Disclaimer, Title, Story, Warning bisa dilihat sendiri di chapter 1 dan chapter 2.

terima kasih atas review yang sudah diberikan! mulai dari chapter ini ke selanjutnya, balasannya bisa dilihat di inbox pm masing-masing. :)

spesial terima kasih kepada semua yang sudah berkenan membaca cerita ini.

langsung saja.


Shiroi Yuki No Purinsesu wa.


Luka memang berpikir itu konyol. Diselamatkan oleh seseorang yang hanya pernah kau ajak mengobrol dua kali, saat dia memberikan pertolongan lewat ponselnya dan juga saat di perpustakaan saat Luka memintanya untuk mengajarinya mata kuliah Profesor Hiyama.

Dia sama sekali tidak mengerti alasan kenapa seorang Shion Kaito malam itu bisa ada di depannya, menarik tangannya, mengenggamnya, serta mengatakan bahwa laki-laki itu akan melindunginya apapun yang terjadi.

Semua jelas terasa tidak masuk akal. Dan hal yang paling tidak masuk akal adalah perasaan hangat yang muncul di dalam hatinya saat Kaito memeluknya erat-erat, mencoba melindunginya dari tembakan riffle yang mengarah ke kepala Luka.

Ini konyol. Tidak masuk akal. Bodoh.

Akan tetapi, saat itu, saat Kaito memeluknya erat-erat di tengah cahaya putih yang membelah kegelapan malam, Luka menyadarinya. Perasaan ganjil tiba-tiba muncul di hatinya saat kilauan cahaya putih tadi yang perlahan berubah warna menjadi warna merah, biru, kuning, serta ungu yang indah.

Luka membuka matanya dan serentak mata biru langitnya bertemu dengan mata Kaito yang sewarna dengan birunya lautan. Saat itu, rasanya waktu telah berhenti khusus untuk mereka berdua. Untuk pertama kalinya dalam hidup Luka, dia mengakui bahwa ada seseorang di dunia ini yang memiliki bola mata yang sangat indah seperti Kaito.

"Apa kita sudah mati?" bisik Kaito pelan.

Luka hanya terdiam sambil terus menatap mata Kaito. Mereka berdua seakan tidak menyadari bahwa jarak kedua wajah mereka hanya beberapa senti saja. "Tidak mungkin, kan?"

"Kenapa kau malah balas bertanya?"

Langit malam di atas mereka berdua mulai bercahaya dan dipermainkan oleh warna-warni terang yang indah. Kembang api. Dan mendadak Luka merasa malam ini adalah malam yang paling membuatnya bahagia.

Malam kematiannya...

_Tunggu dulu! Memangnya kembang api ada di alam yang lain?

Mereka berdua seakan baru bangun dari mimpi panjang saat menyadari bahwa mereka berdua sama-sama masih hidup. Kaito langsung melepaskan pelukannya dan berdiri dengan muka memerah. Mereka berdua tepat berdiri dibawah air mancur cahaya malam.

"Kakooooiiiii!"

Kaito menoleh ke sekitarnya. Suara itu berasal dari atas, dari arah helikopter yang terbang rendah. Tak lama kemudian, seorang anak kecil melompat dari sana. Anak kecil dengan yukata pendek berwarna merah dengan hiasan bunga sakura serta obi hitam. Kaus kaki hitam selutut serta sepatu bertali setinggi dua senti terpasang pas di kakinya. Di atas rambutnya yang lurus, terdapat kuping kucing merah. Secara keseluruhan, anak perempuan itu mengingatkannya pada tokoh anime Hello Kitty yang pernah dikeluarkan oleh pihak Sanrio.

Dia mendarat dengan sempurna tepat di antara Kaito dan Luka.

"Hentikan semua ini, bisa kan?" sahut Luka dingin. Dia berdiri dan merapikan gaunnya lalu menatap anak kecil dengan rambut panjang yang sewarna dengan rambut Luka.

"Heee... Padahal yang tadi itu keren sekali lho, Luka-chan!" Anak kecil itu tersenyum lebar sehingga membuat kedua bola matanya yang berwarna kuning terang menyipit perlahan. "Padahal padahal, Neko-chan kira Ojii-sama yang akan datang. Ternyata yang datang malah Ouji-sama! Kyaa!"

Kaito merasa ada sesuatu yang salah dengan anak perempuan itu. Tidak hanya dari gaya bicaranya, tapi juga dari penampilannya yang bagaikan seorang maskot boneka kucing. Ini sudah malam dan kau masih memakai kostum cosplay? Yang benar saja! Dia pasti benar-benar seorang otaku yang hebat!

Anak perempuan itu memainkan payung bergambar tokoh Hello Kitty dengan senyuman lebar. "Nee... aku sama sekali tidak tahu kalau kau memiliki seorang Ouji-sama, Luka-chan!"

Luka menarik napas panjang dan menghembuskannya dalam sekali helaan. Mata birunya menatap wajah anak kecil di depannya. "Dengar, Nekomura... ini sama sekali bukan permainan. Aku tidak suka permainan yang seperti ini!"

"Heeee... kenapa kenapa?" Gadis kecil itu berlari lalu menarik tangan Luka. "Habisnya... awalnya kan aku hanya ingin membuat kejutan!"

Rasanya syaraf di otak Kaito sama sekali tidak bekerja. Dia sama sekali tidak mengerti tentang apapun yang keluar dari kedua orang yang sama-sama memiliki rambut berwarna merah muda di hadapannya itu. Apakah orang dengan warna rambut merah muda memang memiliki bakat terpendam untuk hanya mengatakan info sebagian saja dan menyuruh orang lain menebak sisanya? Apakah mereka semua tipe tsundere yang sama?

"Habisnya... Luka-chan tidak pernah mengunjungiku lagi! Awalnya aku ingin berkenalan dengan sahabat baikmu, tapi Lily-chan gagal membawanya..."

Kaito bisa merasakan aura di sekitar Luka berubah. Rambutnya yang panjang tertiup angin dan menutupi sebagian wajahnya saat helikopter mendarat.

"Sahabat yang mana?" tanyanya pelan.

"Eeeh? Sahabat baikmu tentu saja! Yang dikuncir dua..."

Orang yang dimaksud tentu saja adalah Hatsune Miku yang awalnya menjadi korban penculikan komplotan ini.

"Aah... Jadi, Hatsune-san juga terpaksa terlibat ya..."

Saat helikopter sudah mendarat dengan tenang, barulah Kaito bisa melihat wajah Luka kembali. Tuan putri itu sedang tersenyum ganjil dengan sorot mata yang tidak bisa dilihat oleh Kaito.

"Jadi jadi..." Anak kecil itu berlari ke arah Kaito tanpa melihat ekspresi Luka barusan. "Siapa nama Ouji-sama ini?"

Kaito memalingkan perhatiannya dari Luka ke anak kecil tadi. Dahinya berkerut saat mendengar nama panggilan baru yang ditujukan kepadanya itu. "Ouji-sama?" bisik Kaito. "Ah... ya... Shion Kaito... dan kurasa aku bukanlah Ouji-sama yang kau maksud."

"Tidak! Tentu saja kau adalah Ouji-sama! Kau menolong Luka-chan tanpa diminta! Bukankah itu menunjukkan besarnya perasaan cinta yang kau miliki untuk Luka-chan! Kyaa! Itu manis sekali!"

Itu adalah hal terkonyol yang pernah didengar oleh Kaito. Perasaan cinta pada Luka? Yang benar saja! Dia bahkan baru mengalami dua kali percakapan dengan si tuan putri yang selalu bersikap seenaknya itu.

"Aku... Iroha Nekomura... Neko-chan... Sepupu Luka-chan!" lanjut anak kecil itu lagi. "Lihat kan... rambut kami berdua memiliki warna yang sama!"

Seorang perempuan berambut hitam yang juga memakai gaun tiba-tiba melewati Kaito menuju tempat Luka berdiri dan menyerahkan mantel hangat untuk nonanya itu. Kaito segera menoleh ke belakang dan melihat Leon berdiri tidak jauh darinya sambil memegang perutnya.

"Neko-chan baru kembali dari Rusia dan ingin membuat pesta kejutan untuk Luka-chan!" lanjut Nekomura bersemangat seakan tidak peduli pada situasi di sekitarnya. "Sebenarnya Neko-chan juga ingin mengajak teman baik Luka-chan... umm... namanya... umm... etoo... siapa, Lily-chan?"

Gadis pirang dengan mata biru tadi maju mendekati mereka berdua. "Hatsune Miku, Hime-sama."

"Ah ya! Itu dia! Awalnya Neko-chan ingin membawanya juga, tapi kelihatannya Ouji-sama salah paham. Tapi tapi... Neko-chan benar-benar tidak bermaksud buruk. Biar bagaimana pun Neko-chan ingin agar Luka-chan merasa senang."

"Aku akan baik-baik saja kali ini... Ini bukan penculikkan... ini hanya..."

Jadi, ini cuma salah paham anak kecil itu yang menginginkan suatu kehebohan tanpa alasan yang jelas sebagai bentuk perkenalan kepada sahabat Luka, pikir Kaito. Pantas saja saat Kaito bertemu dengan gadis pirang itu di depan lift, gadis itu sama sekali tidak melakukan perlawanan apapun padanya. Mungkin masih bertanya-tanya apakah Kaito ada di pihak mereka atau tidak.

Sama halnya dengan penculikkan Miku. Semuanya menjelaskan kenapa si penculik yang seharusnya sudah kabur malah tetap duduk minum kopi dengan santainya di Sudoh-Bucks dan menyambut Kaito serta Leon dengan senyuman manisnya.

Tentang Meiko yang dibius mungkin supaya membuat situasi semakin heboh sehingga akal rasional manusia tidak bisa digunakan karena panik.

"Soal riffle itu... Neko-chan benar-benar merasa senang karena Ouji-sama langsung memeluk Luka-chan tanpa pikir panjang lagi! Sebenarnya itu untuk menguji keseriusan Ouji-sama dan ternyata firasat Neko-chan benar-benar tepat. Ouji-sama benar-benar keren!" Nekomura menarik tangan Kaito sambil tersenyum lebar. "Benar-benar seperti Knaito! Eh... benar kan, Lily-chan? Orang Jepang mengatakan Knight dengan Knaito?"

"Ya, Hime-sama."

"Ayo! Kalian akan jadi tamu istimewa dalam pestaku!" Nekomura tersenyum lebar sambil berlari ke arah pintu masuk. Dia melambaikan kedua tangannya. "Ouji-sama harus siap dengan kuda putihnya!"

Kaito balas melambaikan tangan sambil tersenyum aneh. Kenapa mendadak dia harus mengikuti permainan anak kecil itu?

Dengan khawatir, mata birunya segera melirik Luka yang masih menundukkan kepalanya dan berjalan mendekatinya. Saat Luka tepat berdiri di depannya, Kaito dapat mendengarnya berbisik pelan.

"Gomenne..."

Ucapan maaf buat apa? Kaito mengerutkan dahinya, sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Luka barusan. Dia sama sekali tidak bersalah, tapi minta maaf. Itu adalah hal teraneh yang didengar oleh Kaito.

Luka berlalu bersama seluruh pengawal Nekomura. Hanya tinggal Leon dan Kaito sendirian disana bersama helikopter tanpa pilot. Kaito melihat Leon tersenyum kepadanya.

"Yah, tampaknya kejadian ini hanyalah keisengan salah satu nona kaya lainnya. Aku bahkan tidak tahu kalau ternyata pemilik Ronec adalah Iroha Nekomura-sama. Orang-orang yang berhubungan dengan Ojou-sama memang benar-benar hebat."

"Ojou-sama? Bukan Ojou-chan?"

Leon menutup rapat mulutnya lalu mengarahkan pandangannya ke lantai Ronec. "Kau pasti marah padaku yaa... Yaah, wajar sih. Aku juga akan marah kalau selama ini aku dibohongi oleh orang terdekatku."

"Tidak... mungkin aku hanya terkejut sekaligus heran."

Keduanya diam selama beberapa menit kemudian. Kemudian, Leon duluanlah yang membuka mulutnya. "Aku bekerja pada Megurine Luka-sama sebagai ef Glace, pengawal bayangannya."

"Untuk apa?"

Leon mengangkat bahunya. "Entahlah. Mungkin karena Luka-sama sangat cantik."

"Jangan memasang wajah palsu lagi, Leon!"

Senyum Leon seketika hilang dari wajahnya. "Aku ikut sekolah pengawal saat di Inggris dulu. Aku memang sudah dididik untuk menjadi pengawal. Pertama kali dipekerjakan saat Ojou-sama berada di tingkat sekolah menengah atas."

"Lalu pengawal bayangan?"

"Ya... tidak seperti Sakine Meiko. Keberadaanku penting untuk mengawal Ojou-sama yang perlahan mulai menolak adanya perlindungan berlebihan. Dia ingin menjadi gadis normal yang sangat biasa saja. Padahal..."

"Padahal dia tidak akan pernah menjadi gadis normal yang sangat biasa saja kan?" potong Kaito sambil tersenyum. "Kau hebat sekali dan... maaf karena aku tidak pernah menyadarinya..."

"Tidak... maksudku..."

"Pasti sulit sekali bersikap bagaikan orang lain..." Lagi-lagi Kaito memotong ucapan Leon. "Maaf karena aku tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya. Tapi... ini adalah permintaan egoisku..." Kaito diam sebentar seraya menatap kedua bola mata Leon yang kehijauan."Biar bagaimana pun, jangan pernah berhenti menjadi temanku. Mulai sekarang, kau boleh bersikap seperti dirimu apa adanya... Leon yang sebenarnya. Bukan Leon yang menggunakan topeng agar tidak ada yang tahu jati dirinya yang sebenarnya!"

Mata Leon melebar. Dia sama sekali tidak menyangka Kaito akan mengatakan hal yang sangat manis seperti itu padanya. "Hei, Kaito..."

"Apa?"

"Jangan mengatakan hal seperti itu tahu!"

"Kenapa?"

"Nanti aku menyukaimu."

Kaito langsung mundur menjauhi Leon. "Jangan bercanda, bodoh!"

Leon tertawa hingga mata hijaunya menyipit. Setelah selang beberapa detik, Leon melanjutkan ucapannya dengan senyum pasrah."Yah, walaupun pada akhirnya mungkin aku akan dipecat karena malah menunjukkan identitasku pada Ojou-sama."

"Kurasa tuan putri tidak akan melakukannya. Dia tidak akan memecatmu! Aku yakin itu!"

Leon menepuk pundak Kaito. "Jangan jatuh cinta padanya!"

Mereka berdua sama-sama memasang cengiran lebar. Setidaknya Kaito bisa mengerti, sisi Leon yang dilihatnya adalah sisi asli laki-laki itu. Dia bisa mempercayainya dan setidaknya dia sudah memutuskan untuk mempercayainya apapun yang terjadi.

白い雪のプリンセスは


白い雪のプリンセスは

Kaito menatap dirinya di depan cermin. Sebuah pakaian biru gelap dengan jubah berwarna biru menempel di tubuhnya. Ada ikat pinggang berwarna emas yang melingkari pinggangnya serta sedikit aksesoris di bagian dada yang menghiasi dada bidangnya.

Sesungguhnya, dia benar-benar terlihat seperti pangeran dalam negeri dongeng.

Dia menghela napas panjang dan menyesali keberadaannya disini. Kenapa dia harus ikut bermain dengan anak kecil seperti Iroha Nekomura yang pikirannya sudah teracuni hal-hal berbau fiksi?

"Kau terlihat keren dengan cosplay seperti itu!"

Kaito bisa mendengar Leon menahan tawa di belakangnya.

"Pujianmu sama sekali tidak membuatku senang, Lily-san."

Kaito melihat gadis pirang dengan mata berwarna merah muda itu tersenyum di dalam cermin. Matanya tentu saja menggunakan lensa kontak. Entah kenapa, sepertinya gadis itu suka sekali mengganti warna matanya. "Aku berani bersumpah Anda sangat keren, Shion-san!"

"Makanya kubilang..." Kaito membalikkan badannya sehingga sekarang dia bisa melihat si gadis pirang itu secara langsung. "Pujianmu itu tidak membuatku senang."

"Karena bukan Luka-sama yang memujimu?" Lily memasang tatapan penuh maksud. Saat melihat Kaito menaikkan sebelah alisnya, Lily melanjutkan, "Ayolah! Anda tahu apa yang saya maksud!"

Giliran Leon yang sekarang menaikkan sebelah alisnya. "Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Lily-san."

"Benar juga. ef Glace, kau adalah pengawal bayangan yang tidak pernah bertemu langsung dengan Luka-sama bukan? Wajar saja kalau begitu."

"Maksudnya?"

"Menurut pendapat saya sebagai orang yang sudah mengenal Luka-sama dari dulu, Luka-sama perlahan mulai berubah."

"Berubah?" Kaito rasanya ingin tertawa. "Jadi Sailor Moon? Power Ranger? Wedding Peach? Card Captor Sakura?"

Leon segera menatapnya tajam. "Jangan mengaitkan hal fantasi yang tidak maksud akal dengan Ojou-chan!"

"Tapi, menurutku itu benar sekali, Shion-san. Rasanya, Luka-sama seakan sudah bermetamorfosis. Saya sama sekali tidak menyangka kalau Luka-sama akan ditolong seorang Ouji-sama seperti Anda. Bahkan, saat kami menyelidikinya dan mengetahui bahwa dia pernah bicara beberapa kali dengan seseorang, rasanya saya dan Hime-sama benar-benar senang."

Kalau mendengar kata-katanya barusan, rasanya seakan seorang Iroha Nekomura dan Lily telah mengamati Megurine Luka sejak dulu kala.

"Hei, mungkin ini agak kurang sopan, tapi kau tadi bilang kalau kau dan Iroha-san sudah mengamati Megurine-san sejak lama. Maksudnya?"

"Hah? Jangan-jangan Shion-san tertipu juga ya?" Lily menggeleng-gelengkan kepalanya. "Usia Hime-sama sebenarnya..." Gadis itu maju perlahan dan membisikkan sesuatu di telinga Kaito.

Suara bisikan Lily yang lembut serta napasnya yang menggoda membuat mata Kaito melebar. Dia tidak pernah sedekat ini dengan gadis manapun sebelumnya. Akan tetapi, bukan itu saja yang membuat dada Kaito bergemuruh hebat serta membuat iris matanya melebar, melainkan juga kenyataan akan umur seorang Iroha Nekomura.

"Tidak percaya?" Lily mundur menjauhi Kaito. "Tapi, itu kenyataannya."

"Tapi, kalau lihat penampilannya, cara bicaranya, serta payung Hello Kitty yang dia bawa rasanya itu agak..."

"Don't judge the book by its cover!" seru Leon.

"Kau juga tahu, Leon?"

"Tentu saja. Yah, sebenarnya aku juga baru tahu malam ini, selang beberapa menit daripadamu. Prima yang memberitahuku."

"Tunggu dulu!" seru Kaito. "Kau tidak tahu soal Iroha Nekomura padahal kau adalah pengawal bayangan Megurine Luka... bukankah itu agak sedikit aneh."

"Aku masih baru, tahu! Masih baru! Meiko sudah lama!"

"Lantas kenapa Meiko tidak mengenalimu, Lily-san?"

"Ah... penampilanku sudah banyak berubah sejak aku terakhir kali bertemu dengan Meiko. Jadi, wajar saja kalau dia tidak mengenaliku saat di Sudoh-Bucks."

Kaito mengangguk-anggukan kepalanya. Setidaknya dia sudah menangkap garis besar persoalan kenapa Lily yang merupakan pengawal sepupu Luka tidak dikenali oleh Meiko dan Leon.

"Tapi," lanjut Lily tiba-tiba. "Kurasa Luka-sama memang benar-benar berubah. Dia tidak seperti dulu lagi. Entah apapun itu, sesuatu itu telah mengubah diri Luka-sama ke arah positif."

Apa yang baru saja dibicarakan oleh Lily adalah sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti oleh Kaito. Rasanya, sejak pertama kali Kaito bertemu Luka di upacara pelantikan mahasiswa baru, si tuan putri masih tetap memasang wajah tanpa senyum dan mengeluarkan aura yang berkata 'jauhi aku' kepada semua orang. Tetap sama. Tidak berubah sama sekali.

"Yah, terserah sajalah. Apapun yang mengubahnya, aku berharap si apapun itu dapat mengubahnya menjadi orang yang lebih mudah tersenyum. Atau bahkan bisa menghapuskan sifat tsunderenya!"

Lily menatap mata Kaito penuh arti. "Saya yakin, apapun itu pasti bisa mengubahnya! Saya yakin dan percaya pada apapun itu."

Saat melihat Lily tersenyum, Kaito menyadari gadis pengawal itu memang cantik sekali. Rasanya agak tidak cocok mempekerjakannya sebagai seorang pengawal. Bahkan dengan sifatnya yang lembut seperti itu, kenapa dia bersedia bekerja sebagai pengawal? Bahkan, alasan kenapa Leon juga bekerja sebagai pengawal mulai mengusik benak Kaito.

"Shion-san, kurasa Hime-sama dan Luka-sama sudah menunggumu. Bagaimana kalau kita keluar sekarang?" Lily berjalan menuju pintu dan membukanya. "Jangan khawatir! Kau benar-benar terlihat tampan!"

Leon mendorong Kaito ke luar dengan senyuman di wajahnya. "Kalau kau tidak membuat Nekomura-sama dan Ojou-sama senang, aku akan membunuhmu!"

白い雪のプリンセスは


白い雪のプリンセスは

Pesta penyambutan Iroha Nekomura diadakan di rumah besar keluarga Iroha. Yang dapat menghadirinya tentu saja hanyalah orang-orang terpilih. Semua orang sepanjang pengelihatan Kaito, mengenakan pakaian formal dan dandanan yang memesona. Anggur yang dituang, bunyi dentingan gelas kaca yang saling bersinggungan, serta obrolan penuh makna menjadi latar belakang kedua setelah lagu klasik yang dimainkan oleh kelompok orkestra di sudut ruangan.

Ruangan itu sangat besar menurut Kaito. Seukuran aula kampus yang biasa digunakan untuk kuliah umum. Beberapa meja berisi makanan terlihat di sudut-sudut serta ada air mancur tepat di tengah ruangan itu. Kalau pemilik saham terbanyak Ronec saja punya kediaman seperti ini, bagaimana dengan keluarga Megurine yang jauh lebih sukses dibandingkan Ronec sendiri?

Iroha Nekomura berdiri di tengah-tengah aula itu dengan senyuman lebar. Gadis itu—sekarang Kaito sudah tidak bisa tertipu lagi dengan penampilannya yang kekanak-kanankan—mengenakan kimono pendek berwarna merah muda dengan rambut digelung ke atas. Sebuah pita besar diikatkan di pinggangnya. Ada sesuatu di dekat kakinya yang Kaito tebak sebagai robot kucing terbaru keluaran Ronec.

Mata biru Kaito beralih ke air mancur yang berada tepat di tengah-tengah ruangan. Ukiran-ukiran bergaya romawi terpahat sangat cantik disana. Sebuah patung seorang putri dan pangeran berdiri di tengahnya, sedang berdansa dengan sorot mata penuh cinta.

Seorang gadis tengah duduk di pinggir air mancur itu sambil memegangi ponselnya. Dengan rambut yang diurai panjang ke belakang dan gaun putih pendek, gadis itu terdiam sendirian di tengah gemerlapnya pesta. Ada sesuatu yang membuat Kaito tertarik untuk mengamatinya lebih jauh lagi, tapi sebelum itu, Nekomura tiba-tiba sudah berlari ke arahnya.

"Kyaa! Ouji-sama sudah datang!" seru Nekomura dengan suaranya yang riang sambil menarik tangan Kaito. "Benar-benar terlihat seperti pangeran di negeri dongeng!"

Kaito tersenyum sambil mengusap kepala Nekomura. Perhatiannya sekarang terfokus pada gadis mungil di hadapannya. "Yaa... berkat bantuanmu aku benar-benar bisa jadi pangeran yang sempurna."

"Benar sekali! Sekarang sekarang, waktunya sang pangeran mencari putrinya!"

Beberapa tamu undangan tertawa kecil saat melihat tingkah Nekomura yang manis. Benar-benar terlihat menggemaskan pasti, pikir Kaito sambil memutar bola matanya. Seharusnya Kaito juga akan berpikir seperti itu kalau seandainya dia tidak tahu hal penting mengenai usia Nekomura.

"Neee... Ouji-sama, kau sekarang boleh menjemput putrimu!" Nekomura tersenyum lebar sambil memamerkan deretan gigi putihnya. "Sang putri sudah lama menunggu! Kau harus segera menjemputnya!"

Putri siapa yang sedang dibicarakan Nekomura?

Gadis kecil di depan Kaito tersenyum lebar sambil menarik Kaito ke arah yang diinginkannya. "Sang putri sudah menunggu disana!"

Sang putri menunggu disana? Kaito segera melemparkan perhatiannya ke arah yang dituju oleh Nekomura dan mendadak pikirannya terasa kosong.

Disana, di tengah tangga yang menuju lantai dua, berdiri seorang gadis dengan rambut diurai panjang ke sisi belakang tubuhnya. Gaunnya yang merah muda pendek selutut sangat pas membalut tubuhnya yang seksi. Matanya yang biru indah menatap sosok Kaito dan membuat pangeran itu semakin membeku.

Megurine Luka, sang tuan putri kampus Utaunoda, tengah berdiri disana, balas menatap Kaito, dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Benar kan? Sang putri sudah menunggu disana!"

Sang putri yang dimaksud adalah Megurine Luka? Aku akan jadi pangeran yang mendampingi tsundere itu?

... Ah ya, kurasa aku memang sudah menebak hal ini.

白い雪のプリンセスは


Cerita selama proses pembuatan:

maaf kalau ada yang kecewa tentang penculikkan Luka. jadi, saya memang pernah bilang kalau ini semua memang bukanlah plot awal yang ada di benak saya. seharusnya, penculikkan itu (di plot awalnya), jadi poin paling penting dalam cerita, tapi yang kali ini, saya nggak tahu lagi. jadi, saya minta maaf apabila mengecewakan.

buat yang menganggap cerita rate M selalu berisi buah-buahan, maaf, di cerita ini tidak akan ada pameran buah. jadi, bisa saya pastikan, bahwa cerita ini nggak akan sampai ke tahap penuh buah-buahan itu.

tentu saja, review diterima. amat sangat diterima.

terima kasih sudah membaca sampai tahap ini. saya benar-benar berusaha keras dalam melanjutkan cerita ini selama liburan. ^^