat mengakuinya."

"Ih yatuhan Kim Hoseok, jangan pernah ungkit ungkit masalah itu lagi ok. Aku malas."

"Kau yang memulai."

"Baiklah aku minta maaf."

"..."

"Sangat-sangat minta maaf."

"..."

"Kau tau, aku pun merindukanmu."

Namjoon menggenggam tangan Hoseok dengan erat. Semua yang ia rasakan selama ini tersalurkan di sana.

Mereka terpisah, untuk waktu yang terbilang cukup lama. Tapi tak pernah ada kata takut dalam hati Namjoon, karen ia yakin Hoseok hanya untunya. Tapi rasa rindu seolah tak henti hentinya mengikat keduanya.

Mereka berada di langit yang sama, menghirup udara yang sama. Tapi tetap saja Namjoon merasa tak berguna ketika Hoseok tak bersamanya.

Sekali lagi jangan salahkan dia. Dalahkan Seokjin yang tiba tiba berhenti dari pekerjaannya sebagai CEO dan memilih untuk membuka cafe sederhana yang telah memilaiki hampir sepuluh cabang di Seoul lalu menyerah tugaskan semua pekerjaannya pada Namjoon. Hingga Namjoon dengan sangat tidak rela meninggakan Hoseok dan gadis kecilnya selama setahun belakangan hanya demi kelangsungan perusahaannya di luar negri

Ia sebenarnya ingin sekali seperti Seokjin yang memulai hidup baru dengan adinya di sebuah perumahan kecil yang asri. Jauh dari hiruk pikuk kota besar.

Tapi mau bagaimana, ia tak bisa begitu menutup usaha yang di rintisnya dari kecil itu. Walau artinya ia harus mengorbankan Hoseok. Lagi.

"Kau tau, aku selalu berpegang teguh kalau hanya kau yang akan ada di hatiku."

Hoseok mensengus mendengarnya. Telinganya sudah sangat kebal pada rayuan Namjoon.

"Semuanya demi kau Hoseok, walau ku tau kau tak akan memberikan respon menyenangkan. Tapi nyatanya ku tetap datang kan?"

Hoseok tau ia begitu kekaknakkan. Berkoar koar tak akan memaafkan Namjoon.

Tapi untuk kesekian kalinya ia kalah. Ia tetap akan luluh pada rayuan maut suaminya

Yaa suaminya.

Apa? Jangan pandang aku seperti aku membuatmu bingung

Kenyataannya Hoseok memang istri sah Kim Namjoon sejak beberapa tahun yang lalu.

Sebelum Jimin resmi bersama Yoongi. Sebelum Darwin menikah dengan pujaan hati barunya. Sebelum Taehyung dan Seokjin menggelar resepsi mewah. Bahkan sebelum anaknya lahir.

Jangan pikir Namjoon tak ada di sana ketika gadis kecilnya menagis untuk pertama kalinya. Memang ia terlambat. Tapi bukan kah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

"Maafkan aku lagi... Kim Hoseok."

"Kau pikir aku tidak kesepian?" tanya Hoseok masih dengan gaya enggannya.

"Aku tau, dan untuk beberapa alasan aku akan mengakhiri kesepianmu. Kau ingat, setiap kau jauh dariku. Hanya satu yang kupikirkan.

Dimana pun, kapanpun, dan seperti apapun keadaan.

Kau dan aku tetap terhubung. Bersama selamanya."

Dan Hoseok tak bisa berpaling lagi.

" Appa, Eomma kajja Jimin Imo dan Yoongi Oppa akan berfoto. Hui juga mau berfoto"

Hui, gadis kecil keduanya melambai heboh kepada dua orang dewasa yang tengah duduk di pinggir pelataran taman tersebut.

Kaki kaki kecilnya melangkah cepat menuju kedua orang tuanya. Lebih tepatnya pada Namjoon.

Ia memeluk kaki ayahnya. Sebelum Namjoon memangku gadis dengan gaun warna putih tersebut.

"Ugh Hui makin berat saja."

"Huh, appa saja yang semakin lemah"

"Mwoyaa, appa masih kuat, bahkan sangat kuat untuk memberika mu adik lagi."

"Namjoon...!"

"Aah arrasso arrasso."

"Appa?" Hui berbisik di telinga Namjoon.

"Apa sayang?"

"Hui mau adik. Dua yaaa"

Namjoon terkekeh mendengarnya.

Ia lalu meraih pinggang Hoseok untuk di peluk oleh tangannya. Sedangkan tangan lainnya masih setia menahan tubuh mungil anaknya yang menggemaskan.

Mereka menuju Taehyung dan Seokjin serta si kecil Taejin yang masih terlelap di dada Seokjin. Semuanya tengah berkumpul bersama pengantin baru.

Keluarga kecil itu pun ikut bergabung setelah sebelumnya Namjoon mengucapkan selamat dan maaf pada Jimin serta Yoongi.

"Baiklah, semuanya merapat." koor sang juru foto.

Namjoon dan Hoseok ada di sebelah kiri Yoongi dan Jimin sedangkan Seokjin juga Taehyung ada di sisi kanan. Tak lupa si kecil Hui yang berdiri di tengah tengah pengantin lalu Taejin yang baru setenga sadar berada di pangkuan Seokjin.

"Senyum semuanya"

Clik

Sebuah potret bahagia terlahir kembali.

Semua aral dan tantangan telah mereka lewati. Terlebih Hoseok dan Namjoon. Keduanya telah sama sama dewasa untuk saling mengerti. Berbagi kasih serta cinta tanpa pamri. Berkorban untuk saling memberi.

Semuanya sederhana. Jika kita mengerti makna sebuah perasaan lebih dalam.

Percaya

Sebesar apapun halangan menjegal kita melangkah, jika kita percaya pada apa yang kita ambil. Semuanya akan terasa sempurna di akhir cerita.

End

Iya iya, aku tau masih ada yang aneh. Jadi ku beri sedikit tambahan

"Jimin?" sampai Jimin menghentikan laju kursi rodanya.

Hoseok tak tau mangapa anak ini bisa berada di depannya. Dengan sama sama berlinangan air mata. Dengan napas yang berburu.

Tanpa aba aba Jimin menjatuhkan dirinya sendiri di depan Hoseok. Gadis itu lantas memeluk erat perut Hoseok, merasakan geleyar aneh di sana. Tapi selalu terasa menyenangkan.

"Aku tau semua yang tersimpan di dalam kepalamu." Jimin mendongak. Membaca pikiran Hoseok tak ubahnya membaca sebuah novel remaja yang terbuka lebar di hadapannya. Terlalu mudah.

Jimin bangkit dan mengecup dahi Hoseok lama.

"Seseorang pernah bilang padaku. Sebesar apapun kebencian menguasai pikiranmu, tapi hati tetap meneriakkan kata cinta. Sekarang Eonni hanya tinggal memilih mengikuti pikiranmu, atau hatimu."

Hoseok terdiam, sedari tadi hatinya tak pernah lelah meneriakkan untuk kembali pada Namjoon. Tapi setan setan di kepalanya seolah memberi opsi lebih menarik dari kata cinta.

Wanita itu kemudian menoleh kebelakang. Di mana Namjoon masih menatapnya penuh harap. Binar di matanya memang telah berbulan bulan lalu pudar, tapi di balik kesenduan kedua bola mata Namjoon, lelaki itu seperti menawarkan kehidupan yang lebih menyenangkan esok hari.

Melupakan segala keluh kesah yang ia rasakan beberapa bulan ini. Mengajaknya kelembaran baru yang mempunyai lebih banyak warna.

"Aku memang marah padanya. Tapi seperti yang orang orang bilang. Sekeras apapun kita menolak, kenyataan tak pernah berubah. Sedalam apapun aku menyimpan dendam, ia tetap ayah anakmu kan?

Aku pernah berpikir untuk membalas semua yang Namjoon-ssi lakukan pada Eonni. Membuatnya menderita dengan tak membiarkan Eonni kembali padanya. Tapi seseorang memintaku melihat kedepan, ke sebuah masa depan di mana anak ini akan tumbuh besar. Menjadi sosok mempesona seperti mu. Tapi ia pasti akan berpikir.

Siapa sekiranya yang memberikanku mata setajam pisau ini, siapa yang memberikanku kaki panjang ini hingga aku tumbuh tinggi, siapa yang memberikan ku dua dimple menawan ini."

Hoseok seketika kembali menangis. Membayangkan buah hatinya berpikir demikian membuat hatinya benar benar teriris iris. Hoseok tak sampai hati bahkan hanya untuk memikirkannya.

"Aku mungkin sangat menentang apapun yang Namjoon-ssi lakuakan untuk bersama Eonni kembali. Tapi aku mulai berpikir untuk setidaknya menggunakan hati nuraniku sekali saja. Ayo buka mata kita lebar lebar Eonni. Semua tidak lagi tentang rasa sakit yang kita tanggung, tapi tentang kehidupan mu, anakmu yang belum berujung"

Jimin beralih ke belakang kursi roda Hoseok. Mendorongnya ke arah ia berasal. Menuju kearah Namjoon yang telah kembali berdiri tegak.

"Kita sambut dia, tersenyumlah Eonni. Ternyum

lah pada masa depanmu."

.

.

.

Beneran end.

Wahh ngga sangka akhirnya bisa nyampe di final chapter.

Aku ucapkan banyak banyak terima kasih pada kalian yang udah mau menunggu tiap kelanjutan ff ku. Aku sayang kalian.

Chu~

Sedikit curhat yaaa. Aku di ff ini entah kenapa suka banget sama karakter Jimin dan Seokjin.

Mereka emang bukan center di sini.

Tapi sikap Tapi sikap mereka sangat patut untuk di contoh.

SeokjinYang bersikap selayaknya seorang sahabat yang bener bener pencerminan sahabat. Dia bakalan selalu ngingetin Namjoon kalau yang Namjoon lakuin salah. Memang penyampaiannya sedikit ekstrim tapi toh Namjoon juga sadar akhirnya. Dia cuman ngga mau Namjoon salah ambil langkah.

Juga Jimin yang bisa bersikap dewasa dengan mengubur semua amarahnya. Ngga memikirkan apa yang ia rasa dan lebih mementingkan apa yang akan terjadi kedepannya. Mau membuka mata dan siap menerima masukan. Ia sempat marah pada Namjoon, dia juga manusia. Tapi pas semuanya sudah di rasa jelas ia mampu mengambil keputusan yang baik walau sangat menentang egonya.

Waaah pokoknya aku suka banget lah sama mereka berdua.

Heehe

Yaaa sudah sekian saja dari ugiii.

Sekali lagi terimakasih.

Bow bareng Jimin, Hosiki dan Kumamon

Sampai jumpa di fic berikutnya

Bye bye