Disclaimer:
Naruto © Kishimoto Masashi
Marriage Simulation © Haruno Aoi
Rated: T – M
Setting: AU
Warning: mungkin sangat OOC, mungkin masih ada TYPO atau MISSTYPO
Kurs yang saya gunakan: ¥ 1 = Rp. 100
Langsung saja…
Silahkan membaca…
.
.
.
Dengan tidak percaya diri (?) saya mem-publish chapter ini…
Maaf karena updatenya amat sangat lama sekali sampai kedaluarsa (?) Sebenarnya ingin segera menamatkan fic ini biar cepat hiatus, tapi saya malah terinfeksi virus malas… Y_Y
Saya balas beberapa review dulu… *Maaf, ini akan panjang. Kalau tidak mau baca, lewati saja*
Terima kasih: Keira Miyako, Nerazzuri, Yuuki d'gray girl, Sanada, Sora Hinase, ryuva, Yuki Tsukushi, Namikaze-Tania-Chan, shiroyue (Bedanya 'pernikahan simulasi' sama 'simulasi pernikahan'? Hmm, saya hanya merasa kalau yang benar adalah 'simulasi pernikahan' #plak. Begini, menurut saya 'simulasi pernikahan' adalah hubungan yang sudah layaknya suami istri, namun belum ada pernikahan. Sebelum memutuskan judul, waktu itu saya berpikiran begini: "Sasu dan Hina di sini akan menikah, walaupun ada perjanjian, pernikahan mereka akan tetap sah. Tapi, pernikahan mereka belum dipublikasikan, kecuali ke orang-orang terdekat. Upacara pernikahan akan dilaksanakan di depan beberapa keluarga Sasu (hanya kakek, ibu/Mikoto, dan ayah/Fugaku), tapi belum ada pesta/resepsi pernikahan. Jadi, mereka terkesan seperti belum menikah." Itu yang menjadi landasan (?) pemberian judul fic ini, walaupun nggak nyambung ^^v Kalau 'pernikahan simulasi', kok kesannya pernikahannya palsu, ya? Menurut saya, hanya coba-coba menikah untuk merasakan kehidupan berumah tangga. Jadi, saya tidak menggunakan judul 'pernikahan simulasi', melainkan 'simulasi pernikahan' ==a Judul fic ini memang nggak nyambung. Hoho, maaf jadi banyak omong ^^v), Vany Rama-kun, Hina bee lover, harunaru chan muach, SaHi-chan, Ind, ulva-chan, A, Chikuma new, yuuaja, soft purple, Ekha (Saya belum tobat. Buktinya, apdetnya masih lama ^^v), Saruwatari Yumi, Ichaa Hatake Youichi, Simba, Shin-chan, Zoroute, light-chan, MarMoet Hime Chan, Kurosaki Kuchiki, Masahiro NIGHT Seiran, uchihyuu nagisa, Shaniechan, Illyasviel von hyuchiha, Lyner Croix Rosenkrantz, icha22madhen, Rufa Kha (Fugaku dan Mikoto tidak pernah menikah. Istri Fugaku hanya satu, yaitu mendiang ibunya Itachi. Di sini, Fugaku dan Mikoto saudara sepupu-an (?) Lebih tepatnya, Fugaku adalah kakak sepupu Mikoto *kayaknya sudah pernah saya tulis?* ^^v), kakachan, Lita, Zhu kazuu, ichigo, etty-chan, hyuuchiha prinka, seohyun, Mysunshine-hatake, Saqee-chan, Nunu uchiha, ahzer rakk0on, Rebeca chan, lee. so. in, namikazeallem (Hohoi, dit. Aku senang kalau reviewnya panjang kayak reviewmu, hoho. Emang 'weng2', karena authornya juga 'weng2' dit, LOL XD. Jadi, aku disuruh baca komik hentai? Wkwkwk. Dit, yang betul itu: dibentuk, dihaluskan, diberi warna, dipelitur, diberi kaca, ditambah hiasan, de el el. Hwooo… jangan mengingatkanku pada tugas KWU-ku yang geje puoool itu… LOL XD), Aulia hyuuga, Hyuuga EtaMita-chan, Ilha' cHuBy Angelo, Mysunshine-hatake, Airi Akiyama, Hyugga Hime-chan (FB? Punya, tapi saya beri tahu lewat PM saja, ya… *tapi kalau masih berminat dengan FB saya* ^^), Chiaki anzai, Hime-chan luph SasuHina, SasuHina, Luce stellare of Hyuzura, ratoe sang gigi
Terima kasih juga untuk pereview tanpa nama dan maaf jika ada yang tidak tersebutkan…
Terima kasih banyak karena masih bersedia membaca fic pertama saya yang amat sangat aneh dan tidak jelas alurnya ini… Y_Y
Arigatou Gozaimashita Minna-san…
.
.
.
Sebelumnya di Marriage Simulation…
"Hiashi?"
Hinata terkejut karena Mikoto tahu nama ayahnya. Seingatnya, ia belum memberitahu Sasuke dan ibu mertuanya itu tentang ayahnya atau keluarganya.
Setelah melihat wajah kaget Mikoto, Hinata mengalihkan perhatiannya kepada Hiashi. Ia juga bisa melihat keterkejutan di wajah ayahnya yang jarang menunjukkan emosi itu.
"Mikoto…"
Walaupun hanya bergumam, namun Hinata masih bisa mendengar kalau ayahnya sedang menyebutkan nama ibu mertuanya.
.
.
.
*[ Marriage Simulation ]*
.
.
.
Suasana di ruang rawat Hiashi menjadi hening dan canggung. Beberapa kali Hinata melihat Hiashi dan Mikoto secara bergantian. Ia bingung karena ayah dan ibu mertuanya masih saling berpandangan dalam diam. Saat pandangannya beralih pada Shikaku, Hinata bisa melihat seringai aneh di wajah sahabat ayahnya tersebut.
Dehaman Shikaku membuat Hiashi memalingkan wajahnya seketika. Ia tersenyum misterius sambil mengamati suatu perubahan di wajah datar Hiashi.
Shikaku mendesah pelan sebelum mengeluarkan suaranya yang entah ditujukan kepada siapa, "Dunia memang sempit."
"Lama tak jumpa, Shika," sahut Mikoto seraya tersenyum canggung.
"Kau masih sama seperti terakhir kali aku melihatmu," balas Shikaku seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tersenyum tipis untuk membalas senyum manis Mikoto.
Kali ini Hinata mengamati Mikoto dan Shikaku secara bergantian. Ia bingung dan tidak mengerti dengan hubungan tiga orang dewasa di ruangan beratmosfer kecanggungan tersebut.
"Sepertinya di sini ada yang seharusnya berjodoh." Shikaku menyeringai saat melirik ke arah Hiashi yang berpura-pura tertarik pada segelas air mineral di atas meja. "Hoi!" serunya sambil menepuk punggung Hiashi dengan cukup keras.
Hiashi mendecak sebal sambil memberikan tatapan tajam kepada Shikaku yang hampir membuatnya mencium pinggiran meja di samping ranjang.
Shikaku yang merasa tidak bersalah, hanya memasang wajah tak berdosa sambil berjalan dengan cool ke arah Hinata. Ia membuat Hinata bertambah bingung karena ajakannya meninggalkan kamar rawat Hiashi.
Mikoto berdeham pelan setelah Shikaku dan Hinata menutup pintu dari luar, meninggalkannya berdua dengan Hiashi yang belum mau membalas tatapannya. Setelah menghela napas, Mikoto berjalan mendekati ranjang Hiashi dengan langkah yang terkadang tersendat.
"Menjadi besanmu adalah hal yang tidak pernah terpikirkan olehku." Mikoto tersenyum, berharap bisa mengurangi kecanggungan di antara dirinya dan Hiashi yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya.
"Bagaimana bisa putramu menghamili putriku tanpa seizinku?" balas Hiashi dingin tanpa membalas tatapan Mikoto yang sudah berdiri di sampingnya.
Mikoto tertawa kecil sambil mendudukkan diri di kursi. Ia sudah mulai merasa santai setelah Hiashi mengeluarkan suaranya. Ia membuka mulutnya, menanggapi ucapan Hiashi, "Kau masih ketus." Senyumnya mengembang setelah Hiashi menoleh ke arahnya dengan ekspresi seolah menahan bersuara.
Sepertinya Hiashi tidak tahan untuk berlama-lama berpandangan dengan Mikoto. Ia memusatkan perhatiannya ke depan saat mengeluarkan sebuah pertanyaan, "Kapan kau kembali ke Jepang?"
"Saat putraku lulus SMP," jawab Mikoto sambil menundukkan pandangannya.
"Ternyata sudah lama. Tapi, rasanya aneh karena kita baru bertemu lagi."
"Iya."
Hening untuk waktu yang cukup lama, sebelum Hiashi melontarkan pertanyaan lainnya, "Bagaimana keadaanmu?" Sekadar basa-basi, karena Hiashi secara mendadak kehilangan beberapa pertanyaan yang berputar-putar di benaknya.
"Seperti yang kau lihat."
"Bagaimana jika yang kulihat adalah dirimu yang masih seperti remaja SMA?"
"Kau berlebihan," balas Mikoto setelah mendecih.
"Aku tidak berlebihan, melainkan mencoba menggombal."
Mikoto tertawa pelan. "Bagaimana bisa kau bicara seperti itu dengan tetap mempertahankan ekspresi datarmu?"
"Dulu kau sudah sering melihatku yang ekspresif," balas Hiashi tak acuh.
"Kau masih marah, ya?" Mikoto sedikit meninggikan suaranya.
"Kapan aku marah?" Hiashi dan Mikoto saling melayangkan tatapan tajam. Tapi, dalam hitungan detik keduanya tergelak karena teringat masa-masa remaja—saat mereka sering beradu mulut hanya karena hal sepele.
"Aku tidak menyesal telah menolakmu," ujar Mikoto setelah keadaan kembali tenang, "Karena jika aku menerimamu, aku tidak yakin akan bisa mendapatkan cucu kembar, yang bahkan sebelumnya juga tidak pernah terpikirkan olehku."
"Ceritakan kenapa kau bisa koma," Mikoto cepat menambahkan—lebih tepatnya, mengganti topik pembicaraan.
.
.
.
Hinata tersenyum sendiri di salah satu bangku dari sederet bangku di depan ruang rawat Hiashi. Setelah mendengar cerita panjang dari Shikaku—yang ditambah-tambahi oleh istrinya, Yoshino—Hinata menjadi sulit untuk menyembunyikan senyumnya. Menurutnya lucu, membayangkan ayahnya versi remaja yang terkadang membentak seorang teman perempuan hanya untuk menutupi kegugupannya.
Di saat beberapa orang berjalan melewatinya menuju kantin, Hinata mengelus perutnya sendiri sambil bergumam, "Jadi lapar." Dan yang langsung terpikirkan olehnya adalah suaminya, Sasuke. Tentu saja bukan karena ingin menjadikan Sasuke sebagai menu makan siangnya, melainkan hanya ingin berduaan dengan suaminya.
Pasti Hinata sudah menghubungi Sasuke, jika ponselnya tidak bergetar. Sedikit kekesalannya langsung tergantikan luapan kebahagiaan setelah mengetahui bahwa Sasuke yang telah menyebabkan getaran di ponselnya. Tidak mau membuang waktu, Hinata bergegas menjawab telepon dari Sasuke yang ternyata menanyakan tentang makan siang. Karena Hinata menjawab jujur, Sasuke mengajaknya makan siang di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari keberadaan Hinata saat ini—tentu saja setelah Hinata mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah sakit dan sedikit menambahkan tentang kondisi ayahnya.
Sambungan ditutup setelah Sasuke menyanggupi akan menjenguk ayahnya seusai makan siang.
Di sini Hinata memang tampak bahagia, tapi sebenarnya Sasuke yang berada di seberang sana terlihat tidak terlalu baik. Sejak beberapa jam yang lalu, Sasuke keluar dari kantor dan menjadikan apartemen Naruto sebagai markasnya. Penampilannya kusut, ditambah raut wajah yang seolah menampakkan beban pikiran yang sedang ditanggungnya.
"Pulanglah. Sakura-chan mau ke sini," usir Naruto yang bosan melihat Sasuke meremas rambut untuk yang ke sekian kalinya. Ia meneguk jus jeruk kalengan sambil melirik Sasuke yang masih memejamkan mata di sofa jingganya. Setelah duduk di seberang Sasuke, Naruto terkikih seraya meledek, "Ternyata calon ayah bisa stress, ya?"
"Berisik."
Naruto malah tersenyum lebar setelah mendapatkan tatapan maut dari Sasuke. "Kau mau membuat istrimu menunggu?"
Sasuke mendengus pelan. "Aku akan ngebut," balasnya tak acuh.
"Kau ingin anak-anakmu menjadi yatim?"
Sasuke sudah siap melepas sepatu pantofelnya dan melayangkannya ke arah Naruto yang nyengir kuda. Sayangnya ia mengurungkan niatnya karena sedang tidak mood untuk perang dengan Naruto.
"Kau tidak senang, eh?" Naruto mendadak memasang wajah sok serius sambil melipat kedua tangannya.
"Tentu saja senang, tapi… entahlah, aku hanya merasa belum begitu siap."
Naruto tersenyum geli melihat Sasuke yang memijit pelipisnya bergantian.
"Jujur, aku belum siap mental," imbuh Sasuke sambil berdiri kemudian duduk kembali dengan gusar, "Aku kan masih dua puluh satu tahun…"
Naruto mati-matian menahan tawa karena melihat tingkah Sasuke yang berbeda dari biasanya. Sejak Sasuke datang ke apartemennya, ia sudah berkali-kali menyaksikan Sasuke berjalan mondar-mandir layaknya setrika.
Walaupun Sasuke selalu menunjukkan wajah senangnya kepada Hinata dan keluarganya, hatinya selalu merasa cemas dan takut. Sasuke memang sudah siap secara materi, namun siapapun yang akan menjadi ayah pasti akan stress jika belum menyiapkan mentalnya dari jauh hari. Bahkan Sasuke sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa merasa belum siap, padahal ia sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kalau belum siap, kenapa kau tidak menggunakan… yah, kau pasti tahu maksudku." Naruto kembali berwajah serius dan tidak menampakkan senyum jenakanya.
"Awalnya aku sudah merasa siap, tapi setelah mendengar kalau Hinata… entahlah, aku bingung," balas Sasuke seraya mendengus pelan.
"Kayaknya dari tadi kau bilang entahlah melulu. Bosan," gerutu Naruto.
"Entahlah."
Naruto mendecak sebal sambil menyipitkan matanya. "Keluar dari apartemenku," usirnya lagi, "Tadi kau bilang akan menjenguk ayah mertuamu, kan?"
Sasuke menepuk pelan keningnya, baru teringat hal yang terlupakan.
"Sebenarnya aku takut ayah mertuaku akan terkena serangan jantung kalau aku menjenguknya," ujar Sasuke sambil memandang lurus ke arah Naruto yang menyeringai sambil membalas e-mail dari Sakura—yang mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan ke apartemen Naruto.
"Aku takut tidak sesuai dengan sosok menantu harapannya," tambah Sasuke setelah Naruto kembali memusatkan perhatian kepadanya.
"Maksudnya?" Naruto menggaruk kepalanya sambil melihat layar ponselnya—memastikan bahwa balasan pesan untuk Sakura sudah terkirim.
Sasuke membalas dengan tak acuh, "Mungkin aku terlalu tampan."
Naruto sweatdropped. "Narsis," desisnya. Dalam waktu yang singkat, wajahnya menampakkan senyuman karena menyadari bahwa Sasuke sedang ingin melupakan kecemasan dengan mengajaknya bergurau.
"Ternyata orang jenius memang mendekati gila," kata Naruto seraya melempar wajah Sasuke dengan bantal sofa yang semula menjadi sandarannya.
.
.
.
Setelah jam makan siang, Hinata dan Sasuke langsung menuju kamar rawat Hiashi. Hinata selalu tampak tersenyum, berbeda dengan Sasuke yang masih mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Tidak ada gandengan tangan karena Sasuke tidak mau jika Hinata merasakan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya. Menurut Sasuke, menemui ayah mertua terasa lebih menyeramkan daripada menghadapi ujian compre. Mungkin tidak akan terlalu menakutkan jika ia menikahi Hinata dengan seizin Hiashi.
Sasuke masuk ke kamar rawat Hiashi setelah Hinata. Ia mengatur napasnya sebelum benar-benar masuk ke ruangan yang didominasi warna putih itu. Dengan langkah ragu, Sasuke mengikuti Hinata yang berjalan menghampiri satu-satunya ranjang yang berada di tengah ruangan. Tanpa sadar Sasuke terus menundukkan kepalanya hingga berdiri di samping ranjang pria yang sudah menjadi ayah mertuanya.
Perlahan Sasuke mengangkat wajahnya ketika Hinata mengeluarkan sapaan dan memperkenalkannya kepada Hiashi. Matanya yang membulat menunjukkan keterkejutannya setelah melihat sosok ayah mertuanya.
"Ojisan?" gumam Sasuke tak percaya.
Hinata mengerutkan keningnya. Ia berharap bukan panggilan itu yang ditujukan Sasuke untuk ayahnya. Ia juga sedikit heran karena Sasuke tampak terkejut ketika melihat ayahnya.
"Maksud saya, Otousan," ralat Sasuke terbata sambil membungkukkan badannya.
"Ternyata kau memang putra Mikoto. Pantas saja kau selalu mengingatkanku padanya," kata Hiashi tenang.
"Tunggu." Secara tiba-tiba Sasuke menegakkan badannya sambil menoleh ke Hinata. "Jangan bilang kalau kau adiknya Sadako!" serunya tanpa sadar dengan mata membelalak.
Hinata hampir menangis karena ucapan Sasuke. Hiashi sudah melotot karena merasa tersinggung. Pasti Hiashi tidak akan memberikan restu bila mendengar Sasuke mengucapkannya sebelum menikahi Hinata. Sayangnya Sasuke sudah menanamkan benih kehidupan di rahim Hinata, sehingga Hiashi tidak bisa seenaknya memecat Sasuke sebagai menantunya.
"Kau jahat sekali, Sasuke-kun…"
Sasuke harus tabah melihat Hinata yang menjadi lebih cengeng. Lagipula tangisannya saat ini disebabkan olehnya. Setelah merasakan hawa membunuh ayah mertuanya, Sasuke segera meminta maaf kepada Hiashi dan Hinata.
"Hinata," panggil Sasuke pelan sambil mencoba menyentuh lengan Hinata—bermaksud menenangkan. Tapi ia tersentak ketika Hinata menepis tangannya dengan kasar.
Selain merasa bersalah, Sasuke juga merasa tidak enak hati dengan Hiashi yang masih saja menatap tajam ke arahnya. Setelah membungkuk singkat ke Hiashi, ia mengejar Hinata yang berlari meninggalkan kamar rawat Hiashi.
"Sasuke-kun, Hinata-chan kenapa?"
Sasuke mengabaikan pertanyaan dari Mikoto yang hendak memasuki kamar rawat Hiashi. Sebelum mengubah langkahnya menjadi lari, Sasuke sempat melihat kekhawatiran Mikoto.
"Hinata," panggil Sasuke sambil berlari mengejar Hinata. Ia khawatir sekaligus heran karena Hinata bisa berlari begitu cepat meninggalkannya, sehingga ia harus mempercepat dan memperlebar langkahnya. "Berhenti, Hinata!" seru Sasuke yang tidak memedulikan pandangan dari orang-orang di sekitar lorong yang dilaluinya. Perhatiannya masih terpusat kepada Hinata yang mulai keluar dari rumah sakit.
Sasuke bisa sedikit bernapas lega setelah Hinata menghentikan langkahnya di halte yang sedang sepi—yang berarti juga menghentikan sikap kekanak-kanakannya dalam beberapa menit terakhir. Dengan napas terengah, ia menghampiri dan menyentuh pundak Hinata yang bergetar karena terisak.
"Maaf," ucap Sasuke pelan.
"Kenapa kau bilang kalau aku adiknya Sadako? Apa wajahku mirip Sadako? Apa kulitku sepucat kulit Sadako? Apa rambutku seperti rambut Sadako?" rengek Hinata tanpa membalas tatapan Sasuke. "Kau mau mengatakan kalau aku mirip hantu?"
Sasuke menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum menanggapi Hinata, "Aku tidak bermaksud begitu." Sasuke memutuskan untuk bertanya baik-baik, "Begini, apa mungkin kau adiknya Neji?"
"Bukan mungkin lagi! Tapi aku memang adiknya!" balas Hinata setengah membentak.
Sasuke hanya mengelus dada—kaget mendengar suara keras Hinata sekaligus shock melihat perubahan emosi Hinata yang sangat cepat.
"Eh? Kenapa Sasuke-kun tahu Neji-nii? Seingatku, aku belum memberitahumu…" kini suara Hinata terdengar lebih pelan dan lembut.
Sasuke menghela napas. "Aku sekelas dengannya di SMA. Kenapa kau tidak tahu?"
"Mana kutahu?" balas Hinata ketus seraya duduk di bangku halte, "Kau juga tidak tahu kalau aku adiknya…"
Sasuke ikut duduk di samping Hinata. Saat ini yang terpikir olehnya hanya hubungan Hinata dan Neji yang sebelumnya tidak ia duga sama sekali. Ia memang tidak merasa asing dengan mata atau marga Hinata, tapi ia tidak mengira bahwa Hinata adalah adik dari teman sekaligus saingannya di SMA. Entah apa yang akan dikatakannya jika kelak bertemu dengan Neji, kakak iparnya.
Beberapa menit berselang, mereka berdua masih bungkam dan bertingkah seolah tidak saling mengenal. Lama-kelamaan Sasuke ingin membuka percakapan karena tidak tahan dengan suasana suram di antara dirinya dan Hinata. Namun tampaknya Hinata yang kali ini berperan sebagai pemecah keheningan.
"Ugh, kenapa perutku nyeri?"
"Eh?" Sasuke langsung berjongkok di depan Hinata dan menggenggam jemari Hinata yang tidak digunakan untuk memegangi perut.
"Makanya jangan lari-lari…" ucapnya tanpa menyembunyikan kekhawatirannya. Entah mengapa ia merasa takut walaupun tidak begitu mengerti dengan penyebab keluhan Hinata.
"Itu kan gara-gara kau!" Hinata menarik tangannya paksa, membuat genggaman Sasuke terlepas. Ia merasa aneh karena Sasuke tidak marah walaupun sudah dipelototinya. Dalam sekejap amarahnya menguap setelah merasakan tangan Sasuke yang mengelus lembut perutnya. Ia tidak bisa berkata-kata karena bahagia bercampur malu. Seingat Hinata, ini pertama kali Sasuke melakukannya.
"Belikan aku cokelat," pinta Hinata malu-malu.
Sasuke tersenyum tipis, bahkan Hinata tidak bisa melihatnya.
"Cokelat rasa tomat."
"Hah?" Sasuke berharap kalau ia salah dengar.
"Cokelat. Rasa. Tomat," Hinata memperjelas permintaannya.
Sasuke masih diam tak berkutik. Bukannya Sasuke tidak mau membelikannya untuk Hinata, tapi cokelat rasa tomat baru kali ini didengarnya. Kalau ada, pasti Sasuke sudah berpikir untuk memborongnya.
"Sekarang…" rengek Hinata karena Sasuke belum juga menunjukkan tanda-tanda akan memenuhi permintaannya.
"Tapi—" Sasuke tidak jadi meneruskan ucapannya karena air bening sudah berkumpul di pelupuk mata Hinata. Ia segera berdiri dan mengarahkan pandangannya ke toko swalayan 24 jam yang berdiri tidak jauh dari rumah sakit. Ia memutar otaknya sejenak sebelum mengatakan kepada Hinata agar tetap menunggunya di halte. Sambil menyeringai, ia melangkahkan kakinya menuju toko swalayan.
Sudah sekitar sepuluh menit Hinata duduk manis di bangku halte, menunggu Sasuke atau mungkin hanya menunggu cokelat rasa tomat pesanannya. Dengan harap-harap cemas, Hinata memusatkan perhatiannya ke arah Sasuke yang berjalan mendekat dengan sebatang cokelat di tangannya. Ia jadi penasaran dengan cokelat yang dibawa Sasuke. Padahal Hinata hanya ingin mengerjai Sasuke, lebih tepatnya menguji kepedulian Sasuke terhadap dirinya dan bayi mereka. Sebelumnya ia mengira kalau Sasuke akan kembali dengan tangan hampa—dan pada saat itu Hinata akan mengatakan bahwa ia memakluminya. Sayangnya perkiraan Hinata meleset. Walaupun belum begitu dekat, Hinata bisa melihat seringai di wajah Sasuke. Mungkin Sasuke merasa menang.
"Apa ini yang kau inginkan?" Sasuke mengangsurkan sebatang cokelat yang di bungkusnya tertulis 'tomat' dengan tinta warna merah—tulisan tangan Sasuke.
Hinata belum mengatakan apapun. Ia langsung berdiri dan memeluk Sasuke dengan erat. "Terima kasih," bisiknya.
.
.
.
Tengah malam pada bulan Februari yang dingin, Sasuke masih berada di dapur karena permintaan Hinata yang aneh. Beberapa menit yang lalu, Hinata mengeluarkannya secara paksa dari alam mimpi dan mengaku ingin minum susu cokelat rasa tomat tanpa susu. Sepertinya masih permintaan yang sangat biasa. Pasti Sasuke bisa dengan mudah memenuhinya.
Dengan mata setengah terpejam, Sasuke meletakkan segelas minuman berbahan tomat di meja depan Hinata. Saat Hinata mulai menyentuh gelasnya, Sasuke mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang paling dekat dengan Hinata. Ia menghadap ke Hinata dengan kepala yang tertumpu pada salah satu lengannya yang menumpu meja. Sesekali ia terlihat menutup mulutnya yang menguap pelan.
Hinata hanya mencicipi sedikit minuman buatan Sasuke sebelum mengembalikan gelasnya ke tempat semula. Wajahnya tampak merengut—Sasuke sudah menebak bahwa Hinata tidak puas dengan hasil pekerjaannya.
"Aku kan mintanya susu cokelat rasa tomat tanpa susu…" rengek Hinata sambil mengguncang pelan pundak Sasuke, "Kenapa malah jus tomat?"
"Apa salah?" Sasuke mencoba untuk tetap mempertahankan ketenangan dalam nada bicaranya, mungkin dengan sedikit tambahan kelembutan agar emosi Hinata tidak sampai meledak-ledak lagi.
"Tentu saja salah. Seharusnya ada cokelatnya," gerutu Hinata.
Sasuke yang masih diserang rasa kantuk hanya mengangguk tanda mengerti. Sepertinya otaknya kurang bisa diajak berpikir jika sedang membutuhkan istirahat.
"Mau kubuatkan lagi?" tawar Sasuke. Ia hanya menghela napas lelah karena Hinata malah melenggang ke kamarnya.
.
.
.
Beberapa malam berikutnya, Hinata belum membiarkan Sasuke tidur sampai pagi. Untuk malam yang ke sekian, Hinata kembali membangunkan Sasuke saat tengah malam dan bermaksud mengutarakan keinginan yang berbeda dari sebelumnya.
"Sasuke-kun…" panggilnya sambil mengguncang bahu Sasuke.
"Hm?" Sasuke belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya. Setelah Hinata mencubit kedua pipinya, akhirnya ia bangkit dan duduk dengan terpaksa. Sambil mengerjapkan mata, ia berharap agar besok tidak tertidur saat jam kerja.
Hinata memutuskan untuk segera menuju pokok pembahasan, "Temanmu yang berambut pirang itu—"
"Naruto?" sahut Sasuke yang kesabarannya mulai menipis.
"Iya," jawab Hinata dengan wajah memerah, "Ehm… dia manis."
"Hah?" Seketika Sasuke kehilangan rasa kantuknya. Matanya membulat tak percaya. Secara bersamaan perasaan tidak nyaman menyusupi hatinya karena melihat pipi Hinata yang bersemu merah.
"Dia itu lucu banget," Hinata masih terus membicarakan pria lain, seolah tidak peduli dengan perasaan Sasuke, "Aku ingin melihatmu menciumnya."
Bagaikan disambar petir, Sasuke menegang sesaat sebelum mencerna ucapan Hinata. Ia meneguk ludahnya dengan paksa, setelah menyadari bahwa telinganya dalam keadaan sehat.
"Kalau aku bagaimana?" Sasuke mengalihkan pembicaraan, setengah berharap agar Hinata melupakan keinginannya yang mungkin adalah bagian dari ngidam. Yang jelas, Sasuke tidak mungkin memenuhinya. Lebih tepatnya, ia tidak sudi.
"Sasuke-kun kurang ekspresif, sangat bertolak belakang dengannya," ujar Hinata dengan santainya, "Ekspresimu yang selalu datar itu terkadang mengundang orang untuk membencimu."
"Hah? Kata siapa? Yang melihatku pasti langsung jatuh cinta padaku."
"Mana bisa? Kau itu menyeramkan."
Sasuke harus mengakui bahwa Hinata lebih banyak bicara daripada biasanya. Hinata juga lebih berani mengungkapkan apa yang dirasakannya dan terlihat lebih percaya diri, yang lagi-lagi berbeda dari biasanya.
"Ayo menemui Naruto-kun…" rengek Hinata manja.
Dengan geram Sasuke kembali mengeluarkan suaranya, "Jangan bilang kalau kau jatuh cinta padanya, Hinata."
"Nggak, Sasuke-kun," jawab Hinata cepat, "Aku hanya ingin melihatnya dicium olehmu—"
"Tidak. Akan. Pernah," balas Sasuke tegas sambil memalingkan wajahnya agar tidak melihat mata Hinata yang berkaca-kaca.
"Ayolah…" suara Hinata terdengar semakin bergetar.
Sasuke sudah merasakan firasat buruk ketika Hinata memeluk lengannya.
"Kau mau membuat suamimu menjadi tidak normal, hah?"
"Hanya ciuman…" Isakan terdengar di sela-sela kata yang diucapkan Hinata, membuat Sasuke kembali mengalihkan pandangannya kepada Hinata. Benar saja, airmata sudah membasahi pipi Hinata yang memerah.
"Tak bisakah kau meminta yang lainnya? Jus tomat rasa susu, mungkin?"
"Nggak mau…"
Kesabaran Hinata terkikis karena Sasuke masih diam dan tidak menanggapinya lagi, "Ya, sudah! Kalau nggak mau, aku pulang saja ke rumahku!" suara Hinata tiba-tiba meninggi dan terdengar ketus. Ia bergegas turun dari ranjang dan hendak keluar kamar jika Sasuke tidak menahannya.
"Oke," akhirnya kata persetujuan itu meluncur dari mulut Sasuke, walaupun sebenarnya ditolak mati-matian oleh hatinya.
Sepertinya Sasuke kurang meyakinkan, karena Hinata masih belum menghentikan tangisannya.
"Oke, oke, baiklah. Aku akan mencium Naruto."
Sasuke ingin muntah setelah mengatakannya. Meskipun Hinata sudah tersenyum, ia belum bisa membalasnya.
"Cium di bibir, lho…"
"WHAT THE HELL…!" Mata Sasuke membelalak sempurna.
.
.
.
*[ To Be Continued ]*
.
.
.
To Miss Japanese: Jangan masukkan fic SasuNaru rated MA ke akun FFN-ku, sudah ku-update nih… ^^v Aku pingin datang ke acaranya… Ganbatte untuk dorama-nya! Pingin nonton… =3 Oh, iya, untuk request-nya, bisa nggak kalau selain SasuNaru? ==a SasuKarin, gimana?
To Namikaze Allem, Phar Phar Away, Phindank, Master Min Mie *yang mungkin baca*: Ayo datang ke acaranya mahasiswa sastra Jepang! Pingin pakai yukata dan nonton cosplay-nya… *cuma nonton* ==a Padahal pingin juga tuh ice cream party-nya… ==a Ayo refreshing dengan nonton dramanya, lucu banget lho, aku sampai ngakak, LOL XD *sudah baca naskahnya dan dengar rekaman suaranya* =3
Hiashi x Mikoto kayaknya bisa menjadi pasangan yang menarik… ^^
Ane semakin menggila. Ane butuh hiatus… (?) ==a
Chapter ini juga buruk. Pasti membosankan. Saya butuh kritik dan saran… Y_Y
.
.
.
*[ Arigatou Gozaimashita ]*
.
.
.
R
E
V
I
E
W
