Para anggota istana menyambut Tao dengan suasana haru biru.

"Daegun-mama!(Panggilan formal untuk pangeran besar*karena Luhan akan naik tahta menjadi putra mahkota maka Tao akan menjadi satu – satunya pangeran*)" ujar salah satu dayang yang langsung tersungkur dibawah kaki Tao lalu menangis, membuat Tao harus menyamakan tingginya dan membantu sang dayang sudah lanjut usia itu berdiri.

Semuanya mencoba menahan tangis.

"Dia Dayang Jung. Kepala dayang yang melayani Junjeon-mama(Panggilan formal untuk permaisuri)" ujar sang ayah membuat Tao mengerti.

Ibunya. Adalah permaisuri yang dicintai orang banyak.

"Dahulu, saat pertama kali mengandung Seja-mama(Panggilan formal untuk pangeran mahkota), Junjeon-mama meminta Jeonha(Yang Mulia Raja)untuk menaiki pohon rambutan yang ada di Istana timur. Hamba masih ingat kami semua menahan tawa ketika Jeonha sangat sukar menaiki pohon tersebut" ujar Dayang Jung sambil menatap pohon rambutan yang mulai meranggas memasuki musim salju.

Ya. Tao sekarang berada di Istana Timur, kediaman permaisuri.

Istana ini terlalu cantik meski ppenghuninya telah lama meninggalkan dunia ini

"Dayang Jung, bagaimana saat Junjeon-mama mengandung diriku?"

"Junjeon-mama saat mengandung Degam-mama, ia hanya meminta untuk dapat melihat bulan" ujar sang Dayang.

"Bulan?"

"Nde Degam-mama. Menurut Shaman(Ahli Nujum) Istana. Apabila bayi mengidam ingin melihat bulan, maka ia akan tumbuh sebagai bulan(dalam artian permaisuri/kecantikan sesungguhnya)"

"Begitu rupanya… oh ya Dayang Jung, mulai besok anda akan melayani Saejabin-mama(Panggilan formal untuk putri mahkota) bukan?"

"Nde…mama(Yang Mulia)" ujar dayang tersebut.

"Perlakukan Saejabin-mama sama seperti anda melayani Junjeon-mama" ujar Tao lalu menatap kembali Istana yang kosong ini.

Yang sebentar lagi akan di huni kembali.

Luhan. Minseok. Tao.

Ketiga orang ini sedang bermandikan air hangat didalam bathtube kayu bertabur bunga mawar dan anggrek pink untuk menyegarkan dan mengharumkan tubuhnya. Ketiganya tentu mandi di Istana masing – masing dengan pengawalan ketat.

Dan hal ini dikeluhkesahkan oleh Luhan.

"Aku hanya mandi, bukan sedang meracik bom. Mengapa kalian semua justru menjagaku ketat begini?" keluh Luhan.

"Tapi kami tidak bisa menjamin jikalau dirimu tidak akan lari ke Istana Timur" ujar salah satu penjaga tersebut lalu menggeplak kepala Luhan.

"Yak! Yunho-ya! Kau bisa dipenjara karena telah melecehkan putera nomor satu di Negara ini tahu!" ujar Luhan kesal yang ternyata pelaku penggeplakan adalah Yunho.

Rupanya penjaga yang menjaga Luhan ialah Yunho, Zhoumi, Jaehyun, dan Kibum.

"Aku bahkan lebih baik menemani Tao saja daripada mendengar rengekan bayi besar ini" keluh Jaehyun.

"Bilang saja karena disana ada Inguk" judes Luhan.

"Seja-mama segera tuntaskan mandimu atau penis mu kupotong" ujar Kibum akhirnya angkat bicara setelah bosan mendengar celotehan teman - temannya.

Dan Luhan masih ingin menikmati malam pertamanya dengan Minseok.

Zhoumi lalu tiba – tiba datang dengan sepucuk surat.

"From baozi" ujar Zhoumi lalu membuat Luhan gembira.

Dan semakin gembira ketika selesai membaca suratnya.

"Aku akan menyelesaikan mandinya dengan cepat!"

At Tao's Side

"Jadi Istana selatan ini milikmu?" ujar Inguk.

Rupanya Tao ditemani oleh Inguk, Chen, Baekhyun, dan Kyuhyun.

"Begitulah…" ujar Tao tenang menikmati air hangat dan wanginya yang merilekskan pikiran.

"Baekhyun hyung…" ujar Tao kemudian.

"Mwoya?" ujar Baekhyun kemudian

"Mandilah bersamaku" ujar Tao.

Membuat Chen dan Kyuhyun menyemburkan minumnya bersamaan.

"Heish…anak ini memang" ujar Inguk kesal.

"Kyuhyun, Chen ayo kita keluar" ujar Inguk membuat Chen dan Kyuhyun sontak kaget.

Hey Seo In Guk. Kalimat 'Mandilah Bersamaku' agak sedikit ambigu loh?

Nyatanya Inguk paham apa yang tengah Tao utarakan.

Setelah mereka bertiga keluar, Baekhyun menuruti permintaan Tao, bahkan Tao kini menggosok punggungnya.

Yang kemerahan.

Tao menghela nafas sedangkan Baekhyun menunduk dalam.

"Alasan dirimu dan Kyungsoo jarang terlihat…adalah hal ini?" ujar Tao pasrah. Inguk datang dengan berbagai rempah.

Sebenarnya Inguk dimintai tolong oleh Tao menyelidiki orang yang sudah dia anggap sebagai hyung 1004 Team ini. Rupanya, masih berhubungan dengan kisah lama.

Kyungsoo dengan fetish anehnya.

"Sampai kapan kau mau menjadi slave sexnya" ujar Inguk lalu menempel rempah – rempah itu kepunggung pemuda ini. Menuai desisan dari Baekhyun.

Tao dan Inguk menghela nafas.

"Baekhyun. Jika kau mencintainya, yang kau lakukan ini benar. Mengorbakan segala kesakitan batin dan ragamu hanya untuk dapat bisa dekat denganya. Tapi jika dia tidak mencintaimu, untuk apa harus bertahan? Apakah selamanya kau hanya menjadi partner sexnya saja? Hanya sebatas itu?" ujar Inguk lalu menyirami punggung itu dengan air hangat lalu menuai tangisan perih dari Baekhyun.

Perih di hatinya.

"Tali tambang yang dipegang terlalu erat akan menimbulkan luka di telapak tangan. Ada kalanya tali itu perlu dilepaskan supaya tangan itu tidak terluka karena menggengam terlalu erat. Inguk hyung, bawa Baekhyun hyung ke balai pengobatan" ujar Tao lalu Inguk keluar meninggalkan Tao sendirian di ruang pemandian.

Tidak lama ponselnya bergetar.

'Sehun Hyung Calling'

Tao tersenyum. Akhir – akhir ini hubungannya dengan Sehun semakin membaik semenjak kejadian dirinya tidur di pangkuan Sehun.

"Apa kau ingin memastikan bahwa aku tidak akan kabur lagi? Atau kau ingin memastikan bahwa aku tidak akan berulah lagi?" ujar Tao begitu mengangkat pangilan dari Sehun.

"Anni. Aku tahu dirimu tidak sebandel Hyungmu" ujar Sehun membuat Tao tergelak.

"Aku yakin dia akan merengek meminta mandi bersama dengan Minseok hyung" ujar Tao lalu giliran Sehun yang terkekeh diujung sana.

"Lalu jika bukan ingin memastikan keadaanku, mengapa menelponku?" ujar Tao sambil memainkan kelopak – kelopak Bunga yang terapung di permukaan air.

"Aku merindukanmu"

Tao merona

"Kalau begitu mengapa tidak video call saja jika memang dirimu merindukanku?" ujar Tao

"Karna aku bisa 'menerjangmu' begitu melihatmu sekarang"

Tao mendadak kesal sekarang.

"Aku masih menggunakan hanbok tahu!"

"Hanbok transparan tepatnya"

"Yak!"

Dan kekehan Sehun terdengar lagi setelahnya.

Minseok mandi sambil menuliskan sesuatu diatas bathube miliknya. Ditemani oleh Joon Myeon, Henry, Changmin, dan Jongin. Ia mandi sambil tersenyum.

Joon Myeon melihatnya iri, sedangkan Changmin dan Henry sibuk dengan makanan masing - masing.

"Hyung kau terlihat bahagia karena hanya sedang menulis surat" ujar Joon Myeon membuat Minseok tersipu.

Joon Myeon tersenyum. Minseok itu imut dan manis, perangainya juga baik. Ia akan menjadi permaisuri yang akan cintai semua orang.

Tidak seperti dirinya. 'Kekasih' sejatinya hanyalah lab.

"Suatu saat kau akan merasakan rasanya ketika membuat surat untuk orang yang kau cintai" ujar Minseok tersenyum ke arah Joon Myeon.

"Suatu saat ya…" ujar Joon Myeon gamang.

Ia membuka dompetnya dan mengambil sebuah kertas yang masih terlipat rapi.

Dear Yifan Sunbaenim…

Chounen…saranghamnida…

Maukah sunbaenim menerimaku?

"Suatu saat…" ujar Joon Myeon sambil menatap kertas tersebut.

"Joon Myeon, kertas apa itu?" tanya Minseok begitu melihat Joon Myeon yang mendadak aneh.

"Ah annimida, hanya kertas berisi alamat teman yang ingin dikunjungi" ujar Joon Myeon tersenyum.

Nyatanya Jongin tahu kertas apa yang sebegitu berharganya masih disimpan oleh sang kakak.

Surat cinta yang belum sempat Joon Myeon berikan pada Yifan.

Jongin menghela nafas.

Mau sampai kapan kakaknya, berpura – pura bahagia?

"Henry tolong berikan ini kepada Zhoumi dia menjaga di Istana Barat" ujar Minseok membuat Henry mengangguk lalu pergi

Minseok kini berada di kamarnya. Dirinya sendiri dibantu para dayang. Memakai pakaiannya, namun terlebih dahulu ia memakai hanbok putih sebagai dalamannya.

Jeoha…apa kabarmu di Istana Barat sana?

Pasti kesepian bukan, dirimu mandi dan makan sendirian disana.

Dibantu para dayang, Min Seok menggunakan Neoui. Neoui sendiri adalah jubah acara berwarna merah dengan lingkaran ke bawah ujung kedua lengan dan juga pada seluruh jubbah.

Akupun merasakan hal yang sama.

Aku kesepian karena tidak ada satupun yang menjadi teman bicaraku

Semuanya mendadak formal kepadaku.

Setelah memakai Neoui miliknya, para dayang tersebut merias wajah sang calon puteri mahkota. Bedak, mascara, bahkan pemoles bibir.

Aku menyesal karena menolak untuk diajak latihan berenang kembali

Lain kali aku tidak akan menolak.

Sentuhan terakhir adalah memakai Daesu. Daesu adalah hiasan kepala atau mahkota ukurannya sangat besar dan berat. Bersamaan dengan itu dirinya dibantu berdiri oleh para dayang sambil kedua tangannya disejajarkan dan memegang sebuah Paeok. Paeok sendiri sebuah lempeng berwarna hijau yang terbuat dari batu giok.

Tapi karena berat-nya mahkota ini membuatku sadar

Tidak akan ada waktu lagi untuk latihan berenang.

Karena itu, aku akan mengajak rakyaktu juga

'latihan berenang' bersamamu. Agar aku bisa…

Memelukmu dan rakyatku nanti lebih erat…

Jeoha…saranghandagu…

"Saejabin-mama(Panggilan formal untuk puteri mahkota) apakah anda sudah siap?" ujar salah satu kepala dayang.

Dayang Jung.

Yang dahulu bertugas menjadi Dayang Permaisuri.

Dan sepertinya akan mendapat tugas yang sama.

Dibantu para dayang, Luhan mengenakan Daeryebok, pakaian untuk upacara pernikahan dibalut Myeongbok, jubah hitam kemerahan yang khusus di gunakan untuk upacara pernikahan bersamaan dengan Daedae, sebuah sabuk di pinggang berwarna merah dan putih yang di gunakan untuk mengencangkan pakaian bawah.

Sentuhan terakhir Luhan memakai mahkota yang di sebut Myeonrugwan. Banyaknya sulur manik-manik di myeonrugwan delapan menandakan status dirinya yaitu putera mahkota.

Dan Luhan masih tersenyum – senyum sendiri ketika sang pelayan, Kasim Lee datang membawa ayam jantan yang telah diikat kakinya dengan pita dan dibungkus kain sutra berwarna merah.

"Jeoha…mengapa anda tersenyum terus – menerus?" tanya sang kasim.

"Saejabin-mama meminta dalam suratnya ingin berlatih berenang bersamaku dan dengan rakyatnya. Mana bisa aku menolaknya…?" ujar Luhan menatap ayam yang ada digenggaman penuh cinta.

Kasim Lee bahkan kebingungan.

Luhan menaruh ayam tersebut disebuah meja sesaji. Dan menyembahnya selama tiga kali. Sang Ibu Suri sebagai wakil orang tua dari Minseok. menyerahkan Paeok yang sama dengan milik Minseok. Tak lama kemudian sebuah tandu dari emas hadir dari arah berlawanan. Seluruh anggota kerajaan menunduk terkeculia keluarga kerajaan.

Dan Luhan yang menunggu dengan senyum tandu tersebut.

Tandu tersebut diletakkan disebelah Luhan. Ketika Luhan membuka tandu tersebut dan Minseok telah keluar dengan memegan Paeok yang sama. Hanya tinggal satu cara lagi untuk mengesahkan pernikahan mereka.

Luhan dan Minseok yang berjalan beriringan melewati lapangan luas ini untuk dapat sampai ke altar utama istana ini.

Luhan berjalan selangkah lebih dulu karena Minseok harus dibantu dengan dua dayang untuk mensejajarkan tangannya dalam memegang Paeok dan membantunya berjalan dengan mahkota seberat ini.

Dan ketika mereka telah sampai pada anak tangga kelima, dayang melepaskan pegangannya pada kedua tangan Minseok dan membiarkan Minseok berjalan sejajar dengan Luhan agar sampai dapat duduk di kursi yang telah disediakan.

Dan ketika mereka duduk. Gendang besar ditabuh tiga kali sebagai penyelesaian prosesi sakral tersebut.

Dari arah kanan dan kiri para dayang menata makanan di meja sang pengantin dan mengambil kembali Paeoknya.

"Apa kepala mu sakit…?" ujar Luhan masih menatap kedepan kearah rombongan keluarga kerajaan yang dibelakangnya terdapat anggota kerajaan mulai dari perdana menteri staff pemerintah dan iring – iringan lainnya untuk menyerahkan sesajian untuk keduanya.

"Annimida jeoha…" ujar Minseok lalu menatap Luhan membuat Luhan menolehkan kepalanya kearah Minseok.

"Aku bisa gila kalau tahu dirimu ingin berenang dengan para rakyat. Aku tidak suka berbagi 'penglihatan' milikku dengan orang lain" ujar Luhan kemudian menuai tawa.

Senyum terpatri di keduanya. Ketika rombongan iringan itu telah sampai dan menyerahkan sesajian kepada mereka . keluarga kerajaan dipersilahkan duduk disamping kanan kiri pengantin setelah memberikan sesajian.

Dan kini gendang ditabuh enam kali.

Sebagai isyarat bahwa seluruh keluarga kerajaan yang berada di altar harus berdiri dan para prajurit yang berlarian berbaris rapih Di jalanan mulai dari ujung altar hingga ujung gerbang pintu istana ini. Dan para perdana menteri, petinggi pemerintah kembali berbaris rapih dibelakang prajurit

Kemudian para kasim meletakkan meja sesajian kembali ditengah jalan kearah altar kali ini, meja sesajian tersebut berisi api dalam tungku kayu.

Dan bunyi sangkala yang begitu nyaring menandakan pintu gerbang segera dibuka.

"Daegun-mama telah hadir!" ujar sebuah suara.

Dan pintu gerbang dibuka. Membuat seluruh etinggi Negara tersebut bersujud ke tanah

Sesosok pemuda mengenakan Dalryeongpo(hanbok untuk pangeran) dibalut Jobok(Jubah untuk keluarga kerajaan saat upacara) dengan Daedae di pinggangnya dan Yanggwan(penutup kepala untuk keluarga kerajaan saat upacara penting) berwarna hitam dikepalanya.

Dan selama ia berjalan ia mengenggam sebuah Paeok dari batu giok berwarna putih dengan Hangeul tertulis di Paeok tersebut.

'Pangeran besar yang diagungkan'

Prosesi pelantikan Tao tidak begitu rumit. Hanya saja setiap kali dia melangkah maka gendang besar tersebut akan ditabuh memekakkan telinga karena suasananya yang hening.

Tao mencapai meja sesajian tersebut dan meletakkan Paeok tersebut didalam api dan ikut bersujud ke tanah sampai pemandu acara menyelesaikan kalimat upacaranya. Begitu selesai, Meja sesaji tersebut disingkirkan dan Tao yang kembali berjalan menuju altar.

Sekali lagi, gendang masih ditabuh.

Dan begitu sampai pada tangga altar Tao bersimbah duduk dengan kedua tangan disatukan dan disejajarkan dikening.

"Hamba…Huang Zi Tao…hadir sebagai seorang Daegun, berusaha menjadi Putera yang direstui oleh langit dan dikasihi oleh bumi. Hamba…Huang Zi Tao… hadir sebagai seorang Daegun, merestui Wangseja dan Wangsaejabin sebagai pasangan yang telah dilukiskan takdir dan dilindungi Naga Abadi…" ujar Tao lalu sujud ke tanah.

"Abdimu…dan ucapan bahagiamu diterima" ujar Jinki membuat Tao kembali berdiri dan menaiki tangga dan selama prosesi menaiki tangga itu semua orang yang bersujud ketanah berseru dengan lantang 'Hidup Yang Mulia! Hidup Daegun-mama!' di iringi gendang dan sangkala yang saling sahut menyahut.

Dan ketika Tao duduk disebelah Raja, seluruh orang yang melihat acara tersebut kembali berdiri dan gendang yang ditabuh tiga kali sebagai akhir dari prosesi tersebut.

Malam ini semakin semarak. Di iringi arak - arakkan tandu kerajaan yang di isi oleh keluarga kerajaan, rakyat heboh melihat iring – iringan tersebut keluar dari Istana dan berhenti dialtar Halaman Istana. Para rakyat senang begitu satu persatu anggota keluarga kerajaan keluar.

Apalagi begitu sang raja keluar dan memberi senyum dan salam pada rakyat. Para wartawan dan pers sibuk dengan kamera dan reporter masing - masing.

Para petinggi Negara juga hadir dan ikut memberi selamat atas pernikahan putera mahkota dan diangkatnya Tao sebagai Daegun.

Bersama – sama dengan para rakyat. Seluruh anggota dan keluarga kerajaan ikut mencicii hidangan festival kuliner dan menikmati sajian hiburan tradisional dan modern.

Jongin bahkan mengenakan masker begitu Tao menceritakan apa yang ia lakukan saat mabuk dahulu.

"Kau mengenakan stelan jas tapi dirimu juga mengenakan masker. Apa dirimu terserang flu?" ujar Chanyeol kebingungan.

"Diam dan fokus saja pada penjagaan" ujar Jongin.

Tapi karena Jongin. Justru Tao yang terkena imbasnya ketika para cecunguk-menurut Tao- itu memberikan selamat padanya.

Dimulai dari 2PM, Jun K

"Aku sepertinya pernah melihatmu Daegun, tapi dimana ya…?" ujarnya main – main.

Tao hanya bisa tersenyum tipis.

Bigbang, Seungri.

"Aku akan menjaga rahasiamu. Tapi asalkan dirimu memberiku kontakmu dan kontak pemuda penari streaptise tersebut"

Cukup Sudah.

"Maaf Seungri-shi jika anda masih ingin pulang dengan selamat, setidaknya gunakan tata krama anda"

Lalu mereka kabur setelahnya.

Lalu reporter mulai riuh ketika seorang peremuan mengenakan gaun berwarna silver yang menjuntai hingga mata kaki. Tanpa lengan, belahan samai ke paha, dan dengan sempurna mencetak lekuk tubuhnya.

Membuat Tao berdiri.

Bukan. Bukan karna perempuan itu.

Tapi karena orang dibelakangnya.

Bahkan kini Tao sudah meremas hanboknya kuat.

Dan Jongin yang membuang maskernya sambil berteriak dengan muka memerah

"KAU!?"

To Be Countinued


Hayolo, kira - kira siapa yang dilihat Tao dan Jongin?

DONT FORGET TO REVIEW! FAV! AND FOLLOW!