[REMAKE dari novel karya Sherls Astrella]

Summary: Pangeran Mark dari Kerajaan Helsnivia mengakui Jaemin Yvonne Lloyd, putri Duke of Cookelt dari Kerajaan Trottanilla, adalah seorang gadis jelita yang mempesona, gadis tercantik yang pernah ia temui. Namun, ia juga adalah satu-satunya gadis yang tidak akan pernah ia sentuh. Ia adalah putri haram Duke of Cookelt, putri dari seorang wanita hina, dan juga putri tercinta Duke. Setiap hari Duke membuatnya berkencan dengan putri tercintanya. Dan, pada puncaknya, melamarnya untuk sang putri haram! Sang petualang cinta itu bersumpah ia tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya apalagi menjadikannya istri.

Jaemin Yvonne Lloyd tahu Pangeran Mark tidak tertarik padanya. Pangeran baik padanya hanya karena permintaan Duke, ayah angkat yang telah merawatnya semenjak enam tahun terakhir. Ia, sejujurnya, juga tidak tertarik pada sang Pangeran. Jaemin mengidamkan seorang pria yang setia seperti ayah kandungnya dan Pangeran bukan seorang pria setia.

Duke of Cookelt pernah bersumpah di depan makam sahabatnya, Taeyong Lloyd, ia akan memulangkan Jaemin ke Helsnivia. Demi sumpahnya, apapun akan ia lakukan termasuk melamar sang Putra Mahkota Helsnivia. Hanya inilah satu-satunya keinginannya sebelum meninggal.

.

.

.

.

.

.

.

.o0o.

Jaemin menatap tumpukan kertas kiriman Taeil. Tangannya membolak-balik tumpukan kertas itu tanpa satu niatpun untuk membaca surat yang ditunjukkan padanya.

Pagi ini setelah kunjungan Jisung yang mengagetkan, Jaemin berdiam diri di dalam kamar. Seperti yang dikatakan Mark, seorang pelayan datang mengantar makanan tak lama setelah Mark pergi. Beberapa saat kemudian datanglah berkas-berkas kiriman Taeil bersamaan dengan surat peringatan Taeil yang terlambat.

Taeil memperingatkan Jaemin kemungkinan Duchess Nayeon mengirim orang untuk membawanya pulang dengan paksa. Earl of Mongar tidak dapat menerima kenyataan Jaemin menghilang dari Sternberg. Ia marah besar! Calon istri yang telah diincarnya sejak pesta Earl of Striktar – satu-satunya pesta di mana almarhum Duke Johnny berhasil membuat Jaemin muncul, menghilang. Ia menyalahkan Duchess dan terus menerornya.

Jaemin tidak mengerti mengapa hidupnya dengan mudah berubah menjadi kekacauan setelah kematian Duke Johnny. Di Trottanilla, Earl of Mongar yang membuntutinya. Di belakangnya terus mengincar Jisung. Apakah yang ada di depannya? Di Helsnivia?

Mengapa ia begitu mudah dikejar-kejar pria? Mengapa setiap pria melihatnya dengan satu mata – seorang anak haram yang mau melakukan apa saja demi harta? Ia bukan anak haram! Ia tidak punya alasan menjadi wanita ketiga seperti ibu dalam pikiran mereka. Sekalipun ibunya adalah wanita simpanan, Jaemin tidak mau mengikuti jejak ibunya.

Jiwon, Dokter Seokjin, Taehyun, Earl of Mongar kemudian Jisung. Siapa lagikah yang akan mengacaukan hidupnya yang tenang?

Selama satu minggu ini Jaemin berhasil menyuruh Taeil menutup mulut pada keluarga Riddick tentang keberadaannya. Selama seminggu ini hanya Taeil satu-satuya orang di Trottanilla yang tahu keberadaannya. Jisung atau Duchess Nayeon pasti berhasil membuka mulut Taeil. Mungkin juga mereka berhasil mengikuti perantara diinya dan Taeil. Entah bagaimana caranya, mereka telah mengetahui keberadaannya!

'Kalau keluarga Riddick tahu keberadaanku, maka hanya masalah waktulah pria-pria itu tahu,' Jaemin menyadari dengan horor.

Seseorang mengetuk pintu.

'Siapakah orang yang datang menemuiku malam-malam seperti ini?' Jaemin berpikir pucat.

Ketukan di pintu terdengar mendesak.

Saat itulah Jaemin melihat sebuah sosok tinggi di balik pintu kaca menuju serambi. Darah Jaemin terkesiap. Tubuhnya membeku. Matanya melihat sosok itu tanpa berkedip. Buku-buku tangannya yang mencengkeram tepi meja memutih.

"Jaemin, kau sudah tidur?"

Suara tegas yang telah begitu dikenalnya itu langsung membuatnya lega.

"Jaemin," Mark memanggilnya lagi.

Jaemin beranjak membuka pintu.

"Mengapa kau belum tidur?" Mark memperhatikan Jaemin yang belum mengenakan gaun tidur.

"Saya tidak dapat tidur," jawab Jaemin. Kedatangan Jisung yang mendadak telah mengacaukan pikiran tenangnya.

Mata Mark beralih pada tumpukan kertas di meja kecil yang dipindahkan ke kamar Jaemin pagi ini. "Kau masih mengurusi masalah Cookelt?"

Jaemin mengangguk. Sesungguhnya ia berusaha tapi otaknya tidak dapat diajak bekerja sama. Hari ini ia sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Besok Taeil tidak akan menerima pesannya. Besok ia harus menyelesaikan jatah dua hari.

"Kau bekerja terlalu keras," Mark memperhatikan guratan-guratan kelelahan di wajah Jaemin, "Setiap hari aku melihatmu di Ruang Perpustakaan, berkutat dengan kertas-kertasmu. Apakah terjadi masalah di wilayah keluarga Riddick?"

"Ya," jawab Jaemin, "Salah satu peternakan terjangkit penyakit. Saya sudah menyuruh Jisung pergi ke sana untuk meihat keadaan tapi ia menolak. Domba-domba itu perlu segera diurus dan para peternak perlu diberi semangat. Jisung tidak mau mendengar saya. Ia hanya mau bersenang-senang. Jisung sama sekali tidak mau memahami tugas seorang Duke bukan hanya bersenang-senang tapi melindungi rakyat dalam wilayah kekuasaannya dan menjamin kesejahteraan mereka. Kemarin terjadi kebakaran di gudang penyimpanan gandum. Kami kehilangan sebagian besar gandum kami tapi saya berhasil menemukan sumber lain untuk memenuhi kebutuhan kami setidaknya untuk tiga bulan mendatang. Saya juga harus segera membangun gudang baru."

Mark terperangah. "Katakan, Jaemin, apa saja yang kauurusi? Sepertinya kaulah penguasa Cookelt bukan Jisung."

Jaemin tersenyum simpul. "Saya sudah mengurusi Cookelt semenjak Johnny jatuh sakit."

"Itulah sebabnya Duke memilihmu menjadi wali Jisung?"

"Mungkin," aku Jaemin, "Duchess sama sekali tidak mau mengurusi masalah Cookelt. Ia tidak mau kehilangan satu rambutpun karena Cookelt, katanya. Johnny tidak mau Yeri mengurus Cookelt dan Jisung sama sekali tidak bisa diharapkan. Yang dilakukannya tiap hari adalah bermain-main dan bersenang-senang. Tampaknya hanya saya yang bisa dipercayai."

"Itulah sebabnya kau tidak pernah muncul setelah Duke jatuh sakit," gumam Mark.

Kalau yang dimaksud Mark adalah pesta, ia salah. Jaemin tidak pernah muncul dalam pesta apa pun sebelum pesta Earl of Striktar. Ia adalah orang luar dalam keluarga Riddick. Tidak ada alasan ia muncul sebagai seorang Riddick. Sesungguhnya Duke Johnny telah beberapa kali mengajak Jaemin tapi Jaemin menolak. Jaemin tidak dibesarkan dalam pesta.

Dalam satu langkah Mark berdiri di depan Jaemin. "Tugasmu pasti sangat berat," tangannya membelai wajah Jaemin. Matanya menatap Jaemin dengan semua kelembutan yang dimilikinya.

Jaemin mundur – kaget oleh sensasi yang ditimbulkan oleh sentuhan Mark, oleh mata biru keabu-abuannya itu.

Hati Mark sakit melihat sinar ketakutan di mata cantik Jaemin. 'Aku pasti menakutinya,' sumpah Mark.

Sepanjang hari ini, setelah mengantar Jaemin, Mark sama sekali tidak dapat menyingkirkan Jaemin dari kepalanya. Tangannya terus merasakan getaran tubuh mungil itu. Di pundaknya, lehernya, ia terus merasakan gesekan rambut Jaemin. Hidungnya terus mengenang keharuman rambut Jaemin. Dadanya terus menyimpan kehangatan Jaemin. Bibirnya terus mencari kelembutan dan kemanisan bibir mungil itu.

Mark tidak pernah merasa seperti ini pada seorang wanita mana pun! Mark berpikir ini pastilah sensasi setelah menjadi seorang penyelamat. Namun ketika ia mencium kencannya hari ini, ia tahu ia merindukan tubuh Jaemin di pelukannya. Ia mencari kelembutan dan kemanisan yang sama di wanita cantik itu tapi ia hanya merasakan kehampaan. Tangan wanita itu yang memeluknya dengan erat dipenuhi desakan nafsu dan untuk alasan yang tidak diketahui Mark, untuk pertama kalinya ia merasa jijik. Mark tidak pernah mengecewakan kencannya tapi ia melakukannya sore ini!

"Tugas Anda lebih berat dari saya," kata Jaemin, "Sepanjang hari Anda berada di luar."

Mark menarik kursi untuk dirinya sendiri. Matanya menatap Jaemin dengan frustasi. "Tidak semembosankan seperti kau," tangan Mark membalik-balik kertas di meja, "Aku tidak perlu mengurusi kertas-kertas seperti ini. Tugasku hanyalah mewakili Papa dalam berbagai pertemuan, mengunjungi beberapa daerah untuknya."

"Saya juga terbiasa melakukan perjalanan untuk Johnny seperti Anda," Jaemin tersenyum, "Saya tidak suka berdiam diri di dalam rumah."

"Aku tidak melihatnya," mata Mark melihat Jaemin lalu beralih pada meja tempat ia duduk sepanjang hari.

"Seseorang harus melakukannya," Jaemin memberitahu, "Sejak Johnny sakit, saya mulai terbiasa duduk di belakang meja setiap hari."

"Kelak ketika aku harus menghadapi tumpukan kertas-kertas seperti ini, aku akan menyerahkannya padamu."

"Dengan senang hati," Jaemin ikut-ikutan bercanda, "Setelah saya bisa melepas Jisung, Anda harus mengangkat saya menjadi sekretaris Anda."

"Tentu," sahut Mark dan ia berpikir alangkah uniknya hubungan antara dua manusia. Ketika ia tahu siapa Jaemin, ia bersumpah tidak akan berhubungan dengan Jaemin. Pun ketika mereka pergi berduaan, mereka hanya mengucapkan salam di depan Duke Johnny dan setelahnya berdiam diri dalam dunia masing-masing. Sekali pun Mark tidak pernah berpikir mereka akan berada di sini membicarakan kewajiban mereka masing-masing seperti dua pria bersahabat!

Menambah daftar pertama Jaemin, Jaemin adalah wanita pertama yang pernah berbicara masalah pekerjaan dengan Mark. Mark tidak pernah membicarakan masalah pekerjaan sekalipun dengan ibunya. Bersama Ratu, ia hanya berbicara masalah wanita dan pernikahan.

"Duke pasti berharap kau adalah putranya."

"Ia berharap menikahi Mama," Jaemin tersenyum geli – terkenang keluh kesah Duke Johnny setiap sehabis ia bertengkar dengan Duchess Nayeon.

'Tentu saja ia tidak bisa,' pikir Mark, 'Ia telah menikah dengan Duchess Nayeon bahkan sudah mempunyai anak darinya.'

"Katakan, Jaemin, berapa usiamu," tanya Mark, "Aku mendengar kau pun tidak lebih pantas menjadi wali Jisung dari Jisung sendiri."

"Tentu saja. Saya hanya tiga tahun lebih tua dari Jisung. Satu-satunya yang bisa membuat saya menjadi wali Jisung adalah surat wasiat Johnny."

Mark terkejut. "Kau tidak terlihat seperti gadis belasan tahun..."

Jaemin tersenyum geli. "Pengalaman membuat seseorang menjadi lebih tua dari usia yang sebenarnya."

"Aku tidak melihat kau punya pengalaman lain selain menjadi wakil Duke setelah kau kembali ke Sternberg."

"Sejak bayi saya ikut ayah saya berpetualangan. Saya sudah melihat dunia sebelum Anda diijinkan meninggalkan Ririvia."

'Duke Johnny pasti sudah gila!' Mark berpikir dengan tidak percaya. Ia tidak hanya melibatkan ibu Jaemin tapi juga si bayi Jaemin dalam petualangan-petualangan cintanya. Tidak heran Jaemin tampak begitu paham akan pesonanya.

"Ibumu pasti adalah wanita yang mempesona."

"Ya," Jaemin mengangguk, "Mendengar Johnny sering memujinya, ia pasti adalah wanita yang mempesona."

Alis mata Mark terangkat.

"Saya tidak pernah melihatnya. Mama meninggal ketika melahirkan saya."

'Ini artinya Jaemin tidak pernah merasakan cinta kasih seorang ibu,' Mark berpikir simpati.

"Mengapa Anda mencari saya, Pangeran?" Jaemin mengembalikan arah pembicaraan yang sudah melenceng jauh ini.

Mark teringat tujuannya menemui Jaemin.

"Aku datang untuk memberitahumu beberapa hasil pembicaraanku dengan Papa."

Pembicaraan? Pembicaraan apa? Apakah mereka berbicara untuk menyembunyikannya di tempat lain?

"Papa setuju untuk menempatkan prajurit untuk mengawalmu."

Jaemin terperanjat.

"Mulai besok pagi akan ada dua prajurit yang bertugas mengawalmu. Pintu Ruang Perpustakaan akan dijaga ketat ketika kau bekerja di dalam. Kamarmu akan dijaga prajurit ketika kau tidur. Aku juga meminta pengurus Istana untuk menyeleksi tamumu."

"P-Pangeran...," Jaemin tidak dapat berkata-kata.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi. Jisung juga pria-pria sepertinya tidak akan dapat menyentuhmu."

Bukan itu yang dikhawatirkan Jaemin. Selama ini ia tidak pernah dikawal siapa pun. Duke Johnny juga tidak pernah menyuruh orang mengawalnya secara khusus ketika ia bepergian. Sekarang akan ada dua prajurit yang tidak dikenalnya yang akan selalu berada di sekitarnya.

Jaemin tidak menyukai ide itu tapi Mark tidak memberinya kesempatan untuk menolak. Jaemin bahkan ragu Mark akan menerima penolakannya.

Segera setelah menyampaikan apa yang menjadi tujuan kedatangannya, Mark mengucapkan selamat malam dan meninggalkan Jaemin ke kamarnya melalui pintu serambi – tanpa mendengar Jaemin. Dan keesokan paginya ketika Jaemin duduk di beranda memperhatikan keramaian taman seperti biasanya, seseorang tiba-tiba masuk.

Jaemin terperanjat. Markpun selalu mengetuk pintu kamarnya dari mana pun ia masuk. Siapakah gerangan orang yang memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu ini?

"Rupanya Anda sudah bangun, Lady Jaemin," Jaemin melihat sepasang mata dingin pelayan tengah baya yang menjemputnya ke Ruang Makan di hari pertama ia ada di Ririvia.

"Perkenalkan nama saya adalah Sooyoung. Mulai hari ini saya bertugas melayani Anda."

Jaemin merasa dunianya sudah terjungkir balik. Keberadaan dua prajurit yang selalu mengekornya sudah membuatnya tidak nyaman. Sekarang muncul orang yang akan selalu melayaninya.

Segerombolan pelayan memang selalu siap melayaninya ketika ia berada di Sternberg maupun di sini, Istana Ririvia. Namun Jaemin memilih untuk melakukan sendiri semuanya. Duke Johnny tidak pernah memaksanya dilayani. Jaemin juga berhasil meminimkan pelayanan para pelayan Istana selama ia berada di sini. Sekarang seorang pelayan secara khusus ditunjuk untuk melayaninya setiap saat!

Jaemin harus bicara pada Mark.

Jaemin tidak yakin ia bisa berbicara dengan Mark pagi ini di Ruang Makan. Suasana Ruang Makan tidak jauh berbeda dari hari pertama ia berada di sini. Ratu Doyoung masih menatapnya dingin. Raja Jaehyun dan Mark masih berbicara masalah yang tidak dipahami Jaemin. Satu-satunya yang berubah adalah Jaemin sudah biasa makan di bawah mata dingin yang tidak pernah lepas dari gerakannya. Hanya ketika ada orang lain yang bergabung dengan merekalah, Ratu Doyoung sedikit melepaskan Jaemin dari pengawasannya.

Bila ia tidak dapat berbicara dengannya di Ruang Makan, maka ia harus mencari kesempatan lain, Jaemin memutuskan.

Segera setelah memperkenalkan diri dengan singkat, Sooyoung membuka lemari baju Jaemin.

"Apa-apaan ini!?" pekik Sooyoung kaget dan ia membuka lemari yang lain. "Apa-apaan ini, Lady Jaemin!?" tanyanya histeris menunjuk gaun-gaun Jaemin yang jauh dari kata mewah. "Mengapa baju rongsokan seperti ini ada di sini!?"

"Aku datang untuk tinggal di desa bukan di Istana," Jaemin tidak suka cara pelayan ini menyebut gaun-gaunnya.

"Ini adalah Istana, M'lady!" pekik Sooyoung kian histeris, "Bukan desa!" Sooyoung mengambil gaun-gaun Jaemin.

"Apa yang hendak kaulakukan?" Jaemin dengan panik menghentikan Sooyoung.

"Membuang barang rongsokan ini," jawab Sooyoung santai, "Anda tidak bisa mengenakan baju seperti ini di Istana."

"Aku tidak punya baju lain selain ini," Jaemin berkata tegas.

Sooyoung menatap Jaemin lekat-lekat. "Tunggulah saya di sini," katanya dan ia menghambur keluar.

Jaemin dibuat pusing dibuatnya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pelayan ini. Sebelum ia kembali dan membuat kekacauan, ia harus meninggalkan tempat ini!

"Selamat pagi, M'lady," dua pria berseragam putih menyambut Jaemin.

"Mau ke manakah Anda?" tanya seseorang.

Jaemin melihat dua prajurit yang berdiri di sisi kanan kiri pintu kamarnya itu dengan bingung.

"Sooyoung meminta Anda menantinya di dalam kamar," kata yang lain.

Jaemin menutup kembali pintu kamarnya.

Bagus! Sekarang dunianya benar-benar kacau! Sang anak haram yang miskin sekarang dikawal seperti orang penting dan dilayani seperti seorang putri!

Tak lama kemudian Sooyoung kembali dengan gaun-gaun sutra yang Jaemin tidak tahu dari mana munculnya. Tanpa meminta ijin Jaemin, Sooyoung mengeluarkan semua isi lemari baju Jaemin.

"Apa yang kaulakukan!?" Jaemin menyelamatkan gaun-gaunnya sebelum Sooyoung bertindak lebih jauh.

"Anda tidak bisa mengenakan baju rongsokan ini," entah untuk yang keberapa kalinya Sooyoung mengatakannya.

"Aku akan mengenakan gaun-gaun pilihanmu itu tapi kau tidak boleh membuang gaun-gaunku," Jaemin merengkuh gaun-gaunnya penuh perlindungan.

"Saya mengerti," Jaemin mendengar nada puas Sooyoung.

Untuk beberapa puluh menit ke depan Jaemin tunduk pada perintah Sooyoung sehingga Jaemin merasa sangat bebas ketika ia menginjakkan kaki di depan kamarnya.

"Perubahan yang cukup mencolok," komentar Mark yang baru keluar kamar. Matanya memperhatikan Jaemin mulai dari rambutnya yang tertata rapi dengan model terbaru hingga gaun sutra yang membalut tubuh moleknya.

"Seorang pelayan datang membuang baju-baju saya dan memakaikan gaun ini pada saya dengan paksa," Jaemin menggerutu.

"Pelayan?"

Sooyoung muncul.

Mark terkejut. Mengapa pelayan ibunya ada di sini?

"Pangeran, apa yang Anda lakukan di sini?" Sooyoung berkata dengan nadanya yang menyalahkan, "Paduka Raja dan Ratu pasti telah menanti kalian."

Apakah ibunya khusus mengirim Sooyoung untuk menyelidiki hubungannya dengan Jaemin? Pikiran itu menimbulkan ide pada Mark. Mark melingkarkan tangan di pinggang Jaemin, menariknya mendekat, dan sebelum Jaemin mempunyai kesempatan menjauhkan diri, Mark menjatuhkan ciuman kening Jaemin.

Jaemin terperanjat. Tubuhnya memaku.

"Pangeran!" pekik Sooyoung memprotes, "Apa yang Anda lakukan!? Anda tidak boleh menyentuh Lady Jaemin!"

Pekikan itu menyadarkan Jaemin. Ia menjauhkan diri.

"Jangan membuat Paduka menanti lebih lama lagi!" Sooyoung memegang tangan Jaemin dan menariknya pergi.

Jaemin melihat dua prajurit yang menjaga pintu kamarnya langsung mengekor diikuti Mark dengan senyumnya yang aneh. Saat itulah Jaemin menyadari sebuah kejanggalan. Mark yang merupakan Putra Mahkota Helsnivia tidak diekor seorang prajurit pun! Ia yang hanya seorang tamu diekor dua prajurit ditambah seorang pelayan yang tidak menyenangkan.

Ia harus bicara dengan Mark! Jaemin memutuskan untuk mengembalikan hidup normalnya – hidup yang ia bayangkan ketika ia berada dalam kapal menuju Magport.

.o0o.

"Kulihat Sooyoung melayanimu dengan baik," mata Mark melihat senampan teh dan makanan ringan di sudut meja.

Jaemin mengangkat kepalanya.

"Ia mengekang saya," gerutu Jaemin.

Setelah makan pagi yang menegangkan, Sooyoung menyambutnya dengan berkas-berkas kiriman Taeil. Ketika Jaemin kembali ke kamarnya untuk mengambil berkas-berkas yang ditinggalkannya di meja, ia melihat gaun-gaunnya tertumpuk rapi di tempat tidur dan gaun-gaun sutra yang lembut dan mewah terbaris rapi di dalam almari baju.

Prajurit menjaga ketat pintu Ruang Perpustakaan dan Sooyoung selalu datang dari waktu ke waktu untuk melihat keadaannya. Kalau keberadaan mereka tidak bisa dikatakan menganggu Jaemin, maka mereka telah membuat Jaemin merasa tidak nyaman. Hal itu semakin menguatkan keinginan Jaemin untuk meninggalkan Helsnivia.

Jaemin menghargai perhatian Mark akan keamanan dan kenyamanannya selama di Ririvia tapi ini sudah di luar batas. Yang terpenting, Jisung sudah mengetahui keberadaannya. Apa gunanya pengawal-pengawal itu kalau Jaemin tidak bisa menghentikan kecemasannya? Apa gunanya gaun-gaun mewah itu? Jaemin tidak pernah berniat tinggal lama di Helsnivia!

Ketika mengikuti Mark, Jaemin hanya berniat tinggal di Helsnivia bukan di Istana Ririvia. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk meninggalkan Istana. Pertama-tama Jaemin akan berkeliling untuk melihat tanah air ibu yang tidak pernah dikenalnya kemudian Jaemin akan pergi berkelana seperti ayahnya.

Kali ini Jaemin sudah memikirkan masalah keluarga Riddick. Ia akan tetap berhubungan dengan Taeil demi surat wasiat almarhum Duke Johnny. Jaemin tidak perlu khawatir seorang pun dari keluarga Riddick akan menemuinya karena ia tidak akan menetap di satu tempat untuk jagka waktu yang lama.

Mark tertawa geli melihat wajah cemberut Jaemin. "Kau pasti tidak menyukainya."

Jaemin tidak menjawab. Mark pasti dapat melihat jawabannya di wajahnya.

"Aku juga tidak menyukainya," Mark mengakui, "Tapi ia tidaklah seburuk itu. Ketika kau mengenalinya, kau akan menyukainya. Lagipula ia adalah pelayan terbaik ibuku."

Pelayan Ratu!? Jaemin membelalak. Ini menjelaskan sudah tatapan matanya yang selalu ingin mengorek isi hati Jaemin. "Ia pasti dikirim Ratu untuk memata-matai saya," Jaemin berkomentar jujur, "Ratu pasti curiga pada hubungan di antara kita."

"Kau tidak menyukainya?"

"Tidak," Jaemin menjawab lugas.

"Kau tidak menyukainya?" Mark mengulang. "Setiap wanita menyukainya."

"Saya bukan mereka," Jaemin memberitahu.

"Kau juga tidak membenciku."

"Ya," Jaemin membenarkan, "Saya tidak punya alasan membenci Anda juga menyukai Anda."

Mark tertarik.

"Anda tampan dan menarik tapi Anda bukan pria yang akan saya cintai. Saya tidak suka pria seperti Anda."

Mark sudah sering mendengarnya. Dalam petualangannya, Mark sadar ada sebagian wanita yang tidak menyukainya. Mark juga tahu ada sebagian wanita yang berpura-pura membencinya. Tapi entah mengapa komentar Jaemin benar-benar mengenai dadanya, tak peduli apakah ia berpura-pura atau bersungguh-sungguh. Mark melihat mata Jaemin yang begitu tenang seolah-olah ia tidak menyadari kata-katanya telah melukai Mark. "Benarkah itu?" tangan Mark menyeberangi meja – menengadahkan dagu Jaemin.

Jaemin terperanjat. Lagi-lagi sentuhan Mark membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Jaemin menarik mundur badannya tapi sepasang mata keabu-abuan itu membiusnya.

Mark membungkukkan badan ke depan – menangkap bibir Jaemin. "Kau begitu manis," bisiknya tanpa menghentikan ciumannya.

Sejak ia mencium Jaemin, ia selalu mencari-cari kemanisan seperti ini tapi ia tidak menemukannya. Sekarang Jaemin telah menyerap semua seleranya akan wanita lain. Sore ini ia mempunyai kencan tapi setelah melihat Jaemin, ia ingin berada di sisi gadis ini untuk sisa hari ini – membantunya dengan urusan yang menyita seluruh perhatiannya. Ingin rasanya ia menyingkirkan semua kesibukan gadis ini sehingga ia mempunyai waktu luang untuknya.

'Ia telah mengatakannya ratusan kali,' pikir Jaemin dengan sedih. Jaemin berharap Mark hanya mengatakannya pada dirinya seorang.

Pikiran itu membuat Jaemin diliputi ketakutan luar biasa.

Mengapa sebelumnya ia tidak menyadarinya? Mark adalah pria yang tidak akan ia cintai. Mark juga pria yang paling mungkin membuatnya jatuh cinta. Mark adalah pria yang berpengalaman dengan wanita. Ia berbeda dengan pria-pria sebelumnya. Mark tahu benar bagaimana menaklukannya. Mark memasuki kehidupannya tepat ketika ia membutuhkan seseorang untuk bersandar. Mark memperlakukannya dengan lembut. Ia berpikir untuknya. Mark dengan segala reputasinya, tidak akan pernah tertarik apdanya. Mark adalah Putra Mahkota dan ia hanya anak seorang pengelana yang sebatang kara. Seharusnya ia tahu sejak detik pertama Mark menimbulkan sensasi dalam dirinya melalui sentuhannya. Mark tidak hanya membangkitkan kenangan akan ayahnya tapi juga telah membangkitkan kerinduan akan perlindungan seorang pria!

Mark menyadari perubahan ekspresi Jaemin dan ia melepaskan bibir Jaemin. Mark yakin ia telah membuat takut gadis ini. Mark melihat mata yang ketakutan itu dengan sedih.

"Katakan, Jaemin, apakah aku yang pertama?" Mark melihat bibir yang bergetar itu.

Jaemin mengangguk. Mark adalah pemuda pertama yang memperlakukannya dengan penuh perhatian di luar kedua ayahnya. Ia harus pergi sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada orang yang tidak boleh dicintainya dan tidak akan dicintainya ini.

"Saya perlu bicara," Jaemin merasa suaranya tertelan kepanikannya.

"Tidak sekarang," Mark berdiri tegak di seberang Jaemin, "Aku punya janji. Aku harus segera bersiap-siap."

'Pasti itu adalah wanita,' Jaemin berpikir tidak senang.

"Saya tidak akan membuat teman kencan Anda menanti Anda," Jaemin bersikeras.

"Kita akan berbicara malam ini," Mark beranjak pergi. Ia tidak siap mendengar protes Jaemin atau kata-katanya yang akan menyakiti hatinya.

Jaemin berdiri. Ia harus mengatakannya! "Saya ingin pergi."

Langkah kaki Mark terhenti. Ia menatap Jaemin – berharap ia salah mendengar.

"Saya harus pergi dari sini!" Jaemin menegaskan.

"Kita akan membicarakannya malam ini," kata Mark dan ia bergegas keluar sebelum Jaemin mengulangi keinginannya yang mengejutkan itu.

Mark menyumpahi dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia melewati batas. Tidak seharusnya ia membuat Jaemin takut. Sekarang gadis itu ingin pergi.

Mark tidak mengerti mengapa ia begitu takut melepaskan Jaemin. Mungkin gadis ini memiliki sesuatu yang menarik jiwa petualangannya. Apapun itu, Mark merasa ia tidak bisa melepaskan Jaemin dari matanya. Sesuatu memperingatinya. Begitu ia melepaskan perhatiannya dari gadis ini, ia tidak akan pernah dapat menemukan gadis ini lagi. Dan untuk sebuah alasan yang tidak diketahuinya, ia tidak ingin itu terjadi! Jaemin memperhatikan kepergian Mark dengan putus asa. Pagi ini ia tidak bisa berbicara dengan Mark. Begitu selesai sarapan, Mark pergi. Jaemin tahu Mark kadang kembali di siang hari sebelum ia pergi lagi. Mark tidak pernah menemuinya ketika ia kembali di siang hari. Sekarang ia menemuinya dan Jaemin melepaskan kesempatan itu. Malam ini setelah mereka kembali ke kamar mereka masing-masing, Jaemin harus menemuinya. Ia harus berbicara dengannya!